Geschwister Scholl: Sebuah Semangat

Geschwister Scholl (Scholl Bersaudara) mungkin menjadi salah satu nama jalan, tempat atau nama sekolah yang paling banyak ditemui di di Jerman. Nama ini diberikan untuk menghormati kakak beradik Hans dan Sophie Scholl yang dikenal karena keanggotaan mereka dalam kelompok Weiße Rose „Mawar Putih“, salah satu perkumpulan mahasiswa di München yang selama masa Perang Dunia II aktif menentang gerakan Nationalsozialismus dengan menyebarkan pamflet dan selebaran berisi protes dan perlawanan terhadap perang dan kediktatoran Hitler,

Hans dan Sophie adalah anak kedua dan ketiga dari keluarga Scholl. Hans lahir tanggal 22 September 1918 sedangkan Sophie lahir tanggal 9 Mei 1921di daerah sekitar Ulm. Seperti layaknya remaja masa itu, mereka pun masuk ke dalam organisasi pemuda di bawah Nazi yaitu Hitler Jugend dan Bund Deutscher Mädel. Bahkan Hans termasuk salah seorang anggota yang aktif dalam Hitler Jugend sampai dengan perkenalannya –kemudian menjadi anggota- dengan kelompok das Ulmer Volk yang didirikan oleh Max von Neubeck yang bersifat lebih „kiri“. Hans kemudian menjadi anggota, diikuti oleh Sophie, selanjutnya keduanya aktif menentang Nazi.

Peran aktif mereka dalam menentang Nazi semakin mendapat tempat saat mereka berkuliah di Ludwig Maximilian Universität München. Hans berkuliah kedokteran, sedangkan Sophie mengambil jurusan biologi dan filsafat. Di München inilah mereka bergabung dengan beberapa mahasiswa lain yang juga memiliki kegelisahan dan tujuan yang sama yaitu menentang Nazi dan menuntut kebebasan, keadilan serta kemandirian dalam berpikir dan bertindak. Mereka kemudian mendirikan perkumpulan „Weiße Rose“ atau Mawar Putih yang awalnya dimotivasi oleh kepercayaan mereka pada agama Kristen dan dalam perkembangannya diperkuat oleh kemarahan mereka terhadap deportasi dan perlakuan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan lawan-lawan politik Hitler.

Hans dan Sophie Scholl sendiri dididik dalam keluarga yang liberal dan sosialhumanis. Sastra, seni dan musik menjadi bagian dari masa kecil mereka. Faktor ini juga yang semakin memperkuat tekad mereka melawan kediktatoran Hitler saat itu. Gerakan perlawanan ini semakin menguat setelah Hans Scholl, Alexander Schmorell dan Willi Graf kembali dari penempatan mereka di Polandia pada tahun 1942 dan di sana menyaksikan pembunuhan massal serta penderitaan orang-orang Yahudi di ghetto di Warsawa

Para mahasiswa itu melawan dengan cara menyebarkan pamflet dan selebaran di kampusnya. Sayang, pada tanggal 18 Februari 1943 saat Hans dan Sophie Scholl sedang menyebarkan selebaran di hall kampus LMU, mereka tertangkap oleh pengurus kampus dan diserahkan kepada Gestapo. Tanggal 22 Februari 1943 mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati dengan guillotine dilakukan hari itu juga di penjara München-Stadelheim.

Hari-hari terakhir kedua bersaudara ini, terutama tentang Sophie Scholl, diangkat ke layar lebar dalam film berjudul „Sophie Scholl – die letzten Tage“. Film ini mendapatkan banyak perhargaan dalam berbagai festival film internasional dan dimainkan dengan sangat apik oleh Julia Jentsch, yang berperan sebagai Sophie. Tak heran dari perannya ini Jentsch dianugerahi gelar aktris terbaik dalam Festival Film Berlin tahun 2005.

Saya masih dapat mengingat adegan-adegan dalam film ini saat Scholl bersaudara menebarkan selebaran di hall LMU, kemudian keduanya tertangkap dan dibawa ke pengadilan. Dalam pembelaannya, Sophie berkata di depan majelis hakim „Di mana kami berdiri sekarang ini, di sini pula kalian akan berdiri tak lama lagi.“

Saya juga masih ingat bagaimana dalam film ini tokoh Sophie Scholl berusaha menjaga sikapnya untuk tetap tenang saat dibawa ke sebuah ruangan untuk menuliskan testamen terakhirnya. Di ruangan itulah dia tahu, bahwa orang tuanya datang menjenguk untuk memberikan dukungan. Sophie kemudian dibawa masuk ke sebuah sel, di mana Hans dan Christoph Probst –salah seorang teman seperjuangan mereka yang juga tertangkap- sudah menunggunya. Mereka kemudian merokok bersama untuk terakhir kalinya, kemudian berpelukan. Sophie dibawa lebih dulu, disusul oleh Hans yang masih sempat meneriakkan kalimat „Hidup kebebasan!“ sebelum dijatuhi guillotine.

Minggu lalu saya beruntung dapat mengikuti simposium yang mengambil tempat di gedung tempat kejadian bersejarah ini terjadi. Saya beruntung dapat berada di hall tempat kedua bersaudara ini berlari ke sana ke mari menyebarkan selebaran perlawanan. Hall yang hening dan megah. Di sana dipasang patung Sophie Scholl setengah dada. Patung yang selalu diberi bunga mawar putih oleh orang-orang yang datang ke sana. Di sebelah patung ini juga ada semacam tugu kecil tempat orang juga meletakkan vas bunga yang diisi bunga mawar putih yang terus diganti. Di tempat ini, tepatnya di bawah tangga, dibuat museum kecil tentang gerakan Weiße Rose. Tempat ini dulunya adalah tempat berkumpul para mahasiswa penentang ketidakadilan. Saya juga beruntung bisa berada di halaman depan pintu utama gedung universitas tua sarat sejarah bernama latin Vniversitas Lvdovic Maximona Censis, yang di lantai berbatu halamannya diberi tanda dari batu berupa „selebaran-selebaran“ kelompok Weiße Rose ini. Berada di sana, ingatan saya melayang kepada adegan-adegan menyentuh penuh semangat dalam film Sophie Scholl tadi dan pada dua bersaudara yang terus berjuang sampai akhir hidup mereka untuk sebuah keadilan dan kebebasan, yang mereka sendiri tidak sempat merasakannya.

Minggu lalu, hujan dan dingin di luar. Geschwister Scholl Platz, di mana LMU berada, sudah dipenuhi ratusan orang yang bergerak menuju pusat kota. Ada demonstrasi besar-besaran menentang dan menuntut penutupan seluruh reaktor nuklir di Jerman: demi keadilan dan kebebasan dunia dari bahaya nuklir. Kepala boleh terpenggal, tetapi semangat untuk bergerak mencari keadilan dan kebebasan akan selalu ada. Di sana: di kampus.

KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur – Sebuah Catatan Penerjemah

Suatu malam saat Nietzsche dibicarakan di Bandung, saya bertemu dengan Kang Wawan Sofwan dari mainteater yang kemudian memperkenalkan saya pada Boris dari Pädagogische Hochschule Heidelberg. Perbincangan hangat sambil menyimak Nietzsche membuahkan sinergi kreatif antara mainteater dan Boris. Saya kemudian resmi diikutsertakan dalam sinergi kreatif ini pada lepas tengah hari saat Bahuy berhujan-hujan mendatangi saya di Dipati Ukur.  “Transaksi” singkat penyerahan naskah terjadi di tempat parkir motor. “Dua minggu,” jawab saya saat Bahuy bertanya kira-kira kapan saya bisa menyelesaikan terjemahannya. Saat itu saya baru melihat sekilas naskah dengan judul yang langsung saya terjemahkan dalam hati saat itu juga. Tampaknya bahasanya tidak terlalu sulit. Lagipula memang saya berniat menyelesaikan terjemahan naskah itu sebelum saya kembali lagi ke Jerman. Dan itu dua minggu kemudian dari hari kami ber”transaksi”. Saya minta maaf, jika pada akhirnya saya tidak bisa menepati janji karena naskah terjemahan baru diserahkan lewat beberapa hari dari hari yang saya janjikan.

Malam itu juga naskah langsung saya terjemahkan dan dalam waktu dua jam saya bisa menerjemahkan sekitar 10 halaman. Penerjemaha bagian awal ini cukup mudah dilakukan, karena memang bahasa yang digunakan oleh Jura Soyfer di awal-awal tidak terlalu sulit. Bagian-bagian awal yang berisi percakapan antara matahari dan planet-planet lain tentang bumi yang sakit membawa kesan bahwa naskah ini “agak lain” daripada tematik naskah-naskah yang pernah saya terjemahkan untuk mainteater sebelumnya. Sambil menerjemahkan saya berpikir apa benar mainteater mau mementaskan naskah ini? Membayangkan para pemainnya memakai kostum matahari, mars, venus, komet, bulan membuat saya tersenyum sendiri. Mungkin juga karena percakapan di antara benda-benda luar angkasa itu untuk saya terasa lucu dan ringan –dibandingkan dengan percakapan dalam naskah-naskah yang saya terjemahkan sebelumnya yang kebanyakan cukup membuat kening saya berkerut. Saat itu kening saya tidak berkerut, saya hanya tersenyum tipis, karena ternyata cukup menghibur juga percakapan dari personifikasi benda-benda langit tersebut. Bumi yang sakit karena punya kutu yang bernama manusia. Matahari yang anggun dan berwibawa, Mars yang „galak“ dan Venus yang „genit“. Bumi harus dibersihkan dari kutu-kutu yang membuatnya sakit, artinya manusia harus dibasmi. Komet diserahi tugas untuk membasminya. Ternyata asyik juga menerjemahkannya, sambil tersenyum-senyum membayangkan jika benar-benar benda-benda luar angkasa itu membicarakan bumi yang kian hari kian sakit. Dan manusia memang penyebabnya.

Semakin lama ternyata semakin menarik menerjemahkan naskah ini, tetapi juga semakin sulit. Rupanya saya agak underestimate di awal. Naskah ini punya „sesuatu“. Kalimat-kalimat dalam dialog-dialognya singkat, padat tapi sangat “menohok”. Ada banyak ironi yang muncul di situ, yang mau tidak mau membuat saya tersenyum penuh arti saat menerjemahkannya. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Tenaga Panas kemudian mencabut lagi gelar yang diberikannya, karena Guck tidak setuju dengan anggapan Sang Pemimpin bahwa kiamat adalah rekayasa manusia, buatan orang Yahudi. Dialog saat Sang Pemimpin sibuk meminta wartawan mengabadikan dirinya. Dua diplomat negara adikuasa bersitegang soal kiamat. Satu tak peduli, karena bukan hal darurat, satu lagi tak ingin keseimbangan Eropa terganggu gara-gara kiamat ini. Radio-radio di berbagai belahan dunia menyiarkan terus-terus menerus berita tentang kiamat yang akan segera dan tentang Guck yang berusaha menyelamatkan dunia dari kiamat ini. Guck sendiri berusaha mendatangi semua tempat untuk meyakinkan orang-orang bahwa dunia harus segera diselamatkan dari kehancuran. Dia punya alatnya. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli. Semua tahu kiamat akan datang, tapi semua sibuk dengan urusan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan kiamat kemudian diakomodir, dijadikan alat untuk menipu dan mengeruk banyak uang dari orang-orang kaya yang bodoh yang merasa dengan uangnya mereka bisa selamat dari apapun. Guck pun putus asa. Tak ada yang mau mendengarnya. Kalaupun ada, Guck harus menunggu. Alat yang dia ciptakan harus dipatenkan dulu, supaya uang mengalir. Birokrasi pun harus dia lewati. Kiamat bukan satu-satunya urusan yang harus diperhatikan. Masih banyak urusan lain yang harus diselesaikan manusia. Kiamat mau tidak mau harus menunggu sampai urusan lain beres.

Naskah ini adalah naskah pertama yang ditulis Soyfer dan dipentaskan untuk pertama kalinya di awal musim panas tahun 1936. Lewat naskah ini Soyfer ingin menunjukkan situasi kemanusiaan beberapa saat sebelum dunia hancur yang semuanya berujung pada penekanan tentang kebodohan manusia dan tindakan-tindakannya. Guck sang ilmuwan yang berniat menyelamatkan dunia dan kemanusiaan pun kemudian hanya berhenti di tataran klise, karena dia tak punya kuasa atas apapun. Jika pada akhirnya dunia tak jadi kiamat, ini terjadi bukan karena Guck berhasil meyakinkan orang-orang untuk menggunakan mesin ciptaannya, tetapi karena Konrad – si komet- tidak tega menghancurkan bumi, karena saat proses mendekati bumi, si komet jatuh cinta pada bumi yang „penuh kemiskinan dan kekayaan“, yang „penuh kehidupan dan kematian“, yang punya „kemiskinan dan kekayaan tanpa batas“, yang „terberkahi dan terkutuk“, yang punya „kecantikan yang bersinar terang“ dan yang „masa depannya indah dan gemilang“. Namun, adakah manusia yang sadar dan peduli akan itu? Kiamat pada akhirnya tidak terjadi hanya karena belas kasihan si komet, bukan karena kepedulian manusia atas bumi tempat mereka hidup dan memberi mereka kehidupan.

 

Jura Soyfer, penulis Yahudi dari Ukraina yang lahir tahun 1912 di Charcow, Ukraina dan meninggal di kamp konsentrasi Buchenwald, Jerman pada tahun 1939, memainkan tematik kehancuran dunia ini lewat dialog-dialog singkat yang satiris antartokohnya. Monolog cukup panjang muncul saat tokoh Guck berkeluh kesah tentang ketidakpedulian manusia pada dunia dan kemanusiaan. Sofyer yang tumbuh besar di Austria menggunakan bahasa Jerman dialek Austria untuk beberapa bagian naskah, dicampur dengan bahasa Perancis dan Inggris. Soyfer sendiri memang tumbuh di dalam lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang berbahasa Jerman, Perancis, dan Rusia. Beragam bahasa juga dialek yang kental digunakan Soyfer dalam naskahnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya saat menerjemahkannya. Walaupun kebetulan saya sudah beberapa tahun tinggal di daerah Bavaria, sehingga saya cukup familiar dengan dialek yang digunakan Soyfer dan cukup membantu saya dalam memahami teks ini, tetapi ternyata tidak mudah mengadaptasinya dalam terjemahan saya. Dalam beberapa bagian, dialek juga digunakan Soyfer untuk menyindir kalangan dan orang-orang tertentu atau mempertegas stereotype negara dan orang-orangnya. Soyfer menggunakan beragam bahasa untuk memperjelas kritiknya, sehingga membuat naskah ini semakin terasa ironis dan satiris. Kelebihan naskah yang terletak pada beragam permainan bahasa dan dialek ini, juga bahasanya yang di beberapa bagian puitis satiris, menjadi kesulitan tersendiri dalam proses penerjemahan. Ada beberapa „jiwa“ yang hilang. Namun, saya yakin, dalam pengolahannya mainteater mampu menerjemahkan kembali dan membawa „jiwa“ naskah ini dengan lebih baik ke atas panggung. Untuk itu saya cukup berdebar menunggu naskah ini dipentaskan pada tanggal 14, 15, dan 16 Desember 2010 di Bandung, walaupun mungkin saya hanya bisa menyaksikan hasil rekaman pementasan naskah yang ditulis 74 tahun yang lalu, tetapi temanya tetap aktual sampai saat ini. Saat dunia mungkin sebentar lagi (pasti) akan hancur.

Bayreuth, 141110

*Tulisan ini dibuat sebagai pengantar untuk pementasan naskah „KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur“ oleh mainteater pada tanggal 14,15, dan 16 Desember 2010 di GK Rumentang Siang Bandung.

Palu si Paul

Seorang lelaki ingin menggantung sebuah foto. Paku sudah dia punya, tapi sayangnya dia tidak punya palu. Tetangganya punya palu. Maka, lelaki itu memutuskan untuk datang ke tetangganya dan meminjam palu darinya. Namun, tiba-tiba dia ragu: Apa yang terjadi jika tetanggaku tidak mau meminjamkan palunya? Kemarin saja dia menyapaku sambil lalu. Mungkin dia sedang terburu-buru. Atau mungkin dia hanya pura-pura terburu-buru karena dia tidak suka padaku. Tapi mengapa? Aku tidak berbuat apapun padanya; dia cuma mengada-ngada. Jika seseorang mau meminjam sesuatu dariku, aku akan segera memberikannya. Dan mengapa dia tidak? Bagaimana mungkin orang tidak mau menolong orang lain? Orang-orang seperti dia hanya akan meracuni hidup orang lain. Lalu dia akan menganggap bahwa aku bergantung padanya. Hanya karena dia punya sebuah palu. Baiklah, cukup sampai di sini. – Lalu lelaki itu menggedor pintu rumah tetangganya, berteriak, tetangganya membukakan pintu, tapi sebelum dia berkata „Selamat siang“, lelaki itu sudah berteriak lebih dulu pada tetangganya: „Simpan palu Anda!“.

Bayreuth, 121110

(diterjemahkan dari „Hammer Geschichte“ Paul Watzlawick dalam „Anleitung zum unglücklich sein“ atau „Petunjuk Untuk Tidak Bahagia“)

Textkompetenz

Tidak tepat rasanya, jika judul di atas diterjemahkan sebagai kompetensi teks. Namun, saya belum menemukan padanan kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia untuk kemampuan memahami suatu teks, mencerapnya, dan bisa menuangkannya kembali dalam bentuk lisan atau tulisan. Teks yang berasal dari bahasa latin „textum“ dan bermakna tenunan, dalam konteks ini dimaksudkan sebagai teks lisan dan tulisan.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kekecewaan saya terhadap hasil makalah-makalah mahasiswa saya beberapa waktu lalu. Saya kecewa, karena makalah yang mereka buat jauh dari yang saya harapkan bisa ditulis oleh mahasiswa semester 7. Abaikanlah bahasa Jerman mereka, yang amat sangat jauh dari sempurna, tetapi jika makalah mereka hanya copy paste dari Wikipedia, rasanya wajar saja jika saya sangat kecewa dan marah, karena saya tidak pernah mengajarkan mereka untuk menjadi seorang plagiat. Abaikanlah alasan waktu yang sempit untuk mengerjakannya, saya tidak peduli. Kemudahan teknologi bukan alasan untuk membohongi dan membodohi diri mereka sendiri. Saya kecewa dan sedih, karena saya juga jadi merasa gagal mendidik mereka. Namun, kekecewaan itu bukan milik saya sendiri, semua dosen di jurusan saya merasakannya. Sampai akhirnya diadakan diskusi khusus membahas kejadian ini, dengan narasumber Jutta Kunze, lektor DAAD kami.

Textkompetenz. Salah satu kunci kegagalan kami dalam mendidik mahasiswa ada di sana. Mahasiswa tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam memahami dan memproduksi teks. Untuk mahasiswa sampai semester 4, masih bisa dipahami jika mereka masih ada dalam tahapan belajar dan beradaptasi dengan bahasa Jerman (mata kuliah Bahasa Jerman terpadu diberikan sampai semester 4). Masih bisa juga dimaklumi, jika mereka masih membaca teks-teks pendek, dengan konstruksi morfologi dan sintaksis yang mudah, pun memproduksi teks dengan konstruksi gramatika yang sederhana (lebih banyak menggunakan struktur parataksis, daripada hipotaksis). Namun, jika ini masih terjadi pada mahasiswa semester 5 ke atas, apalagi pada mahasiswa semester 7 dan 8, pasti ada sesuatu yang salah. Dan ini terjadi. Lalu, apa yang salah? Di mana letak kesalahannya? Apakah karena mereka harus membuatnya dalam dan dengan Bahasa Jerman? Pada kenyataannya, dalam Bahasa Indonesia pun mereka tetap mengalami kesulitan. Jadi, masalah bukan terletak dalam penguasaan bahasa.

Pengamatan pada mahasiswa semester atas dan mahasiswa yang sedang menulis skripsi menunjukkan bahwa mereka saat ini cenderung memilih korpus skripsi dari iklan, artikel koran (kebanyakan artikel olah raga dan kecantikan), komik, sastra anak dan remaja yang populer (bukan Märchen seperti dari Gebrüder Grimm, atau dari sastrawan seperti Erich Kästner, Klaus Kordon, atau Cornelia Funke). Bukannya tidak bisa dan tidak diperbolehkan mengambil korpus dengan media-media di atas, namun alasan mereka mengambil media-media di atas adalah karena bahasanya mudah (dari struktur kalimat, kosa kata, gramatika secara umum) dan karena pendek. Alih-alih membaca roman atau drama, puisi pun jarang dilirik karena bahasa dan diksinya yang sulit. Alih-alih membaca rubrik Feuiletton atau ulasan politik atau ekonomi yang cukup ilmiah, rubrik interview pun jarang disentuh, apalagi membuat transkripsi percakapan sendiri. Tak cukup waktu, sulit, ingin cepat lulus.

Tak bisa menyalahkan mereka. Perlu dilihat, mengapa mereka kesulitan memahami teks-teks yang panjang dengan konstruksi bahasa tulisan yang rumit, yang mengakibatkan mereka pun kesulitan memproduksi teks, terutama teks ilmiah. Jawaban yang paling mungkin adalah karena mereka minim membaca. Mereka hanya membaca pasif, itu pun hanya bahan yang diberikan dosen, dibaca jika harus dan jika akan ujian. Bacaan lain pun berkisar pada bacaan populer yang cenderung mengalihkan ragam bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan atau komik yang lebih menonjolkan gambar dibandingkan teks. Tak heran, jika wawasan struktur kebahasaan mereka pun terbatas pada struktur subyek – predikat – obyek, dengan panjang tulisan berkisar pada 5 – 10 kalimat, atau struktur kalimat elipsis. Tidak jelas siapa subjek yang melakukan apa untuk siapa pada waktu kapan dan di mana serta mengapa dan bagaimana dilakukannya. Mereka mengalami kesulitan yang cukup besar dalam memahami dan memproduksi teks-teks ilmiah (dalam bahasa Jerman di antaranya ditandai dengan kosa kata khusus, bentuk nominal, berstruktur hipotaksis, serta menggunakan Partizip I dan II). Kekacauan penggunaan kala dalam kalimat seharusnya tidak terjadi lagi pada mahasiswa semester 7, ternyata masih sering terjadi, baik itu dalam bentuk lisan atau tulisan. Yang lebih mengherankan, banyak mahasiswa yang pernah tinggal di Jerman selama 6 bulan sampai 1 tahun pun tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk membaca dan menulis dalam bahasa Jerman. Walaupun untuk kompetensi mendengar dan berbicara memang mereka lebih baik dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang belum pernah mengalami tinggal di Jerman.

Ironis sekali, karena jika dilihat secara keseluruhan, kompetensi mahasiswa semester 7 pun baru sebatas kompetensi berbahasa tahap awal, yaitu mendengar dan berbicara. Pun sangat mengkhawatirkan, karena dari hasil Germanistentreffen beberapa waktu lalu, lulusan dari Jurusan Jerman diharapkan memiliki Textkompetenz yang tinggi. Mereka harus siap berhadapan dengan teks-teks yang sulit, mampu mengolah dan memahami isi teks yang sering ada di luar dunia pengalaman mereka, mampu membedakan informasi yang penting dan tidak penting, mereduksi isi teks yang rumit dan mempermudahnya untuk disampaikan kembali dalam bentuk lisan dan tulisan, mampu menjelaskan relasi antarteks dan wacana dengan beragam konteks, mampu menstrukturkan dan menyampaikan pengetahuan yang terlepas dari pengalaman mereka, dan pada akhirnya mampu memproduksi teks sendiri dengan beragam sumber dan informasi. Kemampuan ini penting dalam bidang penerjemahan (lisan dan tulisan), pengajaran, dan menurut saya, dalam semua bidang pekerjaan.

Sesungguhnya ini adalah tamparan yang keras untuk kami. Secara teori, ini tidak boleh terjadi. Jika sudah telanjur terjadi, apa yang bisa kami perbaiki? Kurikulum, isi mata kuliah dan sistem pengajaran yang terintegrasi. Mata kuliah menulis ‚Aufsatz’ dan percakapan ‚Konversation’ tidak bisa lepas dari mata kuliah membaca ‚Lesen’ dan ‚Übungen zur Lektüre’, tidak bisa lepas juga dari mata kuliah gramatika terapan ‚Angewandte Grammatik’, Morphologie, Syntax, dan Semantik. Selama ini masih berjalan masing-masing dan mahasiswa tidak dibiasakan untuk menganalisis, hanya dijejali teori tentang tempus, preposisi, Partizipialattribut, dan lain sebagainya, yang membuat orang jadi bosan. Belum lagi bentuk latihan yang hanya berupa isian atau mengubah bentuk misalnya dari aktif ke pasif, dll. Bahan yang digunakan pun bukan bahan yang bersifat kekinian, misalnya dari artikel koran atau dari roman, melainkan dari buku latihan tata bahasa, yang sering juga sudah sangat out of date. Sistem pengajaran dengan menerapkan bentuk perkuliahan pengamatan partisipatoris ‚beobachtendes Lernen’, di mana dosen dan mahasiswa aktif terlibat bersama memproduksi dan mengoreksi, sehingga masing-masing pihak saling belajar dari pengalaman aktif. Metode ini dilakukan secara individu, kemudian kelompok, selanjutnya bersama dalam kelas, dan cocok diberikan untuk mata kuliah kompetensi membaca dan menulis, misalnya: Aufsatz, Übungen zur Lektüre, Textlinguistik, Übersetzung, Lyrik atau Prosa. Metode lain yang ditawarkan adalah metode bergerak dalam lingkaran ‚Kugellagermethode’, yang mengombinasikan kemampuan individu dan kerjasama kelompok. Metode ini juga memadukan pengalaman belajar dengan bergerak dan meresepsi lewat mendengar dan bicara, sehingga cocok jika dilakukan untuk mata kuliah kompetensi mendengar dan berbicara seperti Konversation dan Diskussion und Präsentation.

Namun tentu saja, sebaik apapun metode pembelajaran yang ditawarkan dan dilakukan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan satu arah. Perlu peran aktif dari dosen dan mahasiswanya. Dari hasil diskusi kemarin disepakati bahwa minat baca mahasiswa harus ditingkatkan. Walaupun awalnya mungkin dengan paksaan, diharapkan mahasiswa nanti akan terbiasa membaca dengan sendirinya. Mulai semester ini, mahasiswa di setiap semester wajib membaca 3 buku yang harus „dilaporkan“ isinya secara lisan kepada dosen mereka. Saya rasa, paksaan ini akhirnya akan berlaku juga bagi para dosen untuk membaca. Bagaimana mungkin kami akan menguji mahasiswa pada bacaan mereka, jika kami juga tidak pernah membaca. Dan bagaimana mungkin kami meminta mereka menulis, jika kami juga tidak pernah menulis. Membaca bukan saja bahan kuliah dan  menulis bukan saja untuk kepentingan kenaikan pangkat. Ini satu tamparan lagi. Dan saya rasa, untuk kebaikan bersama, semua memang harus dimulai dari diri sendiri.

Metode TASC

Kebutuhan pemelajar bahasa untuk berbicara, berargumentasi, dan berkomunikasi secara persuasif dalam beragam situasi dengan menggunakan bahasa kedua, sejak awal perlu disiasati sebagai bagian dari proses belajar. Metode Thinking Activelly in Social Context (TASC) yang dikemukakan oleh Wallace dan Adams (1990) adalah salah satu metode pembelajaran yang berorientasi problem solving dengan area capaian attitudinal and motivational factors, metacognition, using gathered information to identify and solve problems, communicating with co-learners and communicating the outcome, dan learning from experience.

Metode ini juga menekankan pencapaian tujuan belajar pada hasrat, minat, dan regulasi diri; pada sikap dan pola pikir yang reflektif dan produktif; pada pemahaman dan penalaran atas satu tema atau masalah; juga pada proses pengumpulan informasi yang tidak hanya berasal dari satu sumber, tetapi dari banyak sumber, termasuk dari pengamatan dan pengalaman si pembelajar sendiri. Dengan demikian, diharapkan para pembelajar dapat mengembangkan sikap percaya diri sehingga termotivasi untuk berbicara, berargumentasi, dan berkomunikasi secara persuasif.

Bekerja sama dengan Iqbal, dari Fakultas Psikologi Unpad, metode ini diterapkan di mata kuliah ”Diskussion und Präsentation” pada semester genap lalu. Tujuan mata kuliah ini jelas untuk membangun kemampuan berbahasa pembelajar saat berbicara, berdiskusi, berargumentasi, dan –lebih luas lagi- untuk berkomunikasi secara persuasif dalam beragam situasi. Iqbal memodifikasi metode TASC ini dengan menambahkan issue body awareness, body imagery, body metaphor dan body correction.

Tahapan pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan tema tentang mimik. Sejumlah gambar, saling ”memeriksa” wajah rekan juga wajah sendiri (dilakukan rekaman video yang kemudian dibahas bersama), menjadi bahan diskusi. Kemudian dilanjutkan dengan membahas film animasi pendek yang sarat dengan ungkapan beragam ekspresi. Pada pertemuan berikutnya diberikan materi tentang beragam ungkapan verbal yang dapat dijadikan alternatif untuk membuat bahasa yang digunakan menjadi lebih persuasif. Tahap selanjutnya adalah pemberian materi dan pelatihan tentang body imagery, body metaphor dan body correction. Pembelajar diminta untuk menggambarkan diri mereka melalui gambar yang mereka buat, kemudian lewat percakapan imaginer tentang tokoh atau simbol yang ada dalam gambar mereka. Setelah pelatihan body correction, materi tentang unsur-unsur verbal bahasa dikombinasikan dengan unsur-unsur nonverbal seperti mimik, gestik, dan prosodi dalam debat dengan tema yang akrab dengan kehidupan mereka, yaitu: pro dan kontra tentang “anak mama.” Tahapan itu diakhiri dengan melihat dan mengevaluasi kegiatan mereka dengan cara melihat gambar dan film tentang kegiatan yang dilakukan hari itu. Tahapan terakhir adalah evaluasi dengan mengisi kuesioner yang sudah dipersiapkan.

Latihan berdebat sebagai salah satu cara untuk melihat pencapaian pembelajar dalam berkomunikasi secara persuasif, menjadi sarana yang saya rasa cukup tepat untuk menerapkan metode TASC ini. Masalah yang diambil untuk “dipecahkan” adalah “masalah anak mama”. Dalam debat itu terlihat bahwa pembelajar termotivasi untuk berinteraksi aktif dengan lingkungannya saat itu dengan cara menyampaikan pendapatnya –apapun itu-. Dengan pemberian informasi dan pelatihan tentang faktor-faktor nonverbal yang menunjang faktor verbal saat berkomunikasi, mereka pun terlihat bisa menghindari reaksi-reaksi impusif yang mungkin bisa mengaburkan tujuan utama saat proses penyampaian pendapat. Reaksi semacam ini tentu saja tidak bisa dihindari seratus persen, tetapi bisa diminimalisir. Pembelajar pun belajar untuk mengenali kebutuhan menerangkan sesuatu dengan sistematis, akurat, dan detil dengan cara membuat perbandingan, menyimpulkan pengalaman, merencanakan, tetapi tetap fleksibel dalam mendekati masalah sehingga bisa melihat masalah dari beragam sudut pandang. Debat ini juga melatih mereka untuk bersedia bekerja secara kooperatif atau bahkan secara mandiri, tergantung pada situasi dan kondisi yang dibutuhkan.

Dalam debat, pembelajar berlatih untuk peka terhadap ketidaksesuaian, ketidaklengkapan dalam suatu masalah, sehingga untuk mencari penyelesaiannya mereka belajar menyeleksi faktor-faktor pembentuk masalah, juga menyeleksi cara penyelesaian masalah yang beragam muncul dari banyak kepala. Mereka pun dilatih untuk peka terhadap komentar dan umpan balik. Dengan kata lain, mereka melakukan ”laku kritik” terhadap tindakan dan ucapan mereka. Selain itu, mereka pun belajar untuk mengenal kekuatan dan kelemahan mereka (secara verbal dan nonverbal), belajar menyeimbangkan cara berpikir dan bertindak kritis, analitis, dan kreatif. Hal itu terlihat dari contoh-contoh dan argumentasi yang mereka gunakan saat berdebat. Sehingga, mereka tetap ada dalam ”masalah dan pemecahannya”, tidak merambat ke area lain yang kadang membuat masalah utama menjadi kabur, sehingga pemecahannya pun sulit dicari.

Tujuan yang diinginkan –dan yang diidealkan oleh metode TASC ini- tidak begitu saja dicapai. Hal ini tentu saja harus dilakukan bertahap. Saya melakukannya satu semester penuh. Memadukan metode ini dengan issue body awareness serta contemplative learning, menurut saya bisa menjadi kombinasi yang tepat untuk mencapai tujuan dari pembelajaran bahasa –terutama pembelajaran bahasa asing-, di mana bahasa tidak lagi hanya sebagai satu sistem tanda, tetapi harus difungsikan, salah satunya adalah untuk berkomunikasi. Jadi, pembelajar tidak hanya tahu tentang sistem gramatika bahasa asing yang dipelajarinya, mereka pun mampu menerapkannya dalam beragam situasi komunikasi.

Hasi dari kombinasi pembelajaran dengan metode ini terlihat dalam mata kuliah-mata kuliah lain yang saya asuh, dalam kelompok diskusi yang dilakukan selama liburan ini, dalam makalah-makalah yang mereka tulis sebagai tugas akhir, dan hasil yang tak kalah menggembirakan adalah dengan dipilihnya salah seorang mahasiswi dalam mata kuliah tersebut sebagai mahasiswi berprestasi. Penilaian tertinggi untuknya terletak pada kemampuannya bersikap dan berkomunikasi dengan cerdas, tepat, taktis, namun tetap santun. Pada akhirnya memang tidak pernah ada yang sia-sia dari kesabaran dan dari pekerjaan yang dilakukan dengan cinta.


Abschlussfest: der schönste Semesterschluss

Hari ini perkuliahan semester genap tahun akademik 2008 berakhir. Minggu depan mahasiswa sudah memasuki minggu tenang dan dilanjutkan dengan Ujian Akhir Semester. Untuk mahasiswa semester 8, hari ini adalah hari terakhir mereka berada di dalam kampus bersama-sama, karena setelah Ujian Akhir Semester mereka akan lebih banyak „berjuang“ sendiri dengan skripsi mereka masing-masing. Dan hari ini mereka memberikan hadiah terbesar untuk kami semua staf pengajar di Jurusan Jerman. Khususnya mungkin untuk Jutta (mengajar Deutsches Drama, Deutsche Lyrik, Literaturseminar, dan Linguistikseminar), Bu Yunni (mengajar Übersetzung Deutsch – Indonesisch), dan saya (mengajar Textanalyse dan Trends in der Linguistik) –yang hari ini merasa menjadi orang paling bahagia sedunia.

Hari ini mahasiswa semester 8 dari pengutamaan Sastra dan Linguistik memberikan hadiah berupa pertunjukan kreativitas mereka: menyanyi, baca puisi, pentas parodi, dan teater. Semuanya adalah hasil perkuliahan mereka selama satu tahun ini. Jutta Kunze, lektor DAAD kami, yang mengorganisir mereka untuk menyanyi, baca puisi, dan pementasan teater naskah Dürrenmatt „Der Besuch der alten Dame“. Mahasiswa dari kelas Linguistik, yang selama setahun ini saya pegang, mementaskan parodi Rotkäppchen (Si Kerudung Merah) menjadi Ronkäppchen. Naskah parodi dan urusan teknis mereka lakukan sendiri.

Kejutan pertama diberikan saat kami masuk ruangan yang sudah didekorasi sedemikian rupa oleh mereka. Bagus dan kreatif. Beberapa karya mereka selama kuliah di semester 8 mereka tampilkan. Terharu dan senang saat melihat apa yang kami lakukan bersama mereka di kelas ditampilkan di Aula Gedung B. Acara dibuka dengan Kanonsingen dari kedua kelas. Beberapa lagu dinyanyikan secara kanon dan acapela. Bagus! Selanjutnya pembacaan beberapa puisi karya Goethe, Christian Morgenstern, Erich Fried, dll dalam Bahasa Jerman dan terjemahan dalam Bahasa Indonesia yang mereka buat di kelas Lyrik. Di kelas ini saya pernah masuk dan memberikan diskusi kecil tentang penerjemahan puisi. Hasil terjemahan mereka saya bahas dan diskusikan bersama. Hasilnya luar biasa. Terjemahan mereka bagus-bagus! Hasil terjemahan itu dikumpulkan dan dibundel jadi satu buku kecil. Salah satu penerbit bahkan sudah menawarkan untuk menerbitkan kumpulan terjemahan karya mereka. Ini masih jadi utang saya untuk mengedit karya mereka. Namun, rasanya saya tak perlu mengedit banyak, karena terjemahan mereka sudah bagus.

Setelah pembacaan puisi ditampilkan teater parodi dongeng Rotkäppchen menjadi Ronkäppchen dari kelas linguistik. Mengapa Ronkäppchen? Karena pemeran utamanya adalah Ronald :) Benar-benar kreatif dan mengundang tawa kami semua. Ini benar-benar kejutan besar, karena tadinya mereka tidak akan ikut serta. Seminggu mereka persiapkan dan hasilnya menurut saya benar-benar luar biasa. Pakem cerita Rotkäppchen mereka pakai dan ditambah karakter yang sangat Indonesia seperti tukang jamu dan tukang ojek. Kritik terhadap teknologi dan ikon-ikon pop di Indonesia saat ini mereka tampilkan. Hasilnya memang jadi kocak. Senang dan terharu sampai saya menitikkan air mata menyaksikan mereka. Mereka luar biasa! Yang membuat saya terharu juga kreativitas mereka menyisipkan beberapa materi perkuliahan selama ini ke dalam naskah mereka. Tiga tokoh Schwein (babi) ditampilkan dengan kocak dan lincah oleh 3 gadis pendiam Fajri, Dilla, dan Dita. Mereka membawa papan yang berisi tentang beberapa informasi dari mata kuliah yang mereka dapatkan. Misalnya saat ada adegan tentang masa depan, papan bertuliskan Futur I ditampilkan, dan keterangan tentang Futur I dinarasikan oleh Hanny. Begitu juga saat ada kalimat ellipsis, papan bertuliskan Ellips diiringi narasi ditampilkan. Informasi tentang Sprachvarietäten pun ada juga. Misalnya ke-khas-an bahasa Jerman di Austria. Betapa mereka begitu kena dan hidup memasukkan tema-tema dalam perkuliahan ke dalam naskah. Hal ini untuk saya menunjukkan, bahwa mereka paham dan tahu apa yang mereka pelajari di kelas. Saya senang, bangga, dan terharu, rasanya bercampur aduk.

Usai parodi, istirahat shalat Jumat dan makan siang. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pementasan naskah Dürrenmatt ”Der Besuch der alten Dame” (Kunjungan Nyonya Tua). Naskah tragik komedi yang cocok dengan situasi tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia, saya rasa. Claire Zachanassian yang diperankan dengan baik oleh Mita adalah wanita tua yang kaya dan dengan uangnya dia bisa membeli apapun, termasuk keadilan. Alfred Ill menjadi korbannya. Dia mati tanpa sebab yang jelas, hanya karena Claire tidak suka padanya. Ill memperjuangkan keadilan kemana-mana, namun hakim, walikota, guru, dokter, bahkan pendeta pun sudah disuap oleh uang Claire. Iming-iming 5 juta per orang dan bantuan 1 miliar untuk kota Guellen justru membawa Ill pada kematiannya yang misterius. Kritik terhadap situasi kekinian disampaikan dalam bentuk komedi satiris oleh naskah yang dibuat tahun 1956 ini. Naskah ini juga pernah dipentaskan oleh Teater Koma dengan judul Kunjungan Nyonya Tua dan sudah diadaptasi ke dalam situasi dan budaya Indonesia. Sedangkan tadi, mahasiswa kelas sastra memainkannya dalam Bahasa Jerman. Arida memerankan Alfred Ill dengan baik dan penjiwaan penuh.

Pembacaan puisi dalam dua bahasa menjadi acara berikutnya, kemudian ditutup lagi dengan nyanyi bersama beberapa lagu. Ada satu lagu bahkan dalam bahasa Jerman dan bahasa Sunda. Ode an die Freude milik Schiller yang menjadi lirik untuk Simfoni No. 9 Beethoven pun dinyanyikan. Ah, saya selalu merinding jika mendengar lagu ini. Rasa bahagia saya semakin memuncak!

Acara selesai. Saya hampiri mereka untuk mengucapkan selamat atas kerja keras dan usaha mereka dan betapa saya berterima kasih dan merasa terhormat ada di sana dan menjalani satu tahun yang indah bersama mereka. Diijinkan untuk ada dan mengikuti perkembangan mereka dari waktu-waktu selama dua semester ini adalah berkah terbesar untuk saya. Pun ketika pada akhirnya saya bisa menyaksikan mereka tampil di depan publik, kebahagiaan saya benar-benar tak bisa terukur. Itu bonus yang besar. Saya tak pernah menduganya. Kalaupun air mata saya menetes, itu lebih karena saya yakin bahwa mereka bisa terbang tinggi setinggi apapun mereka mau. Saya menyandarkan harapan saya pada mereka dan saya bahagia karena saya tahu mereka akan menjadi orang-orang yang tahu apa yang mereka mau. Semangat, kebersamaan, dan kerja keras mereka menjadi bekal untuk masa depan yang sudah menunggu mereka. Sesulit apapun halangannya, saya selalu yakin mereka bisa melaluinya. Waktu yang akan bicara dan pada waktu pula saya percayakan mereka.

Mereka menutup semester ini dengan manis. Menghadiahkannya untuk kami para pengajarnya. Dan terutama untuk saya, karena mereka membuat hari ini menjadi hari terindah dalam hidup saya. Hari yang semakin meneguhkan saya, mengapa saya ada di sini dan memilih tetap ada di sini. Hari yang membakar energi dan semangat saya dan menjadikannya cadangan yang insha Allah akan terus menyala untuk waktu-waktu ke depan.

Danke allen, Jungs und Mädels, für Eure Begeisterung und Bemuhung. Bin sehr stolz auf Euch und liebe Euch allen von dem ganzen Herzen!

Satu dan Segalanya

Demi menemu diri dalam tiada berhingga,
Setiap pribadi  pasti rela sirna,
Di sanalah segala jenuh bakal musnah;
Bukan pada bebas syahwat panas hasrat
Bukan pada padat aturan tuntutan ketat,
Pada penyerahan diri itulah nikmat berkah.

Datang dan rasuki jiwa kita, o jiwa jagat!
Dan dengan ruh jagat kita bergulat nekat,
Itulah maha tugas daya-daya kita.
Ruh-ruh budiman yang menuntun,

Para aulia yang membimbing santun,
Kan antar kita pada Dia yang abadi mencipta.

Dan untuk jadikan ciptaan baru selalu,
Agar tak berkeras diri menjadi beku,
Haruslah bertindak tak sudah-sudah.
Maka yang semula tiada, kini sedia menjelma
Dunia aneka warna, mentari-mentari bercahaya
Ia mutlak tak berhak istirah.

Ia mesti berkarya, mesti menggubah,
Membentuk diri, lalu berubah;
Meski seolah sejenak terdiam.
Sang Abadi berkarya di tiap insan
Karena segala harus runtuh sirna,
Jika hendak bertahan dalam Ada.

Johann Wolfgang von Goethe

Diterjemahkan dari karya asli Goethe ”Eins und Alles” oleh Agus R. Sarjono & Berthold Damshäuser. Dibacakan dalam acara peluncuran buku kumpulan puisi „Satu dan Segalanya“ (Goethe) di Goethe Institut Bandung, 26 Juli 2007.