Buku

Buku. Mengapa buku? Ketika waktu sudah terasa bergerak sedemikian cepat, memaksa manusia untuk selalu bergegas-gegas berpacu dengannya. Ketika semua hal bisa hadir dalam sekelebat kejap, masihkah kita mau duduk menekuni jalinan huruf yang memintal kata dan menenun kalimat? Mengarungi samudra dan melayang dengan imaji khayal atau merenungi dan mengurai jaring-jaring yang rumit? Saya masih mau. Saya masih mau mengarungi samudra kata-kata itu. Saya masih mau terbang dengan kalimat-kalimat itu. Saya masih mau merenungi dan mengurai jalinan rumit dari tenunan kata dan kalimat itu. Walaupun saya sering tidak cukup sabar, tapi saya masih mau.

Buku. Mengapa buku? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya selalu bisa dengan mudah digodanya. Untuk hal ini, maaf, saya tidak bisa untuk tidak tergoda. Saya merelakan diri saya digoda. Godaannya memang manis. Mampu membawa saya terbang melayang, berenang bebas. Membuat saya merasa ada di surga jika saya dikelilinginya.

Suatu ketika, saya berada di suatu tempat yang disebut orang sebagai „rumah“. Entah kenapa saya merasa ada yang hilang. Saya perhatikan sekeliling, rasanya semua lengkap untuk membuat tempat itu bisa disebut „rumah“. Namun, bagiku tetap ada yang hilang. Saya tidak merasa ada di rumah. Beberapa jenak saya perhatikan apa yang hilang. Ah, tidak ada rak buku dan buku-buku! Ternyata untuk saya rumah adalah dikelilingi buku-buku. Jadi, mengapa buku? Karena buku adalah rumah bagi saya.

Bayreuth, 221005

08:23

Advertisements

Satu Bintang di Langit Kelam

sbdlk

Angkasa tanpa pesan
Merengkuh semakin dalam
Berselimut debu waktu
Ku menanti cemas

Kau datang dengan sederhana
Satu bintang di langit kelam
Sinarmu rimba pesona
Dan ku tahu tlah tersesat

 

Ku kejar kau tak kan bertepi
Menggapaimu tak kan bersambut
Sendiri membendung rasa ini
Sementara kau membeku

 

Khayalku terbuai jauh
Pelita kecilmu mengalir pelan
Dan aku terbenam

 

Redup kilaumu tak mengarah
Jadilah diriku selatan
Namun tak kau sadari hingga kini
Dan nanti

 

(Dewi Lestari – Satu Bintang di Langit Kelam)