„Ziarah“ Berkisah

ziarah

(Sumber gambar: youtube)

Mbah Sri menyapu nisan sebuah makam pahlawan tak dikenal yang gugur saat perang kemerdekaan. Setelah puluhan kala, Mbah Sri baru diberi kabar bahwa itu ternyata bukan makam suaminya. Sejak saat itulah Mbah Sri mencari makam sang suami tercinta dengan niat ingin dimakamkan di sampingnya. Niat sederhana yang membawa tubuh rentanya tertatih menelusuri jalan sendirian, naik turun bukit melewati sawah dan menyeberang dengan sampan, bertemu dengan orang-orang yang membawa kisahnya masing-masing. Pun tentang kisah Mbah Sri yang rumahnya diberondong peluru saat suaminya pergi berjuang dan lalu berpesan, jika dia tak kembali, Mbah Sri harus merelakannya. Mbah Sri setia pada suaminya, tetap sendiri sampai tua, tetapi ikhlas melepas suaminya mungkin belum terlalu luas hatinya, karena tak datang kabar membuat harapnya tetap ada. Maka dia berjalan mencari makam, untuk menuntaskan janji setianya. Keris kecil miliknya harus menemukan kembali pasangannya. Perjalanan berulang, bahkan disesatkan, karena ternyata kisah tak seperti yang dibayangkannya. Jikalau suaminya ternyata bukan pahlawan yang mati tertembak, toh dia tetap lelaki terpenting dalam hidupnya. Pun jika ternyata sudah ada makam lain di samping makam suaminya. Mbah Sri menyapu dan membersihkan makam dengan pelahan dalam diam. Menabur mawar. Dan dua lahan makam bersebelahan sedang disiapkan.  

***

Film yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara ini bertema sederhana, tanpa konflik yang berlipat-lipat, tetapi tujuannya jelas: kisah seorang perempuan renta bernama Mbah Sri (Ponco Sutiyem) yang berjalan mencari makam suaminya. Tanpa bintang-bintang muda yang cantik, ganteng, dan terkenal, bahkan tokoh utamanya diperankan oleh seorang perempuan tua berusia 95 tahun, film „Ziarah“ ini mampu membuat saya duduk terpaku dan keluar dari bioskop dengan tangan gemetar dan air mata yang sedikit menetes. Bukan sedih, bukan pula bahagia, tetapi lebih kepada perasaan lega setelah mengikuti perjalanan seorang nenek renta mewujudkan niat sederhananya. Jika pada akhirnya kenyataan yang ditemui tak sesuai dengan harapannya, tetapi itulah hidup yang sering tak terduga kisahnya. Siap tak siap, harus diterima.

„Ziarah“ tidak berkisah tentang kematian an sich, walaupun film ini diawali dengan lemparan tanah ke liang lahat dan Leitmotiv kematian serta pemakaman beragam orang karena sebab kematian yang berbeda, lalu berujung di pemakaman juga. „Ziarah“ berkisah sesuai makna katanya yaitu pergi menuju suatu tempat untuk menengok seseorang, termasuk juga kisahnya. „Ziarah“ bicara tentang hidup Mbah Sri yang sederhana yang kemudian beririsan dengan banyak hal dan peristiwa: agresi militer Belanda ke II, peristiwa 65, penenggelaman desa karena pembangunan Waduk Kedung Ombo, sampai dengan peristiwa perselingkuhan yang membuat seorang istri mengakhiri hidupnya. „Ziarah“ adalah perjalanan paralel Mbah Sri, Prapto –cucunya- (Rukman Rosadi), dan orang-orang lain yang mereka temui selama perjalanan mencari makam Prawiro –suami Mbah Sri-.

„Ziarah“ memang film yang sederhana. Tanpa setting yang spektakuler, bahkan kamera cukup sering menyorot gersangnya tanah di seputaran Gunung Kidul, tetapi tetap mampu menangkap keindahan sawah, bukit, gunung serta awan di daerah Wonogiri dengan pas. Tone warna pun pas dengan warna-warna didominasi warna tanah dan alam yang natural. Acting pemainnya semua benar-benar mengalir alami begitu saja, seolah mereka tak menghafal dialog, tetapi itu adalah percakapan keseharian mereka, padahal tidak ada pemain profesional yang terkenal di film ini. Scriptnya kuat dengan alurnya yang maju pelahan, tetapi jelas, tidak multikonflik, biasa saja. Bahkan penonton kadang dibiarkan hening sesaat untuk menikmati kisah yang dialognya 99% dilakukan dalam Bahasa Jawa, tetapi itu tidak mengganggu karena memang demikianlah adanya, bahkan dialognya terasa sangat filosofis. Penonton seperti sedang menyaksikan film semidokumenter karena kealamian dan kesederhanaan film ini, padahal ini adalah kisah fiksi. „Ziarah“ mampu mengemas dan menuntun penonton untuk mengikuti perjalanan kisah sederhana ini dengan kesederhanaan yang indah, metaforis, dengan akhir yang sama sekali tak terduga. Namun, itu semua sama sekali tidak mengganggu, bahkan –seperti yang saya sebutkan sebelumnya di atas- membawa kelegaan karena sebuah perjalanan akhirnya menemukan „akhirnya“, sepahit apa pun akhir perjalanan itu.

„Ziarah“ berkisah tentang hidup.  Seperti kisah nenek buyut saya yang merelakan suaminya menikahi perempuan lain, seperti kisah Emak saya yang matanya buta sebelah karena terserempet peluru saat mengungsi ke Bandung Selatan, seperti juga kisah Mbah Kakung saya yang pergi menyusul istrinya di hari ke 40 setelah istrinya meninggal, pun seperti kisah anak-anak seusia SMP yang beramai-ramai urunan uang recehan untuk membeli tiket film „Ziarah“ dan mereka menonton filmnya dengan serius. Berusaha, memaafkan, menerima, dan berdamai adalah  „kemenangan“ terbesar dari perjuangan yang ditemui dalam perjalanan hidup. Itu pun jika hidup kadang dimaknai sebagai „menang“ atau „kalah“ yang didapat dengan melepaskan hal-hal yang membebaninya. Demikianlah „Ziarah“ berkisah.

Bandung, 220517

Advertisements

Ironi Hitam Putih „SITI“

SITI

Sumber gambar: Wikipedia

SITI berlari. Bilik karaoke tempatnya bekerja digerebek polisi. Berusaha lari ke kamar mandi, SITI tetap diinterogasi, sampai SITI tak kuat lagi berdiri. Tubuhnya jatuh lunglai tak kuat menopang diri. Kisah beralih pada rumah bilik SITI yang sempit saat SITI menggoreng rempeyek jengking. Ibu mertuanya memanggil karena anak SITI tak mau bangkit, padahal hari sudah tinggi. Tak berlama-lama SITI memangku sang buah hati, memintanya mandi, tetapi si anak malah berlari menuju gumuk pasir. SITI mengejarnya tertatih-tatih, namun kalah cepat dari sang buah hati. Sang buah hati tak mau pergi. Dia jeri, karena katanya di sekolah ada hantu suka menghampiri. Mungkin dengan seragam baru yang dibelikan SITI, si hantu bisa jadi malah takut menakuti. Sang buah hati mengerti. Ke sekolah dia pergi, tetapi tetap tak mau pamit pada ayahnya yang hanya bisa berbaring. Pun sang ayah tak mau bicara karena kesal hati pada SITI yang bekerja di bilik karaoke di malam hari. Padahal SITI tak ingin. Hutang sang suami harus dilunasi. Saat ini hanya dia yang harus mencari cara agar keluarganya tak mati. Siang berjualan rempeyek jengking dan malam hari bekerja walau tak sesuai dengan keinginan hati. Namun, hutang sang suami tetap harus dilunasi. Suami yang akhirnya hanya bisa berbaring, karena kecelakaan melumpuhkan diri. SITI terpaksa meladeni para petinggi polisi. Hatinya tak ingin, tetapi dia juga butuh kantongnya diisi, karena hidup tak bisa menunggunya berhenti atau sejenak melonggarkan hati. SITI ingin pergi, karena katanya dia jatuh hati pada seorang polisi, yang tampan menarik hati, dengan kantong penuh terisi. SITI meminta sang suami merelakan dia pergi. Akhirnya sang suami pun menyuruh SITI pergi. Kata pertama dan satu-satunya yang keluar dari bibir yang lama terkunci. SITI pun pergi di dini hari, menuju laut Parangtritis yang sunyi.

***

Film berdurasi 88 menit karya Eddie Cahyono dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini sudah mendulang banyak prestasi dan review positif. Tayang pertama kali di tahun 2014 dalam sebuah festival film independen di Jogja dan terakhir menjadi film terbaik FFI 2015, akhirnya tayang di bioskop komersial beberapa hari lalu. Tak banyak yang bisa saya tulis di sini karena saya hanya akan mengamini banyak review positif tentang film ini. Satu kalimat saja rasanya sudah cukup untuk menambah review tersebut: film bagus dan layak menang. Tak ada cacat? Dari sekian banyak hal yang sudah pas tepat takarannya, mungkin sound film ini yang agak mengganggu. Entah karena audio system di salah satu studio di bioskop XXI di kota Bandung ini yang jelek dan sepertinya agak bocor atau karena kualitas sound film ini yang terdengar agak terlalu keras dan kasar. Entahlah. Namun, lepas dari itu semua saya sangat terkesan pada pilihan warna monochrome hitam putih dalam film ini serta pengambilan gambar dengan tarikan extra zoom in menuju long shots pada scene yang tepat menimbulkan efek debar, debur, sekaligus hening, sunyi, dan sepi. Deburan ombak yang sangat jelas memperlihatkan butiran-butiran buihnya dan lekukan-lekukan airnya atau kamera yang semakin menyorot jauh SITI (Sekar Sari) yang berlari mengejar anaknya ke gumuk pasir, sehingga hanya ada siluet mereka berdua di kejauhan, buat saya ini sangat romantis. Seromantis saat Bagas (Bintang Timur) meminta SITI bermain layangan dengannya di tepi pantai Parangtritis. Blocking dua pemain ini sempurna berada di bingkai gambar 4:3.

SITI buat saya adalah film romantis dengan tone warna monochromenya, sekaligus juga memberikan kesan ironis seperti hidup SITI yang putih di siang hari dan hitam di malam hari. Perjalanan kamera yang menyorot rumah bilik SITI ke sana ke mari mempertegas sempitnya ruang pilihan hidup SITI. Ekspresi wajah dan gerak para pemainnya –yang tidak banyak orang mengenalnya- sangat wajar dan apa adanya. Mereka tidak sedang beracting, mereka sedang memainkan kisah hidup yang nyata terjadi pada banyak SITI yang lain.

Penggunaan 99% Bahasa Jawa dalam film ini juga tidak mengganggu saya, karena memang konteks dan narasi film ini menuntutnya demikian, bahkan semakin mempertegas tema, latar belakang, dan narasi kisah. Sebagai orang berdarah Jawa yang tidak mengerti Bahasa Jawa saya terbantu oleh subtitle dalam Bahasa Indonesia, sekaligus juga sedikit-sedikit berusaha mengerti apa yang dibicarakan. Hal ini tentu tidak hanya berguna untuk saya, tetapi juga untuk semua yang membutuhkan bantuan untuk memahami kisah dalam film ini.

Seperti hidup SITI yang sarat dengan ironi, saya juga melihat banyak ironi yang terjadi dalam industri film di Indonesia, terutama yang terjadi pada film SITI. Film ini menang di beberapa festival, tetapi sudah hampir bisa dipastikan bahwa dia akan “kalah” di saat harus berhadapan dengan industri. Di Bandung film ini hanya diputar di satu bioskop XXI dengan jam tayang 4 kali. Sudah hampir dapat dipastikan penonton film ini pun hanya akan bisa dihitung dengan jari. Masih untung kemarin saat saya menontonnya ada 9 orang penonton lain yang ikut menonton, karena saya sebelumnya pernah berada sendirian dalam studio saat menonton sebuah film. Sayang sekali, tetapi memang demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan penonton Indonesia –dan mungkin juga penonton bioskop di belahan dunia manapun- lebih senang menonton film ringan tertawa haha hihi, lebih senang menonton film dengan teknologi dan efek canggih, lebih senang melihat wajah-wajah cakap dan cantik muncul di layar, lebih senang melihat keindahan dunia luar dibandingkan dengan menyaksikan indahnya pemandangan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang hening, lebih senang menonton film dengan judul berbahasa Inggris dan dialog campur aduk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sama sekali tak mendukung kisah dibandingkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah secara utuh, lebih senang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pemandangan indah di luar negeri dibandingkan dengan mengoptimalkan kisah dan keindahan alami negeri sendiri, atau juga mungkin lebih senang akan kisah multiplot berpilin-pilin dibandingkan dengan kisah sederhana tentang satu hari dalam hidup seseorang, tetapi digarap dan diolah dengan emosi maksimal. Sayangnya memang begitu kenyataannya.

Maka ketika film SITI ini tayang, saya hanya bisa terpana dan menghela nafas. Ini film yang amat sangat layak dilihat. Selain masalah sound tadi, semua hal yang mendukung film ini dari mulai dari tema, pengambilan gambar, scoring musik, sampai penyuntingan dan make up berada pas pada takarannya. Tak perlu pemain-pemain tampan dan cantik atau pengambilan gambar di negara-negara dan tempat-tempat tujuan turis, yang alhasil malah jadi seperti mempromosikan mereka, film SITI ini menampilkan dengan sempurna keindahan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang sepi, tetapi penuh dengan ironi. Ini film tentang hidup, dengan SITI sebagai yang menghidupinya.

***

Itu sepenggal kisah SITI, yang sehari-hari berjualan rempeyek jengking dan malam hari menjadi orang lain: demi hidup dan utang yang harus dilunasi. Namun, ini juga tentang SITI dengan hitam putihnya ironi kreatifitas dan industri.

Bandung, 300116

Bulan (Di)(Ter)belah: Akhir Trilogi yang Dipaksakan

Film-Bulan-Terbelah-di-Langit-Amerika-200x290

Sumber gambar: movie.co.id

Terus terang saya agak sulit untuk menuliskan sesuatu yang tidak saya suka, terutama untuk urusan film, buku, atau musik. Apalagi jika kemudian sudah ada pendapat yang tidak terlalu bagus tentang film, buku, atau musik tersebut. Namun, saya pikir kali ini saya ingin mencoba objektif terhadap apa yang tidak saya sukai dengan cara menuliskannya di sini. Baiklah, saya coba.

Jadi minggu lalu saya cukup rajin menonton film. Ada tiga film Indonesia yang saya tonton, yaitu: “Negeri van Oranje”, “Ngenest”, dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Itu semua sebenarnya bukan genre film yang betul-betul ingin saya tonton, karena rasanya saya sudah bisa menebak bagaimana filmnya, castnya, scriptnya, dll. Namun, seperti yang saya tulis sebelumnya, saat ini saya sedang ingin mencoba objektif dengan cara tidak menonton film yang benar-benar ingin saya tonton saja, tetapi juga film lainnya. “Negeri van Oranje” akan saya tulis di tulisan lain dalam blog ini. Begitu juga dengan “Ngenest”. Sekarang saya akan fokus dulu pada “Bulan Terbelah di Langit Amerika” (BTdLA).

BTdLA ini adalah bagian ketiga dari trilogi kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra, setelah sebelumnya kisah mereka difilmkan dalam “99 Cahaya di Eropa” dan “99 Cahaya di Eropa 2”. Terus terang, dulu saya mungkin agak menaruh harapan lebih pada “99 Cahaya di Eropa” dan ternyata dikecewakan oleh script dan dialog yang sangat normatif dan malah terasa artifisial, mengada-ngada, klise. Cast di film itu sebenarnya bermain cukup bagus (Abimana, Acha Septriasa, Alex Abbad, Nino Fernandez, Dewi Sandra, dan Raline Shah), tetapi karena tidak ditunjang dengan script yang bagus, akhirnya kemampuan para pemainnya terlibas oleh ketidaklogisan alur cerita yang muncul lebih dominan, setting yang sepertinya dibuat tanpa survey (apartemen mahasiswa penerima beasiswa yang cukup mewah, ruang kerja dosen yang berupa saal kuliah , dll), selain tentu saja yang mungkin positif adalah suguhan pemandangan Eropa yang cantik dan boots serta coats yang keren. Oh ya, satu lagi, mungkin bagus untuk sedikit belajar Bahasa Jerman, hehe. Berdasarkan pengalaman itu akhirnya “99 Cahaya di Eropa 2” tidak saya lihat di bioskop, tapi sekilas saja ditonton kemudian di tv. Saya malas.

Lalu mengapa akhirnya saya menonton BTdLA? Terus terang saya pun tidak berharap lebih, walaupun Rizal Mantovani yang menjadi sutradaranya. Sebelumnya saya agak kecewa juga pada Rizal setelah menonton “Supernova”, tetapi saya mencoba berharap bahwa minimal dari sudut pengambilan gambar ada yang bisa saya “lihat” di BTdLA, karena “Supernova” cukup “terbantu” dengan gambar pemandangan yang bagus yang dibuat Rizal. Bagaimana dengan BTdLA? Untuk menjawabnya saya harus menontonnya dulu, walaupun seorang sahabat bercerita, ibunya tertidur di 10 menit pertama film ini main dan sahabat yang lain berkisah, bahwa banyak adegan tidak logis dalam film ini.

Maka saya datang ke bioskop dan sayangnya saya juga sudah dalam kondisi mengantuk setelah bekerja. Kondisi bioskop yang gelap dan sejuk mendukung ini semua. Apalagi di awal-awal saya disuguhi scene narasi tentang situasi ulang tahun sebuah keluarga di Amerika: ayah keturunan Timur Tengah, ibu seorang mualaf Amerika. Penggambaran keluarga ideal. Sang ibu (Rianti Cartwright) berkerudung dan merekam terus suasana ulang tahun, sampai dia –entah dengan maksud apa- mengikuti suaminya yang sedang menerima telefon dan merekamnya. Ini yang menjadi awal masalah yang terjadi kemudian. Dan sialnya, sebagai orang bahasa, saya selalu merasa terganggu oleh film yang menggunakan bahasa asing yang sepotong-sepotong. Mengapa harus dipaksakan ada bahasa asing dicampur bahasa Indonesia padahal dikisahkan keluarga ini adalah murni keluarga Amerika, bukan Indonesia atau keluarga campuran Indo? Bahasa di sini akhirnya bukan menjadi penunjang cerita, tapi malah menjadi tempelan yang justru mengganggu. Menurut saya penggunaan subtitle mungkin masih akan lebih baik.

Kemudian narasi beralih pada tokoh utama Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya). Hanum yang sudah menjadi jurnalis ditugasi untuk mewawancarai Azima Hussein (Rianti Cartwright) di New York yang suaminya diduga terlibat dalam peristiwa 9/11. Sedangkan Rangga kebetulan ditugaskan untuk mewawancari dan meminta seorang milyuner untuk datang ke Wina. Cerita kemudian bergulir lambat ke narasi kisah Azima dan Sarah, Hanum dan Rangga, Stefan (Nino Fernandez) dan Jasmine (Hannah Al Rasyid), Stefan dan Rangga, dan tokoh kunci lainnya seorang milyuner dan philantropis bernama Phillipus Brown. Kisah dibuat multiplot dengan masing-masing permasalahan tokohnya, serta alur yang maju mundur, tetapi niat utamanya sebenarnya mengacu pada dampak peristiwa 9/11 terhadap umat Islam, khususnya di Amerika.

Seperti juga dua kisah sebelumnya yang mengangkat permasalahan Islam sebagai agama minoritas di Eropa dan Amerika, serta “perlakuan” diskriminatif terhadap Islam dan orang Islam, BTdLA juga masih mengusung tema ini. Dan seperti juga dua kisah sebelumnya yang menurut saya terlalu banyak kebetulannya dan terlalu “memaksakan” diri untuk membentuk “citra”positif toleransi antarumat beragama, BTdLA pun sama. Sebegitu mudahnya orang berprasangka dan berlaku diskriminatif, sebegitu mudahnya pula pandangan dan perlakuan tersebut berubah menjadi sangat positif, hanya karena pidato seorang milyuner di depan tv. Pidato yang sangat membosankan menurut saya karena dilakukan dengan amat sangat lambat seolah-olah sedang belajar membaca. Secara kebetulan, isi pidatonya pun tentang bagaimana suami Azima Hussein menolong dan mengubah hidupnya. Suatu kebetulan –yang mungkin sebenarnya bisa saja terjadi- tapi agak aneh saja menurut saya jika dilakukan di tengah suasana panik luar biasa karena gedung pencakar langit itu tiba-tiba dibom dan runtuh.

Kebetulan-kebetulan ini yang menurut saya terlalu dipaksakan masuk ke dalam script kisah dengan maksud membuat “citra” Islam menjadi baik, tetapi tidak memikirkan logika dalam penyampaiannya. Alih-alih maksudnya sampai, saya malah mengerutkan kening. Misalnya saya teringat pada satu scene di film “99 Cahaya di Langit Eropa” saat Hanum berbincang dengan setting di menara Eiffel. Suasana menara Eiffel yang begitu sepi itu amat sangat tidak mungkin terjadi. Menara ini adalah salah satu menara yang selalu penuh dikunjungi orang. Kemudian jika dari menara Eiffel ditarik garis lurus ke arah Arc de Triomphè dan kemudian ditarik garis lurus lagi maka tarikan garis itu –katanya- akan lurus dengan Ka’bah. Kebetulan? Tidak cukup masuk logika saya, sayangnya. Kebetulan-kebetulan yang sama juga terjadi dengan BTdLA. Kebetulan map Hanum tertinggal di mobil dan ditemukan oleh seorang pemimpin demonstran antiIslam, seolah-olah map itu penting baginya, tapi pada perkembangan kisah selanjutnya map dan isinya itu ternyata tidak berarti apapun. Agak tidak masuk logika saya juga jika Azima bertetangga dengan seorang Amerika yang tidak suka pada Islam dan orang Islam setelah peristiwa 9/11, kemudian sikapnya berubah drastis setelah menonton tayangan pidato sang milyuner. Lalu secara kebetulan Rangga bertemu dengan sang milyuner karena mengajukan pertanyaan “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam” sekaligus memberi informasi tentang keberadaan Azima Hussein. Kebetulan saat Hanum diganggu oleh sekelompok anak muda di jalanan New York dan dibantu oleh seorang biarawati, yang akhirnya mereka berdua tetap saja diganggu oleh anak jalanan tersebut. Dan kebetulan-kebetulan lain yang untuk saya rasanya terlalu banyak.

Cast yang bermain dalam BTdLA ini juga tidak terlalu istimewa. Abimana tetap menjadi Abimana di situ. Saya tidak melihat perbedaan yang signifikan antara dia sebagai Rangga atau dia sebagai Wicak di film Negeri van Oranje yang saya lihat sehari sebelumnya. Acha Septriasa bermain agak lebay, maaf. Saya malah justru merasa lebih nyaman dengan acting Hannah al Rasyid yang terlihat santai berperan sebagai Jasmine. Nino Fernandez pun masih cukup menghibur sebagai Stefan walaupun kenyinyirannya sedikit berkurang. Rianti Cartwright juga masih belum bisa melepaskan image Aisha dalam Ayat-ayat Cinta dari perannya sebagai Azima Hussein dalam film ini. Pemeran-pemeran pembantu lainnya ya begitulah. Rasanya di Indonesia masih bisa didapatkan pemeran extras yang lebih baik.

Melihat keseluruhan film ini, ternyata pada akhirnya saya memang tidak bisa memberikan penilaian objektif. Mungkin karena saya pernah bertahun-tahun berada dan menjadi kelompok minoritas di Eropa dan saat peristiwa 9/11 itu saya –Islam, berkerudung, perempuan, Asia- juga sedang berada di Jerman, saya tahu betul bagaimana pandangan orang-orang terhadap Islam dan orang Islam itu terbangun. Tidak semuanya bagus, tapi tidak semuanya jelek. Yang paling banyak adalah abu-abu. Saya juga tahu betul rasanya membangun kebanggaan terhadap agama saya sendiri –Islam- di tengah gempuran berita-berita negatif tentang agama saya. Namun, saya juga tahu betul konflik batin dalam diri saya saat saya bertanya pada diri saya sendiri: Apa itu Islam? Mengapa saya Islam? Untuk apa Islam?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu bergumul dalam kepala saya yang jawabannya tidak saya temukan secara instan, atau mungkin saya tidak benar-benar temukan jawabannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman hidup saya, saya mengalami proses peyakinan, penguatan tentang apa yang saya pilih –atau dipilihkan-. Saya Islam sejak lahir dan saya memilih untuk tetap menjalaninya. Karena saya pernah menjadi minoritas itulah maka saya belajar lebih mengenal diri dan agama saya dan itu bukan proses yang mudah dan instan. Tidak seperti yang ditampilkan oleh film ini. Tidak seperti yang ditampilkan oleh trilogi yang diambil dari kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra ini. Oleh karena itu, jika harus memilih, dalam trilogi kisah ini saya lebih menyukai tokoh Stefan –orang Austria- yang atheist dan dia konsisten dengan keatheisannya, dengan sikap nyinyirnya, tetapi dia mau belajar melihat, mencoba, dan berusaha memahami apa yang diyakini oleh sahabatnya, Rangga. Begitu juga sebaliknya dengan Rangga. Relasi Rangga dan Stefan inilah yang rasanya terlihat paling realistis dalam keseluruhan trilogi.

Mungkin awalnya saya berharap terlalu banyak bahwa film ini bisa lebih mengangkat tema “pergulatan” batin seseorang di tengah wacana diskriminatif terhadap Islam. Kisah difokuskan pada satu tokoh saja, tetapi sayangnya tidak. Akhirnya yang muncul memang hanya scene-scene normatif yang membangun mimpi. Penonton tidak diajak berpikir, hanya disuapi, tanpa tahu apa yang dia sebenarnya makan. Dan mungkin saya juga tipe penonton yang memperhatikan detil –walaupun dalam keadaan cukup mengantuk- saya melihat bahwa secara teknis editing gambar sangat tidak halus, tempelan terlihat di mana-mana, angle kamera yang terlihat dilakukan dengan tidak fokus dan terburu-buru, sehingga mendapat kesan jangan-jangan pengambilan gambar dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena mungkin masalah ijin? Atau adegan saat Hanum terjatuh ketika terjadi kerusuhan saat demonstrasi juga terasa sekali dibuat-buatnya. Scene demonstrasi, kerusuhan, kepanikan saat gedung runtuh karena dibom, itu semua sangat tidak mungkin rasanya dibuat oleh seorang Rizal Mantovani yang biasanya peduli pada bahasa gambar. Dan yang paling membuat saya geli campur miris adalah scene pidato sang milyuner di sebuah tempat yang sangat dijaga ketat dan dihadiri oleh banyak orang: 5 – 6 orang berkulit putih, dan sisanya di belakang mereka berdiri orang-orang Indonesia yang rambutnya dicat pirang dan dimake up seolah-olah mereka adalah orang kulit putih. Ini jelas-jelas hanya basa basi.

Ah, saya harus berhenti, karena ternyata dari satu scene itu saja saya sudah mulai mempertanyakan: siapa sedang mendiskriminasikan siapa sebenarnya? Jangan-jangan kita yang sedang mendiskriminasikan diri kita sendiri, dengan menempatkan si kulit putih di depan kita. Jangan-jangan kita yang sedang ragu pada apa yang kita yakini dengan membabi buta membela diri, sekaligus nyinyir pada yang lain. Bukankah kita jadinya sama dengan mereka yang kita anggap nyinyir pada kita? Jangan-jangan musuh kita sebenarnya adalah diri kita sendiri? Jangan-jangan bulan itu tidak pernah terbelah, karena hanya dari bumi lah dia terlihat menjadi sabit kemudian perlahan menjadi purnama. Perspektif. Manusia lah yang memaknainya. Tergantung dari mana dia melihatnya.

Dan seperti pertanyaan yang menjadi motif utama film ini: “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam”, maka saya jutsru bertanya “Apakah film ini akan lebih baik jika saya tidak menontonnya?” Jawaban saya sayangnya tidak. Banyak hal yang dipaksakan dan sayangnya saya tidak suka dipaksa.

Bandung, 120116

„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (1)

sayaterimanikahnya

Seperti biasa saya selalu terlambat jika menyukai sesuatu, tetapi kemudian biasanya saya akan menyukainya dengan sepenuh hati. Contohnya saat saya menyukai “Saya Terima Nikahnya” (STN) salah satu judul komedi situasi yang ditayangkan oleh NET TV sejak tanggal 26 Januari sampai 6 September 2015. Saya memang tahu bahwa ada acara situasi komedi ini, iklannya pun beberapa kali saya lihat, tampaknya menarik, tetapi saya tetap tidak menontonnya karena satu dan lain hal. Baru pada suatu hari di bulan Maret, saya tumben-tumbenan dapat menonton tayangan talkshow “Just Alvin” di Metro TV dengan bintang tamu salah satunya Tika Bravani dan Dimas Aditya, dua pemain di komedi situasi STN. Melihat mereka berdua saat diwawancara Alvin Adam membuat saya tersenyum-senyum sendiri dan entah mengapa juga “kupu-kupu di perut” saya ikut “menari”. Sejak itu saya penasaran pada STN sampai akhirnya saya membuka youtube. Untungnya NET TV memang mengunggah semua tayangan di saluran youtube, sehingga memudahkan saya untuk melihat semua rekaman tayangan STN dari episode awal. Episode “Preman KW” lah yang akhirnya saya saksikan langsung di TV. Untuk pertama kalinya, setelah 2 bulan STN tayang, saya menontonnya dan ternyata saya suka.

STN berkisah tentang sebuah keluarga menengah ke atas bernama Keluarga Arifin dengan tokoh utama Papi (Ray Sahetapy) yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung, tetapi harus pensiun dini karena menderita sakit jantung, Mami (Nungki Kusumastuti) seorang ibu rumah tangga yang sangat peduli pada kesehatan Papi dan keluarganya, tetapi dia juga sangat memperhatikan penampilan dan kecantikan dirinya, Kirana (Tika Bravani) anak tunggal Papi dan Mami berpendidikan S2, tetapi tidak berkarir di luar rumah karena menikah dengan Prasta (Dimas Aditya), seorang creative director yang memiliki karir bagus di sebuah perusahaan periklanan besar, tetapi di rumah tidak pernah ‘dianggap’ oleh Papi.

Dengan judul yang diambil dari kalimat sakral saat proses akad nikah, yang mengandung tanggung jawab dan “konsekuensi” besar untuk menerima apapun yang terjadi setelah kalimat tersebut diucapkan, maka STN mengangkat tema keseharian keluarga yang cukup “heboh” tersebut dan “konflik” yang tercipta antara Prasta dan Papi setelah Prasta masuk ke dalam kehidupan keluarga itu, yang pada akhirnya juga melibatkan Mami dan Kirana. Penggambaran keseharian, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan keluarga, dan konflik-konflik yang melibatkan anggotanya ini sering menimbulkan situasi yang lucu, menggemaskan, dan juga manis.

Diawali dengan tayangan perdana saat Prasta akan melakukan proses akad nikah, kegugupannya, dan klimaksnya adalah gangguan panggilan dari telefon genggam milik Abi, sahabatnya. Scene ini yang kemudian menjadi awal bagi “konflik-konflik” dan masalah-masalah lain yang terjadi antara dirinya dan Papi, yang pada akhirnya mau tidak mau juga melibatkan anggota keluarga lainnya. “Konflik” dan masalah yang dimaksud di sini bukanlah konflik dan masalah dalam arti per sè sehingga memunculkan dikotomi protagonis vs antagonis, seperti yang sering digambarkan dalam kisah sinetron-sinetron Indonesia pada umumnya, melainkan “konflik” dan masalah amat sangat ringan yang justru sering muncul dan dialami dalam kehidupan siapapun. Dengan demikian, siapapun yang menontonnya akan dapat tertawa atau minimal tersenyum simpul, karena penonton seolah dapat bercermin pada kisah yang diangkat. Misalnya tentang kekesalan Papi kepada Prasta karena burung kenari dan ayam kate peliharaannya tidak sengaja mati dan lepas oleh Prasta di epidose “Macan” dan “Cobra dan Singa”. Atau usaha-usaha keras Prasta untuk mengambil hati Papi, tetapi sayangnya selalu gagal, seperti dalam episode “Keran Air”, “Ramalan Zodiac”, “Mesin Cuci”, “Belajar Golf”, dll. Konflik batin Kirana sebagai istri, yang lulusan S2 tetapi tidak berkarir dalam episode “Melamar Kerja”, “Miss Kirana” atau “Fashion Blogger”, namun dia tetap berusaha belajar dan selalu ingin menyenangkan Prasta, walaupun juga sering gagal seperti dalam episode “Masakan Kirana”, “Satu Rumah Dua Koki”, dll. Konflik batin Papi yang biasanya sibuk, tetapi terpaksa harus pensiun dini karena penyakitnya dalam episode “Gelang Kolesterol”, dan juga konflik batin Mami sebagai seorang ibu yang takut kehilangan anak tunggal yang sangat dicintainya dalam episode “Brosur Rumah”. Tak ketinggalan tentu konflik batin Prasta yang selalu salah di mata Papi, seperti dalam episode „Preman KW“, „Menantu Pemberani“, „Prasta Minder“atau „Mobil Antik“.

Selain itu, tentu saja kisah cinta Prasta dan Kirana menarik untuk dimunculkan, misalnya dalam episode “Flash Back”. Lalu masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan mereka sebagai pasangan muda yang baru menikah juga menjadi sumber cerita yang menarik. Tema cemburu misalnya muncul dalam episode “Salah Paham”, “Masuk 86”, “Pria Idaman”, “Garage Sale”, “Personal Trainer”, “Kiriman Masa Lalu”, “Rahasia Baju Kenangan”, dll, sampai pada “konflik batin” pasangan muda yang belum juga memiliki anak seperti dalam „Ayo ke Posyandu“ dan “Cara Cepat Pengen Hamil”. Hal-hal kecil yang dalam kehidupan rumah tangga sering menjadi masalah disajikan dalam “Honeymoon Tertunda”, “Gara-gara Handphone”, “Liburan ke Bali”, “Mau Kerja Kok Repot”, “Gagal Nonton Bola”, dll. Selain itu, tema-tema yang sangat akrab dengan kehidupan perempuan seperti dalam “Diet”, “Penuaan Dini” atau “DVD Mami” atau kebalikannya hal-hal yang biasanya sangat disukai laki-laki, seperti “Bimasakti”, “Gamebox Idaman”, “Nobar”, dll. Tema-tema umum, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, dimunculkan dengan segar dalam “Hidup Sehat”, “Cacar”, “Salah Obat”, “Demam Berdarah” atau “Sakit Gigi”.

Dari sisi tema, STN mengusung tema besar yang sangat tidak biasa sebagai benang merahnya, yaitu mengangkat konflik menantu laki-laki dan mertua laki-lakinya. Selain itu, jam tayang awal dari Senin sampai Jumat memungkinkan penulis cerita untuk menggali beragam tema sehari-hari yang tetap mengacu kepada benang merah kisah ini. Menariknya, STN dapat mengintegrasikan program acara lain di NET TV ke dalam ceritanya, seperti dalam “Berpacu dalam Melodi”, “Masuk 86” dan pada episode terakhir STN sore tadi “Mami Belajar Nyanyi”.

Dari sisi pemain, STN didukung oleh pemain-pemain kawakan yang sudah dikenal dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia perfilman dan pertelevisian Indonesia. Ray Sahetapy sangat berhasil menghidupkan sosok Papi yang tegas, galak, posesif, percaya diri, tetapi juga jahil, suka iseng, manja, dan romantis. Nungki Kusumastuti adalah Mami yang lembut, sangat perhatian, penuh cinta, teliti, pandai memasak, tetapi sebenarnya sangat tegas dan galak. Pada akhirnya, rumah besar itu  sebenarnya dimotori oleh Mami, walaupun Papi adalah “Kepala Negara” nya. Tika Bravani juga berhasil menghidupkan sosok Kirana, anak tunggal kesayangan Mami –Papi, yang manja, kadang terlihat lugu dan polos, tetapi pintar dan sangat menyayangi serta setia pada Prasta, suaminya. Apapun akan dilakukannya untuk kebahagiaan Prasta, walaupun dia harus berbohong pada Papi. Dimas Aditya adalah sosok sentral dalam STN ini. Dia menjelma menjadi Prasta yang sering gugup, minder, tidak percaya diri, dan penakut –terutama bila berhadapan dengan Papi, tetapi tulus, penyayang, sekaligus jahil dan suka iseng. Wajah ganteng Dimas Aditya dan aktingnya sebagai Prasta yang penurut, tulus, dan penuh cinta, membuatnya langsung menjadi suami idaman para istri dan menantu idaman para mertua. Namun, tentu tidak di mata Papi.

Keempat pemain STN ini bermain sangat natural. Kedekatan dan keakraban mereka in frame tidak terasa dibuat-buat, mengalir alami begitu saja. Bahkan emosi marah, cemburu, atau pertengkaran pun muncul seolah-olah memang begitu adanya. Apalagi ekspresi cinta dan kasih sayang. Dengan demikian penonton dapat merasa, bahwa mereka sepertinya tidak sedang berakting, melainkan sedang memperlihatkan kisah kehidupan mereka sendiri di layar kaca. Celetukan-celetukan spontan dan lucu juga sering muncul dari Dimas Aditya dan Ray Sahetapy. Celetukan-celetukan itu menjadi lucu, karena mereka melakukannya dengan biasa saja, tidak dibuat-buat.

Para pemain STN bermain dengan hati sehingga menubuh kuat pada karakter-karakter yang mereka mainkan. Sehingga pada akhirnya penonton pun sulit untuk memisahkan Ray Sahetapy dari sosok Papi, Nungki Kusumastuti dari Mami, Tika Bravani dari Kirana, dan Dimas Aditya dari Prasta. Energi yang mereka mainkan in frame bisa sampai pada penonton. Sampai-sampai banyak komentar muncul dari penggemar STN di media sosial yang mengungkapkan bahwa mereka kasihan pada Prasta karena terus menerus dibully oleh Papi atau ikut terhanyut pada romantisme Kirana dan Prasta, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya peduli seperti kapan Kirana dan Prasta punya anak, atau mengapa orang tuanya Prasta tidak dimunculkan, menunjukkan bahwa STN cukup berhasil menarik perhatian penontonnya. Penonton tidak sedang melihat suatu tayangan komedi situasi di televisi, tetapi mereka sedang “diputarkan” dan melihat kisah kehidupan mereka sendiri, hal-hal yang mereka rasakan, mereka alami atau yang mereka inginkan. Pengalaman, rasa, dan impian para penonton direfleksikan lewat tokoh-tokoh dan setiap episode STN. STN menyuguhkan realita rasa dan kehidupan.

Hal ini pula lah yang mungkin membuat saya juga akhirnya menjadi betah dan sangat intens mengikuti STN sampai episode terakhirnya sore tadi. Saya yang biasanya tidak pernah menonton TV, kalau menonton pun hanya sekilas-sekilas untuk update saja dan untuk kepentingan mengajar, ternyata merasa harus mengosongkan waktu untuk menonton STN di hari dan jam tayangnya. Saya bahkan dapat mengulang-ulang scene-scene yang menarik perhatian saya. Saya sampai hafal dialog apa muncul dalam episode apa dan detil serta alur ceritanya. Beberapa kali pula dialog dan tema-tema di STN saya angkat dan diskusikan dalam perkuliahan saya.

Namun, sebagai penonton yang selalu melihat tayangan dengan detil –kalau ini memang kebiasaan saya-, saya merasa bahwa secara kualitas teknis STN Season 1 lebih baik daripada Season 2. Di kedua Season memang tetap ditampilkan gambar-gambar yang sangat “DSLR”, dengan samaran dan fokus yang pas. Sudut-sudut pengambilan gambarnya juga cukup bagus. Season 1 lebih berkisar mengambil gambar di sudut ruang yang sempit, tetapi sangat fokus, sedangkan Season 2 lebih berani mengambil sudut yang lebar dan luas. Mengenai detil setting dan properti, STN Season 1 juga lebih baik dari Season 2. Bahkan jarum jam pun diperhatikan betul kesesuaiannya dengan konteks cerita yang muncul dalam scene. Demikian juga dengan tattoo yang dimiliki Dimas Aditya  diperhatikan betul agar tidak tampak, walaupun sesekali sempat sedikit terlihat pula. Season 2 agak lemah dalam hal ini. Misalnya beberapa kali Kirana dan Prasta terlihat tidak menggunakan cincin kawin mereka, yang dalam Season 1 selalu tidak pernah lepas dari jari manis tangan kanan mereka. Jarum jam pun demikian, sering tidak sesuai konteks cerita, misalnya Prasta yang akan berangkat kerja pagi-pagi, tapi jarum jam dinding menunjuk ke angka 4 dan di luar terang benderang. Belum lagi setting ruang kerja Prasta yang tiba-tiba berubah menjadi sangat “tidak jelas”. Setting kamar Papi dan Mami pun baru dimunculkan di episode terakhir. Behind the scenes, yang biasanya sangat menarik perhatian penonton, juga dihilangkan diganti dengan foto-foto pemain, yang pemilihan warnanya menurut saya agak sendu. Script STN Season 2 pun tampak lemah. Beberapa cerita bahkan mengalir hambar tanpa alur yang jelas. Sayang sekali.

„Soekarno: Indonesia Merdeka“ – (Bukan) Romantisme Masa Lalu?

soekarno filmDalam satu bulan ini saya menonton tiga film Indonesia: NOAH Awal Semula, Sokola Rimba dan Soekarno. Jika NOAH Awal Semula cukup sukses membuat saya mengantuk, Sokola Rimba dan Soekarno cukup sukses membuat saya terharu dan mengeluarkan air mata. Tiga film yang bergenre sama yaitu biografi, dengan teknik penceritaan yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama: perjuangan, mewujudkan mimpi. Yang satu berjuang bangkit dari keterpurukan, mewujudkan kembali mimpi yang hilang, yang kedua berjuang mewujudkan mimpi meratakan pendidikan tanpa kecuali, ketiga tentu berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan, memerdekakan diri dan bangsa. Dan film Soekarno seolah menjadi simpulan dari dua film sebelumnya, bahwa tidak akan ada NOAH dan Sokola Rimba, jika tidak ada Soekarno dan para pendiri negeri ini.

Kisah tentang Soekarno ini siapalah yang tidak tahu, tetapi tetap menarik juga untuk mengikuti perspekstif Hanung dalam menceritakan ulang kisah tokoh besar ini. Dimulai dengan “kehebohan” di rumah Soejoedi yang diperankan oleh Budiman Sudjatmiko saat ada penangkapan para pemuda pergerakan, kemudian cerita beralih ke masa Soekarno kecil yang sering ikut bersama Tjokroaminoto serta berteman dengan Kartosoewirjo, di mana dia kemudian belajar politik. Kisah kemudian mundur lagi saat dia masih bernama Kusno dan sakit-sakitan sehingga namanya pun diganti menjadi Soekarno, dengan harapan agar dia kuat seperti Adipati Karna. Lalu kembali ke masa remaja saat dia tertarik pada seorang noni Belanda bernama Mien (entah benar atau tidak kisah ini), kemudian dia diusir oleh bapak si noni. Hinaan si meneer Belanda inilah yang dalam film dikisahkan menjadi pemicu dia untuk melawan Belanda, membangkitkan semangat dan harga diri kaum pribumi, selain tentu sajakarena melihat kondisi pribumi sebagai bangsa terjajah. Cerita beralih maju mundur ke masa penjara di Banceuy dan Sukamiskin, pembacaan pledoii Indonesia Menggugat yang berakhir dengan pembuangan ke Ende dan kemudian ke Bengkulu. Kemudian cerita bertutur maju sampai ke masa Belanda kalah, Jepang masuk, persiapan kemerdekaan, sampai pada akhirnya pembacaan proklamasi.

Kisah panjang yang dipadatkan. Amat padat untuk durasi sekitar 2,5 jam.  Namun, Hanung ternyata cukup berhasil membuat penonton diam di tempat duduknya bahkan sampai credit title selesai. Padahal penonton film Soekarno tadi bervariasi, dari mulai anak sekolah SD, SMP, SMA, sampai orang-orang tua yang mungkin ingin bernostalgia. Bahkan semua penonton berdiri dan dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta diam hening mendengarkan dengan seksama proklamasi dibacakan dengan suara asli Soekarno. Saya merinding.

Dan lepas dari kontroversi tentang film Soekarno ini, saya rasa film ini secara teknis cukup bagus. Hanung tidak lagi terlalu irit dengan pencahayaan, seperti yang saya lihat dalam Sang Pencerah. Editing dari Cesa David lebih bagus di film ini daripada hasil editingnya untuk NOAH Awal Semula. Scoring music dari Tya Subyakto juga cukup mendukung film ini menjadi film tentang perjuangan yang lirih, bukan yang memberikan semangat berapi-api dan hingar bingar tembakan senjata, seperti yang biasa terjadi dalam film yang ada adegan perangnya. Saya cukup tersentuh dengan scoring musiknya, karena menampilkan tiga lagu yang selalu sukses membuat saya menangis jika mendengarnya: Indonesia Raya, Indonesia Pusaka dan Syukur. Pilihan yang bagus menempatkan lagu Syukur setelah pembacaan teks proklamasi.

Akting para pemainnya juga cukup bagus. Ario Bayu saya rasa pas memerankan tokoh Soekarno, walaupun alas bedaknya terlihat terlalu tebal. Namun, dia bisa menghidupkan sisi humanis tokoh besar yang selama ini dikenal dan „diharapkan“ menjadi sempurna: Soekarno manja dan senang „didominasi“ oleh Inggit, dia juga bisa galau saat jatuh cinta pada Fatmawati, dia pun bisa sakit dan kena malaria, juga takut pada darah. Maudy Koesnaedi sebagai Inggit juga dapat “membalikkan” stereotype perempuan Sunda yang sering digambarkan senang bersolek dan pekerjaannya “menghibur” orang (digambarkan Soekarno mendatangkan perempuan dari Jawa Barat untuk “menghibur” tentara Jepang). Sedangkan Inggit adalah perempuan kuat, dominan, tegas, mandiri, dan cantik. Dia punya pendirian dan berani bersikap. Tika Bravani menampilkan sisi ceria Fatmawati usia 15 tahun yang berhasil memikat seorang lelaki bernama Soekarno.  Pemain lainnya pun berkarakter cukup kuat, seperti Hatta yang diperankan Lukman Sardi dan Sjahrir yang diperankan Tanta Ginting. Soejiwo Tedjo dan Agus Kuncoro selalu bermain bagus walaupun hanya tampil sebentar. Beberapa pemain figuran membuat film ini lebih humanis lagi.

Saking padatnya film ini, sulit untuk saya menentukan scene mana yang paling saya suka atau tidak saya suka. Namun, saya cukup tergetar saat Soekarno menyampaikan ide-idenya tentang landasan negara yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Pancasila memang tak hanya sekedar pemikiran sambil lalu, dia dasar yang berdasar pada keragaman suku bangsa, budaya dan agama di Nusantara. Ini pemikiran cerdas yang pengejawantahannya sekarang bisa dilihat sendiri betapa menyedihkannya.

Pada akhirnya film ini bukan sekedar rekonstruksi sejarah atau cerita tentang romantisme masa lalu seorang tokoh besar nan sempurna, tetapi kontroversial. Jika ingin murni jadi film sejarah memang masih banyak detil yang harus diperhatikan. Namun, dalam film ini ada jalinan yang cukup kuat antara masa lalu, kini dan masa depan yang dijalin lewat dialog antartokohnya. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll berusia sekitar 24 tahunan ketika mereka berpikir jauh ke depan tentang negara dan bangsa ini. Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang saya lakukan ya di saat saya berusia segitu, ya? Apa yang ada di pikiran anak-anak sekarang di usia segitu, ya? Dan seperti yang dikatakan Soekarno saat berdialog panjang dengan Hatta tentang keraguan dan harapan akan bangsa ini, apakah mereka berdua akan mampu memimpin bangsa yang benar-benar kompleks isinya, jawabnya adalah “Kemerdekaan bukanlah tujuan, kemerdekaan adalah awal. Dan biarlah sejarah yang membersihkan nama kita, jika kita melakukan hal yang buruk untuk satu tujuan yang baik.Kita sudah memulai, kita percayakan pada anak cucu kita untuk melanjutkannya.” Duh, yang ini rasanya jleb sekali, apalagi ditingkahi lagu Indonesia Pusaka yang selalu dan selalu mampu membuat dada saya sesak dan menangis. Dipercayakan. Diberi kepercayaan. Bisakah kepercayaan itu dijaga dan dilaksanakan?

Di luar hujan. Orang-orang berteduh menunggu angkot. Anak-anak yang bertelanjang kaki menyewakan payung berseliweran menawarkan jasanya. Oh, itu suasana di Jalan Merdeka Bandung. Tak jauh dari situ ada Jl. Perintis Kemerdekaan, di mana Gedung Landraad berada. 83 tahun yang lalu di gedung itu Soekarno menyampaikan gugatannya kepada pengadilan Belanda atas ide kemerdekaan Indonesia. Apakah dulu dia membayangkan kemerdekaan seperti ini yang terjadi tak jauh dari gedung itu? Air mata saya menetes lagi. Ah, mungkin saya terlalu terbawa pada ide-ide „romantis“ masa lalu atau jangan-jangan kemerdekaan pun „hanya“ sekedar idealisme yang hanya ada di dunia ide atau hanya ada di gedung bioskop? :)

Tautan: http://www.filmsukarno.com/home

Geschwister Scholl: Sebuah Semangat

Geschwister Scholl (Scholl Bersaudara) mungkin menjadi salah satu nama jalan, tempat atau nama sekolah yang paling banyak ditemui di di Jerman. Nama ini diberikan untuk menghormati kakak beradik Hans dan Sophie Scholl yang dikenal karena keanggotaan mereka dalam kelompok Weiße Rose „Mawar Putih“, salah satu perkumpulan mahasiswa di München yang selama masa Perang Dunia II aktif menentang gerakan Nationalsozialismus dengan menyebarkan pamflet dan selebaran berisi protes dan perlawanan terhadap perang dan kediktatoran Hitler,

Hans dan Sophie adalah anak kedua dan ketiga dari keluarga Scholl. Hans lahir tanggal 22 September 1918 sedangkan Sophie lahir tanggal 9 Mei 1921di daerah sekitar Ulm. Seperti layaknya remaja masa itu, mereka pun masuk ke dalam organisasi pemuda di bawah Nazi yaitu Hitler Jugend dan Bund Deutscher Mädel. Bahkan Hans termasuk salah seorang anggota yang aktif dalam Hitler Jugend sampai dengan perkenalannya –kemudian menjadi anggota- dengan kelompok das Ulmer Volk yang didirikan oleh Max von Neubeck yang bersifat lebih „kiri“. Hans kemudian menjadi anggota, diikuti oleh Sophie, selanjutnya keduanya aktif menentang Nazi.

Peran aktif mereka dalam menentang Nazi semakin mendapat tempat saat mereka berkuliah di Ludwig Maximilian Universität München. Hans berkuliah kedokteran, sedangkan Sophie mengambil jurusan biologi dan filsafat. Di München inilah mereka bergabung dengan beberapa mahasiswa lain yang juga memiliki kegelisahan dan tujuan yang sama yaitu menentang Nazi dan menuntut kebebasan, keadilan serta kemandirian dalam berpikir dan bertindak. Mereka kemudian mendirikan perkumpulan „Weiße Rose“ atau Mawar Putih yang awalnya dimotivasi oleh kepercayaan mereka pada agama Kristen dan dalam perkembangannya diperkuat oleh kemarahan mereka terhadap deportasi dan perlakuan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan lawan-lawan politik Hitler.

Hans dan Sophie Scholl sendiri dididik dalam keluarga yang liberal dan sosialhumanis. Sastra, seni dan musik menjadi bagian dari masa kecil mereka. Faktor ini juga yang semakin memperkuat tekad mereka melawan kediktatoran Hitler saat itu. Gerakan perlawanan ini semakin menguat setelah Hans Scholl, Alexander Schmorell dan Willi Graf kembali dari penempatan mereka di Polandia pada tahun 1942 dan di sana menyaksikan pembunuhan massal serta penderitaan orang-orang Yahudi di ghetto di Warsawa

Para mahasiswa itu melawan dengan cara menyebarkan pamflet dan selebaran di kampusnya. Sayang, pada tanggal 18 Februari 1943 saat Hans dan Sophie Scholl sedang menyebarkan selebaran di hall kampus LMU, mereka tertangkap oleh pengurus kampus dan diserahkan kepada Gestapo. Tanggal 22 Februari 1943 mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati dengan guillotine dilakukan hari itu juga di penjara München-Stadelheim.

Hari-hari terakhir kedua bersaudara ini, terutama tentang Sophie Scholl, diangkat ke layar lebar dalam film berjudul „Sophie Scholl – die letzten Tage“. Film ini mendapatkan banyak perhargaan dalam berbagai festival film internasional dan dimainkan dengan sangat apik oleh Julia Jentsch, yang berperan sebagai Sophie. Tak heran dari perannya ini Jentsch dianugerahi gelar aktris terbaik dalam Festival Film Berlin tahun 2005.

Saya masih dapat mengingat adegan-adegan dalam film ini saat Scholl bersaudara menebarkan selebaran di hall LMU, kemudian keduanya tertangkap dan dibawa ke pengadilan. Dalam pembelaannya, Sophie berkata di depan majelis hakim „Di mana kami berdiri sekarang ini, di sini pula kalian akan berdiri tak lama lagi.“

Saya juga masih ingat bagaimana dalam film ini tokoh Sophie Scholl berusaha menjaga sikapnya untuk tetap tenang saat dibawa ke sebuah ruangan untuk menuliskan testamen terakhirnya. Di ruangan itulah dia tahu, bahwa orang tuanya datang menjenguk untuk memberikan dukungan. Sophie kemudian dibawa masuk ke sebuah sel, di mana Hans dan Christoph Probst –salah seorang teman seperjuangan mereka yang juga tertangkap- sudah menunggunya. Mereka kemudian merokok bersama untuk terakhir kalinya, kemudian berpelukan. Sophie dibawa lebih dulu, disusul oleh Hans yang masih sempat meneriakkan kalimat „Hidup kebebasan!“ sebelum dijatuhi guillotine.

Minggu lalu saya beruntung dapat mengikuti simposium yang mengambil tempat di gedung tempat kejadian bersejarah ini terjadi. Saya beruntung dapat berada di hall tempat kedua bersaudara ini berlari ke sana ke mari menyebarkan selebaran perlawanan. Hall yang hening dan megah. Di sana dipasang patung Sophie Scholl setengah dada. Patung yang selalu diberi bunga mawar putih oleh orang-orang yang datang ke sana. Di sebelah patung ini juga ada semacam tugu kecil tempat orang juga meletakkan vas bunga yang diisi bunga mawar putih yang terus diganti. Di tempat ini, tepatnya di bawah tangga, dibuat museum kecil tentang gerakan Weiße Rose. Tempat ini dulunya adalah tempat berkumpul para mahasiswa penentang ketidakadilan. Saya juga beruntung bisa berada di halaman depan pintu utama gedung universitas tua sarat sejarah bernama latin Vniversitas Lvdovic Maximona Censis, yang di lantai berbatu halamannya diberi tanda dari batu berupa „selebaran-selebaran“ kelompok Weiße Rose ini. Berada di sana, ingatan saya melayang kepada adegan-adegan menyentuh penuh semangat dalam film Sophie Scholl tadi dan pada dua bersaudara yang terus berjuang sampai akhir hidup mereka untuk sebuah keadilan dan kebebasan, yang mereka sendiri tidak sempat merasakannya.

Minggu lalu, hujan dan dingin di luar. Geschwister Scholl Platz, di mana LMU berada, sudah dipenuhi ratusan orang yang bergerak menuju pusat kota. Ada demonstrasi besar-besaran menentang dan menuntut penutupan seluruh reaktor nuklir di Jerman: demi keadilan dan kebebasan dunia dari bahaya nuklir. Kepala boleh terpenggal, tetapi semangat untuk bergerak mencari keadilan dan kebebasan akan selalu ada. Di sana: di kampus.

Ben X

Ben_X_website_5

Ben adalah pahlawan. Sempurna tak terkalahkan. Lawan-lawan bisa dilibasnya dengan sempurna. Semua mengaguminya. Termasuk Scarlite. Si Cantik yang juga memujanya. Ben adalah pahlawan. Di dalam permainan online tapi. Di luar dia adalah seorang penderita sindrom Asperger yang menjadi bahan olokan orang-orang di sekitarnya. Hanya ibu, ayah, dan adiknya yang pada akhirnya mau menerima kondisinya. Namun, tentu saja bukan penerimaan tanpa kecemasan dan ketakutan. Bukan atas Ben, tapi lebih pada ketakutan mereka sendiri.

Di dunia nyata –jika diasumsikan ada dunia nyata dan dunia maya- Ben adalah sosok yang terlihat lemah. Tak bisa dan tak mau berkata juga melawan jika ditindas. Dunianya adalah dunia di dalam pikirannya sendiri. Tak ada orang yang bisa mengerti dan masuk ke dalamnya. Dia pun tak membiarkan itu terjadi.

Ben tak bisa dan tak mau tersenyum. Bicara apalagi. Tak ada guna, pikirnya. Walaupun dia mampu. Sampai pada akhirnya, dunianya yang aman hancur oleh dua orang yang mengakuinya sebagai “teman baik kami”. Katanya. Dipaksa menjadi tontonan tak senonoh di ruang kelas. Diiringi sorak sorai penuh kepuasan, dari orang-orang yang disebut teman. Ben berontak. Dunianya tak aman lagi.

Ben semakin gelisah. Scarlite datang menemani. Membuatnya percaya bahwa dia tak bisa meninggalkan permainan begitu saja. Tidak tanpa ditemani Scarlite. Scarlite-lah penyelamatnya. Ben tidak boleh mati. Tidak, jika kematiannya tidak kreatif. Maka Ben merancang berangkat ke laut bebas. Keluarganya turut serta. Di atas kapal yang mengarungi lautan luas, dia menerjunkan dirinya. Direkam oleh kamera yang menangkap saat laut tiba-tiba menjadi sangat hening dengan angin yang berhembus lamat-lamat.

„Harus ada kematian dulu jika ingin ada hidup“, begitu ibu Ben berkata. Semua orang berkumpul di gereja. Duduk mengenang akhir hidup Ben yang tak terduga. Siapa nyana Ben bisa bertindak nekat. Siapa pula yang menyangka jika kemudian Ben bangkit lagi saat kamera memutar kembali rekaman wajah-wajah sadis tertawa penuh kepuasan saat mempermalukan dirinya. Ben telah memilih kematiannya. Mati dengan kreatif. Untuk hidup menjadi dirinya yang berbeda dari orang-orang yang hidup di dunia ini. Dia memilih dunianya sendiri. Dengan Scarlite yang juga hanya ada dalam imajinasinya. Dengan kuda yang tampaknya lebih memahami dirinya.

„Bukan hidup Ben yang harus dicemaskan, tapi sebenarnya kita sedang takut hidup kita yang terancam. Dan saya ingin melepaskan ketakutan saya dengan melepaskan Ben untuk hidup di dalam dunianya sendiri.“ Begitulah sang ibu merelakan hidupnya dan hidup anaknya.

Film berjudul „Ben X“ karya Nic Baltazhar dari Belgia tahun 2007, yang katanya berasal dari kisah nyata ini, bercerita tentang pikiran dan perasaan seorang penderita sindrom Asperger dan tekanan sosial yang dihadapinya. Film yang bagus dan detil menangkap fenomena yang saya rasa bisa ditemui di mana saja. Tidak hanya tekanan yang dihadapi oleh penderita suatu penyakit, namun tekanan sosial juga berlaku untuk apapun dan siapapun yang ada „di luar „yang lain“ dari yang kebanyakan ada dan terjadi. Labelisasi yang diberikan oleh yang menjadi mayoritas apapun itu bentuknya: ras, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial, psikologis. Apapun. Bahkan agama. Sehingga tidak ada lagi kita. Yang ada hanya kami dan kalian. Tak berani menyebut kamu dan aku. Labelisasi yang diberikan entah atas nama apa dan untuk apa. Selalu ada kepuasaan ketika berhasil menekan dan mendominasi. Dan yang mengerikan adalah jika yang ditekan dan didominasi menjadi sangat tak berdaya dan akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Tanpa perlawanan.

Namun, masih adakah rasa bersalah? Karena saya tetap yakin, rasa bersalahlah yang membedakan manusia dari makhluk yang lainnya. Dan saya rasa semua orang –sejahat-jahatnya dia- pasti punya rasa itu. Sekecil apapun rasa bersalah itu pastilah muncul. Pun jika dia tetap tak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan keterbedaan terjadi di depan matanya. Dan apakah diam menjadi tanda setuju atau justru perlawanan yang paling mungkin di saat tak ada kuasa untuk melawan dengan frontal? Di film Ben ada dua orang teman sekelas Ben yang diam, menyaksikan Ben dipermalukan. Diam yang geram. Dan merasa bersalah. Tak berdaya. Mungkin rasanya lebih perih. Seperti saat saya merasa bersalah, saat seorang ibu tua yang kotor dan bermulut kasar ditarik polisi keluar dari halaman rumah saya. Keluarga saya, tetangga sekitar kami terganggu oleh kehadirannya yang tak diharapkan. Dan saya merasa bersalah. Saya juga bersetuju agar dia dibawa ke panti jompo, karena masyarakat di lingkungan kami –yang bukan siapa-siapanya- tak mampu dan bersedia merawatnya. Dengan beragam alasan. Saya diam saat ibu itu dibawa. Diam yang geram, karena saya juga tak berdaya untuk melakukan apa.

Apakah Ben juga merasakan rasa bersalah yang sama saat dia berhasil membalaskan dendamnya saat dia „bangkit dari kematiannya“, tersenyum puas saat melihat orang-orang yang pernah menindas dan mempermalukannya kali ini tertunduk malu, tak ada daya. Apakah dia tak jadi sama dengan mereka? Dan pada manusia tetap puas jika dia bisa mendominasi yang lain. Menguasai yang lain. Mungkin ini juga yang memanusiakan manusia. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.