Feed on
Artikel
Kommentare

Hektik dan …

… curhat sedikit. Setelah sekian lama tak menulis. Kesibukan tak kunjung henti, hingga badan pun akhirnya sakit. Akibatnya ada beberapa janji yang belum terpenuhi. Terutama janji menulis pada ibu yang baik juga pada si pemilik blog mungil :) Maafkan ya, karena badan tak kuasa menolak, ketika demam ingin ikut bersaing dengan sakit kepala. Pun pilek dan batuk yang tak juga mereda. Sementara itu pekerjaan malah bertambah. Tiba-tiba saja jadi pesohor dadakan. Padahal maksud hati ingin menulis dan beristirahat. Sudah berusaha menolak-nolak, eh, malah semakin dipaksa. Akhirnya sebagian dilakukan dengan setengah-setengah, sisanya dikerjakan dengan bahagia dan senang. Menulis jadi terlupakan.

Hmm, tampaknya itu semua hanya alasan. Untuk kemalasan yang dirasionalkan :)

Namun, ada satu yang mengharu biru. Sudah lebih dari tiga minggu berlalu dia kudiamkan begitu. Karena perut sudah diultimatum untuk tidak menerimanya dulu. Tiga minggu lebih tanpa teh yang membuat rindu. Hanya bisa kuperhatikan dengan sendu, tanpa bisa kuteguk. Ini mimpi buruk! Sementara itu aku harus sabar dulu. Untuk kemudian bangun dan minum teh itu. Hai, aku betul-betul haus dan rindu! :)

Perang Klamm

Klamms Krieg, monolog karya Kai Hensel, berkisah tentang seorang guru bahasa Jerman untuk kelas 13 di salah satu sekolah. Dia „terlalu tua untuk jadi guru pemula, tetapi terlalu muda untuk pensiun dini.“ Tokoh ini digambarkan sebagai seorang guru dengan idealisme tinggi, cita-cita yang kuat, juga bangga atas prestasi serta kecerdasan yang dimilikinya. Seorang guru yang sangat taat aturan, tak mau korupsi dan disuap untuk memberikan nilai bagus, tak mau cari muka dengan pura-pura ramah, hanya agar dia disukai oleh murid-muridnya. Seorang guru yang keras pada murid-muridnya, juga pada rekan-rekan kerjanya. Nilai 2 adalah 2, bukan 3 atau 4. Kalau perlu lembar jawaban ujian pun diremas-remas, karena jawaban ujian di dalamnya tak layak untuk diberi nilai apapun. Murid-muridnya harus tahu semua hal yang juga dia kuasai dengan baik: Goethe „Faust“, makna kebebasan Schiller, karya sastra zaman Barok, Klasik, Romantik. Tentang puisi dengan jambus, madrigal, dan Blankverse-nya. Seorang guru yang cemas dan takut bahwa dalam waktu „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“

Klamm ingin berbuat banyak. Dia pun mau banyak untuk sekolah dan murid-murid yang dicintainya. Namun, dia harus berhadapan dengan „sistem“ yang tak memberikan ruang dan apresiasi untuk semua usaha keras yang dilakukannya. Dianggap aneh, digunjingkan di belakang punggungnya, tak ada yang mau berteman dekat dengannya, hanya karena dia menyuarakan kejujuran ketika melihat rekan-rekan kerjanya, pun atasannya, melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Alhasil, kesendirian, kecemasan, ketakutan, juga tak adanya ruang apresiatif, membawanya pada prasangka yang semakin lama semakin besar pada institusi, pada kemanusiaan dari murid-murid yang justru awalnya dia perjuangkan, pun pada dirinya sendiri.

„Guru adalah seorang pembunuh“ begitu tulisnya di penutup kloset, lantai, dan dinding kamar mandinya, saat kepalanya terantuk wastafel. Tulisan yang ditulis dengan darah yang mengucur dari kepalanya sendiri. „Guru adalah seorang pembunuh“, demikian tulisnya untuk kematian Sascha, salah seorang muridnya, yang gantung diri karena mendapat nilai 5 untuk mata pelajaran bahasa Jerman, sehingga tidak bisa lulus ujian akhir. „Guru adalah seorang pembunuh“, karena Sascha gantung diri setelah dia berusaha membujuk Klamm, datang ke rumah Klamm malam-malam memohon agar Klamm memberinya nilai 6, agar dia bisa lulus ujian akhir (padahal nilai 6 sudah diberikan, tetapi karena Sascha berusaha membujuknya, maka nilai 6 pun diganti dengan nilai 5). „Guru adalah pembunuh“ ditulisnya setelah seluruh muridnya „menyatakan perang“ dengan Klamm. „Guru adalah pembunuh“, ketika rasa kecewa dan putus asa sudah sampai pada puncaknya. Juga ketakutan, bahwa semua tujuan yang dia usahakan, malah dianggap sebagai halangan. Dia yang „berusaha ada“ untuk muridnya, „memberikan jawaban untuk semua pertanyaan“ mereka. Dan kalaupun muridnya tidak bertanya, dia akan tetap menjawab, karena itu adalah kewajibannya. Dia yang kadang-kadang merasa perlu juga untuk menghukum muridnya, karena „sekali waktu harus begitu, tidak bisa tidak.“ Dia yang punya tujuan: mempersiapkan murid-muridnya untuk menghadapi hidup dan kehidupan, yang masih panjang dan terbuka lebar di depan mereka. Dia yang meneteskan air mata, saat pesta perpisahan sekolah. Melepas murid-muridnya yang justru merasa senang karena „terbebas“ dari „ikatan“ sekolah, padahal hidup di depan mereka entah jelas entah tidak. Namun, melihat senyum dan tawa murid-muridnya adalah kebahagiaannya. Kebahagiaan yang disertai ketakutan, tetapi tetap harus dia lakoni.

Klamm kecewa. Browning 9 milimeter dengan 13 tembakan pun disiapkan di hadapan murid-murid yang “menyatakan perang” dengannya. Apakah hidup harus diakhiri di depan murid-murid yang dicintai melebihi hidupnya yang sepi? Atau justru memulai kembali hidup yang “berbeda” dari awal? Membaca “Faust”, halaman 9, “Prolog di Langit”, saat Raphael berkata:

“Matahari dengan rona yang dulu-dulu juga/ Dalam lomba nyanyi sunyi di angkasa persaudaraan./ Dan perjalanan yang telah tertera/ Disudahinya dengan seruntun guruh berdentam/ Meski tak seorang pun dapat menjelaskan asal usulnya;/ Karya agung yang tak terpahami/ Begitu segar seperti di hari pertama.”

Catatan: Monolog ini diterjemahkan oleh Dian Ekawati dari judul asli “Klamms Krieg” (Kai Hensel), diedit oleh Dien Fakhri Iqbal, dan akan dipentaskan oleh “mainteater” (pemain dan sutradara Wawan Sofwan) bekerja sama dengan Goethe Institut Inter Nationes pada akhir Mei. Waktu dan tempat menyusul.

Batas Nyawa

Dan jika memang sudah terlalu sakit tubuh mengungkung nyawa/ Mungkin memang hanya waktu yang pasti menjawab/Ada batas antara tubuh fana dan jiwa/Lalu mungkin benar kata sajak:

Karena kematian tak lain hanya tarikan nafas terakhir
yang membebaskan helaan naik turun tak tenang.
Agar dia bisa naik tanpa rintang menuju Tuhan.” (Kahlil Gibran, “Tentang Kematian”)

Bandung, 300308

02.55

Bayarlalaa

Wajar saja rupanya jika ada yang bilang pada saya, bahwa saya ini naif, kuper, dan ekstremnya „bodoh“. Gelar akademik saja cukup tinggi, tapi untuk beberapa urusan saya memang naif, kuper, dan bodoh, hehe. Beberapa waktu lalu saya mengalami lagi situasi yang menunjukkan kekuperan saya, yaitu saat saya melakukan proses pendaftaran online untuk studi lanjut di Universitas Zürich, Swiss. Percobaan pertama dan kedua gagal. Saya kemudian menulis surat elektronik pada administratornya juga pada sekretariat urusan mahasiswa asing untuk mengadukan kesulitan melakukan pendaftaran online. Saya juga bertanya apakah mungkin saya mendapatkan informasi tentang studi di sana beserta formulir pendaftarannya dan dikirimkan per pos. Email langsung dibalas, isinya pendek saja, hanya berupa link kepada informasi tentang studi di sana serta link ke pendaftaran online (itu sih saya sudah tahu dan sudah saya lakukan), serta pemberitahuan bahwa server mereka sedang rusak, maka pendaftaran online tidak bisa dilakukan sampai beberapa hari ke depannya. Rupanya email saya diforward oleh sekretariat urusan mahasiswa asing kepada administrator pendaftaran online disertai catatan ”Diese Frau hat Probleme mit Online-Registrierung”.

Pada hari yang disebutkan server akan berfungsi kembali, saya coba lagi mendaftar. Kali ini berhasil. Cepat dan mudah. Saya puas. Ketika semua proses sudah beres, saya menerima email konformasi bahwa saya harus membayar 50 Franc untuk membeli formulir dan proses pendaftaran tadi. Kaget saya, karena selama saya studi di Jerman, dan sering berkorespondensi dengan beberapa universitas dan institusi lainnya di sana, tidak pernah sedikit pun saya dikenai biaya. Apalagi untuk pendaftaran. Biasanya saya tinggal minta informasi dikirim per pos, maka akan datanglah beberapa waktu kemudian. Gratis. Terakhir saya minta ijazah saya dikirim per pos, karena saya keburu pulang sebelum ijazah jadi. Yang saya dapatkan bukan hanya ijazah dan transkrip nilai, melainkan sudah disertai beberapa lembar foto copy-nya yang telah dilegalisir. Itu semua gratis. Sebelumnya bahkan disertai tawaran apakah saya mau dikirimi legalisirnya dulu tanpa tanda tangan asli dekan dan rektor, jika saya perlu ijazah dan transkrip nilai itu segera. Saat dulu mendaftar kuliah, mengajukan permohonan kamar di asrama, semua berkas informasi, brosur, formulir, dll dikirim dari sana cuma-cuma.

Tidak hanya dengan universitas, itu terjadi juga dalam pengurusan visa , ijin tinggal, legalisir passport, surat wajib pajak, dll, berkas selalu gratis. Biaya hanya dikenakan untuk membuat visa (tetapi karena saya tinggal di Jerman dengan beasiswa, maka visa dan ijin tinggal pun gratis). Pendek kata, untuk semua yang berbau informasi, saya bisa dapatkan gratis.

Kupernya saya, saya menyamaratakan itu dengan Swiss. Di sana ternyata semua harus membayar. Bahkan untuk kuliah pun, biaya yang harus dibayarkan cukup banyak. Memang tidak ada tuition fee, hanya biaya lain-lainnya itu lho. Ada Kollegialpauschal khusus untuk program doktor, bantuan untuk mahasiswa asing, biaya untuk kas kelompok olah raga, dll. Bagus juga saya pikir, karena jadi terperinci saja uang larinya ke mana dan digunakan untuk apa. Di Jerman pun ada biaya demikian berupa sumbangan wajib (Studentenbeitrag) yang besarannya berbeda di setiap universitas, kisarannya antara 50 – 200 €. Biaya itu sudah termasuk tiket bis dan kereta api untuk satu semester. Dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (Studentenausweis), kita bisa naik bis dan kereta apir gratis di zona yang ditentukan. Ini lumayan betul. Dan lagi-lagi, karena saya mendapatkan beasiswa, saya juga tidak membayar penuh Studentenbeitrag ini, hanya setengahnya (dulu membayar 50 €/semester). Sejak tahun 2007, di Jerman sudah diberlakukan tuition fee (Studiengebühren) sebesar 500 €/semester. Ini masih terhitung murah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Inggris dan Perancis.

Tempat tinggal dan biaya hidup di Swiss pun termasuk mahal. Demikian pula dengan asuransi. Dihitung-hitung, memang benar, Swiss adalah negara mahal. Kalau boleh memilih saya lebih suka sekolah di Jerman. Namun, apa mau dikata, pembimbing saya pindah dari Bayreuth ke Zürich, suka tidak suka saya juga jadi ikut dia. Dan saya jadi seperti orang desa yang pindah ke kota (Bayreuth memang desa, hehe). Biasa hidup di Bayreuth dengan 200 € per bulan (sudah rumah dan asuransi lho), melihat biaya hidup di Zürich –yang mungkin standar- kagetlah saya (iyalah, bandingannya Bayreuth).

Kemudian saya bercerita dan mengeluh pada salah seorang sahabat dan dia malah menertawakan saya, “Dian, kemana ajaaa….di mana-mana juga kalau mau daftar mah bayar. Di Singapur harus bayar 50 dollar. Di Amrik juga sama. Di Inggris sama. Di Australi bayar. Kemana aja, neng?” sambil terbahak menertawakan saya yang dengan polosnya menjawab. “Di Jerman ngga…”. “Ya itu di Jerman. Makanya gaul dong, jangan kuper gitu. Lagian Swiss kan memang mahal. Salah sendiri mau ke sana.”

Hehehe, ya begitu deh. Semua serba mahal.Di Jerman juga memang tidak murah sebenarnya. Pajak semakin tinggi, harga-harga ikut naik. Di Indonesia sudah jelas lah. Uang sudah tidak ada harganya lagi. Semua harus bayarlalaa…:) Eits, bayarlalaa itu dalam bahasa Mongol artinya “terima kasih”. Terima kasih untuk informasi, terima kasih untuk pajaknya, terima kasih untuk biaya ini itu. Terima kasihnya pakai uang, hiks :( Lagian, hari gini masih mau gratisan :p


(Per)minta(an)

Saya termasuk orang yang sulit untuk meminta. Kalaupun saya „terpaksa harus“ meminta, permintaan saya biasanya dikemas dengan menggunakan tindak tutur dan strategi permintaan yang rumit dan berbelit-belit. Tidak pernah bisa langsung ke tujuan utama. Kalaupun akhirnya saya „berhasil“, biasanya itu sudah melewati proses berpikir dan menimbang-nimbang berulang kali.

Kenapa? Satu hal, saya tidak terbiasa meminta (terutama meminta tolong) jika saya rasa saya masih bisa melakukannya sendiri. Alasan lain, saya tidak mau merepotkan orang yang saya mintai tolong. Alasan terbesar di balik semua itu mungkin saja karena sebenarnya saya adalah seorang „penakut“ yang takut permintaannya ditolak dan akibatnya saya akan kecewa. Dengan meminta, maka saya berharap, dan jika harapan tersebut tidak terpenuhi, maka kemungkinan untuk kecewa akan lebih besar. Saya takut kecewa. Padahal dalam hidup kekecewaan tidak bisa dihindari. Hal tersembunyi lainnya dari keengganan saya untuk meminta adalah kesombongan saya untuk menempatkan diri saya „di bawah“ orang yang saya mintai tolong. Dengan meminta, maka saya memosisikan diri „di bawah“, posisi yang „diberi“. Saya tampaknya lebih suka ada di posisi yang ”memberi”. Padahal –sekali lagi- saya bukan manusia super yang bisa terus menerus ada dalam posisi itu. Akibatnya –lagi- untuk beberapa kasus, energi saya bisa terserap habis karena ”kesombongan” saya ini.

Jika saya ”berhasil” meminta, bagaimana saya mengemas tindak tutur saya? Biasanya saya menggunakan tuturan dengan modalitas ”bisa(kah)” atau ”boleh(kah)”, misalnya ”Boleh saya pinjam bukunya?”. Tuturan imperatif yang digunakan pun bukan tuturan imperatif langsung, melainkan berbentuk tindak tutur bertanya dengan tindak ilokusi meminta tolong atau menyuruh, misalnya ”bisa tolong bawakan laptop?”. Jika ”terpaksa” menggunakan tuturan imperatif langsung, partikel ”ya” atau ”dong” serta kata ”tolong” tidak pernah saya lupakan. Misalnya, ”Tolong bawakan buku ini ke Jurusan, ya” atau ”tolong bantu saya dong”. Dengan penggunaan partikel ini, ”nuansa” perintah dalam tuturan saya menjadi lebih halus, apalagi jika ditambah dengan intonasi tuturan yang menurun.

Paraphrase adalah salah satu strategi yang digunakan saat saya meminta dan mengutarakan maksud. Saya akan memberikan dulu berbagai macam keterangan dan alasan, mendeskripsikan situasi atau masalahnya serta memberikan argumentasi yang menurut saya cukup logis dan beralasan, sehingga rekan bicara saya ”sulit” untuk menolak. Antisipatif atau malah justru manipulatif? Saya lebih suka melihatnya sebagai langkah preventif saya terhadap kekecewaan karena permintaan atau maksud saya tak terpenuhi seperti harapan saya. Ketakutan terhadap penolakan? Sungguh ironis karena saya adalah orang yang bisa dengan tegas berkata ”tidak”. Saya akrab dengan berbagai macam ragam tuturan ”penolakan”, baik langsung atau tidak langsung. Terlihat juga dengan jelas, bahwa secara psikologis saya lebih suka menghindar dengan cara menolak.

Kembali kepada ragam tuturan permintaan, apakah tindak tutur permintaan –lebih spesifik lagi pada tindak berbahasa verbal dan nonverbal – ini bersifat individual atau kultural? Bagaimana jika percakapan dengan konteks meminta dan mengutarakan maksud ini dilakukan oleh pelaku percakapan dari budaya yang berbeda? Apakah terjadi persinggungan yang mungkin menimbulkan salah paham? Jika ya, apakah persinggungan ini disebabkan oleh faktor kebahasaan verbal yang bersifat segmental atau dipengaruhi juga oleh faktor suprasegmental seperti prosodi, mimik, gestik, kontak mata, gerak tubuh, dll? Bagaimana faktor psikososial pelaku percakapan berpengaruh terhadap tindak tutur permintaan dan pengutaraan maksud tadi?

Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan sebelumnya dengan menggunakan teknik analisis percakapan terhadap tindak tutur permintaan pada pelaku percakapan dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, ditemukan bahwa ”persinggungan” yang membawa kepada kesalahpahaman hanya sekitar 20 % disebabkan oleh faktor kebahasaan verbal. Pengaruh terbesar disebabkan oleh faktor-faktor nonverbal, latar belakang budaya dan normalitas kultural serta situasi psikologis pelaku percakapan (ruang, waktu, ”jarak” sosial adalah beberapa faktor penyebab).

Bagaimana dengan kasus saya yang tetap sulit ”meminta” kepada orang yang berbahasa sama dengan saya, berlatar belakang sosial dan budaya yang juga sama, bahkan dengan status sosial dan jarak sosial yang relatif sama? Adakah ”masalah” saya ini juga terjadi pada orang Indonesia lainnya? Jika dipersempit lagi ke dalam konteks percakapan antara dosen dan mahasiswa, faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya berbagai ragam tuturan permintaan? Tidak bisa dilupakan, bagaimana pengaruh unsur-unsur nonverbal terhadap ragam tuturan permintaan dan pengutaraan maksud tadi? Apakah ragam tuturan permintaan ini berkaitan dengan unsur-unsur psikososiopragmatik para pelaku percakapan dalam konteks percakapan dosen - mahasiswa? Jika ya, bagaimana keterkaitannya? Apa pandangan filosofis yang melatarbelakangi munculnya ragam tuturan permintaan dalam konteks percakapan di atas?

 — Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengganggu saya, yang akan coba saya jawab dalam penelitian berikutnya. Sudah cukup rumit untuk satu disertasi belum? Hehe. Mudah-mudahan saya tidak malas menguliknya atau keburu tertarik meneliti hal lain :)

What do you do, dear?

You are in the library reading a book when suddenly you are lassoed by Bad-Nose Bill. “I’ve got you,” he says, “and I’m taking you to my ranch, pronto. Now get moving.” What do you do, dear?

Itu adalah salah satu situasi yang digambarkan dalam buku dari Sesyle Joslin dengan ilustrasi lucu dan menarik oleh Maurice Sendak. Ini adalah buku anak-anak yang mengajarkan cara bersopan santun tanpa gaya menggurui. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak. Ilustrasi dan konteks cerita yang pas untuk anak berusia antara 4 sampai 8 tahun memudahkan mereka untuk memahami sopan santun yang berlaku dalam kelaziman bermasyarakat. Tidak hanya anak-anak, saya pun begitu terkesan pada buku hadiah dari sahabat saya Masako dan Stephan, yang saya kenal pertama kali dalam mata kuliah Pengantar Sosiologi beberapa tahun lalu. Profesor saya yang memperkenalkannya untuk dijadikan bahan analisa tatanan sosial dalam masyarakat. Buku ringan yang habis dibaca dalam waktu 5 menit saja, namun sarat makna. Saya bacakan buku ini kepada keponakan-keponakan kecil saya, dan ini terbukti menjadi salah satu buku favorit mereka. Yang lebih mengesankan, mereka merekam setiap cerita dan mengomentari apa yang mereka lihat dan baca dalam buku itu dengan kritis. Daya pikir kritis dan imajinasi mereka ini tergali lewat penggambaran situasi yang selalu diikuti pertanyaan What do you do, dear? Mereka diajak berpikir dahulu, untuk kemudian melihat jawabannya di halaman berikutnya. Jawaban ini pun mengundang komentar kritis dari keponakan-keponakan saya, karena dalam beberapa hal mereka tidak setuju dengan ”saran” dari jawaban atas pertanyaan tadi. Ini menarik, karena mereka berasal dari budaya yang berbeda dengan latar belakang budaya ”tokoh” dalam cerita. Hal-hal lucu karena faktor umur dan psikologis juga sering terjadi. Misalnya, salah seorang keponakan perempuan berusia tiga tahun bersikukuh tidak mau menerima jawaban bahwa dia harus memberikan tempat kepada orang yang lebih butuh tempat duduk di kendaraan umum (dalam buku ini digambarkan dengan gajah pengangkut penumpang). Dia bilang, dia tidak mau pindah, karena dia capek dan ingin duduk, jadi orang yang baru datang harus tetap berdiri. Situasi-situasi lain serta jawaban-jawabannya pun memancing komentar dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari mereka.

Jadi, apa jawaban untuk situasi di atas? What do you do, dear?

Kalau kata buku itu: You walk through the library quietly :)

Bahasa dan Salah Paham

Saya selalu merasa sedikit ”terganggu” jika membaca atau mendengar penggunaan kata ganti tidak pada tempatnya. Terutama kata ganti ”saya”, ”aku”, “kami” dan “kita”. Cukup membuat saya terhenyak untuk kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana saya harus bereaksi. Apalagi jika hal tersebut terjadi dalam percakapan lisan.

Seorang teman selalu menggunakan kata ganti ”kita” jika bercakap dengan saya, padahal dia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Misalnya: ”Kalau sudah cocok, kita ambil saja rumahnya”, atau “Besok kita angkut barangnya dan masuk ke rumah baru”. Saya biasanya kaget dan merasa agak kesal, karena kesannya saya di”libatkan”. Akibatnya reaksi saya menjadi defensif. Padahal sebenarnya reaksi seperti itu tidak perlu, karena setelah beberapa lama saya akhirnya tahu bahwa kata ganti ”kita” dalam konteks budaya salah satu suku bangsa di Indonesia itu bermakna ”saya” dan digunakan untuk kesopanan. Jadi, teman saya itu justru sedang menghormati saya dengan menggunakan kata ganti ”kita”.

Kesalahpahaman seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali. Beberapa waktu lalu saya pernah mendapat email berbunyi: “Ini rumah online kita, tapi kamu ngga bisa lihat langsung karena kontaknya terbatas, jadi ngerepotin maneh”. Saya benar-benar bingung. Bunyi email yang pendek itu –untuk saya- tidak jelas referensinya. Siapa punya ”rumah online”, untuk siapa, dan siapa direpotkan oleh siapa? Kembali, setelah beberapa saat, baru saya sadar, bahwa itu ”rumah online” –sebut saja si A-, ”kamu” ditujukan kepada saya, alih kode ke dalam bahasa daerah ”maneh” juga mengacu pada saya.

Contoh lain, tadi sore saya mendapat telefon dari seorang pegawai bagian kredit salah satu bank swasta –sebut saja Bank P-. Selama percakapan, pegawai tersebut tidak menyapa saya dalam bentuk kata sapaan apapun, misalnya ”Bu” atau ”Mbak” atau apapun. Saya tetap anonim selama percakapan itu. Sedangkan dia menggunakan kata ganti ”aku” untuk menyebut dirinya: ”Aku itung dulu berapa besar cicilan yang harus dibayar” atau ”Mau nyatet nomor telepon aku?”. Sekali lagi saya terganggu dan langsung merasa harus berjarak dengannya. Penggunaan kata ganti ”aku” dalam percakapan telefon formal menurut saya juga tidak pada tempatnya. Artinya, saya tidak mengenal dia -begitu juga sebaliknya- dalam kapasitas yang tidak lebih dekat selain relasi penyedia dan pengguna jasa. Apalagi itu adalah percakapan telefon yang untuk pertama kalinya dilakukan.

Lain lagi dengan kejadian yang menimpa teman saya yang lain. Bahasa Indonesia yang dia gunakan disebut ”kaku” oleh rekannya, karena dia tidak terlalu banyak menggunakan istilah bahasa gaul dalam percakapan mereka. Dalam hal ini mungkin dia tidak terlalu salah, karena selama dia tinggal di Jerman, dia tidak terlalu mengikuti perkembangan ragam bahasa gaul di Indonesia dan dengan latar belakang sosialnya (pendidikan dan pekerjaan), teman saya memang lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia ”yang baik dan benar”. Sepertinya hal itu terbawa ke dalam kesehariannya. Sedangkan rekan bicaranya memiliki latar belakang usia, pendidikan, dan pekerjaan yang cukup berbeda dengannya.

Ketidaktepatan pemakaian kata ganti atau suatu ragam bahasa dalam konteks penggunaannya sangat membuka peluang untuk terjadinya kesalahpahaman. Dari sini bisa diketahui bahwa kompetensi berbahasa juga harus diimbangi dengan pemahaman konteks sosial, budaya, psikologis, sehingga kemungkinan salah paham dalam berinteraksi dengan menggunakan bahasa sebagai medium dapat diminimalisir. Tetapi itu tidak berarti interaktan yang satu harus meniru interaktan yang lain. Kesadaran dan pemahaman bahwa ada perbedaan inilah yang diharapkan dapat meredusir kesalahpahaman. Hal ini tentu saja tidak bisa terjadi begitu saja, melainkan harus ada timbal balik dari masing-masing pelaku interaksi. Dan di sinilah letak masalah terbesar saat orang berinteraksi. Harus ada kesediaan dari masing-masing pelaku interaksi untuk ”memahami” rekan bicaranya. Ada keaktifan dan dinamika di sini. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan memperhatikan ketepatan atau kesesuaian pemakaian satuan lingual dalam konteks percakapan atau tulisan oleh masing-masing pelaku interaksi. Ragam ungkapan dan bahasa informal bisa menimbulkan ”irisan” jika digunakan dalam situasi formal. Begitu pun sebaliknya. Jangan-jangan akan muncul prasangka, seseorang itu tidak sopan atau ngelunjak, atau bahkan seseorang menjadi ”kaku” dan jaim. Ini berawal dari bahasa. Dan bersetuju dengan Humboldt bahwa bahasa itu bukanlah ergon ’hasil’ melainkan energeia ‘energi, kegiatan’, maka berbahasa pun harus aktif. Tidak hanya aktif bicara, tetapi juga mendengar dan memahami rekan bicara dengan aktif. Utopia? Bukankah itu yang menjadikan manusia tetap hidup? :)

Lihat juga tulisan terkait di sini.

Bandung, 050208

Feedback

Di akhir perkuliahan semester ini saya kembali meminta feedback dari mahasiswa tentang saya, cara saya mengajar dan materi kuliah yang saya berikan. Walaupun dilakukan setiap akhir semester, feedback yang masuk tidak pernah banyak, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Entah kenapa, sungkan mungkin, takut nilainya jelek, atau alasan lainnya, saya tidak tahu. Yang jelas saya sulit sekali mendapatkan feedback dari mereka, baik lisan ataupun tulisan. Mereka lebih banyak senyum atau berkata, „Apa ya, Bu? Bingung“.

Untuk akhir semester ini, saya meminta mereka untuk membuat feedback tertulis, diketik, dibuat anonim dan disimpan di dalam locker saya. Berhasil? Lumayan mungkin, walaupun hanya ada empat feedback yang saya terima.

Hmm, itu mungkin adalah salah satu tanda bahwa ternyata saya belum berhasil membuat mereka nyaman untuk mengeluarkan pendapat atau kritikan. Padahal saya selalu tekankan, bahwa untuk saya dan di mata kuliah saya, mereka bisa bebas mengeluarkan pendapat atau komentar serta pertanyaan apapun. Butuh waktu lama untuk bisa membuat mereka terbiasa dengan cara saya itu. Empat pertemuan pertama biasanya masih sungkan, setelah itu mulai ada dua tiga orang yang berkomentar atau melontarkan pertanyaan yang tak jarang membuat saya juga berpikir keras, kadang juga tak bisa menjawab. Di dua mata kuliah saat ini sudah jauh lebih baik. Kami bisa berdiskusi dengan sangat asyik tentang satu atau beberapa tema. Jangan salah, kondisi seperti itu saya „perjuangkan“ selama 1 semester penuh di tahun sebelumnya! Setelah 1 semester bertemu saya, mereka baru percaya bahwa it’s oke untuk bicara apapun di dalam kelas saya.

Namun, ternyata situasi nyaman di kelas tetap tidak bisa menjadikan mereka nyaman untuk memberikan kritik pada saya secara langsung. Saya kecewa juga, karena penting untuk saya untuk mengevaluasi apa yang saya kerjakan selama satu semester ini. Tetapi saya tidak bisa memaksa mereka juga untuk memberikan feedback pada saya.

Apa hasil dari empat feedback itu? Disebutkan bahwa saya tidak cukup ”memaksa” mereka untuk melakukan sesuatu. Saya cenderung memberikan kebebasan pada mereka untuk melakukan dan mempelajari sesuatu, sehingga mereka tidak merasa ”diajar” oleh saya. Dengan cara saya seperti itu, mereka jadi bingung dan –tulis salah seorang mahasiswa- saya ”mengajarkan” dan membiarkan budaya malas orang Indonesia semakin berkembang dengan cara saya yang bebas. Dia, yang menulis dan mengkritik saya dengan sangat detil (ini saya suka betul), menulis juga bahwa mahasiswa Indonesia itu harus dipaksa untuk melakukan sesuatu dan itu tugas guru atau dosen untuk ”membuat” mereka mau membaca atau membuat tugas. Tiga orang lagi menulis bahwa cara mengajar saya enak, aplikatif dan mudah dimengerti. Namun, saya tidak memberikan banyak teori dan itu membuat mereka jadi bingung saat harus mengerjakan tugas atau ujian (perlu diketahui, ujian atau tugas yang saya berikan di dua mata kuliah untuk semester 7 bersifat penalaran).

Setelah saya endapkan (maklum, sebagai manusia biasa, saat menerima kritikan –walaupun saya yang minta- biasanya defensif, tetapi setelah diendapkan akan kembali normal), saya rasa ada banyak kompromi yang harus saya lakukan (selalu). Di satu sisi, saya adalah orang yang tidak suka memaksa dan tidak suka dipaksa. Belajar untuk saya adalah kemandirian. Saya belajar apa yang saya mau dan saya sukai. Namun, tampaknya saya lupa bahwa di sisi lain saya ada di satu situasi yang orang-orangnya kadang ”terpaksa” berada di situ karena alasan mata kuliah itu wajib diikuti, misalnya. Suka atau tidak suka. Dengan demikian, mereka menjadi ”terpaksa”, pun harus ”dipaksa” minimal untuk tetap bisa bertahan selama satu semester. Jangan harapkan mau bergerak sendiri, setelah ”dipaksa” pun hasilnya tidak memuaskan.

Latar belakang saya yang membebaskan diri untuk mencari dan hanya melakukan apa yang saya mau ternyata membuat saya menjadi overestimate pada mahasiswa saya. Saya selalu berpikir dan merasa, bahwa mereka adalah individu-individu dewasa yang sudah tahu dan bisa melakukan apa yang mereka suka dan mereka inginkan. Dengan demikian, saya (sangat) mengharapkan pembelajaran mandiri muncul dari diri mereka masing-masing. Fungsi saya adalah fasilitator atau lebih tepatnya mungkin provokator yang merangsang mereka berpikir. Saya tidak mau memberikan dogma apalagi fatwa tentang suatu tema atau hal. Ini selalu saya tekankan di setiap pertemuan. Pada beberapa orang provokasi saya berlaku, pada banyak yang lain, tidak. Karena pada kenyataannya masih banyak orang yang ingin disuruh-suruh dan dipaksa melakukan sesuatu. Dilepas sendiri mereka hilang arah.

Alhasil, masukan mereka bagus untuk saya, karena saya jadi bisa melihat bahwa sistem yang saling menjalin masih belum bisa memfasilitasi mereka untuk bebas dan mandiri. Saya tidak mau menyalahkan itu semua. Saat ini saya hanya akan melihat diri saya, karena saya juga bagian dari sistem itu. Saya pun tidak bermimpi bisa merubahnya seperti yang saya mau begitu saja, tetapi mungkin dengan kompromi dan negosiasi. Cara saya melakukannya pun mungkin harus dipoles lebih halus. Bukankah jika saya keukeuh berpegang pada prinsip pendidikan dan pembelajaran yang membebaskan itu tanpa melihat konteks individu, ruang, dan waktu artinya saya juga memaksakan kehendak saya? Saya tidak tahu juga, apakah prinsip yang saya yakini ini juga tepat untuk konteks individu, ruang, dan waktu saat ini? Saya berinteraksi dengan ”dunia”. Ada saatnya saya harus mundur atau diam sejenak untuk melihat dan mempelajari, ada saatnya juga saya harus maju: cepat atau lambat saja. Pada akhirnya memang saya yang terus belajar dan membebaskan diri saya. Itu semua saya dapatkan dari “pembelajaran” saya dengan mereka. Untuk mereka? Sepertinya lebih baik saya bebaskan mereka untuk mengambil atau membuangnya. Tetapi mungkin empat feedback yang masuk itu bisa jadi sedikit bukti, bahwa yang saya harapkan sebenarnya sudah berjalan. Itu saya syukuri.

Satu lagi pendapat mereka tentang saya: saya orangnya moody. Kalau sedang bad mood katanya juteknya kelihatan sekali. Hmm, pendapat mereka kurang, karena sebenarnya selain jutek, saya juga posesif, narsis, dan autis. Tampak jelas di tulisan ini. Hehe.

Danke allen!

Umum (?!)

Act 1.

Pagi hari di sebuah rumah sakit pemerintah kota Bandung. Setelah antri lama, sampai juga di depan loket pembayaran. Menyerahkan surat pengantar tes yang baru didapat beberapa menit sebelumnya.

Petugas : ”Ini harus difotocopy dulu, dengan KTP juga. Biaya tes 170 ribu”.
Saya : ”Saya bayar sekarang atau nanti?”
Petugas : ”Sekarang saja”.

Saya menyerahkan uang 200 ribu. Tidak ada kembalian dan tidak ada kuitansi. Karena yang antri banyak dan sudah mulai mendesak-desak saya, saya keluar menuju tempat fotocopy. Penuh. Cari di luar. Selesai. Kembali. Antrian sudah panjang. Antri lagi di belakang. Sampai lagi di depan loket.

Petugas : ”Kok lama sekali?”
Saya : ”Penuh, Mbak, tempat foto copynya. Saya terpaksa foto copy di luar”.
Petugas : ”Ada uang pas? Kasirnya ngga ada. Ngga ada kembalian”.
Saya : ”Ngga ada, Mbak. Kalau ada juga sudah saya berikan tadi”.
Petugas : ”Tuker dulu sana. Nanti balik lagi”.
Saya : (kaget) ”Hah? Dan ngantri lagi?
(mulai kesal) Gimana sih, Mbak?”
Petugas : ”Ya iya, ngantri lagi”.
Saya : (makin kesal) ”Wah, jangan gitu dong, Mbak. Pertama saya ngga dikasih tahu di bagian pendaftaran kalau harus foto copy dulu. Kedua saya sudah ngantri panjang. Kalau harus ngantri lagi hanya untuk urusan kembalian saya ngga mau. Ketiga, mana kasirnya? Penuh begini kok malah ngga ada, dan Mbak ambil uang saya begitu saja padahal kasirnya ngga ada. Kenapa ngga dari tadi saja saya disuruh tukar uang? Saya ngga mau ngantri lagi. Saya tunggu kasirnya di sini.”
Petugas : (cemberut)
Saya : (ikut cemberut juga) ”Tuh kasirnya”
Petugas : (melempar uang saya)

Urusan dengan kasir beres. Untung kasirnya ramah. Kalau ngga, sepertinya bisa terjadi “pertumpahan darah di situ”, hehe.

Act 2.

Hari yang sama. Siang harinya. Tempat: salah satu universitas negeri di Bandung. Ternyata sedang jam istirahat, jadi menyempatkan diri dulu makan siang di Ngopi Doeloe. Sekalian menenangkan diri. Eits, jangan senang dulu. Apa kejadian berikutnya?

Petugas : ”Ini harus ditulis pakai tinta hitam. Bukan pakai bolpoin.” (transkripsi sesuai dengan yang didengar –red.)
Saya : (heran) ”Bolpoin bukan tinta ya?” (pertanyaan bodoh)
Petugas : ”Tinta hitam itu boxy.”
Saya : (masih heran) ”Oh gitu? Saya ngga tahu.
Lagipula, ngga disebutkan di sini tidak boleh pakai bolpoin. Bolpoin kan pakai tinta juga, Bu?” (duh, masih bodoh pula)
Petugas : ”Beda. Bolpoin itu bla bla bla” (berusaha menerangkan, saya masih heran)
Saya : ”Ya udah, nanti saya ganti lagi.”
Petugas : ”Tulis sekarang saja.”
Saya : ”Ngga, di rumah aja.” (ngambek karena ngga tahu apa pentingnya membedakan bolpoin dan boxy)
Petugas : ”Kalau ini di fotocopy ya?”
Saya : (masih dan makin kesal) ”Ini pakai tinta hitam, Bu, semacam boxy, yang jel, bukan bolpoin.
Ibu ini gimana sih? Giliran saya beneran pakai tinta hitam malah disangka foto copy”. (masih kesal ingat ngga penting banget ngurusin boxy dan bolpoin).
Petugas : ”Masa sih? Kayak di foto copy.” (sambil menilik-nilik berkas saya)
Saya : ”Kalau mau kelihatan asli atau bukan, kenapa ngga disuruh pakai tinta biru saja atau tinta warna warni”. (masih kesal)

Selanjutnya masih banyak kejadian ngga penting dan mengesalkan yang ngga harus ditulis di sini. Terlalu panjang dan memang ngga penting.

Act 3.

Keesokan harinya. Pagi hari. Hujan. Kantor polisi di salah satu jalan utama di sebelah timur kota Bandung.

Saya : ”Pagi, Bu. Saya mau melegalisirkan surat keterangan ini.”
Petugas : (tanpa melihat saya mengambil berkas)
Saya : (menyerahkan berkas sambil berkata dalam hati, ”Cintailah sedikit pekerjaanmu, Bu. Pagi-pagi kok sudah cemberut”)
Petugas : ”Aslinya ngga usah (sedikit melemparkan kertas). Tunggu aja di luar” (masih tetap cemberut dan tidak melihat saya)
Saya : ”Oh” (mengambil kertas dan keluar. Speechless).
Petugas : (memanggil nama saya) ”Ini ada biayanya”
Saya : ”Berapa?”
Petugas : (mulai tersenyum dan melihat saya) ”Terserah saja. Saya terima”.
Saya : ”Berapa?”
Petugas : ”Terserah saja” (masih tersenyum)
Saya : ”Ibu tentukan saja, saya ngga tahu.”
Petugas : (masih tersenyum) ”Ya, terserah saja. Saya ngga bisa menentukan”
Saya : ”Wah, saya ngga tahu. Untuk saya harus jelas, lagipula pula saya harus minta kuitansinya untuk biaya legalisir ini”
Petugas : (langsung cemberut lagi dan melempar berkas yang sudah dilegalisir ke arah saya) ”Ya udah, ngga usah.”
Saya : ”Oh. Makasih, kalau gitu.” (pergi)

—-
Rasanya kok terlalu menggeneralisir (bisa saya sebut meng-umum-kan?) kalau saya bilang, ini yang umum terjadi saat kita harus berurusan dengan pelayanan umum. Namun, kejadian-kejadian ini yang (masih) sering membuat saya kesal. Ataukah saya yang tidak umum, karena orang-orang lain yang saya temui di tempat dan diperlakukan sama seperti saya di atas (tampaknya) baik-baik saja dan nurut-nurut saja?

perahu

Sedikit lebih banyak perdamaian dan lebih sedikit permusuhan/ Sedikit lebih banyak kebaikan dan lebih sedikit kecemburuan/Sedikit lebih banyak cinta dan lebih sedikit kebencian/ Sedikit lebih banyak kebenaran – mungkin bagus juga.

Daripada banyak kericuhan lebih baik sedikit lebih banyak kedamaian/Daripada selalu hanya “aku” lebih baik sedikit lebih banyak “kamu”/Daripada ketakutan dan hambatan lebih baik sedikit lebih banyak keberanian/Dan kekuatan untuk bertindak – mungkin bagus juga.

Dalam kengerian dan kegelapan sedikit lebih banyak cahaya/ Tak ada lagi tuntutan yang menakutkan, sedikit lebih banyak keikhlasan/ Dan lebih banyak bunga, jika mungkin bisa/Jangan sampai bunga baru ada di kuburan – mereka akan terlambat mekar.

Tujuannya hanya damai di hati/Lebih baik dari itu aku tak tahu lagi.


* diterjemahkan dari puisi karya Peter Rosseger (1843 - 1918) “Wünsche zum neuen Jahr”


Older Posts »