Tipe C

Jadi, kemarin adik saya iseng „menganalisis“ saya. Secara saya –katanya- termasuk orang yang kurang motivasi, gitu lho. Dan akhirnya saya ikuti ”test”-nya. Lalu dia pun dengan bersemangat menanya-nanyai saya. Hasilnya? Menurut hasil test yang saya isi dengan impulsif, saya termasuk orang yang memiliki kemampuan intrapersonal tinggi. Walah, apa itu? Katanya, kemampuan mengenal dan menganalisis diri sendiri saya baik. Namun, kemampuan verbal dan interpersonal saya tidak cukup bagus, kalau tidak mau dibilang jelek. Dengan kata lain: autis, hehe. Yang tadi itu hanya penghalusan bahasa saja.

Apa lagi? Oh ya, masalah motivasi. Motivasi diri saya jelek sekali. ”Masih untung kamu hidup juga”, kata adik saya. Hehe, belum tahu dia bahwa saya sering bangun tidur tak langsung beranjak, melainkan tetap berbaring menatap langit-langit kamar sambil berpikir: untuk apa saya hidup. Halah! Gubrak banget ngga sih?! :)  Itu sudah jelas-jelas menunjukkan betapa rendahnya motivasi diri saya, karena saya masih mikir-mikir untuk apa saya hidup. Dan –katanya- itu ketahuan juga dari test tentang tujuan pribadi saya. Apa hasilnya? Saya lebih suka menolak pekerjaan dan tidak punya target achievement yang jelas alias mengalir begitu saja. Kata lain: malas :) Berdasarkan test á la adik saya itu, regulasi diri saya juga jelek. Saya tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik dan mendapatkan hasil yang lebih baik juga, tapi saya cenderung mengabaikan itu dan melakukannya sesuka hati saya. Cepat puas dan tidak taat aturan itu jelas terlihat. Katanya :)

Dan ngomong-ngomong tentang mikir-mikir dan masih dengan impulsif saya mengisi bagian terakhir test tersebut, diketahuilah bahwa saya termasuk orang dengan kepribadian tipe C. Apa itu? Katanya lagi, orang tipe ini memiliki sifat yang konservatif, penuh perhitungan, stabil, nada bicaranya rendah, bersikap hati-hati, rapi, sistematis, akurat, bijaksana, dan diplomatis. Tipe C ini akan termotivasi melakukan sesuatu jika pekerjaan itu memiliki standar kualitas yang tinggi, interaksi sosialnya terbatas, tugas-tugasnya detil, dan ada organisasi informasi yang logis. Lingkungan yang ideal untuk orang dengan tipe ini adalah lingkungan kerja dengan pekerjaan yang dapat diikuti dari awal hingga akhir, pekerjaannya spesifik dengan prosedur kerja yang praktis, pekerjaan dengan sedikit konflik dan argumen, serta pekerjaan dengan instruksi yang jelas dan kepastian bahwa yang dilakukan dan dikerjakan memang sesuai dengan yang diharapkan. Orang dengan tipe C ini cenderung menginginkan otonomi dan kemandirian, lingkungan kerja yang terkendali, kepastian, tujuan dan ekspektasi yang jelas dan tepat, gambaran pekerjaan yang jelas dan terencana. Saat menganalisa, orang tipe C melakukannya dengan sangat hati-hati, konservatif, tetapi jadi mudah terjebak ke dalam detail. Mereka juga cenderung menghindari dan menunda pengambilan keputusan, apalagi jika mengandung resiko. Tipe C ini biasanya menjadi trouble shooter dan menjadi orang yang dapat menunjukkan masalah dengan efektif.

Dian banget? Heh heh heh. Yang jelas, adik saya langsung tertawa ngakak :)

Advertisements

(Masih) Menggelar Gelar

Membaca tulisan Pak Ganjar tentang „pergelaran gelar“, obrolan saya tadi pagi dengan seorang sahabat, juga sedikit tulisan saya yang membahas gelar dari perspektif deixis sosial, ternyata topik „menggelar gelar“ tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas kembali. Saya termasuk orang yang tidak suka memakai gelar apapun di depan atau di belakang nama saya. Rasanya kok menjadi beban yang hanya menambah berat nama saya. Nama saya sendiri pun sudah cukup berat saya tanggung, apalagi jika harus ditambah gelar yang sering aneh-aneh. Akibatnya, gelar (terutama gelar akademik) hanya saya gunakan untuk hal-hal yang bersifat akademis dan pekerjaan. Seringnya juga orang lain yang menuliskan, bukan saya sendiri. Entahlah, rasanya tangan ini berat untuk menuliskan dua huruf tambahan di belakang nama saya. Mengapa sampai sebegitu enggannya saya menambahkan dua huruf tersebut? Pertama, dengan gelar akademik yang saya capai saya merasa tanggung jawab saya terhadap urusan keilmuan yang ”dihadiahi” gelar tersebut semakin besar. Apakah benar saya sudah memanfaatkan gelar saya untuk ilmu dan keilmuan itu sendiri? Bagaimana pertanggungjawaban saya jika gelar tersebut tidak bisa saya manfaatkan sepantasnya? Kedua, dengan bertambahnya gelar tadi, orang biasanya akan memandang saya lebih. Bisa lebih pintar, lebih hebat, lebih beruntung, dan lebih lebih yang lainnya. Ini yang menjadi alasan ketiga, mengapa saya enggan memakai gelar. Tidak lain dan tidak bukan karena saya tidak mau dianggap lebih. Apalagi jika kemudian dianggap lebih bisa diberi pekerjaan lebih. Wah, kalau ini tentu karena saya pada dasarnya memang cukup pemalas.

Namun, kebiasaan saya tidak mencantumkan gelar ini cukup sering juga berdampak pada kehidupan sosial saya. Sayangnya, masyarakat kita ini masih menjadi masyarakat yang mengagungkan dan melihat beberapa hal dari gelar yang disandang seseorang, bukan melihatnya pada hal-hal yang esensial. Alih-alih melihat kualitas orang tersebut. Cukup sering terjadi saat saya akan mengurus tagihan telefon, atau akan memasang air, atau hal-hal kecil yang tidak berhubungan sama sekali dengan lingkup akademik, saya terpaksa –sekali lagi terpaksa- ”menggelar” gelar saya hanya agar saya bisa dilayani, karena kalau tidak saya akan diabaikan begitu saja. Boro-boro dilayani dengan baik, dilayani dengan tampang ketus sepertinya masih untung, kalau tidak diabaikan sama sekali. Padahal, kalau saya pikir, tidak ada hubungan sama sekali gelar akademik saya dengan urusan air dan telefon.

Percakapan tadi pagi dengan sahabat yang baru marah-marah di kantor telefon, membuat kami berpikir, apakah kami harus selalu ”menggelar” gelar kami agar kami diberi pelayanan selayaknya? Jika ya, melelahkan sekali. Bagaimana dengan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki gelar, baik akademis ataupun gelar-gelar lainnya? Manusia biasa, yang juga punya hak untuk diberi pelayanan yang sama baiknya dengan orang-orang bergelar. Apakah mereka diabaikan saja? Tapi kenyataan yang terjadi kebanyakan begitu. Diskriminasi bisa muncul karena gelar.

Yang sangat disayangkan lagi, fenomena ”pembedaan” ini juga terjadi di lingkungan akademis, tetapi untuk hal-hal yang tidak bersifat akademis sama sekali. Lucu sekali, jika seseorang lebih dihormati karena dia mendapat gelar akademis dari luar negeri. Anehnya lagi, lulusan dalam negeri pun akhirnya jadi cenderung minder dengan gelar yang mereka dapat dari usaha mereka sendiri. Situasi seperti ini cukup sering saya alami dan muncul dari kolega-kolega saya sendiri. Akibatnya kadang saya jadi merasa tidak enak hati karena gelar saya berbeda dari mereka. Padahal, tidak ada hubungan sama sekali antara gelar lulusan dalam dan luar negeri dengan kualitas yang dimiliki masing-masing individu. Jika gelar tersebut diraih dengan usaha dan kerja keras, mengapa harus minder?

Melihat fenomena-fenomena ”aneh bin ajaib” tersebut, mungkin jadi sangat wajar jika gelar akhirnya diperjualbelikan. Orang bahkan bisa diiming-imingi oleh tawaran mendapat gelar dalam waktu singkat. Jika tujuannya adalah gelar, maka tidak akan ada proses aktif meraih gelar tersebut, tetapi hanya pasif menunggu untuk mendapatkannya. Dengan demikian, pada akhirnya gelar hanya menjadi gelaran, bukan tanggung jawab untuk membuat diri menjadi lebih baik lagi.

Bandung, 091007