Waktu

Waktu selalu menjadi komoditas yang mahal untuk saya. Setidaknya itu yang selalu saya rasakan dan alami, walaupun pada kenyataannya saya masih sering pula menyia-nyiakan komoditas itu.Teramat sering malah. Sesering rasa bersalah yang muncul seiring dengan waktu yang tiba-tiba terbuang begitu saja. Komoditas yang mahal itu. Terbuang atau tepatnya dibuang begitu saja. Kalau saya mau menyebut itu hal yang manusiawi, saya jadi malu hati karena terlalu sering saya lakukan hal yang sama. Terlalu sering saya lupa pada janji dan niat untuk memanfaatkan komoditas mahal itu dengan baik dan lebih baik lagi. Sehingga akhirnya saya sulit untuk membangkitkan lagi ingatan bahwa saya sudah jadi manusia yang merugi. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa -begitu selalu kata salah seorang teman-. Dan bukankah langkah manusia juga beranjak dari ingat dan lupa? Atau mungkin lebih baik dibalik: lupa dan (lalu) ingat.

Terima kasih untuk obrolan pendeknya (menjelang tengah) malam ini. Sayangnya saya selalu suka bahasan tentang taqwa dan waktu, makanya saya bertanya kapan. Sayangnya saya juga selalu suka bahwa hidup ini tidak pasti. Kalau tidak, saya tidak akan begitu merasa bahagia dan menikmati keberadaan saya saat ini di sini. Bersama orang-orang yang begitu saya cintai. Padahal tiga tahun terakhir semua ini cuma jadi kerinduan saja. Kalau tidak, saya pun tidak akan merasa begitu rindu pada kesendirian saya di sana. Berhadap-hadapan dengan diri dan dengan-Nya.

00:40

Rumah

Masih menyambung tema rumah dan keasingan. Apa sih rumah? Apa sih asing? Dua kata itu terakrabi di telinga, tapi tetap saja tak terdefinisikan. Tidak perlu juga mungkin. Buat apa pula? Toh keduanya jadi bagian hidup saya juga. Sudah terinternalisasi sedemikian dalam (duh! hiperbolis sekali) sampai saya sendiri tidak tahu apakah keduanya eksis atau tidak sama sekali. Yang jelas saya ada di sini. Katanya di rumah. Tapi kok tidak juga. Katanya di kampung halaman sendiri. Tapi kok tidak terlalu juga. Katanya semua familiar. Tapi kok saya seperti alien. Aneh sendiri, kuper sendiri. Ah, itu kan biasa. Memang iya. Perlu waktu saja untuk bisa adaptasi dengan semua. Membuatnya jadi suatu kebiasaan lagi. Jadi rutinitas lagi?! Hmm…saya agak takut dengan rutinitas sebetulnya. Masih ingin jadi manusia, bukan mesin.

Judulnya di sana asing di sini asing. Di sana rumah di sini rumah. Di sini senang di sana senang. Di sini susah di sana juga.  Jadi? Begitu deh. Bingung dan aneh kan? Saya apalagi. Yang jelas sih saat ini saya sedang senang. Buku-buku saya sudah datang. Internet sudah terpasang. Saya bisa online dengan tenang dari laptop saya sendiri. Minimal dua hal itu yang membuat saya jadi agak gimana ya…merasa di rumah dengan nyaman. Familiar. Duh! Aneh ngga sih saya, masa dua hal itu yang membuat: ich fühle mich wohl und zu Hause. Feel at home.

Bandung, 170906