Tentang Bimbingan dan Konsultasi

Sudah lewat beberapa lama, tetapi catatan tentang proyek pengambilan data untuk kepentingan penelitian saya baru saya buat sekarang. Itupun karena deadline harus dipresentasikan besok dan saya selalu merasa lebih mudah mengungkapkan pikiran saya dalam bahasa Jerman, jika sebelumnya sudah saya keluarkan dulu dalam bahasa Indonesia dalam bentuk tulisan tak ilmiah ini. Hal ini saya lakukan juga saat saya menulis tesis dan menjelang ujian sidang.

Jadi, saya berencana meneliti interaksi antara dosen Jerman dan mahasiswa  Indonesia saat jam konsultasi atau bimbingan di jurusan-jurusan Jerman di Indonesia. Tujuan saya melakukan penelitian ini adalah untuk melihat kekhasan pola interaksi yang terjadi dalam proses konsultasi dan bimbingan tersebut serta problematika yang muncul saat proses interaksi terjadi pada percakapan. Kekhasan dan problematika ini akan dikaji secara etnografis (melokalisasi konteks interaksi), analisis percakapan (korpus penelitian adalah percakapan yang direkam secara audio-visual), dan Theorie der kommunikativen Gattung (terjemahan yang “tidak tepatnya” adalah theory of communicative genre) dari Knoblauch, Günthner (1997).  Mengingat partisipan percakapan mewakili latar belakang budaya yang berbeda, maka kajian akan difokuskan pula pada kajian komunikasi lintas budaya. Kaitan kepada kajian ini juga sebenarnya lebih karena saya masuk ke jurusan Interkulturelle Germanistik, di mana komunikasi dalam bahasa Jerman dengan partisipan orang Jerman menjadi titik berat.  Kalau boleh jujur saya sebenarnya lebih senang berada di area netral ilmu murninya, yang tampaknya tidak terlalu berpihak, tetapi tampaknya juga tidak bisa, karena saya tetap harus menentukan sikap akan berada di mana, tentu pilihan ini –sayangnya- harus disertai argumen-argumen yang logis dan “ilmiah”.

Mengapa saya sampai ke tema itu? Pertama karena saya berkecimpung dalam bidang pendidikan dan saya melakukan kegiatan yang saya teliti: sebagai pembimbing dan sebagai yang dibimbing, sebagai konsultan dan sebagai yang mencari dan butuh saran, saya dosen dan juga mahasiswa, saya bicara bahasa Indonesia dan juga bahasa Jerman, saya bekerja di Indonesia dan kuliah di Jerman. Pengalaman-pengalaman ini membuat saya selalu berada di dua area yang berbeda, ke sana ke mari. Saya melakukan, saya mengalami, saya tahu, saya mengerti, saya paham bahwa ada yang sama dan ada yang berbeda dari kedua proses: membimbing dan dibimbing, baik di Indonesia maupun di Jerman. Ada pola interaksi yang khas dengan penggunaan unsur-unsur linguistik dan paralinguistik yang juga khas, ritual-ritual yang sadar tak sadar sudah diinstitusionalkan, tetapi juga ada unsur pendukung psikososiopragmatik bahkan budaya, yang tak bisa dilepaskan dari konteks interaksi.  Kedua, karena saya melihat belum ada kajian empiris tentang hal ini dalam konteks interaksi Indonesia-Jerman di lingkup universitas. Ketiga, dari temuan empiris tadi diharapkan menjadi awal untuk pengembangan hal-hal yang bersifat praktis di kemudian hari untuk bidang pengajaran, pendidikan dan konsultasi.

Knoblauch-Günther mengungkapkan tiga tataran analisis untuk melihat genre satu proses komunikasi atau interaksi, yaitu: tataran mikro (register, tata bahasa, gaya bahasa, mimik, gestik dan faktor nonverbal lainnya), tataran interaksi (proses alih tutur, reparasi, jeda, tawa, dll), dan tataran makro (latar belakang sosial, budaya, agama, pendidikan, dll). Dalam kenyataannya, saya rasa ketiga tataran ini memang menjadi fokus kajian wacana mutakhir, bahkan disertai dengan ulasan kritis terhadap suatu wacana yang diusung oleh teks atau percakapan. Analisis wacana kritis dijadikan pisau bedah untuk mengungkap lebih dalam hal-hal yang tersembunyi di balik satu wacana dalam bentuk teks atau percakapan. Saya belum sampai ke sana, walaupun dari pengalaman saya dan data empiris yang saya dapat, hal-hal tersembunyi tersebut sudah mulai menampakkan diri. Namun, saya harus membatasi diri dulu. Mengupas ketiga tataran itu saja sudah banyak.

Lalu, mengapa percakapan Indonesia-Jerman dan Jerman-Indonesia? Alasan utama tentu saja karena saya adalah orang Indonesia berbahasa ibu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,  yang menghidupi diri dan berkecimpung dalam bidang pendidikan bermedium bahasa Jerman, saya melakukan studi lanjut di Jerman, berinteraksi dengan orang dan budaya Jerman dengan bahasa Jerman, namun tetap tak bisa lepas dari identitas saya (identitas dalam makna sempit) sebagai orang Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Indonesia yang mana? Bicara tentang Jerman lebih mudah untuk saya. Dari segi geografis, Jerman hanya punya satu daerah. Bahasanya pun sama: bahasa Jerman, dengan beragam variasi dialek, namun tetap itu bahasa Jerman. Dengan demikian, budaya Jerman pun cenderung homogen. Budaya dalam konteks ini adalah budaya yang luas, mulai dari cara berpikir,  bertindak serta berlaku. Sedangkan jika saya bicara tentang Indonesia maka saya tidak bisa mengkategorikan Indonesia sebagai gabungan dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara. Indonesia itu khas. Khas oleh bahasanya, budayanya, cara berpikir, cara hidup serta bertindak. Jika saya memilih sampel subyek penelitian di Jawa, maka itu rasanya belum mewakili Indonesia. Jawa pun Jawa yang mana? Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur? Sulit untuk mendefinisikan Indonesia.

Akhirnya dengan beragam pertimbangan, saya memutuskan mengambil data penelitian di Jawa. Pertimbangannya –sayangnya masih atas pertimbangan faktor “Jerman”- native speaker Jerman untuk jurusan Jerman di Indonesia saat ini hanya ada di universitas-universitas di Jawa, yaitu di Jakarta (UI dan UNJ), Bandung (Unpad) dan Malang (UM). Masalah penempatan native speaker ini juga menarik untuk diamati, mengapa mereka hanya ditempatkan di Jawa, bukan di luar Jawa? Pertimbangan lainnya adalah masalah waktu dan dana. Alangkah menyenangkan dan membuat data semakin akurat sebenarnya jika saya bicara tentang Indonesia dan saya mengambil sampel data di seluruh pulau di Indonesia. Namun, ini akan menjadi kerja gila-gilaan yang tidak mungkin saya lakukan sendiri. Keterbatasan waktu dan dana untuk mengambil data, membuat saya hanya bisa berkeliling Jawa.  Demikianlah saya sampai pada proses pemilihan data.

Pertengahan Januari sampai pertengahan Maret 2010 saya berada di Indonesia untuk memulai proses pengambilan data ini. Awalnya saya berpikir akan mudah, mengingat saya masuk ke area teman-teman dan kolega saya sendiri. Namun, ternyata tidak semudah itu. Saya berusaha berkorespondensi untuk meminta ijin merekam dan mengatur jadwal pengambilan data dari Jerman, dengan pertimbangan waktu dan dana yang tidak banyak tadi, sehingga saya harus mengatur waktu dan keuangan seefektif mungkin. Namun, hal ini tidak berhasil dilakukan. Saya yang berada di “dua dunia” mengerti benar masalah seperti ini. Pengalaman saya dan „harapan“ saya bahwa perencanaan awal dengan orang-orang Jerman akan berlangsung lebih mudah dan cepat seperti biasa terjadi di Jerman, ternyata tidak berfungsi. Dengan pihak Indonesia saya juga tidak berharap banyak. Beruntung sebelum mulai proses pengambilan data saya mengikuti seminar  yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan Jerman se Indonesia, termasuk native speaker Jermannya sendiri. Dalam seminar itu saya mendapat kesempatan untuk melakukan lobby secara  personal pada mereka, menerangkan apa yang saya lakukan, dan meminta ijin pada mereka untuk mengambil data di tempat mereka bekerja. Native speaker langsung mengiyakan, dengan catatan saya harus minta ijin dulu ke ketua jurusan tempat mereka bekerja. Ketua jurusan-ketua jurusan yang kebetulan sudah saya kenal juga secara pribadi juga –pada prinsipnya- mengijinkan, hanya saya diminta membuat surat resmi yang ditujukan kepada dekan untuk meminta ijin  pengambilan data. Ini yang saya lupa, surat menyurat di atas kertas masih memegang peranan penting di Indonesia. Namun, hal ini saya pikir penting juga, karena keberadaan saya di institusi-institusi yang akan saya rekam datanya menjadi resmi. Ada bukti hitam di atas putih.

Kendala mulai terlihat, saat native speaker itu tidak memiliki jadwal jam bicara dan konsultasi yang pasti, seperti yang ada dalam “budaya universitas” di Jerman, di mana dosen seminggu sekali menyediakan waktu antara 1 sampai 1,5 jam di ruangannya untuk melayani mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi. Tema konsultasinya beragam, dari mulai membahas tugas perkuliahan dan tugas akhir, menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti dalam perkuliahan, sampai ke masalah yang bersifat administratif akademis. Konsultasi dan jam bicara dalam konteks Jerman sudah diinstitusionalisasi menjadi genre komunikasi yang baku. Karena ini adalah percakapan institusional, maka area pribadi (baik itu secara ruang, waktu dan tema percakapan)menjadi hal yang lepas sama sekali. Berbeda dengan di Indonesia. Konsultasi, bimbingan bisa terjadi di manapun, tidak hanya di kampus ( di kelas atau di ruang jurusan), tapi bisa di rumah, cafe, kantin, halte bus, bisa di bawah pohon, bisa sambil jalan dari ruang kelas menuju ruang jurusan, dll. Menarik untuk diamati, bahwa di Indonesia tidak ada pembagian yang jelas antara institusi dan ruang pribadi. Semua mengalir melintas batasan itu, namun justru di sinilah proses bimbingan dan konsultasi berjalan „seperti yang diharapkan“ kedua belah pihak. Jangan-jangan jika dosen-dosen itu (baik Indonesia dan Jerman) memiliki jam dan ruang konsultasi khusus, tidak akan pernah ada mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi. Saya pernah bereksperimen dengan hal ini dan memang terbukti bahwa tidak ada satupun mahasiswa yang datang di jam dan tempat konsultasi yang saya tentukan. Mereka lebih senang bertanya kepada saya di ruang kuliah setelah perkuliahan usai. Native speaker di Malang memiliki ruang kerja khusus dan jam konsultasi khusus, tapi tidak pernah ada mahasiswa yang datang di jam-jam tersebut. Native speaker di Unpad pun lebih banyak menganggurnya di jam dan tempat konsultasi khusus yang dia pasang.

Relasi antara dosen dan mahasiswa memang tidak setara. Ketidaksetaraan relasi ini bisa terlihat dari elemen-elemen verbal dan nonverbal yang dipakai, dan akan semakin kentara jika faktor ruang dan waktu diperhatikan. Ruang jurusan atau ruang kerja dosen adalah ruang „milik“ si dosen. Dia punya kendali atas ruang itu, siapa yang boleh memasukinya dan siapa yang harus keluar darinya. Penempatan barang, meubel di ruang kerja juga biasanya bersifat formal dan fungsional. Di luar ruang itu, sekat ini sedikit lebih cair, karena sifatnya yang lebih netral: halte bis adalah milik umum, demikian juga cafe dan kantin, sedangkan ruang kelas adalah „ruang bersama“. Rumah, walaupun milik si dosen, sifatnya lebih pribadi dan intim, sehingga biasanya dosen pun akan bersikap agak berbeda saat dia di rumah dan di tempat kerja. Waktu di tempat kerja terbatas, sedangkan di luar orang bisa lebih leluasa mengatur waktunya. Cairnya batas-batas ruang dan waktu di Indonesia ini justru menjadi salah satu faktor lancarnya proses bimbingan dan konsultasi. Namun, pada tataran verbal tetap bisa terlihat jelas ketidaksetaraan relasi ini, mengingat fungsi dosen dalam hal ini sebagai pemberi informasi dan konsultan, dan mahasiswa sebagai pencari informasi dan yang butuh konsultasi. Transfer ilmu, pengalaman, dan pengetahuan biasanya terjadi satu arah.

Di Jerman, ada pemisahan yang sangat jelas antara ruang kerja dan ruang pribadi. Hambatan-hambatan psikologis karena faktor ruang ini menghambat kebanyakan mahasiswa (terutama mahasiswa asing yang tidak berpengalaman dengan „genre“ ini dan tentu saja punya hambatan bahasa) untuk bisa dengan nyaman datang ke ruang bicara dosennya. Namun, biasanya untuk para penutur asli, sekat ruang ini bisa dicairkan lewat ujaran-ujaran verbal yang –dalam konteks budaya dan cara tutur mereka- cenderung lebih bebas dan terbuka. Berhasilkah proses interaksi ini? Belum tentu. Ketaksetaraan relasi ternyata berlaku di manapun, hanya kadarnya mungkin berbeda. Ini bisa terlihat dari pola-pola ujaran yang dipakai serta pola interaksi di tataran mikro. Misalnya dengan melihat alih tutur, penyelaan, intonasi, yang untuk konteks mikro bisa dikaitkan dengan relasi kuasa.

Bersambung

Berhenti dulu ah, waktunya tidur, sudah lewat tengah malam. Sedang semangat memang, tapi saya tidak mau „dikendalikan“ oleh semangat itu, yang bisa menyebabkan tubuh saya protes. Kali ini saya ingin tubuh saya yang akan „mengendalikan“ semangat saya. Dan saya sudah berjanji untuk berhenti menjadi masokis yang memakai kedok intelektualitas. Hehehe. Dilanjut besok, dengan catatan kalau tidak malas.

Františkovy Lázně

Ekskursi bagian dari mata kuliah Weitergabe von Fremdkulturerfahrungen dan Konstitution und Erfahrung sozialer Räume ini dilakukan di Františkovy Lázně atau Franzensbad dalam bahasa Jerman dan Waldsassen, yang terletak di perbatasan Jerman dan Rep. Cěska. Saya ikut karena memang ingin jalan-jalan saja. Lumayan murah biayanya.

Františkovy Lázně terkenal sebagai tempat tetirah.  Didirikan tahun 1793 atas perintah Raja Franz II. Sumber-sumber air mineral di daerah ini mulai awal abad ke 15 dipercaya bisa membawa kesembuhan  untuk beragam penyakit. Air-air itu awalnya diambil oleh para perempuan daerah Eger langsung dari sumurnya dan dijual. Selanjutnya air-air ini dijual ke Jerman. Dalam perkembangan berikutnya, mengingat daerahnya yang ada di dataran tinggi lembah Eger, tapi cukup landai, tak naik turun, membuat kota kecil jadi tempat tetirah yang sangat populer di kalangan orang-orang berpunya di Jerman dan Cěska. Kota kecil yang indah ini hanya berpenduduk sekitar 6000 orang. Dalam sejarahnya, kota ini banyak dikunjungi orang-orang „beken“, dari mulai raja-raja, pengarang seperti Goethe dan komponis seperti Beethoven. Goethe bahkan sampai jatuh cinta pada gadis setempat berusia 19 tahun: Ulrike von Levetzow. Goethe sendiri sudah berusia 72 tahun saat itu, sehingga kisah cintanya ditolak oleh ibu si gadis. Patah hati membuat Goethe menciptakan “Marienbäder Elegie”.

Hal yang langsung menarik perhatian saya adalah kota ini terasa sangat maskulin walaupun simbol-simbol  yang dipakai banyak menggunakan simbol-simbol perempuan (patung medusa yang lebih mirip ratu kelabang, symbol-simbol kesuburan seperti telur dan patung anak kecil Frantisěk) dan arsitektur serta penataan kotanya juga cenderung feminin (bangunan dengan sentuhan gaya rokoko dan klasik romantik). Perempuan dilukiskan sebagai pengambil air di sumur-sumur sumber air mineral. Ada juga lukisan perempuan cantik yang baru keluar dari bak mandi berlumur lulur lumpur.  Hampir semua program wellness dan fitness ditujukan untuk perempuan dengan harga yang cukup murah untuk ukuran keuangan Jerman, tapi untuk tingkat ekonomi masyarakat Cěska itu sangat mahal. Untuk hal semacam, perempuan memang jadi komoditas ekonomi yang menjanjikan, walaupun pada kenyataannya saya melihat lebih banyak laki-laki tua yang ada dan “membeli” program kesehatan dan tetirah di kota itu daripada perempuannya. Ini cukup menunjukkan kemaskulinan  Františkovy Lázně, saat perempuan „hanya“ jadi perawat dan pendamping. Atau jangan-jangan malah justru menunjukkan “kekuatan” si perempuan? Anyway, kesan ini muncul cukup kuat di benak saya.

Yang menarik perhatian saya lagi adalah kesan kota yang dibuat seperti kota “mainan”, di bagian promenade utama. Kemungkinan besar bangunan-bangunan itu asli, tidak dibuat baru. Mungkin pengalaman dan pengetahuan saya sebelumnya saja tentang bangunan-bangunan a la jaman colonial di mal-mal atau town square di Indonesia –khususnya di Jakarta dan Bandung- yang meromantisasi keindahan identik dengan bangunan-bangunan a la jaman colonial itu, membuat saya berpikir bahwa promenade di Františkovy Lázně jadi terasa “buatan”, padahal mungkin tidak. Mengapa demikian? Bangunan-bangunannya terlalu “cerah” dengan warna dominan kuning terang dan putih, terlalu bersih dan terlalu berukir-ukir seragam. Pada kenyataannya memang hampir seluruh kota didominasi warna-warna cerah begitu dan kota ini memang sangat bersih. Bahkan di hutan-hutannya pun bersih. Mungkin juga karena ini tempat tetirah maka dibuat begitu cerah dan bersih. Hanya ada satu bangunan tua yang sudah berkarat, namun juga terasa tetap asri.

Hal yang khas lainnya, air mineral yang rasanya tidak enak itu –asin, sedikit bersoda, terasa aroma dan rasa logam dan entah apa lagi- bisa diambil bebas dari kran air yang dibuat dengan antik secara cuma cuma Biasanya orang memasukkannya ke dalam cawan kecil berpipa kecil, dan kemudian diminum dari pegangan cawan berbentuk pipa. Katanya agar kandungan mineralnya tidak hilang. Air ini  dipercaya bisa membawa kesembuhan untuk beragam penyakit, untuk melancarkan peredaran darah dan untuk membersihkan perut. Biasanya orang-orang minum air ini sebelum kemudian melakukan puasa suci. Rasanya benar juga, karena setelah minum air ini, saya memang tidak ingin makan lagi –untuk beberapa saat- karena rasanya yang benar-benar membuat perut mual dan tidak enak. Lumpur dari kota ini juga dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit dan menghaluskannya. Daerah ini dulunya memang daerah gunung berapi, sehingga tanah dan airnya mengandung banyak mineral yang jika dipakai dalam ukuran tertentu bisa sangat berguna. Salah satunya juga gas alam yang digunakan untuk terapi mandi gas yang dipercaya berguna untuk melancarkan peredaran darah dan membersihkan organ intim perempuan dan menyuburkan rahim. Membaca tawaran Gasbad, salah seorang teman dari Polandia langsung agak sedikit terganggu, karena istilah ini mengingatkannya pada ruang gas jaman holocaust.

Paket tetirah dan pengobatan di Františkovy Lázně ini berkisar antara 1200 – 2000 € selama dua minggu. Harga ini sudah termasuk penginapan di hotel minimal berbintang empat, makan, program fitness dan wellness, dokter yang memeriksa setiap hari serta perawat yang siap sedia setiap saat. Harga yang murah untuk ukuran keuangan kebanyakan orang Jerman, jika dibandingkan dengan program semacam di Jerman yang bisa mencapai puluhan ribu euro (bandingkan dengan harga hotel bintang empat di Jerman yang semalamnya mencapai 200 €, belum lagi biaya yang lainnya).

Namun, ironisnya, di kota ini tidak ada dokter dan rumah sakit untuk masyarakatnya sendiri. Dokter hanya ada di hotel dan tempat tetirah dan hanya diperuntukkan untuk tamu-tamu yang datang dan mampu membayar saja. Rakyat biasa, penduduk kotanya, jangan harap bisa menjangkau mereka. Rumah sakit daerah berada sekitar 50 km dari kota. Entah seperti apa kondisinya. Hanya ada 3 apotik kecil di kota dan satu drogerie. Ruang praktik dokter di hotel dan tempat tetirah itu sangat modern, dilengkapi layar-layar monitor untuk memantau apa yang dilakukan si pasien atau klien mereka. Penduduk kota bekerja melayani para tamu dan klien, namun tidak pernah sama sekali merasakan bagaimana rasanya berendam di kolam air hangat bermineral, ikut fitness, luluran dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Mereka hidup dari produk-produk kesehatan dan kenikmatan yang djual atas nama kesehatan, padahal jangan-jangan mereka berjual beli „Krankheit“: penyakit . Fisik dan psikis. Jangan-jangan kesehatan memang hanya milik  dan untuk orang-orang berpunya . Rasanya fenomena ini terjadi tidak di Františkovy Lázně saja, tapi di mana pun. Duh.

Foto-foto bisa dilihat di sini.