Feeds:
Artikel
Kommentare

Koordinasi (Bagian I)

Perkembangan penelitian linguistik di Jerman saat ini sepertinya semakin masuk merasuk ke dalam tataran mikro. Ketika para peneliti bahasa dan komunikasi di negara-negara berbasiskan Bahasa Inggris semakin melihat unsur-unsur di luar bahasa, konteks politik dan sosiopragmatik menjadi bahasan para peneliti analisis wacana kritis, di Jerman yang menjadi awal dari bahasan teori kritis asal mula munculnya analisis wacana kritis, bahasan tersebut semakin terasa jauh. Nama-nama seperti Fowler, Van Leuweun, Sara Mills, Fairclough tidak terlalu terdengar dengungnya, hanya Wodak yang masih sedikit dipakai, dan Van Dijk yang semakin ke sini juga analisisnya semakin masuk ke dalam. Teori konteks terakhir dari Van Dijk juga semakin bersifat individual, bukan konteks yang berada di luar melingkupi teks, tapi konteks yang justru ada di dalam dunia pikiran dan perasaan si pelaku komunikasi (lebih spesifik lagi dalam percakapan). Dijk (2007: 288-289) menyebutkan dalam tulisannya: there is no direct casual or conditional relationship between social characteristic (gender, class, age, roles, group membership, etc.) of participants and the way they talk or write. Rather, it is the way participants as speakers (writers) and recipients subjectively understand, interpret, construct or represent these social characteristics of social situations that influences their production or understanding of their talk or text.

Jadi, konteks menurut Dijk menjadi hal yang sifatnya sangat pribadi dan subjektif, walaupun tentu saja dalam kenyataannya, saat manusia berinteraksi dan berkomunikasi, konteks subjektif ini akan bertemu dan beririsan dengan konteks subjektif-konteks subjektif lainnya, sehingga konteks-konteks ini memiliki properti sosial (meminjam istilah Dijk, walaupun terasa sangat “ekonomi” untuk saya) dan menjadi bersifat intersubjektif. Ketika konteks subjektif beririsan dengan konteks subjektif lainnya, terjadilah apa yang disebut wacana (discourse). Sesuai dengan namanya yang subjektif, sifatnya menjadi relatif dan menjadi bermakna ketika konteks tersebut relevan dengan maksud, pikiran atau perasaan si pelaku komunikasi. “Pengertian” dan “pemahaman” setiap pelaku komunikasi terhadap suatu fenomena komunikasi tertentu awalnya memang disebut Dijk sebagai konteks. Namun, dalam tulisan terbarunya, Dijk lebih suka menggunakan istilah mental model, yang menurutnya lebih mewakilinya teorinya tentang konteks. Dalam mental model terkandung makna representasi mental seorang pelaku komunikasi terhadap sebuah peristiwa atau situasi yang disimpan dalam ingatan episodiknya. Sifatnya relatif, subjektif, parsial, dan bersifat mengontrol semua aspek produksi wacana.

Jika melihat pemikiran Dijk yang cenderung memberi tekanan cukup kuat pada “dunia dalam” para pelaku komunikasi –khususnya dalam percakapan-, rasanya tidak heran kalau di Jerman namanya yang masih cukup sering disebut dalam beberapa artikel tentang konteks dan analisis percakapan. Namun, tentu saja ada “ego” intelektualitas sendiri dari para ilmuwan (mungkin para pakar ilmu bahasa dan humaniora? Bidang lainnya saya tidak terlalu paham) untuk membuat sesuatu yang lain dari yang lainnya. Walaupun bahkan hanya di urusan istilah, yang kadang untuk saya sebagai orang awam tidak perlu terlalu diperdebatkan sampai memakan waktu berjam-jam, karena istilah yang mereka pakai toh tetap sama saja maknanya :)

Perkembangan analisis percakapan, yang sebenarnya berasal dari Amerika, di Jerman juga semakin merasuk detil ke dalam struktur mikro percakapan, setelah tataran interaksi dan makro „dikuasai“ oleh para analis percakapan negara berbahasa Inggris. Pada tataran ini, struktur mikro yang dibahas tidak lagi hanya fungsi jeda dan intonasi, alih tutur dan reparasi, tidak hanya membahas register dan diksi, tidak lagi hanya melihat bangun struktur suatu percakapan, namun melihat bagaimana satuan-satuan luar bahasa verbal yang menyertai ujaran-ujaran verbal (baik statis atau dinamis) saling jalin menjalin membentuk satu pemahaman (konteks) terhadap satu fenomena tertentu dalam proses interaksi. Istilah komunikasi tidak digunakan lagi dalam perkembangan penelitian bahasa di Jerman, karena dalam istilah komunikasi cenderung terkandung makna akhir yang bersifat sama, komunal, sedangkan dalam suatu peristiwa berbahasa tidak tertutup kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian yang sifatnya juga dinamis, sehingga istilah interaksi, yang dikemukakan pertama kali oleh Goffmann (1983), lebih sering digunakan. Saya sendiri termasuk orang yang bersetuju dengan istilah ini, mengingat dinamika yang muncul saat orang bercakap-cakap atau saat menulis sekalipun.

Jadi, saat para pelaku percakapan berinteraksi, terjadi jalinan yang kuat antara unsur-unsur verbal yang diujarkan dengan unsur-unsur nonverbal yang melingkupinya. Ruang-waktu tempat kapan percakapan itu terjadi, tinggi-rendah-lambat-cepat nada dan suara yang digunakan, gestikulasi-mimik-tatapan mata-gerak kepala-gerak alis yang menyertai ujaran-ujaran tersebut, bahkan helaan nafas dalam diam tak berujar pun dapat memberikan makna lain untuk si pelaku percakapan dan atau pada si mitra bicaranya. Media telefon, internet, museum, ruang kelas, bahkan ruang latihan dansa pun menjadi bagian dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa interaksi tertentu. Semua hal di luar unsur verbal yang melingkupi, menyertai dan memengaruhi pemahaman terhadap suatu peristiwa interaksi tertentu disebut multimodalitas. Istilah multimodalitas ini awalnya diperkenalkan oleh Kendon (1990) yang menolak anggapan tentang „particular modality of communication is more salient than another“. Untuknya, semua aspek yang ada saat suatu proses interaksi terjadi adalah penting dan menjadi satu kesatuan utuh yang membentuk satu konteks pemahaman tertentu terhadap satu fenomena tertentu pula. Satu kesatuan yang utuh ini disebut Deppermann dan Schmitt (2007) sebagai koordinasi.

Koordinasi berasal dari bahasa Latin yang bermakna mengatur, pengaturan, dalam bahasa Jerman bermakna das ordnende Zusammenfassen, die Abstimmung, Zuordnung (penyimpulan yang teratur, persetujuan, penyesuaian, pengaturan) dan dalam bahasa Indonesia bermakna perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur, sedangkan dalam bidang linguistik bermakna penggabungan satuan gramatikal yang sederajat dengan konjungsi koordinatif (KBBI Daring 2007). Dalam konteks koordinasi dalam sebuah interaksi, Deppermann/Schmitt menyoroti aspek-aspek yang mendukung terjadinya koordinasi antara ujaran verbal dan aspek „lingkupannya“, terutama aspek waktu (pelaku interaksi ada di ruangwaktu tertentu untuk tujuan tertentu, dengan tindakan dan ujaran tertentu pada ruangwaktu itu), ruang (berkaitan erat dengan waktu, ruang juga membawa implikasi yang berbeda dalam suatu proses interaksi), multimodalitas (menyatakan „kehadiran“ dan cara bertindak dalam suatu proses interaksi dengan tataran ungkapan yang beragam)  dan orientasi persona majemuk („penyesuaian“ yang bersifat interaktif dengan pelaku peristiwa interaksi lainnya).

Mengambil contoh suatu situasi percakapan dalam proses interaksi antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa misalnya menganggap bahwa dia sudah menggunakan pemilihan kata yang tepat untuk situasi percakapan di ruang dosen yang formal dan waktu bicara yang juga „formal“ (di jam kerja atau jam bicara dosen). Register dan diksi yang dipilih mungkin biasa digunakan dalam situasi tersebut, namun tidak diimbangi dengan volume suara yang „lazim“ untuk situasi di ruang dan waktu yang katakanlah formal tersebut, misalnya dia bicara terlalu pelan atau terlalu keras, terlalu cepat atau terlalu lambat. Tidak bisa diabaikan bagaimana dia mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tersenyum, menggerakkan tangan, menggerakkan bahu, dan menggerakkan kakinya sebelum suatu satuan  verbal dijarkan, saat satuan verbal diujarkan, dan setelah ujaran verbal diujarkan. Bagaimana situasi ruangan tempat proses interaksi itu terjadi? Posisi meja, kursi, lukisan, lampu, baju yang digunakan, alat tulis yang dibawa, dan lain sebagainya. Apakah benda-benda tersebut lebih menarik perhatiannya dibandingkan rekan bicaranya atau benda tersebut menjadi pengalih perhatiannya jika dia tidak merasa cukup nyaman dengan ujarannya atau dengan ujaran rekan bicaranya? Atau benda-benda tersebut justru mendukung ujarannya atau ujaran rekan bicaranya? Sebagai alat penunjuk, penegas, yang memperlemah atau justru memperkuat? Jika suatu “kesalahpahaman” muncul dalam suatu interaksi (kesalahpahaman dalam makna yang luas), unsur yang satu menunjang unsur yang lain, aspek yang satu menunjang aspek yang lainnya. Ada kemungkinan si mahasiswa bereaksi dengan ujaran dan sikap tertentu karena melihat tatapan mata, gerakan alis atau senyum bahkan tarikan nafas si dosen, misalnya. Atau seorang dosen bereaksi dan berujar sesuatu karena memang berniat menegaskan atau memperlemah atau memojokkan atau mendukung si mahasiswa atau mungkin juga karena melihat sikap, gerakan, ujaran atau apa yang dikenakan si mahasiswa misalnya. Semua saling berkait, dan proses interpretasi terhadap suatu ujaran yang keluar –sekecil apapun itu- tidak bisa lepas pemaknaannya dari faktor-faktor di atas. Sekali lagi, sifatnya intersubjektif. Saling berhubungan. Satu menyebabkan yang lain. Tampaknya hukum kausalitas berlaku di sini.

(Bersambung, keburu ngantuk :))

Andare

Aku hinggap sejenak menatap keluasan biru langit dan laut. Padanya dan di atasnya aku siap mengepakkan kembali sayapku.

Bayreuth, 010110, 00:01

Kala Purnama Kala

Menatap Purnama pelahan dikulum Kala. Menitip salam untuk leluhur di ketinggian tanah para raja Jawa pada Putra Sang Bayu.

Malam Muharam

Saya baru ngeh bahwa tanggal 18 Desember besok itu tahun baru hijriyah setelah membaca status teman-teman di Facebook. Maklum, hidup di negara bermayoritas penduduk bukan muslim, hari-hari besar Islam berlalu begitu saja. Namun, bukan itu yang ingin saya ceritakan. Saya hanya teringat tanggal 1 Muharam tahun lalu, bulan Desember juga. Saat itu saya dan tiga orang sahabat ada di Solo. Bukan sengaja datang untuk melihat Kebo Bule yang diarak dari Kraton Solo keliling kota –karena seperti biasa, 1 Muharram sayangnya selalu terlewat begitu saja-, tapi karena kami mau berlibur akhir tahun (Masehi) di Jogja dan Solo. Setelah sampai Solo, barulah kami ngeh bahwa malam itu akan ada perayaan malam 1 Suro dan  1 Suro adalah perayaan merayakan tahun baru Saka. Tahun baru dalam perhitungan kalender Jawa.

Kraton Solo yang didominasi warna biru itu dihias dengan janur di sana sini. Indah dan ramai. Untuk ukuran kota Solo yang tidak seramai Jogja, acara setahun sekali itu menjadi ajang berkumpulnya penduduk kota. Alun-alun di depan kraton penuh. Kami sempatkan mampir ke pameran benda-benda magis dan keramat, hehe. Iseng saja. Menuju tengah malam, orang-orang pelahan beranjak menuju kraton. Sudah penuh. Ibu-ibu sudah duduk bersimpuh di kiri kanan gerbang utama kraton.  Kami tadinya mengambil tempat di sisi kanan, kemudian beralih ke sisi kiri, karena ingin mendapat tempat yang lebih dekat ke pintu masuk kraton. Kami -rakyat jelata- duduk di tanah, tak beralaskan apapun, menunggu dengan sabar di malam yang merambat menuju pertukaran hari. Menunggu para kerabat kraton yang datang satu-satu tak beralas kaki: perempuan berkebaya hitam, laki-laki berbeskap hitam juga. Setiap ada yang datang, masyarakat merangsek ke depan, ingin menyaksikan orang-orang yang mereka hormati tapi tak tersentuh. Berhikmat dan berjarak.

Menjelang tengah malam, pintu kraton dibuka dan dikeluarkanlah benda-benda pusaka kraton untuk didoakan. Benda-benda ini kemudian akan diarak bersama sang kerbau keramat –Kebo Bule- dalam kirab keliling kota. Bau dan asap dari kemenyan yang dibakar segera menyeruak. Saya tidak bisa bertahan cukup lama di antara desakan orang-orang yang merangsek semakin ke depan ditingkahi asap dan bau kemenyan yang menyengat dan memilih menepi. Setelah upacara selesai, orang-orang mulai berebutan mengambil apapun yang bisa diambil, termasuk janur yang dipasang dengan indah. Sesedikit apapun, mereka senang bisa mengambil apapun yang berasal dari kraton. Membawa berkah katanya. Tak lama, orang-orang mulai berbaris membentuk pagar, memberi jalan untuk sang kerbau keramat yang akan diarak dalam Kirab Mubeng Beteng. Kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet itu berjalan pelahan tentu saja dan orang-orang kemudian mengikuti di belakangnya membawa obor dan benda-benda pusaka. Malam gelap, cukup dingin, obor bergerak pelahan dari orang-orang yang berjalan. Tak ada suara. Hening. Semua dilakukan dengan hening. Atmosfer yang terasa sangat kontemplatif. Merayakan keheningan. Berjalan pelahan,pelan,  dan diam tanpa bicara. Hanya hening. Dengan obor yang bergerak pelahan, menjauh dari kraton. Entahlah, saya sendiri merasa nyaman di suasana tahun baru yang hening begitu, walaupun tak lama kemudian suara motor-motor mulai merusak suasana yang magis kontemplatif itu. Motor-motor itu akan ikut berkirab juga. Tradisi dan modernitas dalam satu waktu dan tempat. Ini dunia kita saat ini.

Kami sendiri memilih berjalan pulang ke penginapan, tidak ikut kirab. Sudah jam 2 dini hari saat itu dan kami masih tersesat, salah mengambil jalan pulang. Setelah berjalan cukup jauh dan bertanya sana sini, kami tiba juga di penginapan. Dan saya malu, karena saya tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Jawa, padahal bapak saya berasal dari Solo. Untung ada Lusi yang bisa berbahasa Jawa, dia yang mendapat bagian bertanya-tanya :)  Pengalaman tahun baru di Solo itu membekas. Saya suka. Saya mencari keheningan itu lagi. Malam tahun baru 2009 (Masehi) saya lewatkan juga dalam hening. Di rumah.

Dan malam ini –lepas jam 16:13 tadi sudah 1 Muharam di Bayreuth- dalam suhu 9 derajat di bawah nol, dingin menggigit tulang, dengan bibir yang sudah kelu beku, saya ada bersama orang-orang yang datang berjalan ke arah Audimax. Berkumpul di depan pintu kaca yang tertutup rapat dijaga ketat oleh polisi berseragam hijau. Semua orang menggigil kedinginan, tetapi tetap bertahan menunggu dengan sabar satu sosok yang ditunggu akan datang jam 19. Kami –rakyat jelata, para mahasiswa dan penduduk sekitar kampus- tidak bisa masuk ke ruangan megah Audimax, karena hanya mereka yang memiliki undangan saja yang bisa duduk tenang di dalam. Orang-orang masih sabar menunggu. Saya juga, walaupun tangan dan kaki saya juga sudah ikut membeku. Dan tepat jam 19 sosok yang ditunggu datang, kami tetap tidak bisa masuk. Sosok yang diam sejenak di depan pintu, kemudian berjalan cepat ke dalam Audimax dan pintu kemudian ditutup. Saya masih sempat menangkap sosok itu dengan kamera, walaupun tidak begitu jelas.

Jika 1 Muharam tahun lalu saya ada di Solo, menunggu  Kyai Slamet, 1 Muharam tahun ini saya di Bayreuth. Bukan menunggu Kyai Slamet, tapi menunggu Gerhard Schröder yang akan memberikan kuliah umum tentang politik ekonomi Jerman di Audimax Uni Bayreuth. Ah, bukan kuliah umum sebenarnya, karena tidak dihadiri mahasiswa, hanya tamu undangan saja. Mahasiswa Uni Bayreuth berkumpul membeku kedinginan di luar. Sebagian lagi masih “menduduki” H26, protes masih berlanjut. Di Solo ada bau kemenyan, di sini dipasang lilin-lilin beraroma. Di Solo hening, di sini diam beku. Walaupun Kyai Slamet dan Gerhard Schröder sama – sama bule, di sini tidak arak-arakan kirab. Suhu cukup ekstrem untuk membekukan hidup. Salju yang lembut sudah mengeras menjadi es yang mengkilap tertimpa cahaya lampu. Tak lama, mahasiswa beranjak pulang, membiarkan sang mantan kanselir berbicara di dalam. Bukankah lebih nyaman berada di kamar yang hangat, bergelung selimut , membaca buku sambil menikmati teh atau kopi? Oh tidak, di kamar saya yang hangat ini saya kemudian bergelung selimut sambil bercakap virtual dengan sahabat-sahabat saya, ditemani segelas wedang jahe yang dikirim dengan penuh cinta dari negeri hangat di seberang samudera. Tetap hening dan indah.  Dingin di luar, tapi tidak di dalam. Selamat tahun baru. Semoga langkah kita selalu dilindungi dan diterangi cahaya Sang Maha Pelindung dan Penerang.

Tanggal 23 November 6 tahun lalu saya terkantuk-kantuk mengikuti salah satu perkuliahan yang namanya entah lupa (saking tidak menariknya mata kuliah itu). Untuk menghilangkan rasa kantuk yang semakin menyerang saya baca cerpen Kafka “Heimkehr” yang ada di buku Fremdgänge. Iseng saya terjemahkan, dan selesai sebelum perkuliahan selesai.  Hasil dari perjuangan melawan kantuk itu yang menjadi postingan awal blog. Awal saya menulis lagi setelah 6 tahun juga memutuskan berhenti menulis.

Sebagai seorang yang cenderung introvert dan reseptif, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena saya bisa menuliskan apapun tanpa  perlu malu dan takut diprotes. Alhasil saya punya banyak buku harian dari sejak SD sampai tahun 1997. Pada tahun itu, di Köln, saya memutuskan untuk berhenti menulis di buku harian dan juga memutuskan untuk berhenti menangis. Maklum, saya bisa menulis sambil dan sampai menangis.  Berada sendirian di tempat yang jauh dari rumah , dari orang-orang yang saya cintai dengan sarana komunikasi yang terbatas, email belum memasyarakat di Indonesia, biaya telefon yang mahal, sms belum ada, surat yang baru tiba 2 minggu setelah dikirimkan, membuat saya harus bisa bertahan sendiri. Namun, tentu saja kebiasaan menulis (yang benar-benar menulis dalam arti menulis dengan tangan) tidak bisa hilang begitu saja. Peristiwa, pengalaman, perasaan, pikiran saya tuliskan dalam bentuk surat yang selalu panjang, berlembar-lembar pada sahabat-sahabat saya. Sekarang, di era serba elektronik ini, kebiasaan menulis surat ditulis tangan ini saya rindukan.  Saat ini saya sedang mencoba lagi berkirim kartu pos dengan sahabat di Bandung.

Setelah 6 tahun berhenti menulis  buku harian, sebagai gantinya saya menulis dalam bentuk surat pada sahabat dan teman, serta dan berubah menjadi Dian yang cerewet, Dian menjadi pengajar, karena dengan mengajar semua kegelisahan dan pikiran bisa tersalurkan. Beberapa teman menyarankan saya membuat blog, tapi saya tidak mau saat itu. Saya bukan orang yang cukup percaya diri untuk membuka diri saya pada publik. Namun, saya iseng juga mencoba membuat blog di Friendster yang akhirnya tidak pernah diisi sama sekali. Kemudian Jeng ini datang dengan ide Diary Project-nya. Dia tidak memaksa saya ikut, dia hanya memberikan pemberitahuan tentang kegiatan itu sambil bilang selewat, „ikut ya, jeng“. Saya yang pada saat itu sedang berada di titik terendah hidup saya melihat ini sebagai kesempatan yang bagus untuk menuliskan lagi apa yang saya rasa, saya lihat, saya dengar, saya pikir dalam bentuk buku harian. „Tugasnya“ mudah, yaitu menuliskan apa saja selama bulan September saat itu. Ternyata, itu bukan tugas yang mudah juga. Saya sering kehabisan ide untuk menulis apa, walaupun pada akhirnya tidak punya ide pun bisa jadi bahan tulisan. Saya rasa ini pancingan yang bagus, karena saya kemudian jadi terbiasa mempertanyakan kembali, mendengar dan melihat kembali banyak hal dari banyak sisi. Hal ini membantu saya juga menstrukturkan lagi pikiran dan merekam kembali perasaan saya untuk kemudian berjarak dan melihatnya dengan perspektif lain. Dimulai dengan tulisan tentang komentar salah seorang penyiar radio Bayern Drei tentang penggunaan bahasa Jerman yang kemudian di diary saya jadi berkembang ke tema politik bahasa, diary bulan September itu diakhiri dengan kesan terhadap Catatan Pinggir-nya  Goenawan Mohamad tentang meninggalnya Munir. Ya, di dalam diary project saya, saya menulis tentang meninggalnya Munir, meninggalnya Nurcholis Madjid, meninggalnya Paus Johannes Paulus II, menulis tentang terbakarnya perpustakaan Anna Amalia di Weimar yang menghanguskan sejumlah karya besar yang fenomenal, menuliskan kembali tema-tema perkuliahan di kelas, menuliskan percabangan ide saat menulis makalah, menuliskan catatan perjalanan saya ke beberapa kota di Jerman, menuliskan pemaknaan terhadap hidup, mati, kehidupan dan kematian, sampai hal-hal sepele seperti pelajaran naik sepeda yang penuh canda, juga gigi yang dicabut dan membuat saya tidak bisa tidur. Pada akhirnya saya tidak bisa berhenti . Saya melanjutkan kebiasaan menulis diary lagi dalam bentuk elektronik, karena memang kenyataannya saya jadi semakin jarang menulis di buku harian lagi dengan tulisan tangan.

Dengan mengikuti diary project ini, otomatis diary saya akan dibaca oleh orang lain. Hal ini membantu saya untuk bisa lebih membuka diri tentang perasaan, dan pikiran saya. Namun, tetap saja, tawaran untuk membuat blog tidak saya indahkan, walaupun saya selalu iseng mencoba-coba seperti apa sih blog itu. Sampai kemudian salah seorang teman mengundang saya untuk membuat blog di Multiply dalam rangka berlatih menulis dan saling mengingatkan untuk menyelesaikan tesis.  Tidak bertahan lama, blog itu kembali kosong karena saya tetap merasa tidak nyaman saat tulisan saya dibaca orang, apalagi dikomentari oleh orang lain.

Menulis blog memang saya belum mau, tetapi blog walking menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya menemukan blog yang isinya murni curhat dan buka-bukaan masalah pribadi sehingga saya kok merasa orang itu seperti di dalam aquarium, terlihat jelas oleh banyak orang, tetapi saya juga banyak menemukan blog yang menarik , bagus, dan inspiratif. Salah satunya blog bapak ini. Tahun 2002 saya nyasar ke blog bapak ini saat mencari keyword  “toko buku kecil” di google. Tahun 2005 saya nyasar lagi ke blog itu saat mencari keyword yang sama. Blog itu inspiratif dan menarik, ditulis dengan bahasa yang diusahakan ringan –kadang lucu tapi sinis- walaupun untuk tema-tema tertentu tetap saja sulit saya pahami, dan saya mendapat kesan “pencarian” yang tidak pernah berhenti dari si pemilik blog.  Temanya beragam, dari mulai sains, agama, musik, kopi, buku, orang-orang terkenal, peristiwa sehari-hari, banyak sekali. Kemudian saya berhenti pada halaman khusus tentang Wagner  dan saya iseng meninggalkan komentar di sana.Tidak disangka komentar saya dibalas dengan email pendek dan permintaan untuk menuliskan pengalaman saya selama 1 hari di Bayreuth.  Permintaan yang dilengkapi kata “Plizzzz…” itu membuat pikiran saya bergejolak dan merambat melewati ruang dan waktu.  Satu hari untuk saya bisa berarti kumpulan ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, hari ini dan khayalan saya tentang nanti. Alhasil saya memang menulis 6 halaman tentang 1 hari di kota Wagner ini. Bapak ini membaca saya. Saya tidak menduga bahwa tulisan itu akan dipasang di blognya, di halaman khusus tentang Wagner bergabung dengan tulisan-tulisan lain yang tentu saja jauh lebih bagus.  Tulisan saya bukan apa-apa, walaupun ini cukup membuat rasa percaya diri saya untuk terus menulis menjadi bertambah. Namun, bapak ini juga tidak bisa membuat saya mau membuat blog sendiri. „Aquarius sejati tidak suka dipaksa“ demikian tulis saya saat itu dan „Gemini sejati tidak pernah memaksa“ katanya. Jadi, saya tetap menulis seperti biasa dalam diary saya dan dalam bentuk surat elektronik.

Kemudian sahabat saya ikut meminta saya membuat blog. Sahabat yang mau dan rela membantu saya yang gaptek untuk urusan komputer, internet, dll, sahabat yang menemani saya begadang dan sahabat yang mau merelakan dirinya didebat dan dikerjai oleh saya yang cerewet dan menyebalkan ini. Namun, tentu saja saya tetap keukeuh tidak mau, tidak ada alasan yang mampu membuat saya bergerak membuat blog. Dia juga tidak mau memaksa, tahu saya tidak suka dipaksa, tetapi dia hanya mengeluarkan satu komentar yang membuat kekeraskepalaan saya rontok, “Bilang aja lu takut. Elu kan memang penakut”. Wah, kalimat itu langsung menohok saya. Tampaknya saya memang hanya membuat segala macam pembenaran yang terlihat logis untuk menutupi banyak ketakutan dan rasa tidak percaya diri saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat membuat blog dengan domain sendiri, tetapi semua itu harus sahabat saya yang mengurus, saya tahu beres. Dia menyanggupi dan akhirnya semua berlangsung cepat sampai saya memiliki domain dian.or.id. Namun, dasarnya saya gaptek, pemalas, dan belum sepenuhnya yakin dengan diri saya sendiri, blog di domain itu terbengkalai juga. Saya lebih sering menulis di Multiply.  Dan ketika beberapa kali menemui kesulitan mengoperasikan blog saya di domain dian.or.id itu, saya yang tidak sabaran lebih memilih tidak melanjutkan kepemilikan domain itu, namun berganti menulis di blog gratisan ini. Sampai sekarang, selama 6 tahun. Dan sahabat saya masih setia menemani saya menulis, memberikan ide dari bincang-bincang kami yang bisa berlangsung berjam-jam, memandu saya dari jauh jika saya punya masalah dengan internet dan aplikasi yang aneh-aneh, bahkan suka rela memperbaiki  laptop kesayangan saya yang menggunakan bahasa paling menyesatkan sedunia tu.

From this moment. Saya suka lagu Shania Twain dengan judul yang sama. Lagu cinta. Namun, untuk saya “from this moment” adalah saat-saat saya merekam segala yang saya cerap dan inderai dalam hidup saya, kemudian saya tuliskan. Di mana pun saya berada. Bahkan menulis di sini membantu saya menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang karena beragam faktor harus saya tulis. Kutipan dari Khalil Gibran tentang waktu ” kemarin hanya ingatan dari hari ini dan esok adalah mimpinya (…) biarkan hari ini memeluk masa lalu dengan ingatannya dan masa depan dengan rindunya” saya pasang di blog saya sebagai pengingat agar saya memaknai hari ini, hari yang tak bisa lepas dari hari kemarin, namun tetap diwarnai mimpi tentang esok hari. Warna hijau yang mendominasi blog-blog saya membantu saya untuk berpikir lebih segar dan positif, selain karena warna ini juga memang warna kesukaan saya. Foto pepohonan, sungai,  dan jembatan yang saya ambil saat-saat saya melintasi Hofgarten selalu mengingatkan saya pada hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang sejuk. Hidup yang tenang dan menyejukkan.

Saat ini, enam tahun saya menulis setelah enam tahun saya berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih khusus pada ketiga sahabat saya tadi, karena mereka selalu ada, menyemangati, dan menemani saya menuliskan hari-hari saya dengan tulisan-tulisan mereka yang inspiratif dan menyejukkan.  Menulis tanpa titik berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada hidup yang sudah menjadi mata air dari semua yang saya tulis. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada waktu dan Sang Pemilik Segala Waktu.

Untuk: Tarlen, Koen, dan Insan. Terima kasih karena kalian ada. Untuk menulis.

Demonstrasi

Seminggu ini perkuliahan tidak berjalan seperti biasanya, karena sejak tanggal 17 November di seluruh universitas di Jerman diadakan demonstrasi menentang diberlakukannya uang kuliah (Studiengebühren) dan dilaksanakannya program bachelor dan master yang sangat ketat, terutama di urusan kehadiran mahasiswa. Hari Rabu kemarin saat saya datang untuk ikut Vorlesung Textlinguistik, Hörsaal sudah „diduduki“ oleh mahasiswa yang berdemo, menurut seorang teman ruangan kelas yang lain pun „diduduki“. Mereka mengadakan diskusi terbuka, memasang spanduk-spanduk bernada protes, bahkan sampai menggelar sleeping bag dan tidur di kampus. Dosen saya berdiskusi sejenak untuk kemudian mengumumkan bahwa kuliah hari itu ditiadakan, dan mempersilahkan mahasiswa untuk terus berdemo, jika memang tujuan mereka baik. Kemarin, dosen sosiologi saya juga merasa tidak enak hati melaksanakan perkuliahan karena mahasiswa yang lain masih berdemo. Pada akhirnya, kami memang tetap kuliah, dengan peserta 4 orang saja. Namun, kelas ini juga kelas kecil kok, mahasiswanya hanya 7 orang.

Saat saya tanya pendapat salah seorang teman tentang demo ini, dia termasuk orang yang tidak setuju demo diadakan di Bayreuth. „Ungerechfertigt“ katanya.  Masuk akal jika demo dilaksanakan di Berlin, Hamburg atau München yang mahasiswanya puluhan ribu, sehingga mereka tidak „terlayani“ dengan baik. Di satu sisi mungkin ada benarnya juga. Kampus Bayreuth itu kecil. Saat ini jumlah mahasiswanya hanya 9000 orang. Dibandingkan dengan Unpad saja masih lebih banyak Unpad mahasiswanya. Mahasiswa dilayani dengan baik di sini.Fasilitas disediakan. Dosen dan mahasiswa saling kenal secara personal, menyapa bahkan makan siang atau ngopi bersama di Mensa dan di Cafeteria. Bimbingan selain di Sprechstunde yang ditetapkan juga di jam-jam di luar itu. Email selalu dibalas cepat. Akses terhadap buku, jurnal ilmiah, dan internet yang seluas-luasnya dan sepuas-puasnya. Studentenbeitrag yang masih cukup murah (62 € saja selama satu semester) dan fasilitas-fasilitas lain seperti Studentenwohnheim, bentuk Campus-Universität yang berkumpul dalam satu lokasi sehingga memudahkan mahasiswa dan dosennya. Jika melihat itu semua memang rasanya apa lagi yang harus diprotes? Kalau masalah waktu belajar yang lebih ketat dibandingkan dulu, misalnya dengan diberlakukannya daftar hadir dan modul perkuliahan yang mengikat, bukannya tugas mahasiswa memang kuliah? Itu pendapat teman saya.

Saya cukup setuju dengan pendapatnya. Namun, lepas dari masalah adil tidak adil, saya pribadi agak berkeberatan dengan pemberlakuan Studiengebühren. Sebagai pendukung pendidikan murah dan berkualitas, saya ingin sebisa mungkin setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Namun, tentu saja hal ini tidak bisa serta merta terjadi. Pendidikan pada kenyataannya semakin lama semakin mahal. Pemerintah pusat dan negara bagian tidak dapat secara penuh lagi membiayai universitas, karena dengan demikian mereka harus menaikkan pajak juga. Universitas tidak semudah itu bisa membiayai diri sendiri. Mereka bergantung juga dari penelitian dan kerja sama lainnya. Pada akhirnya ada fakultas yang basah dan ada yang kering.

Studiengebühren 500 € per semester dan biaya hidup minimal 500 € tentu bukan jumlah yang sedikit. Semakin ketatnya aturan perkuliahan juga mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk mencari job di luar waktu kuliah. Mungkin itu juga yang diprotes oleh mereka. Kebanyakan dari mereka memang masih dibiayai oleh orang tuanya. Namun, tidak semua orang tua mampu memberikan biaya penuh, karena mereka pun masih harus membayar pajak dan asuransi. Pemerintah negara bagian dan pemerintah pusat memberikan pinjaman lunak lewat BAföG atau KfW-Darlehen (di negara Bagian Bayern). Pinjaman bisa dibayar sampai mereka lulus kuliah bahkan setelah lulus kuliah. Beasiswa pun banyak diberikan, dengan catatan tentu prestasi selama studi pun bagus.  Berkuliah pada akhirnya memang terbuka untuk yang mampu, yang tidak mampu lebih memilih pendidikan praktis yang memungkinkan mereka langsung bekerja. Sementara setelah selesai kuliah, mencari pekerjaan pun tetap saja sulit.

Yang menjadi dilema adalah mereka sekarang ini dituntut oleh sistem pendidikan yang ketat dan menuntut cepat selesai, di lain pihak kebutuhan hidup dan biaya untuk kuliah sendiri membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kadang mahasiswa harus mengikuti ekskursi ke luar kota bahkan ke luar negeri. Belum lagi pengeluaran untuk foto copy atau buku. PIlihannya adalah kuliah tapi tidak punya uang dan ada kemungkinan berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya, atau bekerja tapi kuliah jadi terbengkalai. Dijalani keduanya? Jangan heran jika kemudian banyak mahasiswa yang stress dan jatuh sakit. Demonstrasi kemarin mungkin salah satu reaksi terhadap sistem yang semakin lama mungkin terasa menekan.

Situasi dan dilema semacam ini terjadi di seluruh dunia saya rasa. Di Indonesia rasanya lebih parah lagi. Pendidikan semakin lama semakin mahal, apalagi pendidikan tinggi. Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan hal ini saya rasakan betul situasi yang dilematis ini. Di satu sisi pendidikan idealnya murah tapi berkualitas, namun di sisi tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama pendidikan semakin terindustrialisasikan. Dan ketika pendidikan sudah menjadi industri, mungkin gedungnya jadi semacam pabrik, dosen-dosen hanya jadi mesin yang memproduksi barang-barang pabrik yang seragam. Dan tiba-tiba saya teringat pada sepenggal paragraf dalam monolog Perang Klamm „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“ Semoga tidak terjadi.

Perubahan Lain

Selain perubahan di bidang pendidikan, perubahan di sektor ekonomi dan perbankan sangat terasa sekali di Jerman setelah 3 tahun ditinggalkan. Krisis ekonomi dunia terasa di berbagai sektor. Sektor pendidikan terkena imbas dengan dikenakannya biaya kuliah sebesar 500 € per semester dan ditutupnya atau digabungkannya beberapa jurusan yang dianggap „kering“ dan tidak adanya dukungan biaya lagi dari pihak universitas. Salah satunya jurusan Allgemeine Pädagogik, yang saya jadikan Nebenfach saat kuliah magister dulu, sekarang ini bergabung dengan jurusan Psychologie, Schulpädagogik, Grundschulpädagogik ke dalam satu jurusan besar bernama Jurusan Ilmu Pendidikan (Erziehungswissenschaft). Jurusan-jurusan ini memang termasuk yang kurang peminatnya. Mungkin juga kurang proyek yang menghasilkan uang. Beberapa jurusan di bidang ilmu murni (ilmu alam dan ilmu sosial) mengalami pengurangan dana. Sebaliknya Fakultas Ekonomi dan Fakultas Informatika serta ilmu alam terapan (Angewandte Naturwissenschaft) semakin berkembang dan semakin diminati, sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman.

Jika di dunia pendidikan fakultas ekonomi semakin diminati, tidak demikian yang terjadi di lapangan. PHK justru terjadi di mana-mana. Perusahaan besar yang eksis puluhan tahun sudah mulai gulung tikar. Bank-bank besar merger dengan bank-bank asing. Prosesnya tidak drastis dan kentara memang. Saya yang awam di bidang ekonomi memperhatikannya dari barang-barang yang harganya semakin mahal tetapi kualitasnya menurun, diskon besar-besaran di semua toko untuk menghabiskan stok barang, toko-toko buku yang bangkrut, asuransi kesehatan yang semakin sedikit mengcover biaya pengobatan, biaya ini itu yang dulu tidak ada, dan semacamnya. Hal-hal keseharian yang membuat uang mengalir begitu saja tak ada artinya dan tak terasa.

Beberapa waktu lalu perusahaan besar Karstadt akan ditutup, karena tidak mampu membayar utangnya. Akhirnya anak perusahaannya, yaitu Quelle, yang ditutup terlebih dahulu dan ribuan karyawannya di seluruh Jerman di-PHK. Pabrik mobil Opel pun sudah terancam akan dijual. Dresdner Bank sejak beberapa waktu lalu merger dengan Commerzbank. Citi Bank Jerman sudah dijual kepada Crèdit Mutual Perancis dan mulai tahun depan, Citi Bank Jerman yang sudah dimerger itu hanya akan online di Eropa, tidak di seluruh dunia. Selain pajak yang bertambah besar, uang pensiun pun hanya dibayarkan selama 11 bulan. Issue yang beredar bahwa uang pensiun akan diturunkan jumlahnya, memang tidak terbukti, tapi dengan hanya dibayar 11 bulan, rasanya tetap sama saja dengan pengurangan jumlah itu.

Satu lagi yang sangat terasa dari krisis ekonomi di Jerman ini adalah dikenakannya biaya administrasi yang cukup besar untuk rekening giro tabungan kita, sementara sejak dulu memang sistem perbankan Jerman tidak menerapkan bunga untuk rekening giro. Untuk Sparkonto pun hanya mendapatkan bunga 1%  per tahun.  Dulu mudah sekali untuk mengajukan Dispositionskredit, sekarang sulit dan persyaratannya semakin ketat. Belanja kebutuhan sehari-hari satu bulan saja bisa lebih dari 200 €. Padahal kalau dilihat-lihat jumlahnya hanya itu-itu saja, tidak banyak. Sebagai orang yang awam ekonomi, saya cuma bisa merasakan dan menghitung-hitung, serta menyiasati bagaimana dengan uang sedemikian (sudah dipotong sewa rumah termasuk pemanas, listrik, air dan telefon, asuransi kesehatan, makan, kebutuhan hidup lainnya termasuk perlengkapan untuk musim dingin) saya masih bisa menabung, membeli buku, dan jalan-jalan : )

Ini sudah rejeki tak terkira untuk saya, karena ternyata saya masih bisa melakukan itu semua. Banyak orang yang terkena imbas krisis ini secara langsung. Banyak orang di belahan dunia lain yang lebih menderita dari saya dan orang-orang yang hidup di sini. Kemarin malam seorang sahabat saya bercerita tentang pelanggannya yang tidak puas dengan kopi yang dibelinya dan kemudian mengembalikannya. Alasan mengembalikannya pun bukan karena hal yang krusial. Jika dikembalikan, kopi itu tentu tidak bisa dijual lagi dan hanya akan masuk tempat sampah. Padahal di belahan dunia lain orang bekerja mati-matian untuk dapat membeli kopi, bahkan keringat dan darah pun dikeluarkan untuk sebuah produk yang akhirnya dibuang begitu saja ke tempat sampah karena di pelanggan tidak menyukai taruhlah kemasannya yang kusut. Benturan antara kepuasan pelanggan dan merasa mubazir membuang-buang makanan membuat sahabat saya merasa cukup tertekan, karena dia sadar, di Indonesia banyak orang yang membutuhkan itu semua dan berjuang mati-matian hanya untuk sekedar bisa hidup. Mengamati situasi sekarang dan mendengar semakin banyaknya rang-orang Jerman yang mengeluh tidak bisa lagi melakukan ini itu, membuat saya semakin bersyukur bahwa saya datang dari negara yang situasinya lebih sulit dari di sini. Setidaknya saya jadi malu hati untuk mengeluh, karena sama sekali tidak ada yang bisa saya keluhkan. Karena semua yang saya hirup, saya tatap, saya kunyah, saya resap, semua, semuanya nikmat yang benar-benar tidak bisa saya dustakan.

Perubahan

Tiga tahun ditinggalkan, bukan berarti tidak ada yang berubah di Bayreuth. Hal yang paling kentara tentu saja perubahan di universitas, yang membuat saya mau tidak mau harus menyesuaikan diri lagi. Jadi, September 2006 saat saya pulang ke Indonesia terakhir kalinya di Bayreuth dan di hampir semua universitas di Jerman program lama digunakan dan kuliah tanpa biaya kuliah diberlakukan. Wintersemester Oktober 2006 mulai diberlakukan program baru yaitu program bachelor dan master. Di beberapa jurusan dan universitas program bachelor dan master ini sudah diberlakukan sebelumnya. Hanya Oktober 2006 semua universitas di Jerman sudah harus mulai memberlakukan ini, dan program lama yaitu diplom dan magister lambat laun dihilangkan. Tahun 2007 mulai diberlakukan Studiengebühren (uang kuliah) merata di seluruh Jerman (info terbaru, di Berlin masih bebas biaya kuliah).

Apa bedanya? Sistem pendidikan di Jerman berlangsung sampai kelas 13 (Gymnasium, seperti sekolah menengah umum). Setelah itu siswa bisa langsung meneruskan ke universitas atau Fachhochschule (FH) atau sekolah tinggi yang lain, misalnya Technische Hochschule atau TH atau Kunsthochschule, dll. Mereka yang memilih bidang ilmu sosial, humaniora, dan filsafat masuk ke program magister, dan mereka yang berkutat dengan ilmu eksakta, teknik, kedokteran (dan yang kebanyakan berhubungan dengan angka-angka dan hitung-hitungan) masuk ke program diplom. Yang masuk ke program magister akan mendapat gelar Magister Artium untuk pria, dan Magistra Artium untuk perempuan, keduanya disingkat M.A.. Untuk program diplom, gelarnya sesuai dengan bidang yang ditekuni, misalnya Diplom Ingenieur (Dipl.Ing.) untuk bidang teknik, Diplom Medizin (Dipl.Med.) untuk kedokteran, Diplom Wirte/Wirtin (Dipl.Wirt.) untuk bidang ekonomi atau Diplom Kaufmann (Dipl.Kauf.) juga untuk bidang ekonomi. Selesai melaksanakan program Magister atau Diplom yang waktu reguler kuliahnya 5 – 7 tahun (sama dengan batas maksimal S1 di Indonesia), mereka bisa melanjutkan lagi ke jenjang doktoral atau Promotion. Jenjang doktoral yang biasanya langsung masuk ke penelitian berlangsung antara 3 – 5 tahun.

Sistem pendidikan di Jerman memungkinkan setiap individu bebas memilih bidang mana yang dia sukai yang juga sesuai dengan kemampuannya. Masa sekolah dasar 4 tahun, setelah itu siswa diberi kesempatan memilih apakah akan masuk ke Realschule, Hauptschule, atau Gymnasium. Di tingkat pendidikan tinggi, pilihan semakin luas. Di program magister, mahasiswa mengambil 1 jurusan sebagai Hauptfach (jurusan utama, mayor) dan 2 jurusan lainnya sebagai Nebenfach (jurusan sampingan, minor). Mahasiswa boleh mengambil kombinasi jurusan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Ada mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa Jerman sebagai jurusan utama, dan ekonomi serta geografi sebagai jurusan sampingan Selama dia mau dan mampu mengapa tidak? Saya sendiri saat itu mengambil kombinasi jurusan Interkulturelle Germanistik, Germanistische Linguistik, dan Pädagogik. Pertimbangan saya saat itu adalah minat dan kesejajaran program yang juga cocok dengan pekerjaan dan hobby saya sebagai pengajar. Pilihan yang tepat saya rasa, karena ketiga jurusan itu saling melengkapi satu sama lain. Namun, walaupun kita tidak mengambil salah satu jurusan sebagai major dan minor kita, mahasiswa tetap boleh mengikuti perkuliahan yang diadakan oleh jurusan lain. Saya cukup sering ikut kuliah di jurusan sosiologi, dan pernah ikut kuliah di jurusan didaktik kimia (bahkan bekerja di sana), karena saya tertarik pada tema-tema yang diberikan di sana. Untuk program diplom, ada yang menawarkan variasi pilihan program, tetapi tidak sebanyak magister, ada pula yang tidak.  Selain program diplom dan magister, ada juga program Lehramt untuk mereka yang ingin menjadi guru sekolah dasar dan sekolah menengah.

Jenjang studi di setiap program dibagi menjadi Grundstudium (semester 1 – 4) dan Hauptstudium (semester 5 – 8). Untuk masuk ke Hauptstudium mahasiswa harus mengikuti dulu ujian Vordiplom (untuk program Diplom) atau Zwischenprüfung (untuk program Magister). Ujian akhir disebut Diplomprüfung dan Magisterprüfung. Bentuk ujiannya tertulis dan lisan. Selain itu mahasiswa masih harus menulis Diplomarbeit atau Magisterarbeit (semacam tesis). Karena mahasiswa mengambil Hauptfach dan Nebenfach, maka mereka mengikuti ujian Vordiplom atau Zwischenprüfung serta ujian Diplom dan Magister di semua jurusan yang mereka ambil. Misalnya saya mengambil Interkulturelle Germanistik sebagai Hauptfach, maka saya menulis Magisterarbeit untuk bidang ini, melaksanakan ujian tertulis selama 4 jam, dan ujian lisan selama 1 jam. Di jurusan germanistische Linguistik dan Pädagogik saya hanya perlu melaksanakan ujian lisan (boleh memilih antara ujian lisan atau tertulis) di masing-masing jurusan selama 30 menit. Jadi total untuk mendapatkan gelar Magister/Magistra mahasiswa harus menulis 1 tesis, 1 ujian tertulis dan 3 ujian lisan. Tesis tidak diujikan dan tidak dipertahankan. Tema ujian dan dosen yang akan menjadi penguji ditentukan oleh mahasiswa yang bersangkutan, sesuai dengan tema dan minatnya. Bahan ujian sifatnya komprehensif yang berasal dari mata kuliah-mata kuliah yang dipelajari oleh si mahasiswa selama masa studinya.

Jika pada akhirnya banyak mahasiswa program magister atau diplom bisa kuliah sampai lebih dari waktu reguler studi (8 semester), bahkan ada yang sampai 10 tahun, selain karena harus kuliah di 3 jurusan (dan di setiap jurusan harus ada ujian), juga karena kebebasan yang diberikan untuk mahasiswa memilih berapa mata kuliah yang akan dia ikuti di setiap semester. Jika mereka malas atau sibuk bekerja, dalam satu semester dia bisa tidak kuliah sama sekali. Jika rajin dan tidak ada kesibukan, dalam satu semester dia bisa mengambil banyak mata kuliah. Namun, jangan harap bisa seperti di Indonesia yang satu semester mahasiswa bisa mengambil 22 SKS, bahkan lebih, di sini mengambil 10 SKS saja sudah cukup membuat terengah-engah. Bahan kuliah dan tuntutan bacaan yang banyak membuat saya pernah hanya sanggup mengambil 3 mata kuliah masing-masing 2 SKS. Untuk jurusan eksakta, jenis praktikum yang beragam juga menuntut konsentrasi penuh. Kebebasan, sekaligus kemandirian, dan kemampuan mengenali diri memang dituntut oleh program „klasik“ ini. Tidak ada daftar hadir mahasiswa, ujian akhir biasanya berupa makalah yang bisa dikerjakan kapanpun, tidak ada batas. Bahkan banyak mahasiswa yang hanya datang di awal kuliah, setelah itu tidak pernah masuk lagi, hanya datang ketika ujian atau ketika menyerahkan makalah. Ini tidak menjadi masalah, karena bahan kuliah untuk satu semester sudah diberikan di awal perkuliahan lengkap dengan referensi buku yang biasanya disimpan di perpustakaan di Semesterapparat dosen pengasuh mata kuliah tersebut. Saking bebasnya, saya pernah menunda makalah selama satu tahun.

Mata kuliah yang ditawarkan cukup banyak, namun hanya beberapa saja yang wajib diikuti, karena dalam satu program (sampai jenjang Magister berakhir misalnya) mahasiswa hanya wajib mengumpulkan beberapa Schein (nilai) yang disyaratkan oleh setiap program studi. Misalnya 4 Leistungscheine di Proseminar (seminar untuk Grundstudium) dan 2 Leistungsscheine di Hauptseminar (seminar untuk Hauptstudium) yang didapat setelah mahasiswa melakukan presentasi dan membuat makalah atau ujian lisan atau juag ujian tertulis di kelas, ditambah dengan Teilnahmeschein (Schein yang tidak diberi nilai, hanya bukti kehadiran saja, biasanya diberikan dengan syarat kita harus rutin hadir, membuat protokol, atau melakukan presentasi kecil).

Bentuk perkuliahan dibagi menjadi Vorlesung (kuliah umum), biasanya diadakan di aula dan dosen memberikan kuliah, mahasiswa mendengarkan, kemudian Seminar (Pro- dan Hauptseminar) di ruangan yang lebih kecil, dosen lebih berperan sebagai fasilitator diskusi. Ada juga praktikum, selain itu masih ditambah juga dengan tutorium sebagai tambahan dan pendalaman untuk mata kuliah tertentu jika dianggap perlu.

Tradisi pendidikan tinggi yang menjadi kebanggaan orang Jerman ini (karena sangat berbeda dari negara-negara Eropa lainnya) berubah pada tahun 1999 dengan ditandatanganinya Bologna-Process oleh negara-negara anggota Uni Eropa yang mengusung issue rencana politis terciptanya pendidikan Eropa yang satu sampai batas tahun 2010. Tahun 2010 semua negara anggota Uni Eropa sudah harus menerapkan sistem ini.  Perubahan ini bukan tanpa protes, Jerman adalah salah satu negara yang lambat melaksanakan program ini, karena penduduknya (terutama pelaku dunia akademis kalangan “tua”) tidak setuju dengan perubahan sistem pendidikan ini. Protes terjadi di mana-mana, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang muda kebanyakan setuju karena pendidikan tinggi menjadi lebih padat dan singkat, semua seragam di setiap negara anggota Uni Eropa, sehingga mahasiswa Jerman bisa kuliah di Inggris atau Perancis dengan mudah, karena nilai yang sudah didapat bisa ditransfer. Yang kontra biasanya kalangan tua yang tidak ingin Jerman kehilangan „tradisi“ pendidikan tingginya yang sudah berjalan ratusan tahun.

Sistem penilaian ini yang dilansir dalam Bologna-Process ini disebut dengan European Credit Transfer System (ECTS). Program di perguruan tinggi pun menjadi program Bachelor (B.A) dengan mengumpulkan poin sebanyak 180−240 ECTS dan jika ingin lanjut ke program master harus mengumpulkan  poin sebanyak 90−120 ECTS-Credits (minimal 60).

Perubahan inilah yang saya lihat saat saya “salah masuk” ke kelas pengantar analisis wacana untuk mahasiswa Bachelor semester 1. Mereka ternyata “hanya” kuliah di satu program saja, dengan modul perkuliahan yang sudah disiapkan. Begitu juga untuk program  master. Salah seorang teman saya yang sudah mengikuti program master pada tahun 2004 di Freiburg sudah melakukannya. Salah seorang teman di Heidelberg mengikuti program master dengan perkuliahan yang padat dari jam 9 sampai jam 17 dari Senin sampai Jumat, dengan masa studi 18 bulan. Dia berkuliah di satu jurusan saja. Satu hal yang mustahil dilakukan dalam program Diplom dan Magister.

Dalam setiap perubahan ada sisi positif dan negatifnya. Menghindari adanya mahasiswa abadi yang tak kunjung selesai kuliah (dengan berbagai alasan, status mahasiswa itu tetap membawa keuntungan tertentu), maka program Bachelor dan Master ini cukup tepat. Namun, melihat “pemaksaan” materi perkuliahan yang cenderung dipaksakan membuat mahasiswa jadi tidak mendalami apa yang dipelajarinya. Tidak heran banyak mahasiswa yang stress karena waktu perkuliahan yang padat. Lepas dari itu semua, saya sempat berpikir tentang “uniformitas” pola pikir dan “penyamarataan” manusia. Agak mengerikan, karena mahasiswa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam dunia yang universal, tetapi menjadi manusia yang seragam dengan manusia yang lain. Alasan politis, sudah jelas. Alasan ekonomi, tentu saja (sekarang mahasiswa sudah harus membayar 500 € setiap semester, termasuk murah jika dibandingkan dengan uang kuliah di Inggris dan Amerika). Alasan lain, siapa yang tahu. Ketika universitas sudah menjadi uniformitas, menjadi diri sendiri butuh perjuangan ekstra keras. Ini curhat pribadi, mungkin karena saya termasuk produk lama, saat uang kuliah belum diberlakukan di Jerman, saat kuliah di tiga jurusan masih diberlakukan. Dan hidup memang akhirnya mengalir mengikuti waktu. Globalisasi datang, tidak ada yang bisa membendung dan lepas darinya. Jadi, kita ikuti saja. Ada bagusnya juga, minimal saya terpacu (atau terpaksa) untuk menyelesaikan jenjang yang saya ikuti sekarang selama 3 tahun, dengan aturan ini itu yang mungkin berguna  juga diterapkan untuk saya yang lebih suka bebas ini. Harus agak diikat sedikit :)

Meracik Rasa dan Cinta

Saya  tadinya berpikir orang akan mengomentari tulisan saya sebelumnya di bagian debat, diskusi, atau bagaimana cara orang mengatasi konflik . Tulisan saya minggu lalu saya rasa memang cukup beranak pinak dengan berbagai rhema yang bisa dikembangkan menjadi tema-tema lain. Namun, dugaan saya tidak sepenuhnya benar bahwa bahasan akan berlanjut pada budaya akademis, walaupun ada juga yang berkomentar tentang itu, tetapi selebihnya adalah komentar tentang makanan dan budaya. Mengenyampingkan kenyataan bahwa yang berkomentar tentang budaya ilmiah itu laki-laki dan komentar tentang budaya makanan, memasak, „melayani“ orang itu perempuan, saya kemudian jadi berpikir kembali tentang makanan, memasak, dan konsep melayani. Tak lama kemudian saya membaca tulisan salah seorang teman tentang memasak dan konsep identitas diri. Di kamar mandi –seperti biasa menjadi tempat paling nyaman untuk melamun dan berefleksi- saya juga teringat sebuah cerita pendek di KOMPAS tentang seseorang yang benci pada makanan rumah karena selalu teringat pada ibunya yang sangat benci memasak, karena ibunya selalu memasak dengan terpaksa. Banyak pertanyaan berkelabatan dan mendesak masuk ke kepala, termasuk ingatan pada ibu saya nun jauh di sana. Ah, dan tampaknya tema ini tampaknya bisa menjadi  pengalihan yang menarik dari kewajiban membuat ragangan penelitian. Pembenaran yang lain.

Jadi, sahabat saya menulis bahwa dalam budaya “orang bule” makanan menjadi urusan yang kesekian, dengan porsi yang juga tidak banyak. Berbeda dengan di Indonesia (atau saya tidak tahu, mungkin di sebagian besar budaya “Timur”), yang menempatkan makanan menjadi nomor utama dengan porsi banyak dan servis yang luar biasa. Seorang sahabat lain berkomentar bagaimana dia diundang ke suatu pesta oleh orang Jerman. Dia membawa makanan sebagai antaran, makanan yang juga sangat ingin dia makan sebenarnya, karena dalam pikirannya makanan itu “pasti” akan ikut dihidangkan seperti yang biasa terjadi dalam normalitas budaya di Indonesia. Namun, tidak. Makanan itu disimpan sendiri oleh si tuan rumah. Pelitkah si tuan rumah? Belum tentu, walaupun juga bisa jadi dia memang pelit. Dalam normalitas budaya Jerman, jika seseorang diberi maka pemberian itu menjadi haknya. Adalah satu penghormatan jika hadiah disimpan sendiri karena hadiah diberikan khusus untuknya, tidak untuk dibagikan lagi. Kesannya jadi tidak menghargai pemberian si pemberi hadiah.  Di Indonesia, tamu tampaknya lebih berhak dari tuan rumah, karena konsep menghormati orang yang datang sebagai pihak yang membawa rejeki dan rejeki harus dibagikan, tidak layak disimpan sendiri.

Konsep berbagi: membuat orang lain bahagia dan merasa bahagia karenanya ini indah menurut saya pribadi. Namun, sampai titik tertentu ternyata tidak bisa diabaikan bahwa konsep ini bisa menjadi paksaan yang menekan dan mengganggu. Seperti cerpen yang pernah saya baca, atau tulisan seorang teman tadi tentang memasak yang membuatnya berpikir bahwa memasak itu menjadi salah satu sarana budaya patriarki untuk menekan perempuan. Konsep memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang tidak bisa memasak “bukan perempuan”, dan tuntutan-tuntutan lain yang dijadikan senjata untuk membuat perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Membaca tulisan teman saya itu saya jadi teringat ibu saya yang sangat suka memasak, memasak dengan penuh cinta , mengembangkan dirinya dengan memasak, dan mengaktualisasikan dirinya lewat masakan dan kursus masak. Namun, di saat tertentu –dan ini cukup sering saya lihat sepanjang hidup saya dengannya- dia akan dengan mudahnya bilang dia tidak ingin memasak, tidak ingin melayani keluarganya karena dia lelah atau dia sedang ingin melakukan hal yang lain, kemudian meminta kami membeli makanan jadi saja. Bapak saya bukan orang yang sulit, jadi itu memudahkan ibu saya untuk mengungkapkan apa yang dia mau dan dia ingin lakukan. Anak-anaknya –selain saya yang keras kepala minta telur dadar tidak mau makan telur ceplok- juga terbiasa dengan ini, walaupun terus terang saya sempat punya frame yang cukup lama menempel bahwa ibu saya belum cukup “ibu-ibu” karena dulu cukup sering membeli makanan jadi dibandingkan memasak sendiri. Frame itu lambat laun menghilang seiring dengan bertambahnya usia saya. Saya bisa melihat bahwa ibu saya punya passion dalam memasak dan menyediakan makanan. Pikiran dan pemahaman yang muncul ketika saya sendiri kemudian terjun ke dapur, dan saya menemukan passion yang mungkin kurang lebih sama dengan yang dirasakan ibu saya. Meracik bahan, mengolahnya, mencicipinya, menyajikannya, menyantapnya, melihat orang lain menyantapnya, mensyukurinya minimal dengan binar mata , dan dada (apalagi perut) menjadi  penuh. Juga perasaan kecewa yang muncul karena peristiwa itu tidak selalu terjadi.  Ya, saya memang akhirnya bisa masuk ke dalam passion itu.

Dapur untuk ibu saya (dan saya di kemudian hari) adalah ruang intimasi yang luas dan besar untuk berinteraksi dengan dirinya. Dia punya kuasa di sana, termasuk melarang anak-anaknya masuk ke sana, karena hanya akan mengganggu ruang kontemplasinya saja. Namun, tidak lingkungan sekitar kami. Bapak saya masih menyuruh kami –anak-anaknya yang perempuan- masuk ke dapur: membantu ibu. Nenek dan bibi-bibi kami juga berpendapat demikian, apalagi tetangga: anak perempuan harus belajar masak, anak laki-laki “haram” hukumnya masuk ke dapur.  Sebaliknya justru ibu saya melarang kami semua masuk. Dia tidak ingin ruangnya diganggu, areanya dimasuki.  Oleh karena itu, kami tidak pernah punya pembantu rumah tangga, karena ibu saya bersikukuh bahwa dapur dan rumah adalah tempat dia bereksistensi. Tidak boleh ada orang lain mengganggunya. Ibu saya memilih itu dan dia melakukannya –sepanjang yang saya lihat sampai sekarang – dengan nyaman. Jadi di saat-saat tertentu dia sedang tidak ingin berkutat di istananya itu, dia bisa bebas keluar, karena itu “milik” dan “hidup”nya, dia bebas melakukan apapun untuk itu. Di satu sisi, untuk kami anak perempuannya ini jadi hal yang menguntungkan, kami bebas dari kewajiban domestik, sehingga sampai sekarang anak-anak perempuan ibu saya jadi orang luaran. Sebaliknya, adik saya yang laki-laki juga menjadi laki-laki yang “manja” karena urusannya selalu disediakan ibu saya. Kadang tidak bagus juga.

Namun, sekali lagi saya melihat –dan ini yang masih selalu jadi salah satu bahan “pertengkaran” saya dan dia- ibu saya melakukannya dengan cinta. Termasuk jika dia selalu berlama-lama ada di dapur saat menjelang lebaran. Melupakan tidur dan hal lainnya, hanya karena ingin saat lebaran keluarga dan tamu bisa menikmati racikan masakan dan kue-kue buatannya. Dan ada kebahagiaan sendiri, selalu saya lihat, saat orang-orang mencecap masakannya dengan nikmat, kemudian memujinya. Saya rasa, semua lelah saat proses memasak itu terbayar sudah.  Kadang tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi. Saya selalu heran bagaiman dia bisa menggerus satu kilo cabe sampai halus setiap hari untuk pesanan catering guru-guru TK dan SD. Pesanan yang harganya tidak sebanding dengan rasa dan variasi menu yang selalu istimewa dibuatnya. Apakah dia mengeluh? Tidak. Saya yang mengeluh karena saya menghitung berapa harga minyak, berapa biaya bahan-bahannya, belum lagi harga bensin untuk mengantar dan waktu yang terpakai. Dia hanya menjawab: kasihan, sudah capek mengajar. Mungkin dia berpikir juga tentang anak-anaknya yang bekerja. Konsep melayani, meng“hamba“ sekaligus menjadi „tuan”,  menurut saya, tampak sekaligus padanya. Dan ibu saya mungkin sudah sampai pada tahapan itu, karena saya bisa melihatnya dari caranya mengiris, memotong, menggulung, melipat, menggoreng, dan menyajikan masakannya. Dia melakukan itu tanpa banyak berkata dan terlihat begitu meresapinya.

Konsep “menghamba” dan “melayani” ini yang mungkin membuat memasak untuk beberapa orang menjadi paksaan, karena di saat yang sama mungkin diembel-embeli lagi dengan label memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang sempurna adalah perempuan yang bisa memasak, dll. Saya rasa mungkin pendapat memasak jadi paksaan menjadi benar juga, karena label seperti itu hanya membuat orang merasa „disuruh“, tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Menurut saya, mungkin bukan konsepnya yang „menyebalkan“, tapi labelisasi itu yang menyulitkan.

Mengingat ibu saya, saya jadi melihat diri saya sendiri yang sejak tahun 1997 seolah menjadi cermin dari ibu saya. Dapur dan memasak menjadi saat-saat intim saya berinteraksi dengan diri saya. Dapur dan memasak juga menjadi tempat „melarikan diri“ dari „dunia luar“. Pernah suatu hari menjelang lebaran saya marah pada ibu saya karena dia begitu berpayah-payah –saya lihat- menyiapkan aneka rupa masakan. Saya capek melihatnya, karena dengan logika pikiran saya yang sok tahu ini hal itu hanya membuang-buang uang, waktu, dan tenaga saja. Dan ibu saya yang tahu benar bahwa anaknya sebenarnya seperti dirinya kemudian pergi, membiarkan saya sendiri di rumah. Pada akhirnya justru saya yang menyelesaikan semua masakan itu sampai selesai dan saya puas. Ya, dapur dan memasak untuk saat dan kondisi tertentu bisa menjadi tempat saya melepaskan stress. Saya memasak dengan rasa senang, tapi saya juga bisa berada di dapur dan memasak seharian jika saya tertekan. Saya bebas melakukan apapun di sana. Tempat escaping dan katarsis yang menyenangkan bahkan.

Namun, apakah rasa cinta saja cukup untuk membuat acara masak memasak menjadi menyenangkan? Telefon dari seorang sahabat di benua yang lain di belahan bumi selatan  tepat tengah malam dua hari lalu membuat diskusi tentang masak memasak ini menjadi berkembang, kemudian meluas ke budaya makan dan mengkonsumsi makanan lalu merebak jauh ke masalah sampah dan pengolahan sampah. Kembali ke rasa cinta dan memasak, tentulah akan sulit jadinya jika cinta tak berbalas. Manusiawi sekali. Mertua sahabat saya itu, -karena alasan tertentu- cukup memilih makanan apa yang bisa masuk ke tubuhnya, dan ini tentu menyulitkan orang yang akan memasak untuknya. Akhirnya jika mertuanya datang, sahabat saya jadi tidak ingin memasak untuknya, walaupun tentu saja dia mencintai mertuanya, karena dia juga bisa kecewa jika masakannya tidak dimakan atau malah akan membuat mertuanya sakit. Tidak tulus? Tidak juga, saya rasa, ini manusiawi. Dan bukankah akan lebih membuat sedih jika masakan yang kita buat demi cinta, justru malah membuat orang yang kita cintai menjadi celaka atau sakit? Dilematis, karena cinta juga beririsan dengan kecewa.

Ngomong-ngomong,  saya jadi penasaran, apakah sebenarnya yang ada di pikiran dan perasaan orang-orang saat meracik masakan, memasaknya lalu menghidangkannya. Mana yang dominan? Rasa cinta? Mungkin kalau perasaan ini yang dominan maka memasak akan menyenangkan dan membahagiakan seperti yang terlihat di setiap acara kuliner dan masak memasak yang disiarkan di tv. Masakan pun tampak lezat dan menggiurkan. Ataukah rasa marah dan benci yang dominan? Sehingga seperti yang ditampilkan terjadi di film-film horor dan suspens tentang orang-orang yang meracik bahan masakan ditingkahi dengan bayangan-bayangan orang  atau binatang berkelibatan  sebagai objeknya. Mengerikan. Jangan-jangan memang ada rasa-rasa seperti ini saat memasak. Dua rasa yang berlomba mendominasi satu di atas yang lain. Manusia hidup: meracik rasa dan cinta, mungkin juga benci. Semoga bukan rasa yang terakhir.

Hari Jumat dan Sabtu kemarin mengikuti seminar dua hari bertemakan „Kommunikationskultur – Theorie und Forschung“ yang diadakan oleh Lehrstuhl Kultur und Religionssoziologie Universitas Bayreuth, setidaknya cukup bisa membuat saya beranjak dari suasana hati dan pikiran bahwa saya di Bayreuth sedang berlibur. Saya sedang kuliah, jadi harus segera bangkit dari kemalasan dan keinginan jalan-jalan terus. Btw, kuliahnya sih saya suka, asal jangan diminta membuat tugas.

Jadi, para sosiolog yang datang dari berbagai penjuru Jerman, ada juga yang datang dari Swiss, berkumpul di aula canggih Fakultas Angewandte Informatik. Beberapa nama sudah saya kenal, dan akhirnya bisa bertemu muka juga. Rupanya seminar dua hari itu dimaksudkan dalam rangka memperingati 50 tahun Hubert Knoblauch, yang judul bukunya dijadikan judul seminar ini. Tema yang diangkat dan ditampilkan berkisar pada tema Kommunikative Gattung dan Gattungsanalyse. Tidak semua tema yang disampaikan  oleh 11 pembicara yang semuanya profesor bisa saya mengerti, kebanyakan malah tidak. Namun, ada juga beberapa tema yang menarik dan cukup bisa saya ikuti.

Saya tidak akan membahas masing-masing tema yang memang sangat-sangat teoretis. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana budaya seminar dan komunikasi antarpelaku dunia akademis terjadi di sini.  Ini memang bukan pertama kalinya saya ikut seminar semacam itu, tahun 2003 dulu saya pernah mengikuti konferensi yang lebih besar lagi di Wina, Austria. Namun, justru karena lingkupnya agak kecil, saya jadi bisa mengamati dengan lebih jelas.

Seminar dibuka tepat jam 9, setelah para peserta datang, mendaftarkan diri, dan saling menyapa. Tidak banyak peserta yang mengikuti seminar ini, entah karena publikasi yang kurang atau memang karena temanya terlalu spesifik. Tanpa basa-basi terlalu banyak, acara langsung dibuka dengan sambutan pendek dari Dekan Fakultas Kultur- und Religionswissenschaft dan sabmbutan dari ketua panitia. Semua dilakukan dengan suasana yang cukup santai, tidak ada formalitas apapun. Tidak menunggu lama, pembicara pertama memulai presentasinya. Di jadwal acara, setiap orang mendapat jatah waktu 45 menit untuk bicara dan diskusi. Namun, pada kenyataannya waktu 45 menit terlewati sampai 90 menit untuk bicara dan diskusi. Acara diskusi ini yang memakan waktu cukup lama. Diskusi atau mungkin lebih tepat disebut debat ilmiah berlangsung seru. Para profesor sosiologi itu saling mengungkapkan pendapat, kritik, pendapat, atau saran dengan sangat terbuka. Tidak tertutup kemungkinan bahwa masing-masing dari mereka tidak setuju, dan itu diungkapkan, namun jika setuju pun biasanya –dan ini khas Jerman- mereka selalu menambahkan „aber…“ atau „tetapi…“. Tentu saja tetapinya lebih banyak dari persetujuan mereka. Debat pada pembicara cukup seru, ketika seorang profesor muda –perempuan- mendebat dengan keras statement pembicara yang sudah senior (dari segi usia dan pengalaman)  -pria- . Keterbukaan suasana diskusi dan debat rupanya tidak berjalan mulus, karena ketika si profesor perempuan tadi bicara, giliran si bapak yang mendebat dengan keras, dan akhirnya terjadi adu mulut yang mengakibatkan si profesor muda tersinggung dan meninggalkan podium. Hmm, terjadi juga rupanya hal-hal semacam ini. Namun, di luar saat istirahat, mereka berdua berpelukan, dan saat diskusi selanjutnya, si bapak meminta maaf di depan forum pada si profesor muda. Rasanya hal seperti ini yang jarang –atau mungkin belum pernah- saya temukan di seminar-seminar yang saya ikuti di Indonesia, mungkin karena memang jarang juga sampai ada debat cukup sengit dan semua peserta dan pembicara saling menjaga perasaan. Mungkin bagus juga.

Saya berharap presentasi yang disampaikan semenarik debatnya, sayangnya tidak saya temukan. Hanya satu orang yang mempresentasikan materinya dengan bebas, tidak membaca teks, sisanya membaca teks yang bisa sampai berlembar-lembar, seperti sedang memberikan ceramah. Kalaupun ada power point biasanya hanya jadi latar belakang saja, tidak membantu banyak, karena slide-slide yang ditampilkan pun tidak terlalu menarik. Ini yang sering dikritik oleh teman-teman dari jurusan eksakta, bahwa orang-orang ilmu sosial itu hanya memindahkan word ke dalam power point. Tidak menarik, katanya. Tema-tema yang disampaikan pun sayangnya hanya berkutat di masalah teori. Hanya dari Spanyol dan Swiss yang memberikan penelitian empirisnya. Saya tidak tahu apakah ini kelemahan atau kelebihan, ketika seseorang mendalami bidangnya dengan begitu dalam, akhirnya jadi tidak tahu –atau mungkin tidak tertarik- pada hal-hal lain di luar bidangnya. Namun, ini akan membuat dia menjadi tahu sampai sedetil-detilnya. Dan hal ini terjadi dalam seminar kemarin. Mereka paham bidang mereka sampai detil, sampai pemilihan kata dan istilah pun diperdebatkan. Saya tertarik pada sosiologi, tapi karena memang tidak mendalami itu sedalam-dalamnya, akhirnya jadi bertanya-tanya –sambil kadang terkantuk-kantuk juga- untuk apa mereka mendebatkan itu. Walaupun mungkin memang begitu ketika orang sudah mendalami suatu hal, hal kecil saja akan menjadi perhatian. Saya juga ternyata bisa berdiskusi panjang lebar tentang kata ganti orang, misalnya. Hal yang untuk banyak orang juga tidak perlu diperdebatkan. Jadi, ya, memang begitu.

Hal lain yang menarik perhatian saya –juga dari pengalaman mengikuti konferensi di Wina dulu- adalah mereka tidak terlalu heboh mengurusi makanan. Enaknya mengikuti seminar atau konferensi di Indonesia adalah makanannya: berlimpah dan sering ada jeda waktu minum teh dan kopi. Dan itu disiapkannya dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan, walaupun sering kita jadi kekenyangan karena kebanyakan makan dan terkantuk-kantuk saat mengikuti seminarnya. Di sini tidak, makanan disediakan seadanya. Yang jelas kopi dan teh harus ada. Minuman yang cukup banyak. Makan siang hari pertama cuma Gemüse Lasagna untuk yang minta makanan vegetarian (dan porsinya besar!) dan Fränkische Küche (3 iris tipis daging dan 1 Knödel besar) untuk nonvegetarian. Rehat kopi cuma kopi, teh, dan kue kering yang bisa dibeli murah di supermarket. Malah, teman saya tadi cerita, dia diundang ke acara pembukaan cabang suatu bank, untuk makanan dan minuman, dia harus membayar ekstra 1 €.

Acara makan memang boleh sederhana, tapi saya salut dan kagum dengan profesor-profesor itu, yang bisa tahan minum kopi bercangkir-cangkir sambil diskusi dan berdebat. Saya juga kagum pada daya konsentrasi mereka mendengarkan, sehingga diskusi tidak lari ke mana-mana, melainkan sambung menyambung dari pendapat satu ke pendapat lainnya. Dan mereka bisa mengutip dengan tepat kalimat-kalimat yang diucapkan sebelumnya.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya ini peserta seminar atau pengamat seminar? Dua-duanya. Seminar ini tentang kommunikative Gattung -bahasan saya juga-, dan untuk saya yang lebih tertarik pada masalah bahasa, interaksi pengguna bahasa, serta bagaimana bahasa verbal dan nonverbal diterapkan dalam konteks situasi komunikasi tertentu, menjadi pengamat justru lebih menarik perhatian saya. Biarlah mereka  memperdebatkan teori yang mereka buat dan kritisi sendiri, saya justru melihat aplikasinya. Dalam hal ini bagaimana budaya komunikasi di “ilmiah”kan dan bagaimana budaya “ilmiah” dikomunikasikan. Pelajaran yang belum tentu saya dapat di perkuliahan rutin dan buku teks.

Ältere Artikel »