Belajar, Mengajar, dan Bahasa (3)

Pulang ke Indonesia, hal yang signifikan adalah keputusan saya mengenakan kerudung, menyelesaikan kuliah saya, dan keinginan saya untuk mengajar di Jurusan. Ya, saya sudah jatuh cinta pada Bahasa Jerman. Saya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan saya yang sedikit dengan mahasiswa saya kelak. Saya ingin mengajar.

Untuk mencapai itu, tentu saja saya harus menambah jam terbang mengajar saya. Sebelum masuk ke Jurusan, saya mengajar Bahasa Jerman di sebuah biro konsultasi bahasa dan menjadi guru Bahasa Jerman privat yang datang ke rumah murid-murid saya. Murid saya beragam. Ada yang muda ada yang tua. Ada anak kecil, remaja dan dewasa. Ada perempuan ada laki-laki. Dari mulai anak TK sampai mahasiswa S2. Ada wanita karir dan ibu rumah tangga. Mereka pun datang dari bermacam-macam etnis. Semua saya datangi, karena tempat tinggal saya tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat kursus. Dari mulai ujung barat sampai ujung timur. Dari mulai utara sampai selatan. Itu saya jalani selama setahun lebih. Ketika saya masuk ke Jurusan, pekerjaan saya lebih berat, karena pagi sampai siang saya ada di Jurusan, sore sampai malam saya mengajar privat. Semua saya lakukan dengan senang hati walaupun saya harus pergi jam 6 pagi dan pulang jam 9 malam.
Weiterlesen

Advertisements

Belajar, Mengajar, dan Bahasa (2)

Ternyata, jika saya ingat sekarang, sejak kecil saya sudah „dilingkupi“ segala hal berbau Jerman. Akhirnya memang saya „terdampar“ di Jurusan Sastra Jerman Unpad. Pilihan kedua saya. Saya agak kecewa karena sebenarnya saya ingin sekali masuk ke jurusan Hubungan Internasional. Namun apa boleh buat, saya jalani juga masa-masa perkuliahan saya di Jurusan Sastra Jerman. Nilai-nilai saya selalu bagus. IPK saya selalu di atas 3,5. Menurut saya itu semua hanya keberuntungan saja, karena terus terang saya tidak mengerti terlalu banyak tentang apa yang saya pelajari.

Weiterlesen

Belajar, Mengajar, dan Bahasa (1)

Jika saya rekonstruksi lagi, mengapa saya mau menjadi guru seperti sekarang, ingatan saya langsung terbang ke masa saya kelas 3 sekolah dasar. Saya ingat sekali, saat itu guru Bahasa Indonesia saya bertanya siapa di antara kami yang ingin menjadi guru. Hanya saya sendiri yang mengangkat tangan. Ya, saya ingin jadi guru. Entah kenapa, begitu saja. Guru saya senang, karena ada di antara muridnya yang ingin menjadi guru. Teman-teman yang lain kebanyakan ingin jadi insinyur dan dokter.

Weiterlesen

Suaramu

Suaramu. Yang membuat tubuhku begitu terguncang dengan air mata yang mengalir pelahan.

Suaramu. „Aku masih mengantuk. Baru tidur jam empat pagi. Mataku masih sembab. Tapi kusempatkan sepagi mungkin datang.“

Suaramu. Yang tidak pernah bisa mengatakan „tidak“. „Aku masih begini. Masih bekerja untuk yang lain. Kau tahu pasti.“

Suaramu. Yang begitu kukenal. „Baik-baik, ya. Kututup, atau kau masih mau bicara lagi?“.

Aku masih juga merindumu. Selamat ulang tahun. Kebahagiaan untukmu selalu.

 

Bayreuth, 110106

00:20

Getar

Kusimpan jelas semua getar
Yang merambat dari samudera
Bersama suara yang mengekalkan catatan

Kenangan pada seraut wajah
Sebaris luka
Sepotong bahagia
Dan sejumput keindahan

Getar yang meraup bersama ingatan
Pada sebuah masa
Akankah kekal?

Bayreuth, 09.01.06

23:39