Abschlussfest: der schönste Semesterschluss

Hari ini perkuliahan semester genap tahun akademik 2008 berakhir. Minggu depan mahasiswa sudah memasuki minggu tenang dan dilanjutkan dengan Ujian Akhir Semester. Untuk mahasiswa semester 8, hari ini adalah hari terakhir mereka berada di dalam kampus bersama-sama, karena setelah Ujian Akhir Semester mereka akan lebih banyak „berjuang“ sendiri dengan skripsi mereka masing-masing. Dan hari ini mereka memberikan hadiah terbesar untuk kami semua staf pengajar di Jurusan Jerman. Khususnya mungkin untuk Jutta (mengajar Deutsches Drama, Deutsche Lyrik, Literaturseminar, dan Linguistikseminar), Bu Yunni (mengajar Übersetzung Deutsch – Indonesisch), dan saya (mengajar Textanalyse dan Trends in der Linguistik) –yang hari ini merasa menjadi orang paling bahagia sedunia.

Hari ini mahasiswa semester 8 dari pengutamaan Sastra dan Linguistik memberikan hadiah berupa pertunjukan kreativitas mereka: menyanyi, baca puisi, pentas parodi, dan teater. Semuanya adalah hasil perkuliahan mereka selama satu tahun ini. Jutta Kunze, lektor DAAD kami, yang mengorganisir mereka untuk menyanyi, baca puisi, dan pementasan teater naskah Dürrenmatt „Der Besuch der alten Dame“. Mahasiswa dari kelas Linguistik, yang selama setahun ini saya pegang, mementaskan parodi Rotkäppchen (Si Kerudung Merah) menjadi Ronkäppchen. Naskah parodi dan urusan teknis mereka lakukan sendiri.

Kejutan pertama diberikan saat kami masuk ruangan yang sudah didekorasi sedemikian rupa oleh mereka. Bagus dan kreatif. Beberapa karya mereka selama kuliah di semester 8 mereka tampilkan. Terharu dan senang saat melihat apa yang kami lakukan bersama mereka di kelas ditampilkan di Aula Gedung B. Acara dibuka dengan Kanonsingen dari kedua kelas. Beberapa lagu dinyanyikan secara kanon dan acapela. Bagus! Selanjutnya pembacaan beberapa puisi karya Goethe, Christian Morgenstern, Erich Fried, dll dalam Bahasa Jerman dan terjemahan dalam Bahasa Indonesia yang mereka buat di kelas Lyrik. Di kelas ini saya pernah masuk dan memberikan diskusi kecil tentang penerjemahan puisi. Hasil terjemahan mereka saya bahas dan diskusikan bersama. Hasilnya luar biasa. Terjemahan mereka bagus-bagus! Hasil terjemahan itu dikumpulkan dan dibundel jadi satu buku kecil. Salah satu penerbit bahkan sudah menawarkan untuk menerbitkan kumpulan terjemahan karya mereka. Ini masih jadi utang saya untuk mengedit karya mereka. Namun, rasanya saya tak perlu mengedit banyak, karena terjemahan mereka sudah bagus.

Setelah pembacaan puisi ditampilkan teater parodi dongeng Rotkäppchen menjadi Ronkäppchen dari kelas linguistik. Mengapa Ronkäppchen? Karena pemeran utamanya adalah Ronald :) Benar-benar kreatif dan mengundang tawa kami semua. Ini benar-benar kejutan besar, karena tadinya mereka tidak akan ikut serta. Seminggu mereka persiapkan dan hasilnya menurut saya benar-benar luar biasa. Pakem cerita Rotkäppchen mereka pakai dan ditambah karakter yang sangat Indonesia seperti tukang jamu dan tukang ojek. Kritik terhadap teknologi dan ikon-ikon pop di Indonesia saat ini mereka tampilkan. Hasilnya memang jadi kocak. Senang dan terharu sampai saya menitikkan air mata menyaksikan mereka. Mereka luar biasa! Yang membuat saya terharu juga kreativitas mereka menyisipkan beberapa materi perkuliahan selama ini ke dalam naskah mereka. Tiga tokoh Schwein (babi) ditampilkan dengan kocak dan lincah oleh 3 gadis pendiam Fajri, Dilla, dan Dita. Mereka membawa papan yang berisi tentang beberapa informasi dari mata kuliah yang mereka dapatkan. Misalnya saat ada adegan tentang masa depan, papan bertuliskan Futur I ditampilkan, dan keterangan tentang Futur I dinarasikan oleh Hanny. Begitu juga saat ada kalimat ellipsis, papan bertuliskan Ellips diiringi narasi ditampilkan. Informasi tentang Sprachvarietäten pun ada juga. Misalnya ke-khas-an bahasa Jerman di Austria. Betapa mereka begitu kena dan hidup memasukkan tema-tema dalam perkuliahan ke dalam naskah. Hal ini untuk saya menunjukkan, bahwa mereka paham dan tahu apa yang mereka pelajari di kelas. Saya senang, bangga, dan terharu, rasanya bercampur aduk.

Usai parodi, istirahat shalat Jumat dan makan siang. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pementasan naskah Dürrenmatt ”Der Besuch der alten Dame” (Kunjungan Nyonya Tua). Naskah tragik komedi yang cocok dengan situasi tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia, saya rasa. Claire Zachanassian yang diperankan dengan baik oleh Mita adalah wanita tua yang kaya dan dengan uangnya dia bisa membeli apapun, termasuk keadilan. Alfred Ill menjadi korbannya. Dia mati tanpa sebab yang jelas, hanya karena Claire tidak suka padanya. Ill memperjuangkan keadilan kemana-mana, namun hakim, walikota, guru, dokter, bahkan pendeta pun sudah disuap oleh uang Claire. Iming-iming 5 juta per orang dan bantuan 1 miliar untuk kota Guellen justru membawa Ill pada kematiannya yang misterius. Kritik terhadap situasi kekinian disampaikan dalam bentuk komedi satiris oleh naskah yang dibuat tahun 1956 ini. Naskah ini juga pernah dipentaskan oleh Teater Koma dengan judul Kunjungan Nyonya Tua dan sudah diadaptasi ke dalam situasi dan budaya Indonesia. Sedangkan tadi, mahasiswa kelas sastra memainkannya dalam Bahasa Jerman. Arida memerankan Alfred Ill dengan baik dan penjiwaan penuh.

Pembacaan puisi dalam dua bahasa menjadi acara berikutnya, kemudian ditutup lagi dengan nyanyi bersama beberapa lagu. Ada satu lagu bahkan dalam bahasa Jerman dan bahasa Sunda. Ode an die Freude milik Schiller yang menjadi lirik untuk Simfoni No. 9 Beethoven pun dinyanyikan. Ah, saya selalu merinding jika mendengar lagu ini. Rasa bahagia saya semakin memuncak!

Acara selesai. Saya hampiri mereka untuk mengucapkan selamat atas kerja keras dan usaha mereka dan betapa saya berterima kasih dan merasa terhormat ada di sana dan menjalani satu tahun yang indah bersama mereka. Diijinkan untuk ada dan mengikuti perkembangan mereka dari waktu-waktu selama dua semester ini adalah berkah terbesar untuk saya. Pun ketika pada akhirnya saya bisa menyaksikan mereka tampil di depan publik, kebahagiaan saya benar-benar tak bisa terukur. Itu bonus yang besar. Saya tak pernah menduganya. Kalaupun air mata saya menetes, itu lebih karena saya yakin bahwa mereka bisa terbang tinggi setinggi apapun mereka mau. Saya menyandarkan harapan saya pada mereka dan saya bahagia karena saya tahu mereka akan menjadi orang-orang yang tahu apa yang mereka mau. Semangat, kebersamaan, dan kerja keras mereka menjadi bekal untuk masa depan yang sudah menunggu mereka. Sesulit apapun halangannya, saya selalu yakin mereka bisa melaluinya. Waktu yang akan bicara dan pada waktu pula saya percayakan mereka.

Mereka menutup semester ini dengan manis. Menghadiahkannya untuk kami para pengajarnya. Dan terutama untuk saya, karena mereka membuat hari ini menjadi hari terindah dalam hidup saya. Hari yang semakin meneguhkan saya, mengapa saya ada di sini dan memilih tetap ada di sini. Hari yang membakar energi dan semangat saya dan menjadikannya cadangan yang insha Allah akan terus menyala untuk waktu-waktu ke depan.

Danke allen, Jungs und Mädels, für Eure Begeisterung und Bemuhung. Bin sehr stolz auf Euch und liebe Euch allen von dem ganzen Herzen!

Advertisements

Brontosaurus

Patung Brontosaurus ini letaknya di depan Museum Purbakala Bayreuth, juga di depan Alte Schloss dan salah satu biro perjalanan di Maximilianstraße Bayreuth. Patung ini jadi ciri khas pusat kota Bayreuth dan sempat jatuh saat musim dingin, kemudian menimpa atap biro perjalanan di sebelahnya itu. Lucunya, saat patung itu jatuh dan „tergeletak“ dengan pasrah di tengah salju, orang-orang malah berfoto di dekat si Bronto yang terkapar itu. Butuh waktu beberapa hari untuk „mendirikan“nya kembali. Kenapa ya waktu itu patung itu bisa jatuh? Kalau tidak salah saat badai salju dan angin besar menerpa Bayreuth. Peristiwa jatuhnya pun jadi headline di koran lokal Bayreuth. Si Bronto ini memang top deh. Kalau cuaca cerah, anak-anak sering main perosotan di ekornya. Atau banyak juga orang iseng berfoto di bawah kakinya. Btw, saya juga pernah centil-centilan berfoto dengan si maskot itu, sambil makan es krim dari Il Gelato yang murah meriah tapi enak sangat (dulu masih 0,60 €, sekarang berapa ya?!). Hmm, sedang panas-panas begini di Bandung kok ya mendadak kangen Bayreuth dengan saljunya yang selalu tebal dan Il Gelato-nya yang murah dan enak. Oh ya, bicara maskot, si Bronto ini sebenarnya cuma maskot-maskotan. Maskot kota Bayreuth aslinya itu imut nian. Apalagi kalau bukan: tupai. Hee, si mungil berbulu merah dan berekor melengkung yang selalu melompat-lompat dan lari-lari di depan kamar saya. Ugh, jadi makin kangen nih. Dah ah :)

Pelatihan Pengajaran Bahasa Indonesia

Bersama dua orang teman saya yang kompeten di bidang pengajaran Bahasa Indonesia, Nani (seorang linguis dan dosen Sastra Indonesia Unpad yang memberikan teori tentang Bahasa Indonesia) dan Silvie (praktisi, pengajar Bahasa Indonesia di sebuah sekolah dasar di Cilegon), kami memberikan pelatihan –lebih tepatnya bertukar pengalaman- pengajaran Bahasa Indonesia untuk guru-guru Sekolah Dasar Gagas Ceria di Jl. Palasari, Bandung. Kedua teman saya tersebut juga membuat buku dan kumpulan soal Bahasa Indonesia untuk sekolah dasar. Pelatihan ini diberikan atas permintaan pengurus sekolah untuk berbagi pengalaman dalam mengemas pengajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih menarik. Selain itu untuk memberikan sudut pandang lain, sehingga Bahasa Indonesia bukan lagi menjadi pelajaran yang membosankan dan tidak ada gunanya. Atas dasar pemikiran dan keinginan untuk berbagi pengalaman dengan para guru itulah, akhirnya kami terima tawaran untuk mengadakan pelatihan tersebut. Latar belakang guru Bahasa Indonesia di sekolah ini yang tidak satupun berlatar belakang pendidikan bahasa, juga merupakan salah satu alasan pelatihan ini diadakan.

Pelatihan yang dimulai pukul 9.30 ini diikuti oleh 10 peserta dan berlangsung menarik. Dimulai oleh Silvie yang berbagi pengalaman mengajar Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode permainan yang menarik. Beberapa alternatif permainan yang diberikan adalah permainan True or False, Index Card Match, Card Sort, menyusun cerita, dan tunjuk abjad. Guru-guru yang saat itu menjadi ”murid” pun mengikuti permainan dengan antuasias. Situasi pun menjadi cerah ceria dan menyenangkan penuh tawa. Ternyata orang dewasa pun tetap senang bermain-main.

Permainan dalam pengajaran bahasa ini, sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh para guru dari sejak mulai mengabsen siswanya. Siswa yang dipanggil namanya diminta menjawab pertanyaan si guru dengan menggunakan kalimat lengkap. Dengan demikian, siswa dilatih untuk membuat kalimat dengan menggunakan subyek, predikat, obyek atau keterangan, tidak hanya menjawab dengan kalimat pendek saja. Kebiasaan menggunakan struktur kalimat yang lengkap ini pun berguna untuk melatih siswa agar berpikir dengan lengkap dan terstruktur.

Untuk melatih pengetahuan tentang lawan kata (antonim), guru bisa meminta siswa menjawab pertanyaan dengan menggunakan lawannya. Misalnya, guru mengucapkan salam dengan keras, maka siswa menjawab salam tersebut dengan pelan. Demikan sebaliknya. Pada permainan true or false, pengajar membagikan kartu kepada siswa yang berisi tentang berbagai macam bentuk kalimat tanya. Siswa harus menentukan apakah kalimat yang ada dalam kartu tersebut benar atau salah. Selanjutnya mereka mereka berbaris di sisi kiri dan kanan sesuai dengan jawaban yang mereka berikan (misalnya: jawaban benar di sebelah kanan, jawaban salah di sebelah kiri). Mereka pun diminta memberikan alasan mengapa mereka menjawab benar atau salah. Dalam prosesnya, siswa bisa pindah barisan, jika dia berubah pikiran. Permainan ini digunakan untuk melatih materi tentang struktur kalimat tanya. Untuk murid sekolah dasar, struktur kalimat tanya biasanya masih bersifat pada struktur kalimat tanya terbuka, artinya kalimat tanya yang menggunakan kata tanya seperti apa, siapa, ke mana, di mana, dan lain-lain. Teori dasar tentang struktur kalimat tanya diberikan, berikut variasi kalimat tanya yang didasarkan misalnya pada intonasi tanpa menggunakan kata tanya. Struktur ini biasanya berupa kalimat tanya terbuka.

Lewat permainan card sort, kosa kata siswa dilatihkan. Guru menempelkan beberapa kartu di papan yang berisi tentang beberapa istilah umum seperti manusia, alam, binatang. Siswa pun sudah mendapatkan kartu berisi kosa kata yang berhubungan dengan suara yang diperdengarkan oleh manusia, binatang, dan alam. Misalnya: mengerang, berhembus, mengembik, dan lain sebagainya. Agar tidak ribut, siswa diminta memasang kartu-kartu mereka di papan tanpa bicara. Hasilnya cukup menarik. Ekspresi wajah peserta pelatihan begitu lucu dan bersemangat. Ternyata masih ada pula guru yang salah meletakkan kartu. Misalnya: kata ’melenguh’ diletakkan di dalam kolom manusia. Rupanya guru tersebut salah membaca kartu kepunyaannya. Sehingga kata tersebut terbaca ’mengeluh’. Suatu perbedaan kecil pada tataran ortografis yang cukup fatal terhadap pemaknaan. Namun, ini menjadikan permainan menjadi lebih menyenangkan.

Index card match adalah permainan untuk melatih pengetahuan tentang lawan kata (antonim). Misalnya: gelap – terang, tinggi – rendah, dan lain-lain. Siswa harus mencari rekannya yang memiliki kartu dengan kata yang berlawanan dengan kata pada kartu miliknya. Selanjutnya mereka harus duduk atau berdiri berdekatan. Permainan ini juga bisa dilakukan tanpa mengeluarkan suara sehingga ekspresi yang muncul akan lebih menarik, suasana kelas pun tidak terlalu ribut (karena walaupun tanpa suara, bunyi-bunyi yang dikeluarkan pun tetap saja lucu).

Menyusun cerita adalah alternatif permainan yang dilakukan untuk melatih kemampuan siswa menyusun satu paragraf yang logis. Sekali lagi, kartu-kartu ditempelkan di dinding, dan para siswa diminta menyusun kartu-kartu tersebut menjadi satu jalinan cerita yang utuh dan bermakna. Pada permainan tunjuk abjad, siswa diminta mengumpulkan sebanyak mungkin kosa kata yang berawalan abjad tertentu. Guru bisa memodifikasi permainan ini dengan menentukan kosa kata untuk kelas kata tertentu, misalnya kata kerja dari abjad S, atau kata sifat dari abjad T, dan lain sebagainya.

Setelah alternatif permainan yang bisa diberikan untuk berlatih Bahasa Indonesia, sesi berikutnya adalah sesi yang lebih bersifat teoretis. Nani memberikan materi teori tentang Bahasa Indonesia sendiri, sedangkan saya melengkapi Nani dengan memberikan materi yang bersifat pemerolehan bahasa dan unsur kebahasaan.

Ejaan Bahasa Indonesia serta Bahasa Indonesia yang baik dan benar sering diabaikan oleh para pengguna Bahasa Indonesia. Padahal dengan memperhatikan aturan ini, struktur dan logika kalimat dalam Bahasa Indonesia (juga bahasa-bahasa yang lain, sebenarnya) yang digunakan pun akan tertata dengan rapi. Bahasa yang rapi, akan membantu pemakainya untuk berpikir dengan rapi dan tertata pula. Tanda baca, ejaan, bentuk kata, imbuhan, struktur kalimat yang salah sering dianggap benar karena faktor kebiasaan. Jika biasa dipakai, maka kesalahan pun menjadi benar. Sedangkan dalam pengajaran, kesalahan sekecil apapun tidak bisa ditolerir, karena jika dilakukan maka kesalahan pun akan menjadi ’benar’. Misalnya, kata ’ijin’ dianggap benar karena sering digunakan, dibandingkan dengan kata ’izin’ yang menurut aturan adalah kata yang benar. Atau kata ’analisa’ dengan kata ’analisis’, kata ’resiko’ dibandingkan ’risiko’, dan lain sebagainya. Kata majemuk ’tanggung jawab’ jika ditambah awalan ber- maka akan menjadi ’bertanggung jawab’ dengan penulisan terpisah, sedangkan jika diberi imbuhan per – an akan ditulis menyatu menjadi ’pertanggungjawaban’. Selanjutnya diberikan pula contoh-contoh kasus yang tampak sepele, tetapi sebenarnya tidak. Misalnya apakah memroses atau memproses, menyiasati atau mensiasati, perdamaian atau pendamaian, orangtua atau orang tua, apakah kantung atau kantong, saya membelikan adik baju atau saya membelikan baju untuk adik, serta contoh-contoh lain yang tampak biasa, namun sering keliru digunakan. Untuk hal ini, Nani dan saya memang cukup cerewet, apalagi jika kasus seperti ini ditemukan dalam tulisan ilmiah mahasiswa. Untuk mengetahui pedoman yang benar, maka Kamus Besar Bahasa Indonesia serta Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan menjadi buku pegangan wajib para guru. Guru tidak bisa menjawab berdasarkan ”perasaan”: biasanya ini benar, tanpa melihat kamus dan buku pedoman terlebih dahulu. Buku pedoman dan buku panduan pengajaran Bahasa Indonesia bisa didapatkan oleh sekolah dan para guru dengan cuma-cuma di Pusat Bahasa dan di Balai Bahasa.

Pemerolehan dan kompetensi bahasa yang meliputi tataran fonologis (bunyi), morfologis (kata), sintaksis (kalimat), dan semantis (makna) harus diintegrasikan ke dalam proses kegiatan belajar mengajar. Permainan-permainan yang telah disebutkan di atas pun disesuaikan dengan tataran kebahasaan tersebut. Permainan true or false misalnya digunakan untuk melatih tataran sintaksis, card sort untuk tataran semantis, dan lain-lain. Seperti pemerolehan pengetahuan yang lain, pemerolehan bahasa pun sebaiknya dilakukan bertahap dari tataran fonologis kemudian meningkat sampai ke tataran semantis, karena secara kognitif, manusia (dalam hal ini khususnya anak) memelajari dan memproduksi bahasa dari bunyi yang dia dengar kemudian ditiru dan diucapkan, kemudian membentuk kata, menyusun kata menjadi kalimat, berlanjut menuju memaknai kata atau kalimat. Kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis harus terintegrasi dalam pengajaran bahasa.

Pada akhirnya kami berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang kesulitan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada siswa, buku-buku yang bisa digunakan, bentuk-bentuk evaluasi yang bisa diberikan, pengajaran sastra, penelitian dan diskusi tentang pemerolehan bahasa pada anak, wacana peka jender yang muncul dalam buku-buku pelajaran, stigma yang bisa ditimbulkan dari bacaan-bacaan anak, variasi bahasa, serta banyak lagi yang lainnya. Tak terasa pelatihan yang sedianya akan berlangsung sampai pukul 12 siang menjadi mundur sampai ke pukul 15. Namun, kami mendapatkan dan belajar banyak hal dari teman-teman sesama pengajar yang menjadi peserta pelatihan tersebut. Harapan terbesar tentu saja adalah kami semua dapat berbahasa dan menggunakan dengan baik dan benar serta tepat pada waktu dan tempat, karena dengan kemampuan berbahasa yang baik, hal itu diharapkan dapat membantu kita untuk berpikir dan bernalar dengan lebih bernas dan terstruktur, serta dapat melatih kepekaan berpikir, bertindak, dan merasa. Untuk itu kami belajar bersama-sama di suatu hari sabtu yang cerah. Terima kasih untuk semua. Semoga ada manfaatnya.


Hektik dan …

… curhat sedikit. Setelah sekian lama tak menulis. Kesibukan tak kunjung henti, hingga badan pun akhirnya sakit. Akibatnya ada beberapa janji yang belum terpenuhi. Terutama janji menulis pada ibu yang baik juga pada si pemilik blog mungil :) Maafkan ya, karena badan tak kuasa menolak, ketika demam ingin ikut bersaing dengan sakit kepala. Pun pilek dan batuk yang tak juga mereda. Sementara itu pekerjaan malah bertambah. Tiba-tiba saja jadi pesohor dadakan. Padahal maksud hati ingin menulis dan beristirahat. Sudah berusaha menolak-nolak, eh, malah semakin dipaksa. Akhirnya sebagian dilakukan dengan setengah-setengah, sisanya dikerjakan dengan bahagia dan senang. Menulis jadi terlupakan.

Hmm, tampaknya itu semua hanya alasan. Untuk kemalasan yang dirasionalkan :)

Namun, ada satu yang mengharu biru. Sudah lebih dari tiga minggu berlalu dia kudiamkan begitu. Karena perut sudah diultimatum untuk tidak menerimanya dulu. Tiga minggu lebih tanpa teh yang membuat rindu. Hanya bisa kuperhatikan dengan sendu, tanpa bisa kuteguk. Ini mimpi buruk! Sementara itu aku harus sabar dulu. Untuk kemudian bangun dan minum teh itu. Hai, aku betul-betul haus dan rindu! :)