Generasi Biru

Gerombolan pria muda berbondong-bondong menuju lapangan, mengusung bendera berlambangkan tulisan berbentuk kupu-kupu, gambar berubah cepat ke animasi kepala sekaligus wajah bulat telur, bergerak cepat lagi ke gambar wanita-wanita dengan tubuh meliuk-liuk, seorang wanita muda duduk memegang kertas dengan tanda „?“ yang besar. Di belakangnya ada kertas-kertas dengan simbol-simbol bahasa isyarat. Didominasi dengan musik-musik keras milik kelompok Slank. Beberapa lagunya saya kenal –dan saya suka :)-. Dokumentasi konser Slank di Tomir Leste 2 minggu setelah insiden penembakan Presiden Ramos Horta seolah menjadi video klip untuk lagu-lagunya yang cukup populer. Wajah-wajah lelaki penuh harap, sampai menangis menyanyi dengan emosional: „Ku tak bisa jauh, jauh darimu…“. Kerumunan penonton membawa poster bermacam tokoh dari mulai Pangeran Diponegoro sampai Mozart, dari Mother Theresa sampai Megawati. Gambar beralih cepat-cepat. Dokumentasi kejadian Mei 1998, ditingkahi lagi dengan animasi, disambung dengan tokoh „tak (bersuara) jelas“, teater: perempuan yang meliuk-liuk, dan ikut meliuk-liuk pula Nadine Chandrawinata. Hai! :)

Begitu terus. Yang terasa oleh saya: kekerasan yang melelahkan dan tentu saja pertanyaan: maunya Garin sekarang apa? Saya banyak tidak mengertinya, selain film ini menurut saya mungkin dimaksudkan untuk membuat Momentaufnahme dari „secuil“ sejarah Indonesia (?) sejak reformasi dan setelahnya, fragmen-fragmen peristiwa di Timor Leste, perjalanan karier dan hidup (?) kelompok Slank lengkap dengan kisah kecanduan dan overdosis narkoba, lagu-lagunya yang suka nyleneh tapi kadang puitis dan mengena ke hati (ternyata lumayan banyak juga lagu-lagu Slank yang membuat kaki saya bergoyang-goyang), sosok Bunda Iffet, para Slankers, animasi yang lucu tapi kejam, dan akhir film yang justru mengingatkan saya pada salah satu iklan rokok yang juga mengusung jargon Generasi Biru.

Dari kesemua kesan tadi, kesan terakhir malah menjadi kesan yang paling kuat bagi saya. Saya curiga, jangan-jangan iklan rokok nih, walaupun saya tidak berhasil mengingat apakah ada unsur-unsur iklan rokok di film itu. Ah, tapi saya yakin, Garin tentu cerdas menutupinya. Itupun kalau memang ada pesan sponsor di belakangnya. Ngomong-ngomong, ulasan lebih cerdas dan lebih ilmiah tentang film ini bisa dilihat di Kompas Minggu tanggal 8 Maret 2009. Tulisan Bambang Sugiharto. Di sini saya hanya menuliskan impresi saya terhadap film tersebut dan diskusi yang berlangsung seru dengan Garin Nugroho.

Pada sesi diskusi yang berlangsung santai dan penuh tawa ini, saya merasa Garin bisa merangkum 3 materi tentang filsafat manusia yang diberikan sebelumnya: Zoon Logon Echon, Homo Faber, dan Homo Economicus. Mungkin bisa juga jadi pengantar untuk materi minggu depan: Homo Necans. Kritik yang diungkapkan Garin lewat film-filmnya -yang sering tidak dimengerti, karena banyak bermain dengan simbol-, pesan-pesan sosial, spiritual, dan kemanusiaan, mungkin mewakili kemanusiaan dan ke“nabi“annya. Iklan-iklannya yang masih juga indah dan estetis mewakilinya sebagai seorang Homo Economicus. Video klip dan karya-karya kreatif lainnya menunjukkan dia sebagai seorang Homo Faber. Homo Necans? Garin rasanya jadi „pembunuh“ yang cukup berani dan brutal. Dia bilang, dia meminta pemainnya dalam film „Opera Jawa“ menjahit tangannya sendiri. Garin menyiratkan dan menyuratkan. Untuk saya dalam beberapa hal dia jadi seorang satiris yang kesepian dan penuh kemarahan. Apakah masih ada optimisme dan hidup yang cerah padanya? Tentu saja. Untuk apa ditampilkan Nadine, Monica Oemardi, Cut Rizki Theo, Maudi Koesnaedi, Artika Sari Devi atau Lulu Tobing dalam film-filmya? Menurut Garin, tanpa motivasi. Menurut saya, walaupun kadang jadi sekedar tempelan, seperti penampilan Nadine dalam film Generasi Biru tadi, hal itu bisa jadi menunjukkan sisi „kemanusiaan“ Garin yang lain. Seperti yang diakuinya: „Saya haji, dan laki-laki. Butuh sesuatu yang indah, tanpa motif yang jelas“.

Diskusi dengannya menurut saya lebih menarik dibandingkan filmnya itu sendiri. Walaupun film, pun teks-teks yang lain, menjadi lebih berwarna dengan tafsiran penonton atau pembaca, tetap menyenangkan jika mendengarkan cerita dibalik ide dan kreatifitas pembuatnya. Beberapa ide dan pendapatnya menurut saya menarik, banyak juga yang berlebihan. Cenderung narsis dan sombong, over confident, tapi sekaligus kesepian. Dan marah. Saya baru sadar, bahwa di banyak film-nya Garin marah. Sangat marah. Marah entah pada dirinya, yang selalu dicap aneh dan tukang membuat film yang sulit dimengerti, entah pada „dunia“, entah pada siapa. Ah, tapi manusia kan wajar juga jika marah dan marah perlu pelampiasan. Sublimasi kemarahan lewat karya kreatif seperti yang dilakukannya tentu lebih berguna dibandingkan dengan marah-marah tak jelas tanpa ujung pangkal jadi anarkis.

Namun lepas dari itu semua, saya senang telah menghabiskan Jumat malam kemarin di ruangan yang penuh di Jl. Nias. Merefleksikan apa yang terjadi Jumat pagi di satu tempat di Jakarta, yang saya lakukan siang harinya di Jl. Supratman, dan merangkum dengan indah di Jl. Nias. Saya disadarkan kembali pada pentingnya menghargai „ketidakmengertian“ sebagai awal proses pembelajaran dan perbaikan diri serta kemanusiaan dari waktu ke waktu.

Advertisements

Homo Economicus

Baru pada pertemuan kemarin saya merasa tidak bisa mengikuti tema kuliah yang diberikan. Homo Economicus. Entah karena memang bahasannya cukup sulit dan teknis, atau sayanya saja yang memang ngga mudeng. „Tetangga“ sebelah saya duduk pun mengatakan hal yang sama. Maklum, kami –saya khususnya- masih belum sampai taraf bisa mencerna bahasa para filsuf yang benar-benar filsafat. Tetap harus disederhanakan. Jadi, sambil terkantuk-kantuk saya ikuti kuliah kemarin malam.

Tema pembahasan kuliah kemarin sebetulnya menarik, tentang manusia yang mengatur rumah tangganya sendiri. Pada perkembangannya, asumsi tentang homo economicus ini berkisar pada keegoisan, keserakahan, dan materialistis. Tujuan akhir adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan usaha yang sekecil-kecilnya. Dan pada perkembangannya pula –terutama dengan perkembangan ilmu ekonomi- ciri esensial dari homo economicus ini tidak lagi berkisar pada egoisme dan keserakahan, melainkan pada daya rasionalitas yang tinggi, yang ditunjukkan oleh kemampuan menyusun keinginan secara konsisten dan lengkap serta kemampuan untuk mengetahui segala cara yang tersedia untuk memuaskan keinginan sang homo economicus ini.

Sampai titik itu bisa saya pahami, keterangan selanjutnya tidak terlalu dapat saya tangkap, terutama saat pembahasan dikaitkan dengan „egoisme gen“. Pusing, hehe. Saat diskusi, saya heran, karena pemberi materi seolah-olah bersikap defensif dengan pertanyaan-pertanyaan peserta dan begitu pula sebaliknya. Bagi saya pribadi, sampai batas tertentu saya bersetuju dengan pemahaman terakhir terhadap homo economicus, bahwa dengan daya rasionalitas dan keinginan yang dikerjakan dengan konsisten, manusia bisa memuaskan keinginannya. Sampai batas tertentu. Karena saya tetap percaya pada batasan moral, rasa, dan takdir. Namun, tidak berarti pula hidup jadi berarti jadi bukan tanpa usaha. Hmm, apa lagi ya? Hari Senin besok saya diminta bicara di Fakultas Ekonomi tentang content analysis. Untungnya saya diperbolehkan (harus malah :)) melihatnya dari bidang saya: bahasa dan budaya. Gott sei Dank! Hehehe. Mungkin saya juga bisa sambil belajar lebih lanjut tentang homo economicus ini.

Kuliah minggu depan: pemutaran dan diskusi film “Generasi Biru“ dengan Garin Nugroho.

Homo Faber

„Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain“. Untuk saya rasanya tepat juga jika manusia memang disebut makhluk yang bekerja. Sang pe(ng)rajin. Homo Faber. „Manusia Tukang” menurut Prof. Alex Lanur. Bekerja menjadi tanda kemanusiaan manusia. Bekerja untuk memanusiakan manusia. Bekerja pula yang membedakannya dengan makhluk lain. Manusia bebas bekerja dan sekaligus juga bebas berdiri dengan pendirian.

Dengan struktur tubuh dan akal budi yang sedemikan mengagumkan, manusia menjadi “tuan” atas tubuhnya. Dengan dan melalui tubuhnya pula, dunia bisa „dikuasainya“. Namun, apa itu pekerjaan manusia? Jikalau kita lihat ke asal muasal kata labor yang bermakna kelelahan dan keletihan, apakah bekerja berarti berlelah-lelah, berpayah-payah hingga letih? Apa makna bekerja dan pekerjaan? Apakah hanya sebatas mengubah benda-benda dengan menggunakan tubuh dan alat-alat atau sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya? Setelah itu apa? Berkeluh kesah karena kebutuhan tak pernah cukup terpenuhi? Atau bekerja lebih giat dan lebih keras untuk terus memenuhi kebutuhan yang tak pernah kian cukup? Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Klise betul.

Dan dalam pekerjaan itu nyatanya ada unsur-unsur subyektif seperti pikiran, kehendak, tindakan, dan kemampuan tertentu yang ada pada setiap manusia yang bekerja. Pun ada unsur-unsur obyektif dari bahan, materi, alat yang digunakan untuk bekerja. Pada akhirnya tidak ada pekerjaan yang lebih „mulia“ dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya, karena sifat pekerjaan itu selalu komplementaris. Yang satu membutuhkan yang lainnya. Ketergantungan. Termasuk ketergantungan pada Tuhan, karena pekerjaan –selain berdimensi objektif dan sosial – juga memiliki nilai yang sangat pribadi dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Maka menjadi penting jika pekerjaan diintegrasikan ke dalam kehidupan beragama. Bekerja adalah ibadah. Begitu mungkin kata para alim ulama. Bagaimana implementasinya? Sudahkah? Benar demikiankah? Ayo ah, lebih rajin, lebih ikhlas dan lebih mencintai pekerjaan kita :)

„Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain“.

Tema kuliah minggu depan: Homo Economicus.

Zoon Logon Echon

Unik. Manusia adalah binatang yang bernalar: Animal Rationale. Makhluk yang dengan keterbatasan fisiknya menggunakan nalar untuk mekanisme pertahanan dirinya. Makhluk yang dengan fenomena „kesadaran“nya memungkinkan dia sadar bahwa dia sadar, memungkinkannya berpikir tentang berpikir, dan membuat tafsiran atas tafsiran. Iseng betul. Dengan „keisengannya“ itu manusia membuat konsep-konsep abstrak berlapis-lapis, abstraksi atas abstraksi, makna atas makna: atas nama bahasa dan logos. „„en arche en ho logos“ . Dan bukankah Dia mengajarimu dengan perantaraan kalam? Untuk membaca dan bernalar. Pun ketika pada akhirnya nalar dan pikir manusia bukan lagi sekedar digunakan untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Atas nama rasionalitas, dipikirkanlah bagaimana manusia bisa hidup dengan memuaskan dan semakin lebih memuaskan. Menyiasati akal budi dan rasio untuk menemukan arah hidup, mengoreksi, dan mengubahnya, agar semakin sesuai dengan pulling factor dari sesuatu yang ideal dan diidealkan. Namun, bukankah rasionalitas pun jadi beririsan erat dengan irrasionalitas? Ketika bahasa, kepentingan, dan skema ontologis tertentu membentuk beragam pola logika, sehingga semua hal menjadi tampak rasional (dan mungkin juga memang rasional).

Itulah hebatnya manusia, mencari terus kebaikan dan perbaikan nalar dan akal budinya. Dengan mempertajam rasionya. Pemikiran-pemikiran religius besar, penemuan-penemuan spektakuler, penciptaan-penciptaan kreatif termungkinkan dengan memainkan rasionalitas spekulatif dan praktis yang dimilikinya. Tak betah hidup dalam pengulangan rutin dan selalu membutuhkan pembaharuan, namun membutuhkan kepastian dan pola-pola tetapan sehingga seringkali takut pada perubahan. Apalagi perubahan yang menjatuhkan. Liar sekaligus butuh kenyamanan. Dogmatis yang pragmatis. Dan alur evolusi menjadi tampak menarik akibat dialektika spekulatif – praktis ini. Jika secara fisik kondisi manusia semakin lama semakin menurun, alangkah ruginya jika tidak diikuti dengan membaiknya kondisi mental, nalar, dan akal budinya.

Lalu, di manakah rasa dan hati nurani? Hmm, sepertinya otak kiri harus mulai diseimbangkan dengan otak kanan. Toh memelihara imajinasi akan membuat kita tetap rasional kok. Dan ngomong-ngomong, saya senang dan bersyukur jadi manusia yang bisa ikut ECF ini lagi, setelah setahun libur. Refreshing setiap Jumat malam. Hah? Ikut beginian refreshing? Ngga salah? Boleh dong, sedikit irasional. Saya butuh stimulus visi dan imaji (terima kasih, Pak Bambang). Walaupun saya jadi semakin (i)rasional dengan urusan buku. Agak gawat, jangan-jangan setiap kuliah beli satu buku baru. So, tema kuliah minggu depan: Homo Faber. Jadi ingat novel Max Frisch yang dibaca dengan susah payah jaman kuliah S1 dulu. Sang pe(ng)rajin.