Mei

Pertemuan singkat tapi (selalu) menyenangkan dengan seorang sahabat –yang sudah setahun tak jumpa fisik- di penghujung April lalu, membuat saya sadar, bahwa saya sudah lama tenggelam dalam dunia saya sendiri. Tulisan-tulisan saya belakangan ini sedih terus, menurutnya. Dia bisa membacanya dengan jelas. Benar juga, tapi memang demikian adanya. Istilah (ngga) kerennya depresi dan paranoid. Sampai akhirnya saya sudah lama melupakan hal-hal kecil yang justru lebih banyak terjadi dan seperti biasa selalu membahagiakan. Jika saya mau melihatnya. Jadi, terima kasih atas pertemuan singkat yang sangat berarti waktu itu.

Setelah bertemu dengannya, saya melanjutkan acara saya di Kedubes Jerman. Ya, saya memutuskan kembali ke Bayreuth. Ke kehidupan lama saya. Setelah melalui beragam proses dan pertimbangan, cukup lama, hari itu saya memutuskan menghadiri undangan Kedubes dan DAAD untuk acara penyerahan beasiswa. Tak disangka tak dinyana, ternyata saya termasuk ke dalam tiga penerima beasiswa terbaik. Hehe, kalau ingat bagaimana saya „bersitegang“ saat wawancara dan sikap ngeyel saya saat diminta ikut ujian Test DaF (dan hasilnya tes-nya pun di luar dugaan), kaget juga saya dengan hasil tersebut. Di sana bertemu dengan teman-teman sesama penerima beasiswa. Masih muda-muda. Hebat-hebat. Pulang ke Bandung dengan dua orang teman baru. Seru. Tiga perempuan yang kemudian merencanakan dengan seksama acara main ke mana saja setelah kami sampai di Jerman nanti. Eh, harus kuliah ya? Ehm, bagaimana ya, sayangnya kami bertiga berprinsip sama bahwa kuliah tidak boleh mengganggu main. Eropa timur sudah menunggu, hehe.

Dan awal Mei adalah minggu yang sibuk. Seminar kolloquium mahasiswa semester delapan, belum lagi tamu-tamu dari Jerman dan Austria yang berdatangan ke Jurusan. Wara wiri ke sana ke mari (bukannya selalu begitu? ;)). Dua minggu sebelumnya, tiba-tiba pula saya ditelfon oleh pihak Goethe Institut, bertanya apakah saya bersedia menjadi interpreter utusan kementrian luar negeri Jerman untuk acara pembukaan dan diskusi tentang Islam di Jerman. Tanpa pikir panjang saat itu saya menyetujuinya. Sampai tanggal 6 dan 7 Mei lalu. Sedianya saya hanya menerjemahkan Heidrun Tempel perempuan muda nan energik dan menyenangkan, utusan khusus kementrian luar negeri Jerman di Berlin, tapi pada kenyataannya saya pun jadi diminta menjadi penerjemah Direktur Goethe Institut Indonesia dan Wakil Gubernur Jabar. Cukup berkeringat juga, ketika dua orang Jerman itu banyak mengutip puisi dan bermetafora ria, belum lagi Wagub cukup centil menggunakan bahasa Sunda dalam pidatonya. Alhamdulillah semua bisa dilewati. Semua puas. Saya senang tentu saja. Direktur Goethe Institut langsung menawari saya ikut dalam salah satu proyek terjemahan dan … mengikuti kursus menjadi interpreter profesional di Heidelberg atas biaya Goethe Institut. Wow! Ini berkah tak terduga. Tak berhenti tersenyum saya saat itu.

Hari kedua, acara diskusi pun berlangsung dengan lancar. Cukup melelahkan, tapi saya senang dengan antuasiasme peserta dan pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan. Momen paling membuncahkan bahagia adalah saat akhir diskusi, Frau Tempel memuji saya dengan amat sangat tulus dan mengundang saya untuk datang ke Berlin untuk menemuinya, dan menjadi penerjemah untuk acara yang sama di Berlin. Dan dia meminta saya menerjemahkan semua perkataannya tersebut agar publik mengetahuinya. Ini momen luar biasa. Alhamdulillah. Alles gut Ende gut. Semua pihak senang. Saya apalagi. Kebahagiaan dan kesempatan yang saya dapat, juga jejaring yang terbangun ditambah kepercayaan yang sedemikian besar, jauh lebih berharga dibandingkan dengan uang (tapi besar juga memang, hehe).

Hari-hari selanjutnya, selain kesibukan rutin di kampus, saya pun diminta Wawan Sofwan dari mainteater untuk menjadi konsultan naskah „Unter Eis“, yang dipentaskan tanggal 15, 19, dan 20 Mei. Tanpa Wawan minta pun sebenarnya saya akan dengan senang hati melibatkan diri. Kali ini saya bekerja sama dengan Iqbal dan Syaiful. Untuk saya ini bukan pekerjaan, tapi kebutuhan batin. Ikut talkshow di radio, deg-deg-an berdoa semoga tidak hujan saat pementasan di Selasar Soenaryo, lumayan „terbakar“ saat membaca tulisan Ahda Imran, merancang diskusi, dll, puncaknya adalah eforia dan kelegaan ketika keseluruhan pentas berakhir dengan sukses.

Di sela-sela itu sempat ada lokakarya di Jurusan tentang metodik didaktik. Di saat itu pula saya ditanya tentang tujuan dan alas an saya menjadi pendidik. Jawaban saya ternyata tetap sama, bahwa saya tidak pernah bisa membayangkan pekerjaan lain selain menjadi dosen. Dan tujuan saya pun ternyata masih tetap sama: membuat mata mahasiswa saya berbinar-binar dengan apa yang mereka pelajari. Saya hanya medium.

Saya memang hanya medium di tengah lautan ilmu yang masih amat sangat sedikit saya ketahui. Saya memang hanya medium, di tengah banyak orang hebat, kuat, dan tulus mengabdi untuk ilmu dan pendidikan. Maka ketika saya diminta menjadi validator instrumen penilaian buku ajar bersama-sama dengan para profesor, saya merasa sangat beruntung. Saya bukan siapa-siapa, namun saya beruntung bertemu dengan salah seorang teman di acara Kedubes akhir bulan lalu. Lewat dia-lah saya mendapat kesempatan belajar lebih banyak, karena kebetulan pula saya menulis buku. Ada beberapa hal yang mengganjal, tetapi tujuan untuk kebaikan dan perbaikan yang coba saya maknai. Saya tetap berjalan sesuai dengan kata hati saya.

Dengan itu pula saya datang ke Sabuga, 26 Mei lalu untuk gladi resik acara puncak Hardiknas. Tiga hari yang aneh menurut saya, ketika malam minggu lalu –benar-benar malam- saya ditelfon oleh salah seorang petinggi DIKTI, menanyakan apakah saya sudah menerima undangan untuk hadir mewakili para penerima beasiswa DIKTI ke luar negeri di acara puncak Hardiknas dan menerima SK beasiswanya langsung dari RI 1. Ini bercanda, saya bilang, karena saya sudah memutuskan mengambil beasiswa DAAD dan tidak jadi mengambil beasiswa dari DIKTI. Tapi saya tetap diminta datang. Hehe, dari sini saya semakin tahu, bagaimana cara mereka bekerja. Sambil senyum saya berpikir, tak heran negara dan pendidikan Indonesia kacau balau, mengurus hal kecil dan acara seperti ini saja juga kacau. Tapi sudahlah. Cerita behind the scene acara puncak Hardiknas dan kisah berdirinya saya di panggung menerima SK dari RI 1 dan Mendiknas mungkin akan saya tulis khusus di tulisan dengan tema kritik dan opini deh, hehe, cukup mengganggu soalnya. Tapi itu nanti saja, ini temanya kan yang happy-happy. Btw, SK tersebut sebenarnya sudah saya download jauh-jauh hari sebelumnya di internet, hehe.

Setelah pertemuan langsung dengan RI 1 yang ternyata cukup simpatik –jabat tangan erat, senyum tulus, dan tatapan yang langung menatap masuk mata saya-, mendadak saya jadi terkenal deh. Permintaan wawancara dan jadi narasumber talkshow di TVRI datang, belum lagi orang-orang di kampus yang tiba-tiba jadi ikut heboh. Hehehe, saya senang dan berterima kasih, sekaligus geli dan miris mengingat cerita di balik layarnya. Tapi ngomong-ngomong juga, saat talkshow langsung di TV menyenangkan juga. Mungkin karena presenternya pun teman saya sendiri, jadi saya bisa sangat rilex. 30 menit terasa sangat sebentar, hehe.

Kado istimewa lainnya saya dapat dari Wawan Sofwan, dengan pementasan monolog „Perang Klamm“, hari Rabu lalu. Luar biasa! Saya tergetar, seperti kaca dan daun jendela yang ikut bergetar dengan gelegar suara Wawan. Saya tidak bisa melukiskan pementasan itu dengan kata-kata. Semua yang hadir juga terpesona dan terhenyak dengan pementasan yang sangat menusuk hati. Membuat semua yang hadir –mahasiswa dan dosen- berpikir ulang tentang makna ada di dalam kelas dan untuk apa. Saya kembali disadarkan untuk apa saya menjadi dosen. Mahasiswa kembali disadarkan, bahwa dosen juga manusia. Terima kasih, Kang Wawan, untuk kado yang sangat istimewa. Hari itu memang lengkap, selain Wawan yang datang, di Sastra hadir juga Yasraf Amir Piliang dan Putu Wijaya yang memberikan pencerahan-pencerahan lain.

Paling istimewa tentu saja Abschlussfest mahasiswa kemarin. Ini yang selalu membuat saya dan tentu saja dosen-dosen lainnya terharu campur bangga dengan kreativitas mahasiswa. Semua berpartisipasi. Dan sebagai dosen linguistik yang paling banyak terlibat dengan mahasiswa semester 8 pengutamaan linguistik, saya kembali bangga dengan kreativitas mereka dan bagaimana mereka mengaplikasikan apa yang sudah mereka dapat selama 2 semester berada di pengutamaan linguistik. Saya yakin, mereka akan menjadi linguis-linguis andal yang sangat peka dan cinta pada bahasa. Kali ini mereka menampilkan Sprachkabaret, berkisah tentang proses produksi acara berita, lengkap dengan reportasi dan iklan. Di situlah saya tahu bahwa mereka benar-benar paham apa yang mereka mereka pelajari di perkuliahan Psycholinguistik, Semiotik, dan Sosiolinguistik. Dengan kreativitas yang luar biasa mereka tampil penuh percaya diri, dan kocak tentu saja. Kembali saya dan semua yang hadir terpingkal-pingkal sambil juga mengangguk paham karena mereka tetap menyelipkan materi-materi perkuliahan yang mereka dapat. Usaha dan kerja keras mereka selama satu tahun ini membuahkan hasil yang manis. Tidak saja untuk hal-hal yang bersifat akademis saja, tetapi juga untuk masalah kreativitas. Saya amat sangat bangga pada mereka. Dan ini adalah kebahagiaan saya terbesar sebagai pendidik. Kebahagiaan yang tak terkira. Untuk itu saya sangat bersyukur dan juga berterima kasih pada mahasiswa-mahasiswa saya yang sudah memberikan kebahagiaan yang besar ini pada saya. Semuanya menjadi sangat indah. Maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang bisa saya dustakan? Tak ada dan tak bisa, walaupun sambil sakit gigi dan harus dicabut :)

Mendengarkan dan Menyimak

Membaca dan memaknai tulisan Ahda Imran di suplemen Khazanah HU Pikiran Rakyat hari Minggu 17 Mei 2009 lalu tentang pementasan teater „Di Bawah Lapisan Es“, membuat saya merenung banyak. Kebetulan pula sesiangan itu saya ada di Ciwidey: menikmati dan merenungi alam. Seperti biasa dan serta merta pula banyak hal berseliweran di kepala saya. Namun, yang paling dominan adalah pertanyaan tentang apakah bagi kebanyakan orang kegiatan melihat dan menonton itu lebih menarik dan menggairahkan dibandingkan dengan kegiatan mendengarkan dan menyimak?

Kesemuanya mungkin mengesankan tindakan yang pasif, walaupun saya lebih memilih dan menyukai kegiatan mendengarkan dan menyimak. Untuk saya, gelombang bunyi dan suara yang menggetarkan gendang telinga selalu jadi sesuatu hal yang mengasyikkan. Saya sangat menyukai peristiwa saat saya memejamkan mata dan mendengarkan bunyi-bunyian yang ada. Yang lirih yang lebih saya suka. Selalu ada sensasi hening yang menggetarkan dari denting atau gemerisik atau apapun itu bentuknya yang lewat ke telinga saya. Apalagi jika ada melodi yang merdu membuai belai. Walaupun juga jika kata dan kalimat bermakna yang bisa saja sangat menusuk tajam. Kadang hal-hal semacam itu lebih indah dibandingkan pandangan mata yang tusukannya kadang lebih tajam.

Boleh jadi saya memang aneh, ketika untuk kebanyakan orang, pergi menonton (bioskop atau apapun itu) lebih memuaskan dibandingkan menyimak pertunjukan teater yang penuh dengan monolog dan miskin gerak. Monoton. Membosankan. Meletihkan. Bisa jadi. Dan tulisan Ahda Imran di atas menurut saya mempertegas anggapan, bahwa pertunjukan teater akan menarik dan tidak membosankan jika tidak miskin gerak dan tidak banyak bermonolog.

Bolehlah juga dikatakan saya membela diri, karena saya turut andil dalam proses produksi pementasan „Di Bawah Lapisan Es“. Saya turut „membedah“ dan memaknai naskah, juga memberikan masukan bagaimana para pemain „sebaiknya“ bergerak dan berbicara. Kebetulan, yang saya bayangkan pun sama dengan apa yang dimaui sang sutradara. Kami „membaca“ hal yang sama, begitu pula dua rekan lain yang menjadi semacam „konsultan“ pementasan ini. Naskah tak diubah, karena menurut kami, naskah ini sangat padat dan kaya akan pemikiran, konsep, dan kritik terhadap isu-isu kapitalisme. Terhadap hidup. Lebih dalam lagi, naskah ini sangat reflektif. Kekuatannya memang pada kata. Pada kalimat. Pada bahasa. Tubuh dan gerak akan mengikuti makna. Kadang tak perlu bahkan jika sudah terwakilkan oleh bahasa. Paling ditunjang oleh mimik dan intonasi. Itupun mungkin tak terlalu perlu jika ada beberapa ekspresi yang ditekan. Dan naskah ini berkisah tentang kesepian. Yang menurut bayangan kami akan sangat hening dan diam. Dingin. Seperti di bawah lapisan es.

Adalah proses menyimak yang luar biasa meletihkan memang, jika kita tidak terbiasa dengan itu. Mendengarkan dan menyimak monolog panjang sarat pertanyaan bukan pekerjaan mudah. Saya akui itu. Ketika saya menyimak pementasannya secara utuh (biasanya saya menyimaknya saat latihan), saya sadari juga betapa sulitnya menjaga konsentrasi orang per orang untuk tetap sadar dan tetap ada dalam alur kata dan bahasa. Untuk saya mungkin relatif lebih mudah, karena saya terlibat di dalamnya.

Naskah ini memang naskah yang sulit. Idealnya ada lebih banyak tulisan pengantar sebelum pementasan yang membedah naskah ini dari beragam perspektif, sehingga diharapkan akan dapat memberikan semacam gambaran tentang dan untuk naskah ini. Ketika saya diminta membuat tulisan pengantar pun, kepala saya penuh dengan banyak ide, karena naskah ini „bicara“ banyak. Dia membuka diri seluas-luasnya untuk dibedah. Sayangnya, seperti biasa kebiasaan jelek saya muncul, akhirnya saya malah menulis seadanya. Pada akhirnya pula, seperti biasa, kata dan bahasa tak sanggung mewadahi apa yang ada di kepala saya. Dan memang pada akhirnya, suara-suara di kepala saya memang lebih banyak saya dengar dan saya simak, tanpa perlu saya lihat wujudnya dalam bentuk tulisan. Saya cukup puas dengan itu.

Mungkin ini hanya masalah selera. Sangat relatif. Tak bisa dipaksakan. Orang boleh suka pada apapun dan berpendapat sesukanya. Seperti juga saya yang tak bisa berhenti bertanya: mengapa kita tidak mulai belajar mendengarkan lalu menyimak sebelum kita mulai bicara dan bertindak? Pikiran saya melayang pada satu malam yang terasa hangat di tengah rinai hujan di satu tempat di utara kota Bandung:  Mendengarkan dan menyimak Abah Iwan Abdurrachman bersenandung dengan petikan gitarnya, memperdengarkan kekuatan mendengar. The Power of Listening. Mendengarkan suara alam dan suara hati. Dan saya juga selalu mengingat pada kata-kata dari film Babel: “If you want to be understood…Listen!”

Unter Eis: Memperkaya Apresiasi

Integrity – Respect – Responsibility – Costumer Focus – Teamwork – Transparency – Contribution – Commitment – Innovation – Safety of People  and Environment – Foresight –Team Orientation – Decency – Excllence – Dedication – Entrepeneurship- Professionalism – Fairness – Trust – Know-How – Convincing performance – Sound Client Relationship – Constant Learning – Continuous Improvement – Sustaining Value – Sharing Knowledge – Providing Superior Customer Value – Obtaining highest quality standards – Putting the client first – Seeking to excel – Keeping Client’s missin the Priority – Creating excitement to take action – Giving the best – Going beyond – Striving for improvement – Delivering the best – Working as team – Creating trust – Acting responsibly – Respecting Others – Focussing on the Customer – Showing absolute Commitment – Playing Fair –

(Unter Eis – Falk Richter)

Menonton: Ruang Belajar

Sebuah naskah teater memang menarik untuk dikupas dan diperbincangkan. Naskah tidak hanya membawa serta kekayaan bahasa melainkan juga kekayaan budaya. Sebagai sebuah kerja kreatif, membaca, menafsir, dan menerjemahan sebuah naskah ke dalam ‘bahasa’ baru tidak hanya merupakan proses yang menyenangkan, melainkan menegangkan untuk diurai. Dapat dikatakan kerja kreatif ini merupakan kerja kreatif yang sama mandirinya dengan kerja kreatif sang penyusun naskah dan pentas, di mana naskahnya mewujud lewat bahasa pertamanya. Ketika naskah tersebut dipentaskan, kekayaan dalam proses kreasi dan penafsiran akan semakin jelas, sehingga akan semakin banyak yang bisa diketahui. Apa gunanya untuk para penonton?

Sebuah pertunjukkan teater tentunya tidak hanya berhenti pada sekedar menonton. Pengayaan pengalaman dan proses belajar yang terjadi pada penonton sebenarnya merupakan cerminan sejauhmana sikap menonton bergerak dari  “belajar menonton” ke “menonton sebagai belajar.” Naskah “Unter Eis” dari Falk Richter adalah salah satu dari sekian banyak naskah teater yang memberi ruang leluasa untuk belajar.

Unter Eis

Naskah “Unter Eis” dari Falk Richter yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Di Bawah Lapisan Es” oleh Heliana Sinaga, berkisah tentang rasa kesepian dan kehilangan seorang tokoh konsultan di bidang ekonomi bernama Paul Niemand. Dia telah melewati puncak kariernya sebagai konsultan, tetapi mau tak mau tetap harus melewati persaingan yang keras dengan konsultan-konsultan yang lebih muda, segar, energis, produktif, efisien, dan berdaya saing tinggi, seperti terlihat dalam dialog mereka tentang “Core Values” di atas.  Dunia mereka dijejali dengan nilai-nilai yang berorientasi pada tugas, dinamika, dan pelayanan. Namun sayangnya, karakter-karakter positif khas dunia industri tersebut pada sisi lain bisa dilihat juga sebagai sebuah kebuasan dalam bertahan hidup.

Di akhir masa kariernya, tokoh Paul Niemand mempunyai ruang untuk kembali berpikir dan merasai kemanusiaannya yang hilang. Ternyata kesepian adalah karibnya. Dibandingkan dengan kedua rekan konsultan sesamanya -Karl Sonnenschein dan Aurelius Glasenapp- yang sedang berada di puncak kariernya, Paul Niemand merasa bahwa sekarang dia bukan siapa-siapa. Persaingan selalu butuh kesegaran, dan dia seperti singa tua yang ompong giginya.

Tematis kesepian ini semakin kontras ketika disandingkan dengan percepatan dunia teknologi, ekonomi dan politik di dalam naskah yang ditulis mirip kolase foto-foto yang tidak saling berhubungan, tetapi tetap saling menjelaskan. Naskah ini ditulis fragmentaris, tanpa alur yang jelas, sehingga membuat letupan-letupan kecil yang banal, liar, sekaligus dingin.  Monolog  panjang ditingkahi dengan dialog-dialog pendek bersahutan membuat pemahaman atas tokoh-tokohnya menjadi lebih kaya interpretasi.

Tampak jelas melalui tokoh-tokohnya Falk Richter mencoba masuk ke dalam dunia penghayatan para konsultan. Dia membedah imajinasi kegilaan-kegilaan semua tokohnya, yang memungkinkan kita bisa memahami dinamika pribadi dan gangguan-gangguan yang punya jejak jelas dalam kultur industri. Kegilaan dan keliaran yang muncul seolah tak bisa dihindari, melainkan seperti kutukan yang diterima oleh masyarakat modern: dingin, tak berakhir bahagia.

Richter memotret pula dimensi dikotomis para pelaku dalam dunia ekonomi. Di satu sisi mereka menjadi pelaku, pada saat bersamaan mereka adalah korban. Naskah  ini pun cukup cerdas mengungkap “dunia” atas nama produktifitas dan efisiensi dengan konsekuensinya yang lambat laun menghilangkan kemanusiaan.

Menarik pula untuk dicermati, bahwa selain ketiga tokoh laki-laki dewasa, muncul juga tokoh anak yang dalam beberapa bagian naskah tampak tua dan kesepian.  Anak-anak terjebak pada dunia yang sebenarnya serakah, rakus, egois, liar, dan gila.  Dinginnya dunia industri sudah terasai sejak dia kanak. Kegilaan yang berusaha dibongkar lewat sosok si anak pun bahkan tidak bisa diurai lagi. Sehingga tidak jelas, apakah dia pernah punya ruang waras pada masa kanak-kanaknya. Ketika kenangan menjadi sekedar serpihan yang harus selalu disusun untuk ditafsir, dia pun tidak memilikinya. Sekedar serpihannyapun tidak.  Apakah ini juga yang terjadi pada anak-anak sekarang?

Membacai dan memaknai naskah ini, seperti yang diungkapkan oleh tokoh Sonnenschein: “Selalu ada sebab mengapa semua langkah harus diteruskan dan stagnasi adalah kemunduran, karena diamnya orang lain bukanlah kemutlakan yang tetap berdiri, melainkan yang lain pun harus bergerak dengan cara yang berbeda”, membawa kita pada kesadaran tentang efisiensi dan hasrat yang rasional, namun dingin, keji, tega, dan keras. Bahasa yang terasa masuk akal, dibaliknya menyemburatkan gerak persaingan yang dingin dan tak kenal kompromi.

Penggunaan kata-kata  yang didominasi kata benda dan pembendaan, menambah kesan dingin dan berjarak pada tokoh dan relasi antartokohnya. Pun pada pengamatan dan pemaknaan atas suatu peristiwa.  Kalimat-kalimat yang singkat padat terjadi dalam setiap dialog cepat bersahutan antara tokoh Sonnenschein dan Glasenapp:

“Sonnenschein : internasionalisasi memainkan peranan yang mutlak/Glasenapp        : action/Sonnenschein: fokus pada tujuan/Glasenap : kemampuan untuk bergaul dengan yang lain”

Potongan dialog di atas tampak jelas, namun emosi yang terasa dari kalimat-kalimat tersebut terasa dingin, bernada memerintah, sekaligus abstrak dan rumit, tak menjejak, dan menceracau, tapi sekaligus penuh dengan kuasa yang tak mampu untuk bisa dipahami. Hal ini senada dengan judulnya yang jauh “Di bawah Lapisan Es”: jauh dari kemampuan untuk menyadari lapisan kesadaran atas realitas yang ada saat ini.

Yang juga menonjol dalam naskah ini adalah bagaimana Falk Richter memainkan keteraturan rima dalam dialog-dialog antartokohnya. Dalam naskah aslinya yang berbahasa Jerman jelas terlihat bagaimana rima muncul tidak hanya di akhir kalimat, namun juga muncul di dalam kalimat itu sendiri (“…diese irren, unsicheren Menschen”). Siasat ini memberikan kemudahan bagi pembaca atau penonton untuk menangkap secara lebih kaya nuansa emosi yang dikirim oleh para tokohnya. Adanya efek pengulangan dalam banyak bagian naskah, seperti “dan aku berlari tanpa henti. Aku berlari dan berlari. Aku ingin melawan langit…” atau “Aku berbicara dengan diriku sendiri, aku bergelut dengan diriku sendiri. …” membuat penutur lebih dapat menekankan emosi bahasa, baik pada pembaca, pendengarnya maupun bagi dirinya, sehingga emosi yang muncul lebih terhayati. Seperti merapal mantra, maka si perapal akan bisa mengalihkan tenaga pikirannya secara total pada rasa makna kata dan bahasa.

Naskah asli teater ini memang sangat musikal. Di Jerman naskah ini pernah  dipentaskan dalam bentuk opera. Rima bahasa seperti pada mantra diperkuat dengan musik. Sehingga tak pelak lagi naskah ini menjadi naskah yang dibuat tak hanya untuk memperkaya pikiran, tetapi sekaligus memperkaya rasa. Pilihan vokal atau konsonan dalam Bahasa Jerman yang cenderung berdesis dan tertutup menggugah perasaan curiga, sepi, dan dingin. Konten yang emosional dengan banyaknya kata berkonsonan dan berbunyi eksplosif (konsonanisasi) dalam Bahasa Jerman, membuat rasa emosi bahasa tersebut tepat sampai pada tataran ekspresi emosi yang lebih tegas, bukan pada tataran aksi semata. Sehingga sebenarnya pada bahasa aslinya, pesan emosi sudah cukup tersampaikan hanya lewat bebunyi bahasa. Kesulitannya, konstruksi kata dalam bahasa Indonesia yang lebih banyak mengandung unsur vokalisasi (kombinasi konsonan-vokal-konsonan, atau vokal-konsonan-vokal), membuat rasa emosi bahasa menjadi kurang tegas, sehingga perlu tekanan-tekanan di luar pelafalan. Hal ini menjadi tantangan dalam proses penerjemahannya. Untuk itu, penghayatan aktor saat karya ini dipentaskan menjadi penting, agar rasa emosi pada bahasa awal dapat tersampaikan.

Kritik Falk Richter atas budaya kerja yang mengedepankan isu efisiensi, efektitas, produktifitas, model negosiasi, intrik, konflik, politik “main kayu” di kantor dengan gamblang terlihat. Pemberian label karakter “schizophrenia paranoid”  pada tokoh-tokohnya, muncul juga dalam masyarakat kita. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah kegilaan ini diturunkan, terbentuk secara genetik, atau dibentuk oleh lingkungan? Ketika tema percepatan meretas kehidupan sejak dini lewat isu-isu kelas-kelas akselerasi, kompetensi, ujian akhir yang berfokus pada kemampuan berpikir,  hal ini bisa dilihat sebagai upaya memaksimalkan kemampuan anak untuk bekerja dalam sebuah sistem industrial yang lebih besar.

Falk Richter membuat dan mementaskan naskah “Unter Eis” sebagai bagian dari tetralogi pementasan “Das System”, yaitu Electronic City, Unter Eis, Amok, dan Hotel Palestine. Kesemuanya memotret kisah orang-orang yang “terjebak” dalam modernitas pada masyarakat modern, lengkap dengan segala konflik inter- dan intrapersonalnya. Kelompok mainteater dengan sutradara Wawan Sofwan telah mementaskan naskah Electronic City (setelah sebelumnya naskah “God is a DJ”, juga dari pengarang yang sama). Pada tanggal 15 Mei 2009 dengan sutradara yang sama, kelompok ini akan mengusung “Unter Eis” atau “Di Bawah Lapisan Es” untuk pertama kalinya ke hadapan penonton Bandung.

Dengan komposisi naskah yang kaya akan ruang pemaknaan, kritik yang lugas dan tajam terhadap dunia ekonomi –khususnya dunia para konsultan dan akuntan-,  bahasa yang ritmis, ironis dan satiris, tapi sekaligus juga hening dan kontemplatif, pembaca –dan kelak penonton-  dapat dengan bebas berjalan-jalan sekaligus belajar.  Berjalan dan mempelajari dunia di bawah dinginnya lapisan es.

Bandung, 2 Mei 2009

(Ditulis oleh: Dian Ekawati dan Dien Fakhri Iqbal sebagai tulisan pengantar untuk pertunjukan „Di Bawah Lapisan Es“ oleh mainteater tanggal 15 Mei 2009 di Selasar Soenaryo dan 19-20 Mei 2009 di GK Rumentang Siang Bandung).

Ben X

Ben_X_website_5

Ben adalah pahlawan. Sempurna tak terkalahkan. Lawan-lawan bisa dilibasnya dengan sempurna. Semua mengaguminya. Termasuk Scarlite. Si Cantik yang juga memujanya. Ben adalah pahlawan. Di dalam permainan online tapi. Di luar dia adalah seorang penderita sindrom Asperger yang menjadi bahan olokan orang-orang di sekitarnya. Hanya ibu, ayah, dan adiknya yang pada akhirnya mau menerima kondisinya. Namun, tentu saja bukan penerimaan tanpa kecemasan dan ketakutan. Bukan atas Ben, tapi lebih pada ketakutan mereka sendiri.

Di dunia nyata –jika diasumsikan ada dunia nyata dan dunia maya- Ben adalah sosok yang terlihat lemah. Tak bisa dan tak mau berkata juga melawan jika ditindas. Dunianya adalah dunia di dalam pikirannya sendiri. Tak ada orang yang bisa mengerti dan masuk ke dalamnya. Dia pun tak membiarkan itu terjadi.

Ben tak bisa dan tak mau tersenyum. Bicara apalagi. Tak ada guna, pikirnya. Walaupun dia mampu. Sampai pada akhirnya, dunianya yang aman hancur oleh dua orang yang mengakuinya sebagai “teman baik kami”. Katanya. Dipaksa menjadi tontonan tak senonoh di ruang kelas. Diiringi sorak sorai penuh kepuasan, dari orang-orang yang disebut teman. Ben berontak. Dunianya tak aman lagi.

Ben semakin gelisah. Scarlite datang menemani. Membuatnya percaya bahwa dia tak bisa meninggalkan permainan begitu saja. Tidak tanpa ditemani Scarlite. Scarlite-lah penyelamatnya. Ben tidak boleh mati. Tidak, jika kematiannya tidak kreatif. Maka Ben merancang berangkat ke laut bebas. Keluarganya turut serta. Di atas kapal yang mengarungi lautan luas, dia menerjunkan dirinya. Direkam oleh kamera yang menangkap saat laut tiba-tiba menjadi sangat hening dengan angin yang berhembus lamat-lamat.

„Harus ada kematian dulu jika ingin ada hidup“, begitu ibu Ben berkata. Semua orang berkumpul di gereja. Duduk mengenang akhir hidup Ben yang tak terduga. Siapa nyana Ben bisa bertindak nekat. Siapa pula yang menyangka jika kemudian Ben bangkit lagi saat kamera memutar kembali rekaman wajah-wajah sadis tertawa penuh kepuasan saat mempermalukan dirinya. Ben telah memilih kematiannya. Mati dengan kreatif. Untuk hidup menjadi dirinya yang berbeda dari orang-orang yang hidup di dunia ini. Dia memilih dunianya sendiri. Dengan Scarlite yang juga hanya ada dalam imajinasinya. Dengan kuda yang tampaknya lebih memahami dirinya.

„Bukan hidup Ben yang harus dicemaskan, tapi sebenarnya kita sedang takut hidup kita yang terancam. Dan saya ingin melepaskan ketakutan saya dengan melepaskan Ben untuk hidup di dalam dunianya sendiri.“ Begitulah sang ibu merelakan hidupnya dan hidup anaknya.

Film berjudul „Ben X“ karya Nic Baltazhar dari Belgia tahun 2007, yang katanya berasal dari kisah nyata ini, bercerita tentang pikiran dan perasaan seorang penderita sindrom Asperger dan tekanan sosial yang dihadapinya. Film yang bagus dan detil menangkap fenomena yang saya rasa bisa ditemui di mana saja. Tidak hanya tekanan yang dihadapi oleh penderita suatu penyakit, namun tekanan sosial juga berlaku untuk apapun dan siapapun yang ada „di luar „yang lain“ dari yang kebanyakan ada dan terjadi. Labelisasi yang diberikan oleh yang menjadi mayoritas apapun itu bentuknya: ras, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial, psikologis. Apapun. Bahkan agama. Sehingga tidak ada lagi kita. Yang ada hanya kami dan kalian. Tak berani menyebut kamu dan aku. Labelisasi yang diberikan entah atas nama apa dan untuk apa. Selalu ada kepuasaan ketika berhasil menekan dan mendominasi. Dan yang mengerikan adalah jika yang ditekan dan didominasi menjadi sangat tak berdaya dan akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Tanpa perlawanan.

Namun, masih adakah rasa bersalah? Karena saya tetap yakin, rasa bersalahlah yang membedakan manusia dari makhluk yang lainnya. Dan saya rasa semua orang –sejahat-jahatnya dia- pasti punya rasa itu. Sekecil apapun rasa bersalah itu pastilah muncul. Pun jika dia tetap tak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan keterbedaan terjadi di depan matanya. Dan apakah diam menjadi tanda setuju atau justru perlawanan yang paling mungkin di saat tak ada kuasa untuk melawan dengan frontal? Di film Ben ada dua orang teman sekelas Ben yang diam, menyaksikan Ben dipermalukan. Diam yang geram. Dan merasa bersalah. Tak berdaya. Mungkin rasanya lebih perih. Seperti saat saya merasa bersalah, saat seorang ibu tua yang kotor dan bermulut kasar ditarik polisi keluar dari halaman rumah saya. Keluarga saya, tetangga sekitar kami terganggu oleh kehadirannya yang tak diharapkan. Dan saya merasa bersalah. Saya juga bersetuju agar dia dibawa ke panti jompo, karena masyarakat di lingkungan kami –yang bukan siapa-siapanya- tak mampu dan bersedia merawatnya. Dengan beragam alasan. Saya diam saat ibu itu dibawa. Diam yang geram, karena saya juga tak berdaya untuk melakukan apa.

Apakah Ben juga merasakan rasa bersalah yang sama saat dia berhasil membalaskan dendamnya saat dia „bangkit dari kematiannya“, tersenyum puas saat melihat orang-orang yang pernah menindas dan mempermalukannya kali ini tertunduk malu, tak ada daya. Apakah dia tak jadi sama dengan mereka? Dan pada manusia tetap puas jika dia bisa mendominasi yang lain. Menguasai yang lain. Mungkin ini juga yang memanusiakan manusia. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.