Feeds:
Artikel
Kommentare

(ke)Jujur(an)

Memang sudah jadi barang yang aneh. Menggelisahkan juga tentu. Menakutkan lebih jelasnya. Dan ketika  ada orang berusaha jujur, yang terjadi adalah sikap defensif dan kemarahan yang tak mengarah dari orang-orang yang merasa posisinya terancam.

Negeri ini yang aneh atau saya yang aneh? Yang jelas, saya semakin keras kepala dengan apa yang saya yakini benar.  Dan maaf saja jika ini mengesalkan dan menggelisahkan banyak orang. Saya memilih untuk  tetap menjadi diri saya sendiri: yang mengesalkan dan senang (ke)jujur(an) :)

Mei

Pertemuan singkat tapi (selalu) menyenangkan dengan seorang sahabat –yang sudah setahun tak jumpa fisik- di penghujung April lalu, membuat saya sadar, bahwa saya sudah lama tenggelam dalam dunia saya sendiri. Tulisan-tulisan saya belakangan ini sedih terus, menurutnya. Dia bisa membacanya dengan jelas. Benar juga, tapi memang demikian adanya. Istilah (ngga) kerennya depresi dan paranoid. Sampai akhirnya saya sudah lama melupakan hal-hal kecil yang justru lebih banyak terjadi dan seperti biasa selalu membahagiakan. Jika saya mau melihatnya. Jadi, terima kasih atas pertemuan singkat yang sangat berarti waktu itu.

Setelah bertemu dengannya, saya melanjutkan acara saya di Kedubes Jerman. Ya, saya memutuskan kembali ke Bayreuth. Ke kehidupan lama saya. Setelah melalui beragam proses dan pertimbangan, cukup lama, hari itu saya memutuskan menghadiri undangan Kedubes dan DAAD untuk acara penyerahan beasiswa. Tak disangka tak dinyana, ternyata saya termasuk ke dalam tiga penerima beasiswa terbaik. Hehe, kalau ingat bagaimana saya „bersitegang“ saat wawancara dan sikap ngeyel saya saat diminta ikut ujian Test DaF (dan hasilnya tes-nya pun di luar dugaan), kaget juga saya dengan hasil tersebut. Di sana bertemu dengan teman-teman sesama penerima beasiswa. Masih muda-muda. Hebat-hebat. Pulang ke Bandung dengan dua orang teman baru. Seru. Tiga perempuan yang kemudian merencanakan dengan seksama acara main ke mana saja setelah kami sampai di Jerman nanti. Eh, harus kuliah ya? Ehm, bagaimana ya, sayangnya kami bertiga berprinsip sama bahwa kuliah tidak boleh mengganggu main. Eropa timur sudah menunggu, hehe.

Dan awal Mei adalah minggu yang sibuk. Seminar kolloquium mahasiswa semester delapan, belum lagi tamu-tamu dari Jerman dan Austria yang berdatangan ke Jurusan. Wara wiri ke sana ke mari (bukannya selalu begitu? ;)). Dua minggu sebelumnya, tiba-tiba pula saya ditelfon oleh pihak Goethe Institut, bertanya apakah saya bersedia menjadi interpreter utusan kementrian luar negeri Jerman untuk acara pembukaan dan diskusi tentang Islam di Jerman. Tanpa pikir panjang saat itu saya menyetujuinya. Sampai tanggal 6 dan 7 Mei lalu. Sedianya saya hanya menerjemahkan Heidrun Tempel perempuan muda nan energik dan menyenangkan, utusan khusus kementrian luar negeri Jerman di Berlin, tapi pada kenyataannya saya pun jadi diminta menjadi penerjemah Direktur Goethe Institut Indonesia dan Wakil Gubernur Jabar. Cukup berkeringat juga, ketika dua orang Jerman itu banyak mengutip puisi dan bermetafora ria, belum lagi Wagub cukup centil menggunakan bahasa Sunda dalam pidatonya. Alhamdulillah semua bisa dilewati. Semua puas. Saya senang tentu saja. Direktur Goethe Institut langsung menawari saya ikut dalam salah satu proyek terjemahan dan … mengikuti kursus menjadi interpreter profesional di Heidelberg atas biaya Goethe Institut. Wow! Ini berkah tak terduga. Tak berhenti tersenyum saya saat itu.

Hari kedua, acara diskusi pun berlangsung dengan lancar. Cukup melelahkan, tapi saya senang dengan antuasiasme peserta dan pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan. Momen paling membuncahkan bahagia adalah saat akhir diskusi, Frau Tempel memuji saya dengan amat sangat tulus dan mengundang saya untuk datang ke Berlin untuk menemuinya, dan menjadi penerjemah untuk acara yang sama di Berlin. Dan dia meminta saya menerjemahkan semua perkataannya tersebut agar publik mengetahuinya. Ini momen luar biasa. Alhamdulillah. Alles gut Ende gut. Semua pihak senang. Saya apalagi. Kebahagiaan dan kesempatan yang saya dapat, juga jejaring yang terbangun ditambah kepercayaan yang sedemikian besar, jauh lebih berharga dibandingkan dengan uang (tapi besar juga memang, hehe).

Hari-hari selanjutnya, selain kesibukan rutin di kampus, saya pun diminta Wawan Sofwan dari mainteater untuk menjadi konsultan naskah „Unter Eis“, yang dipentaskan tanggal 15, 19, dan 20 Mei. Tanpa Wawan minta pun sebenarnya saya akan dengan senang hati melibatkan diri. Kali ini saya bekerja sama dengan Iqbal dan Syaiful. Untuk saya ini bukan pekerjaan, tapi kebutuhan batin. Ikut talkshow di radio, deg-deg-an berdoa semoga tidak hujan saat pementasan di Selasar Soenaryo, lumayan „terbakar“ saat membaca tulisan Ahda Imran, merancang diskusi, dll, puncaknya adalah eforia dan kelegaan ketika keseluruhan pentas berakhir dengan sukses.

Di sela-sela itu sempat ada lokakarya di Jurusan tentang metodik didaktik. Di saat itu pula saya ditanya tentang tujuan dan alas an saya menjadi pendidik. Jawaban saya ternyata tetap sama, bahwa saya tidak pernah bisa membayangkan pekerjaan lain selain menjadi dosen. Dan tujuan saya pun ternyata masih tetap sama: membuat mata mahasiswa saya berbinar-binar dengan apa yang mereka pelajari. Saya hanya medium.

Saya memang hanya medium di tengah lautan ilmu yang masih amat sangat sedikit saya ketahui. Saya memang hanya medium, di tengah banyak orang hebat, kuat, dan tulus mengabdi untuk ilmu dan pendidikan. Maka ketika saya diminta menjadi validator instrumen penilaian buku ajar bersama-sama dengan para profesor, saya merasa sangat beruntung. Saya bukan siapa-siapa, namun saya beruntung bertemu dengan salah seorang teman di acara Kedubes akhir bulan lalu. Lewat dia-lah saya mendapat kesempatan belajar lebih banyak, karena kebetulan pula saya menulis buku. Ada beberapa hal yang mengganjal, tetapi tujuan untuk kebaikan dan perbaikan yang coba saya maknai. Saya tetap berjalan sesuai dengan kata hati saya.

Dengan itu pula saya datang ke Sabuga, 26 Mei lalu untuk gladi resik acara puncak Hardiknas. Tiga hari yang aneh menurut saya, ketika malam minggu lalu –benar-benar malam- saya ditelfon oleh salah seorang petinggi DIKTI, menanyakan apakah saya sudah menerima undangan untuk hadir mewakili para penerima beasiswa DIKTI ke luar negeri di acara puncak Hardiknas dan menerima SK beasiswanya langsung dari RI 1. Ini bercanda, saya bilang, karena saya sudah memutuskan mengambil beasiswa DAAD dan tidak jadi mengambil beasiswa dari DIKTI. Tapi saya tetap diminta datang. Hehe, dari sini saya semakin tahu, bagaimana cara mereka bekerja. Sambil senyum saya berpikir, tak heran negara dan pendidikan Indonesia kacau balau, mengurus hal kecil dan acara seperti ini saja juga kacau. Tapi sudahlah. Cerita behind the scene acara puncak Hardiknas dan kisah berdirinya saya di panggung menerima SK dari RI 1 dan Mendiknas mungkin akan saya tulis khusus di tulisan dengan tema kritik dan opini deh, hehe, cukup mengganggu soalnya. Tapi itu nanti saja, ini temanya kan yang happy-happy. Btw, SK tersebut sebenarnya sudah saya download jauh-jauh hari sebelumnya di internet, hehe.

Setelah pertemuan langsung dengan RI 1 yang ternyata cukup simpatik –jabat tangan erat, senyum tulus, dan tatapan yang langung menatap masuk mata saya-, mendadak saya jadi terkenal deh. Permintaan wawancara dan jadi narasumber talkshow di TVRI datang, belum lagi orang-orang di kampus yang tiba-tiba jadi ikut heboh. Hehehe, saya senang dan berterima kasih, sekaligus geli dan miris mengingat cerita di balik layarnya. Tapi ngomong-ngomong juga, saat talkshow langsung di TV menyenangkan juga. Mungkin karena presenternya pun teman saya sendiri, jadi saya bisa sangat rilex. 30 menit terasa sangat sebentar, hehe.

Kado istimewa lainnya saya dapat dari Wawan Sofwan, dengan pementasan monolog „Perang Klamm“, hari Rabu lalu. Luar biasa! Saya tergetar, seperti kaca dan daun jendela yang ikut bergetar dengan gelegar suara Wawan. Saya tidak bisa melukiskan pementasan itu dengan kata-kata. Semua yang hadir juga terpesona dan terhenyak dengan pementasan yang sangat menusuk hati. Membuat semua yang hadir –mahasiswa dan dosen- berpikir ulang tentang makna ada di dalam kelas dan untuk apa. Saya kembali disadarkan untuk apa saya menjadi dosen. Mahasiswa kembali disadarkan, bahwa dosen juga manusia. Terima kasih, Kang Wawan, untuk kado yang sangat istimewa. Hari itu memang lengkap, selain Wawan yang datang, di Sastra hadir juga Yasraf Amir Piliang dan Putu Wijaya yang memberikan pencerahan-pencerahan lain.

Paling istimewa tentu saja Abschlussfest mahasiswa kemarin. Ini yang selalu membuat saya dan tentu saja dosen-dosen lainnya terharu campur bangga dengan kreativitas mahasiswa. Semua berpartisipasi. Dan sebagai dosen linguistik yang paling banyak terlibat dengan mahasiswa semester 8 pengutamaan linguistik, saya kembali bangga dengan kreativitas mereka dan bagaimana mereka mengaplikasikan apa yang sudah mereka dapat selama 2 semester berada di pengutamaan linguistik. Saya yakin, mereka akan menjadi linguis-linguis andal yang sangat peka dan cinta pada bahasa. Kali ini mereka menampilkan Sprachkabaret, berkisah tentang proses produksi acara berita, lengkap dengan reportasi dan iklan. Di situlah saya tahu bahwa mereka benar-benar paham apa yang mereka mereka pelajari di perkuliahan Psycholinguistik, Semiotik, dan Sosiolinguistik. Dengan kreativitas yang luar biasa mereka tampil penuh percaya diri, dan kocak tentu saja. Kembali saya dan semua yang hadir terpingkal-pingkal sambil juga mengangguk paham karena mereka tetap menyelipkan materi-materi perkuliahan yang mereka dapat. Usaha dan kerja keras mereka selama satu tahun ini membuahkan hasil yang manis. Tidak saja untuk hal-hal yang bersifat akademis saja, tetapi juga untuk masalah kreativitas. Saya amat sangat bangga pada mereka. Dan ini adalah kebahagiaan saya terbesar sebagai pendidik. Kebahagiaan yang tak terkira. Untuk itu saya sangat bersyukur dan juga berterima kasih pada mahasiswa-mahasiswa saya yang sudah memberikan kebahagiaan yang besar ini pada saya. Semuanya menjadi sangat indah. Maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang bisa saya dustakan? Tak ada dan tak bisa, walaupun sambil sakit gigi dan harus dicabut :)

Mendengarkan dan Menyimak

Membaca dan memaknai tulisan Ahda Imran di suplemen Khazanah HU Pikiran Rakyat hari Minggu 17 Mei 2009 lalu tentang pementasan teater „Di Bawah Lapisan Es“, membuat saya merenung banyak. Kebetulan pula sesiangan itu saya ada di Ciwidey: menikmati dan merenungi alam. Seperti biasa dan serta merta pula banyak hal berseliweran di kepala saya. Namun, yang paling dominan adalah pertanyaan tentang apakah bagi kebanyakan orang kegiatan melihat dan menonton itu lebih menarik dan menggairahkan dibandingkan dengan kegiatan mendengarkan dan menyimak?

Kesemuanya mungkin mengesankan tindakan yang pasif, walaupun saya lebih memilih dan menyukai kegiatan mendengarkan dan menyimak. Untuk saya, gelombang bunyi dan suara yang menggetarkan gendang telinga selalu jadi sesuatu hal yang mengasyikkan. Saya sangat menyukai peristiwa saat saya memejamkan mata dan mendengarkan bunyi-bunyian yang ada. Yang lirih yang lebih saya suka. Selalu ada sensasi hening yang menggetarkan dari denting atau gemerisik atau apapun itu bentuknya yang lewat ke telinga saya. Apalagi jika ada melodi yang merdu membuai belai. Walaupun juga jika kata dan kalimat bermakna yang bisa saja sangat menusuk tajam. Kadang hal-hal semacam itu lebih indah dibandingkan pandangan mata yang tusukannya kadang lebih tajam.

Boleh jadi saya memang aneh, ketika untuk kebanyakan orang, pergi menonton (bioskop atau apapun itu) lebih memuaskan dibandingkan menyimak pertunjukan teater yang penuh dengan monolog dan miskin gerak. Monoton. Membosankan. Meletihkan. Bisa jadi. Dan tulisan Ahda Imran di atas menurut saya mempertegas anggapan, bahwa pertunjukan teater akan menarik dan tidak membosankan jika tidak miskin gerak dan tidak banyak bermonolog.

Bolehlah juga dikatakan saya membela diri, karena saya turut andil dalam proses produksi pementasan „Di Bawah Lapisan Es“. Saya turut „membedah“ dan memaknai naskah, juga memberikan masukan bagaimana para pemain „sebaiknya“ bergerak dan berbicara. Kebetulan, yang saya bayangkan pun sama dengan apa yang dimaui sang sutradara. Kami „membaca“ hal yang sama, begitu pula dua rekan lain yang menjadi semacam „konsultan“ pementasan ini. Naskah tak diubah, karena menurut kami, naskah ini sangat padat dan kaya akan pemikiran, konsep, dan kritik terhadap isu-isu kapitalisme. Terhadap hidup. Lebih dalam lagi, naskah ini sangat reflektif. Kekuatannya memang pada kata. Pada kalimat. Pada bahasa. Tubuh dan gerak akan mengikuti makna. Kadang tak perlu bahkan jika sudah terwakilkan oleh bahasa. Paling ditunjang oleh mimik dan intonasi. Itupun mungkin tak terlalu perlu jika ada beberapa ekspresi yang ditekan. Dan naskah ini berkisah tentang kesepian. Yang menurut bayangan kami akan sangat hening dan diam. Dingin. Seperti di bawah lapisan es.

Adalah proses menyimak yang luar biasa meletihkan memang, jika kita tidak terbiasa dengan itu. Mendengarkan dan menyimak monolog panjang sarat pertanyaan bukan pekerjaan mudah. Saya akui itu. Ketika saya menyimak pementasannya secara utuh (biasanya saya menyimaknya saat latihan), saya sadari juga betapa sulitnya menjaga konsentrasi orang per orang untuk tetap sadar dan tetap ada dalam alur kata dan bahasa. Untuk saya mungkin relatif lebih mudah, karena saya terlibat di dalamnya.

Naskah ini memang naskah yang sulit. Idealnya ada lebih banyak tulisan pengantar sebelum pementasan yang membedah naskah ini dari beragam perspektif, sehingga diharapkan akan dapat memberikan semacam gambaran tentang dan untuk naskah ini. Ketika saya diminta membuat tulisan pengantar pun, kepala saya penuh dengan banyak ide, karena naskah ini „bicara“ banyak. Dia membuka diri seluas-luasnya untuk dibedah. Sayangnya, seperti biasa kebiasaan jelek saya muncul, akhirnya saya malah menulis seadanya. Pada akhirnya pula, seperti biasa, kata dan bahasa tak sanggung mewadahi apa yang ada di kepala saya. Dan memang pada akhirnya, suara-suara di kepala saya memang lebih banyak saya dengar dan saya simak, tanpa perlu saya lihat wujudnya dalam bentuk tulisan. Saya cukup puas dengan itu.

Mungkin ini hanya masalah selera. Sangat relatif. Tak bisa dipaksakan. Orang boleh suka pada apapun dan berpendapat sesukanya. Seperti juga saya yang tak bisa berhenti bertanya: mengapa kita tidak mulai belajar mendengarkan lalu menyimak sebelum kita mulai bicara dan bertindak? Pikiran saya melayang pada satu malam yang terasa hangat di tengah rinai hujan di satu tempat di utara kota Bandung:  Mendengarkan dan menyimak Abah Iwan Abdurrachman bersenandung dengan petikan gitarnya, memperdengarkan kekuatan mendengar. The Power of Listening. Mendengarkan suara alam dan suara hati. Dan saya juga selalu mengingat pada kata-kata dari film Babel: “If you want to be understood…Listen!”

Integrity – Respect – Responsibility – Costumer Focus – Teamwork – Transparency – Contribution – Commitment – Innovation – Safety of People  and Environment – Foresight –Team Orientation – Decency – Excllence – Dedication – Entrepeneurship- Professionalism – Fairness – Trust – Know-How – Convincing performance – Sound Client Relationship – Constant Learning – Continuous Improvement – Sustaining Value – Sharing Knowledge – Providing Superior Customer Value – Obtaining highest quality standards – Putting the client first – Seeking to excel – Keeping Client’s missin the Priority – Creating excitement to take action – Giving the best – Going beyond – Striving for improvement – Delivering the best – Working as team – Creating trust – Acting responsibly – Respecting Others – Focussing on the Customer – Showing absolute Commitment – Playing Fair –

(Unter Eis – Falk Richter)

Menonton: Ruang Belajar

Sebuah naskah teater memang menarik untuk dikupas dan diperbincangkan. Naskah tidak hanya membawa serta kekayaan bahasa melainkan juga kekayaan budaya. Sebagai sebuah kerja kreatif, membaca, menafsir, dan menerjemahan sebuah naskah ke dalam ‘bahasa’ baru tidak hanya merupakan proses yang menyenangkan, melainkan menegangkan untuk diurai. Dapat dikatakan kerja kreatif ini merupakan kerja kreatif yang sama mandirinya dengan kerja kreatif sang penyusun naskah dan pentas, di mana naskahnya mewujud lewat bahasa pertamanya. Ketika naskah tersebut dipentaskan, kekayaan dalam proses kreasi dan penafsiran akan semakin jelas, sehingga akan semakin banyak yang bisa diketahui. Apa gunanya untuk para penonton?

Sebuah pertunjukkan teater tentunya tidak hanya berhenti pada sekedar menonton. Pengayaan pengalaman dan proses belajar yang terjadi pada penonton sebenarnya merupakan cerminan sejauhmana sikap menonton bergerak dari  “belajar menonton” ke “menonton sebagai belajar.” Naskah “Unter Eis” dari Falk Richter adalah salah satu dari sekian banyak naskah teater yang memberi ruang leluasa untuk belajar.

Unter Eis

Naskah “Unter Eis” dari Falk Richter yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Di Bawah Lapisan Es” oleh Heliana Sinaga, berkisah tentang rasa kesepian dan kehilangan seorang tokoh konsultan di bidang ekonomi bernama Paul Niemand. Dia telah melewati puncak kariernya sebagai konsultan, tetapi mau tak mau tetap harus melewati persaingan yang keras dengan konsultan-konsultan yang lebih muda, segar, energis, produktif, efisien, dan berdaya saing tinggi, seperti terlihat dalam dialog mereka tentang “Core Values” di atas.  Dunia mereka dijejali dengan nilai-nilai yang berorientasi pada tugas, dinamika, dan pelayanan. Namun sayangnya, karakter-karakter positif khas dunia industri tersebut pada sisi lain bisa dilihat juga sebagai sebuah kebuasan dalam bertahan hidup.

Di akhir masa kariernya, tokoh Paul Niemand mempunyai ruang untuk kembali berpikir dan merasai kemanusiaannya yang hilang. Ternyata kesepian adalah karibnya. Dibandingkan dengan kedua rekan konsultan sesamanya -Karl Sonnenschein dan Aurelius Glasenapp- yang sedang berada di puncak kariernya, Paul Niemand merasa bahwa sekarang dia bukan siapa-siapa. Persaingan selalu butuh kesegaran, dan dia seperti singa tua yang ompong giginya.

Tematis kesepian ini semakin kontras ketika disandingkan dengan percepatan dunia teknologi, ekonomi dan politik di dalam naskah yang ditulis mirip kolase foto-foto yang tidak saling berhubungan, tetapi tetap saling menjelaskan. Naskah ini ditulis fragmentaris, tanpa alur yang jelas, sehingga membuat letupan-letupan kecil yang banal, liar, sekaligus dingin.  Monolog  panjang ditingkahi dengan dialog-dialog pendek bersahutan membuat pemahaman atas tokoh-tokohnya menjadi lebih kaya interpretasi.

Tampak jelas melalui tokoh-tokohnya Falk Richter mencoba masuk ke dalam dunia penghayatan para konsultan. Dia membedah imajinasi kegilaan-kegilaan semua tokohnya, yang memungkinkan kita bisa memahami dinamika pribadi dan gangguan-gangguan yang punya jejak jelas dalam kultur industri. Kegilaan dan keliaran yang muncul seolah tak bisa dihindari, melainkan seperti kutukan yang diterima oleh masyarakat modern: dingin, tak berakhir bahagia.

Richter memotret pula dimensi dikotomis para pelaku dalam dunia ekonomi. Di satu sisi mereka menjadi pelaku, pada saat bersamaan mereka adalah korban. Naskah  ini pun cukup cerdas mengungkap “dunia” atas nama produktifitas dan efisiensi dengan konsekuensinya yang lambat laun menghilangkan kemanusiaan.

Menarik pula untuk dicermati, bahwa selain ketiga tokoh laki-laki dewasa, muncul juga tokoh anak yang dalam beberapa bagian naskah tampak tua dan kesepian.  Anak-anak terjebak pada dunia yang sebenarnya serakah, rakus, egois, liar, dan gila.  Dinginnya dunia industri sudah terasai sejak dia kanak. Kegilaan yang berusaha dibongkar lewat sosok si anak pun bahkan tidak bisa diurai lagi. Sehingga tidak jelas, apakah dia pernah punya ruang waras pada masa kanak-kanaknya. Ketika kenangan menjadi sekedar serpihan yang harus selalu disusun untuk ditafsir, dia pun tidak memilikinya. Sekedar serpihannyapun tidak.  Apakah ini juga yang terjadi pada anak-anak sekarang?

Membacai dan memaknai naskah ini, seperti yang diungkapkan oleh tokoh Sonnenschein: “Selalu ada sebab mengapa semua langkah harus diteruskan dan stagnasi adalah kemunduran, karena diamnya orang lain bukanlah kemutlakan yang tetap berdiri, melainkan yang lain pun harus bergerak dengan cara yang berbeda”, membawa kita pada kesadaran tentang efisiensi dan hasrat yang rasional, namun dingin, keji, tega, dan keras. Bahasa yang terasa masuk akal, dibaliknya menyemburatkan gerak persaingan yang dingin dan tak kenal kompromi.

Penggunaan kata-kata  yang didominasi kata benda dan pembendaan, menambah kesan dingin dan berjarak pada tokoh dan relasi antartokohnya. Pun pada pengamatan dan pemaknaan atas suatu peristiwa.  Kalimat-kalimat yang singkat padat terjadi dalam setiap dialog cepat bersahutan antara tokoh Sonnenschein dan Glasenapp:

“Sonnenschein : internasionalisasi memainkan peranan yang mutlak/Glasenapp        : action/Sonnenschein: fokus pada tujuan/Glasenap : kemampuan untuk bergaul dengan yang lain”

Potongan dialog di atas tampak jelas, namun emosi yang terasa dari kalimat-kalimat tersebut terasa dingin, bernada memerintah, sekaligus abstrak dan rumit, tak menjejak, dan menceracau, tapi sekaligus penuh dengan kuasa yang tak mampu untuk bisa dipahami. Hal ini senada dengan judulnya yang jauh “Di bawah Lapisan Es”: jauh dari kemampuan untuk menyadari lapisan kesadaran atas realitas yang ada saat ini.

Yang juga menonjol dalam naskah ini adalah bagaimana Falk Richter memainkan keteraturan rima dalam dialog-dialog antartokohnya. Dalam naskah aslinya yang berbahasa Jerman jelas terlihat bagaimana rima muncul tidak hanya di akhir kalimat, namun juga muncul di dalam kalimat itu sendiri (“…diese irren, unsicheren Menschen”). Siasat ini memberikan kemudahan bagi pembaca atau penonton untuk menangkap secara lebih kaya nuansa emosi yang dikirim oleh para tokohnya. Adanya efek pengulangan dalam banyak bagian naskah, seperti “dan aku berlari tanpa henti. Aku berlari dan berlari. Aku ingin melawan langit…” atau “Aku berbicara dengan diriku sendiri, aku bergelut dengan diriku sendiri. …” membuat penutur lebih dapat menekankan emosi bahasa, baik pada pembaca, pendengarnya maupun bagi dirinya, sehingga emosi yang muncul lebih terhayati. Seperti merapal mantra, maka si perapal akan bisa mengalihkan tenaga pikirannya secara total pada rasa makna kata dan bahasa.

Naskah asli teater ini memang sangat musikal. Di Jerman naskah ini pernah  dipentaskan dalam bentuk opera. Rima bahasa seperti pada mantra diperkuat dengan musik. Sehingga tak pelak lagi naskah ini menjadi naskah yang dibuat tak hanya untuk memperkaya pikiran, tetapi sekaligus memperkaya rasa. Pilihan vokal atau konsonan dalam Bahasa Jerman yang cenderung berdesis dan tertutup menggugah perasaan curiga, sepi, dan dingin. Konten yang emosional dengan banyaknya kata berkonsonan dan berbunyi eksplosif (konsonanisasi) dalam Bahasa Jerman, membuat rasa emosi bahasa tersebut tepat sampai pada tataran ekspresi emosi yang lebih tegas, bukan pada tataran aksi semata. Sehingga sebenarnya pada bahasa aslinya, pesan emosi sudah cukup tersampaikan hanya lewat bebunyi bahasa. Kesulitannya, konstruksi kata dalam bahasa Indonesia yang lebih banyak mengandung unsur vokalisasi (kombinasi konsonan-vokal-konsonan, atau vokal-konsonan-vokal), membuat rasa emosi bahasa menjadi kurang tegas, sehingga perlu tekanan-tekanan di luar pelafalan. Hal ini menjadi tantangan dalam proses penerjemahannya. Untuk itu, penghayatan aktor saat karya ini dipentaskan menjadi penting, agar rasa emosi pada bahasa awal dapat tersampaikan.

Kritik Falk Richter atas budaya kerja yang mengedepankan isu efisiensi, efektitas, produktifitas, model negosiasi, intrik, konflik, politik “main kayu” di kantor dengan gamblang terlihat. Pemberian label karakter “schizophrenia paranoid”  pada tokoh-tokohnya, muncul juga dalam masyarakat kita. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah kegilaan ini diturunkan, terbentuk secara genetik, atau dibentuk oleh lingkungan? Ketika tema percepatan meretas kehidupan sejak dini lewat isu-isu kelas-kelas akselerasi, kompetensi, ujian akhir yang berfokus pada kemampuan berpikir,  hal ini bisa dilihat sebagai upaya memaksimalkan kemampuan anak untuk bekerja dalam sebuah sistem industrial yang lebih besar.

Falk Richter membuat dan mementaskan naskah “Unter Eis” sebagai bagian dari tetralogi pementasan “Das System”, yaitu Electronic City, Unter Eis, Amok, dan Hotel Palestine. Kesemuanya memotret kisah orang-orang yang “terjebak” dalam modernitas pada masyarakat modern, lengkap dengan segala konflik inter- dan intrapersonalnya. Kelompok mainteater dengan sutradara Wawan Sofwan telah mementaskan naskah Electronic City (setelah sebelumnya naskah “God is a DJ”, juga dari pengarang yang sama). Pada tanggal 15 Mei 2009 dengan sutradara yang sama, kelompok ini akan mengusung “Unter Eis” atau “Di Bawah Lapisan Es” untuk pertama kalinya ke hadapan penonton Bandung.

Dengan komposisi naskah yang kaya akan ruang pemaknaan, kritik yang lugas dan tajam terhadap dunia ekonomi –khususnya dunia para konsultan dan akuntan-,  bahasa yang ritmis, ironis dan satiris, tapi sekaligus juga hening dan kontemplatif, pembaca –dan kelak penonton-  dapat dengan bebas berjalan-jalan sekaligus belajar.  Berjalan dan mempelajari dunia di bawah dinginnya lapisan es.

Bandung, 2 Mei 2009

(Ditulis oleh: Dian Ekawati dan Dien Fakhri Iqbal sebagai tulisan pengantar untuk pertunjukan “Di Bawah Lapisan Es” oleh mainteater tanggal 15 Mei 2009 di Selasar Soenaryo dan 19-20 Mei 2009 di GK Rumentang Siang Bandung).

Ben X

Ben_X_website_5

Ben adalah pahlawan. Sempurna tak terkalahkan. Lawan-lawan bisa dilibasnya dengan sempurna. Semua mengaguminya. Termasuk Scarlite. Si Cantik yang juga memujanya. Ben adalah pahlawan. Di dalam permainan online tapi. Di luar dia adalah seorang penderita sindrom Asperger yang menjadi bahan olokan orang-orang di sekitarnya. Hanya ibu, ayah, dan adiknya yang pada akhirnya mau menerima kondisinya. Namun, tentu saja bukan penerimaan tanpa kecemasan dan ketakutan. Bukan atas Ben, tapi lebih pada ketakutan mereka sendiri.

Di dunia nyata –jika diasumsikan ada dunia nyata dan dunia maya- Ben adalah sosok yang terlihat lemah. Tak bisa dan tak mau berkata juga melawan jika ditindas. Dunianya adalah dunia di dalam pikirannya sendiri. Tak ada orang yang bisa mengerti dan masuk ke dalamnya. Dia pun tak membiarkan itu terjadi.

Ben tak bisa dan tak mau tersenyum. Bicara apalagi. Tak ada guna, pikirnya. Walaupun dia mampu. Sampai pada akhirnya, dunianya yang aman hancur oleh dua orang yang mengakuinya sebagai “teman baik kami”. Katanya. Dipaksa menjadi tontonan tak senonoh di ruang kelas. Diiringi sorak sorai penuh kepuasan, dari orang-orang yang disebut teman. Ben berontak. Dunianya tak aman lagi.

Ben semakin gelisah. Scarlite datang menemani. Membuatnya percaya bahwa dia tak bisa meninggalkan permainan begitu saja. Tidak tanpa ditemani Scarlite. Scarlite-lah penyelamatnya. Ben tidak boleh mati. Tidak, jika kematiannya tidak kreatif. Maka Ben merancang berangkat ke laut bebas. Keluarganya turut serta. Di atas kapal yang mengarungi lautan luas, dia menerjunkan dirinya. Direkam oleh kamera yang menangkap saat laut tiba-tiba menjadi sangat hening dengan angin yang berhembus lamat-lamat.

„Harus ada kematian dulu jika ingin ada hidup“, begitu ibu Ben berkata. Semua orang berkumpul di gereja. Duduk mengenang akhir hidup Ben yang tak terduga. Siapa nyana Ben bisa bertindak nekat. Siapa pula yang menyangka jika kemudian Ben bangkit lagi saat kamera memutar kembali rekaman wajah-wajah sadis tertawa penuh kepuasan saat mempermalukan dirinya. Ben telah memilih kematiannya. Mati dengan kreatif. Untuk hidup menjadi dirinya yang berbeda dari orang-orang yang hidup di dunia ini. Dia memilih dunianya sendiri. Dengan Scarlite yang juga hanya ada dalam imajinasinya. Dengan kuda yang tampaknya lebih memahami dirinya.

„Bukan hidup Ben yang harus dicemaskan, tapi sebenarnya kita sedang takut hidup kita yang terancam. Dan saya ingin melepaskan ketakutan saya dengan melepaskan Ben untuk hidup di dalam dunianya sendiri.“ Begitulah sang ibu merelakan hidupnya dan hidup anaknya.

Film berjudul „Ben X“ karya Nic Baltazhar dari Belgia tahun 2007, yang katanya berasal dari kisah nyata ini, bercerita tentang pikiran dan perasaan seorang penderita sindrom Asperger dan tekanan sosial yang dihadapinya. Film yang bagus dan detil menangkap fenomena yang saya rasa bisa ditemui di mana saja. Tidak hanya tekanan yang dihadapi oleh penderita suatu penyakit, namun tekanan sosial juga berlaku untuk apapun dan siapapun yang ada „di luar „yang lain“ dari yang kebanyakan ada dan terjadi. Labelisasi yang diberikan oleh yang menjadi mayoritas apapun itu bentuknya: ras, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial, psikologis. Apapun. Bahkan agama. Sehingga tidak ada lagi kita. Yang ada hanya kami dan kalian. Tak berani menyebut kamu dan aku. Labelisasi yang diberikan entah atas nama apa dan untuk apa. Selalu ada kepuasaan ketika berhasil menekan dan mendominasi. Dan yang mengerikan adalah jika yang ditekan dan didominasi menjadi sangat tak berdaya dan akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Tanpa perlawanan.

Namun, masih adakah rasa bersalah? Karena saya tetap yakin, rasa bersalahlah yang membedakan manusia dari makhluk yang lainnya. Dan saya rasa semua orang –sejahat-jahatnya dia- pasti punya rasa itu. Sekecil apapun rasa bersalah itu pastilah muncul. Pun jika dia tetap tak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan keterbedaan terjadi di depan matanya. Dan apakah diam menjadi tanda setuju atau justru perlawanan yang paling mungkin di saat tak ada kuasa untuk melawan dengan frontal? Di film Ben ada dua orang teman sekelas Ben yang diam, menyaksikan Ben dipermalukan. Diam yang geram. Dan merasa bersalah. Tak berdaya. Mungkin rasanya lebih perih. Seperti saat saya merasa bersalah, saat seorang ibu tua yang kotor dan bermulut kasar ditarik polisi keluar dari halaman rumah saya. Keluarga saya, tetangga sekitar kami terganggu oleh kehadirannya yang tak diharapkan. Dan saya merasa bersalah. Saya juga bersetuju agar dia dibawa ke panti jompo, karena masyarakat di lingkungan kami –yang bukan siapa-siapanya- tak mampu dan bersedia merawatnya. Dengan beragam alasan. Saya diam saat ibu itu dibawa. Diam yang geram, karena saya juga tak berdaya untuk melakukan apa.

Apakah Ben juga merasakan rasa bersalah yang sama saat dia berhasil membalaskan dendamnya saat dia „bangkit dari kematiannya“, tersenyum puas saat melihat orang-orang yang pernah menindas dan mempermalukannya kali ini tertunduk malu, tak ada daya. Apakah dia tak jadi sama dengan mereka? Dan pada manusia tetap puas jika dia bisa mendominasi yang lain. Menguasai yang lain. Mungkin ini juga yang memanusiakan manusia. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Maka Menarilah

Lelaki itu naik ke atas meja. Membaringkan tubuhnya di meja yang hanya seluas meja tulis biasa. Menggeliatkan badannya. Menguap. Merentangkan tangan. Menarik tubuhnya. Membungkuk. Menggeliat lagi. Menguap lagi. Menggaruk-garuk kepalanya. Memeluk lututnya. Dan semua gerakan menjadi sangat terlihat indah. Kegiatan sewajar-wajarnya kegiatan yang juga dilakukan oleh kita semua. Mungkin pada setiap harinya. Dan kita tidak menyadari, bahwa setiap gerakan tubuh adalah tarian. Indah.

Tubuh kita kaya dengan pengalaman ekspresi yang melimpah ruah. Tumpah dalam setiap detil gerakan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tubuh mengalami pengalaman tentang kecepatan dan menikmati kecepatan itu. Bergerak kadang cepat atau lambat. Tubuh menerima pengalaman itu. Dan menumpahkannya kembali. Pun dalam gerak yang sangat alami, sehingga sering tak disadari, bahwa semua adalah tarian. Indah.

Lain saat, lelaki itu berdiri tegak di atas meja. Kakinya diangkat satu per satu. Berjalan di atas meja yang hanya seluas meja tulis biasa. Tubuhnya kadang bungkuk sedikit. Tangannya berayun, seolah menyibak semak. Semakin lama semakin berirama gerak tangan dan kaki di atas meja. Dan begitulah orang Dayak berjalan. Mereka menari dalam jalannya. Mereka berjalan dengan menari. Ular di depan beranjak karena derap langkah kaki yang tiba-tiba menghentak. Bersiasat. Orang bersiasat dengan menari. Orang menari untuk bersiasat. Tetap tampak indah.

Saat lain, lelaki itu kembali berdiri tegak di atas meja yang menjadi panggung istimewanya. Dadanya dibusungkan. Ditarik ke belakang. Dibusungkan lagi. Kedua lengannya diangkat ke atas. Dan berteriaklah dia. Menggelar. Suara yang keluar dengan segenap nafas. Kuat. Memang begitulah masyarakat suku Dani nun jauh di Papua sana menari. Mereka meneriakkan dan menarikan hidup. Kondisi alam yang mewadahi mereka untuk bisa berteriak begitu kuat. Menciptakan harmoni suara terkuat dan terindah.

Setiap orang punya pengalaman tubuh yang sama. Pada kaki-kaki dan tangan-tangan mungil yang bergerak bebas sesuka cita seriang rasa. Jatuh dan bangkit lagi. Jatuh dan bangkit lagi. Berputar menggasing atau hanya diam dalam posisi sesukanya. Adakah aturan? Aturan hanya membuat pegal badan. Bahkan nafas pun harus ditahan. Maka menari adalah usaha untuk memahami kembali persepsi awal tubuh.

Dan kuliah malam kemarin menjadi benar-benar menggetarkan. Sardono W. Kusumo memang sang mpu-nya gerak malam itu. Dia yang menjiwai gerak menjadi nafas dan hidupnya, membuatnya tak perlu banyak berkata untuk membuat kami merasai alam pengalamannya yang dibaginya dengan ruah. Kesederhanaan memang indah. Sayangnya sering terabaikan.

Ngomong-ngomong, saya jadi kangen menari lagi. Benar-benar menari. Jelek-jelek begini saya pernah jadi penari Jawa klasik :) Tarian yang gerakannya membuat dunia melambatkan lajunya.

Homo Necans

Kebuasan dan kepuasan metafisis manusia. Ada kepuasan dalam kebuasan. Ada kebutuhan untuk menyakiti dan disakiti. Sado masokis? Begitukah manusia? Disadari atau tidak, rasanya ada benarnya juga. Termasuk pandangan bahwa diri menjadi ada dan berarti saat menyakiti (atau disakiti). Dalam bentuk apapun. Tersurat atau tersirat. Manusia adalah makhluk pembunuh, pemangsa, dan penyerang. Instingtif. Bahkan bisa lebih buas dari binatang. Menjadi ritus. Manusia tetap butuh simbol. Simbolisasi „kebuasan“ dibungkus dengan ritus keagamaan. Kurban. „Memakan“ tubuh tuhan untuk mendekati tuhan. Memaknainya sebagai pagelaran ulang ritus purba masyarakat pemburu? Kok hampir sama seperti adegan-adegan horor dengan mutilasi dan darah segar serta rasa menaklukan yang memuaskan jiwa, mendebarkan, takut, kasihan, tapi tetap dilakukan.

Dalam konteks agama, saya melihat ada iman. Sampai mana? Kembali ke diri. Tak bisa jadi identitas bersama. Walaupun sayangnya sering disamarkan. Oleh siapa? Manusia juga. Katanya, membunuh sudah menjadi sikap dasar manusia. Semakin lama semakin canggih dan halus pula pembunuhan yang dilakukannya. Tanpa perlu berdarah-darah, tanpa perlu pedang atau senjata tajam lainnya, tapi akibatnya sama. Mati juga. Dan bukannya manusia merindukan kematian seperti merindukan kehidupan itu sendiri? Hidup ada jika ada mati. Jika ingin hidup harus ada yang mati. Tidak harus sesama manusianya yang mati, bisa binatang atau tumbuhan, atau tanah, atau gunung, atau sungai, atau alam tempat manusia itu hidup dan ingin hidup.

Dan jika saat kuliah Jumat malam lalu saya berharap kematian untuk nenek saya yang sedang terbaring koma, kemudian dikabulkan hari Sabtu paginya, karena saya tidak mau melihat dokter-dokter itu melakukan tindakan “pembunuhan” pelan-pelan –atas nama kehidupan- dengan menusukkan beragam jarum dengan jurai panjang selang-selang dan memasangi listrik di sekujur tubuh rentanya, menghisap darahnya, memasukkan obat-obatan kimia untuk “merusak” pelahan lambung, hati, dan ginjalnya, mungkin naluri membunuh saya sedang bekerja. Dan ketika saya lega saat tahu nenek saya meninggal, merasa bahagia tak menangis bahkan tersenyum, karena tahu nenek saya sudah lepas dari penderitaan hidup yang sudah dilihat, didengar, dirasa, dan dialaminya selama 90 tahun, mungkin saya sedang menjadi pembunuh berdarah dingin. Dan ketika saya bersyukur karena nenek saya “hanya” mengalami koma selama 3 hari, tanpa didahului sakit yang berat sebelum dia kembali pada Yang Selalu Dirindukannya, mungkin saya sedang menjadi seorang sadistis tanpa empati. Dan ketika saya bahagia, karena harapan nenek saya sudah terkabul: kematian adalah keinginan terbesarnya, kerinduan yang sangat pada Yang Maha Abadi, mungkin saat itu saya sedang menjadi seseorang tanpa perasaan.

Saya tidak peduli apa kata orang. Saya peduli pada kematian seperti saya peduli pada kehidupan. Dan rasanya indah nian jadi manusia. Semua lengkap ada dalam dirinya. Rasional, irrasional, logis, sensitif, rajin, kreatif, serakah, pembunuh pula. Yang saya tahu, masih banyak yang harus saya syukuri. Pada hidup. Pada kematian. Pun insting membunuh itu sendiri.

Generasi Biru

Gerombolan pria muda berbondong-bondong menuju lapangan, mengusung bendera berlambangkan tulisan berbentuk kupu-kupu, gambar berubah cepat ke animasi kepala sekaligus wajah bulat telur, bergerak cepat lagi ke gambar wanita-wanita dengan tubuh meliuk-liuk, seorang wanita muda duduk memegang kertas dengan tanda „?“ yang besar. Di belakangnya ada kertas-kertas dengan simbol-simbol bahasa isyarat. Didominasi dengan musik-musik keras milik kelompok Slank. Beberapa lagunya saya kenal –dan saya suka :)-. Dokumentasi konser Slank di Tomir Leste 2 minggu setelah insiden penembakan Presiden Ramos Horta seolah menjadi video klip untuk lagu-lagunya yang cukup populer. Wajah-wajah lelaki penuh harap, sampai menangis menyanyi dengan emosional: „Ku tak bisa jauh, jauh darimu…“. Kerumunan penonton membawa poster bermacam tokoh dari mulai Pangeran Diponegoro sampai Mozart, dari Mother Theresa sampai Megawati. Gambar beralih cepat-cepat. Dokumentasi kejadian Mei 1998, ditingkahi lagi dengan animasi, disambung dengan tokoh „tak (bersuara) jelas“, teater: perempuan yang meliuk-liuk, dan ikut meliuk-liuk pula Nadine Chandrawinata. Hai! :)

Begitu terus. Yang terasa oleh saya: kekerasan yang melelahkan dan tentu saja pertanyaan: maunya Garin sekarang apa? Saya banyak tidak mengertinya, selain film ini menurut saya mungkin dimaksudkan untuk membuat Momentaufnahme dari „secuil“ sejarah Indonesia (?) sejak reformasi dan setelahnya, fragmen-fragmen peristiwa di Timor Leste, perjalanan karier dan hidup (?) kelompok Slank lengkap dengan kisah kecanduan dan overdosis narkoba, lagu-lagunya yang suka nyleneh tapi kadang puitis dan mengena ke hati (ternyata lumayan banyak juga lagu-lagu Slank yang membuat kaki saya bergoyang-goyang), sosok Bunda Iffet, para Slankers, animasi yang lucu tapi kejam, dan akhir film yang justru mengingatkan saya pada salah satu iklan rokok yang juga mengusung jargon Generasi Biru.

Dari kesemua kesan tadi, kesan terakhir malah menjadi kesan yang paling kuat bagi saya. Saya curiga, jangan-jangan iklan rokok nih, walaupun saya tidak berhasil mengingat apakah ada unsur-unsur iklan rokok di film itu. Ah, tapi saya yakin, Garin tentu cerdas menutupinya. Itupun kalau memang ada pesan sponsor di belakangnya. Ngomong-ngomong, ulasan lebih cerdas dan lebih ilmiah tentang film ini bisa dilihat di Kompas Minggu tanggal 8 Maret 2009. Tulisan Bambang Sugiharto. Di sini saya hanya menuliskan impresi saya terhadap film tersebut dan diskusi yang berlangsung seru dengan Garin Nugroho.

Pada sesi diskusi yang berlangsung santai dan penuh tawa ini, saya merasa Garin bisa merangkum 3 materi tentang filsafat manusia yang diberikan sebelumnya: Zoon Logon Echon, Homo Faber, dan Homo Economicus. Mungkin bisa juga jadi pengantar untuk materi minggu depan: Homo Necans. Kritik yang diungkapkan Garin lewat film-filmnya -yang sering tidak dimengerti, karena banyak bermain dengan simbol-, pesan-pesan sosial, spiritual, dan kemanusiaan, mungkin mewakili kemanusiaan dan ke“nabi“annya. Iklan-iklannya yang masih juga indah dan estetis mewakilinya sebagai seorang Homo Economicus. Video klip dan karya-karya kreatif lainnya menunjukkan dia sebagai seorang Homo Faber. Homo Necans? Garin rasanya jadi „pembunuh“ yang cukup berani dan brutal. Dia bilang, dia meminta pemainnya dalam film „Opera Jawa“ menjahit tangannya sendiri. Garin menyiratkan dan menyuratkan. Untuk saya dalam beberapa hal dia jadi seorang satiris yang kesepian dan penuh kemarahan. Apakah masih ada optimisme dan hidup yang cerah padanya? Tentu saja. Untuk apa ditampilkan Nadine, Monica Oemardi, Cut Rizki Theo, Maudi Koesnaedi, Artika Sari Devi atau Lulu Tobing dalam film-filmya? Menurut Garin, tanpa motivasi. Menurut saya, walaupun kadang jadi sekedar tempelan, seperti penampilan Nadine dalam film Generasi Biru tadi, hal itu bisa jadi menunjukkan sisi „kemanusiaan“ Garin yang lain. Seperti yang diakuinya: „Saya haji, dan laki-laki. Butuh sesuatu yang indah, tanpa motif yang jelas“.

Diskusi dengannya menurut saya lebih menarik dibandingkan filmnya itu sendiri. Walaupun film, pun teks-teks yang lain, menjadi lebih berwarna dengan tafsiran penonton atau pembaca, tetap menyenangkan jika mendengarkan cerita dibalik ide dan kreatifitas pembuatnya. Beberapa ide dan pendapatnya menurut saya menarik, banyak juga yang berlebihan. Cenderung narsis dan sombong, over confident, tapi sekaligus kesepian. Dan marah. Saya baru sadar, bahwa di banyak film-nya Garin marah. Sangat marah. Marah entah pada dirinya, yang selalu dicap aneh dan tukang membuat film yang sulit dimengerti, entah pada „dunia“, entah pada siapa. Ah, tapi manusia kan wajar juga jika marah dan marah perlu pelampiasan. Sublimasi kemarahan lewat karya kreatif seperti yang dilakukannya tentu lebih berguna dibandingkan dengan marah-marah tak jelas tanpa ujung pangkal jadi anarkis.

Namun lepas dari itu semua, saya senang telah menghabiskan Jumat malam kemarin di ruangan yang penuh di Jl. Nias. Merefleksikan apa yang terjadi Jumat pagi di satu tempat di Jakarta, yang saya lakukan siang harinya di Jl. Supratman, dan merangkum dengan indah di Jl. Nias. Saya disadarkan kembali pada pentingnya menghargai „ketidakmengertian“ sebagai awal proses pembelajaran dan perbaikan diri serta kemanusiaan dari waktu ke waktu.

Homo Economicus

Baru pada pertemuan kemarin saya merasa tidak bisa mengikuti tema kuliah yang diberikan. Homo Economicus. Entah karena memang bahasannya cukup sulit dan teknis, atau sayanya saja yang memang ngga mudeng. „Tetangga“ sebelah saya duduk pun mengatakan hal yang sama. Maklum, kami –saya khususnya- masih belum sampai taraf bisa mencerna bahasa para filsuf yang benar-benar filsafat. Tetap harus disederhanakan. Jadi, sambil terkantuk-kantuk saya ikuti kuliah kemarin malam.

Tema pembahasan kuliah kemarin sebetulnya menarik, tentang manusia yang mengatur rumah tangganya sendiri. Pada perkembangannya, asumsi tentang homo economicus ini berkisar pada keegoisan, keserakahan, dan materialistis. Tujuan akhir adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan usaha yang sekecil-kecilnya. Dan pada perkembangannya pula –terutama dengan perkembangan ilmu ekonomi- ciri esensial dari homo economicus ini tidak lagi berkisar pada egoisme dan keserakahan, melainkan pada daya rasionalitas yang tinggi, yang ditunjukkan oleh kemampuan menyusun keinginan secara konsisten dan lengkap serta kemampuan untuk mengetahui segala cara yang tersedia untuk memuaskan keinginan sang homo economicus ini.

Sampai titik itu bisa saya pahami, keterangan selanjutnya tidak terlalu dapat saya tangkap, terutama saat pembahasan dikaitkan dengan „egoisme gen“. Pusing, hehe. Saat diskusi, saya heran, karena pemberi materi seolah-olah bersikap defensif dengan pertanyaan-pertanyaan peserta dan begitu pula sebaliknya. Bagi saya pribadi, sampai batas tertentu saya bersetuju dengan pemahaman terakhir terhadap homo economicus, bahwa dengan daya rasionalitas dan keinginan yang dikerjakan dengan konsisten, manusia bisa memuaskan keinginannya. Sampai batas tertentu. Karena saya tetap percaya pada batasan moral, rasa, dan takdir. Namun, tidak berarti pula hidup jadi berarti jadi bukan tanpa usaha. Hmm, apa lagi ya? Hari Senin besok saya diminta bicara di Fakultas Ekonomi tentang content analysis. Untungnya saya diperbolehkan (harus malah :)) melihatnya dari bidang saya: bahasa dan budaya. Gott sei Dank! Hehehe. Mungkin saya juga bisa sambil belajar lebih lanjut tentang homo economicus ini.

Kuliah minggu depan: pemutaran dan diskusi film “Generasi Biru“ dengan Garin Nugroho.

Homo Faber

„Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain“. Untuk saya rasanya tepat juga jika manusia memang disebut makhluk yang bekerja. Sang pe(ng)rajin. Homo Faber. „Manusia Tukang” menurut Prof. Alex Lanur. Bekerja menjadi tanda kemanusiaan manusia. Bekerja untuk memanusiakan manusia. Bekerja pula yang membedakannya dengan makhluk lain. Manusia bebas bekerja dan sekaligus juga bebas berdiri dengan pendirian.

Dengan struktur tubuh dan akal budi yang sedemikan mengagumkan, manusia menjadi “tuan” atas tubuhnya. Dengan dan melalui tubuhnya pula, dunia bisa „dikuasainya“. Namun, apa itu pekerjaan manusia? Jikalau kita lihat ke asal muasal kata labor yang bermakna kelelahan dan keletihan, apakah bekerja berarti berlelah-lelah, berpayah-payah hingga letih? Apa makna bekerja dan pekerjaan? Apakah hanya sebatas mengubah benda-benda dengan menggunakan tubuh dan alat-alat atau sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya? Setelah itu apa? Berkeluh kesah karena kebutuhan tak pernah cukup terpenuhi? Atau bekerja lebih giat dan lebih keras untuk terus memenuhi kebutuhan yang tak pernah kian cukup? Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Klise betul.

Dan dalam pekerjaan itu nyatanya ada unsur-unsur subyektif seperti pikiran, kehendak, tindakan, dan kemampuan tertentu yang ada pada setiap manusia yang bekerja. Pun ada unsur-unsur obyektif dari bahan, materi, alat yang digunakan untuk bekerja. Pada akhirnya tidak ada pekerjaan yang lebih „mulia“ dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya, karena sifat pekerjaan itu selalu komplementaris. Yang satu membutuhkan yang lainnya. Ketergantungan. Termasuk ketergantungan pada Tuhan, karena pekerjaan –selain berdimensi objektif dan sosial – juga memiliki nilai yang sangat pribadi dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Maka menjadi penting jika pekerjaan diintegrasikan ke dalam kehidupan beragama. Bekerja adalah ibadah. Begitu mungkin kata para alim ulama. Bagaimana implementasinya? Sudahkah? Benar demikiankah? Ayo ah, lebih rajin, lebih ikhlas dan lebih mencintai pekerjaan kita :)

„Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain“.

Tema kuliah minggu depan: Homo Economicus.

Ältere Artikel »