And the journey continues…

Biasanya saya menuliskan refleksi tahunan saya ketika malam pergantian tahun, sekarang saya melakukannya di hari pertama awal tahun. Bukan karena apa-apa, kemarin memang sedang tidak mood menulis. Jika sekarang pun saya menulis di sini, ini semata karena saya sedang mencoba lagi membangkitkan lagi kebiasaan menulis untuk sekedar menulis, bukan menulis yang harus dibatasi hipotesis, teori, analisis ini itu, dll. Terus terang, saya mengalami kebosanan menulis hal-hal dalam kerangka ilmiah, walaupun mau tidak mau, suka tidak suka, saya memang hidup dari situ. Bahkan –ini harus saya akui- kebiasaan melakukan hipotesis dan analisis, serta melihat dari beragam perspektif sebelum menyimpulkan sesuatu sudah inheren merasuk ke dalam jiwa dan kepala saya. Ya sudah, tak apalah, toh banyak bagusnya juga dan tidak merugikan siapapun, bahkan membawa saya ke banyak peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun sebenarnya sesuatu yang “serius” itu semua berawal dari keisengan saya belaka. Ya, keisengan yang serius, atau keseriusan yang iseng. Saya tidak bisa membedakan lagi. Yang jelas, di tahun 2015 lalu –ah, belum sehari pun dia lewat- saya mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak perlu, yang saya rasa hanya akan membebani diri dan hidup saya saja. Beberapa berhasil, masih banyak yang tidak. Namun, tidak ada salahnya juga mencoba.

Merefleksikan apa-apa saja yang saya lakukan, saya alami, dan saya rasakan di tahun 2015, saya ternyata menemukan diri saya yang lain. Diri saya yang ternyata suka iseng. Namun, entah bagaimana keisengannya diseriusi, menjadi serius, dan sering membuat saya sendiri kelabakan. Walaupun begitu hasilnya tetap menyenangkan saya dan membuat saya semakin hidup.

Saya iseng mengiyakan tawaran menjadi narasumber tentang sanitasi di RRI Lampung tepat pada tanggal 1 Januari 2015 bersama seorang teman. Iseng menonton konser Michael learns to Rock tanggal 2 nya, padahal saya hanya kenal dua atau tiga lagunya saja. Bulan Februari menonton konser NOAH di Sabuga. Yang ini bukan iseng, tapi memang berniat betul, karena saya sudah membuat pengakuan sebagai salah seorang fans NOAH maka saya mengharuskan diri saya menonton konsernya. Dan saya senang. Keisengan lainnya adalah menonton konser Bon Jovi di Senayan, Jakarta. Kalau ini memang benar-benar iseng tapi serius, karena kami serius sengaja datang jauh.jauh dari Bandung, sampai menginap di sebuah hotel di Jakarta, demi merasakan kemeriahan konser Bon Jovi dengan crowd Indonesia, yang ternyata malah membuat saya mengantuk. Saya iseng berkomentar di akun instagramnya salah seorang pemainnya, mengajaknya promosi film “3” di Unpad, dan ternyata dengan persiapan amat sangat mendadak bisa mendatangkan sekitar 600 orang dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan kreatif pendukung film itu sekaligus semakin memahami bagaimana cara kerja dan “permainan” industri kreatif di Indonesia yang mau tidak mau masih berorientasi uang. Saya iseng memasukkan abstrak untuk konferensi di Shanghai dan ternyata diterima walaupun akhirnya saya tidak jadi pergi karena mengukur kekuatan tubuh saya setelah menjalani keisengan saya yang lain selama 3 minggu berada di Eropa untuk konferensi dan menjadi turis. Ya, saya menjadi turis di Eropa: akhirnya. Saya juga iseng mengirim lamaran untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di Eropa, kemudian dipanggil interview dan akhirnya diterima, tetapi juga pada akhirnya tidak saya ambil juga karena pada saat yang bersamaan saya tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda.

Selain keisengan-keisengan yang biasanya berbuntut pada hal-hal yang membuat adrenalin saya meningkat (ya, saya butuh itu, kadang-kadang), saya merasa langkah saya melambat. Lebih tepatnya saya melambatkan langkah saya. Saya tidak lagi ingin berlari, tetapi saya hanya ingin berjalan. Saya ingin menikmati apa yang saya lihat, lalui, dan alami dalam perjalanan saya, membuang apa yang tidak perlu, dan mengambil apa yang perlu saya ambil. Ternyata, ketika saya membuang beberapa hal yang memberatkan, saya justru mendapatkan lebih banyak dari apa yang saya buang. Saya tahu saya masih melekatkan diri pada banyak hal yang tidak perlu, saya masih harus banyak belajar untuk melepaskannya satu-satu. Belajar yoga adalah salah satu cara saya untuk melambatkan dan menikmati setiap gerak, selain tentu agar saya bugar.

Di lain sisi, ternyata saya juga bisa menjadi die hard fans, yang saya sendiri pun tidak mengerti, bahwa ternyata saya memiliki sisi itu. Mungkin selama ini itu saya tutupi atau saya kualat pernah memandang aneh teman saya yang “berubah” menjadi seorang fan girl. Dua-duanya mungkin benar, hehe. Namun, saya menikmatinya, dan malah ternyata hal ini malah justru melatih dan membuka banyak sisi saya yang lain. Berkenalan dan bertemu dengan orang-orang baru sesama fans, berbincang untuk hal-hal sepele yang dulu tidak pernah sekalipun mampir dalam pikiran saya bahwa saya akan membicarakan dan membahasnya, bahkan kemudian beberapa keisengan yang berbuah serius lahir dari obrolan-obrolan ini. Hal ini ternyata menyenangkan. Hal ini sama menyenangkannya dengan kesempatan yang saya ambil untuk berdamai dengan masa lalu, dengan kejawaan saya, dengan beberapa hal yang dulu saya hindari dan saya tutupi. Ternyata tidak sesulit dan seberat yang saya rasakan, bahkan keputusan itu justru meringankan saya. Untuk itu saya bersyukur. Termasuk bersyukur bahwa saya masih mengalami hal-hal yang juga membuat saya menangis, saya kesal, bosan, dan kadang juga putus asa. Itu membuat saya hidup.

Mengutip tulisan Agustinus Wibowo, seorang penulis favorit saya yang juga akhirnya bisa saya temui langsung, perjalanan itu adalah rangkaian dari perpindahan dan perhentian. Mereka yang tidak pernah berpindah tidak akan mengerti indahnya kebebasan, dan mereka yang tidak pernah berhenti tidak akan pernah memahami pentingnya kestabilan. Dan itu hidup. Maka angin akan tetap bertiup, kadang keras kadang hanya berdesir, langit mungkin akan kelabu, matahari akan terbenam, tetapi esok matahari tetap menepati janjinya untuk terbit kembali, maka perjalanan saya pun berlanjut. Dan sekali lagi, saya bersyukur.

Bandung, 010116IMG_20160101_105555[1]

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s