“Soekarno: Indonesia Merdeka” – (Bukan) Romantisme Masa Lalu?

soekarno filmDalam satu bulan ini saya menonton tiga film Indonesia: NOAH Awal Semula, Sokola Rimba dan Soekarno. Jika NOAH Awal Semula cukup sukses membuat saya mengantuk, Sokola Rimba dan Soekarno cukup sukses membuat saya terharu dan mengeluarkan air mata. Tiga film yang bergenre sama yaitu biografi, dengan teknik penceritaan yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama: perjuangan, mewujudkan mimpi. Yang satu berjuang bangkit dari keterpurukan, mewujudkan kembali mimpi yang hilang, yang kedua berjuang mewujudkan mimpi meratakan pendidikan tanpa kecuali, ketiga tentu berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan, memerdekakan diri dan bangsa. Dan film Soekarno seolah menjadi simpulan dari dua film sebelumnya, bahwa tidak akan ada NOAH dan Sokola Rimba, jika tidak ada Soekarno dan para pendiri negeri ini.

Kisah tentang Soekarno ini siapalah yang tidak tahu, tetapi tetap menarik juga untuk mengikuti perspekstif Hanung dalam menceritakan ulang kisah tokoh besar ini. Dimulai dengan “kehebohan” di rumah Soejoedi yang diperankan oleh Budiman Sudjatmiko saat ada penangkapan para pemuda pergerakan, kemudian cerita beralih ke masa Soekarno kecil yang sering ikut bersama Tjokroaminoto serta berteman dengan Kartosoewirjo, di mana dia kemudian belajar politik. Kisah kemudian mundur lagi saat dia masih bernama Kusno dan sakit-sakitan sehingga namanya pun diganti menjadi Soekarno, dengan harapan agar dia kuat seperti Adipati Karna. Lalu kembali ke masa remaja saat dia tertarik pada seorang noni Belanda bernama Mien (entah benar atau tidak kisah ini), kemudian dia diusir oleh bapak si noni. Hinaan si meneer Belanda inilah yang dalam film dikisahkan menjadi pemicu dia untuk melawan Belanda, membangkitkan semangat dan harga diri kaum pribumi, selain tentu sajakarena melihat kondisi pribumi sebagai bangsa terjajah. Cerita beralih maju mundur ke masa penjara di Banceuy dan Sukamiskin, pembacaan pledoii Indonesia Menggugat yang berakhir dengan pembuangan ke Ende dan kemudian ke Bengkulu. Kemudian cerita bertutur maju sampai ke masa Belanda kalah, Jepang masuk, persiapan kemerdekaan, sampai pada akhirnya pembacaan proklamasi.

Kisah panjang yang dipadatkan. Amat padat untuk durasi sekitar 2,5 jam.  Namun, Hanung ternyata cukup berhasil membuat penonton diam di tempat duduknya bahkan sampai credit title selesai. Padahal penonton film Soekarno tadi bervariasi, dari mulai anak sekolah SD, SMP, SMA, sampai orang-orang tua yang mungkin ingin bernostalgia. Bahkan semua penonton berdiri dan dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta diam hening mendengarkan dengan seksama proklamasi dibacakan dengan suara asli Soekarno. Saya merinding.

Dan lepas dari kontroversi tentang film Soekarno ini, saya rasa film ini secara teknis cukup bagus. Hanung tidak lagi terlalu irit dengan pencahayaan, seperti yang saya lihat dalam Sang Pencerah. Editing dari Cesa David lebih bagus di film ini daripada hasil editingnya untuk NOAH Awal Semula. Scoring music dari Tya Subyakto juga cukup mendukung film ini menjadi film tentang perjuangan yang lirih, bukan yang memberikan semangat berapi-api dan hingar bingar tembakan senjata, seperti yang biasa terjadi dalam film yang ada adegan perangnya. Saya cukup tersentuh dengan scoring musiknya, karena menampilkan tiga lagu yang selalu sukses membuat saya menangis jika mendengarnya: Indonesia Raya, Indonesia Pusaka dan Syukur. Pilihan yang bagus menempatkan lagu Syukur setelah pembacaan teks proklamasi.

Akting para pemainnya juga cukup bagus. Ario Bayu saya rasa pas memerankan tokoh Soekarno, walaupun alas bedaknya terlihat terlalu tebal. Namun, dia bisa menghidupkan sisi humanis tokoh besar yang selama ini dikenal dan „diharapkan“ menjadi sempurna: Soekarno manja dan senang „didominasi“ oleh Inggit, dia juga bisa galau saat jatuh cinta pada Fatmawati, dia pun bisa sakit dan kena malaria, juga takut pada darah. Maudy Koesnaedi sebagai Inggit juga dapat “membalikkan” stereotype perempuan Sunda yang sering digambarkan senang bersolek dan pekerjaannya “menghibur” orang (digambarkan Soekarno mendatangkan perempuan dari Jawa Barat untuk “menghibur” tentara Jepang). Sedangkan Inggit adalah perempuan kuat, dominan, tegas, mandiri, dan cantik. Dia punya pendirian dan berani bersikap. Tika Bravani menampilkan sisi ceria Fatmawati usia 15 tahun yang berhasil memikat seorang lelaki bernama Soekarno.  Pemain lainnya pun berkarakter cukup kuat, seperti Hatta yang diperankan Lukman Sardi dan Sjahrir yang diperankan Tanta Ginting. Soejiwo Tedjo dan Agus Kuncoro selalu bermain bagus walaupun hanya tampil sebentar. Beberapa pemain figuran membuat film ini lebih humanis lagi.

Saking padatnya film ini, sulit untuk saya menentukan scene mana yang paling saya suka atau tidak saya suka. Namun, saya cukup tergetar saat Soekarno menyampaikan ide-idenya tentang landasan negara yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Pancasila memang tak hanya sekedar pemikiran sambil lalu, dia dasar yang berdasar pada keragaman suku bangsa, budaya dan agama di Nusantara. Ini pemikiran cerdas yang pengejawantahannya sekarang bisa dilihat sendiri betapa menyedihkannya.

Pada akhirnya film ini bukan sekedar rekonstruksi sejarah atau cerita tentang romantisme masa lalu seorang tokoh besar nan sempurna, tetapi kontroversial. Jika ingin murni jadi film sejarah memang masih banyak detil yang harus diperhatikan. Namun, dalam film ini ada jalinan yang cukup kuat antara masa lalu, kini dan masa depan yang dijalin lewat dialog antartokohnya. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll berusia sekitar 24 tahunan ketika mereka berpikir jauh ke depan tentang negara dan bangsa ini. Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang saya lakukan ya di saat saya berusia segitu, ya? Apa yang ada di pikiran anak-anak sekarang di usia segitu, ya? Dan seperti yang dikatakan Soekarno saat berdialog panjang dengan Hatta tentang keraguan dan harapan akan bangsa ini, apakah mereka berdua akan mampu memimpin bangsa yang benar-benar kompleks isinya, jawabnya adalah “Kemerdekaan bukanlah tujuan, kemerdekaan adalah awal. Dan biarlah sejarah yang membersihkan nama kita, jika kita melakukan hal yang buruk untuk satu tujuan yang baik.Kita sudah memulai, kita percayakan pada anak cucu kita untuk melanjutkannya.” Duh, yang ini rasanya jleb sekali, apalagi ditingkahi lagu Indonesia Pusaka yang selalu dan selalu mampu membuat dada saya sesak dan menangis. Dipercayakan. Diberi kepercayaan. Bisakah kepercayaan itu dijaga dan dilaksanakan?

Di luar hujan. Orang-orang berteduh menunggu angkot. Anak-anak yang bertelanjang kaki menyewakan payung berseliweran menawarkan jasanya. Oh, itu suasana di Jalan Merdeka Bandung. Tak jauh dari situ ada Jl. Perintis Kemerdekaan, di mana Gedung Landraad berada. 83 tahun yang lalu di gedung itu Soekarno menyampaikan gugatannya kepada pengadilan Belanda atas ide kemerdekaan Indonesia. Apakah dulu dia membayangkan kemerdekaan seperti ini yang terjadi tak jauh dari gedung itu? Air mata saya menetes lagi. Ah, mungkin saya terlalu terbawa pada ide-ide “romantis” masa lalu atau jangan-jangan kemerdekaan pun “hanya” sekedar idealisme yang hanya ada di dunia ide atau hanya ada di gedung bioskop? :)

Tautan: http://www.filmsukarno.com/home

Berterima Kasih

Botanischer Garten Bayreuth 2013

Botanischer Garten Bayreuth, August 2013

Tiga tahun lalu saya sempat bertanya kepada salah seorang sahabat: bagaimana rasanya menjadi doktor. Hampir empat minggu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan yang sama. Ternyata jawaban yang saya berikan juga sama dengan jawaban dari sahabat saya itu: biasa saja. Memang biasa saja, selain kelegaan yang cukup besar karena telah selesai melakukan satu tugas. Namun, saya selalu percaya bahwa tidak pernah ada akhir, semua selalu menjadi awal. Dan untuk saya, hampir 4 tahun menjalani proses promosi ini bukan hanya masalah akademis, intelektualitas, jadi doktor atau tidak jadi doktor, tetapi lebih dari itu. Selama itu pula saya semakin belajar mengenal diri saya: saya yang tidak sabaran, saya yang panikan, saya yang pencemas, saya yang penakut, saya yang pemalas, saya yang sering menunda pekerjaan, saya yang keras kepala, saya yang masih mementingkan apa kata orang, dan saya saya yang lain, yang selama ini mungkin tidak muncul terlihat ke permukaan.

Maka untuk saya bukan hasil akhir yang semata-mata membuat saya lega, tetapi keseluruhan proses panjang yang terus terang saya rasakan cukup berat ini ternyata terlewati juga. Dan ini bukan hasil kerja saya sendiri, ada banyak bantuan dan kekuatan dari Sang Maha Membantu lewat orang-orang yang dikirimkanNya untuk saya dan berada di sekeliling saya: dengan cara apapun. Maka, bagian paling personal dan paling saya sukai dari setiap karya saya adalah ucapan terima kasih. Jika diijinkan, mungkin seperempat bagian dari disertasi saya bisa penuh oleh nama-nama. Sayangnya tidak bisa. Jadi, saya menulis di sini, karena saya tidak bisa melepaskan nama-nama mereka yang membantu saya –langsung tidak langsung- sampai pada titik lain perjalanan hidup saya.

Selain kepada para guru dan para professor saya, saya sangat berterima kasih pada Peter Kistler yang sejak tahun 1992 menjadi teman diskusi, teman yang mendukung saya secara akademis dan secara personal, teman yang membantu saya melihat diri saya dan keIndonesiaan saya dari kacamata lain, teman yang siap memberikan kritik pedas yang konstruktif. Svann Langguth yang juga selalu siap mendukung saya. Jutta Kunze yang juga selalu siap membantu. Ilona Kruger yang dengan caranya memungkinkan saya melanjutkan perjalanan. Gaby Ziegler yang selalu ada dan selalu siap saya repotkan. Begitu juga dengan Barbara Schwarz-Bergmann yang sudah „rela“ dibuat pusing dan menjadi tempat saya protes. Walter dan Ulla Wagner yang selalu menyediakan rumahnya untuk saya, membuat saya merasa selalu memiliki „rumah“ di Bayreuth. Begitu juga dengan Mbak Ivo Oppl, my big sister and my partner in crime di Bayreuth, atas kebesaran hati dan pintu yang selalu dibuka lebar untuk saya. Terima kasih telah ada dan membantu saya.

Bicara tentang data dan transkrip, maka saya harus berterima kasih banyak pada Mbak Yanti Mirdayanti, Poppy Siahaan, Mbak Andi Nurhaina, Jutta Kunze, Gabriella Otto,  Tanja Schwarzmeier, Astrid Krake, Ibu Dian Indira serta semua narasumber yang bersedia direkam dan dianalisis. Pada Shita Sarah, Hani Priandini, Lastari Duggan, Mia Marwati, Genita Canrina, Fitri Khairani dan Sarifah Alia terima kasih atas bantuannya mentranskripsi data saya. Ganjar Gumuruh yang telah mengajarkan saya mengedit video dan membantu mengkonversi semua data rekaman.

Terima kasih juga untuk Sina Friedrich dan Ani serta Ronald Nangoy yang selalu siap dengan kunjungan dadakan saya dan yang membuat saya selalu merasa bahwa Jerman adalah mereka. Mbak Rahayu Nurwidari yang juga selalu siap membuka pintunya untuk saya. Sarah Merret yang banyak sekali membantu, dari mulai mengoreksi pekerjaan saya, menyediakan rumahnya, sampai mengajari saya memasak nasi biryani :)

Teman-teman sesama „minoritas“ di Bayreuth: Mas Rizal dan Ani, Yusri dan Meta –teman jalan-jalan dan diskusi-, Heriyanto Tjoa dan terutama Andhika Puspito Nugroho, yang selalu siap membantu dan selalu bersedia saya repotkan termasuk dalam urusan menyiram tanaman dan belanja daging :) Bantuan dan keberadaan mereka membuat saya tidak merasa sendiri.

Sahabat-sahabat seperjuangan dan teman-teman curhat: Ahmad Zahra, Mohammed el Nasser, Sherine Elsayed –yang juga menyediakan tempatnya untuk saya saat mengambil data-,  Chen Jieying, Ahmad Alradi, Ahmad Keshavarzi, Mariusz Woloszyn, Sandra Romero, Sokol Keraj –sang sutradara, yang menjadi teman berbagi keluhan, kerumitan ide dan pikiran, Gao Qian yang juga selalu siap membantu saya dan menjadi tempat curhatan saya. Terima kasih khusus untuk Monika Pondelek, sahabat saya, teman curhat, teman bergossip, teman diskusi, teman nonton dan teman yang membuat saya menjadi suka mewarnai kuku saya :) Dia juga teman yang menyediakan kamarnya untuk saya tempati dan menyepi agar saya bisa bekerja dengan tenang dan yang bersedia ditelfon serta didatangi tengah malam untuk diinapi karena pintu rumah terkunci :) Terima kasih untuk pengertian dan bantuannya.

Sahabat-sahabat saya sehati, seperjuangan, seperjalanan: Lola Devung, sinkronisitas di Mannheim 2010 membawa pada chatting panjang malam-malam sambil mentranskrip, mengolah data, bergossip, facebooking, twittering, youtubing serta berujung pada perjalanan murah meriah ke Schwarzwald, Colmar, Barcelona, Turki dan kehebohan-kehebohan yang masih berlanjut sampai sekarang. Juga Vita Yusadiredja dengan modus operandi yang sama berujung pada perjalanan gila ke Itali, Swiss dan Nordsee. Teh Ani Rachmat teman seperjuangan sejak dari Bandung yang akhirnya tercapai juga keinginannya main bersama di Eropa, walaupun cuma menghabiskan satu akhir pekan bersama di Berlin. Shita Sarah Safaryah, si neneng jeprut, walau bagaimana pun jeprutnya dia, saya berterima kasih karena dia telah membantu saya mentranskrip dan bersedia begadang bersama untuk membicarakan hal-hal yang sangat “penting” dan “gila” bersama dengan teman sehatinya: Cicu Finalia, yang juga bersedia menemani saya begadang (atau tepatnya membuat dia juga ikut begadang bersama kami). Seperti juga teman-teman di Fakultas Sebelah: Nani Darmayanti –bantuannya sangat tidak terkira-, Tanti Skober, Evi RD, Iwan Khrisnanto, Teh Kamelia Gantrisia dan tentu Teh Sofia Agustriana yang selalu bersedia saya repotkan. Juga Lusi Lian Piantari dan Harfiyah Widiawati yang selalu menjadi sahabat yang penuh pengertian. Mereka ini yang membuat saya tetap ada di jalur yang “benar” :)

Kuncoro Wastuwibowo, Mbak Hindraswari Enggar Dwipeni, Gilang Yubiliana, Ari Asnani, Wayan Lessy, Bettina David, Tarlen Handayani adalah orang-orang yang menebarkan banyak energi dan inspirasi positif bagi saya. Terima kasih.

Kolega-kolega saya di Jurusan, yang memberikan banyak keluangan waktu untuk saya, terutama untuk ibu Hesti Puspa Handayani, ibu Dian Indira, ibu Damayanti Priatin, ibu Yunni Sugianto, yang selalu mendukung dan mempercayai saya.

Sahabat saya Insan Fajar, yang selalu siap kapan pun saya “teriaki” dan saya mintai bantuan jika ada masalah dengan laptop atau program-program yang tidak saya mengerti, teman berbincang panjang lebar dan berbagi ide. Dien Fakhri Iqbal, tempat berbagi kekeraskepalaan dan kegilaan, yang membuat saya merasa bahwa saya ternyata masih cukup “normal” dengan semua kerumitan cara berpikir saya. Kuswandi Amijaya, sahabat dalam suka dan duka, yang selalu bersedia saya repotkan, yang selalu bersedia mendengarkan semua keluhan dan ocehan saya, yang selalu siap membantu saya apapun situasinya. Bima Bayusena, yang dengan caranya yang tenang dapat “menarik“ saya kembali serta “melambatkan” langkah jika saya sudah melampaui batas, menjadi telinga yang dengan sabar  mendengarkan semua keluhan saya dari hal-hal besar sampai hal-hal sepele. Mereka ini lah yang mengetahui dengan pasti, bahwa saya pun menangis :)

Untuk saya tidak berlebihan jika saya berterima kasih pada Pearl Jam, Peterpan (lalu Noah), Phil Collins, Sting, U2, Coldplay, Boyce Avenue, Scala Choir, pada banyak musisi yang musik-musiknya telah setia menemani hari-hari saya bekerja dan melewati masa-masa naik turun sampai saat ini (dan juga nanti). Juga pada Akhmad Dody Firmansyah yang telah memberikan hadiah yang selalu bisa membuat saya tersenyum saat ada dalam tekanan.

Terima kasih terbesar adalah untuk orang tua saya, adik-adik saya dan keponakan saya yang menjadi penjaga utama api hidup saya. Tidak ada cukup kata untuk mengungkapkan (dan memang tidak bisa saya ungkapan) rasa terima kasih dan rasa syukur saya atas keberadaan mereka.

Pada akhirnya memang hanya kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang saya bersyukur atas limpahan berkah dan kasih sayangNya, yang diberikan langsung kepada saya dan dipanjangkan melalui keberadaan semua orang yang selalu ada dan menyayangi saya, juga yang saya sayangi.

Untuk saya tidak pernah ada akhir, semua adalah awal. Berada di titik ini adalah awal saya untuk semakin memahami, bahwa tidak ada sedikit pun nikmat yang bisa saya dustakan. Ini adalah awal saya untuk semakin menyadari, bahwa saya dapat berada pada titik ini saat ini karena mereka semua. Dan semua ini akhirnya memang untuk mereka, bahkan untuk mereka yang namanya tidak sempat atau lupa saya sebut. Saya ada di titik ini bukan semata untuk saya. Maka saya hanya bisa berharap, semoga keberadaan saya di titik ini juga bisa membawa berkah bagi semua.

It was cold, but it’s Coldplay!

Setelah nonton konser Sting – Symphonicity Tour bulan Juli 2011 lalu di München, tanggal 12 September kemarin konser Coldplay lah yang saya tonton bersama sahabat saya. Pagi-pagi sudah bersemangat pergi dari Bayreuth ke München naik kereta. Suhu sudah cukup dingin saat itu, tapi belum hujan. Pakaian kami seadanya saja. Karena masih awal-awal September, jadi rasanya t-shirt, cardigan, trench coat tipis, syal tipis, jeans dan sepatu flat dengan stocking tipis saja cukup. Setibanya di München suhu ternyata lebih dingin, hujan mulai turun pula. Tapi tekad dan excitement mau menonton Coldplay mengalahkan segalanya, haha. Lagipula ini “petualangan” kami berdua, cewek-cewek yang tergila-gila pada Coldplay, hehe. Jauh-jauh dari Bayreuth, iseng menginap di hotel karena konser pasti sampai malam tak mungkin mengejar kereta pulang ke Bayreuth. Jadi kami menikmati betul perjalanan kali ini. Tidak ada niat belanja, tumben, karena tujuan utamanya adalah Coldplay.

Setelah mengisi perut sekitar jam 16an dengan Thai Food yang enak dan murah di sebelah hotel tempat kami menginap, kami jalan-jalan dulu ke kota, mau ngopi ceritanya. Ini ternyata keputusan yang tepat, makan nasi dan sup panas, karena ternyata ini membuat kami bisa bertahan sekitar 4 jam di ruang terbuka pada suhu 6°C dengan kostum seadanya. Nekat, haha, tapi itu di luar perkiraan kami.

Kami kemudian santai ngopi dulu di Starbucks sambil menghangatkan badan dan menunggu waktu serta menunggu hujan berhenti. Namun, hujan tidak berhenti juga, suhu juga malah semakin dingin. Sekitar jam 17 lebih kami berangkat ke Olympiastadion München, supaya bisa mendapatkan tempat duduk yang strategis, karena kami membeli tiket tribun dengan pemilihan tempat duduk yang bebas. Konsernya sendiri menurut jadwal akan dimulai jam 19. Jadi setidaknya jam 18 lah kami sudah ada di sana. Sampai di Olympiapark sudah banyak orang berdatangan. Di depan sudah ada calo-calo yang menjual tiket. Ya, calo-calo tiket tidak hanya ada di Indonesia, di Jerman juga ada. Selain mereka, ada juga yang membagikan plastik jas hujan dan bantal tiup. Dan ini gratis! Ini semua akan berguna, karena hujan tak juga berhenti. Kursi stadion dari besi juga dingin, bantal ini lumayan membantu mengatasi supaya tidak duduk kedinginan di tribun.

Di gerbang masuk ke arena Olympiastadion yang bisa memuat sekitar 100.000 orang itu, tiket diperiksa. Tidak begitu ketat, hanya dilihat isi tas. Tidak boleh membawa kamera dan tidak boleh membawa air minum lebih dari 250 ml. Itu saja, biasa. Di dalam kemudian kami dibagikan gelang xylo. Kami minta gelang masing-masing dua dan diberi, hehe. Dan seperti biasa di setiap acara di Jerman, selalu ada penjual bir, Bretzel dan Bratwurst. Orang-orang masih berkumpul di luar, makan dan ngebir dulu. Kami mencari tempat di dalam. Masih kosong, jadi masih bisa dapat tempat di tengah. Tadinya kami kira cuma kami yang agak-agak dewasa yang nonton konser tersebut, ternyata di sebelah kami ada kakek-kakek berusia sekitar 60 tahun lebih dengan perempuan yang mungkin pacarnya, haha. Gossip dimulai, ngapain si kakek nonton Coldplay?! :))

Bild

Nunggu lumayan lama juga, sementara hujan tak juga berhenti, makin dingin. Panggung bahkan diberi tenda-tenda untuk melindungi alat-alat band dan sound system supaya tidak terkena air. Tepat jam 19 penyanyi pembuka, namanya entah siapa lupa, perempuan, dari Inggris juga, memulai acara. Heboh sendiri dia, tapi lumayan lah untuk goyang-goyang badan sedikit, supaya agak hangat. Berharap ada yang jualan bandrek atau bajigur dan kacang rebus saat itu, haha. Lumayan juga ini band pembuka tampil sekitar 45 menit di bawah guyuran hujan. Selanjutnya masih ada satu penyanyi lagi, juga dari Inggris, perempuan juga, lupa juga siapa namanya. Yang ini tidak begitu enak, cara nyanyinya terlalu dibuat-buat. Mereka main di bawah tenda juga, karena hujan malah makin deras.

Lucu juga ternyata nonton konser di arena terbuka seperti itu dalam suasana hujan. Penonton yang berdiri di depan panggung dengan payung warna warni dan jas hujan warna warni membuat suasana meriah, sesuai dengan tata panggung Coldplay dan latar belakangnya yang menggunakan warna-warna spotlight. Ambulance disediakan di pinggir arena, karena ternyata benar saja ada beberapa orang yang pingsan kedinginan. Orang-orang Münchennya sendiri yang datang menonton membawa perlengkapan yang lengkap, ada yang bawa selimut segala. Pakaian mereka sudah seperti pakaian musim dingin saja. Saya dan teman saya nekat juga dengan kostum yang hanya seadanya seperti itu.

Hujan yang deras membuat panggung basah, sehingga beberapa kali panggung harus dibersihkan dan disapu airnya. Menjelang pukul 21, tenda dibongkar, panggung dibersihkan lagi, dan penonton di tribun tempat saya dan teman saya duduk sudah berteriak histeris saat ada dua mobil hitam masuk ke arena. Pasti mobil itu membawa personil Coldplay dan benar!

Stadion yang tadinya gelap kemudian terang benderang seiring dengan naiknya semua personil Coldplay ke atas panggung. Whoaaaa!!!! Teriakan dan tepuk tangan bergema di seluruh penjuru stadion. Merinding!! Padahal mereka belum mulai sama sekali. Lampu kemudian dipadamkan kembali, dan musik pembuka dimulai, permainan lampu di empat layar besar dimulai dan…gelang xylo tiba-tiba menyala!!! Seluruh stadion yang gelap menjadi berkelip-kelip. Luar biasa!! Intro mylo xyloto dan “Hurts Like Heaven” pun dimulai! Yeaaahhhhh!!!!

Bild

Penonton semua langsung berteriak, ikut bergoyang dan ikut bernyanyi dengan Chris Martin. Whoaaaa!!! Rasanya seperti mimpi mendengarnya bernyanyi langsung! Tata lampu dan cahaya ditambah kembang api membuat panggung tampak spektakuler. Di layar besar ditampilkan semua personil. Saya dan teman saya sudah teriak-teriak saja: oooowoooohhh….ooowooohhh….bersama-sama membuat koor massal dengan lebih dari 70.000 orang di sana. Chris Martin bernyanyi sambil main piano yang penuh coretan warna warni. Kemudian menyapa kami dengan beberapa kalimat dalam bahasa Jerman: „Wir sind glücklich und es ist eine Ehre, hier in München zu sein“ Walaupun hujan dan dingin „no matter what the weather is doing“. Yeaaahhhh!!! Semua berteriak bersama.

Selanjutnya lagu-lagu Coldplay yang lain dinyanyikan di bawah hujan, dengan Chris Martin yang berlari ke sana kemari di panggung berbentuk T itu. Dia hanya pakai t-shirt tipis lengan pendek. Keringetan dan kedinginan sekaligus, pasti masuk angin tuh sudahnya, haha. Di setiap lagu penonton selalu ikut berteriak, tepuk tangan dan melompat-lompat. Di beberapa lagu kojonya mereka, kami semua bernyanyi bersama, membuat koor massal lagi, tidak membiarkan Chris Martin menyanyi, seperti di lagu „In My Place“, „The Scientist“, „Yellow“, „Paradise“, „Fix You“, „Every Teardrop is a Waterfall”, “Peanut”, “I’m singing in the Rain” dan tentu saja di lagu „Viva la Vida“. Koor massal penonton terjadi lagi lagi di akhir lagu „Viva la Vida“ ini. Yuhuuuuu!!! Di lagu „Princess of China“, gambar dan suara Rihanna muncul di layar besar, kemudian Chris Martin “berduet” bersamanya.

Selain gelang xylo yang berkelip-kelip, kembang api, lampu-lampu spotlight, balon-balon juga ikut diterbangkan, belum lagi lampion-lampion berbentuk kupu-kupu raksasa yang ada di pinggir-pinggir tribun juga ikut dinyalakan. Seru! Chris Martin yang energik, juga personil lainnya, membuat suasana semakin meriah dan hangat. Padahal hujan turun terus menerus, malah semakin rapat. Tapi hujan ini juga jadi  latar yang bagus saat lagu “Fix You” dinyanyikan. Huaaa…..romantis!

Entah karena kedinginan atau apa, beberapa kali Chris Martin nyanyi dengan nada yang tidak pas. Bahkan di lagu “Yellow” dia tidak terlalu bagus, lebih bagus suaranya Ariel NOAH saat mengcover lagu itu, hehehehe. Tapi dimaafkan lah untuk seorang Chris Martin selip-selip dikit ;)) Acara nada yang selip-selip ini terjadi kembali saat mereka menyanyikan lagu “Speed of Sound” secara akustik. Sebelumnya kami mengira pertunjukan selesai, karena lampu dipadamkan, dan mobil hitam mendekati panggung akan menjemput mereka. Tapi masa sih berhenti begitu saja tanpa pamitan?! Hehe. Ternyataaaa…mobil hitam itu berhenti tepat di depan tribun kami, Chris Martin dan personil lainnya keluar dan berlari menuju panggung kecil agak ke tengah penonton. Huaaaaa…..tidak ada yang menyangka! Penonton yang berdiri dekat situ beruntung sekali tuh. Kami yang di tribun saja senang lihatnya.

Bild

„Speed of Sound“ dimulai dengan petikan gitar akustiknya Chris Martin. Di tengah-tengah lagu, saat sedang asyik-asyiknya menyanyi, tiba-tiba di second chorus suaranya selip, haha! Dan dia minta maaf, “Sorry!” Sambil ketawa dan ditertawakan oleh personil lainnya. Lalu dia menghentikan nyanyinya sambil ketawa-ketawa juga dan bilang bahwa dia nyanyinya jelek, minta maaf pada personil dan semua penonton lalu minta second chorusnya diulang lagi. Hahaha! Dimaafkan! Rocker juga manusia, hehehhe. Penonton malah senang diberi suguhan yang sangat manusiawi itu. Apa sih yang ngga untuk Chris Martin yang saat itu mengenakan t-shirt ungu muda dan jacket jeans serta Coldplay nya, hahaha. Lanjut lagi!

Beberapa lagu dinyanyikan secara akustik sebelum mereka pindah kembali ke panggung besar. Kali ini mereka tidak naik mobil, tapi lari sambil melambaikan tangan melewati depan tribun kami. Yeaaahh, geer bener deh berasa didadahin Chris Martin, haha, jadi semangat ikut lambai-lambai tangan juga :))

Sesampainya di panggung besar, setelah “Fix You”, Chris Martin bilang bahwa gitaris mereka, Jonny Buckland, hari itu berulang tahun. Jadilah seluruh stadion menyanyikan lagu Happy Birthday untuk si Jonny. Dilanjutkan dengan acara membuka botol champagne. Seruuu!!

Beberapa lagu masih dinyanyikan sampai akhirnya sekitar jam 22:30 dinyanyikan lagu terakhir dan kemudian mereka berpamitan. Huaaa…belum puas! Sebentar sekali. Ada sekitar 15 lagu yang dibawakan, tapi walaupun kami bertepuk tangan minta tambah, tidak diberi juga, huhuhu. Padahal saya tadinya mengharapkan lagu “Hardest Part” ada dalam songlist. Tapi ya sudahlah, sudah kedinginan juga, haha. Yang jelas saya puas berteriak-teriak sambil loncat-loncat dengan teman saya dan ada satu laki-laki sebelah teman saya yang nonton sendirian, yang tadinya malu-malu mau goyang-goyang dan lompat-lompat, gara-gara melihat kami cuek saja, dia akhirnya ikut cuek juga, hahaha. C’mon! It’s coldplay! Jangan terlalu “cold” ;)

Pulang, keluar mengantri dengan tertib. Inilah enaknya nonton konser di Jerman, semua tertib, ngga ada desak-desakan dan rebut-rebutan. Yang jelas semua gembira dan puas. Kedinginan? Tidak dirasakan, haha! Berjalan beramai-ramai menuju stasiun U-Bahn sambil masih bernyanyi-nyanyi, beberapa gelang bahkan masih menyala. Seru! Karena di dalam U-Bahn pun kami masih menyanyi-nyanyi. Tapi semua senang, semua tersenyum dan membicarakan konser tadi. Benar-benar malam yang menyenangkan. Danke Coldplay, danke München!

Bild

Dalam perjalanan menuju hotel baru terasa deh bahwa perut kami lapar dan minum coklat hangat kayaknya enak juga. Jadilah, jam 00:00 tepat kami mengantri di Burger King, satu-satunya restoran yang buka jam segitu dan baru bisa makan burgernya 30 menit kemudian. Dan semua yang mengantri itu adalah mereka yang juga baru pulang nonton Coldplay bersama kami, terlihat dari gelang yang masih mereka pakai :))

Pulang ke hotel, masuk ke selimut hangat, tidur nyenyak sambil tersenyum. Rasanya masih seperti mimpi, haha. It was cold, but it’s Coldplay, man! Puas banget deh pokoknya! So, the next concert is …. The Cranberries on 2nd of December. Yeaaahh, can’t wait! Excitednya sudah dari sekarang :))

Merefleksikan Mungkin

Kemarin malam tiba-tiba saya jadi memikirkan kata „mungkin“. Tiba-tiba? Tidak juga sih, dalam rangka kerja sebenarnya, tidak datang begitu saja. Iseng banget kalau pikiran itu muncul tiba-tiba, walaupun kadang terjadi juga, hehe.

Si „mungkin“ ini membuat saya penasaran karena sering sekali muncul, bahkan di beberapa bagian digunakan bersamaan dengan berbagai kata bermakna setara menjadi seperti ini: „mungkin nanti kalau coba“. Redundan, tetapi itu yang muncul di hadapan saya. Terjadi, nyata, ada rekamannya, hehe. Lalu saya langsung memaknai ujaran itu menjadi „tidak“. Saya juga „gregetan“ ketika kata „mungkin“ dipakai untuk menyatakan sesuatu yang sebenarnya sudah pasti. Duh, kenapa ngga pakai kata yang pasti-pasti saja sih?! Kenapa ujaran atau situasi yang sudah pasti direlatifkan lagi dengan kata „mungkin“, kan bikin bingung.

Namun, ternyata tampaknya hanya saya yang bingung, orang yang diajak bicara tampaknya tidak tuh. Percakapan berjalan mulus-mulus saja, secara verbal dan nonverbal terlihat sangat kooperatif, tidak ada „pertentangan“, aman-aman saja. Jadi, si „mungkin“ tidak berpengaruh apapun, kan? Bisa jadi, bisa juga tidak. Lihat, saya pun mulai merelatifkan kalimat saya sendiri, dengan mempertentangkan „ternyata“ dengan „tampaknya“ dan menggunakan „bisa jadi.“ Maunya saya apa sih?

Ini yang membuat saya semalaman sok berpikir jauh. Manusia toh bermain dengan kata, kalimat, bahasa, sengaja atau tidak sengaja. Dengan atau tanpa maksud, baik maksud yang disadari atau tidak disadari. Kata dipilih, kalimat dibuat. Indikatif disandingkan dengan konjunktif. Pernyataan dengan pertanyaan. Kepastian dengan ketidakpastian (jika tidak mau menyebutnya keraguan). Jangan salah, kata, kalimat dan bahasa yang dipilih juga bisa sangat politis. Politis dalam makna luas. Berhubungan dengan kuasa. Kuasa dalam makna luas pula. Siapa bisa, berhak dan memilih bicara, siapa yang lebih memilih atau terpaksa diam.

„Dan berbahagialah orang Indonesia karena kalian memiliki kata ‚mungkin‘“, demikian kata teman diskusi saya tadi siang. „Mungkin“ dalam konteks Indonesia adalah kata yang tidak mengandung penilaian baik atau buruk, benar atau salah. „Mungkin“ dapat membuka peluang besar dan luas untuk masuknya unsur-unsur lain di luar sesuatu yang dianggap pasti. “Mungkin” dapat menjadi penanda masa depan yang kita tidak pernah tahu akan seperti apa. “Mungkin” dapat mengandung makna penyerahan pada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih “berkuasa”. “Mungkin” dapat menjadi penanda kewaspadaan: melihat dulu situasi, melihat dulu waktu yang tepat, melihat dengan siapa saya berhadapan. Perlu bicara atau diam. Perlu dilanjutkan atau tidak.

Lihat, saya kembali merelatifkan kalimat-kalimat saya dengan menyandingkan kata „mungkin“ dengan kata-kata setara lainnya: kata-kata yang setara tidak pastinya, yang abstrak. Itu sengaja saya lakukan, karena saya ingin menegaskan (pun untuk diri saya sendiri) bahwa tidak ada yang pasti dalam hidup ini, selain kematian. Itupun waktunya entah. Namun, itu juga berarti bahwa dalam hidup ada banyak peluang, celah, pilihan, kemungkinan atau apapun lah namanya. “Kalau bukan yang ini, mungkin yang itu.”

Itu kalau mau diambil sisi positifnya ya. Terus terang, semakin ke sini saya tidak bisa lagi membedakan dengan jelas antara „penyangkalan“ dengan „mencoba berpikir positif“. Namun, kali ini saya ingin menyugesti diri saya dengan „mencoba berpikir positif“ tanpa mengenyampingkan „kemungkinan“ lain yang „mungkin“ muncul dari kata „mungkin“ ini. Apakah saya sudah terdengar sedikit positif? Tidak juga tampaknya, malah terdengar „skeptis“, haha. Jadi, bisa dilihat kan, jika sesuatu dilakukan dengan berlebihan, jika kata dipakai berlebihan, maka jadinya tidak sesuai dengan yang diinginkan, hehe.

Daripada semakin melantur, saya kembali ke sisi lain yang mungkin muncul dari kata „mungkin“. Dalam beberapa konteks, kata „mungkin“ dan kata-kata modalitas lainnya, justru sering digunakan untuk „meneguhkan“ dan atau „melanggengkan kuasa“ (ini istilah seorang sahabat saya), bahkan menurutnya „pasti itu terikat dengan budaya orang Indonesia yang tidak mau memberi kepastian, karena tidak ada kemampuan atau tidak mau bertanggung jawab atas statementnya.“ Hipotesis yang cukup menarik, jika dikaitkan dengan konteks dan situasi sosial politik di Indonesia bertahun-tahun belakangan ini. Tampaknya sahabat saya cukup skeptis melihat kondisi ini. Berbeda dengan teman diskusi saya tadi siang yang berusaha melihat bahwa kondisi „yang terlihat“ buruk di Indonesia juga sebenarnya terjadi di manapun, jika saja orang mau melihatnya dengan kritis dan tidak menganggap rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Tidak menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya. Sama saja.

Lalu, di posisi mana saya berdiri? Saya tidak akan dan tidak dapat menjawab dengan jelas di mana posisi saya. Saya orang dalam yang saat ini berada di luar, yang bahkan ketika di dalam pun saya sering merasa „tidak ada di dalam“. Saya mengalami, tetapi saya juga mengamati. Saya dekat, tetapi saya juga berjarak. Namun, satu hal yang semakin ke sini semakin saya tahu pasti, saya mensyukuri kondisi ini, yang memungkinkan saya dapat membuat banyak pilihan, melihat dari banyak sisi untuk kemudian memutuskan di mana saya akan berdiri. Berada di tengah juga pilihan, bukan? Seperti tidak berpendapat juga adalah sebuah pilihan. Mungkin, saat ini itu yang saya lakukan. Tidak tahu nanti. Apapun mungkin. Semua mungkin. Bisa jadi, semua bisa jadi mungkin :)

Bayreuth, 170812

Menuliskan Kenangan

Entah mengapa, hari ini tumben saya malas sekali menyalakan laptop dan membuka internet. Pagi-pagi sudah ke kampus, dilanjut belanja sedikit, kemudian mencoba tidur sebentar dilanjut dengan santai shalat dan dan melanjutkan membaca quran. Baru sampai Al Anbiya. Ayat 35 terbaca: setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemarin seorang teman bertanya tentang kabar seorang ibu baik hati dan titip salam untuknya. Saya bilang, ibu baik hati itu sudah meninggal 4 tahun lalu. Kagetlah teman saya, karena katanya tak ada yang memberitahunya. Saya kemudian jadi membuka kembali catatan lama saya tentang ibu baik hati itu. Rasa rindu padanya menyelinap. Kemarin pula, di saat shalat pikiran dan perasaan saya melayang ke Bandung. Memikirkan seorang sosok ibu baik hati lainnya yang sedang terbaring sakit. Entah mengapa juga, saat itu saya merasa bahwa dia sebentar lagi akan berbahagia sama seperti ibu baik hati yang meninggal 4 tahun lalu. Lalu tadi, selesai shalat dhuhur, akhirnya saya membuka laptop dan internet dan mendapat 2 offline messages dari dua orang sahabat saya. Yang satu memberitahukan bahwa ibu baik hati itu meninggal tadi sore, yang satu lagi hanya memanggil nama saya, tapi saya tahu maksudnya. Ya, ibu baik hati yang saya pikirkan kemarin (dan hari-hari sebelumnya).

Heran juga, saya tidak kaget dan tidak menangis, sewajarnya reaksi orang yang menerima kabar semacam ini. Ada rasa lega menyelinap malah. Mungkin saya masih merasa „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis justru saat saya pertama kali menerima kabar bahwa Ibu baik hati itu masuk rumah sakit sebulan lalu karena sakit parah yang sebenarnya sudah dideritanya sejak 2010. Saat itu badan saya gemetar hebat dan saya menangis terus menerus sepanjang hari, bahkan sampai keesokan harinya dan setiap ada pembicaraan tentangnya. Saat itu perasaan saya juga didominasi oleh rasa marah pada diri saya sendiri yang sampai tidak tahu bahwa sosok ibu baik hati itu sebenarnya sudah menderita sakit sedemikian lama. Ya, tidak ada yang tahu. Ibu baik hati itu tidak mau ada orang yang tahu tentang kondisinya. Bahkan di tengah sakitnya, dia juga yang masih berharap bahwa saya harus sehat selama di Jerman ini. Kami sempat berkirim sms sehari sebelum dia masuk rumah sakit. „Saya baik, Dian sayang. Dian sehat-sehat terus ya di sana. Miss you too. Muach muach,“ demikian tulisnya.

Setelah puas menangis dan „memarahi“ diri saya sendiri karena bisa „lalai“ dan tidak peka terhadap kondisinya, malah seringnya merepotkan dia, saya kemudian hanya bisa berharap dan berdoa agar ibu baik hati itu diberi yang terbaik, tidak kesakitan terlalu lama. Apapun. Dia orang yang sangat baik, rasanya kok tidak rela melihatnya kesakitan. Karena itu pula, saya sangat marah saat ada yang memasang foto di media sosial saat mereka menjenguk ibu baik hati yang sedang terbaring lemah, sementara mereka bergaya sambil senyum-senyum di sebelah tempat tidurnya. Bukan hanya sekedar masalah privacy, tapi untuk saya lebih dari itu. Mungkin ada semacam penolakan dari dalam diri saya saat melihat ibu baik hati itu dalam kondisi sakit. Diam-diam saya hanya ingin menyimpan kenangan yang manis-manis saja atasnya. Pada senyum lembut dan manisnya serta tatapan matanya yang teduh. Saya hanya ingin mengingatnya dalam kondisi itu.

Membaca berita dari sahabat saya kemudian membuka email yang dikirim sehari sebelumnya –yang juga entah kenapa baru saya baca tadi-, kemudian rentetan ucapan duka cita mendalam dari para mantan mahasiswanya, ingatan saya melayang jauh ke 20 tahun yang lalu, saat saya pertama kali mengenal sosok lembut ini yang ternyata menyembunyikan kekuatan sangat besar di baliknya. Dia dosen saya. Saya hanya mengenalnya di perkuliahan: Sprachübung dan Landeskunde. Aksen Jawanya cukup medok. Cantik, lembut, ayu. Yang saya tahu, dia tinggal di Jakarta, hanya ke Bandung saat mengajar. Seminggu dua hari dia di Bandung. Saya cukup sering bertemu dengannya di bis DAMRI Kebon Kalapa – Tanjungsari. Biasanya dia naik kereta dari Jakarta, kemudian dilanjut naik bis DAMRI atau naik angkot St. Hall – Gedebage dilanjutkan dengan naik angkot Gedebage – Rancaekek, lanjut lagi naik angkot Cileunyi – Sumedang. Kadang dia juga naik travel 4848 saat itu kalau mau pulang ke Jakarta. Mobil BMWnya hanya dipakai kalau ada jurusan ada acaranya. Jarang dipakai, padahal kabarnya dia punya beberapa mobil BMW. Biasa, mahasiswa suka bergossip soal dosennya J Belakangan saya tahu kenapa dia lebih senang naik kendaraan umum, karena katanya supaya dia bisa tidur di jalan, tidak perlu capek-capek nyetir Jakarta – Bandung. Setelah dibuka jalur tol Jakarta – Bandung, dia berganti trayek, jadi naik bis Primajasa ke arah Garut atau Tasikmalaya.

Ya, itu dia. Sosok yang senang menggambar dan menyanyi. Dia pernah memperlihatkan gambar yang dia buat saat dia di Jerman: suasana di depan kamarnya. Suaranya juga bagus. Dia sering didaulat untuk menyanyi kalau Fakultas ada acara. Sosok yang pernah bercerita pada saya, bahwa dia sempat datang ke Berlin tahun 1989, ikut dengan para mahasiswa membongkar tembok Berlin. Kebanggaannya menjadi saksi sejarah: “Pecahan temboknya saya bawa pulang”, demikian kisahnya. Saya tak terlalu dekat dengannya saat saya menjadi mahasiswa. Hanya relasi biasa: dosen dan mahasiswa. Saat itu, mana ada mahasiswa yang berani berdekat-dekat dengan dosen. Menelfon dia pun hanya sekali-kalinya, untuk menanyakan apakah skripsi saya perlu dikirim ke Jakarta atau disimpan di Jurusan saja. Ya, dia co-pembimbing skripsi saya dan saya tidak pernah bimbingan dengannya. Belakangan saya tahu bahwa skripsi saya baru dibacanya saat hari saya sidang. Dia berkata, “Saya percaya sama Dian.”

Dia yang mempercayai saya. Dari dulu sampai saat meninggalnya. Dia yang mempercayai saya seperti saya juga mempercayainya. Saya semakin mengenalnya saat dia menjadi lebih banyak ada di Bandung setelah suaminya meninggal. Saya dan beberapa kolega juga sempat menginap di rumahnya, saat kami ada acara di Jakarta. Saya pernah juga menginap di rumah keluarganya yang nyaman di Malang saat kami berdua mewakili Jurusan melakukan studi banding ke Malang. Tidur bersamanya. Menjadi tahu ritualnya sebelum tidur, menjadi tahu bahwa dia sangat takut naik pesawat, menjadi tahu tentang keinginannya yang kuat untuk melanjutkan sekolah lagi, menjadi tahu tentang kekhawatirannya, menjadi tahu tentang harapannya, menjadi tahu sedikit tentang keluarganya. Dia juga yang membuat saya jatuh cinta pada Malang. Saya pun diajak jalan-jalan dan berwisata kuliner di sana. Adiknya yang saat itu menjadi staf PR 1 Unibraw menemani kami. Adiknya yang baik, yang meninggal setahun setelah kunjungan kami ke Malang. Keluarga yang baik, yang saya tahu kemudian bahwa semua anak perempuan di keluarga itu diberi nama awal: Hesti.

Saya semakin mengenalnya lagi saat dia jadi ketua jurusan. Pada saat itu saya tahu, bahwa sosok ini berhati amat besar dan lapang di tengah segala macam intrik. Dia tetap dan meneguhkan diri sebagai sosok yang tidak pernah bergossip, tidak pernah mau mencari masalah, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja, sosok yang tetap tenang dan lapang dada walaupun banyak hal mengecewakannya dan membuatnya sakit hati, sosok yang selalu mau belajar dan bertanya, sosok yang jujur dan rendah hati, selalu tersenyum dan berkata “Ya sudah, ngga apa-apa, biarin saja,” padahal saya misalnya dengan cerewet protes ini itu. Dia sosok ketua jurusan yang tidak pernah mau duduk di kursi “kebesaran” ketua jurusan. Tempat duduk favoritnya adalah di kursi depan lemari buku. Bersama dengan kami. “Lebih enak di sini,” begitu katanya selalu. Sosok yang selalu datang paling pagi, pulang paling sore, tapi tetap membebaskan stafnya untuk pulang duluan. Sosok yang masih setia naik bis DAMRI, kali ini bis DAMRI khusus dosen. Sosok yang selalu „keukeuh“ membayari kami makan siang atau membayari ongkos angkot. Bisa rebutan dengannya dahulu mendahului membayar ongkos angkot. Biasanya dia cemberut kalau kami „berhasil“ membayarinya. Sosok yang takut naik ojek, lebih suka jalan kaki, lalu kami bertemu di bawah dan naik angkot sama-sama. Dipikir-pikir kami suka keterlaluan juga memintanya pulang lebih dulu dan membiarkannya jalan kaki sendirian sementara kami enak-enak naik ojek. Sosok yang belakangan sangat bahagia jika bergabung bersama kami, dosen-dosen muda yang rusuh, yang senang karaoke dan kemudian makan-makan. Dia menjadi „guru besar Fakultas Sebelah“, partner menyanyinya „Pak Dekan Faksebel“. Mungkin dia terhibur oleh tingkah kami yang gila-gilaan. Pertemuan terakhir saya dengannya pun tahun lalu saat dia untuk kesekian kalinya berhasil kami „culik“ untuk ikut karaoke dengan kami di Ciwalk, setelah itu dilanjut makan seperti biasa. Dia selalu senang kami culik.  Seandainya saya tahu, bahwa saat itu dia sudah sakit. Namun, melihatnya tertawa dan berbahagia, rasanya saya tidak menyesali kelakuan kami yang suka semena-mena „menculik“nya berkaraoke dan makan bersama. Dia berbahagia. Menyanyi memang nafas hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pada saya.

Dia juga adalah sosok yang selalu dengan berhati-hati bertanya pada saya, apakah saya sedang sibuk karena dia ingin bertanya sesuatu pada saya tentang materi kuliahnya saat dia studi lanjut dan tentang bahan tesisnya. Padahal saya amat sangat rela diganggu olehnya. Bayangkan, dia dulu dosen saya dan dia mau bertanya pada saya. Namun, bertanya tidak berarti kemudian dia tidak melakukan apapun. Dia belajar, dia mau belajar. Tidak ada yang direpotkannya, semua dikerjakan sendiri. Kami berdiskusi banyak hal. Dia mau mendengarkan saya yang suka sok tahu ini. Dia juga yang menemani saya dan beberapa teman menghadap dekan saat ada masalah dalam status kepegawaian kami. Dia orang pertama yang memberikan tanda tangan dukungan saat kami mengajukan protes ke universitas. Dia orang yang tetap mempercayai saya sampai kapanpun, pun saat saya menggamit lengannya dan sambil berjalan menuju tempat karaoke saya bercerita panjang lebar tentang masalah yang saya hadapi dengan studi saya. Komentarnya saat itu, „Pokoknya saya mendukung apapun yang terbaik untuk Dian.“ Dia juga sosok yang selalu saya repotkan soal urusan tanda tangan dan surat menyurat yang suka dadakan. Dia sosok yang dengan sangat sabar mendengarkan semua protes saya tentang ini itu. Dia juga sosok yang dengan selewat berkomentar saat kami sibuk menghitung penetapan uang kursus yang mau ditetapkan, „Jangan kemaruk,“ katanya dan kami langsung terdiam.

Saya mencoba mencari kenangan yang tak mengenakkan tentangnya. Tak ada. Dia tetap sosok yang selalu ingin dan harus saya temui saat saya mudik ke Bandung. Sayangnya, saat awal tahun ini saya mudik, saya tidak bisa menemuinya, karena dia sakit. Saat itu dia bilang, „Ah, cuma kecapean saja.“ Saya tidak curiga, karena saya kemudian masih melihat foto-fotonya ada ikut serta dalam kegiatan Jurusan. Bahkan tiga hari sebelum dia masuk rumah sakit pun, tampaknya dia masih memimpin rapat.

Dari banyaknya ucapan duka cita dan doa-doa untuknya, tangis dan keterkejutan yang sangat dari teman, kolega dan mahasiswa serta mantan mahasiswanya, saya semakin yakin bahwa dia memang sosok amat sangat baik yang pernah ada. Itu membuat saya lega. Tadinya saya berpikir bahwa saya akan menangis saat menuliskan ini semua, ternyata tidak. Mungkin saya masih „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis sebelumnya. Namun, ada kelegaan menyelinap menyadari bahwa dia sudah tak sakit lagi (karena ini yang menyakitkan: mengetahui dia sakit), bahwa dia bisa istirahat dengan tenang, bahwa dia sudah lepas dari gonjang ganjing masalah hidup, bahwa dia bisa bertemu lagi dengan orang tuanya, dengan suaminya, dengan kakak dan adiknya, dengan Yang Maha Mencintai nya.

Saya menuliskan kenangan-kenangan manis tentangnya di sini, karena hanya itu yang bisa saya lakukan, untuk “menyimpannya” agar tetap indah, selain memanjatkan doa untuk keindahan dan kelapangan jalannya menemui Sang Maha Indah di bulan penuh ampunan ini. Saya tidak menangisi kepergiannya, karena dia sangat berhak mendapatkan yang terbaik. Kalaupun tadi sempat air mata saya menitik sedikit mungkin karena saya membayangkan bahwa saat saya kembali ke Bandung nanti saya tidak akan pernah lagi menemukan sosok lembut itu duduk di kursi di depan lemari buku. Saya tidak akan pernah lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi. Saya tidak akan lagi melihat senyumnya sambil berkata „Biarin aja.“ Saya memang tidak sekuat dan setabah dirinya. Saya belum punya hati selapang dan seluas hatinya untuk bisa tersenyum dan berkata, „Biarin aja.“ Untuk saya dia sosok yang mendekati „sempurna“, seperti lagu „Sempurna“nya Andra and The Backbones yang sering dinyanyikannya.

Selamat jalan, Ibu yang baik. Berbahagialah di sana dan tolong sampaikan salam dan terima kasih saya pada Sang Maha Kasih yang sudah mempertemukan saya denganmu dan membuatmu ada dalam hidup saya.

Dan ternyata sekarang (akhirnya) saya benar-benar menangis.

Bayreuth, 080812

“Hallo!” “Danke!” dan teman-temannya

Dua bulan lalu seorang teman yang berkunjung ke Bayreuth memberi komentar, katanya saking kecilnya kota Bayreuth sampai saya kenal dengan semua orang, begitu juga sebaliknya saya mengenal mereka: sopir taxi, sopir bis, resepsionis hotel, kasir di supermarket, orang yang bertemu di jalan, dll. Indikasinya adalah karena saking seringnya saya bilang „Hallo!“ kemudian berbincang dengan mereka. Sampai-sampai teman saya itu menjuluki saya sebagai „walikota“nya Bayreuth, karena katanya saya mengenal hampir semua orang.

Komentar teman saya itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. Memang sih, setiap saya pergi terutama ke kota, pasti saja bertemu dengan orang yang sama atau sering bertemu dengan orang-orang yang saya kenal. Maklum, kota ini memang kecil, hanya berpenduduk sekitar 80 ribu orang. Wajar lah ya kalau jadinya saya juga sering ber“hallo, hallo“ dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang saya temu di jalan.

Namun, kata sapaan „hallo“ ini sebenarnya satu bentuk ritual sapaan yang wajar dilakukan di Jerman ini, selain kata sapaan lain seperti „Guten Tag“, „Tag“, „Gruß dich“, „Moin!“ atau „Gruß Gott“. Orang menyalami siapapun yang mereka temui di jalan, saat memasuki sebuah tempat, walaupun kita tidak mengenal orang-orang tersebut. Jadi jangan heran, saat masuk ke ruang tunggu praktek dokter orang menyapa „Hallo!“ atau „Tag!“ kepada orang-orang yang sedang menunggu, atau menyapa sopir bis dan kasir di supermarket dengan „Hallo“ atau „Gruß Gott!“, termasuk menyapa orang yang berpapasan di tangga atau di lift. Tak perlu kita mengenal orang tersebut, sapaan ini diucapkan sebagai sebagian kecil dari bentuk interaksi yang dalam konteks Luhmann berarti „merasakan“ keberadaan orang lain dan „menunjukkan“ keberadaan kita.

Kata sapaan ini sebenarnya hanya sebentuk ujaran verbal yang kecil saja, selebihnya kita lebih banyak menyadari keberadaan orang lain dan menunjukkan keberadaan kita dengan cara lain yang sifatnya nonverbal. Kadang –sering bahkan- kata sapaan ini diucapkan begitu saja, tanpa diiringi dengan prosodi dan intonasi yang „diharapkan“ mendukung „makna“ kata sapaan ini jika diujarkan, pun kadang tanpa ditunjang oleh mimik dan gestik yang „kebayangnya“ mengikuti kata sapaan ini. Jadi, jangan heran pula kalau kata sapaan „Hallo“ atau „Tag“ dan lain-lain tadi hanya diujarkan lurus saja tanpa ekspresi, bahkan kadang tanpa adanya kontak mata atau senyum. Jangan heran, ini „ritual“ yang kadang hanya dilakukan sekedar menjalani fungsinya sebagai „saling menyapa“, tetapi tanpa makna yang lebih dari itu. Idealnya tentu melaksanakan „ritual“ dengan menjalankan maknanya juga. Namun, manusia terlalu sibuk dan terburu-buru untuk itu, hehe.

Selain kata sapaan „Hallo!“ dan lain-lain di atas, kata terima kasih „Danke“ juga sering diucapkan kepada siapapun. Pola berpasangan „Hallo!“ – „Danke“ – „Auf Wiedersehen/Tschüß/Ciao“ sangat lazim ditemukan misalnya dalam situasi membayar di kasir supermarket atau „Hallo!“ – „Tschüß“ saat berada dalam satu lift dengan orang lain. Jadi, pertemuan dibuka dan ditutup dengan ujaran verbal. Jangan disinggung soal elemen-elemen nonverbal yang diharapkan menyertainya, ya. Jangan berharap lebih pula. Namun, pola berpasangan dalam ritual sapa-menyapa, berterima kasih dan berpisah ini saya rasa cukup menarik untuk disimak. Ini sifatnya kultural dan secara sosiologis akhirnya berakar kuat dalam pola interaksi masyarakatnya. Maka untuk orang yang datang dari latar belakang budaya dan sosiologi yang berbeda, yang memiliki ritual interaksi yang berbeda pula, hal-hal kecil semacam ini mungkin awalnya akan terasa asing. Begitu juga dengan mereka yang datang dari latar belakang budaya yang saling menyapa dengan verbal –tanpa dukungan unsur nonverbal- akan merasa asing saat berada dalam situasi interaksi dalam masyarakat yang berkonteks budaya tinggi, di mana unsur nonverbal mendapat tempat yang lebih dibandingkan unsur verbal. Misalnya menyapa „hanya“ dengan tersenyum atau menganggukkan kepala atau mengangkat tangan saja. Itu bentuk interaksi dan komunikasi juga, seperti kata Watzlawick: manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Berada cukup lama dalam lingkup budaya yang lekat dengan situasi interaksi verbal seperti di Jerman ini, kadang membuat saya juga jadi ikut melakukannya di saat saya berada di dalam satu situasi budaya lain yang berbeda. Misalnya di Indonesia saya juga sering mengucapkan „Hallo“ kepada kasir di supermarket. Kalau ke sopir angkot atau sopir bis agak sulit, karena mereka kadang tetap menjalankan kendaraannya saat saya naik. Reaksi yang saya dapat adalah pandangan heran, saat saya misalnya menyapa kasir super market atau pelayan restoran dengan salam “hallo”. “Terima kasih” juga sering saya ucapkan, sampai beberapa orang teman saya di Indonesia heran karena saya katanya sering sekali berterima kasih. Kebiasaan juga sih. Walaupun saya rasa ini kebiasaan yang bagus, karena bagi saya menyap dan berterima kasih ini mengandung makna yang sangat dalam: penghargaan.

Tanpa bermaksud membandingkan ritual interaksi di dalam satu budaya dengan budaya lainnya, saya hanya menyadari bahwa elemen-elemen verbal yang kecil ini pada saat berjumpa, berpisah, berterima kasih –yang kadang keluar begitu saja tanpa dipikirkan dan tanpa maksud khusus- jika ditunjang dengan elemen-elemen lainnya, apalagi jika dipahami benar maknanya, maka akan dapat membawa efek sosial dan psikologis yang besar. Terdengar seperti sedang berbicara tentang ritual keagamaan ya?! Hehe. Saya rasa tak ada bedanya. Kadang orang perlu mengujarkan sesuatu dulu kemudian melakukannya untuk akhirnya memahami nya atau memahami, melakukan dan mengujarkannya. Bebas saja lah, hehe.

Karena perbedaan dalam ritual interaksi tadi, maka tak heran akan ada pula “ruang kosong” dalam satu budaya, bahkan tidak ditemukan ujaran verbalnya, tetapi “ruang kosong” ini “terisi” di dalam budaya lainnya –lengkap dengan ujaran verbalnya-. Misalnya di Jerman ini saya “merindukan” kata “punten” dalam Bahasa Sunda yang artinya “permisi” saat saya melewati sekelompok manula yang sedang berjemur sore-sore di tepi danau. Padahal di Bandung, saya selalu berusaha menghindari kata ini, saking banyaknya orang yang bergerombol nongkrong di jalan yang saya lewati dan harus saya “punten”i yang ujung-ujungnya malah sering membuat saya marah karena komentar-komentar yang tidak saya harapkan menjadi jawaban dari kata “punten” tersebut. Namun, dalam satu proses interaksi, apa yang dujarkan bisa dipahami dan direaksikan berbeda, bukan?

Perubahan yang saya rasakan juga terjadi pada proses berujar saya adalah berkurangnya intensitas penggunaan kata “maaf” untuk “permohonan maaf” yang sebenar-benarnya permohonan maaf, bukan yang bermakna “permisi”. Entah, saya jadi irit betul menggunakan kata ini, bahkan cenderung “takut” kalau kata ini sampai akhirnya harus keluar dari mulut saya. Mengapa? Karena jika kata ini terucap biasanya itu diiringi dengan perasaan yang amat sangat tidak enak dan menyesal berkepanjangan dari diri saya pada orang yang saya mintai maaf. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak melakukan apapun atau berkata apapun yang mengakibatkan kata ini harus keluar dari mulut saya. Saya merasa lebih nyaman jika saya ber”terima kasih” lebih banyak daripada sedikit-sedikit minta “maaf”, tapi sedetik kemudian lupa dan melakukan kesalahan yang sama (bahkan lebih parah) sehingga kata “maaf” hanya jadi sekedar “pemutihan” saja, habis perkara, nanti beda lagi urusannya. Malah mungkin kalau bisa saya lebih suka menggunakan ujaran untuk pemberian maaf. Namun, sampai sekarang, di dalam bahasa-bahasa yang saya pelajari, belum saya temukan satu ujaran khusus –satu kata saja- yang mewakili tindak „pemberian maaf“ ini. Apakah mungkin karena memberi maaf lebih sulit dibandingkan meminta maaf ya?! Atau mungkin ada yang tahu kata yang mewakili tindakan ini?

Sebuah Pengakuan Terlambat dari Seorang Penggemar Peterpan

Bild

Ya, tampaknya saya memang sedang ikut „termakan“ oleh eforia bebasnya sang vokalis. Tak apalah, toh sekarang saya memang akhirnya ingin mengaku bahwa saya adalah salah seorang penggemar sosok yang begitu dihebohkan dan terutama saya adalah penggemar musik Peterpan, yang kebetulan kebanyakan dibuat oleh sosok yang katanya fenomenal ini. Saya penggemar baru, baru sekitar setahunan ini dan saya berani bertaruh bahwa banyak yang menyukai Peterpan dengan sembunyi-sembunyi, seperti saya dulu.

Mengapa saya kok bisa terlambat begini? Karena saat Peterpan muncul sekitar 2004, saya sedang di Jerman. Saat itu youtube belum terlalu booming, begitu juga media sosial yang membuat saya bisa selalu terupdate dengan berita-berita baru. Akhir tahun 2004 saya mudik sebentar, di Indonesia sedang terkenal lagu „Mimpi yang Sempurna“ milik Peterpan. Siapa sih? Lagu apa sih kok gitu? Lagunya Peterpan, kata adik saya. Lagunya enak lho, katanya. Ih, lagu begitu saja enak, cibir saya saat itu. Penyanyinya ganteng, kata adik saya lagi. Yang begitu ganteng? cibir saya lagi melihat sosok di video klip dengan rambut lurus agak gondrong dengan potongan ngga jelas. Eh, keyboardisnya temen saya, kata adik saya lagi. Adik kelas saya waktu SD memang, saya tahu. So? Pokoknya saya tidak suka. Saat itu saya lebih senang mendengarkan lagu-lagunya Kla Project, Padi, Dewa, Java Jive dan tentu saja masih setia mendengarkan lagu-lagunya Chrisye dan Iwan Fals (ketahuan kan saya angkatan berapa, hehe).

Saya tidak mendengarkan Peterpan lebih jauh, keburu balik lagi ke Jerman. Saat balik lagi itu saya dibelikan CD berisi MP3 lagu-lagu Indonesia dan lagu barat (bajakan tentu saja, maaf) oleh adik saya, dan salah satunya ada album bajakannya Peterpan „Taman Langit“ (maaf yaaaa…). Itu pun tidak pernah saya dengarkan. Sampai pada tahun 2005, salah seorang mahasiswa saya yang baru pulang dari kuliah praktek di Indonesia selama 6 bulan bercerita bahwa dia suka lagu-lagu Peterpan. Aduh, Peterpan lagi. Siapa sih mereka? Murid saya itu sampai membeli CD album Peterpan „Bintang di Surga“ dan dia meng-copy-nya untuk saya (maaf lagi). Dia mempromosikan benar album itu, terutama lagu „Ada apa denganmu“. Saya kemudian dengarkan albumnya. Hmm, dari sekitar 10 lagu kok saya cuma suka 2, haha. „Ada apa denganmu“ begitu saja, tidak terlalu menarik. Lagu dan lirik yang aneh. Namun, saya langsung suka „Bintang di Surga“, mungkin karena ada unsur orkestranya jadi terdengar megah. Saya memang sedang suka musik klasik saat itu. Suara Ariel mulai menarik perhatian saya. Enak juga. Kemudian lagu „Mungkin nanti“ yang kata salah seorang teman saya saat itu liriknya membuat dia „kasuat-suat“. Buat saya sih biasa saja. Namun, oke lah. Ya, tiga lagu itu saja yang saya dengarkan.  Ternyata, ada salah seorang lagi murid saya yang baru datang dari Indonesia pulang ke Jerman dengan membawa 1 CD Peterpan “Bintang di Surga” dengan cerita yang sama: “Ada apa denganmu“ harus saya dengarkan. Ah, ada apa sih denganmu, Peterpan. Sampai-sampai murid saya itu minta tolong kepada saya untuk menerjemahkan lirik „Ada apa denganmu“ ke Bahasa Jerman saking sukanya dia pada lagu itu. Hoalah, macam-macam saja. Jadilah saya terjemahkan lirik yang tampaknya mudah, ternyata sulit juga saat diterjemahkan. „Tuduhan“ saya saat itu: si Ariel sok puitis, padahal liriknya hanya berisi soal pacar yang marah. Bahasa Indonesianya juga aneh. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman jadi lebih aneh.

Waktu berlalu, cuma „Bintang di Surga“ yang sering saya dengarkan dengan volume kencang. Liriknya cinta-cintaan sih, biasa, ditinggal pacar, kontekstual sekali, hehe. Tapi Ariel membuatnya dengan „sok puitis“ sehingga tidak terdengar cengeng. Lumayan, walaupun saya tetap tidak mengakui bahwa dia oke, hehe. Namun, saya mulai suka dengan gaya menyanyi dan teriakan dia di bagian refrain.

Peterpan kemudian berlalu begitu saja, sampai saat saya pulang ke Indonesia tahun 2006. Saya mendengarkan saja cerita kolega saya yang heboh soal Ariel yang ganteng, sexy, dll. Duh, yang begitu ganteng dan sexy? Saat itu setahun setelah munculnya album „Menunggu Pagi“ yang menjadi OST film „Alexandria“. Ah, film apa pula itu. Terus terang film itu juga baru saya lihat beberapa bulan lalu di Jerman, itupun lewat youtube, hehe. Saya tetap tidak (mau) mengenal Peterpan. Lagipula saya tidak suka menonton TV jadi tidak tahu pula gossip-gossip heboh terutama tentang sang vokalis, saya hanya mendengar sekilas saya dari kolega-kolega saya yang heboh bercerita. Saya tidak peduli.

Kemudian tahun 2007 saya ingat pertama kalinya saya mendengar lagu baru Peterpan „Menghapus Jejakmu“ dari album „Hari yang Cerah“ di sebuah gerai pizza di Bandung, sambil makan dengan kolega-kolega saya. Salah seorang kolega sekaligus sahabat saya yang selalu heboh „menggunjingkan“ Ariel komentar, „Ah, lagu ini lagi, Peterpan lagi, bosan.“ Saya baru tahu lagu itu, dia malah sudah bosan dan kesal sekali lagu Peterpan terus yang diputar. Saat itu Peterpan sedang heboh lagi, maaf, Ariel maksud saya, yang bikin heboh lagi dunia perselebritisan Indonesia dengan kasusnya. Kemana saja ya saya? Ada, hehe.

Lagu “Menghapus jejakmu” lumayan ear catching, saya cukup suka. “Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu…” Lagu patah hati (lagi), tapi musiknya ceria. Lumayan ringan dan enak didengar. Suatu saat saya lihat video clipnya, cukup unik konsepnya. Akhir 2007, di Malaysia, entah bagaimana tiba-tiba obrolan saya dan ex teman dekat saya jadi membahas lagu dan lirik Peterpan. Ternyata si ex suka dengan lirik dan lagu-lagu Peterpan. Saya yang memang tidak tahu Peterpan cuma mengejek “dari Padi pindah ke Peterpan?” karena dia pernah mengklaim sebagai penggemar Padi. “Kalau ‘Sally sendiri’ bolehlah, musiknya oke”, kata saya.  Sebelumnya saya pernah mendengarkan lagu “Sally sendiri” juga dari album “Hari yang Cerah” dan saya suka. Dua lagu itu menurut saya agak berbeda dari lagu-lagu Peterpan yang sebelumnya saya dengar. Musiknya lebih tenang dan lebih dominan gitar dan drumnya, bukan musik-musik “remaja”, lagipula suara Ariel tidak “cempreng” lagi. Si ex membela diri dengan argumen-argumen psikologinya sok membahas lirik lagu-lagu Ariel. Saya tidak peduli, pokoknya saya tidak suka Peterpan, hehe. Apalagi salah satu lagunya “Aku dan Bintang” dijadikan soundtrack sebuah sinetron stripping di TV dan saya benci sinetron. Makinlah saya tidak suka.

Suatu saat seorang sahabat saya misuh-misuh “Memangnya kenapa sih kalau saya suka Peterpan?” karena dia diolok-olok oleh koleganya tentang kesukaannya pada lagu-lagu Peterpan. Saya yang juga tidak suka pada musik mainstream kegemarannya para ABG itu hanya senyum-senyum saja, takut sahabat saya makin ngambek kalau saya bilang saya juga tidak suka Peterpan, hehe. Begitulah. Sampai kemudian suatu saat sedang karaoke, salah seorang sahabat memilih lagu “Kupu-kupu malam” versi Peterpan. Enak juga. Eh, tapi itu kan memang lagu lama dan enak, jadi ya wajar saja kan kalau enak.
Judulnya saya tetap tidak mau mengakui keberadaan Peterpan, hehe. Padahal saat itu saya mulai sering mengikuti infotainment dan beberapa kali menonton penampilan mereka di TV, baik itu konsernya atau acara yang khusus dibuat untuk mereka. Mulai mengikuti. Mulai tahu siapa saja nama personilnya dan berita-berita heboh terutama seputar Ariel. Namun, saya tetap biasa-biasa saja, walaupun saya suka lagu „Menunggumu“ yang dinyanyikan duet oleh Ariel dengan Chrisye. Itu karena ada Chrisye ya, bukan karena Ariel, sosok yang membuat seorang sahabat saya histeris saat melihatnya di sebuah restoran di Bandung datang bersama Luna Maya saat kami selesai buka puasa. Sahabat saya yang saat itu sedang curhat sambil berurai air mata mendadak cerah ceria dan panik karena kedatangan mereka berdua „Ariel! Ariel! Ariel!“ katanya panik. Halaaah, langsung deh curhatnya buyar terpesona oleh sosok yang saat itu menggunakan jeans, t-shirt, topi dan sneakers andalannya. Saya masih biasa-biasa saja.

Itu tahun 2009. Tahun sebelumnya album „Sebuah Nama Sebuah Cerita“ diluncurkan. Album the best Peterpan sebenarnya, ditambah lagu baru: „Walau Habis Terang“, „Tak Ada yang Abadi“, “Dilema Besar” dan covering lagu Chrisye „Kisah Cintaku“. Saya menyukai keempatnya. „Walau Habis Terang“ juga lagu patah hati, tapi beatnya ceria. Kelak lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya saat jalan-jalan atau jogging di hutan. Lagu ini juga disenangi oleh salah seorang murid saya di Jerman ini, dan lagi-lagi saya diminta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jerman. Kemudian „Tak Ada yang Abadi“ lagunya cukup gelap, efeknya agak misterius, apalagi dengan dominasi piano dan lirik yang lebih dewasa. Masih puitis, tapi bukan puitis yang aneh lagi. Ada cerita, ada pesan. Saya mulai agak sering menyimak Peterpan. Lumayan juga.

Tahun 2010 adalah tahun yang paling heboh untuk Ariel terutama. Saya kebetulan sedang mudik juga ke Indonesia saat kasus itu terjadi, tapi saya tidak peduli. Saya sibuk dengan urusan saya sendiri, mana sempat nonton infotainment. Kembali lagi ke Jerman, kasus itu ternyata semakin heboh. Akses internet yang tidak terbatas memungkinkan saya untuk jadi mengikuti beritanya juga walaupun jauh di Indonesia, toh berita itu ada juga di media Jerman saking hebohnya. Ah Ariel, Ariel. Dari situlah saya mulai iseng browsing video lagu-lagu Peterpan. Tahun 2011 sih tepatnya. Eh, kok „Cobalah Mengerti“ enak ya, ngerock begitu dan sekali lagi teriakan Ariel itu lama-lama terdengar „gahar“, hehe. „Yang Terdalam“ asik juga ya, „Semua Tentang Kita“ kok mewakili perasaan saya saat rindu teman-teman, „Topeng“ seru juga nih, „Tak bisakah“ bisa membuat kepala goyang-goyang (pantas saja sampai dijiplak oleh penyanyi India dan jadi lagu India), „2DSD“ seru nih apalagi pas lihat mereka memainkannya dengan Kang Capunk (kecengan saya dari SMA, haha) dan Kang Noey Java Jive, dan ternyata „Mimpi yang Sempurna“ yang dulu saya ejek-ejek enak didengar dan liriknya oke. Belum lagi „Kukatakan dengan Indah“, „Melawan Dunia“, „Di Balik Awan“, dll. Sejak itulah saya diam-diam menyukai lagu-lagu Peterpan. Bukan Arielnya. Sosok Ariel baru saya perhatikan setelah dia divonis dan saya tulis di sini. Lama-lama diperhatikan dan mengikuti berita-beritanya, memang menarik juga orang ini, hehehe. Sejak itu diam-diam saya juga menjadi penggemar-nya Ariel. Dia sosok yang punya pengaruh kuat, sampai teman-temannya saja begitu mendengarkan dia. „Juragan“ kalau kata si Kang Capunk sih.

Lagu-lagu Peterpan kemudian menjadi teman setia saya saat menulis disertasi, selain lagu-lagu Pearl Jam, Sting, Alanis dan tentu saja Chrisye serta lagu-lagu dan musik-musik lain yang sesukanya saya putar, tergantung mood. Dari mulai klasik sampai dangdut, dari mulai lagu berbahasa Inggris sampai lagu India, dari lagu Batak sampai Papua, dari mulai lagu solo, duet, choir sampai instrumental. Lagu-lagu dan musik dari Peterpan selalu ada setiap hari. Berita tentang mereka dan tentang Ariel, terutama belakangan ini, jadi semakin diikuti bahkan dibahas sambil ketawa-ketawa dengan sahabat-sahabat saya dan akhirnya membuahkan ide gila memasang foto Ariel sebagai avatar account twitter kami. Ceritanya mau jadi groupies, tapi tengsin juga, haha. Coba, sejak kapan saya bisa tergila-gila pada seorang penyanyi atau kelompok band sampai segitunya. Sebagai penggemar berat Pearl Jam dan Eddie Vedder saja tidak saya pasang fotonya. Pearl Jam dan Peterpan memang tak bisa dibandingkan, selain bahwa saya menyukai keduanya dengan alasan lagu, lirik dan suara serta penampilan vokalisnya. Yang terakhir ini tak terelakkan lah, hehe. Saya jadi mengerti mengapa para perempuan itu begitu histeris begitu melihat Ariel, yang juga menarik perhatian para lelaki, “Suami gue aja suka”, kata seorang sahabat.

Kesukaan saya pada Peterpan semakin bertambah dengan keluarnya lagu “Dara” yang diciptakan Ariel di penjara. Sebuah lagu sederhana dengan lirik yang dalam. Saya pernah merasa sangat terhibur mendengar lagu ini saat sedang down. Kemudian album instrumental „Suara Lainnya“ menambah kekaguman saya pada mereka. Ini bukan Peterpan, dan cocok karena mereka memang akan ganti nama. Aransemen ulang dari lagu-lagu mereka benar-benar top. Orkestrasi yang megah di lagu „Di Atas Normal“, „Bintang di Surga“, „Melawan Dunia“,  instrumen karinding dan suling Sunda memberi efek misterius dan magis di lagu „Sahabat“, saluang yang menyayat hati di „Di belakangku“, biola yang semakin menyayat hati ditingkahi permainan pianonya David di „Taman Langit“ dan „Kota Mati“, serta bossanova yang benar-benar soothing dan relaxing di „Walau Habis Terang“ dan „Langit Tak Mendengar“. „Cobalah Mengerti“ dibuat slow dan dinyanyikan oleh Momo Geisha. Bagus sih, tapi untuk saya terlalu menghiba. Saya tetap lebih suka versi Ariel yang „gahar“ dan „cowok sekali“. „Dara“ pun dimasukkan ke dalam album ini. Memberi efek menenangkan dan menghibur hati.

Dan eforia kebebasan Ariel ternyata sampai juga ke Jerman, diiringi rasa kagum pada perjalanan, jatuh bangun dan kekompakan band ini, pada musikalitas mereka yang semakin matang, lirik yang masih puitis tapi tidak “sok rumit” lagi, seperti pada “Separuh Aku” lagu baru mereka dari album yang belum keluar tapi sudah bocor di youtube, pada semua personelnya yang sederhana dan „manusiawi“, tentu saja pada Ariel yang tetap jadi magnet utama –lepas dari berita apapun tentang dia, saya kemarin melihat mata yang lelah dan kosong di sana, sangat „manusiawi“. Ah ya, selain Ariel, saya punya „kecengan“ baru di Peterpan: David, sang keyboardist dan pianist, hehe. Masuknya David yang punya latar belakang piano klasik membawa warna baru untuk musik Peterpan sehingga tidak terlalu nge-pop lagi. Album „Suara Lainnya“ boleh dibilang albumnya David. Kuat sekali dia di sana. Selain memang dia jago main keyboard dan piano (dan juga gitar), gaya mainnya itu lucu menurut saya: sampai merem-merem. Menghayati sekali. Tampangnya yang lucu jadi terlihat makin lucu saat main, hehe.

Jadi lengkap sudah alasan mengapa saya kemudian berani mengakui bahwa saya adalah penggemar Peterpan. Walaupun terlambat tahu, tapi boleh diuji  soal cerita, lagu-lagu mereka dari album pertama sampai terbaru, termasuk gossip-gossip mereka, hehehe. Tidak kalah juga pengetahuannya dengan para remaja yang histeris setiap melihat mereka manggung, terutama melihat Ariel. Hanya saja saya belum jadi penggemar yang baik karena saya belum memiliki satupun CD album-album mereka, hehehe, aneh ya. Soalnya selama ini saya hanya mendengar dari youtube saja dan sekarang dari website resmi mereka yang untungnya bermurah hati memasang lagu-lagu mereka dari awal sampai yang terbaru. Nanti deh kalau pulang ke Indonesia saya beli semua CDnya. Lalu impian saya sebagai penggemar mereka (kalau groupies sih tidak lah ya) tentu saja melihat mereka konser secara langsung. Masa nonton konser Sting dan Coldplay sudah, konser Peterpan belum sih, hehe. Namun, saya tidak menyesali keterlambatan saya menjadi penggemar mereka, karena saat ini saya justru bisa melihat banyak sisi lain dari band yang bagus ini: kekompakan, setia kawan, kesederhanaan, konsistensi dan mau terus belajar.