Fragile

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow’s rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay

Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime’s argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star, like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are, how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star, like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are, how fragile we are
How fragile we are, how fragile we are

*Lyric and Music by Sting

Pic from here

„Berjarak“ dengan Konflik: Catatan dari Diskusi tentang Situasi Konflik di Indonesia

Diskusi yang diadakan oleh Forum „Kultur und Sicherheit“ (Budaya dan Keamanan) Universitas Bayreuth hari ini mengambil tema besar situasi konflik di Indonesia. Pembicara pertama adalah Oberst i.G. Bruno Hasenpusch: Kommandeur VBK 67, mantan atase militer Jerman di Indonesia. Topik yang dibicarakan adalah „Grundzüge der indonesischen Sicherheitspolitik und deren Auswirkungen auf das Verhältnis zu den Nachbarstaaten Australien, Papua Neuguinea und Osttimor“ (Politik Keamanan Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Hubungan dengan Australia, Papua Nugini dan Timor Leste).

Pembicara kedua yaitu Susanne Rodemeier, etnolog dengan spesialisasi Indonesia Timur, dari Universität Passau yang membawakan tema „Kriegerische Auseinandersetzungen in Ostindonesien“ (situasi perang di Indonesia Timur). Tinjauannya lebih ke arah etnis dan latar belakang kultural situasi konflik dan perang, terutama di daerah Pantar dan Alor.

Weiterlesen

(Belajar) Sejenak

Mentang-mentang ujian jadi ngga nulis. Hehehe. Kan biar kesannya sibuk belajar. Padahal sih ngga juga. Keinginan menulis tetap menggebu, tapi ternyata perasaan bersalah ngga „belajar“ ternyata bisa mengalahkan keinginan menulis di sini. Jangan salah, menulis mungkin ngga, tapi blog walking tetap jalan. Sama saja sebenarnya. Maklum, warming up untuk belajar biasanya lebih lama dibandingkan dengan belajarnya itu sendiri.

„Belajar“. Apa sih? Duh, kesannya. Tapi beneran, saya ngga tahu definisi belajar itu apa. Saya cuma lakukan apa yang saya rasa mau saya lakukan. Parahnya, saya ini orangnya penurut. Apalagi menuruti kata hati. Paling suka deh. Selain itu saya juga menuruti saran psikolog saya yang bilang: „belajar dua jam saja, asal intensif. Sisanya lakukan apa yang kamu suka. Kamu ngga merasa bersalah, senang-senang pun tetap jalan.“ Psikolog yang seperti ini yang saya suka, hahaha. Sejak saat itu saya menerapkan pola dua jam belajar intensif tiap hari. After midnight pula. Soalnya, lagi-lagi si psikolog bilang, saya harus menemukan waktu dan cara belajar yang pas untuk saya. Bukan yang kata orang lain tepat. Nah, saya sadar kalau saya bisa konsenstrasi penuh tengah malam, saat gelap dan hening dan ngga panas. Siang-siang biasanya saya mengerjakan tugas-tugas saya yang lain. Tengah malam sampai lewat tengah malam baru saya bisa konsentrasi penuh dengan bacaan saya. Dua jam saja. Lewat dari itu ngga bisa. Sudah saya bilang, saya ini penurut. Cukup segitu? Lumayan. Setidaknya untuk saya. Dan parahnya, saya juga selalu punya pembenaran untuk itu. Dua jam, asal intensif dan dilakukan rutin. Bener? Hehehe. No further comment.

Weiterlesen

Jarak

„Gempa lagi, Di…ngga tahu harus ngomong apa :(„

Itu yang ditulis Lusi di PM-nya hari ini. Saya juga tidak tahu harus ngomong apa ketika berita itu saya ketahui kemarin. „Gempa? Iraha? Di mana? Maenya sih?“ begitu reaksi ibu saya, saat saya hubungi per telefon siang kemarin. „Teu nyetel TV. Dipareuman. Bosen atuh da, beritana soal Israel jeung Libanon wae.“ Sudah bosan dengan berita perang. „Iya, katanya. Gue denger ada gempa. Tapi gue ngga tahu tuh. Ngga kerasa. Pokoknya gue pengen kawiiinnn…Udah ngga tahan“. Begitu tulis salah seorang teman saat berbincang virtual. Tak (terlalu) peduli atau mungkin sudah „kebal“ dengan bencana yang datang beruntun? „Kebal“? Saya nyalakan TV, biasanya di CNN sudah langsung ada beritanya. Kali ini tidak ada. Hanya ada liputan khusus Libanon dan Israel. Pindah ke saluran TV Jerman: ntv, Phoenix, ZDF. Baru ada. Di radio ada juga. Masuk GMX, Indonesia jadi headline.

Weiterlesen

Pindah

Sebenarnya alte Dian sudah berfungsi lagi sejak lama. Tapi karena banyak data yang hilang, dengan sedikit merajuk maka halaman tersebut lama juga dibiarkan. Dipikir-pikir sayang juga kalau didiamkan begitu saja.

Akhirnya -masih dalam rangka rajin menulis sebagai „terapi“ dan „pelarian“- halaman tersebut difungsikan ke niat semula: menampung jejak kerja. Tidak semua dalam Bahasa Indonesia,dan tidak semua dalam Bahasa Jerman. Ada terjemahan, ada pula hasil pelajaran mengarang plus sembarang komentar. Kisarannya masih itu-itu juga: pendidikan, sastra, budaya, bahasa dan analisis percakapan. Bagaimana ya, itu yang (masih dan selalu) saya suka :)

Dan, karena energi dan waktu yang tidak memungkinkan untuk mengurus 3 halaman ditambah belakangan ini saya sedang sering merasa bersalah serta tidak nyaman, maka halaman ini hanya akan difungsikan sekedarnya. Ingin berjarak dulu sementara. Sampai entah kapan. Kalau mengutip pernyataannya Klinsmann, „Ich fühle mich leer und ausgebrannt“. Duuh…segitunya suka sama Klinsi :-)

„My admirer is Mother Theresa“

Duh, siapa sih orang yang sebegitu hebatnya sampai Mother Theresa mengidolakan dia? Ini dia. Putri Indonesia Nadine Chandrawinata. Sehebat apakah dia? Lihat saja di sini. Hebat betul, deh, sampai Indonesia saja dibilang „beautiful city“ yang banyak ‚bitches‘-nya (maksudnya „beaches“ mungkin, ya, Nadine, SAYANG! (grrr..) ?!).

Sebagai orang yang melibatkan diri dengan senang hati dan otomatis pada analisa percakapan serta interview, kali ini saya menyerah. Belum pernah saya merasa begitu „putus asa“ (putus asa beneeerrrr….) sebelum membuat transkripsi. Membuat transkripsi interviewnya saja saya sudah ngga tega, apalagi harus menganalisanya. Kasihan dia ah. Baru melihat videonya saja sudah bikin mual dan sakit kepala. Padahal baru tataran luar yang saya lihat, belum saya perhatikan (jangan salahkan saya, ini otomatis muncul karena kebiasaan). Apalagi kalau masuk ke tataran dalam sampai ke Pause, Verzögerungsphänomene, Lachspartikel, Mimik dan Blickverhalten. Apalagi kalau mau lihat latar belakang psikososiolingustiknya. Duuuhh….

Weiterlesen

Zizou – Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Satu manusia adalah satu dunia. Kesejarahan hidupnya juga adalah kesejarahan dunia. Ketika „mengingat“ berbanding lurus dengan „melupakan“, ketika „mereka“ dan „kami“ dipertentangkan, ketika „mayoritas“ dan „minoritas“ didengungkan, ketika „identitas“ dipertanyakan, kadang sulit untuk sekedar diam. Zidane hanya salah satu dari sekian. (DE)

***

Zizou

JIKA huruf Arab yang mengeja namanya di-Latin-kan dengan lafal Inggris, ia adalah Zayn ad-Dien. Di Indonesia ia akan dipanggil Zainuddin. Konon itu berarti „ornamen iman“.

Orang tuanya datang dari Dusun Taguemoune, di bukit-bukit Aljazair yang jauh. Seperti banyak orang dari wilayah Afrika yang dilecut niat memperbaiki nasib, Smayl Zidane, si ayah, pergi merantau ke Paris. Tapi kemiskinan tetap menggilas, dan ia pindah ke Marseille, di selatan, sebuah kota yang tak teramat jauh dari negeri asal.

Weiterlesen