Saling Silang: Sebuah Catatan dari Survey tentang Guru dan Mahasiswa

Sedang bosan dengan transkripsi dan menganalisis struktur percakapan, saya beralih dulu ke bagian lain penelitian saya, yaitu tentang konteks sosiokultural dari data yang saya miliki. Melihat unsur verbal dan nonverbal saat seorang dosen dan mahasiswa berinteraksi memang menarik, tapi melihat apa yang ada di balik suatu setting percakapan itu lebih menarik lagi. Bagaimana ternyata faktor budaya, kebiasaan, normalitas dalam suatu masyarakat, mungkin juga politik bisa memberikan kontribusi saat orang berinteraksi. Apalagi interaksi yang terjadi pada orang dari dua budaya yang sangat berbeda. Miskomunikasi cukup sering terjadi, dan itu bukan semata karena faktor bahasa yang berbeda, tapi lebih dari itu. Faktor psikologis tidak terlalu saya sentuh dalam penelitian saya, karena saya bukan pakar di bidang ini.

Semalam saya „iseng“ membuat survey sederhana tentang gambaran orang-orang tentang mahasiswa di Indonesia dan imagi apa yang muncul saat mereka mendengar kata „mahasiswa“. Tidak diduga, jawaban-jawaban yang muncul sangat bervariasi dan semuanya menarik. Dari mulai mahasiswa yang identik dengan indomie (gambaran umum tentang mie instant), anak kos, naksir anak ibu kos, sampai ke buku, kecengan, pesta, demo, idealis, pintar, malas, narsis, gaul, (sok) dewasa, egois, lalu muncul juga „menara gading“, tidak pintar, senang bersenang-senang, aktif di organisasi, kerja sampingan dll. Yang menarik lagi, gambaran itu (sementara) muncul dari mereka yang sudah bukan mahasiswa lagi. Kalaupun ada mahasiswa yang berkomentar itu adalah mahasiswa S2 dan S3 yang rata-rata sudah punya pengalaman kerja. Mereka rata-rata menjadi mahasiswa di sekitar tahun 90an sampai awal 2000an (perhatikan kosa kata yang muncul seperti kecengan, demo, narsis, dll.). „Keberjarakan“ mereka dengan masa saat mereka menjadi mahasiswa membuat mereka memandang mahasiswa dari sisi nostalgis yang „dibenturkan“ pada realita yang dihadapi sekarang. Sementara ini saya sedang mengelompokkan dulu imagi-imagi yang datang dari teman-teman yang berkomentar, sambil mengharapkan ada komentar dari mahasiswanya sendiri (dalam hal ini mereka yang masih menjadi mahasiswa S1). Saya penasaran bagaimana mereka memandang dan mendefinisikan „peran“ mereka sebagai mahasiswa.

Survey yang kurang lebih sama, tetapi dengan cara yang lebih serius, pernah saya, atau tepatnya kami, lakukan untuk guru-guru kimia SMA di Bandung, Balikpapan dan Samarinda. Saat itu saya terlibat dalam proyek kerjasama pendidikan kimia antara Universitas Bayreuth, UPI Bandung, SMA 3 Bandung dan Unmul Samarinda dan salah satu SMA di Balikpapan (saya lupa nama SMA-nya). Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner lebih difokuskan pada hal motivasi mereka menjadi guru dan masalah metodik-didaktik. Menarik untuk melihat alasan para guru itu menjadi guru. Jawaban yang muncul kurang lebih begini, mereka menjadi guru karena: merasa memiliki tanggung jawab moral kepada generasi penerus, keinginan dan permintaan orang tua, tuntutan jiwa, kurangnya tenaga guru di daerahnya, keinginan diri sendiri, menjadi guru itu menyenangkan dan membuat mereka bisa dekat dengan murid serta bisa mengetahui karakter mereka, kebetulan, ingin mendidik generasi muda menjadi lebih baik dan ingin menransfer ilmu,

ingin lebih mendalami bidang ilmunya, sudah jadi cita-cita sejak dulu, ikut teman, latar belakang keluarganya yang juga guru, sesuai dengan jurusan dia saat kuliah, guru adalah pekerjaan yang menarik, menjadi guru adalah satu-satunya peluang untuk bisa cepat mendapat kerja sesuai dengan latar belakang pendidikan, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, ingin bekerja dan lowongan yang ada hanyalah lowongan menjadi guru, ingin beribadah dan bekerja,

guru adalah pekerjaan yang mulia, ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa, terpaksa karena menjadi guru bukanlah tujuan utama, ingin mencerdaskan dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada anak bangsa, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, ingin mencapai kepuasan batin, dan untuk mengisi formasi guru.

Saya memang tidak bisa menggeneralisasikan jawaban-jawaban di atas, karena mereka hanya sedikit wakil dari banyak guru di Indonesia. Namun, terus terang, saat saya membaca jawaban-jawaban tersebut, saya merasa sedih dan teriris. Betapa tugas menjadi guru akan menjadi sedemikian berat jika mereka “dibebani“ tujuan-tujuan dan „tanggung jawab“ yang kebanyakan datangnya dari luar. Mengabdi kepada negara. Imbalan apa yang didapat dengan pengabdian mereka puluhan tahun? Mencerdaskan anak bangsa? Bisakah dengan buku-buku yang tak terjangkau harganya dan uang sekolah yang melonjak? Memiliki tanggung jawab moral kepada generasi penerus? Guru bukan Atlas yang menanggung dunia. Pun jika pada akhirnya generasi penerus itu hancur karena untuk pergi ke sekolah pun mereka tak punya uang. Karena di rumah pun mereka tidak mendapat kasih sayang dan pendidikan yang cukup dari orang tuanya. Kenapa “beban berat dunia” itu seakan dibebankan kepada guru semata? Apa yang didapat guru itu? Sangat sedikit. Padahal, guru juga perlu hidup. Guru pun bisa merasa lelah dan capek.

Tujuan mulia itu akhirnya lambat laun menghilang, digantikan dengan ikut teman, mengisi formasi, lowongan kerja yang ada hanya menjadi guru, agar bisa cepat dapat kerja, ikut keinginan orang tua. Apakah ada niat yang kuat dari itu? Tidak ada. Pekerjaan hanya sekedar pekerjaan. Tanpa jiwa. Tanpa cinta. Semua dilakukan karena orang lain. Bukan untuk dirinya. Bagaimana dengan kepuasan batin dan tuntutan jiwa atau keingintahuan yang lebih banyak terhadap manusia lain di hadapannya atau memperdalam ilmunya? Ada juga, tapi sangat sedikit dari sekian banyak guru yang mengisi kuesioner itu. Aktualisasi diri. Itu yang hilang.

Akibatnya apa? Akibatnya semua dilakukan sekedarnya. Bahan disampaikan. Selesai. Apakah anak mau mengerti atau tidak, itu urusan lain. Itu terlihat dari jawaban untuk pertanyaan tentang persiapan apa yang mereka lakukan saat akan mengajar, bagaimana metode yang mereka pakai dan apakah mereka terpaku pada kurikulum baku atau mencoba berekspresi sendiri sesuai dengan kebutuhan kelas dan muridnya. Hampir semua melakukan persiapan hanya 50 %, mereka tidak tahu pasti apa yang mereka harus “tampilkan”, berpatokan baku pada kurikulum, yang penting adalah bahan tersampaikan. Tidak bisa disalahkan kenapa begitu. Ada banyak alasan, yang membuat mereka tidak sepenuhnya ada dalam pekerjaan mereka. Mereka hanya punya pekerjaan itu, tapi mereka tidak ada di dalamnya. Dari sisi tujuan saja sudah tampak jelas, belum lagi factor-faktor lain. Terutama faktor ekonomi. Tak bisa ditawar. Hidup sudah cukup keras. Memikirkan orang lain? Murid? Orang tua yang mampu bisa membayar untuk les tambahan. Kalau orang tuanya tidak mampu? Tidak usah pergi sekolah. Mahal.

Yang kemudian terjadi adalah saling silang yang rumit. Masalah tidak terselesaikan. Kurikulum yang sudah cukup bagus tidak bisa tersampaikan dengan baik karena gurunya tidak memiliki tujuan dan kompetensi yang memadai. Kenapa? Kuliah saja susah, prakteknya saja kurang. Buku-buku penunjang saja sulit. Padahal, di era teknologi sekarang ini, jika guru tidak terus menerus menambah ilmunya dan tidak terus mengaktualisasikan diri, murid-murid yang punya kesempatan dan sarana seperti komputer dan internet bisa menjadi lebih pintar dari gurunya. Apakah kemudian guru tetap menjadi “pelita dalam kegelapan” atau “embun penyejuk dalam kehausan”. Mungkin kata guru bisa disubstitusi dengan internet. Bukankah menyedihkan? Tapi bagaimana bisa mengembangkan diri kalau uang gaji pun hanya cukup untuk ongkos pulang pergi ke sekolah atau kampus dalam seminggu? Bukankah masih ada tiga minggu yang lain yang harus dijalani untuk pulang dan pergi? Bukankah guru juga harus makan dan tetap sehat?

Jika kita lihat kembali pandangan orang tentang mahasiswa (sekali lagi saya masih mengharapkan ada komentar dari mahasiswa), tampaknya ada kesenjangan yang besar pada relasi (saat ini masih pada) mahasiswa dan guru (dalam hal ini dosen). Sementara kita tahu, dalam konteks institusi pendidikan keterkaitan antara pemerintah sebagai pelaksana politik pendidikan, kurikulum, guru (juga dosen), mahasiswa dan masyarakat itu sangat erat. Tentu saja seharusnya (tidak lagi hanya bisa diharapkan) ada relasi yang baik dan salng mendukung untuk mencapai sistem pendidikan yang „ideal“. Kalau yang terjadi masih silang sengkarut, tampaknya perbaikan sudah mendesak untuk dilakukan.

Bayreuth, 180111

Advertisements