Seperti Biasa

Tanggamus waktu maghrib

Tanggamus waktu maghrib

Seperti biasa, saya tidak suka hingar bingar malam pergantian tahun. Saya lebih suka menepikan diri. Setahun tidak menulis di sini. Terakhir menuliskan Soekarno. Dan sekarang saya menulis lagi. Di salah satu kota di pulau yang pernah menjadi pulau tempat buangan Soekarno. Di daerah ini pula, sampai tadi siang saya melihat, menyaksikan, dan ikut dalam kisah yang tentu saja tidak diinginkan terjadi oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamasikan kemerdekaan negara ini 69 tahun silam. Tadi pagi saya mendengar pernyataan dari seorang ibu: “Merdeka? Tidak. Kami belum merdeka. Listrik saja belum punya.” Tahun lalu saat saya menuliskan tentang Soekarno, saya dibenturkan pada kenyataan di depan mata saya dan kali ini saya pun kembali dibenturkan pada kenyataan yang sama, mungkin lebih parah. Itu hanya di satu daerah, di daerah lainnya ada duka, ada air mata, ada putus asa, tetapi tentu saja tetap ada asa, ada hati dan jiwa-jiwa yang hidup dan selalu bersemangat untuk menjadikan hidup lebih baik. Saya bersyukur.

Seperti biasa, saat banyak orang berusaha membuat resolusi untuk tahun depan, saya lebih suka menghitung nikmat-nikmat yang sudah saya dapat selama setahun ini. Dan tentu saja itu tak terhitung. Saya bersyukur atas nikmat sehat untuk saya dan orang-orang tercinta saya, bersyukur atas cinta dan berkah yang Maha Kasih berikan untuk saya lewat orang-orang yang saya temui di manapun, baik kenal atau tidak kenal. Saya bersyukur atas waktu yang diberikan, yang sering masih tidak saya manfaatkan dengan baik. Saya bersyukur atas kesempatan yang juga diberikan pada saya, kesempatan yang sering tak terduga datangnya. Saya bersyukur atas perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, yang menghubungkan saya pada banyak orang, peristiwa yang kembali membuat saya bersyukur bahwa hidup saya penuh nikmat, bahwa tidak ada lagi nikmat yang bisa saya dustakan. Saya bersyukur atas ujian yang diberikan yang membuat hidup saya seimbang. Saya bersyukur.

Seperti biasa, di akhir tahun selalu ada hal-hal menarik yang membantu saya merefleksikan kembali perjalanan hidup yang saya lalui. Malam tahun baru harus mengepel lantai kamar mandi atau menikmati salju yang berebutan menyentuh tanah (oh, betapa saya merindukannya) atau menikmati hujan yang sebenar-benarnya hujan atau di bandara saat transit menuju rumah atau tahun ini, berkesempatan untuk menyeimbangkan hidup saya dengan berada di tengah-tengah alam dan orang-orang hebat yang bertahan pada hidup. Saya bersyukur.

Seperti biasa, pertemuan-pertemuan membawa saya pada perasaan bahwa hidup adalah pilihan dengan segala konsekuensinya. Ada yang menguras energi, ada yang membuncahkan semangat. Namun, justru itu yang membuat hidup semakin indah. Saya semakin bersyukur.

De Green, Bandar Lampung, 311214 (di tengah hingar bingar kembang api dan petasan)

Advertisements