It was cold, but it’s Coldplay!

Setelah nonton konser Sting – Symphonicity Tour bulan Juli 2011 lalu di München, tanggal 12 September kemarin konser Coldplay lah yang saya tonton bersama sahabat saya. Pagi-pagi sudah bersemangat pergi dari Bayreuth ke München naik kereta. Suhu sudah cukup dingin saat itu, tapi belum hujan. Pakaian kami seadanya saja. Karena masih awal-awal September, jadi rasanya t-shirt, cardigan, trench coat tipis, syal tipis, jeans dan sepatu flat dengan stocking tipis saja cukup. Setibanya di München suhu ternyata lebih dingin, hujan mulai turun pula. Tapi tekad dan excitement mau menonton Coldplay mengalahkan segalanya, haha. Lagipula ini “petualangan” kami berdua, cewek-cewek yang tergila-gila pada Coldplay, hehe. Jauh-jauh dari Bayreuth, iseng menginap di hotel karena konser pasti sampai malam tak mungkin mengejar kereta pulang ke Bayreuth. Jadi kami menikmati betul perjalanan kali ini. Tidak ada niat belanja, tumben, karena tujuan utamanya adalah Coldplay.

Setelah mengisi perut sekitar jam 16an dengan Thai Food yang enak dan murah di sebelah hotel tempat kami menginap, kami jalan-jalan dulu ke kota, mau ngopi ceritanya. Ini ternyata keputusan yang tepat, makan nasi dan sup panas, karena ternyata ini membuat kami bisa bertahan sekitar 4 jam di ruang terbuka pada suhu 6°C dengan kostum seadanya. Nekat, haha, tapi itu di luar perkiraan kami.

Kami kemudian santai ngopi dulu di Starbucks sambil menghangatkan badan dan menunggu waktu serta menunggu hujan berhenti. Namun, hujan tidak berhenti juga, suhu juga malah semakin dingin. Sekitar jam 17 lebih kami berangkat ke Olympiastadion München, supaya bisa mendapatkan tempat duduk yang strategis, karena kami membeli tiket tribun dengan pemilihan tempat duduk yang bebas. Konsernya sendiri menurut jadwal akan dimulai jam 19. Jadi setidaknya jam 18 lah kami sudah ada di sana. Sampai di Olympiapark sudah banyak orang berdatangan. Di depan sudah ada calo-calo yang menjual tiket. Ya, calo-calo tiket tidak hanya ada di Indonesia, di Jerman juga ada. Selain mereka, ada juga yang membagikan plastik jas hujan dan bantal tiup. Dan ini gratis! Ini semua akan berguna, karena hujan tak juga berhenti. Kursi stadion dari besi juga dingin, bantal ini lumayan membantu mengatasi supaya tidak duduk kedinginan di tribun.

Di gerbang masuk ke arena Olympiastadion yang bisa memuat sekitar 100.000 orang itu, tiket diperiksa. Tidak begitu ketat, hanya dilihat isi tas. Tidak boleh membawa kamera dan tidak boleh membawa air minum lebih dari 250 ml. Itu saja, biasa. Di dalam kemudian kami dibagikan gelang xylo. Kami minta gelang masing-masing dua dan diberi, hehe. Dan seperti biasa di setiap acara di Jerman, selalu ada penjual bir, Bretzel dan Bratwurst. Orang-orang masih berkumpul di luar, makan dan ngebir dulu. Kami mencari tempat di dalam. Masih kosong, jadi masih bisa dapat tempat di tengah. Tadinya kami kira cuma kami yang agak-agak dewasa yang nonton konser tersebut, ternyata di sebelah kami ada kakek-kakek berusia sekitar 60 tahun lebih dengan perempuan yang mungkin pacarnya, haha. Gossip dimulai, ngapain si kakek nonton Coldplay?! :))

Bild

Nunggu lumayan lama juga, sementara hujan tak juga berhenti, makin dingin. Panggung bahkan diberi tenda-tenda untuk melindungi alat-alat band dan sound system supaya tidak terkena air. Tepat jam 19 penyanyi pembuka, namanya entah siapa lupa, perempuan, dari Inggris juga, memulai acara. Heboh sendiri dia, tapi lumayan lah untuk goyang-goyang badan sedikit, supaya agak hangat. Berharap ada yang jualan bandrek atau bajigur dan kacang rebus saat itu, haha. Lumayan juga ini band pembuka tampil sekitar 45 menit di bawah guyuran hujan. Selanjutnya masih ada satu penyanyi lagi, juga dari Inggris, perempuan juga, lupa juga siapa namanya. Yang ini tidak begitu enak, cara nyanyinya terlalu dibuat-buat. Mereka main di bawah tenda juga, karena hujan malah makin deras.

Lucu juga ternyata nonton konser di arena terbuka seperti itu dalam suasana hujan. Penonton yang berdiri di depan panggung dengan payung warna warni dan jas hujan warna warni membuat suasana meriah, sesuai dengan tata panggung Coldplay dan latar belakangnya yang menggunakan warna-warna spotlight. Ambulance disediakan di pinggir arena, karena ternyata benar saja ada beberapa orang yang pingsan kedinginan. Orang-orang Münchennya sendiri yang datang menonton membawa perlengkapan yang lengkap, ada yang bawa selimut segala. Pakaian mereka sudah seperti pakaian musim dingin saja. Saya dan teman saya nekat juga dengan kostum yang hanya seadanya seperti itu.

Hujan yang deras membuat panggung basah, sehingga beberapa kali panggung harus dibersihkan dan disapu airnya. Menjelang pukul 21, tenda dibongkar, panggung dibersihkan lagi, dan penonton di tribun tempat saya dan teman saya duduk sudah berteriak histeris saat ada dua mobil hitam masuk ke arena. Pasti mobil itu membawa personil Coldplay dan benar!

Stadion yang tadinya gelap kemudian terang benderang seiring dengan naiknya semua personil Coldplay ke atas panggung. Whoaaaa!!!! Teriakan dan tepuk tangan bergema di seluruh penjuru stadion. Merinding!! Padahal mereka belum mulai sama sekali. Lampu kemudian dipadamkan kembali, dan musik pembuka dimulai, permainan lampu di empat layar besar dimulai dan…gelang xylo tiba-tiba menyala!!! Seluruh stadion yang gelap menjadi berkelip-kelip. Luar biasa!! Intro mylo xyloto dan „Hurts Like Heaven“ pun dimulai! Yeaaahhhhh!!!!

Bild

Penonton semua langsung berteriak, ikut bergoyang dan ikut bernyanyi dengan Chris Martin. Whoaaaa!!! Rasanya seperti mimpi mendengarnya bernyanyi langsung! Tata lampu dan cahaya ditambah kembang api membuat panggung tampak spektakuler. Di layar besar ditampilkan semua personil. Saya dan teman saya sudah teriak-teriak saja: oooowoooohhh….ooowooohhh….bersama-sama membuat koor massal dengan lebih dari 70.000 orang di sana. Chris Martin bernyanyi sambil main piano yang penuh coretan warna warni. Kemudian menyapa kami dengan beberapa kalimat dalam bahasa Jerman: „Wir sind glücklich und es ist eine Ehre, hier in München zu sein“ Walaupun hujan dan dingin „no matter what the weather is doing“. Yeaaahhhh!!! Semua berteriak bersama.

Selanjutnya lagu-lagu Coldplay yang lain dinyanyikan di bawah hujan, dengan Chris Martin yang berlari ke sana kemari di panggung berbentuk T itu. Dia hanya pakai t-shirt tipis lengan pendek. Keringetan dan kedinginan sekaligus, pasti masuk angin tuh sudahnya, haha. Di setiap lagu penonton selalu ikut berteriak, tepuk tangan dan melompat-lompat. Di beberapa lagu kojonya mereka, kami semua bernyanyi bersama, membuat koor massal lagi, tidak membiarkan Chris Martin menyanyi, seperti di lagu „In My Place“, „The Scientist“, „Yellow“, „Paradise“, „Fix You“, „Every Teardrop is a Waterfall”, “Peanut”, “I’m singing in the Rain” dan tentu saja di lagu „Viva la Vida“. Koor massal penonton terjadi lagi lagi di akhir lagu „Viva la Vida“ ini. Yuhuuuuu!!! Di lagu „Princess of China“, gambar dan suara Rihanna muncul di layar besar, kemudian Chris Martin “berduet” bersamanya.

Selain gelang xylo yang berkelip-kelip, kembang api, lampu-lampu spotlight, balon-balon juga ikut diterbangkan, belum lagi lampion-lampion berbentuk kupu-kupu raksasa yang ada di pinggir-pinggir tribun juga ikut dinyalakan. Seru! Chris Martin yang energik, juga personil lainnya, membuat suasana semakin meriah dan hangat. Padahal hujan turun terus menerus, malah semakin rapat. Tapi hujan ini juga jadi  latar yang bagus saat lagu “Fix You” dinyanyikan. Huaaa…..romantis!

Entah karena kedinginan atau apa, beberapa kali Chris Martin nyanyi dengan nada yang tidak pas. Bahkan di lagu “Yellow” dia tidak terlalu bagus, lebih bagus suaranya Ariel NOAH saat mengcover lagu itu, hehehehe. Tapi dimaafkan lah untuk seorang Chris Martin selip-selip dikit ;)) Acara nada yang selip-selip ini terjadi kembali saat mereka menyanyikan lagu “Speed of Sound” secara akustik. Sebelumnya kami mengira pertunjukan selesai, karena lampu dipadamkan, dan mobil hitam mendekati panggung akan menjemput mereka. Tapi masa sih berhenti begitu saja tanpa pamitan?! Hehe. Ternyataaaa…mobil hitam itu berhenti tepat di depan tribun kami, Chris Martin dan personil lainnya keluar dan berlari menuju panggung kecil agak ke tengah penonton. Huaaaaa…..tidak ada yang menyangka! Penonton yang berdiri dekat situ beruntung sekali tuh. Kami yang di tribun saja senang lihatnya.

Bild

„Speed of Sound“ dimulai dengan petikan gitar akustiknya Chris Martin. Di tengah-tengah lagu, saat sedang asyik-asyiknya menyanyi, tiba-tiba di second chorus suaranya selip, haha! Dan dia minta maaf, “Sorry!” Sambil ketawa dan ditertawakan oleh personil lainnya. Lalu dia menghentikan nyanyinya sambil ketawa-ketawa juga dan bilang bahwa dia nyanyinya jelek, minta maaf pada personil dan semua penonton lalu minta second chorusnya diulang lagi. Hahaha! Dimaafkan! Rocker juga manusia, hehehhe. Penonton malah senang diberi suguhan yang sangat manusiawi itu. Apa sih yang ngga untuk Chris Martin yang saat itu mengenakan t-shirt ungu muda dan jacket jeans serta Coldplay nya, hahaha. Lanjut lagi!

Beberapa lagu dinyanyikan secara akustik sebelum mereka pindah kembali ke panggung besar. Kali ini mereka tidak naik mobil, tapi lari sambil melambaikan tangan melewati depan tribun kami. Yeaaahh, geer bener deh berasa didadahin Chris Martin, haha, jadi semangat ikut lambai-lambai tangan juga :))

Sesampainya di panggung besar, setelah “Fix You”, Chris Martin bilang bahwa gitaris mereka, Jonny Buckland, hari itu berulang tahun. Jadilah seluruh stadion menyanyikan lagu Happy Birthday untuk si Jonny. Dilanjutkan dengan acara membuka botol champagne. Seruuu!!

Beberapa lagu masih dinyanyikan sampai akhirnya sekitar jam 22:30 dinyanyikan lagu terakhir dan kemudian mereka berpamitan. Huaaa…belum puas! Sebentar sekali. Ada sekitar 15 lagu yang dibawakan, tapi walaupun kami bertepuk tangan minta tambah, tidak diberi juga, huhuhu. Padahal saya tadinya mengharapkan lagu “Hardest Part” ada dalam songlist. Tapi ya sudahlah, sudah kedinginan juga, haha. Yang jelas saya puas berteriak-teriak sambil loncat-loncat dengan teman saya dan ada satu laki-laki sebelah teman saya yang nonton sendirian, yang tadinya malu-malu mau goyang-goyang dan lompat-lompat, gara-gara melihat kami cuek saja, dia akhirnya ikut cuek juga, hahaha. C’mon! It’s coldplay! Jangan terlalu “cold” ;)

Pulang, keluar mengantri dengan tertib. Inilah enaknya nonton konser di Jerman, semua tertib, ngga ada desak-desakan dan rebut-rebutan. Yang jelas semua gembira dan puas. Kedinginan? Tidak dirasakan, haha! Berjalan beramai-ramai menuju stasiun U-Bahn sambil masih bernyanyi-nyanyi, beberapa gelang bahkan masih menyala. Seru! Karena di dalam U-Bahn pun kami masih menyanyi-nyanyi. Tapi semua senang, semua tersenyum dan membicarakan konser tadi. Benar-benar malam yang menyenangkan. Danke Coldplay, danke München!

Bild

Dalam perjalanan menuju hotel baru terasa deh bahwa perut kami lapar dan minum coklat hangat kayaknya enak juga. Jadilah, jam 00:00 tepat kami mengantri di Burger King, satu-satunya restoran yang buka jam segitu dan baru bisa makan burgernya 30 menit kemudian. Dan semua yang mengantri itu adalah mereka yang juga baru pulang nonton Coldplay bersama kami, terlihat dari gelang yang masih mereka pakai :))

Pulang ke hotel, masuk ke selimut hangat, tidur nyenyak sambil tersenyum. Rasanya masih seperti mimpi, haha. It was cold, but it’s Coldplay, man! Puas banget deh pokoknya! So, the next concert is …. The Cranberries on 2nd of December. Yeaaahh, can’t wait! Excitednya sudah dari sekarang :))

Sebuah Pengakuan Terlambat dari Seorang Penggemar Peterpan

Bild

Ya, tampaknya saya memang sedang ikut „termakan“ oleh eforia bebasnya sang vokalis. Tak apalah, toh sekarang saya memang akhirnya ingin mengaku bahwa saya adalah salah seorang penggemar sosok yang begitu dihebohkan dan terutama saya adalah penggemar musik Peterpan, yang kebetulan kebanyakan dibuat oleh sosok yang katanya fenomenal ini. Saya penggemar baru, baru sekitar setahunan ini dan saya berani bertaruh bahwa banyak yang menyukai Peterpan dengan sembunyi-sembunyi, seperti saya dulu.

Mengapa saya kok bisa terlambat begini? Karena saat Peterpan muncul sekitar 2004, saya sedang di Jerman. Saat itu youtube belum terlalu booming, begitu juga media sosial yang membuat saya bisa selalu terupdate dengan berita-berita baru. Akhir tahun 2004 saya mudik sebentar, di Indonesia sedang terkenal lagu „Mimpi yang Sempurna“ milik Peterpan. Siapa sih? Lagu apa sih kok gitu? Lagunya Peterpan, kata adik saya. Lagunya enak lho, katanya. Ih, lagu begitu saja enak, cibir saya saat itu. Penyanyinya ganteng, kata adik saya lagi. Yang begitu ganteng? cibir saya lagi melihat sosok di video klip dengan rambut lurus agak gondrong dengan potongan ngga jelas. Eh, keyboardisnya temen saya, kata adik saya lagi. Adik kelas saya waktu SD memang, saya tahu. So? Pokoknya saya tidak suka. Saat itu saya lebih senang mendengarkan lagu-lagunya Kla Project, Padi, Dewa, Java Jive dan tentu saja masih setia mendengarkan lagu-lagunya Chrisye dan Iwan Fals (ketahuan kan saya angkatan berapa, hehe).

Saya tidak mendengarkan Peterpan lebih jauh, keburu balik lagi ke Jerman. Saat balik lagi itu saya dibelikan CD berisi MP3 lagu-lagu Indonesia dan lagu barat (bajakan tentu saja, maaf) oleh adik saya, dan salah satunya ada album bajakannya Peterpan „Taman Langit“ (maaf yaaaa…). Itu pun tidak pernah saya dengarkan. Sampai pada tahun 2005, salah seorang mahasiswa saya yang baru pulang dari kuliah praktek di Indonesia selama 6 bulan bercerita bahwa dia suka lagu-lagu Peterpan. Aduh, Peterpan lagi. Siapa sih mereka? Murid saya itu sampai membeli CD album Peterpan „Bintang di Surga“ dan dia meng-copy-nya untuk saya (maaf lagi). Dia mempromosikan benar album itu, terutama lagu „Ada apa denganmu“. Saya kemudian dengarkan albumnya. Hmm, dari sekitar 10 lagu kok saya cuma suka 2, haha. „Ada apa denganmu“ begitu saja, tidak terlalu menarik. Lagu dan lirik yang aneh. Namun, saya langsung suka „Bintang di Surga“, mungkin karena ada unsur orkestranya jadi terdengar megah. Saya memang sedang suka musik klasik saat itu. Suara Ariel mulai menarik perhatian saya. Enak juga. Kemudian lagu „Mungkin nanti“ yang kata salah seorang teman saya saat itu liriknya membuat dia „kasuat-suat“. Buat saya sih biasa saja. Namun, oke lah. Ya, tiga lagu itu saja yang saya dengarkan.  Ternyata, ada salah seorang lagi murid saya yang baru datang dari Indonesia pulang ke Jerman dengan membawa 1 CD Peterpan “Bintang di Surga” dengan cerita yang sama: “Ada apa denganmu“ harus saya dengarkan. Ah, ada apa sih denganmu, Peterpan. Sampai-sampai murid saya itu minta tolong kepada saya untuk menerjemahkan lirik „Ada apa denganmu“ ke Bahasa Jerman saking sukanya dia pada lagu itu. Hoalah, macam-macam saja. Jadilah saya terjemahkan lirik yang tampaknya mudah, ternyata sulit juga saat diterjemahkan. „Tuduhan“ saya saat itu: si Ariel sok puitis, padahal liriknya hanya berisi soal pacar yang marah. Bahasa Indonesianya juga aneh. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman jadi lebih aneh.

Waktu berlalu, cuma „Bintang di Surga“ yang sering saya dengarkan dengan volume kencang. Liriknya cinta-cintaan sih, biasa, ditinggal pacar, kontekstual sekali, hehe. Tapi Ariel membuatnya dengan „sok puitis“ sehingga tidak terdengar cengeng. Lumayan, walaupun saya tetap tidak mengakui bahwa dia oke, hehe. Namun, saya mulai suka dengan gaya menyanyi dan teriakan dia di bagian refrain.

Peterpan kemudian berlalu begitu saja, sampai saat saya pulang ke Indonesia tahun 2006. Saya mendengarkan saja cerita kolega saya yang heboh soal Ariel yang ganteng, sexy, dll. Duh, yang begitu ganteng dan sexy? Saat itu setahun setelah munculnya album „Menunggu Pagi“ yang menjadi OST film „Alexandria“. Ah, film apa pula itu. Terus terang film itu juga baru saya lihat beberapa bulan lalu di Jerman, itupun lewat youtube, hehe. Saya tetap tidak (mau) mengenal Peterpan. Lagipula saya tidak suka menonton TV jadi tidak tahu pula gossip-gossip heboh terutama tentang sang vokalis, saya hanya mendengar sekilas saya dari kolega-kolega saya yang heboh bercerita. Saya tidak peduli.

Kemudian tahun 2007 saya ingat pertama kalinya saya mendengar lagu baru Peterpan „Menghapus Jejakmu“ dari album „Hari yang Cerah“ di sebuah gerai pizza di Bandung, sambil makan dengan kolega-kolega saya. Salah seorang kolega sekaligus sahabat saya yang selalu heboh „menggunjingkan“ Ariel komentar, „Ah, lagu ini lagi, Peterpan lagi, bosan.“ Saya baru tahu lagu itu, dia malah sudah bosan dan kesal sekali lagu Peterpan terus yang diputar. Saat itu Peterpan sedang heboh lagi, maaf, Ariel maksud saya, yang bikin heboh lagi dunia perselebritisan Indonesia dengan kasusnya. Kemana saja ya saya? Ada, hehe.

Lagu “Menghapus jejakmu” lumayan ear catching, saya cukup suka. “Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu…” Lagu patah hati (lagi), tapi musiknya ceria. Lumayan ringan dan enak didengar. Suatu saat saya lihat video clipnya, cukup unik konsepnya. Akhir 2007, di Malaysia, entah bagaimana tiba-tiba obrolan saya dan ex teman dekat saya jadi membahas lagu dan lirik Peterpan. Ternyata si ex suka dengan lirik dan lagu-lagu Peterpan. Saya yang memang tidak tahu Peterpan cuma mengejek “dari Padi pindah ke Peterpan?” karena dia pernah mengklaim sebagai penggemar Padi. “Kalau ‘Sally sendiri’ bolehlah, musiknya oke”, kata saya.  Sebelumnya saya pernah mendengarkan lagu “Sally sendiri” juga dari album “Hari yang Cerah” dan saya suka. Dua lagu itu menurut saya agak berbeda dari lagu-lagu Peterpan yang sebelumnya saya dengar. Musiknya lebih tenang dan lebih dominan gitar dan drumnya, bukan musik-musik “remaja”, lagipula suara Ariel tidak “cempreng” lagi. Si ex membela diri dengan argumen-argumen psikologinya sok membahas lirik lagu-lagu Ariel. Saya tidak peduli, pokoknya saya tidak suka Peterpan, hehe. Apalagi salah satu lagunya “Aku dan Bintang” dijadikan soundtrack sebuah sinetron stripping di TV dan saya benci sinetron. Makinlah saya tidak suka.

Suatu saat seorang sahabat saya misuh-misuh “Memangnya kenapa sih kalau saya suka Peterpan?” karena dia diolok-olok oleh koleganya tentang kesukaannya pada lagu-lagu Peterpan. Saya yang juga tidak suka pada musik mainstream kegemarannya para ABG itu hanya senyum-senyum saja, takut sahabat saya makin ngambek kalau saya bilang saya juga tidak suka Peterpan, hehe. Begitulah. Sampai kemudian suatu saat sedang karaoke, salah seorang sahabat memilih lagu “Kupu-kupu malam” versi Peterpan. Enak juga. Eh, tapi itu kan memang lagu lama dan enak, jadi ya wajar saja kan kalau enak.
Judulnya saya tetap tidak mau mengakui keberadaan Peterpan, hehe. Padahal saat itu saya mulai sering mengikuti infotainment dan beberapa kali menonton penampilan mereka di TV, baik itu konsernya atau acara yang khusus dibuat untuk mereka. Mulai mengikuti. Mulai tahu siapa saja nama personilnya dan berita-berita heboh terutama seputar Ariel. Namun, saya tetap biasa-biasa saja, walaupun saya suka lagu „Menunggumu“ yang dinyanyikan duet oleh Ariel dengan Chrisye. Itu karena ada Chrisye ya, bukan karena Ariel, sosok yang membuat seorang sahabat saya histeris saat melihatnya di sebuah restoran di Bandung datang bersama Luna Maya saat kami selesai buka puasa. Sahabat saya yang saat itu sedang curhat sambil berurai air mata mendadak cerah ceria dan panik karena kedatangan mereka berdua „Ariel! Ariel! Ariel!“ katanya panik. Halaaah, langsung deh curhatnya buyar terpesona oleh sosok yang saat itu menggunakan jeans, t-shirt, topi dan sneakers andalannya. Saya masih biasa-biasa saja.

Itu tahun 2009. Tahun sebelumnya album „Sebuah Nama Sebuah Cerita“ diluncurkan. Album the best Peterpan sebenarnya, ditambah lagu baru: „Walau Habis Terang“, „Tak Ada yang Abadi“, „Dilema Besar“ dan covering lagu Chrisye „Kisah Cintaku“. Saya menyukai keempatnya. „Walau Habis Terang“ juga lagu patah hati, tapi beatnya ceria. Kelak lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya saat jalan-jalan atau jogging di hutan. Lagu ini juga disenangi oleh salah seorang murid saya di Jerman ini, dan lagi-lagi saya diminta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jerman. Kemudian „Tak Ada yang Abadi“ lagunya cukup gelap, efeknya agak misterius, apalagi dengan dominasi piano dan lirik yang lebih dewasa. Masih puitis, tapi bukan puitis yang aneh lagi. Ada cerita, ada pesan. Saya mulai agak sering menyimak Peterpan. Lumayan juga.

Tahun 2010 adalah tahun yang paling heboh untuk Ariel terutama. Saya kebetulan sedang mudik juga ke Indonesia saat kasus itu terjadi, tapi saya tidak peduli. Saya sibuk dengan urusan saya sendiri, mana sempat nonton infotainment. Kembali lagi ke Jerman, kasus itu ternyata semakin heboh. Akses internet yang tidak terbatas memungkinkan saya untuk jadi mengikuti beritanya juga walaupun jauh di Indonesia, toh berita itu ada juga di media Jerman saking hebohnya. Ah Ariel, Ariel. Dari situlah saya mulai iseng browsing video lagu-lagu Peterpan. Tahun 2011 sih tepatnya. Eh, kok „Cobalah Mengerti“ enak ya, ngerock begitu dan sekali lagi teriakan Ariel itu lama-lama terdengar „gahar“, hehe. „Yang Terdalam“ asik juga ya, „Semua Tentang Kita“ kok mewakili perasaan saya saat rindu teman-teman, „Topeng“ seru juga nih, „Tak bisakah“ bisa membuat kepala goyang-goyang (pantas saja sampai dijiplak oleh penyanyi India dan jadi lagu India), „2DSD“ seru nih apalagi pas lihat mereka memainkannya dengan Kang Capunk (kecengan saya dari SMA, haha) dan Kang Noey Java Jive, dan ternyata „Mimpi yang Sempurna“ yang dulu saya ejek-ejek enak didengar dan liriknya oke. Belum lagi „Kukatakan dengan Indah“, „Melawan Dunia“, „Di Balik Awan“, dll. Sejak itulah saya diam-diam menyukai lagu-lagu Peterpan. Bukan Arielnya. Sosok Ariel baru saya perhatikan setelah dia divonis dan saya tulis di sini. Lama-lama diperhatikan dan mengikuti berita-beritanya, memang menarik juga orang ini, hehehe. Sejak itu diam-diam saya juga menjadi penggemar-nya Ariel. Dia sosok yang punya pengaruh kuat, sampai teman-temannya saja begitu mendengarkan dia. „Juragan“ kalau kata si Kang Capunk sih.

Lagu-lagu Peterpan kemudian menjadi teman setia saya saat menulis disertasi, selain lagu-lagu Pearl Jam, Sting, Alanis dan tentu saja Chrisye serta lagu-lagu dan musik-musik lain yang sesukanya saya putar, tergantung mood. Dari mulai klasik sampai dangdut, dari mulai lagu berbahasa Inggris sampai lagu India, dari lagu Batak sampai Papua, dari mulai lagu solo, duet, choir sampai instrumental. Lagu-lagu dan musik dari Peterpan selalu ada setiap hari. Berita tentang mereka dan tentang Ariel, terutama belakangan ini, jadi semakin diikuti bahkan dibahas sambil ketawa-ketawa dengan sahabat-sahabat saya dan akhirnya membuahkan ide gila memasang foto Ariel sebagai avatar account twitter kami. Ceritanya mau jadi groupies, tapi tengsin juga, haha. Coba, sejak kapan saya bisa tergila-gila pada seorang penyanyi atau kelompok band sampai segitunya. Sebagai penggemar berat Pearl Jam dan Eddie Vedder saja tidak saya pasang fotonya. Pearl Jam dan Peterpan memang tak bisa dibandingkan, selain bahwa saya menyukai keduanya dengan alasan lagu, lirik dan suara serta penampilan vokalisnya. Yang terakhir ini tak terelakkan lah, hehe. Saya jadi mengerti mengapa para perempuan itu begitu histeris begitu melihat Ariel, yang juga menarik perhatian para lelaki, “Suami gue aja suka”, kata seorang sahabat.

Kesukaan saya pada Peterpan semakin bertambah dengan keluarnya lagu “Dara” yang diciptakan Ariel di penjara. Sebuah lagu sederhana dengan lirik yang dalam. Saya pernah merasa sangat terhibur mendengar lagu ini saat sedang down. Kemudian album instrumental „Suara Lainnya“ menambah kekaguman saya pada mereka. Ini bukan Peterpan, dan cocok karena mereka memang akan ganti nama. Aransemen ulang dari lagu-lagu mereka benar-benar top. Orkestrasi yang megah di lagu „Di Atas Normal“, „Bintang di Surga“, „Melawan Dunia“,  instrumen karinding dan suling Sunda memberi efek misterius dan magis di lagu „Sahabat“, saluang yang menyayat hati di „Di belakangku“, biola yang semakin menyayat hati ditingkahi permainan pianonya David di „Taman Langit“ dan „Kota Mati“, serta bossanova yang benar-benar soothing dan relaxing di „Walau Habis Terang“ dan „Langit Tak Mendengar“. „Cobalah Mengerti“ dibuat slow dan dinyanyikan oleh Momo Geisha. Bagus sih, tapi untuk saya terlalu menghiba. Saya tetap lebih suka versi Ariel yang „gahar“ dan „cowok sekali“. „Dara“ pun dimasukkan ke dalam album ini. Memberi efek menenangkan dan menghibur hati.

Dan eforia kebebasan Ariel ternyata sampai juga ke Jerman, diiringi rasa kagum pada perjalanan, jatuh bangun dan kekompakan band ini, pada musikalitas mereka yang semakin matang, lirik yang masih puitis tapi tidak “sok rumit” lagi, seperti pada “Separuh Aku” lagu baru mereka dari album yang belum keluar tapi sudah bocor di youtube, pada semua personelnya yang sederhana dan „manusiawi“, tentu saja pada Ariel yang tetap jadi magnet utama –lepas dari berita apapun tentang dia, saya kemarin melihat mata yang lelah dan kosong di sana, sangat „manusiawi“. Ah ya, selain Ariel, saya punya „kecengan“ baru di Peterpan: David, sang keyboardist dan pianist, hehe. Masuknya David yang punya latar belakang piano klasik membawa warna baru untuk musik Peterpan sehingga tidak terlalu nge-pop lagi. Album „Suara Lainnya“ boleh dibilang albumnya David. Kuat sekali dia di sana. Selain memang dia jago main keyboard dan piano (dan juga gitar), gaya mainnya itu lucu menurut saya: sampai merem-merem. Menghayati sekali. Tampangnya yang lucu jadi terlihat makin lucu saat main, hehe.

Jadi lengkap sudah alasan mengapa saya kemudian berani mengakui bahwa saya adalah penggemar Peterpan. Walaupun terlambat tahu, tapi boleh diuji  soal cerita, lagu-lagu mereka dari album pertama sampai terbaru, termasuk gossip-gossip mereka, hehehe. Tidak kalah juga pengetahuannya dengan para remaja yang histeris setiap melihat mereka manggung, terutama melihat Ariel. Hanya saja saya belum jadi penggemar yang baik karena saya belum memiliki satupun CD album-album mereka, hehehe, aneh ya. Soalnya selama ini saya hanya mendengar dari youtube saja dan sekarang dari website resmi mereka yang untungnya bermurah hati memasang lagu-lagu mereka dari awal sampai yang terbaru. Nanti deh kalau pulang ke Indonesia saya beli semua CDnya. Lalu impian saya sebagai penggemar mereka (kalau groupies sih tidak lah ya) tentu saja melihat mereka konser secara langsung. Masa nonton konser Sting dan Coldplay sudah, konser Peterpan belum sih, hehe. Namun, saya tidak menyesali keterlambatan saya menjadi penggemar mereka, karena saat ini saya justru bisa melihat banyak sisi lain dari band yang bagus ini: kekompakan, setia kawan, kesederhanaan, konsistensi dan mau terus belajar.

Sehari di Kota Wagner – Sebuah Catatan untuk Sebuah Mimpi

Tujuh tahun lalu, juga di bulan Juni, saya pernah iseng menulis di buku tamu sebuah blog menarik dan inspiratif dengan diakhiri kalimat “Salam dari Bayreuth”. Tidak disangka, sang pemilik blog membalas keisengan saya dengan sebuah email balasan berisi permintaan agar saya menulis tentang sehari di kota Wagner, Bayreuth. Permintaan itu diiringi dengan kata “pliizz….”. Permintaan yang kemudian tidak bisa saya tolak dan akhirnya saya tuliskan cerita saya dengan panjang lebar. Ternyata tulisan saya dipasang di blognya yang inspiratif tersebut, digabungkan dengan tulisan-tulisan lain yang jauh lebih berbobot di kolom Wagner. Merasa terhormat juga tulisan saya dimasukkan ke blog seorang blogger senior dan banyak penggemarnya itu :)

Dan tujuh tahun kemudian, juga di bulan Juni, si pemilik blog, yang pernah bertanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner dan pernah meminta saya menulis tentang sehari di Bayreuth, akhirnya berkunjung juga ke Bayreuth dan berkesempatan mengalami sendiri bagaimana rasanya sehari berada di kota Wagner. Bagaimana rasanya? Harus ditanyakan sendiri kepada yang mengalaminya. Yang jelas hari itu sang pencinta Wagner tidak dapat masuk ke Haus Wahnfried dan Festspielhaus untuk merasakan aura ke-Wagner-an di kedua tempat itu, karena sayangnya kedua tempat itu ditutup untuk sementara waktu. Namun, mudah-mudahan aura ke-Wagner-an di Bayreuth cukup terwakili dengan dingin, mendung dan hujan yang menyambutnya di Bayreuth, dengan Fachwerkhaus tempatnya menginap, dengan halaman dan kebun Haus Wahnfried yang sudah lama tak terawat karena sedang dalam proses renovasi, dengan rumah yang untuk saya juga terasa agak menyeramkan di malam hari, dengan makam yang hanya berbatu granit hitam tanpa tulisan apapun, dengan Hofgarten, dengan Opernhaus yang menjadi alasan mengapa Wagner kemudian memutuskan untuk menemukan damai bagi “kegilaan”nya di kota kecil ini, dengan istana rokoko milik Wilhelmine, dengan jalan-jalan berbatu di Bayreuth, dengan gedung Festspielhaus berbatu bata merah di atas bukit kota Bayreuth, dengan patung kepala Wagner yang sedang mengerutkan kening dan menatap serius taman di depannya, dan dengan tupai mungil warna coklat kemerahan yang akhirnya berhasil ditemukan juga dan dengan senyum kebanyakan orang yang ditemui.

Lalu, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya untuknya dulu, bahwa satu hari di Bayreuth untuk saya berisi ingatan saya tentang masa lalu, hidup saya saat ini dan harapan saya tentang nanti, maka itu juga yang saya rasakan kemarin. Satu hari di Bayreuth mengingatkan saya pada pertanyaan retoris tujuh tahun lalu: “Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner?” dan “Kapan ya bisa ke sana?”, kemudian membawa pada saat ini, saat di mana pertanyaan itu terjawab dengan kenyataan bahwa saya bisa menunjukkan kepada orang yang bertanya itu: inilah rasanya dan ikutlah merasakan, karena rasa tidak bisa diwakili dan diceritakan. Rasa haruslah dirasakan sendiri. Termasuk juga merasakan mencuci dengan menggunakan koin di asrama mahasiswa :) Dan satu hari itu juga membawa harapan tentang nanti, terutama membawa kesadaran bahwa hidup memang harus tetap mempunyai harapan dan mimpi. Menekuninya akan membawa harap dan mimpi itu kembali kepada kita. Toh hidup juga berputar di situ-situ saja. Tak pernah jauh. Kemarin adalah ingatan dari hari ini dan esok adalahnya mimpinya. Dan semua itu adalah sesuatu yang niscaya, walaupun kadang masih selalu terasa ajaib untuk saya :)

 

Praha

Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. (Bayreuth, November 2003 – Bayreuth, November 2011)

Generasi Biru

Gerombolan pria muda berbondong-bondong menuju lapangan, mengusung bendera berlambangkan tulisan berbentuk kupu-kupu, gambar berubah cepat ke animasi kepala sekaligus wajah bulat telur, bergerak cepat lagi ke gambar wanita-wanita dengan tubuh meliuk-liuk, seorang wanita muda duduk memegang kertas dengan tanda „?“ yang besar. Di belakangnya ada kertas-kertas dengan simbol-simbol bahasa isyarat. Didominasi dengan musik-musik keras milik kelompok Slank. Beberapa lagunya saya kenal –dan saya suka :)-. Dokumentasi konser Slank di Tomir Leste 2 minggu setelah insiden penembakan Presiden Ramos Horta seolah menjadi video klip untuk lagu-lagunya yang cukup populer. Wajah-wajah lelaki penuh harap, sampai menangis menyanyi dengan emosional: „Ku tak bisa jauh, jauh darimu…“. Kerumunan penonton membawa poster bermacam tokoh dari mulai Pangeran Diponegoro sampai Mozart, dari Mother Theresa sampai Megawati. Gambar beralih cepat-cepat. Dokumentasi kejadian Mei 1998, ditingkahi lagi dengan animasi, disambung dengan tokoh „tak (bersuara) jelas“, teater: perempuan yang meliuk-liuk, dan ikut meliuk-liuk pula Nadine Chandrawinata. Hai! :)

Begitu terus. Yang terasa oleh saya: kekerasan yang melelahkan dan tentu saja pertanyaan: maunya Garin sekarang apa? Saya banyak tidak mengertinya, selain film ini menurut saya mungkin dimaksudkan untuk membuat Momentaufnahme dari „secuil“ sejarah Indonesia (?) sejak reformasi dan setelahnya, fragmen-fragmen peristiwa di Timor Leste, perjalanan karier dan hidup (?) kelompok Slank lengkap dengan kisah kecanduan dan overdosis narkoba, lagu-lagunya yang suka nyleneh tapi kadang puitis dan mengena ke hati (ternyata lumayan banyak juga lagu-lagu Slank yang membuat kaki saya bergoyang-goyang), sosok Bunda Iffet, para Slankers, animasi yang lucu tapi kejam, dan akhir film yang justru mengingatkan saya pada salah satu iklan rokok yang juga mengusung jargon Generasi Biru.

Dari kesemua kesan tadi, kesan terakhir malah menjadi kesan yang paling kuat bagi saya. Saya curiga, jangan-jangan iklan rokok nih, walaupun saya tidak berhasil mengingat apakah ada unsur-unsur iklan rokok di film itu. Ah, tapi saya yakin, Garin tentu cerdas menutupinya. Itupun kalau memang ada pesan sponsor di belakangnya. Ngomong-ngomong, ulasan lebih cerdas dan lebih ilmiah tentang film ini bisa dilihat di Kompas Minggu tanggal 8 Maret 2009. Tulisan Bambang Sugiharto. Di sini saya hanya menuliskan impresi saya terhadap film tersebut dan diskusi yang berlangsung seru dengan Garin Nugroho.

Pada sesi diskusi yang berlangsung santai dan penuh tawa ini, saya merasa Garin bisa merangkum 3 materi tentang filsafat manusia yang diberikan sebelumnya: Zoon Logon Echon, Homo Faber, dan Homo Economicus. Mungkin bisa juga jadi pengantar untuk materi minggu depan: Homo Necans. Kritik yang diungkapkan Garin lewat film-filmnya -yang sering tidak dimengerti, karena banyak bermain dengan simbol-, pesan-pesan sosial, spiritual, dan kemanusiaan, mungkin mewakili kemanusiaan dan ke“nabi“annya. Iklan-iklannya yang masih juga indah dan estetis mewakilinya sebagai seorang Homo Economicus. Video klip dan karya-karya kreatif lainnya menunjukkan dia sebagai seorang Homo Faber. Homo Necans? Garin rasanya jadi „pembunuh“ yang cukup berani dan brutal. Dia bilang, dia meminta pemainnya dalam film „Opera Jawa“ menjahit tangannya sendiri. Garin menyiratkan dan menyuratkan. Untuk saya dalam beberapa hal dia jadi seorang satiris yang kesepian dan penuh kemarahan. Apakah masih ada optimisme dan hidup yang cerah padanya? Tentu saja. Untuk apa ditampilkan Nadine, Monica Oemardi, Cut Rizki Theo, Maudi Koesnaedi, Artika Sari Devi atau Lulu Tobing dalam film-filmya? Menurut Garin, tanpa motivasi. Menurut saya, walaupun kadang jadi sekedar tempelan, seperti penampilan Nadine dalam film Generasi Biru tadi, hal itu bisa jadi menunjukkan sisi „kemanusiaan“ Garin yang lain. Seperti yang diakuinya: „Saya haji, dan laki-laki. Butuh sesuatu yang indah, tanpa motif yang jelas“.

Diskusi dengannya menurut saya lebih menarik dibandingkan filmnya itu sendiri. Walaupun film, pun teks-teks yang lain, menjadi lebih berwarna dengan tafsiran penonton atau pembaca, tetap menyenangkan jika mendengarkan cerita dibalik ide dan kreatifitas pembuatnya. Beberapa ide dan pendapatnya menurut saya menarik, banyak juga yang berlebihan. Cenderung narsis dan sombong, over confident, tapi sekaligus kesepian. Dan marah. Saya baru sadar, bahwa di banyak film-nya Garin marah. Sangat marah. Marah entah pada dirinya, yang selalu dicap aneh dan tukang membuat film yang sulit dimengerti, entah pada „dunia“, entah pada siapa. Ah, tapi manusia kan wajar juga jika marah dan marah perlu pelampiasan. Sublimasi kemarahan lewat karya kreatif seperti yang dilakukannya tentu lebih berguna dibandingkan dengan marah-marah tak jelas tanpa ujung pangkal jadi anarkis.

Namun lepas dari itu semua, saya senang telah menghabiskan Jumat malam kemarin di ruangan yang penuh di Jl. Nias. Merefleksikan apa yang terjadi Jumat pagi di satu tempat di Jakarta, yang saya lakukan siang harinya di Jl. Supratman, dan merangkum dengan indah di Jl. Nias. Saya disadarkan kembali pada pentingnya menghargai „ketidakmengertian“ sebagai awal proses pembelajaran dan perbaikan diri serta kemanusiaan dari waktu ke waktu.

Copying Beethoven

Film yang disutradarai oleh Agniezska Holland dan dibuat tahun 2006 ini mengeksplorasi secara fiktif kehidupan Beethoven saat mengerjakan Simfoni No. 9-nya yang terkenal. Beethoven (Ed Harris) membutuhkan seorang copyist, yakni orang yang mencatat ulang partitur musik untuk dimainkan dalam konser. Dari setting film tahun 1824 dikisahkan bahwa Beethoven sudah tidak produktif sejak suksesnya yang terakhir, menderita tuli, kesepian dan trauma pribadi, serta bermasalah dengan keponakannya. Anna Holzt (Diane Kruger), tokoh fiktif dalam film ini, diceritakan sebagai mahasiswa terbaik dari sebuah konversatorium musik yang sangat mengagumi Beethoven. Anna datang dan menawarkan diri menjadi copyist Beethoven. Awalnya Beethoven meragukan kemampuan Anna, terutama karena dia seorang perempuan. Namun, Anna bisa membuktikan bahwa selain dia mampu menjadi copyist, dia juga kepekaan musikal yang bagus. Pada pertunjukan perdana Simfoni No. 9 yang mendulang sukses, peran Anna sebagai asisten Beethoven sangat besar. Beethoven yang tuli mendapat bantuan Anna untuk menjaga irama dan ketukan, sehingga pertunjukan bisa berjalan lancar.

Ide untuk mengeksplorasi kehidupan Beethoven di masa-masa terakhir hidupnya, terutama saat mengerjakan proyek besarnya yaitu menyelesaikan Simfoni No. 9 memang menarik. Terutama jika dilihat dari sisi seorang copyist yang juga menjadi pemuja Beethoven. Namun, sayangnya ide ini tidak ditunjang oleh kekuatan cerita dan skenarionya. Akting pemainnya pun tidak cukup kuat dan mewakili jiwa Beethoven yang ”gila”, jenius, meledak-ledak dan penuh semangat. Ed Harris yang biasanya bermain bagus, saya pikir kurang ”gila”. Beethoven di tangannya menjadi lebih halus, walaupun tetap berantakan. Beethoven dalam film tersebut juga ditampilkan sebagai orang yang tidak percaya diri dan sangat bergantung pada Anna Holtz, sang copyist. Tokoh Anna Holtz memang tokoh fiktif, karena dalam kenyataannya asisten Beethoven adalah seorang pria bernama Anton Schindler. Sebagai seorang pengagum Beethoven, Diane Kruger pemeran Anna Holtz juga cenderung bermain datar. Saya juga mengharapkan sesuatu yang lebih saat pementasan perdana Simfoni No. 9 ditampilkan, terutama saat Beethoven meng-conduct. Ed Harris kurang ekspresif dan gerakan tangannya pun tidak sesuai dengan irama simfoni. Walaupun demikian, film ini cukup menghibur saya dengan ditampilkannya simfoni, kuartet juga sonata piano karya Beethoven di hampir keseluruhan film. Tentu juga karena Simfoni No. 9 dengan syair ”Ode an die Freude” ditampilkan utuh.

Wagner-Festspiele 07

Tahun ini Wagner Festspiele akan diadakan dari tanggal 25 Juli – 28 Agustus. Yang ditampilkan adalah Die Meistersinger von Nürnberg, Tannhäuser, Das Rheingold, Die Walküre, Siegfried, Götterdämmerung, dan Parsifal.

Seperti biasa, Bayreuth yang biasanya sepi akan ramai dengan adanya Wagner-Festspiele ini. Sekitar 60.000 tiket sudah laku terjual untuk 30 pertunjukan yang akan berlangsung di „Grüner Hügel“ Richard-Wagner-Opernhaus. „Mythos Bayreuth“ yang sudah berlangsung selama lebih dari 130 tahun akan diulang lagi tahun ini. Keluarga Wagner masih memegang mitos ini. Richard Wagner yang membuatnya. Dilanjutkan oleh Cosima, istri keduanya. Kemudian oleh Siegfried, anak lelakinya. Selanjutnya oleh Winifred, istri Siegfried. Wieland Wagner, sang cucu melanjutkan. Setelah Wieland meninggal, „mitos keluarga“ ini dipegang oleh Wolfgang Wagner. Dialah yang „menguasai“ bukit hijau di utara kota Bayreuth. Mitos ini sepertinya semakin dikuatkan dengan penampilan pembuka „Die Meistersinger von Nürnberg“ yang disutradarai oleh sang buyut Katharina Wagner yang baru berusia 29 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh Bayreuth akan ikut memeriahkan festival ini. Toko buku, supermarket, mall, sekolah, dan universitas, bahkan toko teh di dekat Haus Wahnfried.

„Mitos Bayreuth“ dengan Wagner dan eforia Festspiele-nya tentu saja bukan tanpa kritikan. Kritikan ini berlangsung setiap tahun, seperti Festspiele itu sendiri. Jan Brachman dalam artikelnya di rubrik Feuilleton Berliner Zeitung misalnya mengkritik penunjukkan Katharina Wagner sebagai sutradara yang konon tak lepas dari campur tangan dan ambisi sang ayah, Wolfgang. „Perseteruan“ pun terjadi di dalam keluarga ini, Nike Wagner anak Wieland turut pula memberikan kritikannya terhadap Katharina. Konflik keluarga ini sepertinya menarik banyak media di Jerman sebagai bahan kritik baru terhadap festival yang selalu mengundang kontroversi ini. Der Spiegel pun turut membahasnya.

Lepas dari itu semua, tahun ini saya akan mengikuti Wagner Festpiele dari Bandung. Mungkin lebih aktif dibandingkan dengan tahun-tahun saat saya di Bayreuth. Bagaimana tidak, di semester yang akan datang untuk pertama kalinya saya memegang mata kuliah „Deutsche Kultur- und Literaturgeschichte“ dan mau tidak mau saya harus memberikan pembabakan sejarah budaya dan sastra Jerman sebagai materi kuliah. Kisah-kisah dari opera Wagner di atas hanya sebagian kecil dari materi yang akan saya berikan. Selain bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan dengan senang hati dan penuh semangat, saya sih inginnya membawa mahasiswa saya ekskursi ke Bayreuth. Inginnya… :)

Das JugendJazzOrchester NRW in Concert

Karena tadinya merasa tidak akan bisa menonton konser jazz ini, undangan dari Goethe Institut, yang rutin saya terima, saya abaikan saja. Ternyata saya bisa (dari waktu dan kondisi tubuh), dan berencana nonton. Tapi…. tiketnya habis! Dan karena kemarin adalah jadwal mengajar saya di ITB, sampai jam 18 pula, dan masih merasa penasaran apakah benar tiketnya habis dan ternyata kalau sudah rejeki memang tak akan kemana, tak terduga saya dapat tiket dari Shita. Gratis! Tadinya dia membelikan tiket itu untuk temannya, tapi ternyata temannya itu tidak bisa datang. Nah, tinggal Lia yang belum dapat. Masa kami hanya nonton berdua. Lia mau dikemanakan? Tiket yang disebar sekitar 700 lembar memang habis total. Tapi –sekali lagi- rejeki memang tak akan kemana. Sambil menunggu pesanan makanan, kami ngobrol di depan Aula Barat ITB dan lewat Ibu Wulan membawa tiket. Tadinya tiket itu untuk temannya, tapi ternyata temannya juga tidak bisa datang. Akhirnya tiket jatuh ke tangan Lia. Jadi deh kami bertiga nonton konser Das JugendJazzOrchester (JJO NRW).

Konser dimulai tepat jam 19.30 seperti tertera di undangan, poster dll-nya. Aula Barat ITB tempat pelaksanaan konser ini sudah penuh terisi, saat kami masuk. Kami masuk agak terlambat karena makan dulu. Diawali oleh konser pembuka dari Salamander Jazz Big Band yang memainkan komposisi Down Basie Street dari David Wolpe, Softly From My Window dari Quincy Jones dan All of Me dari Beyers. Salamander bermain cukup bagus, walaupun untuk saya agak terlalu lambat.

Jam 20 tepat serombongan anak muda dari Das JugendJazzOrchester NRW naik ke panggung menempati sesi tiup di sebelah kanan panggung, satu drum, satu bass akustik, satu gitar dan satu piano di sebelah kiri panggung. Usia mereka sekitar 20 tahunan. Sekitar 16 pemain bersiap-siap sejenak dan sesi tiup „menggebrak“ dengan komposisi pertama Black Nile dari Wayne Shorter. Dilanjutkan dengan nomor-nomor manis Monk Bunk and Vice Versa dan Canon, keduanya dari Charles Mingus, dengan dua vokalis perempuan bersuara bening. Keduanya juga menyanyikan Bye Bye Blackbird yang berayun-ayun di akhir 1st Set ini. Di 1st Set ini juga ditampilkan Cantaloupe Island dari Herbie Hancock yang sudah dikenal luas dengan hentakan-hentakan manis. Di setiap komposisi selalu ada penampilan solo saxophon, trombone, trompet, juga bass akustik. Permainan yang indah dan kompak membuat penonton puas dan langsung memberikan apresiasinya dengan aplaus panjang juga usai penampilan solo.

2nd Set diawali dengan dua komposisi dari Marko Lackner: Morello dan Hurtig. Komposisi yang tidak hanya didominasi sesi tiup, tapi juga ditingkahi permainan piano dan bass elektrik yang cukup dominan. Berikutnya adalah Black Power dari Duke Ellington yang cukup lambat. 2nd Set ini sedianya diakhiri dengan alunan suara bening dua vokalis dalam Goodbye Porkpie Hat masih dari Charles Mingus. Dalam komposisi ini mereka memberi tampilan istimewa. Dua orang saxophonist turun dari panggung dan lari ke belakang penonton. Dari sana kemudian terdengar samar-samar alunan saxophon yang semakin lama semakin mendekati panggung. Akustik Aula Barat ITB mendukung aksi ini sehingga suasana menjadi sangat romantis. Apalagi dipadu dengan suara-suara bening dua vokalis di atas panggung.

Tentu saja penonton yang memenuhi Aula Barat belum puas. Standing ovation diberikan seraya meminta konser dilanjutkan. Yang tampil adalah kejutan. Mereka memainkan komposisi lagu rakyat Maluku: Goro-gorone. Indah dan sangat ekspresif! Dua vokalis itupun dengan fasih melafalkan lirik lagu tersebut. Konser akhirnya ditutup dengan komposisi yang menghentak dari Bruce Willis (iya! Bruce Willis si ”Die Hard” itu :)). Pep Talk yang lebih Rock n Roll itu menghentak Aula Barat. Apalagi ketika semua pemain musik, vokalis dan conductornya turun panggung, sehingga yang tinggal hanya drummer yang memainkan solo drum yang menghentak-hentak, dinamis dan ekspresif. Hey, saya memang selalu suka drum dan bass. Jadi aksi ini benar-benar membuat saya ikut ”menghentak-hentak”.

Aplaus panjang diberikan. Semua puas dengan permainan para anak muda dari NordrheinWestfalen ini. Penampilan orkestra jazz yang didirikan pada tahun 1975 dengan dukungan penuh dari Johannes Rau (mantan presiden Jerman) dan pemerintah negara bagian Nordrhein Westfalen ini memang luar biasa. Tujuan awal dibentuknya JJO NRW ini adalah untuk mendukung dan mengembangkan bakat dan minat anak muda, tidak hanya di NRW, tetapi juga dari seluruh dunia (salah seorang pemain saxophon berasal dari Siberia), pada musik jazz. Sampai saat ini, JJO NRW menjadi duta budaya dan pemuda NRW di luar negeri. Mereka sudah bermain di Belarus, Russia, Turki, India, Cina, Korea, beberapa negara di Afrika, Amerika Utara dan Tengah, Kepulauan Karibik, Australia, Selandia Baru dan di bulan April ini selain berkunjung ke Jakarta dan Bandung, mereka juga mengadakan konser di Malaysia dan Singapura. Sampai saat ini sudah sekitar 500 pemuda yang terlibat dalam orkestra ini. Sepertiga diantaranya sekarang menjadi pemusik jazz profesional yang diperhitungkan. 

Repertoire dari JJO NRW tidak hanya melulu ”berkutat” dengan repertoire jazz tradisional, mereka terbuka pula pada jazz kontemporer. Itu terlihat dari pentas kemarin malam. Komposisi yang dimainkan sangat variatif, walaupun kebanyakan memang sudah diaransemen ulang oleh mereka sendiri. Namun, tetap, satu kata yang cocok ditujukan untuk mereka: toll!

Ya, memang, kalau rejeki memang tidak akan pernah lari ke mana :)

 

Cat.: Karena tidak berencana nonton, saya tidak bawa kamera. Karena terlalu asyik menikmati, saya memang jadi malas membuat foto. Lia-lah yang berbaik hati mengambil foto. Dan saya menunggu kiriman fotonya. Jadi, foto menyusul :)

„…Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner…?“ – Sebuah catatan

„Hier wo mein Wähnen Frieden fand –
Wahnfried –
sei dieses Haus von mir benannt.“

„…Belum lama ini ada makhluk bernama Dian mengisi buku tamu site ini. Dia sedang di Bayreuth. Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner? Apa Wagner di sana sudah termetamorfosis jadi relik masa lalu, sementara gaungnya di Griya Caraka Bandung masih terasa hidup, aktual, dinamik.“  

Saya baru membaca kalimat-kalimat di atas setelah si pemilik site mengirimi saya email dan meminta saya untuk menuliskan cerita yang lebih lengkap tentang Bayreuth, kota tempat saya tinggal sejak dua tahun yang lalu, atau menuliskan cerita satu hari dalam hidup saya di Bayreuth. Saya tidak bisa menolak permintaan orang yang isi blog-nya telah cukup banyak menginspirasi dan membuka pikiran saya ini, apalagi jika permintaannya diikuti dengan kata „pliiizz“.  

Memang benar, emailnya untuk saya pun sudah mampu membuat kepala saya penuh, ingatan-ingatan seakan kembali berputar jelas di depan mata, bayangan-bayangan berkelibatan seperti memutar kembali gambar-gambar dalam perjalanan waktu saya, nama-nama pun kemudian bermunculan. Semua berdesakan di kepala saya, terfragmentasi, menunggu dirunut dan diuraikan. Tak akan bisa sepenuhnya, saya tahu, namun saya akan mencoba menjejakkannya dalam bentuk catatan ini. Sekedar menyampaikan ingatan, pikiran dan perasaan saya.

Bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner? Pertanyaan itu tidak bisa langsung saya jawab. Pertanyaan itu justru membawa saya kembali ke masa-masa awal “perkenalan” saya dengan Wagner. Wagner, nama yang saya dengar pertama kali saat saya kuliah, sekitar 13 tahun lalu. Saat itu kami sedang mempelajari geografi Jerman, nama Bayreuth disebut. Ada apa? Tentu bukan karena di Bayreuth ada salah seorang dosen kami saat itu, tapi karena di Bayreuth pun ada Wagner. Wagner? Salah seorang komponis musik klasik. Oh, saya tidak tahu. Saya penyuka musik hingar bingar. Musik klasik yang saya dengar hanya musik klasik standar yang saya dengar potongan-potongannya saja. Vivaldi, Mozart dan Beethoven. Sepotong-sepotong saja. Richard Wagner? Kok ada orang Jerman bernama seperti itu? Saya hanya kenal nama Goethe, Hitler, Helmut Kohl, Steffi Graf, Beckenbauer, dan beberapa nama lain.

Dengan cepat nama itu terlupakan. Saya tidak tertarik. Ketika tahun 1998 saya berkesempatan untuk pertama kalinya berkunjung ke Bayreuth, saya justru terpesona dengan Sungai Saale yang tenang.  Itu pun di luar kota Bayreuth. Bayreuthnya sendiri tidak memberi kesan apapun. Wagner? Boro-boro ingat. Melintas di kepala pun tidak. Tahun 2001 saya mengunjungi kota ini lagi. Kali ini nama Wagner disebut oleh dosen kami yang tinggal di Bayreuth itu. Dia bercerita, mereka mendapat undangan untuk menyaksikan festival Wagner, sementara banyak orang harus menunggu tahunan untuk bisa mendapatkan tiket menyaksikan pertunjukan opera Wagner. Harganya pun bisa ribuan Mark (saat itu Jerman masih menggunakan DM Deutsche Mark). Saya hanya menanggapinya sekilas, karena saya tidak tahu dan tidak tertarik. Saat itu kami lebih banyak melihat peninggalan Markgräfin Wilhelmine. Wagner? Hanya masuk ke ingatan jangka pendek saja.

Nama itu kemudian muncul lagi, ketika salah seorang sahabat saya mengirimi saya sms malam-malam dan bertanya apakah saya tahu cerita “Tristan dan Isolde”. Dia perlu untuk membuat makalah. Judul itu rasanya akrab dengan telinga saya, tetapi saya lupa siapa yang membuat. Maklum, ketika kuliah dulu semua dipelajari dengan “terpaksa”. Saya cari, dan muncullah nama Wagner. “Tristan dan Isolde”, tragedi cinta seperti “Romeo dan Julia”. Wagner mulai masuk ke ingatan menengah. Belum cukup dalam.

Perkenalan yang lebih intensif dengan Wagner terjadi awal tahun 2003, saat saya diminta menerjemahkan monolog “Der Kontrabass” dari Patrick Süskind oleh Goethe Institut untuk keperluan pementasan monolog Wawan Sofwan. Boleh dikatakan, itulah pertama kalinya saya benar-benar masuk ke musik klasik, sejarah musik klasik di Jerman, komponis-komponisnya, alat-alat musik di sebuah orkestra, dan lain-lain. Saat itulah saya “mengenal” Richard Wagner, komponis kelahiran Leipzig tahun 1813 dan wafat di Venesia tahun 1883, yang pada awal masa kreatifnya ia memilih menjadi penyair. Latar belakangnya sebagai penyair itu kemudian membawanya pada rumusan drama musik yaitu musik yang memiliki kaitan sastra sehingga diperlukan tinjauan kritik yang harus berangkat dari pemikiran filsafat kata. Opera.

Kritikan Patrick Süskind yang cukup pedas terhadap Wagner disampaikan lewat tokoh pemain kontrabas dalam lakon monolognya. Wagner, katanya, adalah seorang “penderita neurotik berat”. Karyanya yang terbesar, “Tristan dan Isolde“ juga lahir karena „…hasrat terpendam Wagner pada istri salah seorang temannya. Perasaan yang sudah lama dipendamnya. Bertahun-tahun. Kebohongan ini […] menggerogoti dirinya sendiri. Oleh karena itu dia segera membuat tragedi cinta yang katanya terbesar sepanjang masa. Penekanan ke alam bawah sadar lewat sublimasi total…”. Wagner pun, katanya, seorang lelaki yang “memukul istrinya. […]  istri pertamanya. Yang kedua tidak. Pastinya bukan yang kedua. Tapi yang pertama yang ia pukul. Benar-benar bukan orang yang menyenangkan.”  Namun, Wagner juga lelaki yang “bisa bersikap ramah, charming. Tetapi tetap tidak menyenangkan. Saya rasa dia sendiri juga tidak suka dengan sikapnya itu. Dia sering mendapat tamparan karena sesuatu yang…menjijikan. Begitulah. Tetapi para wanita menyukainya, sampai berderet. Lelaki ini: daya tarik luar biasa bagi para wanita. Tak terjangkau…”   . Wagner, yang tak terjangkau.

Saya mulai tertarik, saya pun dengarkan musiknya, operanya. Dinamik, bersemangat, kadang juga sedih. Ada Rheingold, Siegfried, disebut-sebut selain Tristan dan Isolde. Ada juga Wellgunde yang mempesona. Saya pada dasarnya sudah tertarik sejak awal dengan Legenda Bangsa Germania dan Sungai Rhein. Jadi, ada apa dengan Wagner? Saya pun lihat biografinya. Nama Nietzsche dan Hitler pun mulai disebut-sebut. Saling berkaitan. Ada apa dengan mereka? “Sebagai seorang pemusik orkestra, saya adalah seorang yang konservatif, menjunjung tinggi nilai-nilai keteraturan, disiplin hirarki, dan prinsip kepemimpinan – Führerprinzip –  Tetapi tolong jangan disalahartikan! Kami, orang Jerman, jika mendengar kata Führer langsung berpikir tentang Adolf Hitler. Hitler adalah pemuja Wagner, Wagnerian, dan saya, seperti yang Anda tahu, tidak terlalu menyukai Wagner. Wagner sebagai seorang pemusik – sekarang dilihat dari karyanya – mungkin bisa saya katakan: di bawah kelas. Partitur dari Wagner berisikan hal-hal yang mustahil dan kesalahan-kesalahan. Dia juga tidak memainkan satu instrumen pun kecuali piano, itu pun jelek”, begitu sang tokoh pemain kontrabas mengkritik Wagner. Namun, sang tokoh pun akhirnya berkata bahwa “NAZI-isme dan musik – Anda bisa membacanya dalam karya Furtwängler – tidak ada hubungannya sama sekali. Tidak pernah.”

Ya, memang tidak ada hubungannya antara musik dan NAZI. Siapa memuja siapa, siapa mempengaruhi siapa. Kalaupun mungkin ada, tapi tidak perlu diperpanjang masalahnya. Keduanya akhirnya akan berdiri sendiri. Saya adalah seorang yang setuju bahwa musik itu berdiri sendiri dan ingin tetap membiarkannya berdiri sendiri.

Memang tak saya pungkiri, nama Hitler dan Nietzsche lah yang ikut membuat saya ingin mengenal Wagner dan musiknya lebih dekat lagi. Dalam beberapa hal saya cukup mengerti  Hitler dan saya juga tertarik pada Nietzsche, maka Wagner pun ikut menjadi ketertarikan saya. Rasanya itu hal yang wajar, saling terkait saja. Saya pun bersemangat saat pertengahan tahun 2003 saya pergi lagi ke Bayreuth dan berkesempatan untuk tinggal lebih lama di sini. Keinginan saya waktu itu adalah melihat festival Wagner dan menyusuri jejak Wagner di Bayreuth.

Bagaimana rasanya akan tinggal di kota Wagner? Bersemangat, penasaran, juga takut dan cemas. Mengapa? Ternyata mengetahui bahwa Wagner berkaitan dengan Hitler dan Nietzsche sedikit banyak membangun semua perasaan itu. Sementara saya tahu bagaimana sikap masyarakat dan pemerintah Jerman terhadap ketiga orang itu. Ada benci dan suka, ada malu dan bangga, ada takut dan senang, ada pengakuan dan pengabaian. Saya akan tinggal di Bayreuth, kota Wagner. Wagner yang, katanya, antisemitis dan Wagner yang dipuja Hitler. Bayreuth – Wagner – Hitler – NAZI. Namun, ternyata rasa bersemangat dan penasaran saya bisa mengatasi rasa takut dan cemas itu.

Bayreuth, kota kecil di daerah Oberfranken berpenduduk kurang dari 100 ribu orang. Dibangun “besar-besaran” oleh Markgräfin Wilhelmine, adik kesayangan Raja Prusia, di abad ke 15. Ingin dijadikan kota seni bernuansa Rokoko yang kental. Secara geografis dan politik Bayreuth masuk ke negara bagian Bayern, tapi penduduk sini tetap mengaku orang Franken. Di kota kecil inilah, tahun 1872, Richard Wagner menemukan tempat yang tepat untuk “mendamaikan” kegelisahannya, kekecewaannya, pencariannya, dan kegilaannya. Wagner mendapat hadiah tanah dan tempat tinggal di Bayreuth dari Raja Ludwig II dari Bayern, salah seorang pemujanya. Tak heran, jika tanah dan rumah ini pun terletak tepat di samping Hofgarten istana Markgräfin Wilhelmine. Wagner pun mendapat privilege untuk membuat gedung operanya sendiri. Gedung ini –Wagners Festspielhaus- terletak di atas bukit hijau di sebelah utara pusat kota Bayreuth. Letak gedung yang tinggi di atas bukit seakan menjadi simbol bagi obsesi Wagner tentang bangsa Germania yang berada “di atas”, cocok dengan karya-karyanya yang megah, hidup, dinamik dan bersemangat. Legenda masa lalu bangsa Germania memang banyak menginspirasi lahirnya karya-karya besar Wagner. “Rheingold”, “Ring des Nibelungen” hanya sedikit di antaranya.

Rumah keluarga Wagner kemudian diberi nama Haus Wahnfried, sesuai dengan keinginan Wagner yang ingin menemukan tempat yang damai untuk segala “kegilaannya”. Wahn berarti kegilaan, dan Fried (dari Frieden) adalah kedamaian. Rumah ini terletak di pusat kota Bayreuth, di tepi jalan yang sekarang diberi nama Richard-Wagner-Str. Tahun 1874 pembangunan rumah ini selesai, dan Wagner tinggal di sana bersama istri keduanya, Cosima, anak komponis Franz Liszt, dan anak-anak mereka: Daniel, Blandine, Eva, Isolde, dan Siegfried. Di rumah inilah “Götterdämmerung”, “Ring des Nibelungen”, dan “Parsifal” lahir. Wagner meninggal di Venesia, tapi jenazahnya dibawa ke Bayreuth dan dimakamkan di halaman belakang Haus Wahnfried, di tepi Hofgarten. Dia dimakamkan satu lubang dengan Cosima, istrinya.

Bagian depan rumah ini hancur saat Perang Dunia II, kemudian direnovasi kembali dan diserahkan kepada pemerintah kota Bayreuth pada tahun 1973 dan dijadikan museum Richard Wagner pada tahun 1976. Yayasan Richard Wagner ditunjuk untuk mengelola museum ini.

Saya mendapat kesan yang tidak begitu menyenangkan begitu sampai di Bayreuth. Kota kecil dan sepi yang isinya hanya orang-orang lanjut usia saja. Saya nyasar ke Lohengrin Therme karena salah naik bis. Kesal juga, walaupun cukup terhibur oleh pemandangan bagus sepanjang jalan. Namun, kesan tidak menyenangkan itu juga tidak mampu menghapus rasa penasaran saya untuk menyusuri jejak Wagner.

Seminggu setelah kedatangan saya di Bayreuth, museum Wagner inilah yang saya kunjungi pertama kali. Ruang tengah yang dulunya menjadi tempat Wagner menerima tamu-tamu yang juga dihibur dengan karya-karyanya, sekarang dijadikan hall tempat pertunjukan orkes kamar, yang tidak hanya menampilkan karya Wagner, tetapi juga karya komponis lain. Ruangan ini pun dulunya adalah perpustakaan pribadi Wagner. Ketiga dindingnya dilapisi lemari buku yang tingginya mencapai atap. Dinding lain menghadap ke halaman belakang dengan jendela dan balkon besar.

Setiap jam pengunjung museum bisa mendengarkan cuplikan karya Wagner di ruangan ini, sambil duduk nyaman di kursi-kursi empuk berlapis beledu merah. Saat itu, saya merasa dibawa ke masa-masa Wagner hidup. Setidaknya itu khayalan saya.

Di museum ini ditampilkan partitur-partitur asli dari karya-karya Wagner: “Fliegende Holländer“, „Tannhäuser“, „Lohengrin“, „Siegfried“, „Götterdämmerung“, „Tristan und Isolde“ dan „Parsifal“. Selain itu ditampilkan juga koleksi buku, patung dan lukisan milik Wagner. Ditampilkan pula maket-maket panggung pementasan karya-karya tadi, lengkap dengan requisiten-nya. Seperti kebanyakan museum di Jerman, museum ini dibuat interaktif, sehingga pengunjung bisa memilih dan mendengarkan potongan-potongan karya Wagner, melihat sejarahnya, sampai ke daftar dan riwayat hidup penyanyi dan pemain musik yang pernah tampil di pertunjukkan opera-opera Wagner ini.

Saat itu, saya segera sadar, bahwa pengunjung museum ini kebanyakan orang tua. Rasa heran saya terjawab beberapa waktu kemudian.

Rasa penasaran saya makin besar. Ada yang berbeda dari Wagner dan karya-karyanya. Kesan yang jelas adalah, Wagner cerdas dan obsesif. Pada masanya, hanya dia yang membuat opera. Gabungan puisi, prosa, drama dan musik. Bukan hal yang mudah. Dan dia termasuk orang yang perfeksionis. Dia kerjakan semua sendiri, bahkan untuk membuat sketsa panggung pertunjukannya. Ternyata memang dia cukup “gila”. Musiknya yang megah dan dinamik memang wajar untuk membangkitkan semangat. Jika dibandingkan dengan Mozart atau Bach yang mendayu, musik Wagner memang jadi terasa membahana.

Selanjutnya, rumah Wagner sering saya lewati jika saya ingin memotong jalan dari apartemen saya menuju kota. Jika cuaca cukup hangat dan cerah memang menyenangkan berjalan kaki melintasi Hofgarten, melewati rumah dan makam Wagner menuju Neues Schloss Markgräfin Wilhelmine kemudian menuju kota. Kadang saya cuma duduk-duduk saja di bangku-bangku di halaman belakang Haus Wahnfried, menikmati ketenangan di sana sambil membaca atau cuma sekedar mengkhayal.

Tak berapa lama, tema Wagner kami diskusikan di kelas. Saat itu lah saya mendapatkan kesan lain dari orang-orang Jerman tentang Wagner, terutama dari kaum muda dan generasi setelah perang. Mereka ingin melepaskan trauma Hitler dan Drittes Reich juga “ kesan antisemit”. Semua hal yang berhubungan dengan itu ingin mereka hapuskan. Termasuk Wagner. Saya pikir wajar seperti itu. Namun, saya berpikir lagi, apakah untuk melepaskan trauma atau di sini tepatnya “kesan yang ditempelkan” harus dengan menghilangkan dan menghapus semua jejak? Mengapa tidak diterima saja kenyataan pahit itu? Ini tentu sulit, karena kita tetap tidak bisa berpikir hitam putih saja. Kenyataan yang sama juga ditemui hampir di semua tempat. Juga di Indonesia dengan PKI-nya. Mengapa Pramoedya dituduh PKI hanya karena dia anggota LEKRA? Apakah jika saya kenal dengan salah seorang anak anggota PKI saya otomatis jadi anggota PKI juga? Atau karena saya berkerudung dan datang dari Indonesia, yang –sayangnya- ada di daftar negara teroris, maka saya termasuk teroris juga sehingga harus terus menerus mengisi formulir pernyataan di kantor imigrasi? Absurd, tapi nyata. Memang begitu kenyataannya. Seabsurd saya memandang Wagner = Hitler = NAZI = antisemitis.

Untuk saya sendiri, saya lebih senang memandang sesuatu dengan melihat konteks. Ada banyak cara untuk melihat sesuatu. Contohnya melihat musik. Musik bisa saja dijadikan alat propaganda, tetapi musik tetap mempunyai nilai dan makna sendiri pula, lepas dari kepentingan apapun. Pada saat bicara tentang Wagner saya pun ingin melihat musik yang dia hasilkan. Lepas dari intensi Wagner menciptakan musik itu. Lepas dari siapa yang menikmati musik Wagner. Hitler kah atau siapa kah, saya tidak terlalu peduli. Musik, bagi saya, menjadi sesuatu yang sangat intim dan akrab dengan diri, sehingga pemaknaannya berbeda-beda.

Namun, semua orang tentu memiliki kebebasan yang sama untuk menginterpretasi musik. Oleh karena itu, jadilah Wagner dan musiknya tersisih di negaranya sendiri. Musik yang dianggap cerminan masa lalu yang kelam dan harus dikubur dalam-dalam. Tetapi kesan yang sama tidak terjadi di tempat lain, seperti kata teman saya di depan: “Apa Wagner di sana sudah termetamorfosis jadi relik masa lalu, sementara gaungnya di Griya Caraka Bandung masih terasa hidup, aktual, dinamik”. Untuk banyak orang Wagner memang sudah menjadi relik masa lalu, bukan hanya relik, bahkan trauma. Untuk sebagian yang lain, Wagner membangkitkan hal-hal dan kesan yang positif. Untuk sebagian yang lain lagi, Wagner jadi bagian dari ingatan tentang kejayaan masa lalu. Contohnya di Bayreuth. Dengan demikian tentu tidak salah juga jika kemudian Bayreuth dikenal sebagai kota dengan “peninggalan” NAZI yang kuat.

Apapun itu, Bayreuth memang “memuja” Wagner. Jalan-jalan di sekitar Haus Wahnfried dinamai dengan nama orang-orang dekat Wagner. Selain Richard-Wagner-Str., di dekatnya adalah Lisztstr. (museum Franz Liszt juga berdekatan dengan Haus Wahnfried), kemudian ada Wieland-Wagner-Str., Siegfried-Wagner-Str., tentu juga Cosima-Wagner-Str. Sedangkan jalan-jalan di sekitar Festspielhaus dinamai dengan karya-karya Wagner seperti Meistersingerstr., Tristanstr., Isoldenstr., Wotanstr., Tannhäuserstr., Parsifalstr., dll. Tidak hanya itu, banyak tempat pun diberi nama tokoh atau karya Wagner, seperti Hotel Nibelungen, pabrik porzellan Parsifal atau Therme bernama Lohengrin.

Selasa lalu saya memenuhi janji untuk melihat-lihat sebuah rumah di Tristanstr. yang rencananya akan disewa oleh teman saya. Rumah tua yang kata pemiliknya sudah berumur 100 tahun. Artinya, rumah ini dibangun saat Wagner ditempatkan secara istimewa oleh Hitler. Ibu tua itu menceritakannya dengan bangga.

Tristanstr. terletak tepat di samping Festspielhaus. Jalan sedikit menanjak menuju ke sana diatur sedemikian rupa hingga terasa sangat nyaman, indah dan nobel: boulevard dengan pohon-pohon rindang di kiri-kanannya. Festpielhaus sendiri terletak di atas bukit kecil tepat di tengah-tengahnya. Dengan jalan yang ditarik lurus, bangunan ini berdiri tepat berhadapan dengan Altes Schloss Markgräfin Wilhelmine. Di depan bangunan dibuat taman penuh bunga. Ada jalan melingkar menuju gerbangnya. Tidak ada yang menghalangi pemandangan ke arah gedung ini, sehingga gedung ini pun menjadi ciri khas kota Bayreuth.

Saya hanya berada sekitar 30 menit di Tristanstr. Namun, 30 menit itu membawa saya kepada ingatan, betapa dahulu jalan ini dipenuhi orang-orang untuk menyaksikan festival Wagner, atau mungkin dulu penuh dengan kereta kuda dengan orang-orang berpakaian chic. Setiap bulan Agustus memang Bayreuth penuh orang untuk menyaksikan festival Wagner selama sebulan penuh. Tiketnya luar biasa mahal dan bahkan harus dipesan beberapa tahun sebelumnya, mengingat banyaknya peminat yang ingin menyaksikan festival ini. Kota kecil yang tenang ini tiba-tiba berubah jadi “sedikit” ramai. Semua sisi kehidupan “disentuh” dengan sesuatu berbau Wagner. Bahkan tahun lalu, anjing milik Wagner pun dijadikan patung-patung dan dipasang di setiap sudut kota. Ada yang memandang senang, banyak pula yang memandang sinis.

Tahun lalu Parsifal kembali dipentaskan. Tahun ini giliran Tristan und Isolde. Salah seorang teman baik saya bekerja setiap tahun di festival Wagner. Biasanya dia mendapat “jatah tiket” untuk menyaksikan latihan para pemusik dan penyanyi opera yang akan pentas di festival tersebut. Dia sudah menawari saya tiket tersebut untuk musim panas tahun ini. Mudah-mudahan ini rejeki saya. Menyaksikan latihannya pun tak apalah, karena saya tidak akan mampu membayar tiket pertunjukan opera sampai ratusan euro.

Menuliskan cerita sehari dalam hidup saya di Bayreuth, tidak sehari bahkan hanya 30 menit, tidak bisa saya lakukan. Sehari ternyata bisa berarti kumpulan dari ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, khayalan tentang ratusan tahun sebelumnya lagi, mungkin juga tahun-tahun yang akan datang. Sehari bisa berarti banyak hal.

Maka, jika saya ditanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner, saya masih belum bisa menjawab, karena sejujurnya saya hidup di sini, tidak hanya tinggal. Hidup dengan segala dinamikanya. Seperti juga musik Wagner yang dinamis dan dinamikanya tetap saya butuhkan minimal untuk membantu membuat saya bangun menghadapi hidup.

Bayreuth, 120605

Untuk Koen++: terima kasih atas tulisan-tulisannya yang inspiratif dan mencerahkan.
Cat.: Tulisan ini dimuat di http://kun.co.ro