Athirah: Kekuatan yang Lirih (Sebuah Catatan yang Tak Pernah Terlambat)

athirah

(Sumber gambar: Media Indonesia)

Semalam saya senang juga terharu melihat Athirah menjadi film terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2016, menjadi film yang juga mendapat Piala Citra terbanyak. Saya yang memang sedang gampang terharu juga ikut terharu saat Cut Mini, Riri Riza, dan Mira Lesmana menyampaikan sambutannya dan juga merasakan perasaan gegap gempita saat semua pendukung film Athirah termasuk yang di belakang layarnya naik ke panggung untuk menerima Piala Citra bagi film terbaik tahun 2016. Siapa saya? Mengapa saya yang sebenarnya sudah tahu pula sebelumnya bahwa Athirah menjadi film terbaik sampai rela begadang untuk menyaksikan momen tersebut di televisi? Entahlah. Mungkin karena saya merasa senang karena saya telah ikut menjadi sebagian kecil dari sedikit penonton Athirah yang menyaksikan film ini di hari pertamanya tayang  di bioskop, yaitu tanggal 29 September 2016, yang layaknya menonton di bioskop pribadi. Sebelumnya seorang ibu di depan pintu masuk teater bertanya atau lebih tepatnya mempertanyakan mengapa film bagus seperti Athirah hanya ditonton oleh sedikit orang. Saat itu saya tidak banyak berkomentar karena saya belum menontonnya. Terus terang, walaupun saya penasaran, awalnya  saya juga tidak berharap banyak dari film ini. Berkisah tentang ibu dari orang nomor 2 di Indonesia, mungkin hanya sekedar biopic seperti film-film biopic kebanyakan. Namun, saya keliru.

Perlu waktu beberapa saat bagi saya untuk menyadari bahwa film ini sangat lirih. Alur cerita mengalun dengan tempo yang cukup lambat, tetapi tidak membosankan. Walaupun perlu beberapa saat juga untuk saya menyadari bahwa si Ucu baru bicara pada saat dia di sekolah mencari informasi tentang Ida. Itu pun hanya sepatah dua patah kata. Namun, itu ternyata tidak mengganggu saya, karena saya masih dapat mengikuti kisahnya. Tokoh Athirah dan tokoh-tokoh lainnya pun tidak banyak bicara. Kamera lebih banyak menyoroti piring dan mangkuk-mangkuk berisi masakan yang lezat secara berganti-ganti, menyoroti  sawah, sarung-sarung, juga sangat intens merekam sorot mata, ekspresi wajah, dan senyum Athirah, serta tokoh-tokoh lainnya. Ya, sampai film berakhir pun Athirah adalah film yang konsisten menjaga kelirihannya. Pun lewat tata suara dan scoring musik yang tidak meledak-ledak, tetapi mengalir lirih walaupun kadang temponya agak cepat.

Film Athirah bermain simbol yang dijalin dengan manis oleh seseorang Riri Riza. Simbol-simbol feminin dimunculkan lewat perlengkapan makan di meja makan lengkap dengan masakannya, dapur dan alat-alat memasak, sarung warna-warni yang sedang ditenun dan dijemur, lewat subang yang dipasang di telinga dan gelang yang dipasang di tangan, lewat gerakan-gerakan halus seorang Athirah saat berjalan dan berbicara. Athirah memang film tentang ibu. Ibu yang memberi nafas hidup seperti padi yang tumbuh di pesawahan yang berganti-ganti disorot kamera tanpa suara. Ibu yang menenun dan mempererat tali cinta dalam keluarga seperti tenunan sarung warna-warni yang indah namun kuat. Ibu yang memperkaya dan memperindah hidup seperti perhiasan emas yang indah dan dikumpulkan Athirah. Perhiasan yang justru menjadikannya begitu kuat dan berharga di hadapan suaminya yang tiba-tiba duduk merungkut mengecil di depan Athirah, perempuan yang telah tercabik hatinya karena dipoligami, namun dia tidak mau hancur di masa lalu, karena hidup adalah tentang saat ini dan nanti. Kekuatan yang disampaikan tanpa perlawanan membabi buta dan tanpa tangisan menderu dera, tetapi lirih mengalun seperti desir padi tertiup angin atau seperti lambaian sarung-sarung indah yang sedang dijemur. Riri menjalin semua itu dengan sangat baik dan dengan sangat baik juga diinterpretasikan dalam bahasa gambar dan permainan manis namun kuat dari Cut Mini dan pemain lainnya.

Tidak ada pihak yang disalahkan dalam Athirah. Athirah juga berhasil menghilangkan stereotype budaya Sulawesi yang keras: tidak ada parang, tidak ada kata-kata dan teriakan yang keras. Dalam Athirah semua berjalan seperti hidup yang juga tidak selalu mulus, tetapi tetap harus dijalani. Penonton dibiarkan menilainya sendiri, tanpa harus digurui lewat dialog atau tuturan para tokohnya. Oleh karena itu, untuk saya Athirah adalah film yang cerdas dan indah, yang membawa saya berpikir tetapi tetap bisa dinikmati.

Dan saya pada akhirnya membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk akhirnya dapat menuliskan sedikit kesan saya tentang film ini. Sudah banyak yang membuat reviewnya, saya mungkin hanya menambah sedikit catatan dari banyak catatan yang memuji film ini. Namun, tidak pernah ada kata terlambat, karena sampai pada tadi malam saya justru merasa ikut senang sekaligus bangga karena saat itu saya mengambil keputusan yang tepat segera menyaksikan film bagus ini, di saat orang-orang tidak menyadari bahwa ada kekuatan yang lirih dan indah pada film Athirah. Saat ini, barulah penyesalan datang pada mereka yang tak sempat menyaksikannya dulu di bioskop. Namun, pada akhirnya pilihan memang tetap ada di penonton untuk memutuskan film apa yang ingin mereka lihat. Seperti Athirah yang memilih tetap bertahan walaupun dipoligami, saya pun saat itu –lepas dari film ini berkisah tentang siapa- ternyata bertahan menyaksikannya sampai akhir dan keluar dengan kesan: ini film yang indah.

Bandung, 071116

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s