Rumah di Seribu Ombak: Berombak dengan Damai

Bild

Baru membaca halaman-halaman awal novel karya Erwin Arnada ini, bayangan saya langsung ikut terbang jauh ke Pantai Lovina, tepatnya di daerah Kalibukbuk, Singaraja Bali. Saya bisa merasakan kembali dengan jelas suasana pantai subuh hari yang sepi, anginnya yang sejuk menyentuh kulit, langit masih cukup gelap yang lambat-lambat disaput sinar memerah, ombak berdebur pelan mendamaikan hati yang juga sejuk diiringi mekidung yang dikumandangkan dari pura agung di belakang saya dan gema adzan subuh dari mesjid tak jauh dari pura.

Saya membaca lagi halaman-halaman berikutnya, masuk dengan tertib ke dalam narasi si aku pencerita: anak laki-laki kelas 5 SD bernama Samihi Ismail. Dia anak seorang perantau dari Sumatera Barat yang sudah berdiam di Singaraja lebih dari 20 tahun. Samihi yang saya imajinasikan dari narasi yang saya baca adalah anak kecil yang kurus dan penyakitan (dia menderita asma dan tak pernah lepas dari inhalernya), penakut (dari takut air sampai takut berbuat salah, takut berbohong sampai takut menjadi anak durhaka), tapi rajin dan pintar. Tipikal. Samihi, yang biasa dipanggil Samii, bersahabat tanpa sengaja dengan Wayan Manik, yang biasa dipanggil Yanik, anak asli Singaraja yang putus sekolah karena tak punya uang untuk melanjutkan sekolah, anak yang ulet, pekerja keras, pemberani dan setia kawan.

Persahabatan yang terjadi antara Samihi dan Yanik terjalin dengan manis di tengah perbedaan yang melatarbelakangi mereka berdua. Samihi adalah dan berasal dari keluarga muslim yang taat, sedangkan Yanik adalah seorang penganut Hindu yang taat. Mereka saling mendukung, menginginkan yang terbaik satu sama lain. Yanik adalah orang yang sangat menginginkan Samihi menjadi juara qiraah, maka dia pun mengenalkan Samihi kepada ahli-ahli mekidung untuk melatih suaranya. Samihi sangat menginginkan Yanik kembali bersekolah, maka dia pun melawan rasa takut dosanya karena mendukung Yanik ikut metajen –sabung ayam, yang dianggapnya judi-, satu-satunya cara yang cepat untuk menghasilkan uang agar Yanik bisa kembali bersekolah.

Persahabatan mereka tidak mulus-mulus saja. Ada banyak trauma dan ketakutan. Ada niat baik yang tentu saja tak selalu bisa diterima dengan baik pula, sehingga berujung pada konflik. Ada curiga, ada percaya. Namun, saya masih bisa menangkap bahwa sahabat adalah tetap sahabat, apapun yang terjadi. Klisenya mungkin: dalam suka dan duka selalu mengharapkan dan berbuat yang terbaik.

Narasi kilas balik dari si aku pencerita dituturkan dengan tenang, tidak menggebu-gebu. Seperti debur ombak di Lovina, tidak besar, tetapi tetap saja orang harus waspada. Namun, saat setting berpindah ke pantai Kuta, narasinya pun terasa lebih menggebu. Saya hanyut, terus terang. Sudut pandang Samihi, seorang murid SD yang sederhana dan neko-neko pun terlihat dari “caranya” yang “begitu saja” saat menceritakan peristiwa pelecehan seksual terhadap Yanik.

Beragam perbedaan “dibenturkan” dengan halus oleh Erwin. Tampaknya dia memang sedang berusaha mencari „harmoni“ dari perbedaan-perbedaan, yang tak bisa dielakkan karena memang sudah ada, dengan cara „membalikkan“ stereotipe yang telah dimunculkan (dengan salah): perantau yang menyatu dengan penduduk desa, orang bule yang justru membawa petaka, bukan hanya „devisa“ atau orang Bali yang berhasil.

Novel ini juga berkisah tentang usaha tokoh-tokohnya berperang sekaligus berdamai dengan diri, tubuh dan pikirannya, melawan sekaligus keluar dari ketakutan, trauma, kemarahan yang sublim, kecurigaan dan prasangka yang muncul karena rasa percaya yang dicerabut tanpa sebab yang jelas. Ketakutan dan trauma akan air yang dialami Samihi menjadi benang merah bagi ketakutan yang lebih besar karena ketidakpercayaan kepada diri, kepada sekitar, kepada orang lain, kepada sistem, kepada hidup yang tidak selamanya indah dan kepada Yang Memberikan Hidup. „Perjuangan“ Samihi dan Yanik untuk itu semua dinarasikan dengan cukup menyentuh dan tentu saja tidak selamanya berujung baik. Berdamai dengan hidup, meminta dan memberi maaf serta menerima bahwa diri dan hidup memiliki batas tentu bukan hal yang mudah. Ketika pada akhirnya Samihi yang pendiam dan penakut berhasil „menaklukan ombak“, Yanik yang pemberani dan menggebu-gebu lebih memilih „berdamai dengan ombak“ . Toh keduanya sama-sama memilih akhir yang „hening“ di antara „seribu ombak“, sebergejolak atau setenang apapun ombak itu. Itu hidup, yang akan „selalu dihadapkan pada hal-hal yang indah dan memilukan.“

Cukup banyaknya kesalahan tipografi dan peletakan tanda baca yang tidak tepat, ternyata tidak cukup mampu menahan air mata saya agar tidak keluar saat membaca kerinduan Samihi kepada Yanik yang sudah menemukan „rumah abadinya“ di „seribu ombak“ Laut Lovina dan seribu pertanyaan yang kadang memang tak perlu dijawab. Seperti laut dan ombak yang juga tetap penuh rahasia.

 „Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama. Mengapa kini kau lari menjauh? Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu“.


Dan kenangan-kenangan saya akan Pantai Lovina dan Kalibukbuk, suasana desanya, penduduknya, dan „rasa“ yang muncul saat saya menghabiskan beberapa hari di sana, kembali menari-nari dengan jelas  saat saya membaca novel ini. Ini Bali yang saya ingin cari saat itu dan saya temukan di sana serta segera memikat saya: “Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.“

Bayreuth, 290312

Praha

Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. (Bayreuth, November 2003 – Bayreuth, November 2011)

Andorra

Penduduk Andorra mengkhawatirkan serangan bangsa „Hitam“, bangsa tetangga yang menculik dan membunuhi orang Yahudi. Namun, penduduk Andorra sendiri sebenarnya sudah punya prasangka sendiri terhadap kaum Semit, prasangka yang bersifat antisemitis terhadap „kerajinan dan keuletan“ kaum Semit, „pelit“nya, sifat yang „terlalu sensitif“ atau bahkan „terlalu berani“. Karena prasangka-prasangka inilah Andri, tokoh dalam drama „Andorra“ karya Max Frisch ini, menjadi korban. Sepanjang hidupnya, Andri „anak Yahudi“ yang „diangkat“ anak oleh guru Can ada di bawah sorotan prasangka penduduk Andorra. Pada kelanjutannya diketahui bahwa Andri sebenarnya anak kandung guru Can, hasil hubungan gelapnya dengan seorang perempuan dari negara tetangga. Untuk menjaga „reputasi“nya sebagai guru itulah Can „mengangkat“ Andri menjadi anak asuhnya, dan „diberi identitas“ sebagai anak Yahudi. Can beranggapan, dengan dia „mengasuh“ Andri, dia bisa „menyelamatkan“ Andri dari bangsa „Hitam“.

Drama ini dimulai dengan sebuah khotbah pada hari St. George. Barblin, anak gadis guru Can, mengapur rumah ayahnya, seperti yang dilakukan semua gadis pada hari itu. Barblin diperhatikan oleh para tentara dan diganggu dengan candaan-candaan yang tidak senonoh. Tokoh Pater –pendeta- dalam drama ini mewakili orang-orang Andorra yang „damai“, „lemah“ dan „suci“. Namun, tentu saja, ini semua hanya „polesan“ saja, karena bencana besar akan datang kemudian. Andri sendiri saat itu bekerja sebagai pembantu koki di sebuah rumah makan. Dia mencintai Barblin, tanpa tahu bahwa Barblin sebenarnya saudari tirinya. Andri ingin menikahi Barblin, tapi dia tidak percaya diri untuk melamar Barblin. Jika dia „menculik“ Barblin, itu sama saja artinya dengan tidak tahu berterima kasih pada ayah angkatnya. Perasaan harus berterima kasih pada „penyelamat“nya itulah yang membuatnya tertekan. Andri semakin pendiam dan menarik diri serta berpikir tentang pendapat orang lain tentangnya. Agar prasangka antisemitis penduduk Andorra tidak tertuju kepadanya, Andri berusaha menjaga ayah „angkat“nya sebaik mungkin, juga untuk membuktikan loyalitasnya.

Guru Can memanggil seorang pengrajin untuk mengajari Andri, walaupun pengrajin itu terus menerus berkata „…jika dia tidak berbakat“ dan menuntut honor mengajar yang berlebihan jumlahnya. Andri senang belajar membuat meja dan kursi. Dia juga bisa melakukannya dengan baik, tetapi gurunya selalu tidak puas, bahkan diam-diam merusak apapun yang sudah dibuat Andri. Ini semua dilakukan untuk „membuktikan“ bahwa seorang Yahudi tidak berbakat menjadi pengrajin. Akhirnya Andri ditempatkan di bagian penjualan, yang menurutnya lebih cocok dilakukan oleh seorang Yahudi. Andri sadar, bahwa sebaik apapun pekerjaan yang dia lakukan tidak akan mampu mengubah prasangka orang terhadapnya. Kali ini dia menyerah.

Setelah diperiksa oleh seorang dokter yang diusir oleh guru Can karena ungkapannya yang antisemit, Andri melamar Barblin. Tentu saja tidak bisa (dan tidak boleh). Andri diusir dari rumah dan dia menyalahkan identitas dirinya sebagai seorang Yahudi. Semakin Andri menolak ke“Yahudi“annya, semakin intesif dia mengamati dirinya dan semakin membenarkan sifat-sifat yang dikatakan, tepatnya „ditempelkan“, orang lain padanya. Sejak saat itu, Andri yang biasanya sangat murah hati dan royal dalam menggunakan uangnya, menjadi pelit seperti „orang Yahudi“, karena dia berencana membawa Barblin lari dari rumah ayah angkatnya.

Setiap malam, Andri tidur di depan pintu kamar Barblin. Namun, suatu kali, Andri tidak sadar bahwa ada seorang serdadu yang masuk ke kamar dan memperkosa Barblin. Berkali-kali Andri menghindari pembicaraan dengan ayahnya, hingga sang ayah menyebut „Nak“ padanya. Terkejut mengetahui kenyataan tersebut dan semakin terkejut lagi saat dia melihat seorang serdadu keluar dari kamar Barblin. Andri kehilangan kepercayaannya pada Barblin. Sementara pendeta di kota itu selalu berusaha membujuk Andri untuk „menerima“ identitasnya sebagai seorang Yahudi.

Ibu Andri, yang disebut „Senora“, datang dari negeri „Hitam“ ke Andorra, untuk menengok Andri. Saat dia mengetahui bahwa Andri „dijadikan“ Yahudi oleh guru Can, dia memutuskan untuk membuka kejadian yang sebenarnya. Sang pendeta memberi tahu Andri tentang identitas barunya, namun Andri sudah terlanjur menolaknya. Andri bersikeras „memainkan“ perannya sebagai Yahudi dan sebagai „kambing hitam“. Dalam perjalanan pulang, sang Senora ditemukan menjadi korban sebuah serangan, dan Andri „kembali“ dituduh sebagai penyerangnya.

Pasukan dari negeri „Hitam“ memasuki Andorra dan berhasil memaksa penduduk Andorra untuk tunduk dan mengakui kekuasaan kaum “Hitam“. Selama itu, Andri masih berkonfrontasi dengan ayahnya tentang identitasnya. Akhirnya Andri menerima „kebenaran“ itu namun, dia sudah terlanjut mengidentifikasikan dirinya sebagai Yahudi, berempati bersama mereka dan bersedia mengorbankan dirinya. Andri juga menjauhi Barblin, yang mencoba menyelamatkan Andri. Andri pun menolak perannya sebagai kakak tiri Barblin, yang dalam pandangannya hanya jadi alasan Barblin untuk tidak tidur dengannya, melainkan dengan serdadu „Hitam“. Andri pun ditangkap oleh tentara negeri „Hitam“, seperti orang-orang Yahudi lainnya.

Dan di alun-alun Andorra diadakan „pertunjukan Yahudi“ oleh seorang „pengamat Yahudi profesional“ dari negeri „Hitam“. Pertunjukkan ini dimaksudkan untuk mengenali orang Yahudi dari penampilan luarnya. Walaupun Barblin menolak dan mengajak penduduk Andorra untuk melawan, tetapi penduduk Andorra tidak mau melakukannya. Dalam „pertunjukan“ itu Andri „dikenali“ sebagai Yahudi dan apa yang dilakukan bangsa „Hitam“ terhadap Yahudi lainnya juga dilakukan pada Andri: Andri diikat pada sebuah tiang dan ditembak. Sebelumnya, jari Andri dipotong untuk mengambil cincin yang diberikan oleh Senora, ibunya. Drama ini ditutup dengan guru Can yang menggantung dirinya dan Barblin yang kehilangan keseimbangan jiwanya.

***

Drama ini dipentaskan pertama kali di Zürich pada tahun 1961. Ditulis oleh Max Frisch, seorang sastrawan dari Swiss, sekitar tahun 1946. Kisah tragis metaforis tentang akibat prasangka terhadap sesuatu atau seseorang „yang lain“, yang berbeda. Kisah yang juga masih aktual sampai sekarang.

Pertama kali saya membaca naskah ini (karena wajib dibaca) saat mata kuliah Drama jaman saya kuliah S1 dulu. Pementasannya pun saya tonton (karena wajib ditonton juga) di GK Rumentang Siang di Bandung. Entah, siapa yang mementaskannya, saya lupa. Namun, yang pasti, drama ini membawa saya bermimpi untuk mendatangi satu negara kecil (negara kecamatan, kalau kata teman saya) bernama Andorra yang terletak di antara Spanyol dan Perancis. Bukan, negara Andorra ini bukan Andorra yang dijadikan judul drama oleh Max Frisch. Bukan negara dengan penduduknya yang pengecut dan mudah termakan oleh satu prasangka. Andorra ini adalah negara yang terletak di lembah pegunungan Pyrenees, dengan lembah dan tebing-tebingnya yang indah. Negara yang terkenal karena olah raga musim dinginnya. Negara yang berbahasa katalanis. Negara monarki konstitusional yang pengawasannya dibagi dua antara Perancis dan Spanyol .

Ya, sebagai mantan anak sastra, saya memang selalu ingin mengunjungi tempat-tempat yang ada dalam karya sastra yang pernah saya baca. Jadi, kalau melihat negara-negara atau tempat-tempat yang sudah pernah saya kunjungi, itu biasanya tempat-tempat yang sudah pernah saya „susuri“ jejaknya dulu lewat buku. Dan tampaknya mengunjungi „negara kecamatan“ macam ini jadi semacam mimpi saya juga. Liechtenstein, Andorra, Monaco, San Marino adalah beberapa negara yang ada dalam daftar.

Tentu saja saya berharap, Andorra yang ingin saya kunjungi tidak seperti Andorra-nya Max Frisch. Seperti yang Max Frisch sendiri ungkapkan, lakon yang ditulisnya bukanlah tentang Andorra sebagai sebuah negara, melainkan hanya sebuah model dari sikap yang pengecut, tak berani bicara untuk sebuah kebenaran, dan prasangka yang juga menurut Frisch suatu dosa, karena „setiap manusia wajib melihat dan memperlakukan orang lain tanpa prasangka.“

Bayreuth, 130311

KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur – Sebuah Catatan Penerjemah

Suatu malam saat Nietzsche dibicarakan di Bandung, saya bertemu dengan Kang Wawan Sofwan dari mainteater yang kemudian memperkenalkan saya pada Boris dari Pädagogische Hochschule Heidelberg. Perbincangan hangat sambil menyimak Nietzsche membuahkan sinergi kreatif antara mainteater dan Boris. Saya kemudian resmi diikutsertakan dalam sinergi kreatif ini pada lepas tengah hari saat Bahuy berhujan-hujan mendatangi saya di Dipati Ukur.  “Transaksi” singkat penyerahan naskah terjadi di tempat parkir motor. “Dua minggu,” jawab saya saat Bahuy bertanya kira-kira kapan saya bisa menyelesaikan terjemahannya. Saat itu saya baru melihat sekilas naskah dengan judul yang langsung saya terjemahkan dalam hati saat itu juga. Tampaknya bahasanya tidak terlalu sulit. Lagipula memang saya berniat menyelesaikan terjemahan naskah itu sebelum saya kembali lagi ke Jerman. Dan itu dua minggu kemudian dari hari kami ber”transaksi”. Saya minta maaf, jika pada akhirnya saya tidak bisa menepati janji karena naskah terjemahan baru diserahkan lewat beberapa hari dari hari yang saya janjikan.

Malam itu juga naskah langsung saya terjemahkan dan dalam waktu dua jam saya bisa menerjemahkan sekitar 10 halaman. Penerjemaha bagian awal ini cukup mudah dilakukan, karena memang bahasa yang digunakan oleh Jura Soyfer di awal-awal tidak terlalu sulit. Bagian-bagian awal yang berisi percakapan antara matahari dan planet-planet lain tentang bumi yang sakit membawa kesan bahwa naskah ini “agak lain” daripada tematik naskah-naskah yang pernah saya terjemahkan untuk mainteater sebelumnya. Sambil menerjemahkan saya berpikir apa benar mainteater mau mementaskan naskah ini? Membayangkan para pemainnya memakai kostum matahari, mars, venus, komet, bulan membuat saya tersenyum sendiri. Mungkin juga karena percakapan di antara benda-benda luar angkasa itu untuk saya terasa lucu dan ringan –dibandingkan dengan percakapan dalam naskah-naskah yang saya terjemahkan sebelumnya yang kebanyakan cukup membuat kening saya berkerut. Saat itu kening saya tidak berkerut, saya hanya tersenyum tipis, karena ternyata cukup menghibur juga percakapan dari personifikasi benda-benda langit tersebut. Bumi yang sakit karena punya kutu yang bernama manusia. Matahari yang anggun dan berwibawa, Mars yang „galak“ dan Venus yang „genit“. Bumi harus dibersihkan dari kutu-kutu yang membuatnya sakit, artinya manusia harus dibasmi. Komet diserahi tugas untuk membasminya. Ternyata asyik juga menerjemahkannya, sambil tersenyum-senyum membayangkan jika benar-benar benda-benda luar angkasa itu membicarakan bumi yang kian hari kian sakit. Dan manusia memang penyebabnya.

Semakin lama ternyata semakin menarik menerjemahkan naskah ini, tetapi juga semakin sulit. Rupanya saya agak underestimate di awal. Naskah ini punya „sesuatu“. Kalimat-kalimat dalam dialog-dialognya singkat, padat tapi sangat “menohok”. Ada banyak ironi yang muncul di situ, yang mau tidak mau membuat saya tersenyum penuh arti saat menerjemahkannya. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Tenaga Panas kemudian mencabut lagi gelar yang diberikannya, karena Guck tidak setuju dengan anggapan Sang Pemimpin bahwa kiamat adalah rekayasa manusia, buatan orang Yahudi. Dialog saat Sang Pemimpin sibuk meminta wartawan mengabadikan dirinya. Dua diplomat negara adikuasa bersitegang soal kiamat. Satu tak peduli, karena bukan hal darurat, satu lagi tak ingin keseimbangan Eropa terganggu gara-gara kiamat ini. Radio-radio di berbagai belahan dunia menyiarkan terus-terus menerus berita tentang kiamat yang akan segera dan tentang Guck yang berusaha menyelamatkan dunia dari kiamat ini. Guck sendiri berusaha mendatangi semua tempat untuk meyakinkan orang-orang bahwa dunia harus segera diselamatkan dari kehancuran. Dia punya alatnya. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli. Semua tahu kiamat akan datang, tapi semua sibuk dengan urusan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan kiamat kemudian diakomodir, dijadikan alat untuk menipu dan mengeruk banyak uang dari orang-orang kaya yang bodoh yang merasa dengan uangnya mereka bisa selamat dari apapun. Guck pun putus asa. Tak ada yang mau mendengarnya. Kalaupun ada, Guck harus menunggu. Alat yang dia ciptakan harus dipatenkan dulu, supaya uang mengalir. Birokrasi pun harus dia lewati. Kiamat bukan satu-satunya urusan yang harus diperhatikan. Masih banyak urusan lain yang harus diselesaikan manusia. Kiamat mau tidak mau harus menunggu sampai urusan lain beres.

Naskah ini adalah naskah pertama yang ditulis Soyfer dan dipentaskan untuk pertama kalinya di awal musim panas tahun 1936. Lewat naskah ini Soyfer ingin menunjukkan situasi kemanusiaan beberapa saat sebelum dunia hancur yang semuanya berujung pada penekanan tentang kebodohan manusia dan tindakan-tindakannya. Guck sang ilmuwan yang berniat menyelamatkan dunia dan kemanusiaan pun kemudian hanya berhenti di tataran klise, karena dia tak punya kuasa atas apapun. Jika pada akhirnya dunia tak jadi kiamat, ini terjadi bukan karena Guck berhasil meyakinkan orang-orang untuk menggunakan mesin ciptaannya, tetapi karena Konrad – si komet- tidak tega menghancurkan bumi, karena saat proses mendekati bumi, si komet jatuh cinta pada bumi yang „penuh kemiskinan dan kekayaan“, yang „penuh kehidupan dan kematian“, yang punya „kemiskinan dan kekayaan tanpa batas“, yang „terberkahi dan terkutuk“, yang punya „kecantikan yang bersinar terang“ dan yang „masa depannya indah dan gemilang“. Namun, adakah manusia yang sadar dan peduli akan itu? Kiamat pada akhirnya tidak terjadi hanya karena belas kasihan si komet, bukan karena kepedulian manusia atas bumi tempat mereka hidup dan memberi mereka kehidupan.

 

Jura Soyfer, penulis Yahudi dari Ukraina yang lahir tahun 1912 di Charcow, Ukraina dan meninggal di kamp konsentrasi Buchenwald, Jerman pada tahun 1939, memainkan tematik kehancuran dunia ini lewat dialog-dialog singkat yang satiris antartokohnya. Monolog cukup panjang muncul saat tokoh Guck berkeluh kesah tentang ketidakpedulian manusia pada dunia dan kemanusiaan. Sofyer yang tumbuh besar di Austria menggunakan bahasa Jerman dialek Austria untuk beberapa bagian naskah, dicampur dengan bahasa Perancis dan Inggris. Soyfer sendiri memang tumbuh di dalam lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang berbahasa Jerman, Perancis, dan Rusia. Beragam bahasa juga dialek yang kental digunakan Soyfer dalam naskahnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya saat menerjemahkannya. Walaupun kebetulan saya sudah beberapa tahun tinggal di daerah Bavaria, sehingga saya cukup familiar dengan dialek yang digunakan Soyfer dan cukup membantu saya dalam memahami teks ini, tetapi ternyata tidak mudah mengadaptasinya dalam terjemahan saya. Dalam beberapa bagian, dialek juga digunakan Soyfer untuk menyindir kalangan dan orang-orang tertentu atau mempertegas stereotype negara dan orang-orangnya. Soyfer menggunakan beragam bahasa untuk memperjelas kritiknya, sehingga membuat naskah ini semakin terasa ironis dan satiris. Kelebihan naskah yang terletak pada beragam permainan bahasa dan dialek ini, juga bahasanya yang di beberapa bagian puitis satiris, menjadi kesulitan tersendiri dalam proses penerjemahan. Ada beberapa „jiwa“ yang hilang. Namun, saya yakin, dalam pengolahannya mainteater mampu menerjemahkan kembali dan membawa „jiwa“ naskah ini dengan lebih baik ke atas panggung. Untuk itu saya cukup berdebar menunggu naskah ini dipentaskan pada tanggal 14, 15, dan 16 Desember 2010 di Bandung, walaupun mungkin saya hanya bisa menyaksikan hasil rekaman pementasan naskah yang ditulis 74 tahun yang lalu, tetapi temanya tetap aktual sampai saat ini. Saat dunia mungkin sebentar lagi (pasti) akan hancur.

Bayreuth, 141110

*Tulisan ini dibuat sebagai pengantar untuk pementasan naskah „KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur“ oleh mainteater pada tanggal 14,15, dan 16 Desember 2010 di GK Rumentang Siang Bandung.

Sajak Doa Orang Lapar (WS Rendra)

Kelaparan adalah burung gagak

yang licik dan hitam

jutaan burung-burung gagak

bagai awan yang hitam

Allah !

burung gagak menakutkan

dan kelaparan adalah burung gagak

selalu menakutkan

kelaparan adalah pemberontakan

adalah penggerak gaib

dari pisau-pisau pembunuhan

yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang

di bawah wajah laut yang tidur

adalah mata air penipuan

adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu

melihat bagaimana tangannya sendiri

meletakkan kehormatannya di tanah

karena kelaparan

kelaparan adalah iblis

kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

Allah !

kelaparan adalah tangan-tangan hitam

yang memasukkan segenggam tawas

ke dalam perut para miskin

Allah !

kami berlutut

mata kami adalah mata Mu

ini juga mulut Mu

ini juga hati Mu

dan ini juga perut Mu

perut Mu lapar, ya Allah

perut Mu menggenggam tawas

dan pecahan-pecahan gelas kaca

Allah !

betapa indahnya sepiring nasi panas

semangkuk sop dan segelas kopi hitam

Allah !

kelaparan adalah burung gagak

jutaan burung gagak

bagai awan yang hitam

menghalang pandangku

ke sorga Mu

Foto diambil dari film „Moeder Dao“ (NSP, Niederlande, 1995)

* Untuk Indonesia yang dengan senang dan sedih selalu aku cinta.

(Bayreuth, 17 Agustus 2010, 00:00)

Dari Seorang Yahudi kepada Para Tentara Zionis – 1988 (Erich Fried)

Apa mau kalian sebenarnya?
Apakah kalian benar-benar ingin memukul mereka
mereka yang pernah merendahkanmu
di suatu masa
saat darah
dan kotoran kalian pun tak berharga lagi?
Apakah sekarang kalian ingin penyiksaan yang dulu
sekarang dilakukan pada yang lain
dengan darah
dan hal-hal kotor lainnya
dengan kenikmatan yang brutal
para tukang jagal
yang menyebabkan
ayah-ayah kita dulu menderita?
Apakah sekarang kalian benar-benar ingin
jadi Gestapo baru
jadi angkatan bersenjata baru
jadi tentara SA dan SS yang baru
dan membuat orang Yahudi baru
yang berasal dari orang-orang Palestina?
Kalau begitu aku pun mau
karena dulu 50 tahun yang lalu
aku juga seorang anak Yahudi
yang disakiti
oleh para penyiksa
aku mau jadi orang Yahudi baru
orang-orang Yahudi baru ini
yang kalian buat
dari orang-orang Palestina
Dan aku mau membantu mengembalikan mereka
menjadi manusia merdeka
di tanahnya sendiri Palestina
di tanah yang kalian rebut dan usir penghuninya
atau yang kalian sakiti
oleh kalian para pemuda berlambang swastika
kalian yang gila dan sadis
yang dengan cepat
mengubah sejarah dunia
dari bintang Nabi Daud
di atas bendera kalian
menjadi tanda-tanda terkutuk
berkaki empat
yang kalian sendiri tak ingin lihat
tapi di jalan itulah
kalian sedang berjalan sekarang!

Diterjemahkan dari karya asli Erich Fried berjudul „Ein Jude an die zionistischen Kämpfer – 1988“ di Bayreuth, 060610
14:58

Catatan: Erich Fried lahir di Wina tanggal 6 Mai 1921 dan meninggal tanggal 22 November 1988 di Baden-Baden. Dia adalah seorang penyair, penerjemah dan esais dari Austria keturunan Yahudi. Puisi dan tulisan-tulisannya lugas dan tajam, sehingga bersama Hans Magnus Enzensberger dikenal sebagai penyair utama di Jerman masa setelah perang. Nama „Fried“ sendiri bermakna „kedamaian.“

Unter Eis: Memperkaya Apresiasi

Integrity – Respect – Responsibility – Costumer Focus – Teamwork – Transparency – Contribution – Commitment – Innovation – Safety of People  and Environment – Foresight –Team Orientation – Decency – Excllence – Dedication – Entrepeneurship- Professionalism – Fairness – Trust – Know-How – Convincing performance – Sound Client Relationship – Constant Learning – Continuous Improvement – Sustaining Value – Sharing Knowledge – Providing Superior Customer Value – Obtaining highest quality standards – Putting the client first – Seeking to excel – Keeping Client’s missin the Priority – Creating excitement to take action – Giving the best – Going beyond – Striving for improvement – Delivering the best – Working as team – Creating trust – Acting responsibly – Respecting Others – Focussing on the Customer – Showing absolute Commitment – Playing Fair –

(Unter Eis – Falk Richter)

Menonton: Ruang Belajar

Sebuah naskah teater memang menarik untuk dikupas dan diperbincangkan. Naskah tidak hanya membawa serta kekayaan bahasa melainkan juga kekayaan budaya. Sebagai sebuah kerja kreatif, membaca, menafsir, dan menerjemahan sebuah naskah ke dalam ‘bahasa’ baru tidak hanya merupakan proses yang menyenangkan, melainkan menegangkan untuk diurai. Dapat dikatakan kerja kreatif ini merupakan kerja kreatif yang sama mandirinya dengan kerja kreatif sang penyusun naskah dan pentas, di mana naskahnya mewujud lewat bahasa pertamanya. Ketika naskah tersebut dipentaskan, kekayaan dalam proses kreasi dan penafsiran akan semakin jelas, sehingga akan semakin banyak yang bisa diketahui. Apa gunanya untuk para penonton?

Sebuah pertunjukkan teater tentunya tidak hanya berhenti pada sekedar menonton. Pengayaan pengalaman dan proses belajar yang terjadi pada penonton sebenarnya merupakan cerminan sejauhmana sikap menonton bergerak dari  “belajar menonton” ke “menonton sebagai belajar.” Naskah “Unter Eis” dari Falk Richter adalah salah satu dari sekian banyak naskah teater yang memberi ruang leluasa untuk belajar.

Unter Eis

Naskah “Unter Eis” dari Falk Richter yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Di Bawah Lapisan Es” oleh Heliana Sinaga, berkisah tentang rasa kesepian dan kehilangan seorang tokoh konsultan di bidang ekonomi bernama Paul Niemand. Dia telah melewati puncak kariernya sebagai konsultan, tetapi mau tak mau tetap harus melewati persaingan yang keras dengan konsultan-konsultan yang lebih muda, segar, energis, produktif, efisien, dan berdaya saing tinggi, seperti terlihat dalam dialog mereka tentang “Core Values” di atas.  Dunia mereka dijejali dengan nilai-nilai yang berorientasi pada tugas, dinamika, dan pelayanan. Namun sayangnya, karakter-karakter positif khas dunia industri tersebut pada sisi lain bisa dilihat juga sebagai sebuah kebuasan dalam bertahan hidup.

Di akhir masa kariernya, tokoh Paul Niemand mempunyai ruang untuk kembali berpikir dan merasai kemanusiaannya yang hilang. Ternyata kesepian adalah karibnya. Dibandingkan dengan kedua rekan konsultan sesamanya -Karl Sonnenschein dan Aurelius Glasenapp- yang sedang berada di puncak kariernya, Paul Niemand merasa bahwa sekarang dia bukan siapa-siapa. Persaingan selalu butuh kesegaran, dan dia seperti singa tua yang ompong giginya.

Tematis kesepian ini semakin kontras ketika disandingkan dengan percepatan dunia teknologi, ekonomi dan politik di dalam naskah yang ditulis mirip kolase foto-foto yang tidak saling berhubungan, tetapi tetap saling menjelaskan. Naskah ini ditulis fragmentaris, tanpa alur yang jelas, sehingga membuat letupan-letupan kecil yang banal, liar, sekaligus dingin.  Monolog  panjang ditingkahi dengan dialog-dialog pendek bersahutan membuat pemahaman atas tokoh-tokohnya menjadi lebih kaya interpretasi.

Tampak jelas melalui tokoh-tokohnya Falk Richter mencoba masuk ke dalam dunia penghayatan para konsultan. Dia membedah imajinasi kegilaan-kegilaan semua tokohnya, yang memungkinkan kita bisa memahami dinamika pribadi dan gangguan-gangguan yang punya jejak jelas dalam kultur industri. Kegilaan dan keliaran yang muncul seolah tak bisa dihindari, melainkan seperti kutukan yang diterima oleh masyarakat modern: dingin, tak berakhir bahagia.

Richter memotret pula dimensi dikotomis para pelaku dalam dunia ekonomi. Di satu sisi mereka menjadi pelaku, pada saat bersamaan mereka adalah korban. Naskah  ini pun cukup cerdas mengungkap “dunia” atas nama produktifitas dan efisiensi dengan konsekuensinya yang lambat laun menghilangkan kemanusiaan.

Menarik pula untuk dicermati, bahwa selain ketiga tokoh laki-laki dewasa, muncul juga tokoh anak yang dalam beberapa bagian naskah tampak tua dan kesepian.  Anak-anak terjebak pada dunia yang sebenarnya serakah, rakus, egois, liar, dan gila.  Dinginnya dunia industri sudah terasai sejak dia kanak. Kegilaan yang berusaha dibongkar lewat sosok si anak pun bahkan tidak bisa diurai lagi. Sehingga tidak jelas, apakah dia pernah punya ruang waras pada masa kanak-kanaknya. Ketika kenangan menjadi sekedar serpihan yang harus selalu disusun untuk ditafsir, dia pun tidak memilikinya. Sekedar serpihannyapun tidak.  Apakah ini juga yang terjadi pada anak-anak sekarang?

Membacai dan memaknai naskah ini, seperti yang diungkapkan oleh tokoh Sonnenschein: “Selalu ada sebab mengapa semua langkah harus diteruskan dan stagnasi adalah kemunduran, karena diamnya orang lain bukanlah kemutlakan yang tetap berdiri, melainkan yang lain pun harus bergerak dengan cara yang berbeda”, membawa kita pada kesadaran tentang efisiensi dan hasrat yang rasional, namun dingin, keji, tega, dan keras. Bahasa yang terasa masuk akal, dibaliknya menyemburatkan gerak persaingan yang dingin dan tak kenal kompromi.

Penggunaan kata-kata  yang didominasi kata benda dan pembendaan, menambah kesan dingin dan berjarak pada tokoh dan relasi antartokohnya. Pun pada pengamatan dan pemaknaan atas suatu peristiwa.  Kalimat-kalimat yang singkat padat terjadi dalam setiap dialog cepat bersahutan antara tokoh Sonnenschein dan Glasenapp:

“Sonnenschein : internasionalisasi memainkan peranan yang mutlak/Glasenapp        : action/Sonnenschein: fokus pada tujuan/Glasenap : kemampuan untuk bergaul dengan yang lain”

Potongan dialog di atas tampak jelas, namun emosi yang terasa dari kalimat-kalimat tersebut terasa dingin, bernada memerintah, sekaligus abstrak dan rumit, tak menjejak, dan menceracau, tapi sekaligus penuh dengan kuasa yang tak mampu untuk bisa dipahami. Hal ini senada dengan judulnya yang jauh “Di bawah Lapisan Es”: jauh dari kemampuan untuk menyadari lapisan kesadaran atas realitas yang ada saat ini.

Yang juga menonjol dalam naskah ini adalah bagaimana Falk Richter memainkan keteraturan rima dalam dialog-dialog antartokohnya. Dalam naskah aslinya yang berbahasa Jerman jelas terlihat bagaimana rima muncul tidak hanya di akhir kalimat, namun juga muncul di dalam kalimat itu sendiri (“…diese irren, unsicheren Menschen”). Siasat ini memberikan kemudahan bagi pembaca atau penonton untuk menangkap secara lebih kaya nuansa emosi yang dikirim oleh para tokohnya. Adanya efek pengulangan dalam banyak bagian naskah, seperti “dan aku berlari tanpa henti. Aku berlari dan berlari. Aku ingin melawan langit…” atau “Aku berbicara dengan diriku sendiri, aku bergelut dengan diriku sendiri. …” membuat penutur lebih dapat menekankan emosi bahasa, baik pada pembaca, pendengarnya maupun bagi dirinya, sehingga emosi yang muncul lebih terhayati. Seperti merapal mantra, maka si perapal akan bisa mengalihkan tenaga pikirannya secara total pada rasa makna kata dan bahasa.

Naskah asli teater ini memang sangat musikal. Di Jerman naskah ini pernah  dipentaskan dalam bentuk opera. Rima bahasa seperti pada mantra diperkuat dengan musik. Sehingga tak pelak lagi naskah ini menjadi naskah yang dibuat tak hanya untuk memperkaya pikiran, tetapi sekaligus memperkaya rasa. Pilihan vokal atau konsonan dalam Bahasa Jerman yang cenderung berdesis dan tertutup menggugah perasaan curiga, sepi, dan dingin. Konten yang emosional dengan banyaknya kata berkonsonan dan berbunyi eksplosif (konsonanisasi) dalam Bahasa Jerman, membuat rasa emosi bahasa tersebut tepat sampai pada tataran ekspresi emosi yang lebih tegas, bukan pada tataran aksi semata. Sehingga sebenarnya pada bahasa aslinya, pesan emosi sudah cukup tersampaikan hanya lewat bebunyi bahasa. Kesulitannya, konstruksi kata dalam bahasa Indonesia yang lebih banyak mengandung unsur vokalisasi (kombinasi konsonan-vokal-konsonan, atau vokal-konsonan-vokal), membuat rasa emosi bahasa menjadi kurang tegas, sehingga perlu tekanan-tekanan di luar pelafalan. Hal ini menjadi tantangan dalam proses penerjemahannya. Untuk itu, penghayatan aktor saat karya ini dipentaskan menjadi penting, agar rasa emosi pada bahasa awal dapat tersampaikan.

Kritik Falk Richter atas budaya kerja yang mengedepankan isu efisiensi, efektitas, produktifitas, model negosiasi, intrik, konflik, politik “main kayu” di kantor dengan gamblang terlihat. Pemberian label karakter “schizophrenia paranoid”  pada tokoh-tokohnya, muncul juga dalam masyarakat kita. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah kegilaan ini diturunkan, terbentuk secara genetik, atau dibentuk oleh lingkungan? Ketika tema percepatan meretas kehidupan sejak dini lewat isu-isu kelas-kelas akselerasi, kompetensi, ujian akhir yang berfokus pada kemampuan berpikir,  hal ini bisa dilihat sebagai upaya memaksimalkan kemampuan anak untuk bekerja dalam sebuah sistem industrial yang lebih besar.

Falk Richter membuat dan mementaskan naskah “Unter Eis” sebagai bagian dari tetralogi pementasan “Das System”, yaitu Electronic City, Unter Eis, Amok, dan Hotel Palestine. Kesemuanya memotret kisah orang-orang yang “terjebak” dalam modernitas pada masyarakat modern, lengkap dengan segala konflik inter- dan intrapersonalnya. Kelompok mainteater dengan sutradara Wawan Sofwan telah mementaskan naskah Electronic City (setelah sebelumnya naskah “God is a DJ”, juga dari pengarang yang sama). Pada tanggal 15 Mei 2009 dengan sutradara yang sama, kelompok ini akan mengusung “Unter Eis” atau “Di Bawah Lapisan Es” untuk pertama kalinya ke hadapan penonton Bandung.

Dengan komposisi naskah yang kaya akan ruang pemaknaan, kritik yang lugas dan tajam terhadap dunia ekonomi –khususnya dunia para konsultan dan akuntan-,  bahasa yang ritmis, ironis dan satiris, tapi sekaligus juga hening dan kontemplatif, pembaca –dan kelak penonton-  dapat dengan bebas berjalan-jalan sekaligus belajar.  Berjalan dan mempelajari dunia di bawah dinginnya lapisan es.

Bandung, 2 Mei 2009

(Ditulis oleh: Dian Ekawati dan Dien Fakhri Iqbal sebagai tulisan pengantar untuk pertunjukan „Di Bawah Lapisan Es“ oleh mainteater tanggal 15 Mei 2009 di Selasar Soenaryo dan 19-20 Mei 2009 di GK Rumentang Siang Bandung).