Satu dan Segalanya

Demi menemu diri dalam tiada berhingga,
Setiap pribadi  pasti rela sirna,
Di sanalah segala jenuh bakal musnah;
Bukan pada bebas syahwat panas hasrat
Bukan pada padat aturan tuntutan ketat,
Pada penyerahan diri itulah nikmat berkah.

Datang dan rasuki jiwa kita, o jiwa jagat!
Dan dengan ruh jagat kita bergulat nekat,
Itulah maha tugas daya-daya kita.
Ruh-ruh budiman yang menuntun,

Para aulia yang membimbing santun,
Kan antar kita pada Dia yang abadi mencipta.

Dan untuk jadikan ciptaan baru selalu,
Agar tak berkeras diri menjadi beku,
Haruslah bertindak tak sudah-sudah.
Maka yang semula tiada, kini sedia menjelma
Dunia aneka warna, mentari-mentari bercahaya
Ia mutlak tak berhak istirah.

Ia mesti berkarya, mesti menggubah,
Membentuk diri, lalu berubah;
Meski seolah sejenak terdiam.
Sang Abadi berkarya di tiap insan
Karena segala harus runtuh sirna,
Jika hendak bertahan dalam Ada.

Johann Wolfgang von Goethe

Diterjemahkan dari karya asli Goethe ”Eins und Alles” oleh Agus R. Sarjono & Berthold Damshäuser. Dibacakan dalam acara peluncuran buku kumpulan puisi „Satu dan Segalanya“ (Goethe) di Goethe Institut Bandung, 26 Juli 2007.

Die Wahlverwandtschaften

„Eduard – so nennen wir einen reichen Baron im besten Mannesalter“. Begitu Goethe mengawali roman yang berjudul „Die Wahlverwandtschaften“ (1809). Istilah „Wahlverwandtschaften“ sendiri muncul pertama kalinya dalam buku harian Goethe pada tanggal 11 April 1808. Saat itu Goethe sedang membuat skema cerita „Wahlverwandtschaften“ dan „Mann von fünfzig Jahren“. Awalnya Goethe akan memasukkan „Wahlverwandtschaften“ sebagai novel yang menjadi bagian karya Goethe „Wilhelm Meister Wanderjahre“.

Goethe tidak begitu saja mengambil judul ini. Dia mengambil istilah dalam ilmu kimia ”Wahlverwandtschaften” untuk dijadikan romannya yang kesekian. Torbern Bergmann, ahli kimia dari Swedia, menulis pada tahun 1775 tentang „de attraction electivis“. Tahun 1782 Hein Tabor menerjemahkan istilah ini ke dalam Bahasa Jerman menjadi „Wahlverwandtschaften“ untuk (secara umum) menunjukkan bahwa suatu atom mempunyai kemampuan untuk saling melepaskan ikatannya dengan atom yang lain karena ada pendekatan dari atom yang baru. Atom yang baru itu memiliki ikatan yang sama dengan atom yang lepas tadi, mereka kemudian mengikatkan diri, sehingga muncullah atom yang baru lagi. Hal ini disebabkan karena hampir semua jenis atom memiliki kemampuan bergabung dengan atom yang lain untuk menghasilkan senyawa-senyawa yang baru. Proses pelepasan dan penyatuan ikatan-ikatan atom tadi disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya faktor suhu, panas dan derajat keasaman, juga faktor kimia lain. Dalam Bahasa Indonesia, istilah „Wahlverwandtschaften“ ini dikenal sebagai „ikatan kimia“.

Dalam roman ini Goethe berusaha menerapkan proses ikatan kimia dalam perilaku hubungan antarmanusia sehari-hari. Namun, Goethe tidak ingin menggurui pembacanya dengan membuat pembedaan yang jelas antara fiksi dan teori ilmiah. Dia juga tidak mencampuradukan itu. Goethe justru dengan cerdas dan harmonisnya melesapkan teori ini tidak hanya dalam dialog antartokohnya, tetapi juga dalam alur cerita dan konfigurasi tokoh-tokohnya –terutama konfigurasi antartokoh utama: Eduard, Charlotte, Otillie, dan Hauptmann-. Tokoh Hauptmann dalam roman ini memang menarasikan dengan jelas pengertian „Wahlverwandschaften“ dalam salah satu „adegan“ percakapan malam hari dengan Eduard dan Charlotte. Dia menerangkan pengertian Wahlverwandtschaften ini dengan batu kapur yang elemen-elemennya saling melepaskan diri bila batu kapur itu dimasukkan ke dalam cairan asam belerang. Hasilnya adalah terbentuknya unsur baru yaitu gips. Sedangkan zat asam yang tadinya mengikat tanah yang berkapur dalam batu kapur tersebut akan menguap ke udara.

Tokoh Hauptmann juga selanjutnya mencontohkan bahwa ikatan antara A dan B bila didekatkan dengan unsur baru C dan D akan mengakibatkan terjadinya pelepasan dan penangkapan antarunsur, sehingga akan terjadi hubungan dan ikatan yang baru dengan berbagai macam kecenderungan konfigurasi. Kemungkinan terbesar dari ikatan baru yang terjadi adalah ikatan baru A dengan D dan B dengan C.

Penjelasan tokoh Hauptmann ini hanya secuil dari tema ”sederhana” yang diangkat: perselingkuhan. Charlotte dan Eduard adalah suami istri yang hidup bahagia. Orang tidak melihat kekurangan dan masalah dalam pernikahan mereka. Suatu hari Charlotte bermaksud mengundang Ottilie keponakannya yang sudah yatim piatu untuk tinggal bersama mereka. Eduard menyetujuinya. Dengan persetujuan Charlotte, Eduard pun mengundang sahabatnya –Hauptmann- untuk tinggal juga bersama mereka. Maksud Charlotte dan Eduard adalah untuk menjodohkan Hauptmann dan Ottilie. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Eduard dan Ottilie ternyata saling mencintai, demikian pula Charlotte dan Hauptmann. Proses terjadinya ”perpindahan” ikatan rasa inilah yang diolah dan digambarkan dengan apik oleh Goethe. Tema ”sederhana” ini berubah menjadi indah namun rumit di tangannya. Dengan cerdas pula Goethe memasukkan unsur-unsur bidang arsitektur (terutama arsitektur pertamanan), mineralogi, botani, fisika, dan –tentu saja- kimia dalam deskripsi juga narasi roman ini. Tidak mengherankan, karena di masa roman ini dibuat Goethe sudah melewati tahap panjang memuaskan kecintaannya pada ilmu alam. Namun, bukan Goethe jika tidak bisa mengemas ilmu pasti ini dengan bahasa yang indah dan puitis.

Tahun 1998 saya menonton pengadaptasian roman ini ke dalam pentas teater di ”Theater im Bauturm” di Köln. Dahsyat. Itu mungkin komentar yang tepat untuk pentas teater minimalis yang disajikan hanya oleh 4 orang pemain saja. Mereka sukses mengadaptasi roman ini tanpa menjadikannya suatu cerita cinta yang cengeng (di akhir roman tokoh Eduard dan Ottilie dibuat mati, sedangkan relasi Charlotte dan Hauptmann dibiarkan menggantung begitu saja). Mereka saya rasa cukup berhasil menangkap ”pesan” Goethe yang lebih dalam dari sekedar mengupas masalah perselingkuhan: bahwa ada yang lebih kuat dan rumit dari rasa cinta yang beralih. Tidak ada yang mudah dan tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Pun romantisme cinta yang –dalam roman ini- ”pernah” dipunyai oleh Eduard dan Charlotte atau yang diimpikan oleh Eduard dan Ottilie, juga oleh Charlotte dan Hauptmann. Goethe bicara tentang dunia yang hanya sedikit saja diwakili oleh keempat tokoh itu. Sisanya, pembaca harus jeli menyimaknya. Kejelian ini rupanya dimiliki oleh para pemain teater di atas, tetapi sayangnya tidak dimiliki para produser dan pembuat film yang mengadaptasi roman ini ke dalam bentuk film. Roman ini adalah roman karya Goethe selain Faust yang banyak difilmkan. Tentu saja faktor laku tidaknya film itu menjadi pertimbangan sehingga yang muncul hanyalah film tentang cinta romantik dan perselingkuhan. Lain tidak. Mungkin saat menulis roman ini Goethe sudah meninggalkan ilmu ekonomi yang dipelajarinya dulu bersamaan dengan saat dia belajar hukum.

Namun, itulah uniknya sastra. Setiap orang bebas memberi makna pada karya yang dibacanya. Untuk skripsi saya, saya menyimak lebih banyak ”kegilaan” Goethe pada kimia. Saat sidang mempertahankan skripsi itu, saya melihat juga karakter Hauptmann yang kuat dan kaku berhubungan erat dengan namanya sendiri, pangkat militer yang disandangnya, juga bidang arsitektur yang diperdalamnya. Membaca Charlotte yang rasional saya dibenturkan pada norma-norma yang dibuat atas nama agama, masyarakat dan sosial yang cukup sering tidak memberi ruang pada rasa. Ottilie dan Eduard mewakili kehalusan dan keindahan rasa. Pun untuk cinta, yang „semestinya“ terlarang bagi mereka.

Wagner-Festspiele 07

Tahun ini Wagner Festspiele akan diadakan dari tanggal 25 Juli – 28 Agustus. Yang ditampilkan adalah Die Meistersinger von Nürnberg, Tannhäuser, Das Rheingold, Die Walküre, Siegfried, Götterdämmerung, dan Parsifal.

Seperti biasa, Bayreuth yang biasanya sepi akan ramai dengan adanya Wagner-Festspiele ini. Sekitar 60.000 tiket sudah laku terjual untuk 30 pertunjukan yang akan berlangsung di „Grüner Hügel“ Richard-Wagner-Opernhaus. „Mythos Bayreuth“ yang sudah berlangsung selama lebih dari 130 tahun akan diulang lagi tahun ini. Keluarga Wagner masih memegang mitos ini. Richard Wagner yang membuatnya. Dilanjutkan oleh Cosima, istri keduanya. Kemudian oleh Siegfried, anak lelakinya. Selanjutnya oleh Winifred, istri Siegfried. Wieland Wagner, sang cucu melanjutkan. Setelah Wieland meninggal, „mitos keluarga“ ini dipegang oleh Wolfgang Wagner. Dialah yang „menguasai“ bukit hijau di utara kota Bayreuth. Mitos ini sepertinya semakin dikuatkan dengan penampilan pembuka „Die Meistersinger von Nürnberg“ yang disutradarai oleh sang buyut Katharina Wagner yang baru berusia 29 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh Bayreuth akan ikut memeriahkan festival ini. Toko buku, supermarket, mall, sekolah, dan universitas, bahkan toko teh di dekat Haus Wahnfried.

„Mitos Bayreuth“ dengan Wagner dan eforia Festspiele-nya tentu saja bukan tanpa kritikan. Kritikan ini berlangsung setiap tahun, seperti Festspiele itu sendiri. Jan Brachman dalam artikelnya di rubrik Feuilleton Berliner Zeitung misalnya mengkritik penunjukkan Katharina Wagner sebagai sutradara yang konon tak lepas dari campur tangan dan ambisi sang ayah, Wolfgang. „Perseteruan“ pun terjadi di dalam keluarga ini, Nike Wagner anak Wieland turut pula memberikan kritikannya terhadap Katharina. Konflik keluarga ini sepertinya menarik banyak media di Jerman sebagai bahan kritik baru terhadap festival yang selalu mengundang kontroversi ini. Der Spiegel pun turut membahasnya.

Lepas dari itu semua, tahun ini saya akan mengikuti Wagner Festpiele dari Bandung. Mungkin lebih aktif dibandingkan dengan tahun-tahun saat saya di Bayreuth. Bagaimana tidak, di semester yang akan datang untuk pertama kalinya saya memegang mata kuliah „Deutsche Kultur- und Literaturgeschichte“ dan mau tidak mau saya harus memberikan pembabakan sejarah budaya dan sastra Jerman sebagai materi kuliah. Kisah-kisah dari opera Wagner di atas hanya sebagian kecil dari materi yang akan saya berikan. Selain bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan dengan senang hati dan penuh semangat, saya sih inginnya membawa mahasiswa saya ekskursi ke Bayreuth. Inginnya… :)

Batu Batu „Merah Bolong“

Dan saya „ketar ketir“ takut terkena ayunan bongkahan besar batu cadas yang dengan bebas berayun ke depan ke belakang. Dan saya meringis lalu menarik dan mengerutkan badan, takut batu-batu yang berayun itu menimpa sosok-sosok berkepala plontos dengan topeng yang penuh ekspresi ketakutan. Dan saya menghela nafas saat sosok sosok itu menghindari ayunan batu-batu.

Batu batu besar dan kecil berhamburan, dari atas, dari samping, dari depan, dari belakang. Hei, saya sempat terkena serpihan batu yang jatuh dari rongga besi besar di depan saya. Batu-batu itu menghujani tubuh berdada telanjang, bergeletar seolah kesakitan meregang nyawa. Sosok yang sebelumnya dikejar oleh orang-orang yang mengusung batu. Bersiap pula dilempar batu dari segala penjuru. Ada sosok tua, berjalan tertatih tatih memunguti batu seperti Sisiphus yang memanggul batu kemudian menjatuhkannya kembali terus menerus. Sosok itu kemudian menabur batu di atas tubuh kaku yang sudah ditimbuni batu.

Pfuih! Pertunjukan yang melelahkan. Selain karena terus menerus dicekam rasa takut terkena ayunan batu, juga menjadi sangat melelahkan karena hidup dipertanyakan dan dibenturkan lewat media batu batu. Hei, hidup kan tidak kaku seperti bongkahan batu. Hidup juga tidak bisu. Hidup justru bergerak, bebas berayun ke sana ke mari. Memuai, mengembang, mengkerut. Naik turun maju mundur.

Dan pentas teater tanpa kata karya Rachman Sabur dengan olah tubuh pemainnya yang sangat bagus berakhir dalam hening. Oh ya, ngomong-ngomong, saya menonton ”Merah Bolong” Teater Payung Hitam semalam di STSI, Buah Batu :)

Penting

Untuk beberapa hal, saya sering melihat sesuatu dengan sangat detil, cenderung kompulsif. Misalnya saja ketika harus mengoreksi karangan, makalah atau skripsi mahasiswa. Komentar saya sering lebih banyak daripada pekerjaan mahasiswa saya itu sendiri. Membuat mahasiswa takut sebelum diuji, kata salah seorang teman. Saya pikir, mungkin ada benarnya juga. Saya sekarang sedang mencoba untuk melihat sesuatu dari esensinya saja, walaupun masih belum cukup berhasil, karena kadang saya menghabiskan waktu dan energi lebih banyak dengan memperhatikan yang detil, tetapi esensinya justru malah tidak saya dapat.  Atau  merasa harus memberikan nilai seobyektif mungkin dengan point penilaian yang jelas dan detil dengan harapan tidak ada mahasiswa yang dirugikan dan bisa bertanya pada saya bagaimana saya sampai pada  huruf mutu akhir (ugh, pekerjaan yang paling tidak saya sukai: memberi nilai).

Kebiasaan ini juga sering membuat saya kesal atau marah untuk hal-hal –yang untuk orang lain mungkin- tidak perlu. Misalnya saya bisa marah-marah pada sopir angkot yang menjalankan angkotnya dengan ugal-ugalan, atau sopir angkot yang suka seenaknya meminta ongkos lebih, tapi kurang mengembalikan uang kembaliannya. Atau marah pada orang-orang yang merokok di tempat umum yang bertanda dilarang merokok, duduk dan berdiri dekat saya pula. Atau pada petugas rumah sakit yang membiarkan pasiennya melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh petugas itu. Saya bisa marah besar untuk hal-hal tak penting seperti itu dengan akibat setelah marah-marah itu saya selalu merasa tidak nyaman dan merasa bersalah. Ngapain ya saya tadi marah-marah, selalu muncul pikiran itu.

Namun, untuk hal-hal lain saya sangat ceroboh dan pelupa. Dibilang tidak peduli juga boleh. Misalnya, bertahun-tahun ternyata saya bekerja tanpa SK dan itu baru saya ketahui belakangan. Jadi, selama ini saya ke mana? Ke Jerman, hehe. Atau saya harus membayar rekening telefon lebih karena saya salah memutar kode awal telefon murah: kode ke Indonesia saya pakai di dalam Jerman. Lebihnya bukan 1 atau 2 Euro, tapi puluhan Euro. Saya kaya dong? Ngga juga. Cuma gimana ya, salah sendiri :) Begitu pula dengan kontrak kepemilikan telefon genggam saat saya di Jerman. Karena saya tidak membaca kontrak dengan teliti, saya terpaksa memperpanjang kontrak tanpa saya inginkan (padahal saya harus pulang ke Indonesia). Atau sampai sekarang saya tidak pernah tahu dengan pasti berapa honor saya sebenarnya (baik itu saat saya mengajar di Jerman dan di Indonesia ini). Belum lagi hal-hal yang mengakibatkan saya harus mengeluarkan biaya ekstra atau uang hilang begitu saja hanya karena saya ceroboh. Kenapa bisa begitu? Saya juga tidak tahu :)

Jadi, sebenarnya saya ini teliti, ceroboh, atau….bodoh? Hehe. Bagaimana tidak, saya sering sekali  mengulang-ulang kesalahan yang sama. Kalau kata seorang teman sih saya autis. Mungkin juga :) Anyway, walaupun kejadian baru-baru ini cukup membuka mata saya, tapi sepertinya belum cukup membuka pikiran dan hati saya untuk mulai memperhatikan hal-hal yang menurut banyak orang penting (tapi untuk saya kok masih tidak terlalu penting. Tuh kan…). Cuma, iya deh, saya mau belajar untuk lebih perhatian, tidak terlalu cuek (walaupun susah, hehe) dan tidak terlalu percaya -juga ge er- bahwa semua -sistem- akan berjalan baik dengan sendirinya tanpa diusahakan. Ngga mungkin la yaw :)

Tapi memang hal yang penting untuk orang lain belum tentu penting untuk saya. Demikian juga hal yang tidak penting untuk orang lain, bisa jadi sangat penting untuk saya. Jadi, apa yang penting untuk saya? Banyak. Salah satunya internet dan laptop saya. Itu hanya dua dari sekian banyak hal-hal luar biasa penting yang saya temui dan saya kerjakan dalam hidup saya selama ini.

Jadi, pentingkah untuk menuliskan semua ini di sini? Ngga juga tuh :)