Bahasa, Sastra, dan Budaya: Suatu Pendekatan Multidisiplin

Dua hari ini melengkapi kebahagiaan saya. Capeknya mempersiapkan rangkaian acara kuliah umum, diskusi buku, diskusi panel plus menyiapkan makalah (yang tentu saja hasilnya amat sangat jauh dari sempurna) terbayar lunas oleh diskusi panel dengan tema di atas pada dua hari ini. Ini adalah mimpi saya dan teman-teman, yang juga berpayah-payah berusaha menjadikan rangkaian acara ini ada. Mimpi tentang jejaring kerjasama keilmuan. Mimpi tentang universitas yang bukan multifakultas.

Diskusi panel hari pertama, 29 Oktober, mengangkat tema ”Bahasa, Sastra, Budaya, dan Kesehatan”. Empat panelis menjadi pembicara dalam diskusi ini, yaitu Ari Asnani dari Jurusan Kimia Unsoed, Gani A. Jaelani dari Jurusan Sejarah Unpad, Gilang Yubiliana –dokter gigi dari FKG Unpad, dan Dien Fakhri Iqbal dari Fapsi Unpad. Kok bisa orang kimia, dokter gigi, dan psikolog bicara tentang bahasa, sastra, dan budaya di Fakultas Sastra? Bisa saja. Sesi pertama yang dipandu oleh Bima Bayusena, dosen Sastra Inggris Unpad, diawali dengan paparan yang amat sangat menarik dari Ari tentang ”Pengobatan Herba: Modernisasi Falsafah Pengobatan Kuno”. Ari memaparkan tentang tendensi pengobatan di dunia yang kembali ke pengobatan tradisional setelah melewati trend pengobatan modern –yang selalu dikaitkan dengan dokter dan obat-obatan kimia. Uraian sejarah –yang sangat lengkap- tentang sejarah pengobatan di dunia dikemukakan oleh Ari, lengkap contoh-contoh yang sangat dekat dengan keseharian. Gaya lembut Ari yang sangat njawani tidak mengurangi tegasnya kritik terhadap sulitnya mendapatkan naskah-naskah kuno juga naskah yang sudah ditransliterasi. Padahal naskah-naskah kuno, terutama yang berisi tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional, sangat diperlukan oleh para ahli biokimia sepertinya untuk penelitian dan pengembangan obat-obatan dan pengobatan alternatif. Bukan untuk menyaingi pengobatan dan obat-obatan modern, namun menjadi ”alternatif” bagi siapapun yang memerlukannya. Tugas orang sejarah dan orang-orang dari Fakultas Sastra untuk mencari dan menelitinya. Selanjutnya dilanjutkan oleh teman-teman peneliti dari jurusan lain, di antaranya biokimia, seperti Ari. Sayangnya, tradisi titen di Indonesia yang lisan, menyulitkan orang menemukan bukti tertulis yang bisa dijadikan acuan. Jikapun naskah-naskah itu ada, kebanyakan sudah dalam keadaan sangat rusak, atau dijadikan benda pusaka yang hanya bisa dibuka di hari-hari dan jam tertentu, bahkan sering diperciki air atau minyak sehingga naskah itu rusak.

Paparan Ari dilanjutkan dengan paparan Gani yang melihat isu kesehatan sebagai alat kolonialisme di Hindia. Pada saat itulah, pengobatan modern dari Eropa masuk ke Hindia. Segala sesuatu yang berbau tradisional adalah buruk, terbelakang, dan primitif. Pengobatan yang baik adalah pengobatan dari Eropa, karena identik dengan kebersihan dan higienitas. Padahal, jaman penjajahan Belanda, dokter menempati strata sosial yang rendah. Tidak ada orang Belanda yang mau jadi dokter di Hindia, karena harus berhubungan dengan segala rupa penyakit ”kotor” para pribumi. Dengan demikian Belanda bisa melancarkan proses kolonialisasinya di Hindia dengan cara menjadikan rakyat pribumi sebagai kelinci percobaan untuk menemukan obat. Dengan dokter-dokter yang dikontrol oleh Belanda pula ditentukan hidup mati, sehat sakitnya seseorang. Namun, rupanya Belanda lupa, ada banyak dokter yang tidak bisa termakan oleh praktek pecah belah ini, sehingga mereka menjadi embrio meretasnya kebangkitan nasional Indonesia. Gani juga mengkritik fenomena bergesernya strata dokter di Indonesia, sehingga eksklusifitas sangat terasa. Hal ini memungkinkan arogansi yang terbangun dan kejumawaan dokter sebagai penentu sakit sehat, hidup matinya seseorang. Akibatnya, malpraktek sangat sering terjadi di sini, juga biaya kesehatan yang sangat tinggi. Orang miskin hanya bisa pergi ke dukun dan praktisi pengobatan tradisional lain yang sering juga tak terjamin mutu dan kebersihannya.

Pada sesi ke dua, Gilang tak menampik adanya eksklusifitas itu. Walaupun ini tentu saja terjadi juga di jurusan-jurusan dan fakultas-fakultas lainnya. Eksklusifitas ini mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya komunikasi yang tidak efektif dan komunikatif antara dokter dan pasien. Akibat dari kurang lancarnya proses komunikasi ini, maka proses pengobatan pun tidak akan efektif. Waktu konsultasi yang sempit karena jumlah pasien yang banyak, relasi kuasa yang tidak setara sehingga memunculkan stereotype bahwa dokter adalah yang paling tahu, membuat proses komunikasi pengobatan antara dokter dan pasien tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Kecerdasan sosial yang ditandai dengan kecerdasan berbahasa dan berkomunikasi, sayangnya masih belum dimiliki oleh banyak dokter. Kepekaan terhadap perbedaan bahasa dan budaya dituntut dimiliki oleh setiap dokter, karena dia semestinya adalah pelayan bagi si sakit. Tanda-tanda nonverbal seperti gestik, mimik, dan benda-benda yang ada di ruang praktik dokter turut andil dalam menciptakan jarak antara dokter dan pasien. Meja yang sebatas dada misalnya, membuat jarak sosial menjadi lebih kentara, demikian juga dengan ruang praktik yang serba putih dan dengan furnitur yang kaku. Akibatnya, tak sedikit orang yang ciut jika harus ke dokter, apalagi dihantui dengan mahalnya biaya pengobatan dan obatnya. Untuk itu, penting sekali adanya kerja sama dengan para linguis dan ahli budaya untuk mengatasi hal ini, karena walau bagaimana pun ujung tombaknya adalah bahasa.

Iqbal menutup diskusi panel hari pertama ini dengan mengangkat isu kembali ke dalam diri. Diri kita sendiri yang menentukan kita mau sehat atau sakit. Imbasnya akan terasa pada cara kita merasa, berpikir, dan berperilaku. Self-awareness menjadi point yang penting. Ditawarkan beragam cara untuk mengenali diri sehingga kita bisa merdeka untuk menjalani hidup. Bahasa memang tidak akan pernah bisa mengungkap segala pikir dan rasa, tetapi hanya bahasa yang kita punya.

Diskusi pun berjalan hangat dan menarik, masih pula dilanjutkan setelah acara selesai. Jalinan kerjasama penelitian sudah ditenun.

Tema hari kedua adalah ”Bahasa, Sastra, Budaya, dan Teknologi”. Lebih tepatnya lagi mungkin Bahasa dan Teknologi, Teknologi Bahasa, karena kali ini lebih kental unsur bahasanya dibandingkan dengan bahasan diskusi panel hari sebelumnya. Kami mengundang Pak Arry Akhmad Arman dari ITB, Pak Andri Abdurrochman dari Jurusan Fisika Unpad. Dari Sastra ada Ibu Nani Sunarni, dosen Jurusan Jepang. Saya sendiri terlibat kerjasama dengan Bu Nani, sehingga kami memaparkan bersama hasil penelitian kami.

Pak Arry dengan sangat menarik memaparkan tentang perkembangan teknologi bahasa di Indonesia dan pentingnya kolaborasi dengan para peneliti bahasa. Dimulai dengan makin sempitnya dunia dan mudahnya hidup dengan bantuan teknologi, dilanjutkan dengan paparan yang menarik dan interaktif tentang teknologi text to speech dan translator yang dikembangkannya. Beberapa kemungkinan pengembangan dan penggunaan teknologi termasuk untuk membantu teman-teman tuna netra, tuna wicara, dan tuna rungu dalam berkomunikasi. Disertasi Pak Arry tentang pemodelan intonasi dalam Bahasa Indonesia menjadi modal awal untuk kerjasama membuat database suara vokal dan konsonan Indonesia (dengan petutur dari beragam latar belakang budaya di Indonesia). Indonesia adalah lahan ilmu yang kaya, yang masih sangat dalam untuk diteliti. Kerjasama dengan linguis dan pakar bahasa Indonesia tentu penting dilakukan. Namun, bukan berarti hal ini tidak pernah dijajaki. Yang terjadi pada akhirnya hanya sampai sebatas wacana, sementara negara lain sudah maju melaju di depan. Mimpi saya sebagai peminat analisis percakapan adalah adanya alat speech to text yang bisa otomatis mentranskripsikan percakapan. Bukan tak mungkin alat ini diwujudkan.

Selanjutnya Pak Andri membawakan tema emosi dalam intonasi dari beberapa pemodelan. Menarik untuk dicermati emosi-emosi yang muncul dari intonasi yang diujarkan para pelaku komunikasi. Bekerja sama dengan Iqbal dari Fakultas Psikologi diadakan triangulasi untuk keadaan emosi yang muncul dari intonasi yang sudah diukur dengan menggunakan salah satu software khusus. Software ini yang sedang dikembangkan oleh teman-teman dari Jurusan Fisika. Mereka membutuhkan orang bahasa –dan sekali lagi data base suara- untuk melihatnya dari segi satuan lingual dan aturan tata bahasa.

Bu Nani dan saya membahas tema intonasi sebagai penentu sikap. Kajian tak lepas dari kajian pragmatik untuk melihat tindak tutur dan sikap para pelaku komunikasi dari satuan lingualnya juga dari satuan nonlingual. Intonasi masuk ke dalam satuan paralinguistik, disertai dengan tanda-tanda nonverbal lain sebagai penunjang tuturan. Dengan bantuan software Praat, kami bisa mengukurnya pula secara fisis. Masukan dan tambahan berharga kami dapatkan dari Pak Arry dan Pak Andri untuk kelanjutan penelitian ini.

Acara yang dihadiri kebanyakan oleh mahasiswa ini, bagi saya menambah banyak pencerahan. Sayangnya memang -seperti biasa- sangat sedikit dosen yang hadir, tetapi teman-teman dan saya tidak mau menyurutkan langkah. Kami hanya mau melangkah, dengan mereka yang juga mau melangkah. Langkah itu sudah dimulai, walaupun kecil saja. Rasanya kemungkinan perkuliahan dan pembimbingan mahasiswa lintasfakultas sudah harus bisa diwujudkan. Pun dengan proyek besar pembuatan data base suara bahasa Indonesia insha Allah akan segera kami mulai. Demikian pula dengan kajian naskah-naskah kuno dan pelatihan komunikasi terapeutik, rasanya tidak bisa menunggu lagi. Kami harus bergerak. Melakukan hal kecil yang kami bisa lakukan dengan baik dan menjalin tali kerjasama yang erat. Saling mendukung. Harapan saya membuncah seiring dengan kebahagiaan yang memuncak.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbagi di dua hari yang mencerahkan. Insha Allah hal ini tidak akan berhenti sampai di sini dan semoga tidak hanya menjadi wacana yang lambat laun hilang seiring bergantinya hari.

Advertisements

Nesia yang Indo: Belegug Pisan

Ungkapan cenderung kasar dalam Bahasa Sunda ini (tetapi juga bisa menjadi „pengakrab“ dalam situasi informal) menjadi bagian dari judul makalah Remy Sylado untuk kuliah umum tanggal 27 Oktober lalu. Judul lengkapnya: „Ilmu Bahasa, Sastra, Budaya di Balik Kacamata Belegug Pisan“. Seniman satu ini memang benar-benar mbeling. Judul yang terbaca dan terdengar slengean dikontraskan dengan isi makalah dan kuliah umum yang bernas dan mencerahkan.

Remy –seperti terlihat dari makalahnya yang masih selalu diketik dengan mesin tik biasa- seperti biasa menilik masalah bahasa, sastra, dan budaya awalnya dari sisi etimologis untuk kemudian dikaitkan dengan situasi nyata di masyarakat. Satu nusa (dari kata ‚nuswa’) , satu bangsa (dari kata ‚wamsa’), satu bahasa (‚bhasa’) secara kesejarahan dan dalam perkembangannya tidak pernah benar-benar satu. Mungkin bisa dikatakan bahwa kita punya satu ‚nuswa’: Indonesia. Nesia yang Indo. Mungkin bisa juga dikatakan bahwa kita juga adalah satu ‚whamsa’. Tapi satu ‚bhasa’? Belum tentu. Merujuk bukunya 9 dari 10 kata dalam Bahasa Indonesia adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa, betapa kita bisa berkata bahwa Bahasa Indonesia tidak bisa diklaim sebagai satu bahasa, melainkan bahasa dengan banyak percampuran di dalamnya. Pun percampuran budaya.

Bersentuhan awal dengan Sansekerta sehubungan dengan jalinan perlintasan Hindu dan Buddha, kemudian dengan Islam dengan bahasa Arab, ilmu bahasa di Nesia yang Indo ini boleh dikatakan tidak cukup kuat berdenyut saat Barat „menurunkan“ ilmunya. Ilmu Bahasa dari Barat yang berakar kuat pada filologi dan ’technike grammatike’-nya Yunani menjadi pegangan orang Belanda untuk melepaskan benang merah sejarah dengan bahasa Sansekerta. Aturan tata bahasa yang ketat menjadi acuan „Bahasa Indonesia yang baik dan benar“ saat ini. Aturan tata bahasa ini pula yang diajarkan di sekolah-sekolah, sehingga mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang amat sangat tidak menarik. Hasilnya? Bahasa Indonesia saat digunakan tetap saja tidak pernah menjadi „baik dan benar“.

Namun, perlukah bahasa yang „baik dan benar“ saat bahasa digunakan dalam proses komunikasi? Bahasa sebagai parolè, bukan langue. Perlukah kita berbahasa Indonesia “yang baik dan benar”, sehingga komunikasi “bisa agak terganggu” dan membuat orang mengerutkan kening? Jawabannya: terserah Anda. Klaim ini yang benar, itu salah, menurut hemat saya bisa menyesatkan, karena bisa menjebak kita pada praanggapan, yang belum tentu benar -dan belum tentu salah juga-. Remy mengemukakan ide penggunaan bahasa yang bernas dan indah. Tepat konteks: waktu, tempat, dan sasaran.

Gejala yang menarik –sekaligus juga menyedihkan- adalah penggunaan bahasa yang centang perenang dengan logika bahasa yang tak terperhatikan (atau tidak diperhatikan?!). Penggunaan bahasa asing yang tidak tepat demi mengatasnamakan gengsi dan kekerenan, membuat bahasa Indonesia –alih-alih bahasa daerah – lambat laun, pelahan tapi pasti semakin halai balai. Perlukah menyalahkan generasi muda yang –katanya- menjadi pengusung “kekacauan bahasa” di Indonesia? Tidak juga. Menurut saya, semua bidang punya andil. Semua orang dan sistem menjadi pelaku. Semua pihak mendukung kekacauan ini.

Lalu, apakah kita juga harus dan bisa mengabaikan arus masuknya bahasa dan budaya lain yang semakin besar? Saya rasa tidak. Saya bersetuju pada penggunaan bahasa yang bernas dan indah itu. Bukan baik dan benar. Bernas sehingga mudah dipahami, tetapi tetap indah, sehingga tak bikin sakit hati. Saya pun bersetuju pada penggunaan bahasa yang tepat konteks dan sasaran. Bukan hal yang mudah, menurut saya ini adalah kecerdasan tingkat tinggi. Kecerdasan berbahasa. Jadi bagaimana? Tentu tidak (bisa) menutup diri dari bahasa dan budaya asing yang menggempur. Terima, tapi lakukan dengan benar. Caranya? Jadi diri sendiri, tetapi tidak kurung batokeun.

Begitu sekilas diskusi menyusul kuliah umum yang berjalan dengan indah, hangat dan penuh semangat  pencerahan. Keberagaman tetap dijaga, tanpa merecah kebersamaan. Minimal kita masih satu nuswa dan satu wamsa. Walaupun mungkin wajar jika kemudian muncul pertanyaan, Indonesia yang mana? Bangsa Indonesia yang mana? Bahasa Indonesia yang mana? Tentu bukan Indonesia yang bangga dengan penyakit bangga jika bisa berbangga dengan segala hal yang berbau luar Indonesia. Mungkin seperti Nesia yang Indo-nya para pesohor di TV, yang dibuat untuk membuat orang membuat dirinya menjadi Nesia Indo yang tidak Indonesia. Lho, kan namanya juga Indo. So what gitu loh. Plis dong ah. Nah, kata Remy (bukan kata saya), hal itu adalah belegug pisan.

Bandung, 28 Oktober 2008

Post Scriptum: Kuliah umum berikutnya, 3 November 2008, dari Ignas Kleden: Kontribusi Bahasa, Sastra, dan Budaya terhadap Perubahan Sosial Budaya“.

Bu Brincker

„Innalillaahi wa inna ilaihi raajiun. Telah meninggal dengan tenang Uwa Kenty Brincker pada hari ini pukul 10.11 di Bonn. Mohon dimaafkan semua kesalahannya.“ Demikian bunyi sms yang saya terima semalam saat saya sedang bertelefon dengan seorang teman dan suasana hati saya saat itu sedang senang. Kaki saya langsung lemas dan jantung terasa berhenti berdetak. Sesaat saya diam. Namun, entah mengapa, saya tidak terlalu sedih. Ada kelegaan dan senang menyelinap dalam rasa. Aneh? Tidak, saya lega dan senang karena Uwa -demikian saya biasa memanggil perempuan yang meninggal di usia 76 tahun itu- sudah lepas dari beban yang selama ini ditanggungnya. Lega dan senang karena keinginan dan mimpinya bertemu Allah sudah tercapai. Lega dan senang yang aneh karena tahu bahwa Uwa justru tidak akan sendiri lagi. Akan ada banyak malaikat yang menemaninya.

Saya mengenalnya tahun 1997. Direkomendasikan oleh salah seorang sahabat saya. Dan saya langsung memanggilnya Uwa. Dan saya langsung menjadi „anaknya“. Dan saya langsung merasa ada di rumah. Di Bonn Mehlem. Di appartment mungilnya yang masih saya ingat detil ruang dan letak barang-barang di sana. Dan setiap akhir pekan kami lewati bersama selama setahun penuh. Saat libur bisa berhari-hari menginap di rumahnya. Berbincang banyak. Berjam-jam.

2001 saya kembali lagi. Ke Jerman adalah ke rumahnya. Rumahnya sudah pindah. Masih di Mehlem, hanya berbeda jalan. Lebih besar. Dengan situasi yang sudah berbeda. Berkumpul kembali dengan suami yang dicintainya dan dirawatnya. Bersama kembali dalam satu rumah, beda kamar, hanya karena masih terikat secara hukum negara. Namun, cintanya pada Allah melebihi semuanya. Dia lebih rela „berpisah“ dengan lelaki yang telah menemani pengembaraan hidupnya di berbagai belahan bumi.

2003 saya juga kembali lagi. Tentu saja, kembali juga ke rumahnya. Menemuinya. Kali ini di Siegburg. Rumah besar yang nyaman. Ditinggalinya sendirian. Sang suami sudah mendahuluinya. Kembali bercerita panjang lebar, pada malam-malam dingin atau pagi-pagi yang hangat. Memasak bersama di dapurnya yang mungil. Berdiskusi panjang lebar tentang hidup, Tuhan. Juga kematian. „Uwa ingin dimakamkan di Indonesia“, begitu katanya selalu. Saya maklum. Amat sangat maklum.

Awal 2006 keinginannya untuk pulang ke Indonesia terkabul. Bahagia dan senang sekali dia. Setiap saat saya diberitahu sedang apa dia di Indonesia. Orang tua saya sempat bertemu dengannya. Itu satu keharusan, karena dia sudah menggantikan orang tua saya selama saya di Jerman.

Pertengahan tahun 2006 saya juga kembali mengunjunginya. Kali ini untuk berpamitan, karena saya akan pulang ke Indonesia. Dia sudah di Bad Godesberg, di Röntgenstrasse. Appartement yang baru ditinggalinya, karena Siegburg terlalu jauh dari Bonn, tempat anak bungsunya tinggal. Dan seperti biasa, dia akan menyediakan semua makanan kesukaan saya. Pagi itu kami membuat jus apel+wortel yang di kemudian hari menjadi minuman favoritnya.

Dan itu ternyata pertemuan terakhir kami. Dia yang tidak suka perpisahan, selalu terburu-buru, begitu pula saat mengantarkan saya ke Bonn Hauptbahnhof. Dan itu ternyata kali terakhir kami makan bersama di restoran Turki di Bonn Hbf. Itu ternyata waktu terakhir kalinya saya mengendarai mobil Nissan warna merahnya. Dulu mobilnya hijau. Mobil kecil yang selalu hilir mudik ke sana ke mari, mengantar jemput jamaah pengajian, mengantar orang sakit, mengantar orang pindahan. Itu semua dilakukannya di usia senja, di saat orang seusianya mungkin sudah tidak bisa melakukan apapun. Dia masih sigap. Dan saat itu ternyata jadi pelukan kami terakhir juga lambaian tangan terakhir saat dia melepas saya kembali ke Bayreuth untuk kemudian terbang pulang beberapa hari kemudian ke Indonesia, tanah air yang begitu dicintainya, walaupun dia sudah menjadi warga negara Jerman.

Kontak masih kami lakukan lewat sms. Sayang, saya tidak ada saat dia menelfon saya untuk membalas sms ucapan selamat ulang tahun dari saya untuknya Juli lalu. Sms selamat idul fitri saya untuknya juga harapan semoga dia sehat selalu tak dibalasnya. Baru hari ini saya tahu, bahwa dia sudah terbaring sakit di rumah sakit selama Ramadhan. Sampai kemudian sms duka (atau suka) itu saya terima.

Jika tiba-tiba sekarang saya merasa sedih, itu hanyalah keegoisan saya. Karena saya tidak akan pernah menerima lagi perlakuan sayang dan istimewa darinya. Masakan dan kue yang lezat. Tempat tidur yang hangat. Fasilitas antar jemput. Bincang-bincang yang hangat. Juga pelukan yang erat. Saya tidak akan lagi bertemu sosok mungil yang menanti atau mengantar saya di dan ke Bahnhof. Menyuruh saya bergegas karena takut terlambat. Duduk menemani saya sampai kereta datang kemudian melambaikan tangan sampai kereta yang saya tumpangi tak bisa dilihatnya lagi. Saya tidak akan mendapatkan keistimewaan itu lagi. Karena sekarang, dialah yang patut mendapat keistimewaan amat sangat dari Sang Maha Istimewa. Dia yang dijemput dan diantar menghadapNya. Tentu di stasiun yang paling indah. Mendapat hidangan yang paling lezat. Peraduan yang paling hangat. Juga dekapan yang paling erat. Sepantasnya kah saya sedih jika dia sekarang mungkin sedang tersenyum lega? Senyum dan tawa yang paling lepas dari yang pernah dia lepaskan dari bibirnya. Karena keindahan sejati sekarang menjadi miliknya.

Jika sekarang saya sedih, itu semua karena ingatan saya pada semua hal dan saat-saat indah dengannya, yang tidak akan pernah terulang lagi. Bukan pada kematiannya. Selamat jalan, Uwa. Wilujeng angkat. Doa saya selalu untuk kelapangan dan keindahan jalanmu di sana.

Basi

Berhasil = uang? Pertanyaan basi sebetulnya. Tentu saja jawabnya tidak. Atau mungkin memang ya. Berhasil = uang. Untuk saya jawabnya kadang-kadang ya, kadang-kadang tidak. Tergantung situasi. Kalau saya sedang butuh uang dan berhasil mendapatkannya, maka jadi ya. Jika tidak –terlalu- butuh (dan itu bohong juga), maka jawabannya bisa tidak.

Jadi apa arti keberhasilan untuk saya? Seringnya bermakna lebih kepada sesuatu yang membuat saya senang dan bahagia. Dan lagi-lagi jawabnya tidak hanya uang. Dan seringnya justru bukan uang. Bohong juga kalau saya bilang saya tidak senang dapat uang. Namun, rasanya berbeda dengan saat melihat pupil mata mahasiswa-mahasiswa saya membesar, senyum mengembang di wajah mereka karena mengerti apa yang saya terangkan (ini keberhasilan besar, karena sering juga mereka mengerutkan kening), atau saat saya menerima kabar bahwa mahasiswa-mahasiswa lulus ujian atau mendapat beasiswa atau mendapat pekerjaan atau apapun. Atau bahkan saat mahasiswa saya membuat ”konferensi pers” dengan saya dan teman-temannya, memberitahukan bahwa dia akan menikah dengan teman sekelasnya yang menjadi murid saya juga (yang ini lucu sekali, saya tiba-tiba jadi merasa tua dan ibu-ibu banget, karena orang tuanya pun bahkan belum dia beritahu). Ya, hal-hal kecil semacam itu.

Bagaimana dengan –katakanlah- jika saya lulus ujian, atau mendapat tambahan ”gelar” (duh), atau tambahan pekerjaan atau berhasil menyelesaikan makalah atau terjemahan (ini keberhasilan juga, karena saya bukan orang yang tekun menulis)? Keberhasilan yang membuat saya senang, walaupun rasanya tidak meledak-ledak seperti rasa jika melihat mahasiswa-mahasiswa saya berhasil.

Lalu? Keberhasilan untuk saya adalah jika saya berhasil membuat orang lain senang dan berhasil. Basi sekali ya?! Ya, disesuaikan dengan judulnya yang basi. Jadi saya menuliskan ini pun hanya basa-basi.