Menuju Matahari

Di atas samudera Hindia. Menuju matahari. Menuju rumah.

Advertisements

Koordinasi (Bagian I)

Perkembangan penelitian linguistik di Jerman saat ini sepertinya semakin masuk merasuk ke dalam tataran mikro. Ketika para peneliti bahasa dan komunikasi di negara-negara berbasiskan Bahasa Inggris semakin melihat unsur-unsur di luar bahasa, konteks politik dan sosiopragmatik menjadi bahasan para peneliti analisis wacana kritis, di Jerman yang menjadi awal dari bahasan teori kritis asal mula munculnya analisis wacana kritis, bahasan tersebut semakin terasa jauh. Nama-nama seperti Fowler, Van Leuweun, Sara Mills, Fairclough tidak terlalu terdengar dengungnya, hanya Wodak yang masih sedikit dipakai, dan Van Dijk yang semakin ke sini juga analisisnya semakin masuk ke dalam. Teori konteks terakhir dari Van Dijk juga semakin bersifat individual, bukan konteks yang berada di luar melingkupi teks, tapi konteks yang justru ada di dalam dunia pikiran dan perasaan si pelaku komunikasi (lebih spesifik lagi dalam percakapan). Dijk (2007: 288-289) menyebutkan dalam tulisannya: there is no direct casual or conditional relationship between social characteristic (gender, class, age, roles, group membership, etc.) of participants and the way they talk or write. Rather, it is the way participants as speakers (writers) and recipients subjectively understand, interpret, construct or represent these social characteristics of social situations that influences their production or understanding of their talk or text.

Jadi, konteks menurut Dijk menjadi hal yang sifatnya sangat pribadi dan subjektif, walaupun tentu saja dalam kenyataannya, saat manusia berinteraksi dan berkomunikasi, konteks subjektif ini akan bertemu dan beririsan dengan konteks subjektif-konteks subjektif lainnya, sehingga konteks-konteks ini memiliki properti sosial (meminjam istilah Dijk, walaupun terasa sangat “ekonomi” untuk saya) dan menjadi bersifat intersubjektif. Ketika konteks subjektif beririsan dengan konteks subjektif lainnya, terjadilah apa yang disebut wacana (discourse). Sesuai dengan namanya yang subjektif, sifatnya menjadi relatif dan menjadi bermakna ketika konteks tersebut relevan dengan maksud, pikiran atau perasaan si pelaku komunikasi. “Pengertian” dan “pemahaman” setiap pelaku komunikasi terhadap suatu fenomena komunikasi tertentu awalnya memang disebut Dijk sebagai konteks. Namun, dalam tulisan terbarunya, Dijk lebih suka menggunakan istilah mental model, yang menurutnya lebih mewakilinya teorinya tentang konteks. Dalam mental model terkandung makna representasi mental seorang pelaku komunikasi terhadap sebuah peristiwa atau situasi yang disimpan dalam ingatan episodiknya. Sifatnya relatif, subjektif, parsial, dan bersifat mengontrol semua aspek produksi wacana.

Jika melihat pemikiran Dijk yang cenderung memberi tekanan cukup kuat pada “dunia dalam” para pelaku komunikasi –khususnya dalam percakapan-, rasanya tidak heran kalau di Jerman namanya yang masih cukup sering disebut dalam beberapa artikel tentang konteks dan analisis percakapan. Namun, tentu saja ada “ego” intelektualitas sendiri dari para ilmuwan (mungkin para pakar ilmu bahasa dan humaniora? Bidang lainnya saya tidak terlalu paham) untuk membuat sesuatu yang lain dari yang lainnya. Walaupun bahkan hanya di urusan istilah, yang kadang untuk saya sebagai orang awam tidak perlu terlalu diperdebatkan sampai memakan waktu berjam-jam, karena istilah yang mereka pakai toh tetap sama saja maknanya :)

Perkembangan analisis percakapan, yang sebenarnya berasal dari Amerika, di Jerman juga semakin merasuk detil ke dalam struktur mikro percakapan, setelah tataran interaksi dan makro „dikuasai“ oleh para analis percakapan negara berbahasa Inggris. Pada tataran ini, struktur mikro yang dibahas tidak lagi hanya fungsi jeda dan intonasi, alih tutur dan reparasi, tidak hanya membahas register dan diksi, tidak lagi hanya melihat bangun struktur suatu percakapan, namun melihat bagaimana satuan-satuan luar bahasa verbal yang menyertai ujaran-ujaran verbal (baik statis atau dinamis) saling jalin menjalin membentuk satu pemahaman (konteks) terhadap satu fenomena tertentu dalam proses interaksi. Istilah komunikasi tidak digunakan lagi dalam perkembangan penelitian bahasa di Jerman, karena dalam istilah komunikasi cenderung terkandung makna akhir yang bersifat sama, komunal, sedangkan dalam suatu peristiwa berbahasa tidak tertutup kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian yang sifatnya juga dinamis, sehingga istilah interaksi, yang dikemukakan pertama kali oleh Goffmann (1983), lebih sering digunakan. Saya sendiri termasuk orang yang bersetuju dengan istilah ini, mengingat dinamika yang muncul saat orang bercakap-cakap atau saat menulis sekalipun.

Jadi, saat para pelaku percakapan berinteraksi, terjadi jalinan yang kuat antara unsur-unsur verbal yang diujarkan dengan unsur-unsur nonverbal yang melingkupinya. Ruang-waktu tempat kapan percakapan itu terjadi, tinggi-rendah-lambat-cepat nada dan suara yang digunakan, gestikulasi-mimik-tatapan mata-gerak kepala-gerak alis yang menyertai ujaran-ujaran tersebut, bahkan helaan nafas dalam diam tak berujar pun dapat memberikan makna lain untuk si pelaku percakapan dan atau pada si mitra bicaranya. Media telefon, internet, museum, ruang kelas, bahkan ruang latihan dansa pun menjadi bagian dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa interaksi tertentu. Semua hal di luar unsur verbal yang melingkupi, menyertai dan memengaruhi pemahaman terhadap suatu peristiwa interaksi tertentu disebut multimodalitas. Istilah multimodalitas ini awalnya diperkenalkan oleh Kendon (1990) yang menolak anggapan tentang „particular modality of communication is more salient than another“. Untuknya, semua aspek yang ada saat suatu proses interaksi terjadi adalah penting dan menjadi satu kesatuan utuh yang membentuk satu konteks pemahaman tertentu terhadap satu fenomena tertentu pula. Satu kesatuan yang utuh ini disebut Deppermann dan Schmitt (2007) sebagai koordinasi.

Koordinasi berasal dari bahasa Latin yang bermakna mengatur, pengaturan, dalam bahasa Jerman bermakna das ordnende Zusammenfassen, die Abstimmung, Zuordnung (penyimpulan yang teratur, persetujuan, penyesuaian, pengaturan) dan dalam bahasa Indonesia bermakna perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur, sedangkan dalam bidang linguistik bermakna penggabungan satuan gramatikal yang sederajat dengan konjungsi koordinatif (KBBI Daring 2007). Dalam konteks koordinasi dalam sebuah interaksi, Deppermann/Schmitt menyoroti aspek-aspek yang mendukung terjadinya koordinasi antara ujaran verbal dan aspek „lingkupannya“, terutama aspek waktu (pelaku interaksi ada di ruangwaktu tertentu untuk tujuan tertentu, dengan tindakan dan ujaran tertentu pada ruangwaktu itu), ruang (berkaitan erat dengan waktu, ruang juga membawa implikasi yang berbeda dalam suatu proses interaksi), multimodalitas (menyatakan „kehadiran“ dan cara bertindak dalam suatu proses interaksi dengan tataran ungkapan yang beragam)  dan orientasi persona majemuk („penyesuaian“ yang bersifat interaktif dengan pelaku peristiwa interaksi lainnya).

Mengambil contoh suatu situasi percakapan dalam proses interaksi antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa misalnya menganggap bahwa dia sudah menggunakan pemilihan kata yang tepat untuk situasi percakapan di ruang dosen yang formal dan waktu bicara yang juga „formal“ (di jam kerja atau jam bicara dosen). Register dan diksi yang dipilih mungkin biasa digunakan dalam situasi tersebut, namun tidak diimbangi dengan volume suara yang „lazim“ untuk situasi di ruang dan waktu yang katakanlah formal tersebut, misalnya dia bicara terlalu pelan atau terlalu keras, terlalu cepat atau terlalu lambat. Tidak bisa diabaikan bagaimana dia mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tersenyum, menggerakkan tangan, menggerakkan bahu, dan menggerakkan kakinya sebelum suatu satuan  verbal dijarkan, saat satuan verbal diujarkan, dan setelah ujaran verbal diujarkan. Bagaimana situasi ruangan tempat proses interaksi itu terjadi? Posisi meja, kursi, lukisan, lampu, baju yang digunakan, alat tulis yang dibawa, dan lain sebagainya. Apakah benda-benda tersebut lebih menarik perhatiannya dibandingkan rekan bicaranya atau benda tersebut menjadi pengalih perhatiannya jika dia tidak merasa cukup nyaman dengan ujarannya atau dengan ujaran rekan bicaranya? Atau benda-benda tersebut justru mendukung ujarannya atau ujaran rekan bicaranya? Sebagai alat penunjuk, penegas, yang memperlemah atau justru memperkuat? Jika suatu “kesalahpahaman” muncul dalam suatu interaksi (kesalahpahaman dalam makna yang luas), unsur yang satu menunjang unsur yang lain, aspek yang satu menunjang aspek yang lainnya. Ada kemungkinan si mahasiswa bereaksi dengan ujaran dan sikap tertentu karena melihat tatapan mata, gerakan alis atau senyum bahkan tarikan nafas si dosen, misalnya. Atau seorang dosen bereaksi dan berujar sesuatu karena memang berniat menegaskan atau memperlemah atau memojokkan atau mendukung si mahasiswa atau mungkin juga karena melihat sikap, gerakan, ujaran atau apa yang dikenakan si mahasiswa misalnya. Semua saling berkait, dan proses interpretasi terhadap suatu ujaran yang keluar –sekecil apapun itu- tidak bisa lepas pemaknaannya dari faktor-faktor di atas. Sekali lagi, sifatnya intersubjektif. Saling berhubungan. Satu menyebabkan yang lain. Tampaknya hukum kausalitas berlaku di sini.

(Bersambung, keburu ngantuk :))

Andare

Aku hinggap sejenak menatap keluasan biru langit dan laut. Padanya dan di atasnya aku siap mengepakkan kembali sayapku.

Bayreuth, 010110, 00:01