Feeds:
Artikel
Kommentare

Demonstrasi

Seminggu ini perkuliahan tidak berjalan seperti biasanya, karena sejak tanggal 17 November di seluruh universitas di Jerman diadakan demonstrasi menentang diberlakukannya uang kuliah (Studiengebühren) dan dilaksanakannya program bachelor dan master yang sangat ketat, terutama di urusan kehadiran mahasiswa. Hari Rabu kemarin saat saya datang untuk ikut Vorlesung Textlinguistik, Hörsaal sudah „diduduki“ oleh mahasiswa yang berdemo, menurut seorang teman ruangan kelas yang lain pun „diduduki“. Mereka mengadakan diskusi terbuka, memasang spanduk-spanduk bernada protes, bahkan sampai menggelar sleeping bag dan tidur di kampus. Dosen saya berdiskusi sejenak untuk kemudian mengumumkan bahwa kuliah hari itu ditiadakan, dan mempersilahkan mahasiswa untuk terus berdemo, jika memang tujuan mereka baik. Kemarin, dosen sosiologi saya juga merasa tidak enak hati melaksanakan perkuliahan karena mahasiswa yang lain masih berdemo. Pada akhirnya, kami memang tetap kuliah, dengan peserta 4 orang saja. Namun, kelas ini juga kelas kecil kok, mahasiswanya hanya 7 orang.

Saat saya tanya pendapat salah seorang teman tentang demo ini, dia termasuk orang yang tidak setuju demo diadakan di Bayreuth. „Ungerechfertigt“ katanya.  Masuk akal jika demo dilaksanakan di Berlin, Hamburg atau München yang mahasiswanya puluhan ribu, sehingga mereka tidak „terlayani“ dengan baik. Di satu sisi mungkin ada benarnya juga. Kampus Bayreuth itu kecil. Saat ini jumlah mahasiswanya hanya 9000 orang. Dibandingkan dengan Unpad saja masih lebih banyak Unpad mahasiswanya. Mahasiswa dilayani dengan baik di sini.Fasilitas disediakan. Dosen dan mahasiswa saling kenal secara personal, menyapa bahkan makan siang atau ngopi bersama di Mensa dan di Cafeteria. Bimbingan selain di Sprechstunde yang ditetapkan juga di jam-jam di luar itu. Email selalu dibalas cepat. Akses terhadap buku, jurnal ilmiah, dan internet yang seluas-luasnya dan sepuas-puasnya. Studentenbeitrag yang masih cukup murah (62 € saja selama satu semester) dan fasilitas-fasilitas lain seperti Studentenwohnheim, bentuk Campus-Universität yang berkumpul dalam satu lokasi sehingga memudahkan mahasiswa dan dosennya. Jika melihat itu semua memang rasanya apa lagi yang harus diprotes? Kalau masalah waktu belajar yang lebih ketat dibandingkan dulu, misalnya dengan diberlakukannya daftar hadir dan modul perkuliahan yang mengikat, bukannya tugas mahasiswa memang kuliah? Itu pendapat teman saya.

Saya cukup setuju dengan pendapatnya. Namun, lepas dari masalah adil tidak adil, saya pribadi agak berkeberatan dengan pemberlakuan Studiengebühren. Sebagai pendukung pendidikan murah dan berkualitas, saya ingin sebisa mungkin setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Namun, tentu saja hal ini tidak bisa serta merta terjadi. Pendidikan pada kenyataannya semakin lama semakin mahal. Pemerintah pusat dan negara bagian tidak dapat secara penuh lagi membiayai universitas, karena dengan demikian mereka harus menaikkan pajak juga. Universitas tidak semudah itu bisa membiayai diri sendiri. Mereka bergantung juga dari penelitian dan kerja sama lainnya. Pada akhirnya ada fakultas yang basah dan ada yang kering.

Studiengebühren 500 € per semester dan biaya hidup minimal 500 € tentu bukan jumlah yang sedikit. Semakin ketatnya aturan perkuliahan juga mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk mencari job di luar waktu kuliah. Mungkin itu juga yang diprotes oleh mereka. Kebanyakan dari mereka memang masih dibiayai oleh orang tuanya. Namun, tidak semua orang tua mampu memberikan biaya penuh, karena mereka pun masih harus membayar pajak dan asuransi. Pemerintah negara bagian dan pemerintah pusat memberikan pinjaman lunak lewat BAföG atau KfW-Darlehen (di negara Bagian Bayern). Pinjaman bisa dibayar sampai mereka lulus kuliah bahkan setelah lulus kuliah. Beasiswa pun banyak diberikan, dengan catatan tentu prestasi selama studi pun bagus.  Berkuliah pada akhirnya memang terbuka untuk yang mampu, yang tidak mampu lebih memilih pendidikan praktis yang memungkinkan mereka langsung bekerja. Sementara setelah selesai kuliah, mencari pekerjaan pun tetap saja sulit.

Yang menjadi dilema adalah mereka sekarang ini dituntut oleh sistem pendidikan yang ketat dan menuntut cepat selesai, di lain pihak kebutuhan hidup dan biaya untuk kuliah sendiri membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kadang mahasiswa harus mengikuti ekskursi ke luar kota bahkan ke luar negeri. Belum lagi pengeluaran untuk foto copy atau buku. PIlihannya adalah kuliah tapi tidak punya uang dan ada kemungkinan berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya, atau bekerja tapi kuliah jadi terbengkalai. Dijalani keduanya? Jangan heran jika kemudian banyak mahasiswa yang stress dan jatuh sakit. Demonstrasi kemarin mungkin salah satu reaksi terhadap sistem yang semakin lama mungkin terasa menekan.

Situasi dan dilema semacam ini terjadi di seluruh dunia saya rasa. Di Indonesia rasanya lebih parah lagi. Pendidikan semakin lama semakin mahal, apalagi pendidikan tinggi. Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan hal ini saya rasakan betul situasi yang dilematis ini. Di satu sisi pendidikan idealnya murah tapi berkualitas, namun di sisi tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama pendidikan semakin terindustrialisasikan. Dan ketika pendidikan sudah menjadi industri, mungkin gedungnya jadi semacam pabrik, dosen-dosen hanya jadi mesin yang memproduksi barang-barang pabrik yang seragam. Dan tiba-tiba saya teringat pada sepenggal paragraf dalam monolog Perang Klamm „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“ Semoga tidak terjadi.

Perubahan Lain

Selain perubahan di bidang pendidikan, perubahan di sektor ekonomi dan perbankan sangat terasa sekali di Jerman setelah 3 tahun ditinggalkan. Krisis ekonomi dunia terasa di berbagai sektor. Sektor pendidikan terkena imbas dengan dikenakannya biaya kuliah sebesar 500 € per semester dan ditutupnya atau digabungkannya beberapa jurusan yang dianggap „kering“ dan tidak adanya dukungan biaya lagi dari pihak universitas. Salah satunya jurusan Allgemeine Pädagogik, yang saya jadikan Nebenfach saat kuliah magister dulu, sekarang ini bergabung dengan jurusan Psychologie, Schulpädagogik, Grundschulpädagogik ke dalam satu jurusan besar bernama Jurusan Ilmu Pendidikan (Erziehungswissenschaft). Jurusan-jurusan ini memang termasuk yang kurang peminatnya. Mungkin juga kurang proyek yang menghasilkan uang. Beberapa jurusan di bidang ilmu murni (ilmu alam dan ilmu sosial) mengalami pengurangan dana. Sebaliknya Fakultas Ekonomi dan Fakultas Informatika serta ilmu alam terapan (Angewandte Naturwissenschaft) semakin berkembang dan semakin diminati, sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman.

Jika di dunia pendidikan fakultas ekonomi semakin diminati, tidak demikian yang terjadi di lapangan. PHK justru terjadi di mana-mana. Perusahaan besar yang eksis puluhan tahun sudah mulai gulung tikar. Bank-bank besar merger dengan bank-bank asing. Prosesnya tidak drastis dan kentara memang. Saya yang awam di bidang ekonomi memperhatikannya dari barang-barang yang harganya semakin mahal tetapi kualitasnya menurun, diskon besar-besaran di semua toko untuk menghabiskan stok barang, toko-toko buku yang bangkrut, asuransi kesehatan yang semakin sedikit mengcover biaya pengobatan, biaya ini itu yang dulu tidak ada, dan semacamnya. Hal-hal keseharian yang membuat uang mengalir begitu saja tak ada artinya dan tak terasa.

Beberapa waktu lalu perusahaan besar Karstadt akan ditutup, karena tidak mampu membayar utangnya. Akhirnya anak perusahaannya, yaitu Quelle, yang ditutup terlebih dahulu dan ribuan karyawannya di seluruh Jerman di-PHK. Pabrik mobil Opel pun sudah terancam akan dijual. Dresdner Bank sejak beberapa waktu lalu merger dengan Commerzbank. Citi Bank Jerman sudah dijual kepada Crèdit Mutual Perancis dan mulai tahun depan, Citi Bank Jerman yang sudah dimerger itu hanya akan online di Eropa, tidak di seluruh dunia. Selain pajak yang bertambah besar, uang pensiun pun hanya dibayarkan selama 11 bulan. Issue yang beredar bahwa uang pensiun akan diturunkan jumlahnya, memang tidak terbukti, tapi dengan hanya dibayar 11 bulan, rasanya tetap sama saja dengan pengurangan jumlah itu.

Satu lagi yang sangat terasa dari krisis ekonomi di Jerman ini adalah dikenakannya biaya administrasi yang cukup besar untuk rekening giro tabungan kita, sementara sejak dulu memang sistem perbankan Jerman tidak menerapkan bunga untuk rekening giro. Untuk Sparkonto pun hanya mendapatkan bunga 1%  per tahun.  Dulu mudah sekali untuk mengajukan Dispositionskredit, sekarang sulit dan persyaratannya semakin ketat. Belanja kebutuhan sehari-hari satu bulan saja bisa lebih dari 200 €. Padahal kalau dilihat-lihat jumlahnya hanya itu-itu saja, tidak banyak. Sebagai orang yang awam ekonomi, saya cuma bisa merasakan dan menghitung-hitung, serta menyiasati bagaimana dengan uang sedemikian (sudah dipotong sewa rumah termasuk pemanas, listrik, air dan telefon, asuransi kesehatan, makan, kebutuhan hidup lainnya termasuk perlengkapan untuk musim dingin) saya masih bisa menabung, membeli buku, dan jalan-jalan : )

Ini sudah rejeki tak terkira untuk saya, karena ternyata saya masih bisa melakukan itu semua. Banyak orang yang terkena imbas krisis ini secara langsung. Banyak orang di belahan dunia lain yang lebih menderita dari saya dan orang-orang yang hidup di sini. Kemarin malam seorang sahabat saya bercerita tentang pelanggannya yang tidak puas dengan kopi yang dibelinya dan kemudian mengembalikannya. Alasan mengembalikannya pun bukan karena hal yang krusial. Jika dikembalikan, kopi itu tentu tidak bisa dijual lagi dan hanya akan masuk tempat sampah. Padahal di belahan dunia lain orang bekerja mati-matian untuk dapat membeli kopi, bahkan keringat dan darah pun dikeluarkan untuk sebuah produk yang akhirnya dibuang begitu saja ke tempat sampah karena di pelanggan tidak menyukai taruhlah kemasannya yang kusut. Benturan antara kepuasan pelanggan dan merasa mubazir membuang-buang makanan membuat sahabat saya merasa cukup tertekan, karena dia sadar, di Indonesia banyak orang yang membutuhkan itu semua dan berjuang mati-matian hanya untuk sekedar bisa hidup. Mengamati situasi sekarang dan mendengar semakin banyaknya rang-orang Jerman yang mengeluh tidak bisa lagi melakukan ini itu, membuat saya semakin bersyukur bahwa saya datang dari negara yang situasinya lebih sulit dari di sini. Setidaknya saya jadi malu hati untuk mengeluh, karena sama sekali tidak ada yang bisa saya keluhkan. Karena semua yang saya hirup, saya tatap, saya kunyah, saya resap, semua, semuanya nikmat yang benar-benar tidak bisa saya dustakan.

Perubahan

Tiga tahun ditinggalkan, bukan berarti tidak ada yang berubah di Bayreuth. Hal yang paling kentara tentu saja perubahan di universitas, yang membuat saya mau tidak mau harus menyesuaikan diri lagi. Jadi, September 2006 saat saya pulang ke Indonesia terakhir kalinya di Bayreuth dan di hampir semua universitas di Jerman program lama digunakan dan kuliah tanpa biaya kuliah diberlakukan. Wintersemester Oktober 2006 mulai diberlakukan program baru yaitu program bachelor dan master. Di beberapa jurusan dan universitas program bachelor dan master ini sudah diberlakukan sebelumnya. Hanya Oktober 2006 semua universitas di Jerman sudah harus mulai memberlakukan ini, dan program lama yaitu diplom dan magister lambat laun dihilangkan. Tahun 2007 mulai diberlakukan Studiengebühren (uang kuliah) merata di seluruh Jerman (info terbaru, di Berlin masih bebas biaya kuliah).

Apa bedanya? Sistem pendidikan di Jerman berlangsung sampai kelas 13 (Gymnasium, seperti sekolah menengah umum). Setelah itu siswa bisa langsung meneruskan ke universitas atau Fachhochschule (FH) atau sekolah tinggi yang lain, misalnya Technische Hochschule atau TH atau Kunsthochschule, dll. Mereka yang memilih bidang ilmu sosial, humaniora, dan filsafat masuk ke program magister, dan mereka yang berkutat dengan ilmu eksakta, teknik, kedokteran (dan yang kebanyakan berhubungan dengan angka-angka dan hitung-hitungan) masuk ke program diplom. Yang masuk ke program magister akan mendapat gelar Magister Artium untuk pria, dan Magistra Artium untuk perempuan, keduanya disingkat M.A.. Untuk program diplom, gelarnya sesuai dengan bidang yang ditekuni, misalnya Diplom Ingenieur (Dipl.Ing.) untuk bidang teknik, Diplom Medizin (Dipl.Med.) untuk kedokteran, Diplom Wirte/Wirtin (Dipl.Wirt.) untuk bidang ekonomi atau Diplom Kaufmann (Dipl.Kauf.) juga untuk bidang ekonomi. Selesai melaksanakan program Magister atau Diplom yang waktu reguler kuliahnya 5 – 7 tahun (sama dengan batas maksimal S1 di Indonesia), mereka bisa melanjutkan lagi ke jenjang doktoral atau Promotion. Jenjang doktoral yang biasanya langsung masuk ke penelitian berlangsung antara 3 – 5 tahun.

Sistem pendidikan di Jerman memungkinkan setiap individu bebas memilih bidang mana yang dia sukai yang juga sesuai dengan kemampuannya. Masa sekolah dasar 4 tahun, setelah itu siswa diberi kesempatan memilih apakah akan masuk ke Realschule, Hauptschule, atau Gymnasium. Di tingkat pendidikan tinggi, pilihan semakin luas. Di program magister, mahasiswa mengambil 1 jurusan sebagai Hauptfach (jurusan utama, mayor) dan 2 jurusan lainnya sebagai Nebenfach (jurusan sampingan, minor). Mahasiswa boleh mengambil kombinasi jurusan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Ada mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa Jerman sebagai jurusan utama, dan ekonomi serta geografi sebagai jurusan sampingan Selama dia mau dan mampu mengapa tidak? Saya sendiri saat itu mengambil kombinasi jurusan Interkulturelle Germanistik, Germanistische Linguistik, dan Pädagogik. Pertimbangan saya saat itu adalah minat dan kesejajaran program yang juga cocok dengan pekerjaan dan hobby saya sebagai pengajar. Pilihan yang tepat saya rasa, karena ketiga jurusan itu saling melengkapi satu sama lain. Namun, walaupun kita tidak mengambil salah satu jurusan sebagai major dan minor kita, mahasiswa tetap boleh mengikuti perkuliahan yang diadakan oleh jurusan lain. Saya cukup sering ikut kuliah di jurusan sosiologi, dan pernah ikut kuliah di jurusan didaktik kimia (bahkan bekerja di sana), karena saya tertarik pada tema-tema yang diberikan di sana. Untuk program diplom, ada yang menawarkan variasi pilihan program, tetapi tidak sebanyak magister, ada pula yang tidak.  Selain program diplom dan magister, ada juga program Lehramt untuk mereka yang ingin menjadi guru sekolah dasar dan sekolah menengah.

Jenjang studi di setiap program dibagi menjadi Grundstudium (semester 1 – 4) dan Hauptstudium (semester 5 – 8). Untuk masuk ke Hauptstudium mahasiswa harus mengikuti dulu ujian Vordiplom (untuk program Diplom) atau Zwischenprüfung (untuk program Magister). Ujian akhir disebut Diplomprüfung dan Magisterprüfung. Bentuk ujiannya tertulis dan lisan. Selain itu mahasiswa masih harus menulis Diplomarbeit atau Magisterarbeit (semacam tesis). Karena mahasiswa mengambil Hauptfach dan Nebenfach, maka mereka mengikuti ujian Vordiplom atau Zwischenprüfung serta ujian Diplom dan Magister di semua jurusan yang mereka ambil. Misalnya saya mengambil Interkulturelle Germanistik sebagai Hauptfach, maka saya menulis Magisterarbeit untuk bidang ini, melaksanakan ujian tertulis selama 4 jam, dan ujian lisan selama 1 jam. Di jurusan germanistische Linguistik dan Pädagogik saya hanya perlu melaksanakan ujian lisan (boleh memilih antara ujian lisan atau tertulis) di masing-masing jurusan selama 30 menit. Jadi total untuk mendapatkan gelar Magister/Magistra mahasiswa harus menulis 1 tesis, 1 ujian tertulis dan 3 ujian lisan. Tesis tidak diujikan dan tidak dipertahankan. Tema ujian dan dosen yang akan menjadi penguji ditentukan oleh mahasiswa yang bersangkutan, sesuai dengan tema dan minatnya. Bahan ujian sifatnya komprehensif yang berasal dari mata kuliah-mata kuliah yang dipelajari oleh si mahasiswa selama masa studinya.

Jika pada akhirnya banyak mahasiswa program magister atau diplom bisa kuliah sampai lebih dari waktu reguler studi (8 semester), bahkan ada yang sampai 10 tahun, selain karena harus kuliah di 3 jurusan (dan di setiap jurusan harus ada ujian), juga karena kebebasan yang diberikan untuk mahasiswa memilih berapa mata kuliah yang akan dia ikuti di setiap semester. Jika mereka malas atau sibuk bekerja, dalam satu semester dia bisa tidak kuliah sama sekali. Jika rajin dan tidak ada kesibukan, dalam satu semester dia bisa mengambil banyak mata kuliah. Namun, jangan harap bisa seperti di Indonesia yang satu semester mahasiswa bisa mengambil 22 SKS, bahkan lebih, di sini mengambil 10 SKS saja sudah cukup membuat terengah-engah. Bahan kuliah dan tuntutan bacaan yang banyak membuat saya pernah hanya sanggup mengambil 3 mata kuliah masing-masing 2 SKS. Untuk jurusan eksakta, jenis praktikum yang beragam juga menuntut konsentrasi penuh. Kebebasan, sekaligus kemandirian, dan kemampuan mengenali diri memang dituntut oleh program „klasik“ ini. Tidak ada daftar hadir mahasiswa, ujian akhir biasanya berupa makalah yang bisa dikerjakan kapanpun, tidak ada batas. Bahkan banyak mahasiswa yang hanya datang di awal kuliah, setelah itu tidak pernah masuk lagi, hanya datang ketika ujian atau ketika menyerahkan makalah. Ini tidak menjadi masalah, karena bahan kuliah untuk satu semester sudah diberikan di awal perkuliahan lengkap dengan referensi buku yang biasanya disimpan di perpustakaan di Semesterapparat dosen pengasuh mata kuliah tersebut. Saking bebasnya, saya pernah menunda makalah selama satu tahun.

Mata kuliah yang ditawarkan cukup banyak, namun hanya beberapa saja yang wajib diikuti, karena dalam satu program (sampai jenjang Magister berakhir misalnya) mahasiswa hanya wajib mengumpulkan beberapa Schein (nilai) yang disyaratkan oleh setiap program studi. Misalnya 4 Leistungscheine di Proseminar (seminar untuk Grundstudium) dan 2 Leistungsscheine di Hauptseminar (seminar untuk Hauptstudium) yang didapat setelah mahasiswa melakukan presentasi dan membuat makalah atau ujian lisan atau juag ujian tertulis di kelas, ditambah dengan Teilnahmeschein (Schein yang tidak diberi nilai, hanya bukti kehadiran saja, biasanya diberikan dengan syarat kita harus rutin hadir, membuat protokol, atau melakukan presentasi kecil).

Bentuk perkuliahan dibagi menjadi Vorlesung (kuliah umum), biasanya diadakan di aula dan dosen memberikan kuliah, mahasiswa mendengarkan, kemudian Seminar (Pro- dan Hauptseminar) di ruangan yang lebih kecil, dosen lebih berperan sebagai fasilitator diskusi. Ada juga praktikum, selain itu masih ditambah juga dengan tutorium sebagai tambahan dan pendalaman untuk mata kuliah tertentu jika dianggap perlu.

Tradisi pendidikan tinggi yang menjadi kebanggaan orang Jerman ini (karena sangat berbeda dari negara-negara Eropa lainnya) berubah pada tahun 1999 dengan ditandatanganinya Bologna-Process oleh negara-negara anggota Uni Eropa yang mengusung issue rencana politis terciptanya pendidikan Eropa yang satu sampai batas tahun 2010. Tahun 2010 semua negara anggota Uni Eropa sudah harus menerapkan sistem ini.  Perubahan ini bukan tanpa protes, Jerman adalah salah satu negara yang lambat melaksanakan program ini, karena penduduknya (terutama pelaku dunia akademis kalangan “tua”) tidak setuju dengan perubahan sistem pendidikan ini. Protes terjadi di mana-mana, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang muda kebanyakan setuju karena pendidikan tinggi menjadi lebih padat dan singkat, semua seragam di setiap negara anggota Uni Eropa, sehingga mahasiswa Jerman bisa kuliah di Inggris atau Perancis dengan mudah, karena nilai yang sudah didapat bisa ditransfer. Yang kontra biasanya kalangan tua yang tidak ingin Jerman kehilangan „tradisi“ pendidikan tingginya yang sudah berjalan ratusan tahun.

Sistem penilaian ini yang dilansir dalam Bologna-Process ini disebut dengan European Credit Transfer System (ECTS). Program di perguruan tinggi pun menjadi program Bachelor (B.A) dengan mengumpulkan poin sebanyak 180−240 ECTS dan jika ingin lanjut ke program master harus mengumpulkan  poin sebanyak 90−120 ECTS-Credits (minimal 60).

Perubahan inilah yang saya lihat saat saya “salah masuk” ke kelas pengantar analisis wacana untuk mahasiswa Bachelor semester 1. Mereka ternyata “hanya” kuliah di satu program saja, dengan modul perkuliahan yang sudah disiapkan. Begitu juga untuk program  master. Salah seorang teman saya yang sudah mengikuti program master pada tahun 2004 di Freiburg sudah melakukannya. Salah seorang teman di Heidelberg mengikuti program master dengan perkuliahan yang padat dari jam 9 sampai jam 17 dari Senin sampai Jumat, dengan masa studi 18 bulan. Dia berkuliah di satu jurusan saja. Satu hal yang mustahil dilakukan dalam program Diplom dan Magister.

Dalam setiap perubahan ada sisi positif dan negatifnya. Menghindari adanya mahasiswa abadi yang tak kunjung selesai kuliah (dengan berbagai alasan, status mahasiswa itu tetap membawa keuntungan tertentu), maka program Bachelor dan Master ini cukup tepat. Namun, melihat “pemaksaan” materi perkuliahan yang cenderung dipaksakan membuat mahasiswa jadi tidak mendalami apa yang dipelajarinya. Tidak heran banyak mahasiswa yang stress karena waktu perkuliahan yang padat. Lepas dari itu semua, saya sempat berpikir tentang “uniformitas” pola pikir dan “penyamarataan” manusia. Agak mengerikan, karena mahasiswa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam dunia yang universal, tetapi menjadi manusia yang seragam dengan manusia yang lain. Alasan politis, sudah jelas. Alasan ekonomi, tentu saja (sekarang mahasiswa sudah harus membayar 500 € setiap semester, termasuk murah jika dibandingkan dengan uang kuliah di Inggris dan Amerika). Alasan lain, siapa yang tahu. Ketika universitas sudah menjadi uniformitas, menjadi diri sendiri butuh perjuangan ekstra keras. Ini curhat pribadi, mungkin karena saya termasuk produk lama, saat uang kuliah belum diberlakukan di Jerman, saat kuliah di tiga jurusan masih diberlakukan. Dan hidup memang akhirnya mengalir mengikuti waktu. Globalisasi datang, tidak ada yang bisa membendung dan lepas darinya. Jadi, kita ikuti saja. Ada bagusnya juga, minimal saya terpacu (atau terpaksa) untuk menyelesaikan jenjang yang saya ikuti sekarang selama 3 tahun, dengan aturan ini itu yang mungkin berguna  juga diterapkan untuk saya yang lebih suka bebas ini. Harus agak diikat sedikit :)

Meracik Rasa dan Cinta

Saya  tadinya berpikir orang akan mengomentari tulisan saya sebelumnya di bagian debat, diskusi, atau bagaimana cara orang mengatasi konflik . Tulisan saya minggu lalu saya rasa memang cukup beranak pinak dengan berbagai rhema yang bisa dikembangkan menjadi tema-tema lain. Namun, dugaan saya tidak sepenuhnya benar bahwa bahasan akan berlanjut pada budaya akademis, walaupun ada juga yang berkomentar tentang itu, tetapi selebihnya adalah komentar tentang makanan dan budaya. Mengenyampingkan kenyataan bahwa yang berkomentar tentang budaya ilmiah itu laki-laki dan komentar tentang budaya makanan, memasak, „melayani“ orang itu perempuan, saya kemudian jadi berpikir kembali tentang makanan, memasak, dan konsep melayani. Tak lama kemudian saya membaca tulisan salah seorang teman tentang memasak dan konsep identitas diri. Di kamar mandi –seperti biasa menjadi tempat paling nyaman untuk melamun dan berefleksi- saya juga teringat sebuah cerita pendek di KOMPAS tentang seseorang yang benci pada makanan rumah karena selalu teringat pada ibunya yang sangat benci memasak, karena ibunya selalu memasak dengan terpaksa. Banyak pertanyaan berkelabatan dan mendesak masuk ke kepala, termasuk ingatan pada ibu saya nun jauh di sana. Ah, dan tampaknya tema ini tampaknya bisa menjadi  pengalihan yang menarik dari kewajiban membuat ragangan penelitian. Pembenaran yang lain.

Jadi, sahabat saya menulis bahwa dalam budaya “orang bule” makanan menjadi urusan yang kesekian, dengan porsi yang juga tidak banyak. Berbeda dengan di Indonesia (atau saya tidak tahu, mungkin di sebagian besar budaya “Timur”), yang menempatkan makanan menjadi nomor utama dengan porsi banyak dan servis yang luar biasa. Seorang sahabat lain berkomentar bagaimana dia diundang ke suatu pesta oleh orang Jerman. Dia membawa makanan sebagai antaran, makanan yang juga sangat ingin dia makan sebenarnya, karena dalam pikirannya makanan itu “pasti” akan ikut dihidangkan seperti yang biasa terjadi dalam normalitas budaya di Indonesia. Namun, tidak. Makanan itu disimpan sendiri oleh si tuan rumah. Pelitkah si tuan rumah? Belum tentu, walaupun juga bisa jadi dia memang pelit. Dalam normalitas budaya Jerman, jika seseorang diberi maka pemberian itu menjadi haknya. Adalah satu penghormatan jika hadiah disimpan sendiri karena hadiah diberikan khusus untuknya, tidak untuk dibagikan lagi. Kesannya jadi tidak menghargai pemberian si pemberi hadiah.  Di Indonesia, tamu tampaknya lebih berhak dari tuan rumah, karena konsep menghormati orang yang datang sebagai pihak yang membawa rejeki dan rejeki harus dibagikan, tidak layak disimpan sendiri.

Konsep berbagi: membuat orang lain bahagia dan merasa bahagia karenanya ini indah menurut saya pribadi. Namun, sampai titik tertentu ternyata tidak bisa diabaikan bahwa konsep ini bisa menjadi paksaan yang menekan dan mengganggu. Seperti cerpen yang pernah saya baca, atau tulisan seorang teman tadi tentang memasak yang membuatnya berpikir bahwa memasak itu menjadi salah satu sarana budaya patriarki untuk menekan perempuan. Konsep memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang tidak bisa memasak “bukan perempuan”, dan tuntutan-tuntutan lain yang dijadikan senjata untuk membuat perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Membaca tulisan teman saya itu saya jadi teringat ibu saya yang sangat suka memasak, memasak dengan penuh cinta , mengembangkan dirinya dengan memasak, dan mengaktualisasikan dirinya lewat masakan dan kursus masak. Namun, di saat tertentu –dan ini cukup sering saya lihat sepanjang hidup saya dengannya- dia akan dengan mudahnya bilang dia tidak ingin memasak, tidak ingin melayani keluarganya karena dia lelah atau dia sedang ingin melakukan hal yang lain, kemudian meminta kami membeli makanan jadi saja. Bapak saya bukan orang yang sulit, jadi itu memudahkan ibu saya untuk mengungkapkan apa yang dia mau dan dia ingin lakukan. Anak-anaknya –selain saya yang keras kepala minta telur dadar tidak mau makan telur ceplok- juga terbiasa dengan ini, walaupun terus terang saya sempat punya frame yang cukup lama menempel bahwa ibu saya belum cukup “ibu-ibu” karena dulu cukup sering membeli makanan jadi dibandingkan memasak sendiri. Frame itu lambat laun menghilang seiring dengan bertambahnya usia saya. Saya bisa melihat bahwa ibu saya punya passion dalam memasak dan menyediakan makanan. Pikiran dan pemahaman yang muncul ketika saya sendiri kemudian terjun ke dapur, dan saya menemukan passion yang mungkin kurang lebih sama dengan yang dirasakan ibu saya. Meracik bahan, mengolahnya, mencicipinya, menyajikannya, menyantapnya, melihat orang lain menyantapnya, mensyukurinya minimal dengan binar mata , dan dada (apalagi perut) menjadi  penuh. Juga perasaan kecewa yang muncul karena peristiwa itu tidak selalu terjadi.  Ya, saya memang akhirnya bisa masuk ke dalam passion itu.

Dapur untuk ibu saya (dan saya di kemudian hari) adalah ruang intimasi yang luas dan besar untuk berinteraksi dengan dirinya. Dia punya kuasa di sana, termasuk melarang anak-anaknya masuk ke sana, karena hanya akan mengganggu ruang kontemplasinya saja. Namun, tidak lingkungan sekitar kami. Bapak saya masih menyuruh kami –anak-anaknya yang perempuan- masuk ke dapur: membantu ibu. Nenek dan bibi-bibi kami juga berpendapat demikian, apalagi tetangga: anak perempuan harus belajar masak, anak laki-laki “haram” hukumnya masuk ke dapur.  Sebaliknya justru ibu saya melarang kami semua masuk. Dia tidak ingin ruangnya diganggu, areanya dimasuki.  Oleh karena itu, kami tidak pernah punya pembantu rumah tangga, karena ibu saya bersikukuh bahwa dapur dan rumah adalah tempat dia bereksistensi. Tidak boleh ada orang lain mengganggunya. Ibu saya memilih itu dan dia melakukannya –sepanjang yang saya lihat sampai sekarang – dengan nyaman. Jadi di saat-saat tertentu dia sedang tidak ingin berkutat di istananya itu, dia bisa bebas keluar, karena itu “milik” dan “hidup”nya, dia bebas melakukan apapun untuk itu. Di satu sisi, untuk kami anak perempuannya ini jadi hal yang menguntungkan, kami bebas dari kewajiban domestik, sehingga sampai sekarang anak-anak perempuan ibu saya jadi orang luaran. Sebaliknya, adik saya yang laki-laki juga menjadi laki-laki yang “manja” karena urusannya selalu disediakan ibu saya. Kadang tidak bagus juga.

Namun, sekali lagi saya melihat –dan ini yang masih selalu jadi salah satu bahan “pertengkaran” saya dan dia- ibu saya melakukannya dengan cinta. Termasuk jika dia selalu berlama-lama ada di dapur saat menjelang lebaran. Melupakan tidur dan hal lainnya, hanya karena ingin saat lebaran keluarga dan tamu bisa menikmati racikan masakan dan kue-kue buatannya. Dan ada kebahagiaan sendiri, selalu saya lihat, saat orang-orang mencecap masakannya dengan nikmat, kemudian memujinya. Saya rasa, semua lelah saat proses memasak itu terbayar sudah.  Kadang tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi. Saya selalu heran bagaiman dia bisa menggerus satu kilo cabe sampai halus setiap hari untuk pesanan catering guru-guru TK dan SD. Pesanan yang harganya tidak sebanding dengan rasa dan variasi menu yang selalu istimewa dibuatnya. Apakah dia mengeluh? Tidak. Saya yang mengeluh karena saya menghitung berapa harga minyak, berapa biaya bahan-bahannya, belum lagi harga bensin untuk mengantar dan waktu yang terpakai. Dia hanya menjawab: kasihan, sudah capek mengajar. Mungkin dia berpikir juga tentang anak-anaknya yang bekerja. Konsep melayani, meng“hamba“ sekaligus menjadi „tuan“,  menurut saya, tampak sekaligus padanya. Dan ibu saya mungkin sudah sampai pada tahapan itu, karena saya bisa melihatnya dari caranya mengiris, memotong, menggulung, melipat, menggoreng, dan menyajikan masakannya. Dia melakukan itu tanpa banyak berkata dan terlihat begitu meresapinya.

Konsep „menghamba“ dan „melayani“ ini yang mungkin membuat memasak untuk beberapa orang menjadi paksaan, karena di saat yang sama mungkin diembel-embeli lagi dengan label memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang sempurna adalah perempuan yang bisa memasak, dll. Saya rasa mungkin pendapat memasak jadi paksaan menjadi benar juga, karena label seperti itu hanya membuat orang merasa „disuruh“, tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Menurut saya, mungkin bukan konsepnya yang „menyebalkan“, tapi labelisasi itu yang menyulitkan.

Mengingat ibu saya, saya jadi melihat diri saya sendiri yang sejak tahun 1997 seolah menjadi cermin dari ibu saya. Dapur dan memasak menjadi saat-saat intim saya berinteraksi dengan diri saya. Dapur dan memasak juga menjadi tempat „melarikan diri“ dari „dunia luar“. Pernah suatu hari menjelang lebaran saya marah pada ibu saya karena dia begitu berpayah-payah –saya lihat- menyiapkan aneka rupa masakan. Saya capek melihatnya, karena dengan logika pikiran saya yang sok tahu ini hal itu hanya membuang-buang uang, waktu, dan tenaga saja. Dan ibu saya yang tahu benar bahwa anaknya sebenarnya seperti dirinya kemudian pergi, membiarkan saya sendiri di rumah. Pada akhirnya justru saya yang menyelesaikan semua masakan itu sampai selesai dan saya puas. Ya, dapur dan memasak untuk saat dan kondisi tertentu bisa menjadi tempat saya melepaskan stress. Saya memasak dengan rasa senang, tapi saya juga bisa berada di dapur dan memasak seharian jika saya tertekan. Saya bebas melakukan apapun di sana. Tempat escaping dan katarsis yang menyenangkan bahkan.

Namun, apakah rasa cinta saja cukup untuk membuat acara masak memasak menjadi menyenangkan? Telefon dari seorang sahabat di benua yang lain di belahan bumi selatan  tepat tengah malam dua hari lalu membuat diskusi tentang masak memasak ini menjadi berkembang, kemudian meluas ke budaya makan dan mengkonsumsi makanan lalu merebak jauh ke masalah sampah dan pengolahan sampah. Kembali ke rasa cinta dan memasak, tentulah akan sulit jadinya jika cinta tak berbalas. Manusiawi sekali. Mertua sahabat saya itu, -karena alasan tertentu- cukup memilih makanan apa yang bisa masuk ke tubuhnya, dan ini tentu menyulitkan orang yang akan memasak untuknya. Akhirnya jika mertuanya datang, sahabat saya jadi tidak ingin memasak untuknya, walaupun tentu saja dia mencintai mertuanya, karena dia juga bisa kecewa jika masakannya tidak dimakan atau malah akan membuat mertuanya sakit. Tidak tulus? Tidak juga, saya rasa, ini manusiawi. Dan bukankah akan lebih membuat sedih jika masakan yang kita buat demi cinta, justru malah membuat orang yang kita cintai menjadi celaka atau sakit? Dilematis, karena cinta juga beririsan dengan kecewa.

Ngomong-ngomong,  saya jadi penasaran, apakah sebenarnya yang ada di pikiran dan perasaan orang-orang saat meracik masakan, memasaknya lalu menghidangkannya. Mana yang dominan? Rasa cinta? Mungkin kalau perasaan ini yang dominan maka memasak akan menyenangkan dan membahagiakan seperti yang terlihat di setiap acara kuliner dan masak memasak yang disiarkan di tv. Masakan pun tampak lezat dan menggiurkan. Ataukah rasa marah dan benci yang dominan? Sehingga seperti yang ditampilkan terjadi di film-film horor dan suspens tentang orang-orang yang meracik bahan masakan ditingkahi dengan bayangan-bayangan orang  atau binatang berkelibatan  sebagai objeknya. Mengerikan. Jangan-jangan memang ada rasa-rasa seperti ini saat memasak. Dua rasa yang berlomba mendominasi satu di atas yang lain. Manusia hidup: meracik rasa dan cinta, mungkin juga benci. Semoga bukan rasa yang terakhir.

Hari Jumat dan Sabtu kemarin mengikuti seminar dua hari bertemakan „Kommunikationskultur – Theorie und Forschung“ yang diadakan oleh Lehrstuhl Kultur und Religionssoziologie Universitas Bayreuth, setidaknya cukup bisa membuat saya beranjak dari suasana hati dan pikiran bahwa saya di Bayreuth sedang berlibur. Saya sedang kuliah, jadi harus segera bangkit dari kemalasan dan keinginan jalan-jalan terus. Btw, kuliahnya sih saya suka, asal jangan diminta membuat tugas.

Jadi, para sosiolog yang datang dari berbagai penjuru Jerman, ada juga yang datang dari Swiss, berkumpul di aula canggih Fakultas Angewandte Informatik. Beberapa nama sudah saya kenal, dan akhirnya bisa bertemu muka juga. Rupanya seminar dua hari itu dimaksudkan dalam rangka memperingati 50 tahun Hubert Knoblauch, yang judul bukunya dijadikan judul seminar ini. Tema yang diangkat dan ditampilkan berkisar pada tema Kommunikative Gattung dan Gattungsanalyse. Tidak semua tema yang disampaikan  oleh 11 pembicara yang semuanya profesor bisa saya mengerti, kebanyakan malah tidak. Namun, ada juga beberapa tema yang menarik dan cukup bisa saya ikuti.

Saya tidak akan membahas masing-masing tema yang memang sangat-sangat teoretis. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana budaya seminar dan komunikasi antarpelaku dunia akademis terjadi di sini.  Ini memang bukan pertama kalinya saya ikut seminar semacam itu, tahun 2003 dulu saya pernah mengikuti konferensi yang lebih besar lagi di Wina, Austria. Namun, justru karena lingkupnya agak kecil, saya jadi bisa mengamati dengan lebih jelas.

Seminar dibuka tepat jam 9, setelah para peserta datang, mendaftarkan diri, dan saling menyapa. Tidak banyak peserta yang mengikuti seminar ini, entah karena publikasi yang kurang atau memang karena temanya terlalu spesifik. Tanpa basa-basi terlalu banyak, acara langsung dibuka dengan sambutan pendek dari Dekan Fakultas Kultur- und Religionswissenschaft dan sabmbutan dari ketua panitia. Semua dilakukan dengan suasana yang cukup santai, tidak ada formalitas apapun. Tidak menunggu lama, pembicara pertama memulai presentasinya. Di jadwal acara, setiap orang mendapat jatah waktu 45 menit untuk bicara dan diskusi. Namun, pada kenyataannya waktu 45 menit terlewati sampai 90 menit untuk bicara dan diskusi. Acara diskusi ini yang memakan waktu cukup lama. Diskusi atau mungkin lebih tepat disebut debat ilmiah berlangsung seru. Para profesor sosiologi itu saling mengungkapkan pendapat, kritik, pendapat, atau saran dengan sangat terbuka. Tidak tertutup kemungkinan bahwa masing-masing dari mereka tidak setuju, dan itu diungkapkan, namun jika setuju pun biasanya –dan ini khas Jerman- mereka selalu menambahkan „aber…“ atau „tetapi…“. Tentu saja tetapinya lebih banyak dari persetujuan mereka. Debat pada pembicara cukup seru, ketika seorang profesor muda –perempuan- mendebat dengan keras statement pembicara yang sudah senior (dari segi usia dan pengalaman)  -pria- . Keterbukaan suasana diskusi dan debat rupanya tidak berjalan mulus, karena ketika si profesor perempuan tadi bicara, giliran si bapak yang mendebat dengan keras, dan akhirnya terjadi adu mulut yang mengakibatkan si profesor muda tersinggung dan meninggalkan podium. Hmm, terjadi juga rupanya hal-hal semacam ini. Namun, di luar saat istirahat, mereka berdua berpelukan, dan saat diskusi selanjutnya, si bapak meminta maaf di depan forum pada si profesor muda. Rasanya hal seperti ini yang jarang –atau mungkin belum pernah- saya temukan di seminar-seminar yang saya ikuti di Indonesia, mungkin karena memang jarang juga sampai ada debat cukup sengit dan semua peserta dan pembicara saling menjaga perasaan. Mungkin bagus juga.

Saya berharap presentasi yang disampaikan semenarik debatnya, sayangnya tidak saya temukan. Hanya satu orang yang mempresentasikan materinya dengan bebas, tidak membaca teks, sisanya membaca teks yang bisa sampai berlembar-lembar, seperti sedang memberikan ceramah. Kalaupun ada power point biasanya hanya jadi latar belakang saja, tidak membantu banyak, karena slide-slide yang ditampilkan pun tidak terlalu menarik. Ini yang sering dikritik oleh teman-teman dari jurusan eksakta, bahwa orang-orang ilmu sosial itu hanya memindahkan word ke dalam power point. Tidak menarik, katanya. Tema-tema yang disampaikan pun sayangnya hanya berkutat di masalah teori. Hanya dari Spanyol dan Swiss yang memberikan penelitian empirisnya. Saya tidak tahu apakah ini kelemahan atau kelebihan, ketika seseorang mendalami bidangnya dengan begitu dalam, akhirnya jadi tidak tahu –atau mungkin tidak tertarik- pada hal-hal lain di luar bidangnya. Namun, ini akan membuat dia menjadi tahu sampai sedetil-detilnya. Dan hal ini terjadi dalam seminar kemarin. Mereka paham bidang mereka sampai detil, sampai pemilihan kata dan istilah pun diperdebatkan. Saya tertarik pada sosiologi, tapi karena memang tidak mendalami itu sedalam-dalamnya, akhirnya jadi bertanya-tanya –sambil kadang terkantuk-kantuk juga- untuk apa mereka mendebatkan itu. Walaupun mungkin memang begitu ketika orang sudah mendalami suatu hal, hal kecil saja akan menjadi perhatian. Saya juga ternyata bisa berdiskusi panjang lebar tentang kata ganti orang, misalnya. Hal yang untuk banyak orang juga tidak perlu diperdebatkan. Jadi, ya, memang begitu.

Hal lain yang menarik perhatian saya –juga dari pengalaman mengikuti konferensi di Wina dulu- adalah mereka tidak terlalu heboh mengurusi makanan. Enaknya mengikuti seminar atau konferensi di Indonesia adalah makanannya: berlimpah dan sering ada jeda waktu minum teh dan kopi. Dan itu disiapkannya dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan, walaupun sering kita jadi kekenyangan karena kebanyakan makan dan terkantuk-kantuk saat mengikuti seminarnya. Di sini tidak, makanan disediakan seadanya. Yang jelas kopi dan teh harus ada. Minuman yang cukup banyak. Makan siang hari pertama cuma Gemüse Lasagna untuk yang minta makanan vegetarian (dan porsinya besar!) dan Fränkische Küche (3 iris tipis daging dan 1 Knödel besar) untuk nonvegetarian. Rehat kopi cuma kopi, teh, dan kue kering yang bisa dibeli murah di supermarket. Malah, teman saya tadi cerita, dia diundang ke acara pembukaan cabang suatu bank, untuk makanan dan minuman, dia harus membayar ekstra 1 €.

Acara makan memang boleh sederhana, tapi saya salut dan kagum dengan profesor-profesor itu, yang bisa tahan minum kopi bercangkir-cangkir sambil diskusi dan berdebat. Saya juga kagum pada daya konsentrasi mereka mendengarkan, sehingga diskusi tidak lari ke mana-mana, melainkan sambung menyambung dari pendapat satu ke pendapat lainnya. Dan mereka bisa mengutip dengan tepat kalimat-kalimat yang diucapkan sebelumnya.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya ini peserta seminar atau pengamat seminar? Dua-duanya. Seminar ini tentang kommunikative Gattung -bahasan saya juga-, dan untuk saya yang lebih tertarik pada masalah bahasa, interaksi pengguna bahasa, serta bagaimana bahasa verbal dan nonverbal diterapkan dalam konteks situasi komunikasi tertentu, menjadi pengamat justru lebih menarik perhatian saya. Biarlah mereka  memperdebatkan teori yang mereka buat dan kritisi sendiri, saya justru melihat aplikasinya. Dalam hal ini bagaimana budaya komunikasi di “ilmiah”kan dan bagaimana budaya “ilmiah” dikomunikasikan. Pelajaran yang belum tentu saya dapat di perkuliahan rutin dan buku teks.

Ada acara yang tidak bisa tidak saya lewatkan di Jerman ini. Frankfurter Buchmesse. Pameran buku terbesar di Jerman ini selalu menarik-narik saya. Dan kali ini, kesempatan untuk pergi ke sana juga tidak saya sia-siakan.  Jadi, akhir pekan lalu saya ke Frankfurt. Kali ini ikut bis wisata dari Bayreuth ke Frankfurt. Lumayan lebih murah, tidak usah pindah-pindah kereta. Berangkat dari Bayreuth jam 7 pagi dengan penumpang yang kebanyakan orang-orang tua (sudah saya duga), bis yang nyaman dengan sopir yang ramah itu istirahat di Würzburg. Waktu istirahat hanya bisa dimanfaatkan untuk ke toilet, saking antrinya. Perjalanan kemudian dilanjut ke Frankfurt. Tiba di area Frankfurter Buchmesse sekitar jam 11 lebih. Cuaca agak mendung, tapi tidak sedingin di Bayreuth yang tiga hari berturut-turut bersalju dengan suhu di bawah nol.

Kami tiba di Halle 9. Jadi ada area 9 hall yang dipakai untuk pameran ditambah ruang terbuka untuk panggung dan acara penyerta lainnya. Tiket masuk seharga 14 €. Ehrengast atau negara yang menjadi  tamu kehormatan tahun ini adalah Cina. Jadi nuansa pameran kali ini merah.  Saat saya berjalan menuju tempat tiket, seorang lelaki tua menghampiri saya. Ternyata dia dari Bayreuth juga, kami pergi bersama tadi. Dasarnya saya juga tidak terlalu mempedulikan orang, jadi tidak sadar kalau dia berangkat dengan bis yang sama. Berjalan sambil berbincang-bincang. Cukup cerewet juga bapak satu itu. Bercerita macam-macam, dia pendeta protestan yang juga seorang  wasit sepak bola dengan bermacam penghargaan. Segala macam diceritakan. Dan memang Bayreuth kota kecil, semua orang saling mengenal. Jadi orang yang saya kenal juga dia kenal, begitu juga sebaliknya. Awalnya nyaman, lama-lama kok saya jadi merasa tidak nyaman, karena dia menempel saya terus. Tidak mau lepas. Kami hanya berpisah di Halle 3, karena dia ingin melihat bagian buku-buku agama, sedangkan saya ingin melihat buku-buku sastra. Yah, tidak apa-apalah sesekali menemani bapak tua yang butuh teman untuk bercerita atau tepatnya mendengarkan ceritanya.

Oh ya, saya mau bercerita tentang Frankfurter Buchmesse. Seperti biasa selalu menarik, walaupun dengan penjagaan dan pemeriksaan yang semakin ketat. 3 Halle dipakai untuk penerbit-penerbit internasional. Halle lain untuk penerbit-penerbit Jerman. Ada bagian khusus untuk buku anak dan remaja, sastra, buku teks ilmiah, sport, religi, turisme, dll. Ada juga Halle khusus untuk media, tempat diskusi dan acara live. Tidak hanya penerbit-penerbit besar yang mengisi stand pameran, tetapi juga penerbit-penerbit kecil, penerbit alternatif yang hanya menerbitkan buku-buku khusus dengan jumlah terbatas dan edisi special saja.

Walaupun tidak semeriah dan sepenuh saat tahun 2005 saya ke sana (saat itu negara tamunya adalah negara-negara Arab), pameran ini tetap layak untuk dikunjungi. Tidak akan pernah cukup waktu untuk melihat-lihat buku yang dipamerkan di sana. Sayangnya tahun ini Indonesia tidak membuka stand di sana. Entah kenapa. Namun, di stand penerbit pemerintah Belanda saya justru banyak menemukan buku-buku tentang Indonesia. Salah satunya buku tentang Si Doel dan fenomenanya (jadi ingat, sepertinya buku itu yang dibawa oleh Rano Karno saat mengisi acara di Fakultas Sastra Unpad tahun lalu). Menarik sebenarnya ada di Halle penerbit internasional ini. Bahasanya bermacam-macam, dan kita bisa mengetahui trend dan gaya penerbitan serta buku-buku yang diterbitkan di beragam negara.

Di Halle 3 tempat buku-buku sastra dipamerkan (dari penerbit-penerbit Jerman), saya cukup banyak mendapat buku gratisan, belumlah lagi kartu pos atau pembatas buku. Di Halle ini juga diadakan demo masak di stand buku masakan, acara mendongeng, diskusi dengan Peter Maffay yang dibuat biografinya. Beberapa diskusi diadakan di foyer penghubung antar Halle. Sayang diskusi dengan Hertha Müller dan Günther Grass diadakan di hari-hari pameran yang tidak dibuka untuk umum.

Sambil melepas lelah sejenak setelah berjalan dari stand ke stand dari Halle ke Halle, saya duduk sambil membaca buku di stand dtv, reclam, dan beberapa stand menarik lainnya, karena stand-stand tersebut dibuat senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk dan sofa yang nyaman, sehingga pengunjung yang datang juga bisa ikut membaca dengan tenang. Tidak terburu-buru dan berdesak-desakan layaknya pameran buku di Bandung.

Hari itu saya tidak membawa oleh-oleh sebanyak waktu 2005 dulu saya ke sana, karena buku-buku dijual baru keesokan harinya. Namun, beruntung juga, kalau tidak, saya bisa kalap. Enam jam berlalu begitu cepat di sana. Saya masih belum puas sebenarnya, tetapi bis akan berangkat pulang ke Bayreuth jam 5. Saya harus ikut juga. Kami tiba di Bayreuth jam 21 kurang. Cukup menyenangkan, walaupun saya agak terganggu karena ditempeli si bapak tua yang doyan bercerita itu. Tak apalah, yang penting saya senang karena bisa berada (lagi) di surga buku-buku itu. Ngomong-ngomong, saya juga senang karena kiriman buku dari Indonesia sudah datang. Lucu, buku-buku itu dikirim dari Jerman ke Indonesia, kemudian dikirim lagi ke Jerman dari sana. Tak apalah, yang penting saya tenang di tengah-tengah mereka. Tidak semuanya kok, karena saya sudah membeli dan berniat membeli buku-buku lain tentu.

Catatan: foto diambil sembunyi-sembunyi, karena dilarang memotret di area pameran. Untung juga kamera bisa selamat dari pemeriksaan.

Memanusiakan Manusia

Sore tadi saya berangkat naik bis dengan senang, setelah mendapat telefon bahwa pesanan laptop saya sudah datang dan sudah bisa diambil. Suhu hari ini yang cukup ekstrem untuk pertengahan bulan Oktober (nol derajat dan sudah turun hujan salju walaupun tak banyak) tidak mengganggu suasana hati saya. Matahari pun tetap bersinar cerah. Di Haltestelle Uni Verwaltung naiklah beberapa orang mahasiswa. Ada dua orang yang menarik perhatian saya. Dua orang anak muda. Keduanya berambut rasta dengan dandanan a la punk. Yang seorang berjaket merah, berambut rasta panjang. Yang seorang lagi berjaket agak kehijauan, rambut kepangnya diikat, dengan kepala sebagian botak. Si jaket merah berwajah menarik dan duduk di kursi roda. Wajah keduanya cerah. Kursi roda agak sulit dinaikkan. Cukup berat memang. Walaupun pada akhirnya memang bisa juga. Sepanjang perjalanan menuju kota, mereka berdua terus bercanda ceria, tertawa-tawa. Ada rasa haru menyelinap di hati saya menyaksikan keakraban dua orang sahabat yang setia berbagi hari, berbagi tawa, dan cerita.

Namun, bukan keindahan persahabatan itu saja yang membuat saya akhirnya menuliskan ini. Saya membayangkan si teman yang mengangkat kursi roda ke atas bis tentu tidak bisa setiap hari membantu sahabatnya. Pasti ada saat-saat dia harus melakukan pekerjaannya sendiri. Dan apakah dunia jadi berhenti karenanya? Apakah dia jadi tidak bisa naik bis lagi, pergi ke kota, atau berangkat kuliah? Hidup berjalan terus. Dengan atau tiadanya sahabat yang membantu. Duduk di kursi roda bukan berakhirnya dunia, Dan mereka, nyatanya sungguh-sungguh selalu lebih kuat dari orang-orang yang -disebut- “normal”.

Di Jerman ini, dan saya juga berharap di seluruh belahan dunia, mereka difasilitasi dengan baik oleh pemerintahnya. Dari mulai hal yang paling sederhana seperti fasilitas jalan yang ramah untuk semua pejalan kaki dan sepeda, trotoar yang lebar dan tidak naik turun, tidak berlubang, dengan jalur khusus untuk sepeda, sampai ke masalah aktualisasi diri. Di Bayreuth ini ternyata banyak hal baru setelah saya perhatikan lebih detil, yang tidak akan terlihat jika kita hanya melihatnya sekilas. Salah satu di antaranya adalah dipasangnya informasi dalam huruf-huruf Braille di setiap fasilitas umum, di kampus, di kendaraan umum, juga di setiap kotak kemasan makanan, minuman, dan obat-obatan. Di bioskop ada ruangan khusus untuk penderita tuna rungu, sehingga mereka bisa juga ikut menikmati film yang diputar. Itu yang baru. Janganlah tanya soal bis yang didesain sedemikian rupa bisa turun naik rata dengan jalan, sehingga memudahkan orang yang menggunakan kursi roda, membawa kereta bayi, menggunakan kereta dorong, menggunakan tongkat, atau untuk anak kecil dan orang-orang tua yang akan naik. Desain di dalam bis, trem, atau kereta api juga ramah bagi mereka yang membutuhkan. Selalu ada kursi yang dilipat untuk memberi tempat pada kereta bayi, kursi roda, kereta dorong, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga semacam papan panjang yang bisa digunakan untuk meletakkan keranjang bayi. Selain itu masih pula dipasang petunjuk kursi yang dikhususkan untuk orang tua atau mereka yang difabel. Tanda itu biasanya dipasang di dekat pintu atau di bagian depan kendaraan umum. Seolah sudah diatur, kursi-kursi bagian depan bis biasanya diisi oleh orang-orang tua, dan anak-anaknya mudanya biasanya langsung mengambil posisi di bagian belakang, jarang yang mengambil posisi di depan. Kalaupun mereka duduk di sana, kemudian ada orang tua yang masuk, mereka langsung pindah. Bagian belakang bis biasanya memiliki tempat duduk dengan posisi yang lebih tinggi. Ruang untuk berdiri pun cukup luas. Tidak hanya trotoar yang ramah pejalan kaki dan bagi para difabel, fasilitas umum selalu dilengkapi lift untuk mereka, atau di samping tangga selalu ada juga jalan khusus. Lantai dasar perumahan dan asrama biasanya dikhususkan untuk para difabel, sepanjang tidak ada permohonan khusus dari mereka. Toilet di fasilitas umum, kampus, perkantoran juga khusus. Di pusat perbelanjaan selalu ada ruang mencoba baju khusus bagi pengguna kursi roda.

Saya perhatikan semua orang juga mendapat kesempatan yang sama dalam proses pengaktualisasian diri. Semua mendapat kesempatan kerja yang sama selama mereka memang mampu. Di kampus saya, kepala bagian khusus mahasiswa asing berkursi roda. Beberapa orang yang bekerja di bagian kemahasiswaan juga difabel. Beberapa orang dosen dan professor juga sama. Dulu dosen bahasa Jerman saya juga menggunakan alat bantu berjalan. Seorang yang kuat, yang sering tidak mau dibantu untuk naik tangga. Belumlah lagi mahasiswa-mahasiswanya. Dari yang menggunakan kursi roda, sampai yang menggunakan alat bantu dengar juga ada. Tidak hanya di kampus, saya melihat orang-orang hebat itu juga bekerja di beberapa pusat perbelanjaan.

Ya, mereka semua memang manusia yang berhak untuk naik bis, berhak untuk membeli baju, berhak untuk jalan-jalan di taman, berhak untuk sekolah, kuliah, dan juga bekerja. Mereka manusia yang sama seperti manusia lainnya, yang juga sudah sepantasnya saling memanusiakan. Menyaksikan dua sahabat di bis tadi, pikiran saya melayang ke Bandung. Ke Indonesia. Sudahkah manusia-manusia di sana saling memanusiakan manusia lainnya? Sudah mulai. Syukurlah. Di Bandung, kampus ITB saya lihat sudah jadi kampus yang ramah pengguna. Beberapa departemen pemerintahan sudah pula dilengkapi fasilitas yang sama. Dan syukurlah bahwa Depdiknas, departemen yang memang sepantasnya sangat berkepentingan untuk memulai pendidikan yang memanusiakan, sudah mulai pula melakukannya. Saya ingat saat Prajab, beberapa orang peserta Prajab adalah rekan-rekan yang kuat tadi. Mereka adalah orang-orang hebat yang memang layak diberi kesempatan yang sama.

Masih dengan haru yang terus menyelusup di rongga dada, saya tersenyum melihat dua orang sahabat yang ceria itu turun di kota sambil terus bercerita riang. Senyum saya juga disertai harap, suatu saat negeri hangat nun jauh di seberang samudera pun akan lebih memanusiakan manusia-manusianya, sehingga persahabatan dan keceriaan seperti yang saya lihat tadi bisa juga semakin terlihat di sana. Semoga harapan saya ini tidak berlebihan, karena saya yakin hal ini sudah dimulai dan akan terus menjadi lebih baik.

Udara masih tetap dingin menusuk tulang. Salju turun sedikit-sedikit. Namun, matahari juga bersinar dan daun-daun masih ada yang hijau, belum sepenuhnya merah, kuning, coklat, lalu luruh. Tuhan memang Maha Kuasa.

H +7

Sudah seminggu saya berada di Bayreuth lagi. Kota yang saya tinggalkan 3 tahun lalu. Dan berada di sini lagi, pada H + 7 rasanya masih seperti mimpi. Tujuh hari yang lalu saya tiba. Saat itu mendarat di München, karena ada sahabat saya yang akan menjemput dan berbaik hati mengantar saya ke Bayreuth, dan tentu saja karena bisa pakai Bayern Ticket, sehingga lebih murah ongkosnya. Baru pertama kalinya saya ke bandara München. Tidak besar, jadi tidak terlalu bercapek-capek jalan kaki. Alhamdulillah pemeriksaan lancar. Tidak disambut oleh wajah-wajah kaku dingin petugas imigrasi Jerman dan melihat polisi berseliweran di mana-mana. Cuaca cukup ramah dan hangat untuk pagi di awal musim gugur ini. Dan bertemu sahabat saya tentu lebih menyenangkan lagi. Perjalanan panjang selama 17 jam masih akan dilanjut dengan perjalanan sekitar 4 jam lagi dengan kereta ke Bayreuth. Merasa aneh juga berada lagi di Jerman. Mengulang kembali ritus 3 tahunan. Namun, selebihnya adalah perasaan lega karena sudah sampai dengan selamat.

Di München kami masih menyempatkan diri minum kopi dan coklat panas. München Hbf. masih tetap sama. Masih tetap ramai. Dan bau Jerman yang khas sudah menyergap hidung. Bau Bratwurst dan Bretzel plus gurihnya mentega dan lemak dari Croissant dicampur dengan bau besi yang beradu juga uap dari kereta. Dan angin, udara yang berhembus.  Ada yang khas. Memang bau Jerman. Hampir di setiap kota baunya sama.  Sementara saya masih membawa bau Indonesia -begitu teman saya bilang- mungkin bau keringat campur bensin dan debu :) Teman saya sedang rindu Indonesia, sementara saya sedang senang berada lagi di Jerman. Perjalanan dengan naik kereta murah yang bagus (itu kereta EC yang biasa dipakai jalur ke Austria dan sekarang dipakai jalur antarkota di Bayern) kami lalui dengan tidak terasa. Bercerita banyak hal. Melepas rindu. Sampai di Nürnberg kami masih harus menunggu 1 jam. Seperti biasa. Bayreuth ada di balik gunung. Kereta ke sana jarang sekali. Menyempatkan diri makan di Nordsee (duh, saya kangen sekali makan ikan di restoran ini), 1 jam akhirnya berlalu dan naiklah kami ke kereta arah Bayreuth yang akan dipisah di Pegnitz. Seperti biasa :) Jam 13, kami tiba di stasiun kecil kota kecil ini. Bayreuth – Universitätsstadt. Masih sama seperti dulu :) Dua teman saya sudah menunggu. Duh, senangnya :) kemudian kami langsung diantar ke appartement saya. Frankengutstr. 3. Dulu saya tinggal di Frankengutstr.18. Rasanya meledak-ledak saat saya melewati rumah lama saya. Hei! Saya rindu sekali! Bahkan sampai sekarang, saya masih merindukan kamar saya di No. 18 itu.

Kamar saya yang baru ini juga nyaman. Hanya mungkin agak terasa dingin karena didominasi warna putih dan abu-abu. Namun, saya tetap suka interiornya. Kamar mandi dan dapurnya saya suka. Akhirnya dapur saya agak besar sedikit dan ada meja ekstra untuk saya nanti meracik makanan dan saya jadikan meja makan! Tidak lama saya dan 5 orang Jerman mahasiswa baru lainnya dikumpulkan oleh Hausmeister. 1 jam kami „diceramahi“ tentang aturan rumah, pemisahan sampah, mesin cuci, pembersih debu, blablablabla. Lama-lama saya mengantuk dan mendengarkannya sepotong-sepotong. Apalagi dia bicara dengan dialek Franken yang kental. Ups, saya sudah harus mulai membiasakan diri lagi dengan itu semua. Tak sempat beristirahat, kami sudah pergi ke kota. Teman saya ada janji, dan saya juga harus belanja makanan untuk makan malam. Kami berpisah di kota. Enaknya kembali ke kota lama adalah saya sudah tahu seluk beluknya, sehingga dengan cepat pula saya bisa belanja dan online. Tidak banyak yang berubah, selain stasiun bis yang pindah (dan saya sudah tahu, karena stasiun baru ini memang sudah hampir selesai saat saya meninggalkan Bayreuth 3 tahun lalu) dan semakin banyak cafe di Rotmain Center . Bahkan orang-orangnya pun masih tetap sama. Kasir di Norma masih sama. Pegawai di Telekom masih sama. Tidak banyak yang berubah. Oh, ada yang berubah. Tukang kebab sudah beda. Si mas ganteng penjaga toko buku juga sudah tidak ada. Hmm, saya jadi tidak terlalu bersemangat lagi ke sana, hehe. Tapi, ada toko buku baru di kota. Di bekas Sparkasse. Hugendubel. Besar. Wah, wah. Namun, ini masih saya hindari. Saya belum mau mampir ke sana di hari pertama saya berada lagi di Bayreuth.

Dan malam pertama di Bayreuth saya lewati dengan beres-beres, mandi, keramas dengan hasil saya menggigil hebat, karena kondisi saya sebenarnya masih belum pulih dari flu berat 3 hari sebelum hari H keberangkatan saya. Namun, setelah itu semua kembali baik-baik saja. Tidur nyenyak sampai pagi. Mungkin karena memang suasana hati saya yang sedang senang, jadinya sangat membantu. Keesokan paginya setelah sarapan dengan nikmat (Brötchen, Pfefferminztee), saya bertemu dulu Hausmeister untuk melaporkan kursi saya yang rusak. Hausmeister yang sebenarnya ramah dan memang suka bicara itu malah meminta saya membantu dia jadi tutor untuk mahasiswa-mahasiswa dari Thailand tentang pemisahan sampah (disangkanya saya bisa bahasa Thailand mungkin, hehe). Oke saja. Masalah sampah ini memang luar biasa deh. Apalagi orang Bayern, mereka memandang pemisahan sampah adalah hal terpenting dalam hidup setelah bir. Hehehe. Bagus juga. Cuma kalau sampai kompulsif begitu jadi aneh sih. Walaupun ya, saya harus akui juga, di kamar saya yang hanya 18 qm itu saya punya 4 tempat sampah: sampah dapur, sampah kertas, sampah kamar mandi, sampah plastik dan bungkusan lain. Oh ya, satu lagi wadah kecil untuk baterei bekas.

Urusan dengan Hausmeister selesai. Saya langsung meluncur ke Rathaus untuk mendaftarkan diri. Cepat juga. Data saya masih mereka simpan dan rekam jejak saya juga baik di kota ini. Jadi urusan lancar. Lalu ke bank, buka rekening, transfer uang, dll. Konsultan keuangan saya masih muda. Lumayan ganteng. Ramah dan baik hati. Banyak tertawa. Senang saya. Dia tanya macam-macam, ngobrol ini itu. Bagian dari marketing juga. Karena kondisi perbankan di Jerman saat ini juga cukup buruk. Kemudian ke Telekom lagi, daftar untuk pasang telefon di kamar. Lalu ke kampus. Siapa tahu sudah ada surat asuransi dari DAAD. Ternyata belum. Kemudian makan di Mensa. Wow, kartu saya masih berlaku dan masih ada uang sisa di dalamnya.

Malam kedua saya baru benar-benar merasa capek. 12 jam tidur. Untuk bangun esok harinya dengan segar. Hari Sabtu. Tanggal 3 hari libur. Penyatuan Jerman. Berbincang dengan teman saya per telefon, selanjutnya saya jalan-jalan. Niatnya mau ke Bahnhof. Toko yang buka hanya di sana, dan saya perlu air minum. Menyusuri Hofgarten lagi. Melewati Hauswahnfried lagi. Melewati Neues Schloss lagi. Dan saya girang segirang girangnya. Bahagia sebahagia bahagianya. Ada lagi di hutan kota yang rindang. Pepohonan masih belum sepenuhnya memerah, menguning dan coklat. Masih hijau. Dan kembali, saya suka bau hutan, pohon, dan tanah, dan daun, dan air, dan bunga, dan…matahari masih bersinar hangat. Masuk ke sela sela daun dan pepohonan .  Dari sana ke Sternplatz lalu lurus ke Bahnhof. Jalur yang sering saya lewati. Setelah beli minum, saya mampir ke toko di sana. Hmm, kok sekarang lebih banyak dijual majalah ya dibandingkan buku-buku? Tak berlama-lama, saya kembali lagi ke kota, lalu pulang.

Hari ketiga. Hari Minggu. Saya ingin berjalan kaki ke tempat teman saya. Menyusuri jalan lurus khusus untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda dari belakang Wohnheim sampai ke Jakobshof lalu menyeberang ke Fantaisiestr. Hai, hai. Jalan ini juga sering saya lalui saat jalan-jalan hari Minggu dengan Aisha kalau cuaca cerah. Masih sama. Masih nyaman dan menyenangkan. Orang-orang lalu lalang, jogging, naik sepeda, atau hanya sekedar jalan kaki seperti saya. Lewat Röhrensee dan Tiergarten. Duh, kalau ini yang disebut kebahagiaan tak beralasan, saat itu saya mengalaminya. Hanya senang karena matahari, daun, pohon, awan, dan langit. Semua menyambut saya dengan ramah. Dan segar sekali rasanya saat itu.

Cuma sebentar di sana. Saya kemudian diantar ke kota. Langer Sonntag. Toko-toko buka hari Minggu.  Jalan-jalan di Rotmain Center tidak terlalu menarik. Duh, saya kehilangan Plus dan Handelshof, dua supermarket favorit saya. Sudah diganti dengan toko baju. Kemudian saya ke Restoran Istanbul. Ingin beli Falafel. Kangen saya dengan makanan Turki itu. Pemilik restoran itu teman saya. Dan kami bercerita panjang. Senangnya. Si ini masih ada, si itu di sana, si ini di situ, dan lain-lain. Mungkin rasanya seperti orang yang mudik ke kampung halaman. Karena itu pula, saya kemudian menghubungi nomor telefon teman-teman yang masih tersisa di HP saya. Banyak nomor hilang, karena HP saya yang lama hilang juga. Dan Nina! Tak lama kemudian Nina telfon. Duh, duh, duh! Senang sekali! Dia di Hamburg sekarang. tapi suatu saat kami harus bertemu.

Hari Senin. Pagi-pagi saya sudah ke Ausländerbehörde untuk mengganti visa dengan ijin tinggal. Hmm, tumben, pegawainya masih muda semua. Dan ramah-ramah :) Syarat saya belum lengkap, karena saya harus imatrikulasi dulu di kampus. Ke kampus. Bertemu Profesor saya tak sengaja. Senang sekali dia :) Saya belum bisa daftar, karena surat asuransi baru tiba siang. Siangnya kembali lagi. Untungnya data saya juga masih tersimpan, jadi lancarlah segala urusan. Saya tetap pakai nomor induk yang sama, ID komputer dan perpustakaan yang sama, serta password yang sama. Rasanya semua kembali ke 6 tahun lalu, saat saya pertama kali terdaftar di sini. Sorenya saya ada jadwal bertemu Profesor saya. Hmm, perbincangan yang aneh. Saya diminta ganti tema. Tapi lihat saja. Dia tahu benar bahwa saya tidak mau, jadi..kita lihat saja :)

Hari Selasa. Pagi-pagi saya sudah mendapat email tawaran menerjemahkan dari Goethe Institut. Tentang Junghuhn. Tentu saja saya mau. Sebelum itu saya masih ke Ausländerbehörde untuk menyerahkan berkas sisa. Tetap ada yang kurang, tapi selebihnya oke. Saya tetap diminta mengisi setumpuk formulir tentang teroris, tapi itu sudah jadi bagian dari urusan begituan :) Herr Wagner. Masih sangat muda. Cukup ramah. Tidak berlogat Franken untungnya. Namun, tiba-tiba saya merindukan petugas yang dulu. Siapa namanya? Richter? Schreiber? Kok saya lupa ya. Tawaran terjemahan saya terima. Dan, saya bertemu Qian! Wow! satu teman lagi. Oh ya. di hari kedua di Bayreuth saya bertemu dengan satu teman dari Rusia. Duh, namanya lupa. Senang betul. Kami bercerita banyak :) Kabar lain, Ahmad dan Tahani masih di Bayreuth. Wah, wah. My big brother.

Siang itu saya ada janji dengan Walter dan Andhika. Yang kedua ini dosen UGM yang sedang ambil S3 Biologi Bayreuth. Dengan Walter, duh duh. Senangnya bertemu dia lagi. Belum apa-apa dia sudah mau mengundang saya ke rumahnya yang nyaman di Mistelgau. Oke. Dan untuk pertama kalinya setelah 1 tahun lebih saya minum kopi lagi. Tak tahan godaan latte machiatto ditraktir Walter :) Setelah itu ketemu Andhika. Saat ngobrol, ada Sarah! Wow! Sarah murid kelas Bahasa Indonesia saya dulu. Lalu kami janjian untuk bertemu lagi beberapa hari ini, sebelum dia kembali ke Salzburg. Kuliah di sana dia sekarang. Selanjutnya penerjemahan dimulai. Tulisan yang menarik tentang Junghuhn. Saya akan tulis khusus tentang ini. Namun, sebelum menerjemahkan saya mampir dulu ke tempat Ahmad dan Tahani. Duh, Abudi sudah kelas 2 SD dan Zena…sie ist voll süß! Hadiah kerudung untuk Tahani malah dipakainya. Dan gadis kecil itu cantiik sekali! Waktu memang cepat sekali berlalu. Dia sudah berumur 5 tahun sekarang. Sudah jadi gadis kecil yang cantik :)

Rabu pagi saya sempatkan melanjutkan terjemahan sebelum jam 12-nya saya ada pertemuan dengan Co.Pembimbing saya. Hmm, dan saya memang ternyata -seperti sudah saya duga sebelumnya- lebih cocok dengannya dibandingkan dengan pembimbing saya sendiri. Berdiskusi lumayan banyak dan banyak mendapat masukan juga, dia akhirnya bersedia mengambil alih posisi pembimbing utama.  Yang paling penting, dia tertarik dan setuju dengan tema penelitian saya. Yang lebih penting lagi: saya bisa melakukan penelitian di Indonesia, dengan orang Indonesia, dan dalam bahasa Indonesia (walaupun nanti harus diterjemahkan ke Bahasa Jerman) :) Saya tahu tidak akan mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Pelan-pelan dan satu-satu saja dilakukan. Mudah-mudahan semua lancar.

Hari ini. Terjemahan terjemahan terjemahan. Akhirnya selesai juga :) Tadi saya bertemu Peter. Hehehe, sepertinya memang berjodoh dengan dia. Berbincang lama dan banyak, tentang semua hal. Menyenangkan. Relasi dengan dia memang begitu. Kami sering tidak bisa saling mengerti, dan sering saling menjelekkan, tapi ada kedekatan dan kasih sayang. Dia membenci dan sekaligus mencintai Indonesia dengan caranya, tetapi selalu datang dan datang lagi ke Indonesia. Sama seperti saya membenci dan mencintai Jerman sekaligus dengan cara saya, juga selalu datang dan datang lagi. Dulu dia dosen dan pembimbing skripsi saya, sekarang jadi kolega.

Tidak terasa saya sudah tujuh hari di Bayreuth. Saya langsung hidup di sini. Seperti dulu. Penyesuaian yang cepat seperti waktu yang juga berlari cepat. Untungnya cuaca dan udara masih cukup nyaman menyambut saya yang datang dari negeri bermandi matahari di timur sana. Agar tidak kaget. Dan saya masih merasa berlibur di sini, sama seperti tiga tahun yang lalu. Masalah dengan DAAD seperti biasa saya alami di awal. Namun, rupanya saat ini saya sudah lebih bisa santai dan bersabar menghadapinya, sudah kenal dengan masalah dan resikonya. Jadi tidak ada acara marah-marah di telefon pada ibu yang baik hati dan bicara lemah lembut itu. Email pendek dan tajam cukuplah. Saya tidak mau melanjutkannya lagi, biar saja berjalan sebagaimana seharusnya. Besok saya akan bertemu Sarah dan Thorsten. Wah, saya kangen betul dengan mereka. Bertemu Herr Wagner lagi dan menukar pesawat telfon yang rusak padahal baru dibeli. Di kepala sudah berseliweran ide menghias dapur dan kamar mandi. Di meja tulis saya sudah ada buku kecil jadwal konser dan pementasan teater sampai tahun 2010. Sudah banyak yang saya tandai. Salah satunya pementasan Le Petit Prince dalam Bahasa Perancis bulan November nanti. Darauf kann ich nicht mehr warten :)

Ritus

Rasanya bulan Agustus dan September tiga tahun sekali seperti ritus yang saya jalani sejak tahun 1997. Pengulangan-pengulangan yang sama, tapi saya tetap saja tidak terbiasa. Terutama urusan rasa. Tidak banyak yang berubah. Namun, tetap saja saya tidak terbiasa, atau tepatnya tidak mau membiasakan diri.

Tahun 1997 pertama kali saya kunjungi satu area di Jl. Thamrin No. 1. Bersibuk-sibuk dengan berkas-berkas. Belum terlalu rumit saat itu, walaupun saat itu saya harus beberapa kali datang ke sana. Maklum, pengalaman pertama. Belum tahu harus bagaimana. Akhirnya beres. Dan di akhir Agustus terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta menjadi tempat yang sangat tidak saya sukai. Sampai sekarang. Tempat di mana saya harus selalu berperang dengan perasaan saya. Siapa bilang pergi itu enak? Meninggalkan dan ditinggalkan sama-sama tidak enak. Lain halnya dengan terminal kedatangan. Selalu menjadi tempat favorit saya. Menunggu dan ditunggu adalah hal paling mendebarkan. Debar yang sangat menyenangkan. Kebalikannya, terminal keberangkatan Frankfurt menjadi tempat yang menyenangkan (walaupun hampir setiap saat selalu kena masalah kelebihan berat bagasi di sana) dan terminal kedatangannya yang abu-abu metalik membuat hati ikut beku.

Tempat-tempat itu tidak disadari saya kunjungi hampir 3 tahun sekali. Dengan rasa yang tetap sama. September 2001 kembali saya kunjungi Jl. Thamrin No. 1. Sudah paham, jadi cukup mudah. Apalagi penjamin saya jadi jaminan terbaik. Dan terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta jadi saksi air mata saya. Cuma sebulan. Namun, rasanya saat itu saya pergi untuk setahun. Tahun itu pula, selain masalah bagasi, saya harus melewati pemeriksaan super ketat, beradu argumen lagi dengan petugas imigrasi, karena saya pulang setelah peristiwa 11 September. Di Hongkong pun saya harus menjalani pemeriksaan ekstra. Gara-gara gunting kuku saya harus masuk ruangan khusus. Dan tentu saja terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta selalu menyambut saya dengan hangat dan penuh cinta.

September 2003, keberangkatan kesekian kalinya, namun lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Jl. Thamrin No. 1 sudah mulai cukup ramah, karena penjamin saya juga, dan saya yang mulai terbiasa dengan berkas-berkas yang seabreg. Saat itu Frankfurt hanya jadi tempat transit sebelum saya terbang lagi ke Nürnberg. Namun, lorong panjang dengan lampu warna warni dan musik entah dari dunia mana, tetap terasa sangat dingin dan asing. Selamat datang. Nürnberg sama dinginnya. Hanya lebih kecil. Hari-hari berikutnya terasa panjang, sampai akhirnya saya terbiasa dan merasa nyaman. Cukup berat juga meninggalkan Bayreuth dan segala kehangatan yang ada di sana. Namun, terminal kedatangan Bandara Sukarno Hatta sudah menanti saya dengan hangat dan penuh cinta.

Itu 2006. Bulan September juga. Bulan Agustusnya kesibukan saya sama: mengepak dan mengirim barang, beres-beres ini itu, menyelesaikan urusan ini itu. Selalu demikian. Terutama mengurus hati. Siapa bilang pergi itu enak? Walaupun saya pergi untuk pulang ke tempat yang disebut rumah. Biasanya di saat-saat mau berangkat saya baru mau membereskan koper saya. Itu karena keengganan saya untuk berangkat.

Dan Agustus tahun ini, kesibukan saya sama seperti Agustus 2003. Jl. Thamrin No. 1 saya kunjungi lagi. Lebih selektif dan protektif dari sebelum-sebelumnya karena banyak kejadian setelah September 2001, Bali 2002, Jakarta 2003, Bali 2005, dan Jakarta lagi 2009. Di Bayreuth dulu selama 3 tahun, 6 bulan sekali saya harus lapor ke urusan orang asing pemerintah kota di sana. Mengisi formulir berlembar-lembar karena saya dari Indonesia, negara teroris ke 5 di dunia. Miris dan entah rasa apa lagi yang muncul saat saya mengisi lembar-lembar itu. Dua minggu lalu saya kembali diminta mengisi formulir yang sama, tetapi lebih tipis, dan urutan Indonesia sudah turun ke urutan 12 kalau saya tidak salah. Senang? Saya tetap merasa miris.

Dan bulan-bulan Agustus, September, hampir tiga tahun sekali, saya berkutat dengan urusan dan perasaan yang sama. Namun, saya tetap tidak terbiasa dengan itu. Emosi saya tetap naik turun. Kondisi fisik dan psikis saya tetap tidak stabil. Ada kecemasan, ada rasa senang, ada khawatir, ada gairah, penasaran, ada rindu, ada gelisah, ada takut, ada harap. Semua. Rasa-rasa yang selalu terulang hampir tiga tahun sekali. Di bulan Agustus, September. Hampir jadi ritus. Saya hanya berharap yang terbaik.

Selalu

…sudi tetap berusaha/jujur dan ikhlas/tak usah banyak bicara/trus kerja keras/hati teguh dan lurus/pikir tetap jernih/bertingkah laku halus hai putra negeri/bertingkah laku halus hai putra negeri.//

Untuk Indonesia yang dengan senang dan sedih tetap dan selalu aku cinta.

Ältere Artikel »