Pulang atau Tidak Pulang? Itulah Pertanyaannya

Pertanyaan di atas rasanya sudah akrab di telinga orang yang hidup jauh dari rumahnya, terutama yang hidup jauh dari tanah air dalam rentang waktu yang cukup lama, entah karena harus bekerja atau sekolah. Pertanyaan seperti itu biasanya muncul di saat-saat menjelang masa kontrak kerja selesai atau masa studi sudah hampir berakhir. Saat itu biasanya tiba-tiba saja ada banyak tawaran yang menggiurkan untuk tetap tinggal. Saat itu biasanya ada semacam keinginan untuk tetap tinggal, tetapi di lain pihak, ada juga keinginan serta „keharusan“ untuk pulang. Hal ini membuat orang dihadapkan kepada pilihan yang sulit: pulang atau tidak pulang.

Weiterlesen

Berani

am beispiel meines bruders

Setelah berbulan-bulan, di antara berbagai macam kesibukan, akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca roman autobiografi „Am Beispiel meines Bruders“ dari Uwe Timm. Berkisah tentang usaha Timm „melacak“ masa lalu dan identitas dirinya lewat buku harian sang kakak yang meninggal di garis depan saat NAZI berusaha menginvasi Rusia.

Dituturkan dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti, alur waktu yang maju mundur, ditambah dengan cuplikan-cuplikan dari buku harian sang kakak, membuat roman ini sangat menarik untuk dibaca, membawa saya seakan ikut menelusuri jejak yang sedang ditelusuri Timm. Emosi saya ikut terbangun saat Timm berusaha mengumpulkan ingatannya tentang sang kakak yang hanya dia lihat langsung selama beberapa tahun pertama hidupnya. Ingatan selanjutnya dia kumpulkan dan susun dari ingatannya tentang ibu dan ayahnya, kakaknya, tentang keluarga mereka, dari buku harian sang kakak, satu-satunya peninggalan saat dia gugur. Bermula dari situ, Timm kemudian menelusuri jejak sang kakak dengan mengunjungi kota-kota yang disebutkan dalam buku harian yang ditulis dengan kalimat tak lengkap, tetapi lengkap dengan nama tempat dan waktu. Dengan datang ke tempat-tempat yang disebutkan itu, Timm berusaha merasakan apa yang dirasakan dan dialami sang kakak saat berada di sana.

Weiterlesen

Ingat dan Lupa

Salah satu mata kuliah yang saya ikuti semester ini adalah „Deutsche Erinnerungskultur“. Masalah mengingat dan melupakan. Masalah yang jadi bagian hidup. Ingat dan lupa. Menarik sebenarnya.

Selain itu dibahas juga tentang „rasa bersalah“ atas „kesalahan kolektif“ yang dibuat oleh orang-orang Jerman (siapakah „orang-orang“ di sini?!) dengan holocaust-nya di jaman NAZI. Rasa bersalah. Menarik juga. Tema keseharian juga.

Pertanyaan saya adalah: perlukah „rasa bersalah“ itu dibuat dan dibesar-besarkan? Batasan kesalahan kolektif itu apa? Lalu sampai mana sebenarnya orang bisa dan perlu mengingat? Apakah ada gunanya mengingat atau tidak mengingat „kesalahan kolektif“ tadi? Implikasi ke depannya apa? Apa yang terjadi sekarang jika orang –katanya harus- mengingat?

Weiterlesen

Mulai lagi

Mulai lagi dari awal memang gampang-gampang susah. Setelah http://dian.or.id tiba-tiba hilang tak berbekas, bahkan data base-nya pun terhapus, mulai lagi deh membenahi dari awal. Mau protes dan complain minta uang kembali termasuk kerugian immateril yang tidak terhitung dengan uang? Ngga ada gunanya. Jadi lebih baik mulai dan membenahi lagi dari awal. Sekalian belajar. Ngga rugi kok. Mungkin memang lebih enak pakai yang gratisan begini. Siapa tahu service-nya malah lebih baik karena menyangkut „hajat hidup orang banyak“ :)
Kata seorang teman, inilah suka dukanya. Ya, saya ngerti kok. Ngga pakai acara „merajuk“ dan mogok nulis. Jadi, from this moment, saya mulai lagi

„Saya Punya Pacar. Sesama Jenis“

Bagaimana rasanya jika sahabat Anda, sangat dekat, yang rasanya Anda kenal dan ketahui sampai ke dalam-dalamnya, suatu saat berkata kepada Anda: „Saya punya pacar. Sesama jenis.“ Apa yang Anda rasakan? Apa yang akan Anda lakukan?

Perasaan apa yang muncul, ketika dia bercerita bagaimana tertekannya dia? Bagaimana bertahun-tahun dia menyembunyikannya tidak saja dari Anda, tetapi juga dari semua orang? Ketika dia merasa telah membohongi Anda sedemikian rupa. Tidak hanya Anda, tetapi juga membohongi dirinya sendiri? Ketika semua beban dan rahasia yang selama ini disimpannya sudah tidak sanggup ditanggungnya lagi?

Weiterlesen

Seandainya

Saya membayangkan seandainya Nabi SAW yang mulia masih hidup saat peristiwa pengarikaturan dirinya terjadi. Apa yang akan dilakukannya? Akankah beliau marah dan langsung memberikan perintah perang? Bertindak anarkis?

Yang terbayang oleh saya adalah beliau tersenyum dan berkata „Biar Allah sajalah yang menjadi penolongku“. Tersenyum, seperti yang selalu beliau lakukan saat orang-orang menghinanya, mengejarnya, bahkan saat pedang hendak dihunuskan untuk membunuhnya.

Ah, beliau yang mulia, mungkinkah beliau malah menangis melihat umatnya menjadi anarkis karena „membela“ dirinya?  Sedangkan tawaran sang Jibril pun ditolaknya, karena tidak akan pernah ada yang bisa menolong selain Sang Maha Penolong. „Biar Allah sajalah yang menjadi penolongku“.

Lalu, kenapa umatnya tidak bisa mengendalikan nafsu yang sengaja dihembuskan tepat pada titik terlemah manusia?

Bayreuth, 060206

22:52

Belajar dari Konflik

Aduh ibu Dian, nyatanya galak juga yaa, sampe murid keluar kelas gitu. Ah, memang hidup ini manis banget, banyak sekali hal yang masih kita bisa pelajari dan alami. Gue rasa, konflik kamu sama dia bisa berakhir dengan baik. „Konfliktfähigkeit“ memang sebuah resep yang sering manjur guna mengejar kemajuan. Ich wünsch Dir dabei viel Mut und Glück!

Begitu email yang saya terima di awal pekan ini, setelah sebelumnya saya sempat bercerita kepada teman saya yang menulis email tersebut bahwa saya hari itu marah di kelas kepada salah seorang mahasiswa saya di kelas Bahasa Indonesia. Rasanya, sepanjang menjalani pekerjaan dan hobby mengajar saya selama hampir 11 tahun, baru saat itu saya benar-benar merasa marah sampai wajah saya pun terasa panas. Mengapa? Mahasiswa saya tersebut tidak masuk pada minggu saya menerangkan tema asimilasi pada awalan “meN-“ dalam Bahasa Indonesia. Saya sudah memberinya bahan dan berkata padanya bahwa jika dia ingin bertanya silahkan datang pada saya. Hari itu, ketika saatnya latihan, saya pun masih menerangkan ulang bahasan tema tersebut dengan singkat. Maksud saya, agar mahasiswa tersebut tahu dan mahasiswa yang lain pun tidak lupa. Jika saya terangkan dengan detil, untuk mahasiswa lain mungkin akan membosankan.

Weiterlesen