Bulan (Di)(Ter)belah: Akhir Trilogi yang Dipaksakan

Film-Bulan-Terbelah-di-Langit-Amerika-200x290

Sumber gambar: movie.co.id

Terus terang saya agak sulit untuk menuliskan sesuatu yang tidak saya suka, terutama untuk urusan film, buku, atau musik. Apalagi jika kemudian sudah ada pendapat yang tidak terlalu bagus tentang film, buku, atau musik tersebut. Namun, saya pikir kali ini saya ingin mencoba objektif terhadap apa yang tidak saya sukai dengan cara menuliskannya di sini. Baiklah, saya coba.

Jadi minggu lalu saya cukup rajin menonton film. Ada tiga film Indonesia yang saya tonton, yaitu: “Negeri van Oranje”, “Ngenest”, dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Itu semua sebenarnya bukan genre film yang betul-betul ingin saya tonton, karena rasanya saya sudah bisa menebak bagaimana filmnya, castnya, scriptnya, dll. Namun, seperti yang saya tulis sebelumnya, saat ini saya sedang ingin mencoba objektif dengan cara tidak menonton film yang benar-benar ingin saya tonton saja, tetapi juga film lainnya. “Negeri van Oranje” akan saya tulis di tulisan lain dalam blog ini. Begitu juga dengan “Ngenest”. Sekarang saya akan fokus dulu pada “Bulan Terbelah di Langit Amerika” (BTdLA).

BTdLA ini adalah bagian ketiga dari trilogi kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra, setelah sebelumnya kisah mereka difilmkan dalam “99 Cahaya di Eropa” dan “99 Cahaya di Eropa 2”. Terus terang, dulu saya mungkin agak menaruh harapan lebih pada “99 Cahaya di Eropa” dan ternyata dikecewakan oleh script dan dialog yang sangat normatif dan malah terasa artifisial, mengada-ngada, klise. Cast di film itu sebenarnya bermain cukup bagus (Abimana, Acha Septriasa, Alex Abbad, Nino Fernandez, Dewi Sandra, dan Raline Shah), tetapi karena tidak ditunjang dengan script yang bagus, akhirnya kemampuan para pemainnya terlibas oleh ketidaklogisan alur cerita yang muncul lebih dominan, setting yang sepertinya dibuat tanpa survey (apartemen mahasiswa penerima beasiswa yang cukup mewah, ruang kerja dosen yang berupa saal kuliah , dll), selain tentu saja yang mungkin positif adalah suguhan pemandangan Eropa yang cantik dan boots serta coats yang keren. Oh ya, satu lagi, mungkin bagus untuk sedikit belajar Bahasa Jerman, hehe. Berdasarkan pengalaman itu akhirnya “99 Cahaya di Eropa 2” tidak saya lihat di bioskop, tapi sekilas saja ditonton kemudian di tv. Saya malas.

Lalu mengapa akhirnya saya menonton BTdLA? Terus terang saya pun tidak berharap lebih, walaupun Rizal Mantovani yang menjadi sutradaranya. Sebelumnya saya agak kecewa juga pada Rizal setelah menonton “Supernova”, tetapi saya mencoba berharap bahwa minimal dari sudut pengambilan gambar ada yang bisa saya “lihat” di BTdLA, karena “Supernova” cukup “terbantu” dengan gambar pemandangan yang bagus yang dibuat Rizal. Bagaimana dengan BTdLA? Untuk menjawabnya saya harus menontonnya dulu, walaupun seorang sahabat bercerita, ibunya tertidur di 10 menit pertama film ini main dan sahabat yang lain berkisah, bahwa banyak adegan tidak logis dalam film ini.

Maka saya datang ke bioskop dan sayangnya saya juga sudah dalam kondisi mengantuk setelah bekerja. Kondisi bioskop yang gelap dan sejuk mendukung ini semua. Apalagi di awal-awal saya disuguhi scene narasi tentang situasi ulang tahun sebuah keluarga di Amerika: ayah keturunan Timur Tengah, ibu seorang mualaf Amerika. Penggambaran keluarga ideal. Sang ibu (Rianti Cartwright) berkerudung dan merekam terus suasana ulang tahun, sampai dia –entah dengan maksud apa- mengikuti suaminya yang sedang menerima telefon dan merekamnya. Ini yang menjadi awal masalah yang terjadi kemudian. Dan sialnya, sebagai orang bahasa, saya selalu merasa terganggu oleh film yang menggunakan bahasa asing yang sepotong-sepotong. Mengapa harus dipaksakan ada bahasa asing dicampur bahasa Indonesia padahal dikisahkan keluarga ini adalah murni keluarga Amerika, bukan Indonesia atau keluarga campuran Indo? Bahasa di sini akhirnya bukan menjadi penunjang cerita, tapi malah menjadi tempelan yang justru mengganggu. Menurut saya penggunaan subtitle mungkin masih akan lebih baik.

Kemudian narasi beralih pada tokoh utama Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya). Hanum yang sudah menjadi jurnalis ditugasi untuk mewawancarai Azima Hussein (Rianti Cartwright) di New York yang suaminya diduga terlibat dalam peristiwa 9/11. Sedangkan Rangga kebetulan ditugaskan untuk mewawancari dan meminta seorang milyuner untuk datang ke Wina. Cerita kemudian bergulir lambat ke narasi kisah Azima dan Sarah, Hanum dan Rangga, Stefan (Nino Fernandez) dan Jasmine (Hannah Al Rasyid), Stefan dan Rangga, dan tokoh kunci lainnya seorang milyuner dan philantropis bernama Phillipus Brown. Kisah dibuat multiplot dengan masing-masing permasalahan tokohnya, serta alur yang maju mundur, tetapi niat utamanya sebenarnya mengacu pada dampak peristiwa 9/11 terhadap umat Islam, khususnya di Amerika.

Seperti juga dua kisah sebelumnya yang mengangkat permasalahan Islam sebagai agama minoritas di Eropa dan Amerika, serta “perlakuan” diskriminatif terhadap Islam dan orang Islam, BTdLA juga masih mengusung tema ini. Dan seperti juga dua kisah sebelumnya yang menurut saya terlalu banyak kebetulannya dan terlalu “memaksakan” diri untuk membentuk “citra”positif toleransi antarumat beragama, BTdLA pun sama. Sebegitu mudahnya orang berprasangka dan berlaku diskriminatif, sebegitu mudahnya pula pandangan dan perlakuan tersebut berubah menjadi sangat positif, hanya karena pidato seorang milyuner di depan tv. Pidato yang sangat membosankan menurut saya karena dilakukan dengan amat sangat lambat seolah-olah sedang belajar membaca. Secara kebetulan, isi pidatonya pun tentang bagaimana suami Azima Hussein menolong dan mengubah hidupnya. Suatu kebetulan –yang mungkin sebenarnya bisa saja terjadi- tapi agak aneh saja menurut saya jika dilakukan di tengah suasana panik luar biasa karena gedung pencakar langit itu tiba-tiba dibom dan runtuh.

Kebetulan-kebetulan ini yang menurut saya terlalu dipaksakan masuk ke dalam script kisah dengan maksud membuat “citra” Islam menjadi baik, tetapi tidak memikirkan logika dalam penyampaiannya. Alih-alih maksudnya sampai, saya malah mengerutkan kening. Misalnya saya teringat pada satu scene di film “99 Cahaya di Langit Eropa” saat Hanum berbincang dengan setting di menara Eiffel. Suasana menara Eiffel yang begitu sepi itu amat sangat tidak mungkin terjadi. Menara ini adalah salah satu menara yang selalu penuh dikunjungi orang. Kemudian jika dari menara Eiffel ditarik garis lurus ke arah Arc de Triomphè dan kemudian ditarik garis lurus lagi maka tarikan garis itu –katanya- akan lurus dengan Ka’bah. Kebetulan? Tidak cukup masuk logika saya, sayangnya. Kebetulan-kebetulan yang sama juga terjadi dengan BTdLA. Kebetulan map Hanum tertinggal di mobil dan ditemukan oleh seorang pemimpin demonstran antiIslam, seolah-olah map itu penting baginya, tapi pada perkembangan kisah selanjutnya map dan isinya itu ternyata tidak berarti apapun. Agak tidak masuk logika saya juga jika Azima bertetangga dengan seorang Amerika yang tidak suka pada Islam dan orang Islam setelah peristiwa 9/11, kemudian sikapnya berubah drastis setelah menonton tayangan pidato sang milyuner. Lalu secara kebetulan Rangga bertemu dengan sang milyuner karena mengajukan pertanyaan “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam” sekaligus memberi informasi tentang keberadaan Azima Hussein. Kebetulan saat Hanum diganggu oleh sekelompok anak muda di jalanan New York dan dibantu oleh seorang biarawati, yang akhirnya mereka berdua tetap saja diganggu oleh anak jalanan tersebut. Dan kebetulan-kebetulan lain yang untuk saya rasanya terlalu banyak.

Cast yang bermain dalam BTdLA ini juga tidak terlalu istimewa. Abimana tetap menjadi Abimana di situ. Saya tidak melihat perbedaan yang signifikan antara dia sebagai Rangga atau dia sebagai Wicak di film Negeri van Oranje yang saya lihat sehari sebelumnya. Acha Septriasa bermain agak lebay, maaf. Saya malah justru merasa lebih nyaman dengan acting Hannah al Rasyid yang terlihat santai berperan sebagai Jasmine. Nino Fernandez pun masih cukup menghibur sebagai Stefan walaupun kenyinyirannya sedikit berkurang. Rianti Cartwright juga masih belum bisa melepaskan image Aisha dalam Ayat-ayat Cinta dari perannya sebagai Azima Hussein dalam film ini. Pemeran-pemeran pembantu lainnya ya begitulah. Rasanya di Indonesia masih bisa didapatkan pemeran extras yang lebih baik.

Melihat keseluruhan film ini, ternyata pada akhirnya saya memang tidak bisa memberikan penilaian objektif. Mungkin karena saya pernah bertahun-tahun berada dan menjadi kelompok minoritas di Eropa dan saat peristiwa 9/11 itu saya –Islam, berkerudung, perempuan, Asia- juga sedang berada di Jerman, saya tahu betul bagaimana pandangan orang-orang terhadap Islam dan orang Islam itu terbangun. Tidak semuanya bagus, tapi tidak semuanya jelek. Yang paling banyak adalah abu-abu. Saya juga tahu betul rasanya membangun kebanggaan terhadap agama saya sendiri –Islam- di tengah gempuran berita-berita negatif tentang agama saya. Namun, saya juga tahu betul konflik batin dalam diri saya saat saya bertanya pada diri saya sendiri: Apa itu Islam? Mengapa saya Islam? Untuk apa Islam?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu bergumul dalam kepala saya yang jawabannya tidak saya temukan secara instan, atau mungkin saya tidak benar-benar temukan jawabannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman hidup saya, saya mengalami proses peyakinan, penguatan tentang apa yang saya pilih –atau dipilihkan-. Saya Islam sejak lahir dan saya memilih untuk tetap menjalaninya. Karena saya pernah menjadi minoritas itulah maka saya belajar lebih mengenal diri dan agama saya dan itu bukan proses yang mudah dan instan. Tidak seperti yang ditampilkan oleh film ini. Tidak seperti yang ditampilkan oleh trilogi yang diambil dari kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra ini. Oleh karena itu, jika harus memilih, dalam trilogi kisah ini saya lebih menyukai tokoh Stefan –orang Austria- yang atheist dan dia konsisten dengan keatheisannya, dengan sikap nyinyirnya, tetapi dia mau belajar melihat, mencoba, dan berusaha memahami apa yang diyakini oleh sahabatnya, Rangga. Begitu juga sebaliknya dengan Rangga. Relasi Rangga dan Stefan inilah yang rasanya terlihat paling realistis dalam keseluruhan trilogi.

Mungkin awalnya saya berharap terlalu banyak bahwa film ini bisa lebih mengangkat tema “pergulatan” batin seseorang di tengah wacana diskriminatif terhadap Islam. Kisah difokuskan pada satu tokoh saja, tetapi sayangnya tidak. Akhirnya yang muncul memang hanya scene-scene normatif yang membangun mimpi. Penonton tidak diajak berpikir, hanya disuapi, tanpa tahu apa yang dia sebenarnya makan. Dan mungkin saya juga tipe penonton yang memperhatikan detil –walaupun dalam keadaan cukup mengantuk- saya melihat bahwa secara teknis editing gambar sangat tidak halus, tempelan terlihat di mana-mana, angle kamera yang terlihat dilakukan dengan tidak fokus dan terburu-buru, sehingga mendapat kesan jangan-jangan pengambilan gambar dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena mungkin masalah ijin? Atau adegan saat Hanum terjatuh ketika terjadi kerusuhan saat demonstrasi juga terasa sekali dibuat-buatnya. Scene demonstrasi, kerusuhan, kepanikan saat gedung runtuh karena dibom, itu semua sangat tidak mungkin rasanya dibuat oleh seorang Rizal Mantovani yang biasanya peduli pada bahasa gambar. Dan yang paling membuat saya geli campur miris adalah scene pidato sang milyuner di sebuah tempat yang sangat dijaga ketat dan dihadiri oleh banyak orang: 5 – 6 orang berkulit putih, dan sisanya di belakang mereka berdiri orang-orang Indonesia yang rambutnya dicat pirang dan dimake up seolah-olah mereka adalah orang kulit putih. Ini jelas-jelas hanya basa basi.

Ah, saya harus berhenti, karena ternyata dari satu scene itu saja saya sudah mulai mempertanyakan: siapa sedang mendiskriminasikan siapa sebenarnya? Jangan-jangan kita yang sedang mendiskriminasikan diri kita sendiri, dengan menempatkan si kulit putih di depan kita. Jangan-jangan kita yang sedang ragu pada apa yang kita yakini dengan membabi buta membela diri, sekaligus nyinyir pada yang lain. Bukankah kita jadinya sama dengan mereka yang kita anggap nyinyir pada kita? Jangan-jangan musuh kita sebenarnya adalah diri kita sendiri? Jangan-jangan bulan itu tidak pernah terbelah, karena hanya dari bumi lah dia terlihat menjadi sabit kemudian perlahan menjadi purnama. Perspektif. Manusia lah yang memaknainya. Tergantung dari mana dia melihatnya.

Dan seperti pertanyaan yang menjadi motif utama film ini: “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam”, maka saya jutsru bertanya “Apakah film ini akan lebih baik jika saya tidak menontonnya?” Jawaban saya sayangnya tidak. Banyak hal yang dipaksakan dan sayangnya saya tidak suka dipaksa.

Bandung, 120116

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s