Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (4)

Sebelum subuh saya sudah bangun. Saya ingin menikmati fajar tanggal 15 Februari di pantai. Sendirian. Langit masih gelap, saat saya berada di pantai, ada adzan berkumandang jelas di sebelah barat pantai. Mesjid tak jauh dari situ. Dan ada doa dan puja-puja dari pura di belakang tempat saya berdiri menatap ke timur. Langit pelahan memerah, saya merinding, saya merasa penuh dan terberkati. Saya bersyukur sepenuh syukur atas hidup yang telah diberikan dengan penuh kasih oleh Sang Maha Hidup dan Sang Maha Kasih. Dada saya sesak. Saya merasa begitu kecil, tidak berarti apapun. Saya hanya berharap, semoga saya, kehadiran saya, keberadaan saya, hidup saya, kerja saya, langkah saya, cinta saya, bisa membawa senyum dan  kebahagiaan untuk banyak orang. Ya, saya hanya ingin bisa membawa kebahagiaan untuk orang lain. Langit semakin terang.

Saat pantai semakin ramai dikunjungi banyak orang, saya beranjak kembali ke hotel. Langkah terasa begitu ringan. Saya senang menghadapi hari itu. Sebelum sarapan, saya masih sempat berendam sejenak di kolam renang hotel yang masih sepi pengunjung. Maklum masih cukup pagi, turis-turis lain –kebanyakan dari Belanda- masih tidur. Sarapan pagi sambil bercakap-cakap dengan pegawai hotel dan mendapat ucapan selamat ulang tahun serta doa-doa dari orang-orang yang saya cintai. Ya, saya memang diberkahi Sang Maha Kasih lewat orang-orang yang mengelilingi dan mencintai saya. Saya bersyukur sangat.

Selesai sarapan, saya berangkat ke Singaraja. Perlu mencari ATM, mengingat persediaan uang sudah menipis. Naik angkot yang cukup mahal menurut saya, Rp 8.000, padahal rasanya jarak dari Kalibukbuk ke kota Singaraja mungkin sekitar 12 km. Tapi rasanya wajar dibuat mahal begitu, angkot tidak berpenumpang, hanya saya sendiri.  Penduduk Bali lebih suka naik motor. Sampai di Singaraja, panas terik, karena sampai di sana pas tengah hari. Memang saya agak santai keluar hotel. Tidak ada satu ATM pun yang saya temukan di daerah dekat pasar Singaraja. Mampir ke warnet sebentar untuk  mengirim email memberi tahu teman saya di Jerman bahwa saya sudah bertemu dengan Luh Putu Asrini, sambil bertanya di mana ATM BNI terdekat. Ternyata yang terdekat itu cukup jauh dari tempat saya bertanya. Namun, beruntung karena tidak sulit untuk mencapainya. Belanja sedikit, saya memutuskan untuk kembali ke hotel untuk makan siang, karena jam 16 hari itu saya sudah membuat janji untuk di-massage. Naik angkot dari pusat kota Singaraja sampai mendekati terminal, cukup dekat, dan ongkosnya: Rp 4.000. Tercengang. Mahal betul. Ya memang segitu.

Janji massage jam 16. Sudah semangat saya pergi ke tempat massage, sampai di sana saya ditanya apakah yakin saya mau dimasage. Saya heran kenapa saya ditanya begitu. Ternyata yang akan memassage saya adalah seorang transvestite. Kaget juga saya. Waduh, gimana ini. Tapi saya sudah tanggung ada di sana. Akhirnya jadi dimassage, tapi saya cuma minta dimassage bahu dan kaki saja. Kok masih merasa tidak nyaman juga. Kami ngobrol, awalnya agak canggung. Namun, saya berusaha membuat suasana secair mungkin. Untung saya punya beberapa kenalan dekat yang gay dan transvestite, jadi saya tahu kira-kira mereka seperti apa. Akhirnya suasana benar-benar cair. Dia bercerita banyak tentang dirinya, awal dia menjadi transvestite, alasannya, pergaulannya, bagaimana dunia transvesitite di Bali, sudut-sudut kehidupan mereka, harapan dan keinginan dia. Semua, semua dia ceritakan. Dan dia sopan sekali. Sosok yang menyenangkan. “Saya heran, kok saya bisa langsung bercerita begini ya sama Dian. Makasih ya” katanya. Saya bahagia, dia percaya bercerita pada saya tentang hidupnya. “Kamu datang ya nanti di pengupacaraan Hindu saya jadi perempuan. Tahun depan, saya undang kamu ke sini”. Saya mau sekali datang.

Setelahnya saya masih merasa takjub dengan kejadian yang saya alami. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tetapi saya senang ada orang yang masih mempercayakan kisah hidupnya yang paling sensitif pada saya. Orang yang sama sekali tidak saya kenal, bahkan mungkin dijauhi oleh semua orang. Saya hanya mendengarkan dan membiarkannya bercerita. Berusaha menganggap dan memperlakukannya sebagaimana saya ingin diperlakukan. Tuhan mengabulkan doa saya.

Mandi dan ibu Asrini tak lama kemudian menjemput saya. Saya dibawa ke rumahnya yang ada di sebuah desa, agak masuk dari jalan raya Singaraja. Rumah yang belum jadi, dinding belum diplester, jendela masih belum berkaca. Tempat sesaji dan sembahyang seperti biasa ada di sebelah kiri halaman. Ada beberapa rumah sederhana di dekat rumahnya. Sekeluarga kumpul di situ. Khas rumah-rumah di desa di Indonesia, tidak hanya di Bali. Beberapa penghuninya sedang duduk-duduk di halaman. Mengaso. Cuaca memang agak panas. Mengaso di halaman yang teduh oleh pepohonan yang rindang yang laki-laki bertelanjang dada, yang perempuan berkain dan menutupi dadanya dengan baju dalam. „Om Swastiastu“ sambut mereka sambil segera berdiri dan menyambut saya. Menangkupkan tangan di dada. Terus terang saya bingung harus menjawab dan bertindak apa saat mereka member salam. Jabat tangan tampaknya tidak lazim, akhirnya saya menangkupkan tangan juga sambil menganggukkan kepala. „Om Swastiastu“.  Saya langsung merasa di rumah, disambut dengan begitu bersemangat dan ramah oleh wajah-wajah jujur dan sederhana. Sambutan yang hangat. Saya dipersilakan masuk. Di ruang depan hanya ada satu lemari, ada TV menyala. „Komang sudah bisa Bahasa Indonesia, Mbak. Pintar dia. Padahal tidak pernah saya ajari. Dia belajar sendiri. Dari nonton TV“, begitu kata Bu Asrini bangga gadis kecilnya sudah bisa berbahasa Indonesia. Ah ya, Bahasa Indonesia.

Semua berkumpul di ruang depan, ada suaminya Bu Asrini, kedua mertuanya, kakak-kakak iparnya, anak pertama Bu Asrini –Gde Rudi-  yang memperhatikan semua bincang-bincang kami dengan pandangan penuh ketertarikan-, anak kedua Bu Asrini, tapi tak lama dia pergi lagi, kemudian keponakannya. Kami berbincang ke sana ke mari. Mereka antusias bertanya, seperti apa Jerman itu, seperti apa salju, dan kenapa kok saya mau saja sekolah sampai sebegitu lama di Jerman. Ups, pertanyaan yang saya juga tidaktahu jawabannya.

Bu Asrini menyiapkan makan. Bukan capcay seperti yang dibilang, tapi sate kambing, sate pentul, urab, dan pepes ikan. Ini makan besar, saya tahu makanan ini bukan makanan yang sehari-hari mereka makan. Dan itu memang saya ketahui waktu obrolan kami berpindah ke soal makanan khas Bali. Dan itu Indonesia, apapun akan dilakukan untuk menghormati tamu. Dan alangkah tidak sopannya saya jika menolak. Apalagi makanan enak-enak begitu. Bincang-bincang hangat masih dilanjut sambil makan. Salah seorang kakak ipar Bu Asrini bercerita tentang kondisi yang sulit sekarang ini. Dia sedang mencoba menjadi nelaya, sebelumnya petani. Laki-laki setengah baya yang saya lihat cukup cerdas. Hanya dia sendiri di keluarga itu yang bersekolah sampai SMA kemudian sempat merantau ke luar Bali. Pemikirannya luas dan menganggap pendidikan masih jadi hal yang terpenting untuk hidup yang lebih baik. „Saya selalu berusaha, Mbak. Tapi Tuhan pasti punya rencana lain yang saya tidak pernah tahu. Saya hanya menjalani dharma saya di dunia“, begitu katanya. Kesederhanaan dan ketulusan seorang desa menjalani hidup. Sungguh, saya terharu melihat keluarga itu. Mereka kaya dibalik kesederhanaannya. Mereka saling menyayangi dan membagi kasih sayangnya ke luar. Mereka tetap berbesar hati menjalani dharma mereka. „Sudah tersurat begini, Mbak. Apa yang tidak bisa kami syukuri? Masih banyak yang lebih susah dari kami. Mereka masih harus diberi“. Ah. Sungguh saya tercekat. Bahkan untuk menulis di sini, setelah berjarak sekali pun, saya masih tercekat. Tak heran teman saya di Jerman begitu ingin membantu mereka. Mereka menebar cinta, yang sampai pada banyak orang. Juga saya.

Sebelum pulang, saya masih sempat diberi oleh-oleh setumpuk kain pantai, sekantung plastic asesoris, dan satu kantung keripik tempe, karena saya sempat bilang di Jerman saya kangen sekali tempe, makanan favorit saya. Ah, itu semua barang dagangan mereka. Mereka mendapatkan uang dari situ dan itu diberikan begitu saja pada saya. Pantaskah saya menolak? Perang batin saya harus dihentikan, saya tak kuasa melihat mata penuh cinta itu. Sungguh. Rasanya ingin menangis. Tiba saatnya pulang, sudah malam. Mereka meminta saya kembali lagi suatu saat nanti. Ya, pasti. Saya akan kembali lagi ke sana. “Mbak Dian sudah tahu sekarang, Mbak punya rumah di sini. Punya keluarga di Bali”. Adakah hal yang lebih indah selain punya rumah dan keluarga di mana pun? Untuk saya tidak ada yang lebih indah dari itu.

Malam itu di kamar hotel saya menangis. Tiba-tiba saja jadi sangat melankolis. Saya bahagia, Sang Maha Cinta langsung mengabulkan doa saya. Hari ulang tahun yang paling indah dan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Saya bersyukur sekali. Sangat.

Pagi hari, masih bertemu dulu Bu Asrini, kemudian dilanjut sarapan, dan menunggu travel yang akan membawa saya ke Ubud. Travel datang tepat waktu kemudian menjemput penumpang-penumpang lainnya. Hanya saya dan sopirnya yang orang Indonesia. Penumpang lainnya, semua perempuan, datang dari Austria dan Belanda. Di daerah utara memang kebanyakan turis datang dari Eropa. Berbincang seru sepanjang jalan: dalam bahasa Jerman. Tidak!

Perjalanan Singaraja – Ubud melewati Bedugul yang sangat sangat indah. Kami sempat minta berhenti sebentar untuk berhenti di Bedugul karena tak tahan untuk menghirup wangi dan kesegaran udaranya. Saya dan dua penumpang dari Austria turun di Ubud. Saya mencari pool XTrans yang akan membawa saya nanti ke Kuta. Duh, salahnya pool Xtrans berada tepat di depan Pasar Tradisional Bedugul. Ya sudah, buyar semua rencana. Saya tidak mau jadi turis yang belanja oleh-oleh. Tapi melihat barang-barang di bagus di Ubud, hati siapa tidak goyah? Tutup mata, saya belanja. Sudahlah. Toh buat orang-orang yang saya sayangi juga. Alasan. Hehehe.

Perjalanan Ubud – Kuta juga indah. Mata saya tak lepas dari patung-patung indah sepanjang jalan. Sampai di Kuta, saya titipkan bawaan saya, kemudian berjalan kaki lagi menuju pantainya. Ini sisi Bali yang lain, yang saya hindari. Sisi turisme. Orang Bali hidup juga dari sini. Campur baur jadi satu. Saya hanya jalan kaki, melihat lebih tepatnya memindai saja. Untuk saya tidak terlalu menarik. Sampai mendekati malam saya di sana. Tak lama bertahan, saya lebihmemilih menunggu di bandara. Pesawat akan membawa saya ke Jakarta pukul 21.

Pukul 00.30 tiba di Bandung. Home sweet home. Bandung sehabis hujan selalu membuat saya senang. Ah. Betapa perjalanan yang mengisi penuh hidup saya. Me-recharge banyak hal. Perjalanan-perjalanan yang saya lakukan 6 bulan terakhir, ke Jerman, Italia, Indonesia. Bertemu dengan orang-orang yang memperkaya hidup saya.  Berdamai dengan masa lalu saya. Berjalan ke depan. Saya sepertinya memang masih ditolak Jatim walaupun saya tetap ingin berdamai dengannya, tapi Bali berhasil memikat saya dengan kuat. Lalu, apa lagi yang kurang dari hidup saya?  Tidak ada. Hidup saya penuh. Sempurna.

Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (3)

Dan Bali memang memberi saya nyaman, walaupun hari pertama di Denpasar sedikit membuat saya merasa terancam.  Tiba di Ngurah Rai lepas maghrib, mengurus ini itu dulu termasu langsung mencari penginapan. Disarankan menginap langsung dekat terminal Ubung, Denpasar, karena hari Minggunya saya akan langsung menuju Singaraja. Naik taxi ke sana, diajak berbincang macam-macam sambil ditawari sewa mobil ke Singaraja. Tidak mau, saya ingin naik kendaraan umum saja. Jauh. Biarin. Tiba di hotel yang sudah direservasi untuk dua malam. Ramai betul oleh rombongan piknik yang berasal dari Pulau Jawa. Agak kecewa dengan harga kamar hotel yang mahal  tanpa sarapan pula –lebih mahal daripada harga kamar hotel di Malang yang bagus-, namun kondisi kamarnya sendiri jelek. Berbau apek, agak kotor, banyak sarang laba-laba dan lobang di sana-sini. Saya langsung membatalkan pesanan malam berikutnya dan memutuskan menginap lebih lama di Singaraja. Istirahat sebentar, kemudian keluar mencari minum dan roti untuk sarapan keesokan paginya, sambil berharap bisa mendapat sesuatu untuk makan malam. Tidak terlalu yakin karena  sudah hampir jam 21 saat itu.

Mengambil arah ke kiri, saya ingin tahu letak Terminal Ubung. Namun, keputusan saya salah. Di sepanjang jalan banyak laki-laki duduk-duduk bertelanjang dada dan berteriak-teriak di pinggir jalan, menggoda siapapun yang lewat. Bukan orang Bali. Pendatang. Mereka melihat saya, merasa terancam, saya berbalik arah. Di depan ada sekelompok orang berpakaian ada baru pulang sembahyang. Mereka hanya memperhatikan saya. Berjalan terus akhirnya menemukan toko kecil yang itu pun sudah hampir tutup, sesaji sedang dibersihkan, tetapi saya masih sempat membeli roti, minuman, dan kue-kue. Selain untuk sarapan juga untuk bekal perjalanan esok paginya ke Singaraja.

Semalaman itu saya tidak bisa tidur nyenyak. Seluruh lampu saya nyalakan, TV pun tidak saya matikan. Entahlah, ada perasaan tidak nyaman di sana, alhasil pagi hari migren pun muncul. Selesai mandi, sarapan, check out, saya kemudian berangkat ke Terminal Ubung. Memang dekat, sekitar 100 meter saja dari tempat saya menginap. Terminal belum cukup ramai. Menunggu bis agak lama, setelah di dalam bis pun masih menunggu lama. Bis jalan sebentar saja untuk kemudian lama lagi menunggu penumpang. Namun, saya menikmatinya. Menarik memperhatikan orang-orang yang naik bis itu. Ibu-ibu tua berkebaya khas Bali membawa bakul buah, ibu-ibu setengah baya, keluarga kecil dengan anak-anaknya menggunakan ikat kepala khas Bali. Seorang bapak tua pergi sendirian. Seorang bapak dan gadis kecilnya. Semua penumpang saling menyapa ramah bahkan kemudian berbincang. Bis tidak terlalu penuh. Saya duduk sendirian dengan tas di sebelah. Masih migren, tetapi saya berusaha terus mengisi perut saya agar tidak masuk angin yang bisa mengakibatkan migren makin parah. Saya tidak boleh sakit.

Perjalanan dari Denpasar ke Singaraja melewai daerah Tabanan. Indah. Jalanan kecil bekelok-kelok, naik turun, di pinggir-pinggir jalan rumah khas Bali dan pura-puranya. Rumah dengan tempat pemujaan dan sesaji yang letaknya saya perhatikan selalu berada di sisi kiri gerbang dan halaman rumah. Ada yang besar, ada yang kecil. Bentuknya beragam. Orang-orang yang bersembahyang. Agama adalah hidup, hidup adalah agama. Di kendaraan umum pun demikian. Menarik juga memperhatikan bagaimana masyarakatnya berinterkasi. Sopir bis bisa menghentikan bis sesukanya di manapun dia mau untuk buang air kecil, beli minum, atau sekedar ngobrol sejenak dengan orang atau kenalan yang dia temui di jalan. Penumpang tidak ada yang protes, malah kadang ikut berbincang. Saya pun tidak protes. Melihatnya dengan senang. Rasanya kok menyenangkan melihat mereka. Kalau di Bandung mungkin saya sudah misuh misuh saat angkot ngetem lama atau turun cari angkot baru. Saat itu tidak bisa dan tidak mau misuh-misuh karena saya tidak punya pilihan lain, bis itu cuma satu-satunya bis yang akan membawa saya ke Singaraja. Saya harus ikut aturan main mereka, untungnya saya menikmatinya. Menyenangkan memang jika hidup tidak terburu-buru.

Migren sangat jauh berkurang saat melewati daerah Pupuan. Sawah-sawah berteras, hutan lebat, pohon-pohon kelapa, jalan naik turun berkelok-kelok. Rumah-rumah dan pura. Perempuan-perempuan kuat memanggul sesaji atau hasil panen padi di atas kepalanya. Bali yang terpampang di hadapan saya saat itu masihlah Bali –Pulau Dewata- di lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan Mooi Indie. Mungkin memang masih demikian. Tapi memang indah. Mata saya tak bisa lepas dari paparan lukisan alam yang saya lihat. Itu di luar jendela bis. Di dalam bis adalah Bali yang nyata. Hidup sehidup-hidupnya. Gadis kecil yang terlelap di pangkuan bapaknya. Gadis remaja tanggung yang sibuk dengan HPnya. Nenek tua yang terkantuk-kantuk sambil memegang bakul buahnya. Juga si bapak tua yang pergi sendirian, hanya membawa satu kantong plastik di tangan.

Di Seririt, ada anak kecil –laki-laki- naik ke bis. Ibunya minta si sopir agar menurunkan anaknya di Kali Bukbuk. Tujuan saya. Saya juga mau ke Kali Bukbuk. Minimal begitu informasi pendek dari teman saya si pemberi amanat.  Sudah mendekati daerah pantai Lovina, saya turun saat si anak turun di Kali Bukbuk. Tadinya saya mau terus sampai ke terminal Singaraja, tetapi tiba-tiba saja saya memutuskan untuk ikut turun. Asal saja, ikuti kata hati. Turun ya turun. Saya tanya di mana Jl. Rambutan pada si anak. Tidak tahu, jawabnya. Eh ternyata jalan Rambutan itu tepat di hadapan saya. Masuk, saya harus mencari penginapan, minimal untuk menyimpan bawaan saya yang cukup berat. Asal saja mencari hotel, sambil mata memindai kiri kanan. Tempat makan, salon, toko souvenir. Salah satu hotel yang terlihat nyaman dimasuki, namun hati saya ternyata tidak sreg. Salah satu hotel lagi tampak menarik, tetapi anjingnya sudah menghadang galak di gerbang. Akhirnya pilihan jatuh ke Puri Bali. Tempatnya cukup terbuka namun teduh. Dan murah. Rp 150.000 untuk kamar standar, memang tanpa AC dan air panas, tapi setelah saya lihat: ini luxus. Besar sekali, dua kali lipat kamar saya di Bayreuth. Luas dan nyaman. Ada balkonnya juga. Pilihan saya tidak salah. Saya sudah berniat liburan di sana.

Setelah makan siang, saya bertanya di mana Sri Shop, karena dari informasi minim yang saya dapat, saya harus mencari Sri Shop di Jl. Rambutan, Kalibukbuk. Tuhan Maha Baik, Sri Shop ternyata berada tepat di depan hotel dan si pemilik adalah paman dari perempuan yang saya cari. Menunggu agak lama karena ibu yang saya cari masih bekerja, ngobrol ngalor ngidul dengan si paman, mengeluhkan kondisi tokonya yang jarang dikunjungi orang. Bali Utara yang sudah minim turis dan hidup yang semakin sulit. Namun begitu sempat-sempatnya si paman menawari saya laki-laki, mengingat saya datang dan menginap sendirian di sana. Ups! Terima kasih, pak, tidak usah repot-repot. Tidak mau berlama-lama di sana karena obrolan si bapak sudah mulai menjurus ke arah yang tidak enak, saya kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak. Sore hari saya mau ke pantai.

Pantai Lovina bukan pantai landai berpasir yang sering dijadikan tempat berjemur . Turis-turis memang tak banyak, hanya ada beberapa orang. Berjalan-jalan di bibir pantai, menikmati suasana sore yang cerah. Saya suka pantai, seperti juga saya suka gunung, walaupun kalau mau dibandingkan, gunung lebih menarik perhatian saya. Apapun, saya tetap suka ada di sana. Menikmati desir angin pantai dan debur ombak yang halus, sambil berjalan-jalan di atas pasirnya yang hangat. Setelah cukup puas, saya kembali ke penginapan. Di jalan saya dihampiri oleh seorang ibu yang tergopoh datang dan dengan penuh semangat bertanya, “Mbak Dian ya? Dari Bandung? Mencari Luh Putu Asrini? Kami sudah menunggu Mbak dari tanggal 5”. Waduh! Itu tanggal 14 Februari. Dan ternyata, seluruh orang di pantai itu sudah diberitahu bahwa aka nada orang dari Bandung, bernama Dian, menemui Luh Putu Asrini, harap dipertemukan. Rupanya teman saya di Jerman mengirimi ibu Luh Putu Asrini itu sepucuk kartu pos, dan berita cepatlah menyebar. Senang karena merasa jadi orang beken di sana, akhirnya saya bertemu dengan sosok perempuan yang menjadi tujuan utama saya datang ke Bali. Luh Putu Asrini. Perempuan yang ternyata usianya jauh lebih muda dari wajahnya dengan ramah menghampiri saya, memeluk saya, berkata bahwa dia sudah mengharapkan saya datang sejak tanggal 5 Februari, kekhawatiran saya nyasar atau tidak berhasil menemukan dia,  bertanya tentang teman saya di Jerman yang dikenal baik olehnya, semua, semua dibincangkan. Kami seperti orang yang sudah kenal lama. Menyenangkan rasanya disambut sedemikian penuh suka cita di tempat yang jauh dari rumah. Tiba-tiba saya sudah merasa di rumah.

Saya ajak ibu ramah itu ke hotel untuk mengambil amanat dari teman saya yang diterimanya penuh haru dan suka cita. Ah, reaksi jujur dari wajahnya terpancar jelas. Kebahagiaan yang sederhana, namun tulus. Saya terharu. Matanya berbinar. Komang, gadis kecilnya yang manis, memperhatikan saya. Saya sempatkan mengambil gambar mereka berdua. Untuk teman sayadi Jerman. Ibu itu kemudian bercerita sedikit tentang kondisi keluarganya. Suaminya mengalami kecelakaan. TUjuh tahun lalu motornya ditabrak, dia jatuh dan kepalanya terbentur. Sampai sekarang tidak bisa bekerja, karena pendarahan di kepalanya. Mereka memiliki 3 anak usia sekolah. Yang mencari nafkah sekarang adalah ibu Asrini. Dulunya bekerja sebagai pedagang kain di pantai, sekarang bekerja di dapur sebuah hotel milik orang Swiss di Lovina. Mereka tinggal bersama keluarga dari pihak suaminya. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisinya. Bukan hal aneh, banyak keluarga di Indonesia kondisinya sperti ibu Asrini. Perempuan kuat dan hebat. Berkaca-kaca mendengar ceritanya, apalagi sesaat sebelum pamit kerja lagi, dia masih bertanya pada saya, “Mbak Dian suka capcay? Besok makan malam di rumah saya, ya, Mbak. Saya ingin mengenalkan Mbak ke semua keluarga saya. Saya senang bisa ketemu Mbak. Mbak baik sekali mau datang jauh-jauh dari Bandung untuk ketemu saya.” Ah, saya yang berbahagia bisa berkenalan dengan perempuan sehebat dia. Dan saya tahu pasti, mereka pasti akan menjamu saya, walaupun mereka tidak punya apapun.Tamu adalah raja, layak dihormat. Saya tak layak menolak kehormatan menjadi tamu mereka, walaupun saya tahu, merekalah yang lebih layak saya jamu.

Catatan Perjalanan:Ditolak Jatim, dipikat Bali (2)

Jadi, candi pertama yang kami kunjungi di hari kedua di Malang adalah Candi Badut. Setelah menunggu angkot dekat hotel yang lama tak kunjung datang, kami memutuskan jalan (lagi) sampai menemukan angkot yang dimaksud. Duh, saya kok lupa angkot apa yang menuju ke Candi Badut, yang jelas angkot-angkot di Malang menggunakan singkatan untuk menunjukkan tujuannya. Misalnya AL = Arjosari – Landungsari, AG = Arjosari – Gadang, GA ya kebalikannya. Satu lagi, ongkos angkot di sana murah. Jauh dekat  Rp 2500 saja (bandingannya Bandung dan nanti Bali). Setelah berjalan melewati daerah perumahan penduduk  yang bersih dan membuat kami tidak tahan untuk tidak mengomentari  tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang-orangnya, kami kemudian naik angkot menuju Candi Badut. Memakan waktu 30 menit mungkin untuk sampai di sana. Candi terlewat, karena kami tidak melihat papan penunjuk arah menuju candi. Lagipula kami jalan hanya mengandalkan perasaan dan mengikuti  ke mana si kaki mau melangkah saja. Balik arah, dan ketemulah Candi Badut yang berada di belakang beberapa rumah. Area candi dipagar dan diberi taman yang cukup asri. Sayangnya, pintu masuk ke area candi digembok. Kami pikir tadinya ada jalan masuk lain, ternyata tidak ada. Pintu benar-benar digembok, ditutup 5 menit sebelum kami datang. Jadilah kami hanya mengamati candi dari kejauhan dan mengambil beberapa gambar dari luar. Sahabat saya heran, saya apalagi, karena pintu candi digembok. Sebelum saya datang, dia pergi ke candi Singosari, dan tahun-tahun sebelumnya dia pernah juga ke Candi Badut, tapi tidak ada yang digembok satu pun. Kami tertawa-tawa saja melihat hal ini. Belum terpikir bahwa kejadian-kejadian berikutnya pun akan sama.  Lalu kami mampir dulu ke warung kecil di dekat situ untuk menanyakan candi apa lagi yang bisa dikunjungi. Masih siang, baru jam 14-an saat itu. Sambil makan singkong goreng, kami berbincang dengan si pemilik warung. Menyenangkan.

Kami makan siang dulu sebelum memutuskan melanjutkan perjalanan ke Candi Jago di daerah Lawang. Spontan saja, karena belum mau kembali ke hotel dan tidak ada keinginan untuk jalan-jalan di kota. Namun, jangan ditanya dulu sejarah kedua candi ini. Sahabat saya sudah cerita, tapi saya lupa. Nanti lah dilihat lagi. Candi Jago terletak di daerah Lawang, cukup jauh dari pusat kota Malang. Dataran tinggi. Naik angkot juga lama. Ada mungkin 1,5 jam.  Pemandangan yang indah di sepanjang jalan, ditimpali dengan obrolan ringan dengan si sopir angkot yang terheran-heran melihat kami berdua ingin sekali pergi ke sana padahal sudah diperkirakan kami akan tiba lepas maghrib, membuat perjalanan menjadi lebih menarik. “Tempatnya angker” katanya, “atau mungkin Mbak-nya lagi ngidam ya, ingin pergi ke candi”. Halah! Ngidam ke candi, biar anaknya jadi raja atau jadi arca, hehe.

Adzan maghrib baru saja selesai berkumandang, saat kami turun angkot di depan jalan menuju candi.  Candi Jago terletak tidak jauh dari jalan raya, jalan masuknya lewat gang kecil juga di antara rumah penduduk. Ada mesjid kecil di depan kompleks candi. Dan, kali ini sudah tidak terlalu heran saat melihat pintu masuk ke kompleks candi juga sudah digembok. “5 menit lalu” kata orang di sana. Barulah kami tertawa. Menertawakan diri kami yang datang selalu  5 menit setelah pintu kompleks candi ditutup. Mengelilingi kompleks candi sebentar, maksa mengambil foto di kegelapan, sahabat saya menertawakan saya yang tidak juga berhasil masuk ke dua candi yang dikunjungi hari itu. Dia bilang, saat dia sendiri, dia bisa masuk ke candi-candi itu. Dan saya akhirnya memutuskan untuk masuk mesjid saja, shalat maghrib di sana. Antara geli dan heran, setelah shalat ada kesadaran yang muncul dan keinginan untuk minta maaf pada Sang Pemilik Waktu dan Pemberi Maaf bahwa saya telah lama sekali menolak masa lalu dan kesejarahan saya. Entahlah, rasa itu muncul begitu saja. Saya mungkin berlebihan, tapi saya memang benar-benar ingin berdamai . Saya ingin damai.

Tanggung karena waktu isha sudah dekat juga, saya menunggu di mesjid diiringi tatapan heran ibu-ibu yang juga lepas maghrib menunggu shalat isha di sana. Heran mungkin melihat perempuan asing ada di sana. Selesai shalat kami kembali ke Malang. Jalan yang kami lewati sore hari terasa misterius saat malam hari. Saya suka perjalanan malam hari. Kami menunggu sangat lama di terminal Arjosari, karena angkotnya tidak akan berangkat sebelum dipenuhi penumpang. Cukup melelahkan, namun saya tetap merasa senang dan tentu saja penasaran, karena dua candi tidak bisa saya masuki hari itu. Hari berikutnya, karena jadwal pengambilan data tidak sampai siang dan saya masih penasaran ingin pergi ke candi, kami memutuskan untuk pergi ke candi Penataran. Blitar. Hehehe.

Teman-teman di UM terheran-heran saat kami bertanya jalur menuju Candi Penataran, karena mereka pikir ada banyak hal menarik yang bisa dikunjungi selain candi itu. Selain itu juga perjalanan dari Malang ke Blitar memakan waktu sekitar 3 jam. Ini hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya saja. Selesai makan, kami naik angkot ke arah Landungsari. Setelah angkot yang kami tumpangi mogok dua kali sampai sahabat saya ikut membantu mendorong si angkot, dan setelah hampir mendekati terminal Landungsari, kami baru bertanya apakah arah kami benar. Tentu saja salah, hehe. Ya, kami salah arah. Harusnya kami mengambil arah kebalikannya, yaitu ke Gadang. Jadi balik arahlah kami. Dan itu artinya kami kembali melewati UM, hotel, ke kota, lalu ke Gadang. Dari Gadang kami naik bis kecil menuju Blitar.

Pemandangan sepanjang Malang – Blitar yang berkelok-kelok juga indah. Saya sangat menikmatinya. Cuaca cerah sekali saat itu. Panas malah. Meminta kondektu bis untuk memberi tahu kami jika sudah dekat ke arah Candi Penataran, kami tetap juga melihat-lihat penunjuk jalan. Mendekati kota Blitar, ada penunjuk arah ke kanan: Penataran. Saat kami mau berhenti di sana, si kondektur berkata bahwa kami masih harus terus, nanti dia yang akan menunjukkan. Antara percaya dan tidak, kami mengikuti juga maunya si kondektur, sampai bis masuk ke kota Blitar. Di pertigaan menuju ke arah terminal kami dipersilakan turun. „Makam ke kiri“ kata si kondektur. Makam? Ah, Candi Penataran memang candi makam. Namun, jelaslah apa yang dimaksud makam oleh si kondektur, saat kami mendekati papan penunjuk jalan. Kiri. Makam Bung Karno. Gubrak! Kami ingin ke Candi Penataran bukan makam Bung Karno. Sambil menertawakan kejadian-kejadian yang kami alami sesiangan itu, kami kemudian bertanya pada seorang polisi di pos jaga, jalan menuju ke Candi Penataran. Ternyata memang seharusnya kami mengikuti kata hati kami untuk turun jauh sebelum masuk kota Blitar. Di tempat kami melihat penunjuk jalan: Penataran itu. Ke kanan, bukan ke kiri.

Setelah mempertimbangkan waktu dan kurangnya angkutan ke arah sana, kami akhirnya memutuskan pergi ke makam Bung Karno saja, itupun masih dengan harapan siapa tahu saja ada angkutan umum ke arah Penataran. Masih penasaran ke Penataran. 6 kilometer kata sang polisi. Ke makam tapi. Tidak ada satu pun kendaraan umum yang lewat. Ada ojek memang, tetapi kami tidak mau naik ojek ke sana. Akhirnya kami jalan kaki lagi. Jalanan kota Blitar yang bersih, masih ada banyak pohon, dan suasana sore yang cerah, tidak terlalu panas, membuat acara jalan kaki kami tidak terlalu terasa melelahkan. Sempat diselingi makan es buah di pinggir jalan, menambah perbekalan minum, juga membeli lagi singkong goreng yang tampak enak (dan memang enak), kami sampai di kompleks makam Bung Karno. Tepat 5 menit setelah pintu kompleks makam digembok!

Tawa pun langsung meledak melihat kejadian ini. Kami selalu datang 5 menit setelah pintu ditutup. Untungnya si petugas yang menjaga kompleks makam cukup berbaik hati mau membukakan pintu gerbang. Mungkin karena kami datang dari jauh, dan tampaknya tampang kami sudah lelah juga. Bukan 6 kilometer kami berjalan, Pak Polisi, rasanya dua kali lipat dari 6 KM.  Jauh nian. Masuk kompleks makam. Mengambil beberapa gambar, sahabat saya menggoda saya karena gambar saya tak nampak, sementara gambar dia ada. Mungkin saya tak diperbolehkan ada di situ, katanya. Mungkin juga saya belum diterima oleh Jatim. „Kelamaan ditolak olehmu“, katanya lagi. Hehehe. Mungkin.

Tak lama berada di sana, sudah hampir maghrib. Kami berjalan lagi menuju ke arah jalan yang dilewati bis menuju Malang. Mampir dulu ke mesjid untuk shalat maghrib dan isha. Tak bisa masuk ke candi, minimal mesjid masih terbuka. Selesai shalat, kami jalan lagi menuju tempat menunggu bis. Sambil menunggu, sahabat saya masih pula dimintai tolong mendorong mobil yang mogok. Hari itu, dua kali dia mendorong mobil mogok. Doanya untuk bisa menolong orang sebanyak mungkin langsung dikabulkan. Tertawa-tawa juga kami mencermati pengalaman hari itu.

Hujan turun deras lagi selama perjalanan Blitar – Malang, menambah misterius perjalanan malam kami. Namun, beruntung saat kami turun di depan hotel, hujan sudah berhenti. Keesokan paginya, hari terakhir pengambilan data. Puas tidak puas, kami harus berhenti. Sahabat saya akan pulang ke Bandung, saya masih akan tinggal sehari di Malang, untuk selanjutnya ke Surabaya, menginap semalam di sana, dan melanjutkan perjalanan ke Bali. Kami berpisah setelah mengambil data terakhir, sahabat saya ke Arjosari, saya ke Landungsari, karena akan melanjutkan jalan-jalan saya ke Batu. Oh bukan, tepatnya mengantarkan amanat seorang teman di Jerman. Tidak pakai acara nyasar, sampai di Batu dengan selamat, disediakan Soto Banjar yang lezat, bincang-bincang yang hangat, dioleh-olehi banyak makanan, kemudian saya menuju Songgoriti. Pemandian air panas. Begitu sampai di Songgoriti, hujan turun, padahal selama di jalan cuaca cerah saja. Tampaknya saya memang tidak boleh bersenang-senang di Malang. Tujuan awal adalah mengambil data, bukan bersenang-senang, hehe.

Hari terakhir di Malang sebelum berangkat ke Surabaya, saya ke Singosari. Kali ini sendiri. Masih penasaran mengapa saya kok tidak berhasil masuk ke satu candi pun di sekitaran Malang. Jalan kaki lagi dari jalan depan masuk ke situs purbakala Singosari. Arca Dwarapala sudah saya temukan, tidak ada satu candi pun yang saya lihat. Agak heran, namun saya tetap jalan. Akhirnya memutuskan naik ojek ke candi Sumberawan. Jauh nian. Di atas gunung, itupun masih harus merangsek masuk melewati pematang. Banyak mata memandang heran, ada seorang perempuan menggendong ransel, melewati pematang sawah sendirian, ke arah candi. Pemandangannya indah sekali. Udaranya sejuk dan segar. Air sungai mengalir jernih. Indonesia. Tanah saya memang indah. Saya bahagia sebahagia-bahagianya. Saya hirup, saya penuhi dada saya dengan udara tanah dan air saya.

Saya berhasil masuk ke candi Sumberawan, sebuah candi Buddha, bukan Hindu seperti kebanyakan candi di Jawa Timur. Katanya Ken Arok pernah beristirahat di sana, makanya dibuatkan candi. Pintu kompleks candi belum ditutup. Masih diikuti pandangan heran si penjaga kompleks, saya mengambil beberapa gambar. Dupa dan sesaji cukup banyak disimpan di dekat stupa. Si penjaga mungkin merasa aneh melihat perempuan sendirian pergi ke gunung. Dari sana, diantar oleh tukang ojek yang dengan baik hati menunggu di jalan, saya menuju Petirtaan Watu Gede, yang konon adalah pemandian Ken Dedes. Ada cukup banyak orang sedang bersembahyang dan berdoa di sana. Tak lama saya di sana, setelah mengisi perut saya kembali ke Malang. Mengejar waktu ke Surabaya bersama teman. Saya akan menginap di rumahnya di Surabaya. Candi Singosari tak tampak sama sekali oleh saya. Sahabat saya heran sekaligus geli, saya apalagi, saat kami bertukar pesan pendek dan saya bercerita bahwa Candi Singosari benar-benar tak nampak oleh saya. Tak ada satu candi makam pun yang berhasil saya masuki, hehe. Tampaknya Jatim belum mau berteman dengan saya.

Perjalanan Malang  – Surabaya kembali terhadang macet di Porong, kali ini disertai air berlumpur yang tumpah ke jalan karena hujan deras membuat lumpur tumpah ruah. Saya gerah, walaupun hujan turun deras di luar bis.

Dugaan bahwa Jatim tampaknya belum mau berteman dengan saya tampaknya benar juga.  Di hari saya berangkat ke Bali, 13 Februari lalu, saya harus menunggu di Bandara Juanda selama 7 jam, karena bandara ditutup akibat pecahnya ban pesawat salah satu maskapai penerbangan. Saya benar-benar geli mencermati hari-hari saya di Jawa Timur ini. Sahabat saya hanya tertawa, terheran-heran sambil berharap bahwa Bali bisa memberi saya nyaman. Ya, saya harap Bali memang memberi nyaman.

Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (1)

Jadi sepertinya niat saya berdamai dengan ke-jawa-an saya belum sepenuhnya bisa diterima. Jogja dan Solo memang sudah berhasil menarik saya kembali ke asal usul saya. Minimal membuat saya terus menerus ingin datang ke sana, walaupun saya masih belum bisa sepenuhnya „umgehen“ dengan bahasanya. Dengan orang-orangnya sudah lumayan, dengan makanannya itu lebih mudah. Ya, saya memang masih rasis, maafkan. Namun, saya sedang berusaha meminimalisir kok.

Perjalanan  ke Jogja  bulan Januari lalu selalu menyenangkan, walaupun diiringi acara nyasar memutari Stadion Kridosono. Niat hati mau berjalan kaki dari daerah Kampus UNY Karangmalang ke Malioboro, tapi malah mengelilingi Stadion Kridosono yang layaknya tembok Berlin itu. Akibatnya saya terheran-heran, kok yang dilihat kantor Telkom lagi, kantor Telkom lagi :) Namun, keesokan harinya Malioboro, yang selalu membawa saya kembali ke Jogja, bisa dicapai dengan Trans Jogja yang sangat Jogja. Kami masuk dari arah yang salah pun masih diperbolehkan, hehe. Niat hati tidak mau belanja, apa daya tak kuasa menahan godaan batik di sana. Jadi, belanja lah. Keesokan harinya lagi pun masih demikian. Dan Jogja akan kurang Jogjanya kalau tidak berkeliling kota naik becak yang bikin masuk angin. Bakpia Pathok habis juga dimakan selama berkeliling-keliling. Oh ya, sebetulnya saya ada di Jogja untuk acara seminar. Salah satu alasan yang memungkinkan saya bisa pulang sebentar ke Indonesia, walaupun saya baru sebentar pula di Jerman. Alasan yang dibuat-buat. Alasan utama ya memang ingin pulang saja. Jujur, seminarnya hanya saya ikuti serius di hari pertama, saat saya harus presentasi. Hari-hari berikutnya saya lebih banyak kaburnya, daripada ada di tempat seminar. Di Jogja gitu lho. Sayang, tempo hari itu tidak sempat mampir jalan-jalan ke Solo, karena orang rumah sudah memanggil pulang. Jauh-jauh datang dari Jerman, di rumah hanya sehari saja, langsung kabur ke Jogja.

Rencana awal perjalanan dimulai dari Jogja lanjut ke Malang lalu ke Bali kemudian ke Jakarta dan terakhir Bandung, jadi berubah, karena setelah lobby sana sini, Malang ternyata baru bisa diakses mulai tanggal 1 Februari, Jakarta pun demikian, Bandung baru tanggal 8-nya. Oh ya juga, saya pulang pun dalam rangka mengambil data penelitian di Jakarta, Bandung, dan Malang.  Ke Bali sih memang untuk main sekaligus menjadi pembawa amanat.  Jadi, saya memutuskan pulang dulu ke Bandung, mengambil data yang bisa saya ambil di Bandung dan mengurus surat-surat, karena saya lupa bahwa di Indonesia banyak hal harus ada suratnya. Kebetulan juga jadwal perjalanan berubah, karena dengan saya pulang ke Bandung dulu, saya bisa install software macam-macam, ke dokter gigi, bertemu teman-teman, facial, akupunktur, pinjam handycam tambahan, dan menghadiri pernikahan salah seorang sahabat saya. Semua memang sudah diatur dengan baik oleh Sang Maha Pengatur.

Awal Februari saya mengambil data di Depok dan Jakarta. Serius sekali ambil data di UI dan UNJ, sampai migren-migren, tangan dan kaki pegal-pegal. Tapi saya senang. Saya bertemu dengan orang-orang yang kooperatif, dosen dan mahasiswa, juga sahabat saya yang sangat membantu saya saat mengambil rekaman perkuliahan di kedua universitas tersebut. Bukan itu saja, dia pun memfasilitasi saya selama di sana dengan penginapan dan acara hiburan lainnya: makan dan nonton film, tentu dengan obrolan-obrolan yang menyenangkan.  Di Jakarta bertemu lagi dengan teman-teman dan sahabat-sahabat lama, yang membuat hidup saya semakin tercerahkan.

Ada jeda waktu satu hari sebelum mengambil data berikutnya di UNJ, saya manfaatkan untuk pulang ke Bandung, untuk kemudian kembali lagi ke Jakarta di hari berikutnya. Saya memang tidak bisa dan tidak mau berlama-lama tinggal di Jakarta. Pengambilan data di Jakarta beres, hari Senin, 8 Februari adalah jadwal ke Malang. Berangkat dari Bandung ke Surabaya, untuk kemudian dilanjut ke Malang. Sahabat saya yang lain, yang akan membantu pengambilan data di Malang, sudah sampai terlebih dulu di sana. Dia langsung terbang  ke Surabaya, setelah liburannya di Lombok, lalu ke Malang. Dua hari datang lebih awal dari saya, membuat saya iri, karena dia selalu bercerita tentang jalan-jalan dan „survey“nya. Dan memang, pada akhirnya nanti acara pengambilan data di Malang itu jadi lebih banyak main dan jalan-jalannya daripada mengambil datanya sendiri: 4 jam mengambil data, 10 jam jalan-jalan. Betul-betul tak berimbang. Tapi bagaimana ya, setelah serius-serius mengambil data di Jakarta, Malang sudah membawa aura liburan untuk saya. Apalagi setelah dari Malang saya akan lanjut terbang ke Bali, jadi semakin terasa aura liburannya. Belum apa-apa saya sudah membawa peta Bali dan minta saran sahabat saya tentang tempat-tempat apa saja yang „harus“ saya kunjungi di Bali, selain tentu saja daerah Lovina-Singaraja, yang menjadi tujuan utama saya datang ke Pulau Dewata itu, dengan pesan: bukan daerah turis. Saya tidak mau datang ke Bali sebagai turis domestik sekalipun. Saya ingin merasai Bali. Bali yang Bali.

Perjalanan dari Surabaya ke Malang melewati daerah Porong yang macet karena masalah lumpurnya itu. Miris saya melihatnya. Dan membuat gerah, walaupun hujan saat itu mengguyur deras sepanjang jalan dari Surabaya ke Malang. Hujan yang sebenar-benarnya hujan.

Malang. Saya jatuh cinta pada kota itu saat pertama kali saya datang ke sana akhir tahun 2006. Kota kecil yang nyaman dan cukup bersih. Kami menginap di hotel milik dan dikelola oleh SMK Negeri 1, berada tepat di depan Universitas Negeri Malang, di jalan Surabaya. Konsep yang bagus saya rasa. Pelajarnya bisa langsung praktek di hotel dan cafe yang mereka buat profesional. Hotelnya cukup nyaman dan pelayanannya cukup bagus. Selesai shalat, kami langsung jalan mencari makan, kemudian lanjut jalan-jalan. Tujuannya pusat kota Malang. Ini benar-benar jalan-jalan. Jalan kaki. Hari-hari selanjutnya pun akan ada banyak jalan-jalan, jalan-jalan lainnya. Mengambil jalan memutar ke arah Jl. Terusan Surabaya, yang tampak jelas ada di sepanjang jalan adalah salon-salon potong dan perawatan rambut  setiap jarak 10 meter. Salon, ada salon lagi, ada salon lagi. Harga standar untuk potong rambut Rp 8.000, creambath Rp. 15.000. Walah. Tak tahan rasanya untuk tidak berkomentar apakah salon-salon ini ada pengunjungnya?! Lainnya cukup standar lah di daerah seputaran kampus: laundry, warung nasi, dan warnet.

Malang setelah hujan cukup nyaman. Jangan bilang Malang itu dingin. Malang panas. Setelah hujan cukup adem. Cukup sejuk mungkin,  bolehlah. Belum sejuk sekali. Masih kalah sejuk dari Bandung sehabis hujan. Namun, pohon-pohon besar yang masih banyak tumbuh di seputaran daerah Jl. Wilis, Jl. Gede, Jl. Ijen, pokoknya jalan gunung-gunung itu, membuat kota ini lebih menyegarkan paru-paru. Cukup bersih pula kotanya. Setelah sempat salah belok dan bertanya pada polisi yang ramah –karena dia tersenyum, hehe- kami mampir makan es krim di Toko Oen, sebelum melanjutkan acara jalan kaki kami ke alun-alun kota Malang.

Alun-alun kota Malang terlihat cukup manusiawi, tentu jika dibandingkan dengan alun-alun kota Bandung yang tidak jelas bentuk rupanya. Masjid Agungnya pun terlihat agung. Menyenangkan melihat banyak keluarga kecil duduk-duduk di bangku atau di tembok-tembok pembatas di alun-alun itu, sementara anak-anak kecil berlarian dengan bebas. Menjelang maghrib saat itu. Selain salon, kemudian Arema yang merasuk ke dalam jiwa arek-arek Malang, saya melihat Malang juga cukup kuat di urusan agama. Malang sangat Islam, sangat Kristen, dan tidak lupa juga sangat kuat ikatan sejarahnya. Sejarah yang melingkupi Jatim rasanya berkumpul cukup banyak di daerah Malang dan sekitarnya. Dan saya beruntung ditemani sahabat yang memiliki ketertarikan serta tahu cukup banyak tentang sejarah Jawa Timur, pas untuk saya yang sedang ada dalam situasi ingin berdamai dengan masa lalu saya,dengan ke-jawa-an saya (jika Jawa Timur juga boleh dimasukkan ke dalamnya). Jadi, diputuskanlah bahwa acara jalan-jalan berikutnya adalah mengunjungi candi-candi yang ada di sekitaran Malang. Mall dan wisata kuliner tidak termasuk ke dalam list acara.

Oh ya lagi, saya harus mengambil data di Malang. Hari pertama agak mengecewakan. Agak jauh berbeda dari yang di Jakarta. Situasi perkuliahan lebih pasif. Yang ada kami berdua jadi mengantuk. Hari-hari berikutnya juga sebenarnya tidak jauh berbeda. Kami lebih sering mengantuknya daripada tidaknya. Tapi yang ini biar jadi bahan untuk tulisan lain saja. Sekarang saya hanya ingin menulis mengapa saya sampai merasa ditolak Jawa Timur, padahal niat saya ingin berdamai.