Enam-Enam: Menuliskan Terima Kasih

Tanggal 23 November 6 tahun lalu saya terkantuk-kantuk mengikuti salah satu perkuliahan yang namanya entah lupa (saking tidak menariknya mata kuliah itu). Untuk menghilangkan rasa kantuk yang semakin menyerang saya baca cerpen Kafka „Heimkehr“ yang ada di buku Fremdgänge. Iseng saya terjemahkan, dan selesai sebelum perkuliahan selesai.  Hasil dari perjuangan melawan kantuk itu yang menjadi postingan awal blog. Awal saya menulis lagi setelah 6 tahun juga memutuskan berhenti menulis.

Sebagai seorang yang cenderung introvert dan reseptif, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena saya bisa menuliskan apapun tanpa  perlu malu dan takut diprotes. Alhasil saya punya banyak buku harian dari sejak SD sampai tahun 1997. Pada tahun itu, di Köln, saya memutuskan untuk berhenti menulis di buku harian dan juga memutuskan untuk berhenti menangis. Maklum, saya bisa menulis sambil dan sampai menangis.  Berada sendirian di tempat yang jauh dari rumah , dari orang-orang yang saya cintai dengan sarana komunikasi yang terbatas, email belum memasyarakat di Indonesia, biaya telefon yang mahal, sms belum ada, surat yang baru tiba 2 minggu setelah dikirimkan, membuat saya harus bisa bertahan sendiri. Namun, tentu saja kebiasaan menulis (yang benar-benar menulis dalam arti menulis dengan tangan) tidak bisa hilang begitu saja. Peristiwa, pengalaman, perasaan, pikiran saya tuliskan dalam bentuk surat yang selalu panjang, berlembar-lembar pada sahabat-sahabat saya. Sekarang, di era serba elektronik ini, kebiasaan menulis surat ditulis tangan ini saya rindukan.  Saat ini saya sedang mencoba lagi berkirim kartu pos dengan sahabat di Bandung.

Setelah 6 tahun berhenti menulis  buku harian, sebagai gantinya saya menulis dalam bentuk surat pada sahabat dan teman, serta dan berubah menjadi Dian yang cerewet, Dian menjadi pengajar, karena dengan mengajar semua kegelisahan dan pikiran bisa tersalurkan. Beberapa teman menyarankan saya membuat blog, tapi saya tidak mau saat itu. Saya bukan orang yang cukup percaya diri untuk membuka diri saya pada publik. Namun, saya iseng juga mencoba membuat blog di Friendster yang akhirnya tidak pernah diisi sama sekali. Kemudian Jeng ini datang dengan ide Diary Project-nya. Dia tidak memaksa saya ikut, dia hanya memberikan pemberitahuan tentang kegiatan itu sambil bilang selewat, „ikut ya, jeng“. Saya yang pada saat itu sedang berada di titik terendah hidup saya melihat ini sebagai kesempatan yang bagus untuk menuliskan lagi apa yang saya rasa, saya lihat, saya dengar, saya pikir dalam bentuk buku harian. „Tugasnya“ mudah, yaitu menuliskan apa saja selama bulan September saat itu. Ternyata, itu bukan tugas yang mudah juga. Saya sering kehabisan ide untuk menulis apa, walaupun pada akhirnya tidak punya ide pun bisa jadi bahan tulisan. Saya rasa ini pancingan yang bagus, karena saya kemudian jadi terbiasa mempertanyakan kembali, mendengar dan melihat kembali banyak hal dari banyak sisi. Hal ini membantu saya juga menstrukturkan lagi pikiran dan merekam kembali perasaan saya untuk kemudian berjarak dan melihatnya dengan perspektif lain. Dimulai dengan tulisan tentang komentar salah seorang penyiar radio Bayern Drei tentang penggunaan bahasa Jerman yang kemudian di diary saya jadi berkembang ke tema politik bahasa, diary bulan September itu diakhiri dengan kesan terhadap Catatan Pinggir-nya  Goenawan Mohamad tentang meninggalnya Munir. Ya, di dalam diary project saya, saya menulis tentang meninggalnya Munir, meninggalnya Nurcholis Madjid, meninggalnya Paus Johannes Paulus II, menulis tentang terbakarnya perpustakaan Anna Amalia di Weimar yang menghanguskan sejumlah karya besar yang fenomenal, menuliskan kembali tema-tema perkuliahan di kelas, menuliskan percabangan ide saat menulis makalah, menuliskan catatan perjalanan saya ke beberapa kota di Jerman, menuliskan pemaknaan terhadap hidup, mati, kehidupan dan kematian, sampai hal-hal sepele seperti pelajaran naik sepeda yang penuh canda, juga gigi yang dicabut dan membuat saya tidak bisa tidur. Pada akhirnya saya tidak bisa berhenti . Saya melanjutkan kebiasaan menulis diary lagi dalam bentuk elektronik, karena memang kenyataannya saya jadi semakin jarang menulis di buku harian lagi dengan tulisan tangan.

Dengan mengikuti diary project ini, otomatis diary saya akan dibaca oleh orang lain. Hal ini membantu saya untuk bisa lebih membuka diri tentang perasaan, dan pikiran saya. Namun, tetap saja, tawaran untuk membuat blog tidak saya indahkan, walaupun saya selalu iseng mencoba-coba seperti apa sih blog itu. Sampai kemudian salah seorang teman mengundang saya untuk membuat blog di Multiply dalam rangka berlatih menulis dan saling mengingatkan untuk menyelesaikan tesis.  Tidak bertahan lama, blog itu kembali kosong karena saya tetap merasa tidak nyaman saat tulisan saya dibaca orang, apalagi dikomentari oleh orang lain.

Menulis blog memang saya belum mau, tetapi blog walking menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya menemukan blog yang isinya murni curhat dan buka-bukaan masalah pribadi sehingga saya kok merasa orang itu seperti di dalam aquarium, terlihat jelas oleh banyak orang, tetapi saya juga banyak menemukan blog yang menarik , bagus, dan inspiratif. Salah satunya blog bapak ini. Tahun 2002 saya nyasar ke blog bapak ini saat mencari keyword  “toko buku kecil” di google. Tahun 2005 saya nyasar lagi ke blog itu saat mencari keyword yang sama. Blog itu inspiratif dan menarik, ditulis dengan bahasa yang diusahakan ringan –kadang lucu tapi sinis- walaupun untuk tema-tema tertentu tetap saja sulit saya pahami, dan saya mendapat kesan “pencarian” yang tidak pernah berhenti dari si pemilik blog.  Temanya beragam, dari mulai sains, agama, musik, kopi, buku, orang-orang terkenal, peristiwa sehari-hari, banyak sekali. Kemudian saya berhenti pada halaman khusus tentang Wagner  dan saya iseng meninggalkan komentar di sana.Tidak disangka komentar saya dibalas dengan email pendek dan permintaan untuk menuliskan pengalaman saya selama 1 hari di Bayreuth.  Permintaan yang dilengkapi kata “Plizzzz…” itu membuat pikiran saya bergejolak dan merambat melewati ruang dan waktu.  Satu hari untuk saya bisa berarti kumpulan ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, hari ini dan khayalan saya tentang nanti. Alhasil saya memang menulis 6 halaman tentang 1 hari di kota Wagner ini. Bapak ini membaca saya. Saya tidak menduga bahwa tulisan itu akan dipasang di blognya, di halaman khusus tentang Wagner bergabung dengan tulisan-tulisan lain yang tentu saja jauh lebih bagus.  Tulisan saya bukan apa-apa, walaupun ini cukup membuat rasa percaya diri saya untuk terus menulis menjadi bertambah. Namun, bapak ini juga tidak bisa membuat saya mau membuat blog sendiri. „Aquarius sejati tidak suka dipaksa“ demikian tulis saya saat itu dan „Gemini sejati tidak pernah memaksa“ katanya. Jadi, saya tetap menulis seperti biasa dalam diary saya dan dalam bentuk surat elektronik.

Kemudian sahabat saya ikut meminta saya membuat blog. Sahabat yang mau dan rela membantu saya yang gaptek untuk urusan komputer, internet, dll, sahabat yang menemani saya begadang dan sahabat yang mau merelakan dirinya didebat dan dikerjai oleh saya yang cerewet dan menyebalkan ini. Namun, tentu saja saya tetap keukeuh tidak mau, tidak ada alasan yang mampu membuat saya bergerak membuat blog. Dia juga tidak mau memaksa, tahu saya tidak suka dipaksa, tetapi dia hanya mengeluarkan satu komentar yang membuat kekeraskepalaan saya rontok, “Bilang aja lu takut. Elu kan memang penakut”. Wah, kalimat itu langsung menohok saya. Tampaknya saya memang hanya membuat segala macam pembenaran yang terlihat logis untuk menutupi banyak ketakutan dan rasa tidak percaya diri saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat membuat blog dengan domain sendiri, tetapi semua itu harus sahabat saya yang mengurus, saya tahu beres. Dia menyanggupi dan akhirnya semua berlangsung cepat sampai saya memiliki domain dian.or.id. Namun, dasarnya saya gaptek, pemalas, dan belum sepenuhnya yakin dengan diri saya sendiri, blog di domain itu terbengkalai juga. Saya lebih sering menulis di Multiply.  Dan ketika beberapa kali menemui kesulitan mengoperasikan blog saya di domain dian.or.id itu, saya yang tidak sabaran lebih memilih tidak melanjutkan kepemilikan domain itu, namun berganti menulis di blog gratisan ini. Sampai sekarang, selama 6 tahun. Dan sahabat saya masih setia menemani saya menulis, memberikan ide dari bincang-bincang kami yang bisa berlangsung berjam-jam, memandu saya dari jauh jika saya punya masalah dengan internet dan aplikasi yang aneh-aneh, bahkan suka rela memperbaiki  laptop kesayangan saya yang menggunakan bahasa paling menyesatkan sedunia tu.

From this moment. Saya suka lagu Shania Twain dengan judul yang sama. Lagu cinta. Namun, untuk saya “from this moment” adalah saat-saat saya merekam segala yang saya cerap dan inderai dalam hidup saya, kemudian saya tuliskan. Di mana pun saya berada. Bahkan menulis di sini membantu saya menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang karena beragam faktor harus saya tulis. Kutipan dari Khalil Gibran tentang waktu “ kemarin hanya ingatan dari hari ini dan esok adalah mimpinya (…) biarkan hari ini memeluk masa lalu dengan ingatannya dan masa depan dengan rindunya” saya pasang di blog saya sebagai pengingat agar saya memaknai hari ini, hari yang tak bisa lepas dari hari kemarin, namun tetap diwarnai mimpi tentang esok hari. Warna hijau yang mendominasi blog-blog saya membantu saya untuk berpikir lebih segar dan positif, selain karena warna ini juga memang warna kesukaan saya. Foto pepohonan, sungai,  dan jembatan yang saya ambil saat-saat saya melintasi Hofgarten selalu mengingatkan saya pada hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang sejuk. Hidup yang tenang dan menyejukkan.

Saat ini, enam tahun saya menulis setelah enam tahun saya berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih khusus pada ketiga sahabat saya tadi, karena mereka selalu ada, menyemangati, dan menemani saya menuliskan hari-hari saya dengan tulisan-tulisan mereka yang inspiratif dan menyejukkan.  Menulis tanpa titik berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada hidup yang sudah menjadi mata air dari semua yang saya tulis. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada waktu dan Sang Pemilik Segala Waktu.

Untuk: Tarlen, Koen, dan Insan. Terima kasih karena kalian ada. Untuk menulis.

Advertisements

Demonstrasi

Seminggu ini perkuliahan tidak berjalan seperti biasanya, karena sejak tanggal 17 November di seluruh universitas di Jerman diadakan demonstrasi menentang diberlakukannya uang kuliah (Studiengebühren) dan dilaksanakannya program bachelor dan master yang sangat ketat, terutama di urusan kehadiran mahasiswa. Hari Rabu kemarin saat saya datang untuk ikut Vorlesung Textlinguistik, Hörsaal sudah „diduduki“ oleh mahasiswa yang berdemo, menurut seorang teman ruangan kelas yang lain pun „diduduki“. Mereka mengadakan diskusi terbuka, memasang spanduk-spanduk bernada protes, bahkan sampai menggelar sleeping bag dan tidur di kampus. Dosen saya berdiskusi sejenak untuk kemudian mengumumkan bahwa kuliah hari itu ditiadakan, dan mempersilahkan mahasiswa untuk terus berdemo, jika memang tujuan mereka baik. Kemarin, dosen sosiologi saya juga merasa tidak enak hati melaksanakan perkuliahan karena mahasiswa yang lain masih berdemo. Pada akhirnya, kami memang tetap kuliah, dengan peserta 4 orang saja. Namun, kelas ini juga kelas kecil kok, mahasiswanya hanya 7 orang.

Saat saya tanya pendapat salah seorang teman tentang demo ini, dia termasuk orang yang tidak setuju demo diadakan di Bayreuth. „Ungerechfertigt“ katanya.  Masuk akal jika demo dilaksanakan di Berlin, Hamburg atau München yang mahasiswanya puluhan ribu, sehingga mereka tidak „terlayani“ dengan baik. Di satu sisi mungkin ada benarnya juga. Kampus Bayreuth itu kecil. Saat ini jumlah mahasiswanya hanya 9000 orang. Dibandingkan dengan Unpad saja masih lebih banyak Unpad mahasiswanya. Mahasiswa dilayani dengan baik di sini.Fasilitas disediakan. Dosen dan mahasiswa saling kenal secara personal, menyapa bahkan makan siang atau ngopi bersama di Mensa dan di Cafeteria. Bimbingan selain di Sprechstunde yang ditetapkan juga di jam-jam di luar itu. Email selalu dibalas cepat. Akses terhadap buku, jurnal ilmiah, dan internet yang seluas-luasnya dan sepuas-puasnya. Studentenbeitrag yang masih cukup murah (62 € saja selama satu semester) dan fasilitas-fasilitas lain seperti Studentenwohnheim, bentuk Campus-Universität yang berkumpul dalam satu lokasi sehingga memudahkan mahasiswa dan dosennya. Jika melihat itu semua memang rasanya apa lagi yang harus diprotes? Kalau masalah waktu belajar yang lebih ketat dibandingkan dulu, misalnya dengan diberlakukannya daftar hadir dan modul perkuliahan yang mengikat, bukannya tugas mahasiswa memang kuliah? Itu pendapat teman saya.

Saya cukup setuju dengan pendapatnya. Namun, lepas dari masalah adil tidak adil, saya pribadi agak berkeberatan dengan pemberlakuan Studiengebühren. Sebagai pendukung pendidikan murah dan berkualitas, saya ingin sebisa mungkin setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Namun, tentu saja hal ini tidak bisa serta merta terjadi. Pendidikan pada kenyataannya semakin lama semakin mahal. Pemerintah pusat dan negara bagian tidak dapat secara penuh lagi membiayai universitas, karena dengan demikian mereka harus menaikkan pajak juga. Universitas tidak semudah itu bisa membiayai diri sendiri. Mereka bergantung juga dari penelitian dan kerja sama lainnya. Pada akhirnya ada fakultas yang basah dan ada yang kering.

Studiengebühren 500 € per semester dan biaya hidup minimal 500 € tentu bukan jumlah yang sedikit. Semakin ketatnya aturan perkuliahan juga mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk mencari job di luar waktu kuliah. Mungkin itu juga yang diprotes oleh mereka. Kebanyakan dari mereka memang masih dibiayai oleh orang tuanya. Namun, tidak semua orang tua mampu memberikan biaya penuh, karena mereka pun masih harus membayar pajak dan asuransi. Pemerintah negara bagian dan pemerintah pusat memberikan pinjaman lunak lewat BAföG atau KfW-Darlehen (di negara Bagian Bayern). Pinjaman bisa dibayar sampai mereka lulus kuliah bahkan setelah lulus kuliah. Beasiswa pun banyak diberikan, dengan catatan tentu prestasi selama studi pun bagus.  Berkuliah pada akhirnya memang terbuka untuk yang mampu, yang tidak mampu lebih memilih pendidikan praktis yang memungkinkan mereka langsung bekerja. Sementara setelah selesai kuliah, mencari pekerjaan pun tetap saja sulit.

Yang menjadi dilema adalah mereka sekarang ini dituntut oleh sistem pendidikan yang ketat dan menuntut cepat selesai, di lain pihak kebutuhan hidup dan biaya untuk kuliah sendiri membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kadang mahasiswa harus mengikuti ekskursi ke luar kota bahkan ke luar negeri. Belum lagi pengeluaran untuk foto copy atau buku. PIlihannya adalah kuliah tapi tidak punya uang dan ada kemungkinan berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya, atau bekerja tapi kuliah jadi terbengkalai. Dijalani keduanya? Jangan heran jika kemudian banyak mahasiswa yang stress dan jatuh sakit. Demonstrasi kemarin mungkin salah satu reaksi terhadap sistem yang semakin lama mungkin terasa menekan.

Situasi dan dilema semacam ini terjadi di seluruh dunia saya rasa. Di Indonesia rasanya lebih parah lagi. Pendidikan semakin lama semakin mahal, apalagi pendidikan tinggi. Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan hal ini saya rasakan betul situasi yang dilematis ini. Di satu sisi pendidikan idealnya murah tapi berkualitas, namun di sisi tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama pendidikan semakin terindustrialisasikan. Dan ketika pendidikan sudah menjadi industri, mungkin gedungnya jadi semacam pabrik, dosen-dosen hanya jadi mesin yang memproduksi barang-barang pabrik yang seragam. Dan tiba-tiba saya teringat pada sepenggal paragraf dalam monolog Perang Klamm „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“ Semoga tidak terjadi.

Perubahan Lain

Selain perubahan di bidang pendidikan, perubahan di sektor ekonomi dan perbankan sangat terasa sekali di Jerman setelah 3 tahun ditinggalkan. Krisis ekonomi dunia terasa di berbagai sektor. Sektor pendidikan terkena imbas dengan dikenakannya biaya kuliah sebesar 500 € per semester dan ditutupnya atau digabungkannya beberapa jurusan yang dianggap „kering“ dan tidak adanya dukungan biaya lagi dari pihak universitas. Salah satunya jurusan Allgemeine Pädagogik, yang saya jadikan Nebenfach saat kuliah magister dulu, sekarang ini bergabung dengan jurusan Psychologie, Schulpädagogik, Grundschulpädagogik ke dalam satu jurusan besar bernama Jurusan Ilmu Pendidikan (Erziehungswissenschaft). Jurusan-jurusan ini memang termasuk yang kurang peminatnya. Mungkin juga kurang proyek yang menghasilkan uang. Beberapa jurusan di bidang ilmu murni (ilmu alam dan ilmu sosial) mengalami pengurangan dana. Sebaliknya Fakultas Ekonomi dan Fakultas Informatika serta ilmu alam terapan (Angewandte Naturwissenschaft) semakin berkembang dan semakin diminati, sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman.

Jika di dunia pendidikan fakultas ekonomi semakin diminati, tidak demikian yang terjadi di lapangan. PHK justru terjadi di mana-mana. Perusahaan besar yang eksis puluhan tahun sudah mulai gulung tikar. Bank-bank besar merger dengan bank-bank asing. Prosesnya tidak drastis dan kentara memang. Saya yang awam di bidang ekonomi memperhatikannya dari barang-barang yang harganya semakin mahal tetapi kualitasnya menurun, diskon besar-besaran di semua toko untuk menghabiskan stok barang, toko-toko buku yang bangkrut, asuransi kesehatan yang semakin sedikit mengcover biaya pengobatan, biaya ini itu yang dulu tidak ada, dan semacamnya. Hal-hal keseharian yang membuat uang mengalir begitu saja tak ada artinya dan tak terasa.

Beberapa waktu lalu perusahaan besar Karstadt akan ditutup, karena tidak mampu membayar utangnya. Akhirnya anak perusahaannya, yaitu Quelle, yang ditutup terlebih dahulu dan ribuan karyawannya di seluruh Jerman di-PHK. Pabrik mobil Opel pun sudah terancam akan dijual. Dresdner Bank sejak beberapa waktu lalu merger dengan Commerzbank. Citi Bank Jerman sudah dijual kepada Crèdit Mutual Perancis dan mulai tahun depan, Citi Bank Jerman yang sudah dimerger itu hanya akan online di Eropa, tidak di seluruh dunia. Selain pajak yang bertambah besar, uang pensiun pun hanya dibayarkan selama 11 bulan. Issue yang beredar bahwa uang pensiun akan diturunkan jumlahnya, memang tidak terbukti, tapi dengan hanya dibayar 11 bulan, rasanya tetap sama saja dengan pengurangan jumlah itu.

Satu lagi yang sangat terasa dari krisis ekonomi di Jerman ini adalah dikenakannya biaya administrasi yang cukup besar untuk rekening giro tabungan kita, sementara sejak dulu memang sistem perbankan Jerman tidak menerapkan bunga untuk rekening giro. Untuk Sparkonto pun hanya mendapatkan bunga 1%  per tahun.  Dulu mudah sekali untuk mengajukan Dispositionskredit, sekarang sulit dan persyaratannya semakin ketat. Belanja kebutuhan sehari-hari satu bulan saja bisa lebih dari 200 €. Padahal kalau dilihat-lihat jumlahnya hanya itu-itu saja, tidak banyak. Sebagai orang yang awam ekonomi, saya cuma bisa merasakan dan menghitung-hitung, serta menyiasati bagaimana dengan uang sedemikian (sudah dipotong sewa rumah termasuk pemanas, listrik, air dan telefon, asuransi kesehatan, makan, kebutuhan hidup lainnya termasuk perlengkapan untuk musim dingin) saya masih bisa menabung, membeli buku, dan jalan-jalan : )

Ini sudah rejeki tak terkira untuk saya, karena ternyata saya masih bisa melakukan itu semua. Banyak orang yang terkena imbas krisis ini secara langsung. Banyak orang di belahan dunia lain yang lebih menderita dari saya dan orang-orang yang hidup di sini. Kemarin malam seorang sahabat saya bercerita tentang pelanggannya yang tidak puas dengan kopi yang dibelinya dan kemudian mengembalikannya. Alasan mengembalikannya pun bukan karena hal yang krusial. Jika dikembalikan, kopi itu tentu tidak bisa dijual lagi dan hanya akan masuk tempat sampah. Padahal di belahan dunia lain orang bekerja mati-matian untuk dapat membeli kopi, bahkan keringat dan darah pun dikeluarkan untuk sebuah produk yang akhirnya dibuang begitu saja ke tempat sampah karena di pelanggan tidak menyukai taruhlah kemasannya yang kusut. Benturan antara kepuasan pelanggan dan merasa mubazir membuang-buang makanan membuat sahabat saya merasa cukup tertekan, karena dia sadar, di Indonesia banyak orang yang membutuhkan itu semua dan berjuang mati-matian hanya untuk sekedar bisa hidup. Mengamati situasi sekarang dan mendengar semakin banyaknya rang-orang Jerman yang mengeluh tidak bisa lagi melakukan ini itu, membuat saya semakin bersyukur bahwa saya datang dari negara yang situasinya lebih sulit dari di sini. Setidaknya saya jadi malu hati untuk mengeluh, karena sama sekali tidak ada yang bisa saya keluhkan. Karena semua yang saya hirup, saya tatap, saya kunyah, saya resap, semua, semuanya nikmat yang benar-benar tidak bisa saya dustakan.

Perubahan

Tiga tahun ditinggalkan, bukan berarti tidak ada yang berubah di Bayreuth. Hal yang paling kentara tentu saja perubahan di universitas, yang membuat saya mau tidak mau harus menyesuaikan diri lagi. Jadi, September 2006 saat saya pulang ke Indonesia terakhir kalinya di Bayreuth dan di hampir semua universitas di Jerman program lama digunakan dan kuliah tanpa biaya kuliah diberlakukan. Wintersemester Oktober 2006 mulai diberlakukan program baru yaitu program bachelor dan master. Di beberapa jurusan dan universitas program bachelor dan master ini sudah diberlakukan sebelumnya. Hanya Oktober 2006 semua universitas di Jerman sudah harus mulai memberlakukan ini, dan program lama yaitu diplom dan magister lambat laun dihilangkan. Tahun 2007 mulai diberlakukan Studiengebühren (uang kuliah) merata di seluruh Jerman (info terbaru, di Berlin masih bebas biaya kuliah).

Apa bedanya? Sistem pendidikan di Jerman berlangsung sampai kelas 13 (Gymnasium, seperti sekolah menengah umum). Setelah itu siswa bisa langsung meneruskan ke universitas atau Fachhochschule (FH) atau sekolah tinggi yang lain, misalnya Technische Hochschule atau TH atau Kunsthochschule, dll. Mereka yang memilih bidang ilmu sosial, humaniora, dan filsafat masuk ke program magister, dan mereka yang berkutat dengan ilmu eksakta, teknik, kedokteran (dan yang kebanyakan berhubungan dengan angka-angka dan hitung-hitungan) masuk ke program diplom. Yang masuk ke program magister akan mendapat gelar Magister Artium untuk pria, dan Magistra Artium untuk perempuan, keduanya disingkat M.A.. Untuk program diplom, gelarnya sesuai dengan bidang yang ditekuni, misalnya Diplom Ingenieur (Dipl.Ing.) untuk bidang teknik, Diplom Medizin (Dipl.Med.) untuk kedokteran, Diplom Wirte/Wirtin (Dipl.Wirt.) untuk bidang ekonomi atau Diplom Kaufmann (Dipl.Kauf.) juga untuk bidang ekonomi. Selesai melaksanakan program Magister atau Diplom yang waktu reguler kuliahnya 5 – 7 tahun (sama dengan batas maksimal S1 di Indonesia), mereka bisa melanjutkan lagi ke jenjang doktoral atau Promotion. Jenjang doktoral yang biasanya langsung masuk ke penelitian berlangsung antara 3 – 5 tahun.

Sistem pendidikan di Jerman memungkinkan setiap individu bebas memilih bidang mana yang dia sukai yang juga sesuai dengan kemampuannya. Masa sekolah dasar 4 tahun, setelah itu siswa diberi kesempatan memilih apakah akan masuk ke Realschule, Hauptschule, atau Gymnasium. Di tingkat pendidikan tinggi, pilihan semakin luas. Di program magister, mahasiswa mengambil 1 jurusan sebagai Hauptfach (jurusan utama, mayor) dan 2 jurusan lainnya sebagai Nebenfach (jurusan sampingan, minor). Mahasiswa boleh mengambil kombinasi jurusan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Ada mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa Jerman sebagai jurusan utama, dan ekonomi serta geografi sebagai jurusan sampingan Selama dia mau dan mampu mengapa tidak? Saya sendiri saat itu mengambil kombinasi jurusan Interkulturelle Germanistik, Germanistische Linguistik, dan Pädagogik. Pertimbangan saya saat itu adalah minat dan kesejajaran program yang juga cocok dengan pekerjaan dan hobby saya sebagai pengajar. Pilihan yang tepat saya rasa, karena ketiga jurusan itu saling melengkapi satu sama lain. Namun, walaupun kita tidak mengambil salah satu jurusan sebagai major dan minor kita, mahasiswa tetap boleh mengikuti perkuliahan yang diadakan oleh jurusan lain. Saya cukup sering ikut kuliah di jurusan sosiologi, dan pernah ikut kuliah di jurusan didaktik kimia (bahkan bekerja di sana), karena saya tertarik pada tema-tema yang diberikan di sana. Untuk program diplom, ada yang menawarkan variasi pilihan program, tetapi tidak sebanyak magister, ada pula yang tidak.  Selain program diplom dan magister, ada juga program Lehramt untuk mereka yang ingin menjadi guru sekolah dasar dan sekolah menengah.

Jenjang studi di setiap program dibagi menjadi Grundstudium (semester 1 – 4) dan Hauptstudium (semester 5 – 8). Untuk masuk ke Hauptstudium mahasiswa harus mengikuti dulu ujian Vordiplom (untuk program Diplom) atau Zwischenprüfung (untuk program Magister). Ujian akhir disebut Diplomprüfung dan Magisterprüfung. Bentuk ujiannya tertulis dan lisan. Selain itu mahasiswa masih harus menulis Diplomarbeit atau Magisterarbeit (semacam tesis). Karena mahasiswa mengambil Hauptfach dan Nebenfach, maka mereka mengikuti ujian Vordiplom atau Zwischenprüfung serta ujian Diplom dan Magister di semua jurusan yang mereka ambil. Misalnya saya mengambil Interkulturelle Germanistik sebagai Hauptfach, maka saya menulis Magisterarbeit untuk bidang ini, melaksanakan ujian tertulis selama 4 jam, dan ujian lisan selama 1 jam. Di jurusan germanistische Linguistik dan Pädagogik saya hanya perlu melaksanakan ujian lisan (boleh memilih antara ujian lisan atau tertulis) di masing-masing jurusan selama 30 menit. Jadi total untuk mendapatkan gelar Magister/Magistra mahasiswa harus menulis 1 tesis, 1 ujian tertulis dan 3 ujian lisan. Tesis tidak diujikan dan tidak dipertahankan. Tema ujian dan dosen yang akan menjadi penguji ditentukan oleh mahasiswa yang bersangkutan, sesuai dengan tema dan minatnya. Bahan ujian sifatnya komprehensif yang berasal dari mata kuliah-mata kuliah yang dipelajari oleh si mahasiswa selama masa studinya.

Jika pada akhirnya banyak mahasiswa program magister atau diplom bisa kuliah sampai lebih dari waktu reguler studi (8 semester), bahkan ada yang sampai 10 tahun, selain karena harus kuliah di 3 jurusan (dan di setiap jurusan harus ada ujian), juga karena kebebasan yang diberikan untuk mahasiswa memilih berapa mata kuliah yang akan dia ikuti di setiap semester. Jika mereka malas atau sibuk bekerja, dalam satu semester dia bisa tidak kuliah sama sekali. Jika rajin dan tidak ada kesibukan, dalam satu semester dia bisa mengambil banyak mata kuliah. Namun, jangan harap bisa seperti di Indonesia yang satu semester mahasiswa bisa mengambil 22 SKS, bahkan lebih, di sini mengambil 10 SKS saja sudah cukup membuat terengah-engah. Bahan kuliah dan tuntutan bacaan yang banyak membuat saya pernah hanya sanggup mengambil 3 mata kuliah masing-masing 2 SKS. Untuk jurusan eksakta, jenis praktikum yang beragam juga menuntut konsentrasi penuh. Kebebasan, sekaligus kemandirian, dan kemampuan mengenali diri memang dituntut oleh program „klasik“ ini. Tidak ada daftar hadir mahasiswa, ujian akhir biasanya berupa makalah yang bisa dikerjakan kapanpun, tidak ada batas. Bahkan banyak mahasiswa yang hanya datang di awal kuliah, setelah itu tidak pernah masuk lagi, hanya datang ketika ujian atau ketika menyerahkan makalah. Ini tidak menjadi masalah, karena bahan kuliah untuk satu semester sudah diberikan di awal perkuliahan lengkap dengan referensi buku yang biasanya disimpan di perpustakaan di Semesterapparat dosen pengasuh mata kuliah tersebut. Saking bebasnya, saya pernah menunda makalah selama satu tahun.

Mata kuliah yang ditawarkan cukup banyak, namun hanya beberapa saja yang wajib diikuti, karena dalam satu program (sampai jenjang Magister berakhir misalnya) mahasiswa hanya wajib mengumpulkan beberapa Schein (nilai) yang disyaratkan oleh setiap program studi. Misalnya 4 Leistungscheine di Proseminar (seminar untuk Grundstudium) dan 2 Leistungsscheine di Hauptseminar (seminar untuk Hauptstudium) yang didapat setelah mahasiswa melakukan presentasi dan membuat makalah atau ujian lisan atau juag ujian tertulis di kelas, ditambah dengan Teilnahmeschein (Schein yang tidak diberi nilai, hanya bukti kehadiran saja, biasanya diberikan dengan syarat kita harus rutin hadir, membuat protokol, atau melakukan presentasi kecil).

Bentuk perkuliahan dibagi menjadi Vorlesung (kuliah umum), biasanya diadakan di aula dan dosen memberikan kuliah, mahasiswa mendengarkan, kemudian Seminar (Pro- dan Hauptseminar) di ruangan yang lebih kecil, dosen lebih berperan sebagai fasilitator diskusi. Ada juga praktikum, selain itu masih ditambah juga dengan tutorium sebagai tambahan dan pendalaman untuk mata kuliah tertentu jika dianggap perlu.

Tradisi pendidikan tinggi yang menjadi kebanggaan orang Jerman ini (karena sangat berbeda dari negara-negara Eropa lainnya) berubah pada tahun 1999 dengan ditandatanganinya Bologna-Process oleh negara-negara anggota Uni Eropa yang mengusung issue rencana politis terciptanya pendidikan Eropa yang satu sampai batas tahun 2010. Tahun 2010 semua negara anggota Uni Eropa sudah harus menerapkan sistem ini.  Perubahan ini bukan tanpa protes, Jerman adalah salah satu negara yang lambat melaksanakan program ini, karena penduduknya (terutama pelaku dunia akademis kalangan “tua”) tidak setuju dengan perubahan sistem pendidikan ini. Protes terjadi di mana-mana, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang muda kebanyakan setuju karena pendidikan tinggi menjadi lebih padat dan singkat, semua seragam di setiap negara anggota Uni Eropa, sehingga mahasiswa Jerman bisa kuliah di Inggris atau Perancis dengan mudah, karena nilai yang sudah didapat bisa ditransfer. Yang kontra biasanya kalangan tua yang tidak ingin Jerman kehilangan „tradisi“ pendidikan tingginya yang sudah berjalan ratusan tahun.

Sistem penilaian ini yang dilansir dalam Bologna-Process ini disebut dengan European Credit Transfer System (ECTS). Program di perguruan tinggi pun menjadi program Bachelor (B.A) dengan mengumpulkan poin sebanyak 180−240 ECTS dan jika ingin lanjut ke program master harus mengumpulkan  poin sebanyak 90−120 ECTS-Credits (minimal 60).

Perubahan inilah yang saya lihat saat saya “salah masuk” ke kelas pengantar analisis wacana untuk mahasiswa Bachelor semester 1. Mereka ternyata “hanya” kuliah di satu program saja, dengan modul perkuliahan yang sudah disiapkan. Begitu juga untuk program  master. Salah seorang teman saya yang sudah mengikuti program master pada tahun 2004 di Freiburg sudah melakukannya. Salah seorang teman di Heidelberg mengikuti program master dengan perkuliahan yang padat dari jam 9 sampai jam 17 dari Senin sampai Jumat, dengan masa studi 18 bulan. Dia berkuliah di satu jurusan saja. Satu hal yang mustahil dilakukan dalam program Diplom dan Magister.

Dalam setiap perubahan ada sisi positif dan negatifnya. Menghindari adanya mahasiswa abadi yang tak kunjung selesai kuliah (dengan berbagai alasan, status mahasiswa itu tetap membawa keuntungan tertentu), maka program Bachelor dan Master ini cukup tepat. Namun, melihat “pemaksaan” materi perkuliahan yang cenderung dipaksakan membuat mahasiswa jadi tidak mendalami apa yang dipelajarinya. Tidak heran banyak mahasiswa yang stress karena waktu perkuliahan yang padat. Lepas dari itu semua, saya sempat berpikir tentang “uniformitas” pola pikir dan “penyamarataan” manusia. Agak mengerikan, karena mahasiswa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam dunia yang universal, tetapi menjadi manusia yang seragam dengan manusia yang lain. Alasan politis, sudah jelas. Alasan ekonomi, tentu saja (sekarang mahasiswa sudah harus membayar 500 € setiap semester, termasuk murah jika dibandingkan dengan uang kuliah di Inggris dan Amerika). Alasan lain, siapa yang tahu. Ketika universitas sudah menjadi uniformitas, menjadi diri sendiri butuh perjuangan ekstra keras. Ini curhat pribadi, mungkin karena saya termasuk produk lama, saat uang kuliah belum diberlakukan di Jerman, saat kuliah di tiga jurusan masih diberlakukan. Dan hidup memang akhirnya mengalir mengikuti waktu. Globalisasi datang, tidak ada yang bisa membendung dan lepas darinya. Jadi, kita ikuti saja. Ada bagusnya juga, minimal saya terpacu (atau terpaksa) untuk menyelesaikan jenjang yang saya ikuti sekarang selama 3 tahun, dengan aturan ini itu yang mungkin berguna  juga diterapkan untuk saya yang lebih suka bebas ini. Harus agak diikat sedikit :)