Surat untuk Sahabat

Dear Tarlen,

thanks balasan smsnya ya…membuatku sedikit tenang dan menghiburku. Kamu benar, aku masih bisa melakukan sesuatu, karena bantuan akan terus diperlukan, tidak hanya sepanjang tahun, juga untuk tahun-tahun ke depan.

Aku memang terganggu sekali. Entah kenapa. Bahkan sejak aku masih di Bandung pun aku sudah terganggu, tapi ketika sampai di sini, rasa itu terasa semakin parah. Entahlah, mungkin aku berlebihan, aku tidak tahu, tapi itulah yang kurasakan. Sedih, cemas, takut. Semua bercampur jadi satu.

Beberapa hari setelah kejadian tanggal 26, aku ditraktir di Pizza Hut oleh salah seorang teman, kemudian kami sempat bersenang-senang sedikit. Tertawa memang aku, tapi terselip rasa bersalah saat aku makan dan tertawa ingat saudara-saudaraku di Aceh. Berlebihan ya, sampai begitu amat. Padahal aku apa sih?! Aku toh tidak bisa bantu banyak kecuali berdoa, berbagi sedikit dengan mereka dari rejeki yang kupunya. Tapi aku tetap tidak kuasa menolak traktiran temanku itu, sementara aku tahu, sebenarnya aku masih bisa berbagi lebih. Aku sungguh tidak menikmati saat itu. Rasanya kosong saja. Rasanya aku lebih merasa berarti ada di depan TV menyaksikan dan mengikuti perkembangan dari detik ke detik. Membisikkan sedikit doa sekaligus mengingat-Nya: tidak ada apapun yang berarti jika Allah sudah menghendaki. Bersyukur atas semua yang ditakdirkan-Nya. Juga musibah itu. Mencoba sadar, mencoba sabar. Menerima semua dengan sadar dan sabar.

Mungkin sebenarnya aku tidak perlu melebih-lebihkan rasa itu.

Weiterlesen