Mbak Rita

Selasa 19 Desember. RS. Borromeus. Sambil menemani Bu Yunni makan, saya minum teh panas (gelas yang kedua). Cerita macam-macam sampai kemudian saya bertanya, bagaimana kabar mamie-nya Bu Yunni, apakah masih senang belanja di tukang sayur di depan rumah di Tengku Angkasa. Belum dijawab, seperti teringat sesuatu, Bu Yunni memberitahu saya „Ibu Rita meninggal“. Ibu Rita? Mbak Rita „Potensi“? Mbak Rita saya? „Iya, 25 November lalu. Ada kok berita duka citanya di PR. Maaf saya lupa ngasih tahu. Kena demam berdarah bareng dengan Lydia anaknya yang bungsu. Anaknya sembuh, Ibu Rita tidak tertolong“. Saya hanya bisa diam. Percaya tidak percaya. Namun, hati saya tiba-tiba berdebar.

Sampai di rumah saya tidak segera mencari koran bulan November sekitar tanggal itu, karena saya sedang berusaha tidak mempercayai kabar dari Bu Yunni. Saya hanya bercerita sedikit pada ibu saya tentang kabar tersebut. Saya pun tidak berusaha mengecek kebenaran berita itu dengan menghubungi nomor telepon genggam atau nomor telepon rumah Mbak Rita. Ternyata saya takut kalau berita itu benar.

Pikiran saya melayang ke 8,5 tahun lalu. Saat saya diterima di ruang kantornya di Tengku Angkasa. Awal perkenalan saya dengannya. Awal „karir“ saya di dunia pengajaran Bahasa Jerman dimulai di sana. Di Potensi. Di Tengku Angkasa. Dengan Mbak Rita, perempuan perfeksionist yang tidak mudah percaya, sangat perhatian dan detil sehingga kadang terkesan cerewet. Galak, menurut beberapa orang. Menurut saya karena dia begitu perhatian dan ingin segalanya sempurna. Tanggung jawab atas kepercayaan yang orang-orang berikan pada biro konsultasi studi miliknya. Perempuan yang bercita rasa seni tinggi. Sangat telaten dan rajin. Oleh karena itu tidak mudah bekerja sama dengannya. Banyak yang tidak tahan berkerja dengannya. Namun, saya bisa bertahan lama bekerja bersamanya.

Saya sebenarnya tak habis pikir, kenapa dia sampai bisa begitu percaya pada saya. Kami sering bicara panjang lebar tentang hal apapun. Bukan hanya tentang kondisi siswa, tapi juga masalah pribadi. Bukan hanya masalah pengajaran, tapi juga pelajaran hidup. Program Bahasa Jerman akhirnya diserahkan tanggung jawabnya kepada saya. Saya bisa menentukan dan mengembangkan sendiri modul apa yang harus dipakai, waktu belajar mengajar, bahkan untuk menentukan guru pun diserahkan pada saya. Mbak Rita tidak pernah mau melepas saya dari Potensi. Pun ketika saya akhirnya mengajar di Unpad dan waktu saya terserap habis di sana, sehingga saya hanya bisa berada saat akhir pekan di sana. Guru-guru yang lain masuk dan keluar (kebanyakan karena tidak terlalu tahan dengan tuntutan Mbak Rita), saya masih ada di sana. Sampai tahun 2003, Mbak Rita tidak bisa lagi menahan saya di Bandung. Saya pergi ke Bayreuth. Mbak Rita lebih memilih menutup Potensi dan membuka „Kinder Kreativ“. Kembali kepada cita-citanya yang lama: berseni rupa dengan anak-anak. Untuk orang seperti Mbak Rita, bisa berhasil. Cita rasa seni dan kreativitasnya yang tinggi memungkinkan untuk itu. Berkembang cukup pesat, seperti yang saya lihat saat saya berkunjung 2004 lalu.

Itu ternyata pertemuan kami terakhir kalinya. Berbincang panjang lebar lagi, ditraktir makan di Gado-gado Tengku Angkasa di sebelah rumahnya, berniat membuka kembali Potensi jika saya sudah selesai kuliah di Bayreuth dan kembali ke Bandung. September lalu saya pulang. Saya belum sempat mengabari Mbak Rita bahwa saya sudah ada lagi di sini. Biasanya Mbak Rita rajin mengirimi saya sms, pun ketika saya di Jerman. Setiap Lebaran, dia selalu mengirimi kami sekeluarga kue dan dia sangat senang sekali jika saya mengiriminya Apfelkuchen buatan saya saat Natal. Terakhir bertemu dua tahun lalu pun menjelang Natal dan dia berkata ingin memesan kue lagi untuk tahun baru. Kami berpelukan erat, seperti biasa, saat saya pamit pulang, sekalian berpamitan kembali ke Bayreuth. „Hati-hati ya, Mbak Dian. Sampai ketemu lagi“. Begitu ucapnya.

Hari ini. Saya pulang sebentar ke rumah. Saya dapati koran tanggal 26 November di atas meja dengan foto Mbak Rita di salah satu halamannya. Di ruangan berita duka cita.

Lalu saya ingat serviette bergambar bunga mawar warna merah hati untuknya. Oleh-oleh dari Jerman yang dimintanya dua tahun lalu dan rencanya akan saya berikan menjelang Natal ini. „Oleh-oleh untuk saya serviette saja, ya. Saya sedang membuat karya berbahan serviette,“ ujarnya. Oleh-oleh yang tidak akan pernah sampai padanya.

Selamat jalan Mbak Rita. Danke für Dein Vertrauen an mich. Immer.

Dezember

Was für ’nen Monat :) Nach einer Woche Workshop, einer Woche Studienvergleich, einer Woche Germanistentreffen (tatsächlich war es anstrengend, jeden Tag  wieder auf Deutsch zu sprechen. Haha, drei Jahre waren nicht schlimm, aber eine Woche?! Sehr anstrengend! Ironisch gemeint :) ). Jetzt ist Dezember fast vorbei. Hab‘ noch eine Woche Zeit, um meine eigentliche Aufgabe nachzuholen. Dann Ferien. Brauche es wirklich.