Egois

Kesedihan, kesenangan, rasa sedih, senang, bahagia dan semacamnya itu memang egois. Di saat orang lain senang, belum tentu kita bisa merasakan kesenangan bersama atau untuk orang itu. Apalagi jika kita sebenarnya sedang bersedih. Di saat orang lain sedih, belum tentu kita juga benar-benar bersedih bersama dan untuk orang itu. Apalagi jika sebenarnya kita sedang bahagia. Begitu sebaliknya jika itu terjadi pada kita. Paling hanya „sekedar“ ucapan bernada simpati: saya ikut sedih atau saya ikut senang. Tapi toh rasanya tidak akan pernah bisa sama dengan rasa yang sedang dialami orang yang bersangkutan.

Jangan-jangan ungkapan semacam itu pun nantinya hanya akan jadi sekedar basa-basi tak bermakna, setelah itu menghilang. Menguap hanya jadi sekedar kata.

Weiterlesen

Masalah

Saya tidak tahu harus merasa dan berkata apa ketika banyak orang berkomentar bahwa saya "tidak punya masalah". Setidaknya itu yang mereka bilang terlihat oleh mereka. Teman dekat saya malah pernah berkata bahwa saya adalah "orang paling sehat" yang pernah dia temui. Seorang sahabat berkata bahwa hidup saya "just perfect": sekolah di tempat dan jurusan yang saya sukai, punya pekerjaan yang saya cintai, punya keluarga yang selalu mendukung saya, punya teman-teman yang selalu ada untuk saya.

Semua komentar itu terus terang tidak membuat saya sepenuhnya senang, karena semua komentar itu tidak benar adanya. Tentu tidak benar karena saya yang mengalami dan merasakannya. Komentar itu untuk saya malah seperti "cap" bahwa saya bukan manusia. Komentar itu malah seperti "larangan tidak langsung" terhadap protes atau keluhan pendek sekalipun. Komentar itu men-tidak-manusia-kan saya.

Mungkin mereka ada benarnya juga beranggapan bahwa saya tidak punya masalah (atau tepatnya: tidak ingin punya masalah) dengan hal-hal yang bagi kebanyakan orang jadi masalah. Namun, saya justru sangat bermasalah dengan komentar-komentar yang -menurut saya- tidak manusiawi itu. Komentar yang tidak memanusiakan manusia. Nah, jadi siapa bilang saya tidak punya masalah?

00:59

Surfacing

Spend all the time waiting

for that second chance

for a break that would make it okay.

There’s always some reason

to feel not good enough

and it’s hard at the end of the day.

I need some distraction.

Oh beautiful release.

Memory seeps from my veins.

Let me be empty

and weightless and maybe

I’ll find some peace tonight.

Only the good die young

„Only the good die young….and the evil seems to live forever….only the good die young…”.*

Only the good die young…

Umur memang tidak bisa diduga. Saat kematian datang menjemput, siapa pun tak bisa menolak. Di mana pun dia, kapan pun itu, dalam kondisi apa pun itu, jika detak dan detik kehidupan itu harus berhenti, maka berhentilah. Tak peduli siapa, betapa pun baiknya dia, betapa pun banyak orang membutuhkannya, menyayanginya, jika saat itu tiba, tak ada yang bisa menolak.

Weiterlesen

Penyakit Kronis: Gangguan Konsentrasi

Obrolan minggu pagi saat sarapan dengan sahabat-sahabat memang menarik dan inspiratif. Dari tema yang satu beralih ke tema yang lain dengan mulut tak berhenti mengunyah, sementara tangan sibuk ambil makanan ini dan itu. Kemudian sampailah pada keluhan seorang sahabat tentang anak-anaknya yang mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran. Salah seorang dari dua anaknya itu malah sudah cukup parah, sampai akhirnya dia merasa perlu untuk membawa anaknya ke psikiater anak. Dia bertanya kepada kami, apakah ada obat yang dapat membantu seseorang untuk bisa berkonsentrasi. Sahabat saya yang lain menyarankan agar anak tersebut dibawa ke alam bebas, dibiarkan menikmati alam, melakukan olah raga, dan agar dijauhkan dari televisi. Karena menurutnya, televisi bisa merusak konsentrasi anak. Kemudian berkembanglah percakapan menjadi diskusi yang menarik.

Weiterlesen

It’s Winter Time

"Seharusnya" sudah masuk musim semi, tapi ternyata salju malah turun semakin banyak. Jadi akhir pekan ini kumanfaatkan untuk "Schneespaziergang" di Hofgarten dan sekitar Bayreuth. Anyway, ngga protes, walaupun dingin, salju itu tetap indah dan tetap kusuka kok :)

Dari jauh:


Dari dekat:

Sepi:

Cold but nice winter:

Bermain:

Porzellan – Poem vom Untergang meiner Stadt

porzellan

Kumpulan puisi dari Durs Grünbein, penyair kelahiran Dresden. Terdiri atas 49 puisi yang mengisahkan tentang Dresden dari berbagai macam sudut pandang. Keseluruhan puisi ini dibuat dalam rentang waktu cukup lama yaitu dari 1992 – 2005.

Dengan gaya bahasa yang sarkastis dan ironis Grünbein berusaha mendefinisikan dirinya sebagai orang Dresden lewat sejarah kota kelahirannya itu. Dresden tidak hanya penuh dengan mitos dan legenda. Dresden tidak hanya penuh dengan seni dan arsitektur yang indah, tapi Dresden untuknya juga adalah kota tempat „orang-orang mati bicara“. Dresden adalah tempat yang penuh dengan „salju hitam“. Dresden adalah kota tempat „malam kristal“ menjadi awal dari „luka yang tak akan pernah bisa sembuh“.

Lewat puisi-puisinya Grünbein pun berusaha mengatasi masa lalunya untuk bisa melangkah lagi ke depan. Melanjutkan hidup.

(Malas) Membaca

Kalau saya pikir-pikir, saya ini sebenarnya malas dan tidak hobby membaca. Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak. Di jaman SD saya rajin membaca komik pewayangan dari R.A. Kosasih, sampai saya hafal betul jalan cerita dan tokoh-tokoh dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Saya membaca cerita bergambar dalam majalah Bobo dan Kawanku (saat itu Kawanku masih jadi majalah anak-anak dan isinya pun bagus). Saya juga membaca biografinya Soekarno dan Hatta milik kakek saya. Saya membaca buku serial Malory Towers, Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif, Tintin, Nina, Asterix, Steven Sterk, Smurf, Pippi si Kaos Kaki Panjang dan semua buku-bukunya Astrid Lindgren. Menginjak bangku SMP saya membaca habis semua roman terbitan Balai Pustaka. Dan ketika teman-teman saya keranjingan majalah Hai, Mode, dan Gadis, saya malah sibuk membaca novel-novelnya Mira W dan Marga T serta membaca majalah Femina, Kartini dan Sarinah. Setiap saya membeli buku sejarah, saat itu juga saya langsung membacanya sampai habis.

Weiterlesen