„3: Alif, Lam, Mim“ – Mempertanyakan Kebenaran

0134508Berita-Film-Baru-3-Alif-Lam-Mim-Film-Aksi-Garapan-Sutradara-Comic-8p

Ternyata saya membutuhkan waktu lebih dari sepekan untuk menulis tentang film yang membuat badan saya gemetar setelah saya menontonnya. Entah kenapa, bolehlah saya dibilang lebay, tetapi adalah benar tubuh saya gemetar saat saya keluar dari gedung bioskop. Dada saya pun sesak serasa mau meledak usai menyaksikan film berdurasi 122 menit ini. Setelah Film Soekarno yang mampu membuat saya bergetar, ini film Indonesia kedua yang memberikan efek dahsyat pada saya. Saya seperti dibentur-benturkan pada kenyataan yang datang bertubi-tubi di depan mata, membuat saya menahan nafas, dan akhirnya saya hanya dapat berkomentar pendek: gila! Anggy Umbara, sutradara film ini, memang gila. Baru kali ini saya menonton film Indonesia yang dibuat dengan berpikir cerdas dan membuat penontonnya –terutama saya- juga ikut berpikir. Dan ternyata saya perlu berjarak dulu untuk kemudian dapat menuliskan apa yang ingin saya tuliskan di sini.

Ini film fiktif yang berkisah tentang Indonesia, khususnya situasi di Jakarta pada tahun 2036. Nuansa kelabu dalam film ini menegaskan genre yang diklaim oleh Arie Untung, sang produser, sebagai action drama dystopian. Genre fiksi distopia sebagai lawan dari genre fiksi utopia memang berkisah tentang kecemasan dan ketakutan atau degradasi kehidupan sosial suatu masyarakat yang disebabkan oleh konspirasi politik, kekuasaan, kecurigaan dan ketidakpercayaan publik terhadap orang per orang atau satu institusi bahkan pada negara. Dibuka dengan scene saat tokoh utama Alif (Cornelio Sunny), seorang polisi muda, sedang bertugas menumpas sebuah kelompok penjahat, penonton langsung disuguhi adegan-adegan laga beladiri yang cenderung hening, tidak rusuh, diakhiri dengan matinya sang penjahat oleh sebuah peluru tajam, yang sebenarnya tidak diperbolehkan ada dalam kepolisian Indonesia di masa itu. Akibat dari matinya orang yang dianggap penjahat ini adalah diskorsnya Alif dari pekerjaannya, karena dianggap “kecolongan” tidak dapat menangkap sang penjahat dalam keadaan hidup.

Cerita bergerak maju sampai muncul tokoh Lam (Abimana Aryasatya), teman Alif di masa kecil, yang kemudian mengajak penonton untuk berkilas balik pada peristiwa saat orang tua Alif dibunuh. Peristiwa pembunuhan orang tua Alif yang tidak pernah terusut tuntas ini membuatnya bertekad bahwa dia akan menegakkan kebenaran dan menumpas semua bentuk kejahatan, bagaimana pun caranya dan pada siapapun itu. Lagi-lagi penonton tidak dibiarkan bernafas sejenak karena adegan-adegan beladiri muncul dengan manis sebagai bagian dari cerita. Para tokoh utama film ini, yaitu Alif, Lam, dan Mim (Agus Kuncoro Adi), mulai diperkenalkan secara eksplisit, termasuk cita-cita mereka yang membawa mereka pada akhirnya menjadi mereka saat itu. Alif yang ingin menjadi polisi, Lam yang ingin menjadi jurnalis yang mencari kebenaran, dan Mim yang ingin tetap berada di pesantren yang dulu membesarkan mereka bersama.

Narasi bergerak maju mundur dengan konflik yang terpilin rumit namun halus dijalin seiring dengan munculnya tokoh Laras (Prisia Nasution), perempuan masa lalu Alif, yang pada akhirnya menjadi salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam jalinan konflik yang rumit. Kisah pribadi para tokoh utamanya, kehidupan cinta dan keluarganya, dirajut dengan konflik di sana sini sampai akhirnya memuncak pada scene bom meledak di sebuah cafe tempat Laras bekerja. Peristiwa ini membawa Alif kembali bertemu Mim yang dianggap musuhnya dan Lam yang selalu berusaha berada di antara keduanya. Konflik pun semakin tajam dengan ditangkapnya Kyai Mukhlis (Arswendi) dan dibukanya kedok tokoh-tokoh yang secara tidak terduga terlibat dalam konflik tersebut serta munculnya tokoh-tokoh baru yang di luar dugaan, tetapi ternyata berperan banyak untuk keseluruhan kisah. Di titik ini lah kebenaran kemudian dipertanyakan. Apa itu kebenaran?

Kebenaran dalam Film 3 ini bukanlah kebenaran absolut yang hitam putih sifatnya. Dia ada dan menjadi benar menurut siapapun yang menganggapnya benar, seperti kata Rorty (1991) “Kebenaran adalah commendation sosial. Ia adalah apa yang kita anggap sebagai kebaikan. (…)”. Alif beranggapan bahwa menumpas kejahatan apapun bentuknya dan siapapun pelakunya adalah kebenaran, karena artinya dia telah melakukan satu nilai “kebaikan” menurut versinya. Maka memburu penjahat, bahkan mengambil jantung dari penjahat yang dia kejar, bahkan melawan sahabatnya sendiri adalah kebaikan, sehingga yang dia lakukan adalah benar. Demikian juga dengan Lam yang menganggap bahwa mencari kebenaran dari suatu peristiwa ditunjang dengan data dan fakta yang valid tetapi tetap berdasarkan perspektif pribadinya adalah satu kebaikan, walaupun dia harus kehilangan pekerjaan resminya sebagai wartawan ternama di sebuah media besar dan bahkan kehilangan istrinya –Gendis (Tika Bravani)-. Namun, itu adalah kebaikan, seperti yang diungkapkan oleh tokoh Gendis, bahwa dia tidak ingin menjadi istri yang membuat suaminya tuli, tidak bisa mendengar kata hatinya sendiri. Mengorbankan nyawanya demi menjaga keluarganya adalah sebuah kebaikan, menurut aturan sosial manapun. Maka apa yang Gendis lakukan adalah benar.

Mim pun memiliki “versi” kebenarannya sendiri. Pilihannya tetap bertahan di pesantren di tengah kepungan masyarakat yang semakin liberal dan tidak percaya Tuhan tentu adalah kebaikan tersendiri. Dia yang tidak pernah sampai membunuh lawannya bahkan merawat lawan-lawannya tersebut adalah kebaikan yang juga dapat dianggap sebagai kebenaran. Laras melakukan kebaikan dengan memberikan flashdisk berisi data-data yang dapat membantu Lam mengusut peristiwa pengeboman di cafe yang membuat Alif dan Mim harus saling melawan. Sosoknya yang abu-abu di awal tetapi kemudian sikapnya semakin jelas dengan memberikan penawar racun kepada Alif, mengorbankan dirinya agar Alif dapat melanjutkan perjuangannya, ini tentu adalah kebenaran menurut versinya. Perspektif kebenaran lain muncul dari tokoh Kyai Mukhlis yang dengan kebaikan hatinya rela merawat para polisi yang sudah jelas-jelas melawannya dan membiarkan dirinya ditangkap serta diadili tanpa pengadilan yang jelas, tentu dia pun sedang melakukan suatu kebenaran.

Tidak hanya tokoh-tokoh protagonisnya, tokoh-tokoh abu-abu lainnya pun punya versi kebenaran masing-masing. Oleh karena itu, saya pun pada akhirnya tidak dapat mengkategorikan para tokoh abu-abu itu secara tegas sebagai tokoh antagonis. Setiap tokoh punya alasan sendiri mengapa mereka melakukan suatu tindakan yang secara normatif disebut sebagai kejahatan. Alasan yang logis dari suatu peristiwa –katakanlah- kejahatan apapun bentuknya pada akhirnya dapat dipertanyakan kembali. Apakah benar itu semua kejahatan? Bukankah kebenaran hanya akan ada jika dan hanya jika ada sesuatu yang disebut kejahatan? Siapa yang dapat menentukan itu jika setiap orang punya alasannya sendiri terhadap tindakan yang dia lakukan, apalagi dengan diiming-iming kata “kebaikan” atau “demi kebaikan”. Jika mengacu kembali kepada pendapat Rorty di atas, maka kebenaran itu pada akhirnya menjadi lentur.

Kelenturan inilah yang dengan cerdas disimbolkan melalui beladiri silat yang menjadi medium utama aksi laga film ini. Pemilihan silat menjadi menarik mengingat film ini dikemas secara futuristik dengan menggunakan bantuan teknologi Computer-Generated Imagery, tetapi justru menampilkan silat yang cukup tradisional. Gerakan-gerakan silat yang lentur, efek slow motion ditingkahi dengan guyuran hujan yang semakin membuat efek dramatis sebuah perkelahian membuat laga dalam film ini adalah laga yang lirih dan lentur, bahkan nyaris tanpa darah, walaupun bukan tak berdarah. Kesatuan wiraga, wirama, dan wirasa adalah filosofi silat yang dimunculkan dengan cukup apik di film ini.

Lepas dari beberapa kekurangan yang jika diperhatikan detil akan terlihat, seperti setting Jakarta tahun 2036 yang dikatakan bersuhu dingin tetapi pada scene Lam mengejar Laras justru terlihat panasnya setting tempat adegan tersebut diambil, lalu munculnya Arie Untung sebagai kepala sekolah dan Fenita Arie sebagai presenter berita juga terkesan agak dipaksakan, kemudian foto dua perempuan yang dipasang di dinding kantor kepolisian (yang kebetulan saya tahu betul siapa kedua perempuan itu) yang membuat penonton kemudian merasa ada yang janggal, walaupun mungkin hal ini dimaksudkan untuk membuat film ini menjadi terlihat tidak terlalu berat, serta scene ledakan bom yang masih terlihat kasar, atau scene Alif yang terlihat berlebihan saat mengambil jantung sosok „jahat“ yang dilumpuhkannya, secara keseluruhan film “3: Alif, Lam, Mim” ini adalah film yang padat. Banyak issue yang diusung dan digamblangkan lewat dialog-dialog para tokohnya dan scene-scene yang cukup menohok. Konspirasi polisi, politik, dan media, ideologi dan kuasa pemegang modal terhadap media, prasangka dan marginalisasi agama, negosiasi dan ideologi, semua dikemas dengan jujur dan lugas. Ini satu tindakan yang cukup berani diusung dalam film ini di tengah ketatnya pengawasan banyak pihak, seterbuka apapun klaim terhadap Indonesia sekarang.

Selain itu, film 3: Alif, Lam, Mim ini juga didukung oleh pemain-pemain yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Cornelio Sunny walaupun di scene-scene awal agak kurang lepas, tetapi seiring berjalannya cerita dia bisa bermain lepas dan mampu membawakan karakter Alif yang keras. Abimana bermain kalem tetapi cukup mampu menampilkan sosok Lam yang tenang tapi tegas. Agus Kuncoro sangat cocok menjadi Mim dengan karakternya yang tenang tetapi kuat. Prisia Nasution juga tidak diragukan lagi aktingnya sebagai Laras yang misterius, kuat, tetapi sebenarnya rapuh. Tika Bravani juga berhasil menampilkan karakter Gendis yang penyayang, anggun, tetapi pemberani. Cast lain yang bermain apik adalah Verdi Solaiman sebagai rekan sejawat Lam. Dan yang paling mencuri dalam film ini adalah akting Tanta Ginting yang muncul di akhir-akhir cerita. Dia berhasil membalikkan semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sepanjang cerita dengan aktingnya yang dingin, tetapi sangat cerdas, dan gila. Keseluruhan pemain bermain bagus untuk masing-masing karakternya.

Dialog-dialog yang disampaikan dalam film ini pun berbobot, cukup filosofis, tetapi tidak berat. Banyak dialog dilakukan dalam bahasa Inggris, entah kenapa, tetapi mungkin untuk menegaskan bahwa di masa itu Indonesia sudah lebih mengglobal atau mungkin ini juga salah satu cara agar film ini mudah dibawa ke luar Indonesia. Terbukti dengan world premier film 3 ini di Balinale beberapa hari sebelum tayang. Menurut kabar, film ini pun akan dibawa ke Los Angeles.

Saya beruntung, pada tanggal 1 Oktober, sebagai akibat dari keisengan saya berkomentar di akun sosial medianya Tika Bravani, pemeran Gendis, saya dapat berbincang dan bertanya-tanya langsung pada Arie Untung, Cornelio Sunny, Tika Bravani, dan Kang Yudistira dari Perguruan Silat Panglipur dalam diskusi tentang film ini di institusi tempat saya bekerja. Dari hasil perbincangan inilah saya tahu bahwa mereka yang ada di balik dan di depan layar ini adalah orang-orang Indonesia kreatif dan cerdas yang bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa untuk mewujudkan mimpi mereka. Bahkan ide cerita film ini pun, menurut Arie, berasal dari mimpinya Anggy Umbara, yang kemudian berusaha diwujudkan melalui proses panjang diskusi, kerja keras dan kreatif, jatuh bangun, dan pengorbanan lainnya, sehingga mewujud dalam satu karya berisi dan layak tonton. Dari mengurusi jalannya acara diskusi ini juga saya tahu, bahwa –tetap- ada negosiasi antara pemilik modal dan pelaku industri, bahkan negosiasi antara beberapa pemangku kepentingan. Mungkin karena saya menjadi sedikit tahu tentang apa yang ada di balik layar produksi dan promosi film ini, maka saya agak menyesalkan mengapa film ini hanya tayang lebih kurang delapan hari di bioskop-bioskop. Itu pun tidak semua bioskop di Indonesia menayangkan film ini. Hal ini sangat disayangkan, karena menurut saya film ini menjadi semacam pencerahan dan sinyal positif untuk kemunculan film-film Indonesia yang berkualitas. Namun, mengacu kepada ungkapan Arie Untung, film ini memang harus dilihat sampai akhir dengan mata hati dan pikiran terbuka, melihat sesuatu dari beragam perspektif, termasuk melihat situasi bahwa sayangnya industri kreatif di Indonesia masih memarginalkan kualitas dan bahwa pemegang modal tetap menjadi pengendali kuasa. Sayangnya, itu masih menjadi kebenaran, walaupun tidak absolut.

Mungkin, karena itu pula lah saya gemetar usai menonton “3: Alif, Lam, Mim” ini dan saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menuliskannya. Saya sedang dihadapkan pada kebenaran. Yang sering mengge(n)tarkan.

Bandung, 131015, 23:49

Advertisements

„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (1)

sayaterimanikahnya

Seperti biasa saya selalu terlambat jika menyukai sesuatu, tetapi kemudian biasanya saya akan menyukainya dengan sepenuh hati. Contohnya saat saya menyukai “Saya Terima Nikahnya” (STN) salah satu judul komedi situasi yang ditayangkan oleh NET TV sejak tanggal 26 Januari sampai 6 September 2015. Saya memang tahu bahwa ada acara situasi komedi ini, iklannya pun beberapa kali saya lihat, tampaknya menarik, tetapi saya tetap tidak menontonnya karena satu dan lain hal. Baru pada suatu hari di bulan Maret, saya tumben-tumbenan dapat menonton tayangan talkshow “Just Alvin” di Metro TV dengan bintang tamu salah satunya Tika Bravani dan Dimas Aditya, dua pemain di komedi situasi STN. Melihat mereka berdua saat diwawancara Alvin Adam membuat saya tersenyum-senyum sendiri dan entah mengapa juga “kupu-kupu di perut” saya ikut “menari”. Sejak itu saya penasaran pada STN sampai akhirnya saya membuka youtube. Untungnya NET TV memang mengunggah semua tayangan di saluran youtube, sehingga memudahkan saya untuk melihat semua rekaman tayangan STN dari episode awal. Episode “Preman KW” lah yang akhirnya saya saksikan langsung di TV. Untuk pertama kalinya, setelah 2 bulan STN tayang, saya menontonnya dan ternyata saya suka.

STN berkisah tentang sebuah keluarga menengah ke atas bernama Keluarga Arifin dengan tokoh utama Papi (Ray Sahetapy) yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung, tetapi harus pensiun dini karena menderita sakit jantung, Mami (Nungki Kusumastuti) seorang ibu rumah tangga yang sangat peduli pada kesehatan Papi dan keluarganya, tetapi dia juga sangat memperhatikan penampilan dan kecantikan dirinya, Kirana (Tika Bravani) anak tunggal Papi dan Mami berpendidikan S2, tetapi tidak berkarir di luar rumah karena menikah dengan Prasta (Dimas Aditya), seorang creative director yang memiliki karir bagus di sebuah perusahaan periklanan besar, tetapi di rumah tidak pernah ‘dianggap’ oleh Papi.

Dengan judul yang diambil dari kalimat sakral saat proses akad nikah, yang mengandung tanggung jawab dan “konsekuensi” besar untuk menerima apapun yang terjadi setelah kalimat tersebut diucapkan, maka STN mengangkat tema keseharian keluarga yang cukup “heboh” tersebut dan “konflik” yang tercipta antara Prasta dan Papi setelah Prasta masuk ke dalam kehidupan keluarga itu, yang pada akhirnya juga melibatkan Mami dan Kirana. Penggambaran keseharian, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan keluarga, dan konflik-konflik yang melibatkan anggotanya ini sering menimbulkan situasi yang lucu, menggemaskan, dan juga manis.

Diawali dengan tayangan perdana saat Prasta akan melakukan proses akad nikah, kegugupannya, dan klimaksnya adalah gangguan panggilan dari telefon genggam milik Abi, sahabatnya. Scene ini yang kemudian menjadi awal bagi “konflik-konflik” dan masalah-masalah lain yang terjadi antara dirinya dan Papi, yang pada akhirnya mau tidak mau juga melibatkan anggota keluarga lainnya. “Konflik” dan masalah yang dimaksud di sini bukanlah konflik dan masalah dalam arti per sè sehingga memunculkan dikotomi protagonis vs antagonis, seperti yang sering digambarkan dalam kisah sinetron-sinetron Indonesia pada umumnya, melainkan “konflik” dan masalah amat sangat ringan yang justru sering muncul dan dialami dalam kehidupan siapapun. Dengan demikian, siapapun yang menontonnya akan dapat tertawa atau minimal tersenyum simpul, karena penonton seolah dapat bercermin pada kisah yang diangkat. Misalnya tentang kekesalan Papi kepada Prasta karena burung kenari dan ayam kate peliharaannya tidak sengaja mati dan lepas oleh Prasta di epidose “Macan” dan “Cobra dan Singa”. Atau usaha-usaha keras Prasta untuk mengambil hati Papi, tetapi sayangnya selalu gagal, seperti dalam episode “Keran Air”, “Ramalan Zodiac”, “Mesin Cuci”, “Belajar Golf”, dll. Konflik batin Kirana sebagai istri, yang lulusan S2 tetapi tidak berkarir dalam episode “Melamar Kerja”, “Miss Kirana” atau “Fashion Blogger”, namun dia tetap berusaha belajar dan selalu ingin menyenangkan Prasta, walaupun juga sering gagal seperti dalam episode “Masakan Kirana”, “Satu Rumah Dua Koki”, dll. Konflik batin Papi yang biasanya sibuk, tetapi terpaksa harus pensiun dini karena penyakitnya dalam episode “Gelang Kolesterol”, dan juga konflik batin Mami sebagai seorang ibu yang takut kehilangan anak tunggal yang sangat dicintainya dalam episode “Brosur Rumah”. Tak ketinggalan tentu konflik batin Prasta yang selalu salah di mata Papi, seperti dalam episode „Preman KW“, „Menantu Pemberani“, „Prasta Minder“atau „Mobil Antik“.

Selain itu, tentu saja kisah cinta Prasta dan Kirana menarik untuk dimunculkan, misalnya dalam episode “Flash Back”. Lalu masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan mereka sebagai pasangan muda yang baru menikah juga menjadi sumber cerita yang menarik. Tema cemburu misalnya muncul dalam episode “Salah Paham”, “Masuk 86”, “Pria Idaman”, “Garage Sale”, “Personal Trainer”, “Kiriman Masa Lalu”, “Rahasia Baju Kenangan”, dll, sampai pada “konflik batin” pasangan muda yang belum juga memiliki anak seperti dalam „Ayo ke Posyandu“ dan “Cara Cepat Pengen Hamil”. Hal-hal kecil yang dalam kehidupan rumah tangga sering menjadi masalah disajikan dalam “Honeymoon Tertunda”, “Gara-gara Handphone”, “Liburan ke Bali”, “Mau Kerja Kok Repot”, “Gagal Nonton Bola”, dll. Selain itu, tema-tema yang sangat akrab dengan kehidupan perempuan seperti dalam “Diet”, “Penuaan Dini” atau “DVD Mami” atau kebalikannya hal-hal yang biasanya sangat disukai laki-laki, seperti “Bimasakti”, “Gamebox Idaman”, “Nobar”, dll. Tema-tema umum, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, dimunculkan dengan segar dalam “Hidup Sehat”, “Cacar”, “Salah Obat”, “Demam Berdarah” atau “Sakit Gigi”.

Dari sisi tema, STN mengusung tema besar yang sangat tidak biasa sebagai benang merahnya, yaitu mengangkat konflik menantu laki-laki dan mertua laki-lakinya. Selain itu, jam tayang awal dari Senin sampai Jumat memungkinkan penulis cerita untuk menggali beragam tema sehari-hari yang tetap mengacu kepada benang merah kisah ini. Menariknya, STN dapat mengintegrasikan program acara lain di NET TV ke dalam ceritanya, seperti dalam “Berpacu dalam Melodi”, “Masuk 86” dan pada episode terakhir STN sore tadi “Mami Belajar Nyanyi”.

Dari sisi pemain, STN didukung oleh pemain-pemain kawakan yang sudah dikenal dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia perfilman dan pertelevisian Indonesia. Ray Sahetapy sangat berhasil menghidupkan sosok Papi yang tegas, galak, posesif, percaya diri, tetapi juga jahil, suka iseng, manja, dan romantis. Nungki Kusumastuti adalah Mami yang lembut, sangat perhatian, penuh cinta, teliti, pandai memasak, tetapi sebenarnya sangat tegas dan galak. Pada akhirnya, rumah besar itu  sebenarnya dimotori oleh Mami, walaupun Papi adalah “Kepala Negara” nya. Tika Bravani juga berhasil menghidupkan sosok Kirana, anak tunggal kesayangan Mami –Papi, yang manja, kadang terlihat lugu dan polos, tetapi pintar dan sangat menyayangi serta setia pada Prasta, suaminya. Apapun akan dilakukannya untuk kebahagiaan Prasta, walaupun dia harus berbohong pada Papi. Dimas Aditya adalah sosok sentral dalam STN ini. Dia menjelma menjadi Prasta yang sering gugup, minder, tidak percaya diri, dan penakut –terutama bila berhadapan dengan Papi, tetapi tulus, penyayang, sekaligus jahil dan suka iseng. Wajah ganteng Dimas Aditya dan aktingnya sebagai Prasta yang penurut, tulus, dan penuh cinta, membuatnya langsung menjadi suami idaman para istri dan menantu idaman para mertua. Namun, tentu tidak di mata Papi.

Keempat pemain STN ini bermain sangat natural. Kedekatan dan keakraban mereka in frame tidak terasa dibuat-buat, mengalir alami begitu saja. Bahkan emosi marah, cemburu, atau pertengkaran pun muncul seolah-olah memang begitu adanya. Apalagi ekspresi cinta dan kasih sayang. Dengan demikian penonton dapat merasa, bahwa mereka sepertinya tidak sedang berakting, melainkan sedang memperlihatkan kisah kehidupan mereka sendiri di layar kaca. Celetukan-celetukan spontan dan lucu juga sering muncul dari Dimas Aditya dan Ray Sahetapy. Celetukan-celetukan itu menjadi lucu, karena mereka melakukannya dengan biasa saja, tidak dibuat-buat.

Para pemain STN bermain dengan hati sehingga menubuh kuat pada karakter-karakter yang mereka mainkan. Sehingga pada akhirnya penonton pun sulit untuk memisahkan Ray Sahetapy dari sosok Papi, Nungki Kusumastuti dari Mami, Tika Bravani dari Kirana, dan Dimas Aditya dari Prasta. Energi yang mereka mainkan in frame bisa sampai pada penonton. Sampai-sampai banyak komentar muncul dari penggemar STN di media sosial yang mengungkapkan bahwa mereka kasihan pada Prasta karena terus menerus dibully oleh Papi atau ikut terhanyut pada romantisme Kirana dan Prasta, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya peduli seperti kapan Kirana dan Prasta punya anak, atau mengapa orang tuanya Prasta tidak dimunculkan, menunjukkan bahwa STN cukup berhasil menarik perhatian penontonnya. Penonton tidak sedang melihat suatu tayangan komedi situasi di televisi, tetapi mereka sedang “diputarkan” dan melihat kisah kehidupan mereka sendiri, hal-hal yang mereka rasakan, mereka alami atau yang mereka inginkan. Pengalaman, rasa, dan impian para penonton direfleksikan lewat tokoh-tokoh dan setiap episode STN. STN menyuguhkan realita rasa dan kehidupan.

Hal ini pula lah yang mungkin membuat saya juga akhirnya menjadi betah dan sangat intens mengikuti STN sampai episode terakhirnya sore tadi. Saya yang biasanya tidak pernah menonton TV, kalau menonton pun hanya sekilas-sekilas untuk update saja dan untuk kepentingan mengajar, ternyata merasa harus mengosongkan waktu untuk menonton STN di hari dan jam tayangnya. Saya bahkan dapat mengulang-ulang scene-scene yang menarik perhatian saya. Saya sampai hafal dialog apa muncul dalam episode apa dan detil serta alur ceritanya. Beberapa kali pula dialog dan tema-tema di STN saya angkat dan diskusikan dalam perkuliahan saya.

Namun, sebagai penonton yang selalu melihat tayangan dengan detil –kalau ini memang kebiasaan saya-, saya merasa bahwa secara kualitas teknis STN Season 1 lebih baik daripada Season 2. Di kedua Season memang tetap ditampilkan gambar-gambar yang sangat “DSLR”, dengan samaran dan fokus yang pas. Sudut-sudut pengambilan gambarnya juga cukup bagus. Season 1 lebih berkisar mengambil gambar di sudut ruang yang sempit, tetapi sangat fokus, sedangkan Season 2 lebih berani mengambil sudut yang lebar dan luas. Mengenai detil setting dan properti, STN Season 1 juga lebih baik dari Season 2. Bahkan jarum jam pun diperhatikan betul kesesuaiannya dengan konteks cerita yang muncul dalam scene. Demikian juga dengan tattoo yang dimiliki Dimas Aditya  diperhatikan betul agar tidak tampak, walaupun sesekali sempat sedikit terlihat pula. Season 2 agak lemah dalam hal ini. Misalnya beberapa kali Kirana dan Prasta terlihat tidak menggunakan cincin kawin mereka, yang dalam Season 1 selalu tidak pernah lepas dari jari manis tangan kanan mereka. Jarum jam pun demikian, sering tidak sesuai konteks cerita, misalnya Prasta yang akan berangkat kerja pagi-pagi, tapi jarum jam dinding menunjuk ke angka 4 dan di luar terang benderang. Belum lagi setting ruang kerja Prasta yang tiba-tiba berubah menjadi sangat “tidak jelas”. Setting kamar Papi dan Mami pun baru dimunculkan di episode terakhir. Behind the scenes, yang biasanya sangat menarik perhatian penonton, juga dihilangkan diganti dengan foto-foto pemain, yang pemilihan warnanya menurut saya agak sendu. Script STN Season 2 pun tampak lemah. Beberapa cerita bahkan mengalir hambar tanpa alur yang jelas. Sayang sekali.

Offside

Di saat orang berpesta pora di luar, di malam pergantian tahun seperti biasa saya memilih menepi dan menyepi. Kebetulan pula saya menonton film Iran yang dibuat tahun 2006 berjudul “Offside”. Film berbahasa Persia dan disutradarai oleh Jafar Panahi ini berkisah tentang anak-anak perempuan yang ingin menonton pertandingan sepakbola antara Iran dan Bahrain. Pertandingan ini adalah pertandingan penentuan babak kualifikasi piala dunia untuk menentukan negara mana yang akan menjadi wakil Asia dalam babak final Piala Dunia di Jerman.

Diawali dengan seorang bapak yang pergi ke stadion untuk mencari anak gadisnya yang kabarnya pergi menonton bola ke stadion, karena di Iran perempuan dilarang menonton sebuah pertandingan di lapangan secara langsung. Akibatnya banyak perempuan penggemar bola berusaha dengan beragam cara untuk menonton pertandingan di lapangan, dari mulai berdandan a la laki-laki, sampai mencuri-curi masuk ke dalam stadion melewati penjagaan dan pemeriksaan yang ketat dari tentara. Film semi documenter ini hampir seluruhnya berisi dialog-dialog antara anak-anak perempuan yang tertangkap dengan para penjaganya. Namun, dialog ini tidak membosankan, karena lewat dialog-dialog ini Panahi menyoroti aspek-aspek sosial kemasyarakatan di Iran, terutama tema-tema seputar dinas militer dan peraturan-peraturan yang mengatur peran perempuan Iran dalam masyarakat. Kritik tajam misalnya dilontarkan salah seorang anak perempuan “tomboy” yang ditahan terhadap si penjaga  yang marah-marah karena menurut si penjaga gara-gara para perempuan-perempuan itu, dia tidak bisa pulang ke desanya dan membantu ibunya menggembalakan kambing dan mengolah ladang. Menurut si anak perempuan, si penjaga seharusnya bisa lebih tegas menolak perintah dan menuntut hak liburnya, karena tugas dia sebagai anak lebih penting. Si anak perempuan kemudian juga “menggugat” mengapa perempuan tidak boleh menonton pertandingan bola di lapangan, yang dijawab oleh si penjaga, karena para lelaki yang ada di lapangan bola itu kasar, suka mengumpat dan itu berbahaya bagi perempuan, yang kemudian “digugat” lagi oleh si anak perempuan, mengapa perempuan boleh berduaan pergi dengan lelaki ke bioskop, padahal justru di sana lebih “berbahaya” lagi. Stereotype tentang perempuan tidak mengerti sepak bola juga disorot di sini, karena ternyata mereka juga tahu teknik-teknik dalam permainan sepak bola, tidak hanya masalah fanatisme dan wajah tampang para pemain bola, ini juga membuat para lelaki penjaga heran. Scene yang cukup menggelitik adalah saat salah seorang anak perempuan ingin buang air kecil, karena di stadion tidak ada WC untuk perempuan, maka  setelah memaksa-maksa akhirnya dia diijinkan ke WC dengan wajah ditutupi poster bergambar wajah salah seorang pemain sepak bola. Si penjaga kemudian mengusir semua laki-laki yang ada di toilter atau yang ingin ke toilet, karena tidak boleh ada yang melihat anak perempuan itu. Demikian juga si anak perempuan diwanti-wanti untuk tidak membaca tulisan apapun yang ada di dinding toilet, karena katanya bahasanya sangat kasar dan tidak pantas dibaca oleh seorang wanita.

Banyak paradoks yang menarik ditampilkan dalam film ini, di satu sisi ada hal-hal “naif” dan “humanis” dari sisi para penjaga, yang notabene juga manusia biasa, laki-laki yang punya ibu, istri dan saudara perempuan. Ada ketidakberdayaan melawan para petinggi dan pimpinan yang juga semena-mena saja terhadap bawahannya. Dan tentu saja “protes” para perempuan yang “ingin disetarakan” dalam hal menonton sepak bola, yang tentu saja menjadi sebagian kecil dari protes terhadap ketidakadilan yang mereka dapatkan.

Di akhir film diceritakan bagaimana anak-anak perempuan itu dan para penjaga mereka bersuka cita bersama saat tim Iran bisa menang 1 – 0 atas Bahrain dan kemudian bisa lolos ke putaran final Piala Dunia di Jerman saat itu. Sepakbola menghilangkan sekat-sekat itu ternyata, semua menyatu dalam kegembiraan yang sama, walaupun sepakbola juga tak lepas dari intrik dan permainan politik.

Film yang penuh kewajaran, tidak meledak-ledak, namun berhasil membuat saya tersenyum di beberapa bagian. Senyum dengan kesadaran penuh, bahwa hidup ini memang paradoksal. Seperti saya yang lebih suka memilih menepi di saat kebanyakan orang tumpah ruah berpesta.