Membaca Walidah: Sebuah Catatan (Sangat) Personal

siti-walidah-dahlan-_140225162759-755

Sumber gambar: Republika

Walidah menghampiri saya, melalui Tika saat di akhir Februari kami bertemu dan dia bercerita bahwa dia akan berperan sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Saya senang mendengarnya, tetapi Tika ragu apakah dia mampu memerankan Nyai Ahmad Dahlan dari usia remaja sampai tua. Resikonya terlalu besar. Banyak nama dipertaruhkan, termasuk namanya. Saya tahu peran ini akan berat, tetapi di satu sisi saya merasa jika bukan dia maka siapa? Walaupun demikian, saat itu Tika cukup bersemangat, bertanya apakah judul film ini sebaiknya Nyai Ahmad Dahlan atau Walidah saja. Dia sendiri ingin film ini berjudul Walidah, karena nama itu mencerminkan individunya, bukan sekedar perempuan pendamping Kyai Ahmad Dahlan. Dia ingin orang mengenal Walidah sebagai Walidah. Saya setuju. Tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjuangan Walidah. Dia hanya dikenal sebagai pendiri Aisyiyah. Saya pun hanya tahu sekilas sampai saat berbincang dengan Tika. Oleh karena itu, saya senang tahu bahwa kisah ini akan divisualisasikan, karena sudah layak ada tokoh-tokoh perempuan Indonesia lain yang diangkat ke permukaan.

Walidah menghampiri saya. Pulang bertemu Tika saya mendapat pemberitahuan bahwa abstrak makalah saya diterima untuk dipresentasikan di dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mengambil tempat di gedung Siti Walidah. Bukannya segera membuat makalah untuk acara itu, saya malah mencari tahu lebih banyak lagi tentang Siti Walidah dan mendiskusikannya bersama Tanti, sahabat saya seorang sejarawan dan juga pemerhati film.

Walidah menghampiri saya. Berselang satu hari setelah bertemu Tika di Bandung, malam-malam dia mengirim pesan, bertanya dan meminta bantuan untuk dicarikan referensi tentang situasi sosial budaya masyarakat Jawa terutama perempuannya di abad 19, khususnya lagi perempuan muslim. Kondisi serta situasi Tika saat itu memang cukup darurat, sehingga dia merasa perlu meminta bantuan. Namun, karena pada dasarnya saya adalah penyuka sejarah dan saya pun sudah membaca sedikit tentang Walidah, maka permintaan Tika ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Riset dilakukan. Gampang gampang susah, karena referensi khususnya tentang perempuan muslim di Jawa tidak terlalu banyak. Perbincangan, lebih tepatnya diskusi, dengan Tika berlanjut malam itu. Saya memelajari Walidah lewat pertanyaan-pertanyaan Tika yang cukup kritis: kerudung seperti apa yang digunakan di masa itu? Islam seperti apa yang mereka hayati? Bagaimana penerapannya? Apa yang digunakan orang untuk menulis? Bagaimana rupa kertasnya? Diskusi berlanjut selama beberapa hari karena Tika akan segera shooting. Pertanyaan Tika semakin kritis: jika satu jaman, mengapa Kartini lebih dikenal daripada Walidah? Bagaimana pesan dan nafas perjuangan hak perempuan itu bisa sampai dan sama di mana-mana padahal secara geografis terpisah jauh? Apakah para pejuang itu kenal satu sama lain? Kendaraan apa yang digunakan? – Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar bercanda, tetapi saya melihat ini serius. Saya jadi ikut belajar banyak. Tika pun sempat mengunjungi Kauman, makam Walidah, bertemu dengan keluarganya, dan shalat berjamaah di langgarnya Aisyiyah yang membuatnya terharu. Tika berharap dan tentu ingin memberikan segenap kemampuannya untuk bermain baik menubuhkan kembali Walidah. Saya pun dikiriminya script film ini, yang kemudian saya bahas detil bersama Tanti. Script yang terus terang sangat lemah dan normatif, sehingga tidak memunculkan sama sekali semangat dan inti perjuangan Walidah. Jika boleh saya bilang: tidak layak untuk sebuah film tentang sosok kharismatik bernama Walidah. Saya tahu film ini dibuat dengan misi khusus. Namun, alangkah sayangnya jika kedalaman kisah tokoh ini tidak tergali hanya karena misi tersebut. Tanti dan saya akhirnya merasa „bertanggung jawab“ untuk ikut „membantu“ dan merekonstruksi sejarah Walidah. Mungkin karena kami akademisi, ditambah lagi karena film sejarah tentu perlu riset yang lebih dalam dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya sekedar sarana penyampaian misi tadi. Apalagi kami melihat keseriusan Tika dalam mempersiapkan dirinya dan kami pun menumpukan harapan pada Tika minimal untuk menutupi kelemahan naskah film ini. Kami membaca lebih banyak lagi tentang Walidah dari referensi-referensi sejaman. Dari situ kami mendapat kesan: dia perempuan keras hati dan hebat. Keseriusan Tika –dan mungkin ditambah kepanikan- dilanjut lagi dengan diskusi di rumahnya. Membahas kembali detil yang ada dari mulai bunga dandelion, kata-kata yang digunakan masa itu, sampai sapaan yang digunakan Ahmad Dahlan dan Walidah.

***

Saya membaca Siti Walidah, yang lahir pada tahun 1872 dan meninggal pada tahun 1946, sebagai sosok perempuan yang penuh rasa ingin tahu, cerdas, keras hati, bersemangat tinggi, terstruktur, dominan, tetapi sangat peka dan peduli. Katupan bibirnya yang kuat serta sorot mata yang tajam menandakan ini. Hidup menempanya dengan keras. Terlahir dari keluarga ulama, Kyai Fadhil adalah kyai yang disegani dan dekat dengan keluarga kraton. Menikah dengan Darwis, kemudian dikenal sebagai Ahmad Dahlan, seorang tokoh penggerak dan pembaharu yang cukup ekstrem pada masa itu: mengganti arah kiblat Masjid Gede yang selama itu salah, mendirikan sekolah dan rumah sakit yang kemudian menjadi tujuan dan sarana dakwah utama organisasi Muhammadiyah ini, menjalankan Islam yang murni. Walidah yang mematahkan biola yang dimainkan anaknya, yang berkata bahwa dia rela jika kehilangan anak yang melupakan waktu shalat walaupun itu anaknya sendiri, dia yang rela memberikan perhiasan-perhiasan miliknya untuk dijadikan modal perjuangan Muhammadiyah, mendirikan Bustanul Athfal cikal bakal pendidikan anak usia dini di Indonesia, mengungkapkan dan memperjuangkan ide bahwa perempuan itu harus pintar dan perjuangan perempuan itu dimulai dari rumah, mendirikan mushola pertama untuk perempuan dan membangun asrama untuk perempuan-perempuan yang ingin belajar mengaji, baca tulis, dan ilmu agama, perempuan yang tetap memasak dan mengurus rumah tetapi juga berorganisasi dengan mendirikan Aisyiyah dan berniaga dengan batiknya. Walidah: perempuan yang mau banyak dan bisa banyak. Dia yang membuat Ahmad Dahlan akhirnya berpoligami karena merasa tidak mampu lagi mengimbangi dan membendung kecerdasan Walidah. Kecerdasan dan semangat yang justru semakin membuncah seiring dengan kekecewaannya melihat suaminya berpoligami, walaupun dia tahu benar bahwa dalam ajaran Islam yang dia pahami, berpoligami itu diperbolehkan. Namun, Walidah tetaplah perempuan berhati luas yang pastinya juga terluka karena itu. Luka yang membuatnya semakin kuat. Perempuan hebat yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur, serta tahu kapasitas dirinya yang lebih baik menjadi penasihat dibandingkan menjadi pemimpin di muka dengan meminta Siti Munjiyah untuk menjadi Ketua Aisyiyah pertama, karena Munjiyah bisa menulis dan membaca huruf latin, sedangkan dia tidak. Perempuan yang menganggap bahwa kemerdekaan itu adalah awal dari perjuangan panjang, bukan akhir dari perjuangan yang harus dirayakan dengan gegap gempita. Perempuan berkemauan keras, berusaha keras, tetapi berjiwa besar dan lapang, yang membuatnya layak mendapat gelar pahlawan.

***

Walidah menghampiri saya. Satu hari setelah Tika menyelesaikan shooting film ini di Jogja, saya bersama teman-teman ke Kauman. Keinginan spontan untuk mengunjungi sisi Jogja yang lain, sebelum mengikuti seminar di Solo, di Gedung Siti Walidah. Kami mengunjungi langgar, tempat mengaji, tempat berkumpul, rumah Ahmad Dahlan saat itu, dan makam Walidah, untuk merasakan kembali aura kehidupan di Kauman masa itu dan masih dijaga sampai sekarang. Kampung yang resik. Kami beristirahat dan shalat di Masjid Gedhe Kauman yang indah, merasakan betapa kecilnya sebenarnya manusia. Dari kunjungan itu lah saya paham, bagaimana peran Walidah dan Ahmad Dahlan dalam membentuk masyarakat yang di kemudian hari menjadi basis kuat bagi berkembangnya organisasi Muhammadiyah: pendidikan itu dimulai dari dan untuk keluarga serta dari dan untuk lingkungan sekitar terdekat. Kuat di situ, maka akan mudah memperkuat diri dan organisasi di luar.

Walidah menghampiri saya. Film tentang Walidah tayang dan memang sudah seperti saya duga akan demikian lemah jadinya. Namun, bukankah jika tidak ingin kecewa terlalu besar, maka jangan juga menaruh harapan terlalu besar? Film adalah film. Walidah harus dibaca lebih daripada sekadar karya sinematografi yang acak-acakan, script yang lemah, dengan atau tanpa pesan dan intervensi sponsor. Walidah terlalu berharga untuk sekedar dilihat dari ribuan tiket yang terjual. Maka orang seharusnya dapat membuka mata dan hatinya untuk membaca Walidah. Membaca hati dan alam pikirannya, membaca keinginan dan harapannya, karena saya merasa miris ketika ada sekelompok orang yang „terlalu“ kagum pada figur Kyai Ahmad Dahlan dan Walidah sehingga menuntut orang yang “menjadi” mereka harus seperti figur yang dikaguminya. Kekaguman yang membutakan. Militansi tanpa arah. Bukankah berkaca pada diri sendiri rasanya lebih elok daripada menghujat? Bukankah merefleksikan dan merealisasikan pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan dan Walidah rasanya lebih masuk akal daripada sibuk mencari kesalahan orang? Bukankah membaca adalah kunci untuk membuka mata hati dan pikiran? Dan bukankah memang itu yang diperjuangkan Ahmad Dahlan dan Walidah sejak awal: menjadikan umat Islam umat yang cerdas dan pintar? Umat yang mampu menjadi dirinya sendiri, tetapi peka dan berempati pada yang lain?

Walidah menghampiri saya. Saya bersyukur dan berterima kasih karena Tika sudah mengerahkan segenap kemampuannya di tengah segala keterbatasan dan kendala yang ada untuk menubuhkan kembali Walidah. Dia menepati janjinya: jika bukan dia yang melakukannya, maka siapa lagi. Jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu sudah di luar kuasanya, di luar kuasa kami, ketika beberapa saran kami tak terperhatikan.

Walidah menghampiri saya untuk dibaca. Maka saya pun membaca Walidah, karena yang saya lihat darinya adalah dunia. Dunia yang masih luas membentang untuk dikaji dan dibaca. Walidah hanya ingin menjadi cerdas dan pintar, agar dia dapat membuat rumah dan dunianya juga menjadi cerdas dan pintar. Maka alangkah sayangnya, jika Walidah hanya jadi sekadar nama  yang dipuja membabi buta, tetapi menafikkan jiwa, hati, dan semangatnya.

Bandung, 240817

Advertisements

And the journey continues…

Biasanya saya menuliskan refleksi tahunan saya ketika malam pergantian tahun, sekarang saya melakukannya di hari pertama awal tahun. Bukan karena apa-apa, kemarin memang sedang tidak mood menulis. Jika sekarang pun saya menulis di sini, ini semata karena saya sedang mencoba lagi membangkitkan lagi kebiasaan menulis untuk sekedar menulis, bukan menulis yang harus dibatasi hipotesis, teori, analisis ini itu, dll. Terus terang, saya mengalami kebosanan menulis hal-hal dalam kerangka ilmiah, walaupun mau tidak mau, suka tidak suka, saya memang hidup dari situ. Bahkan –ini harus saya akui- kebiasaan melakukan hipotesis dan analisis, serta melihat dari beragam perspektif sebelum menyimpulkan sesuatu sudah inheren merasuk ke dalam jiwa dan kepala saya. Ya sudah, tak apalah, toh banyak bagusnya juga dan tidak merugikan siapapun, bahkan membawa saya ke banyak peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun sebenarnya sesuatu yang “serius” itu semua berawal dari keisengan saya belaka. Ya, keisengan yang serius, atau keseriusan yang iseng. Saya tidak bisa membedakan lagi. Yang jelas, di tahun 2015 lalu –ah, belum sehari pun dia lewat- saya mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak perlu, yang saya rasa hanya akan membebani diri dan hidup saya saja. Beberapa berhasil, masih banyak yang tidak. Namun, tidak ada salahnya juga mencoba.

Merefleksikan apa-apa saja yang saya lakukan, saya alami, dan saya rasakan di tahun 2015, saya ternyata menemukan diri saya yang lain. Diri saya yang ternyata suka iseng. Namun, entah bagaimana keisengannya diseriusi, menjadi serius, dan sering membuat saya sendiri kelabakan. Walaupun begitu hasilnya tetap menyenangkan saya dan membuat saya semakin hidup.

Saya iseng mengiyakan tawaran menjadi narasumber tentang sanitasi di RRI Lampung tepat pada tanggal 1 Januari 2015 bersama seorang teman. Iseng menonton konser Michael learns to Rock tanggal 2 nya, padahal saya hanya kenal dua atau tiga lagunya saja. Bulan Februari menonton konser NOAH di Sabuga. Yang ini bukan iseng, tapi memang berniat betul, karena saya sudah membuat pengakuan sebagai salah seorang fans NOAH maka saya mengharuskan diri saya menonton konsernya. Dan saya senang. Keisengan lainnya adalah menonton konser Bon Jovi di Senayan, Jakarta. Kalau ini memang benar-benar iseng tapi serius, karena kami serius sengaja datang jauh.jauh dari Bandung, sampai menginap di sebuah hotel di Jakarta, demi merasakan kemeriahan konser Bon Jovi dengan crowd Indonesia, yang ternyata malah membuat saya mengantuk. Saya iseng berkomentar di akun instagramnya salah seorang pemainnya, mengajaknya promosi film “3” di Unpad, dan ternyata dengan persiapan amat sangat mendadak bisa mendatangkan sekitar 600 orang dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan kreatif pendukung film itu sekaligus semakin memahami bagaimana cara kerja dan “permainan” industri kreatif di Indonesia yang mau tidak mau masih berorientasi uang. Saya iseng memasukkan abstrak untuk konferensi di Shanghai dan ternyata diterima walaupun akhirnya saya tidak jadi pergi karena mengukur kekuatan tubuh saya setelah menjalani keisengan saya yang lain selama 3 minggu berada di Eropa untuk konferensi dan menjadi turis. Ya, saya menjadi turis di Eropa: akhirnya. Saya juga iseng mengirim lamaran untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di Eropa, kemudian dipanggil interview dan akhirnya diterima, tetapi juga pada akhirnya tidak saya ambil juga karena pada saat yang bersamaan saya tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda.

Selain keisengan-keisengan yang biasanya berbuntut pada hal-hal yang membuat adrenalin saya meningkat (ya, saya butuh itu, kadang-kadang), saya merasa langkah saya melambat. Lebih tepatnya saya melambatkan langkah saya. Saya tidak lagi ingin berlari, tetapi saya hanya ingin berjalan. Saya ingin menikmati apa yang saya lihat, lalui, dan alami dalam perjalanan saya, membuang apa yang tidak perlu, dan mengambil apa yang perlu saya ambil. Ternyata, ketika saya membuang beberapa hal yang memberatkan, saya justru mendapatkan lebih banyak dari apa yang saya buang. Saya tahu saya masih melekatkan diri pada banyak hal yang tidak perlu, saya masih harus banyak belajar untuk melepaskannya satu-satu. Belajar yoga adalah salah satu cara saya untuk melambatkan dan menikmati setiap gerak, selain tentu agar saya bugar.

Di lain sisi, ternyata saya juga bisa menjadi die hard fans, yang saya sendiri pun tidak mengerti, bahwa ternyata saya memiliki sisi itu. Mungkin selama ini itu saya tutupi atau saya kualat pernah memandang aneh teman saya yang “berubah” menjadi seorang fan girl. Dua-duanya mungkin benar, hehe. Namun, saya menikmatinya, dan malah ternyata hal ini malah justru melatih dan membuka banyak sisi saya yang lain. Berkenalan dan bertemu dengan orang-orang baru sesama fans, berbincang untuk hal-hal sepele yang dulu tidak pernah sekalipun mampir dalam pikiran saya bahwa saya akan membicarakan dan membahasnya, bahkan kemudian beberapa keisengan yang berbuah serius lahir dari obrolan-obrolan ini. Hal ini ternyata menyenangkan. Hal ini sama menyenangkannya dengan kesempatan yang saya ambil untuk berdamai dengan masa lalu, dengan kejawaan saya, dengan beberapa hal yang dulu saya hindari dan saya tutupi. Ternyata tidak sesulit dan seberat yang saya rasakan, bahkan keputusan itu justru meringankan saya. Untuk itu saya bersyukur. Termasuk bersyukur bahwa saya masih mengalami hal-hal yang juga membuat saya menangis, saya kesal, bosan, dan kadang juga putus asa. Itu membuat saya hidup.

Mengutip tulisan Agustinus Wibowo, seorang penulis favorit saya yang juga akhirnya bisa saya temui langsung, perjalanan itu adalah rangkaian dari perpindahan dan perhentian. Mereka yang tidak pernah berpindah tidak akan mengerti indahnya kebebasan, dan mereka yang tidak pernah berhenti tidak akan pernah memahami pentingnya kestabilan. Dan itu hidup. Maka angin akan tetap bertiup, kadang keras kadang hanya berdesir, langit mungkin akan kelabu, matahari akan terbenam, tetapi esok matahari tetap menepati janjinya untuk terbit kembali, maka perjalanan saya pun berlanjut. Dan sekali lagi, saya bersyukur.

Bandung, 010116IMG_20160101_105555[1]

„Soekarno: Indonesia Merdeka“ – (Bukan) Romantisme Masa Lalu?

soekarno filmDalam satu bulan ini saya menonton tiga film Indonesia: NOAH Awal Semula, Sokola Rimba dan Soekarno. Jika NOAH Awal Semula cukup sukses membuat saya mengantuk, Sokola Rimba dan Soekarno cukup sukses membuat saya terharu dan mengeluarkan air mata. Tiga film yang bergenre sama yaitu biografi, dengan teknik penceritaan yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama: perjuangan, mewujudkan mimpi. Yang satu berjuang bangkit dari keterpurukan, mewujudkan kembali mimpi yang hilang, yang kedua berjuang mewujudkan mimpi meratakan pendidikan tanpa kecuali, ketiga tentu berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan, memerdekakan diri dan bangsa. Dan film Soekarno seolah menjadi simpulan dari dua film sebelumnya, bahwa tidak akan ada NOAH dan Sokola Rimba, jika tidak ada Soekarno dan para pendiri negeri ini.

Kisah tentang Soekarno ini siapalah yang tidak tahu, tetapi tetap menarik juga untuk mengikuti perspekstif Hanung dalam menceritakan ulang kisah tokoh besar ini. Dimulai dengan “kehebohan” di rumah Soejoedi yang diperankan oleh Budiman Sudjatmiko saat ada penangkapan para pemuda pergerakan, kemudian cerita beralih ke masa Soekarno kecil yang sering ikut bersama Tjokroaminoto serta berteman dengan Kartosoewirjo, di mana dia kemudian belajar politik. Kisah kemudian mundur lagi saat dia masih bernama Kusno dan sakit-sakitan sehingga namanya pun diganti menjadi Soekarno, dengan harapan agar dia kuat seperti Adipati Karna. Lalu kembali ke masa remaja saat dia tertarik pada seorang noni Belanda bernama Mien (entah benar atau tidak kisah ini), kemudian dia diusir oleh bapak si noni. Hinaan si meneer Belanda inilah yang dalam film dikisahkan menjadi pemicu dia untuk melawan Belanda, membangkitkan semangat dan harga diri kaum pribumi, selain tentu sajakarena melihat kondisi pribumi sebagai bangsa terjajah. Cerita beralih maju mundur ke masa penjara di Banceuy dan Sukamiskin, pembacaan pledoii Indonesia Menggugat yang berakhir dengan pembuangan ke Ende dan kemudian ke Bengkulu. Kemudian cerita bertutur maju sampai ke masa Belanda kalah, Jepang masuk, persiapan kemerdekaan, sampai pada akhirnya pembacaan proklamasi.

Kisah panjang yang dipadatkan. Amat padat untuk durasi sekitar 2,5 jam.  Namun, Hanung ternyata cukup berhasil membuat penonton diam di tempat duduknya bahkan sampai credit title selesai. Padahal penonton film Soekarno tadi bervariasi, dari mulai anak sekolah SD, SMP, SMA, sampai orang-orang tua yang mungkin ingin bernostalgia. Bahkan semua penonton berdiri dan dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta diam hening mendengarkan dengan seksama proklamasi dibacakan dengan suara asli Soekarno. Saya merinding.

Dan lepas dari kontroversi tentang film Soekarno ini, saya rasa film ini secara teknis cukup bagus. Hanung tidak lagi terlalu irit dengan pencahayaan, seperti yang saya lihat dalam Sang Pencerah. Editing dari Cesa David lebih bagus di film ini daripada hasil editingnya untuk NOAH Awal Semula. Scoring music dari Tya Subyakto juga cukup mendukung film ini menjadi film tentang perjuangan yang lirih, bukan yang memberikan semangat berapi-api dan hingar bingar tembakan senjata, seperti yang biasa terjadi dalam film yang ada adegan perangnya. Saya cukup tersentuh dengan scoring musiknya, karena menampilkan tiga lagu yang selalu sukses membuat saya menangis jika mendengarnya: Indonesia Raya, Indonesia Pusaka dan Syukur. Pilihan yang bagus menempatkan lagu Syukur setelah pembacaan teks proklamasi.

Akting para pemainnya juga cukup bagus. Ario Bayu saya rasa pas memerankan tokoh Soekarno, walaupun alas bedaknya terlihat terlalu tebal. Namun, dia bisa menghidupkan sisi humanis tokoh besar yang selama ini dikenal dan „diharapkan“ menjadi sempurna: Soekarno manja dan senang „didominasi“ oleh Inggit, dia juga bisa galau saat jatuh cinta pada Fatmawati, dia pun bisa sakit dan kena malaria, juga takut pada darah. Maudy Koesnaedi sebagai Inggit juga dapat “membalikkan” stereotype perempuan Sunda yang sering digambarkan senang bersolek dan pekerjaannya “menghibur” orang (digambarkan Soekarno mendatangkan perempuan dari Jawa Barat untuk “menghibur” tentara Jepang). Sedangkan Inggit adalah perempuan kuat, dominan, tegas, mandiri, dan cantik. Dia punya pendirian dan berani bersikap. Tika Bravani menampilkan sisi ceria Fatmawati usia 15 tahun yang berhasil memikat seorang lelaki bernama Soekarno.  Pemain lainnya pun berkarakter cukup kuat, seperti Hatta yang diperankan Lukman Sardi dan Sjahrir yang diperankan Tanta Ginting. Soejiwo Tedjo dan Agus Kuncoro selalu bermain bagus walaupun hanya tampil sebentar. Beberapa pemain figuran membuat film ini lebih humanis lagi.

Saking padatnya film ini, sulit untuk saya menentukan scene mana yang paling saya suka atau tidak saya suka. Namun, saya cukup tergetar saat Soekarno menyampaikan ide-idenya tentang landasan negara yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Pancasila memang tak hanya sekedar pemikiran sambil lalu, dia dasar yang berdasar pada keragaman suku bangsa, budaya dan agama di Nusantara. Ini pemikiran cerdas yang pengejawantahannya sekarang bisa dilihat sendiri betapa menyedihkannya.

Pada akhirnya film ini bukan sekedar rekonstruksi sejarah atau cerita tentang romantisme masa lalu seorang tokoh besar nan sempurna, tetapi kontroversial. Jika ingin murni jadi film sejarah memang masih banyak detil yang harus diperhatikan. Namun, dalam film ini ada jalinan yang cukup kuat antara masa lalu, kini dan masa depan yang dijalin lewat dialog antartokohnya. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll berusia sekitar 24 tahunan ketika mereka berpikir jauh ke depan tentang negara dan bangsa ini. Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang saya lakukan ya di saat saya berusia segitu, ya? Apa yang ada di pikiran anak-anak sekarang di usia segitu, ya? Dan seperti yang dikatakan Soekarno saat berdialog panjang dengan Hatta tentang keraguan dan harapan akan bangsa ini, apakah mereka berdua akan mampu memimpin bangsa yang benar-benar kompleks isinya, jawabnya adalah “Kemerdekaan bukanlah tujuan, kemerdekaan adalah awal. Dan biarlah sejarah yang membersihkan nama kita, jika kita melakukan hal yang buruk untuk satu tujuan yang baik.Kita sudah memulai, kita percayakan pada anak cucu kita untuk melanjutkannya.” Duh, yang ini rasanya jleb sekali, apalagi ditingkahi lagu Indonesia Pusaka yang selalu dan selalu mampu membuat dada saya sesak dan menangis. Dipercayakan. Diberi kepercayaan. Bisakah kepercayaan itu dijaga dan dilaksanakan?

Di luar hujan. Orang-orang berteduh menunggu angkot. Anak-anak yang bertelanjang kaki menyewakan payung berseliweran menawarkan jasanya. Oh, itu suasana di Jalan Merdeka Bandung. Tak jauh dari situ ada Jl. Perintis Kemerdekaan, di mana Gedung Landraad berada. 83 tahun yang lalu di gedung itu Soekarno menyampaikan gugatannya kepada pengadilan Belanda atas ide kemerdekaan Indonesia. Apakah dulu dia membayangkan kemerdekaan seperti ini yang terjadi tak jauh dari gedung itu? Air mata saya menetes lagi. Ah, mungkin saya terlalu terbawa pada ide-ide „romantis“ masa lalu atau jangan-jangan kemerdekaan pun „hanya“ sekedar idealisme yang hanya ada di dunia ide atau hanya ada di gedung bioskop? :)

Tautan: http://www.filmsukarno.com/home

Berterima Kasih

Botanischer Garten Bayreuth 2013

Botanischer Garten Bayreuth, August 2013

Tiga tahun lalu saya sempat bertanya kepada salah seorang sahabat: bagaimana rasanya menjadi doktor. Hampir empat minggu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan yang sama. Ternyata jawaban yang saya berikan juga sama dengan jawaban dari sahabat saya itu: biasa saja. Memang biasa saja, selain kelegaan yang cukup besar karena telah selesai melakukan satu tugas. Namun, saya selalu percaya bahwa tidak pernah ada akhir, semua selalu menjadi awal. Dan untuk saya, hampir 4 tahun menjalani proses promosi ini bukan hanya masalah akademis, intelektualitas, jadi doktor atau tidak jadi doktor, tetapi lebih dari itu. Selama itu pula saya semakin belajar mengenal diri saya: saya yang tidak sabaran, saya yang panikan, saya yang pencemas, saya yang penakut, saya yang pemalas, saya yang sering menunda pekerjaan, saya yang keras kepala, saya yang masih mementingkan apa kata orang, dan saya saya yang lain, yang selama ini mungkin tidak muncul terlihat ke permukaan.

Maka untuk saya bukan hasil akhir yang semata-mata membuat saya lega, tetapi keseluruhan proses panjang yang terus terang saya rasakan cukup berat ini ternyata terlewati juga. Dan ini bukan hasil kerja saya sendiri, ada banyak bantuan dan kekuatan dari Sang Maha Membantu lewat orang-orang yang dikirimkanNya untuk saya dan berada di sekeliling saya: dengan cara apapun. Maka, bagian paling personal dan paling saya sukai dari setiap karya saya adalah ucapan terima kasih. Jika diijinkan, mungkin seperempat bagian dari disertasi saya bisa penuh oleh nama-nama. Sayangnya tidak bisa. Jadi, saya menulis di sini, karena saya tidak bisa melepaskan nama-nama mereka yang membantu saya –langsung tidak langsung- sampai pada titik lain perjalanan hidup saya.

Selain kepada para guru dan para professor saya, saya sangat berterima kasih pada Peter Kistler yang sejak tahun 1992 menjadi teman diskusi, teman yang mendukung saya secara akademis dan secara personal, teman yang membantu saya melihat diri saya dan keIndonesiaan saya dari kacamata lain, teman yang siap memberikan kritik pedas yang konstruktif. Svann Langguth yang juga selalu siap mendukung saya. Jutta Kunze yang juga selalu siap membantu. Ilona Kruger yang dengan caranya memungkinkan saya melanjutkan perjalanan. Gaby Ziegler yang selalu ada dan selalu siap saya repotkan. Begitu juga dengan Barbara Schwarz-Bergmann yang sudah „rela“ dibuat pusing dan menjadi tempat saya protes. Walter dan Ulla Wagner yang selalu menyediakan rumahnya untuk saya, membuat saya merasa selalu memiliki „rumah“ di Bayreuth. Begitu juga dengan Mbak Ivo Oppl, my big sister and my partner in crime di Bayreuth, atas kebesaran hati dan pintu yang selalu dibuka lebar untuk saya. Terima kasih telah ada dan membantu saya.

Bicara tentang data dan transkrip, maka saya harus berterima kasih banyak pada Mbak Yanti Mirdayanti, Poppy Siahaan, Mbak Andi Nurhaina, Jutta Kunze, Gabriella Otto,  Tanja Schwarzmeier, Astrid Krake, Ibu Dian Indira serta semua narasumber yang bersedia direkam dan dianalisis. Pada Shita Sarah, Hani Priandini, Lastari Duggan, Mia Marwati, Genita Canrina, Fitri Khairani dan Sarifah Alia terima kasih atas bantuannya mentranskripsi data saya. Ganjar Gumuruh yang telah mengajarkan saya mengedit video dan membantu mengkonversi semua data rekaman.

Terima kasih juga untuk Sina Friedrich dan Ani serta Ronald Nangoy yang selalu siap dengan kunjungan dadakan saya dan yang membuat saya selalu merasa bahwa Jerman adalah mereka. Mbak Rahayu Nurwidari yang juga selalu siap membuka pintunya untuk saya. Sarah Merret yang banyak sekali membantu, dari mulai mengoreksi pekerjaan saya, menyediakan rumahnya, sampai mengajari saya memasak nasi biryani :)

Teman-teman sesama „minoritas“ di Bayreuth: Mas Rizal dan Ani, Yusri dan Meta –teman jalan-jalan dan diskusi-, Heriyanto Tjoa dan terutama Andhika Puspito Nugroho, yang selalu siap membantu dan selalu bersedia saya repotkan termasuk dalam urusan menyiram tanaman dan belanja daging :) Bantuan dan keberadaan mereka membuat saya tidak merasa sendiri.

Sahabat-sahabat seperjuangan dan teman-teman curhat: Ahmad Zahra, Mohammed el Nasser, Sherine Elsayed –yang juga menyediakan tempatnya untuk saya saat mengambil data-,  Chen Jieying, Ahmad Alradi, Ahmad Keshavarzi, Mariusz Woloszyn, Sandra Romero, Sokol Keraj –sang sutradara, yang menjadi teman berbagi keluhan, kerumitan ide dan pikiran, Gao Qian yang juga selalu siap membantu saya dan menjadi tempat curhatan saya. Terima kasih khusus untuk Monika Pondelek, sahabat saya, teman curhat, teman bergossip, teman diskusi, teman nonton dan teman yang membuat saya menjadi suka mewarnai kuku saya :) Dia juga teman yang menyediakan kamarnya untuk saya tempati dan menyepi agar saya bisa bekerja dengan tenang dan yang bersedia ditelfon serta didatangi tengah malam untuk diinapi karena pintu rumah terkunci :) Terima kasih untuk pengertian dan bantuannya.

Sahabat-sahabat saya sehati, seperjuangan, seperjalanan: Lola Devung, sinkronisitas di Mannheim 2010 membawa pada chatting panjang malam-malam sambil mentranskrip, mengolah data, bergossip, facebooking, twittering, youtubing serta berujung pada perjalanan murah meriah ke Schwarzwald, Colmar, Barcelona, Turki dan kehebohan-kehebohan yang masih berlanjut sampai sekarang. Juga Vita Yusadiredja dengan modus operandi yang sama berujung pada perjalanan gila ke Itali, Swiss dan Nordsee. Teh Ani Rachmat teman seperjuangan sejak dari Bandung yang akhirnya tercapai juga keinginannya main bersama di Eropa, walaupun cuma menghabiskan satu akhir pekan bersama di Berlin. Shita Sarah Safaryah, si neneng jeprut, walau bagaimana pun jeprutnya dia, saya berterima kasih karena dia telah membantu saya mentranskrip dan bersedia begadang bersama untuk membicarakan hal-hal yang sangat “penting” dan “gila” bersama dengan teman sehatinya: Cicu Finalia, yang juga bersedia menemani saya begadang (atau tepatnya membuat dia juga ikut begadang bersama kami). Seperti juga teman-teman di Fakultas Sebelah: Nani Darmayanti –bantuannya sangat tidak terkira-, Tanti Skober, Evi RD, Iwan Khrisnanto, Teh Kamelia Gantrisia dan tentu Teh Sofia Agustriana yang selalu bersedia saya repotkan. Juga Lusi Lian Piantari dan Harfiyah Widiawati yang selalu menjadi sahabat yang penuh pengertian. Mereka ini yang membuat saya tetap ada di jalur yang “benar” :)

Kuncoro Wastuwibowo, Mbak Hindraswari Enggar Dwipeni, Gilang Yubiliana, Ari Asnani, Wayan Lessy, Bettina David, Tarlen Handayani adalah orang-orang yang menebarkan banyak energi dan inspirasi positif bagi saya. Terima kasih.

Kolega-kolega saya di Jurusan, yang memberikan banyak keluangan waktu untuk saya, terutama untuk ibu Hesti Puspa Handayani, ibu Dian Indira, ibu Damayanti Priatin, ibu Yunni Sugianto, yang selalu mendukung dan mempercayai saya.

Sahabat saya Insan Fajar, yang selalu siap kapan pun saya “teriaki” dan saya mintai bantuan jika ada masalah dengan laptop atau program-program yang tidak saya mengerti, teman berbincang panjang lebar dan berbagi ide. Dien Fakhri Iqbal, tempat berbagi kekeraskepalaan dan kegilaan, yang membuat saya merasa bahwa saya ternyata masih cukup “normal” dengan semua kerumitan cara berpikir saya. Kuswandi Amijaya, sahabat dalam suka dan duka, yang selalu bersedia saya repotkan, yang selalu bersedia mendengarkan semua keluhan dan ocehan saya, yang selalu siap membantu saya apapun situasinya. Bima Bayusena, yang dengan caranya yang tenang dapat “menarik“ saya kembali serta “melambatkan” langkah jika saya sudah melampaui batas, menjadi telinga yang dengan sabar  mendengarkan semua keluhan saya dari hal-hal besar sampai hal-hal sepele. Mereka ini lah yang mengetahui dengan pasti, bahwa saya pun menangis :)

Untuk saya tidak berlebihan jika saya berterima kasih pada Pearl Jam, Peterpan (lalu Noah), Phil Collins, Sting, U2, Coldplay, Boyce Avenue, Scala Choir, pada banyak musisi yang musik-musiknya telah setia menemani hari-hari saya bekerja dan melewati masa-masa naik turun sampai saat ini (dan juga nanti). Juga pada Akhmad Dody Firmansyah yang telah memberikan hadiah yang selalu bisa membuat saya tersenyum saat ada dalam tekanan.

Terima kasih terbesar adalah untuk orang tua saya, adik-adik saya dan keponakan saya yang menjadi penjaga utama api hidup saya. Tidak ada cukup kata untuk mengungkapkan (dan memang tidak bisa saya ungkapan) rasa terima kasih dan rasa syukur saya atas keberadaan mereka.

Pada akhirnya memang hanya kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang saya bersyukur atas limpahan berkah dan kasih sayangNya, yang diberikan langsung kepada saya dan dipanjangkan melalui keberadaan semua orang yang selalu ada dan menyayangi saya, juga yang saya sayangi.

Untuk saya tidak pernah ada akhir, semua adalah awal. Berada di titik ini adalah awal saya untuk semakin memahami, bahwa tidak ada sedikit pun nikmat yang bisa saya dustakan. Ini adalah awal saya untuk semakin menyadari, bahwa saya dapat berada pada titik ini saat ini karena mereka semua. Dan semua ini akhirnya memang untuk mereka, bahkan untuk mereka yang namanya tidak sempat atau lupa saya sebut. Saya ada di titik ini bukan semata untuk saya. Maka saya hanya bisa berharap, semoga keberadaan saya di titik ini juga bisa membawa berkah bagi semua.

Menuliskan Kenangan

Entah mengapa, hari ini tumben saya malas sekali menyalakan laptop dan membuka internet. Pagi-pagi sudah ke kampus, dilanjut belanja sedikit, kemudian mencoba tidur sebentar dilanjut dengan santai shalat dan dan melanjutkan membaca quran. Baru sampai Al Anbiya. Ayat 35 terbaca: setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemarin seorang teman bertanya tentang kabar seorang ibu baik hati dan titip salam untuknya. Saya bilang, ibu baik hati itu sudah meninggal 4 tahun lalu. Kagetlah teman saya, karena katanya tak ada yang memberitahunya. Saya kemudian jadi membuka kembali catatan lama saya tentang ibu baik hati itu. Rasa rindu padanya menyelinap. Kemarin pula, di saat shalat pikiran dan perasaan saya melayang ke Bandung. Memikirkan seorang sosok ibu baik hati lainnya yang sedang terbaring sakit. Entah mengapa juga, saat itu saya merasa bahwa dia sebentar lagi akan berbahagia sama seperti ibu baik hati yang meninggal 4 tahun lalu. Lalu tadi, selesai shalat dhuhur, akhirnya saya membuka laptop dan internet dan mendapat 2 offline messages dari dua orang sahabat saya. Yang satu memberitahukan bahwa ibu baik hati itu meninggal tadi sore, yang satu lagi hanya memanggil nama saya, tapi saya tahu maksudnya. Ya, ibu baik hati yang saya pikirkan kemarin (dan hari-hari sebelumnya).

Heran juga, saya tidak kaget dan tidak menangis, sewajarnya reaksi orang yang menerima kabar semacam ini. Ada rasa lega menyelinap malah. Mungkin saya masih merasa „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis justru saat saya pertama kali menerima kabar bahwa Ibu baik hati itu masuk rumah sakit sebulan lalu karena sakit parah yang sebenarnya sudah dideritanya sejak 2010. Saat itu badan saya gemetar hebat dan saya menangis terus menerus sepanjang hari, bahkan sampai keesokan harinya dan setiap ada pembicaraan tentangnya. Saat itu perasaan saya juga didominasi oleh rasa marah pada diri saya sendiri yang sampai tidak tahu bahwa sosok ibu baik hati itu sebenarnya sudah menderita sakit sedemikian lama. Ya, tidak ada yang tahu. Ibu baik hati itu tidak mau ada orang yang tahu tentang kondisinya. Bahkan di tengah sakitnya, dia juga yang masih berharap bahwa saya harus sehat selama di Jerman ini. Kami sempat berkirim sms sehari sebelum dia masuk rumah sakit. „Saya baik, Dian sayang. Dian sehat-sehat terus ya di sana. Miss you too. Muach muach,“ demikian tulisnya.

Setelah puas menangis dan „memarahi“ diri saya sendiri karena bisa „lalai“ dan tidak peka terhadap kondisinya, malah seringnya merepotkan dia, saya kemudian hanya bisa berharap dan berdoa agar ibu baik hati itu diberi yang terbaik, tidak kesakitan terlalu lama. Apapun. Dia orang yang sangat baik, rasanya kok tidak rela melihatnya kesakitan. Karena itu pula, saya sangat marah saat ada yang memasang foto di media sosial saat mereka menjenguk ibu baik hati yang sedang terbaring lemah, sementara mereka bergaya sambil senyum-senyum di sebelah tempat tidurnya. Bukan hanya sekedar masalah privacy, tapi untuk saya lebih dari itu. Mungkin ada semacam penolakan dari dalam diri saya saat melihat ibu baik hati itu dalam kondisi sakit. Diam-diam saya hanya ingin menyimpan kenangan yang manis-manis saja atasnya. Pada senyum lembut dan manisnya serta tatapan matanya yang teduh. Saya hanya ingin mengingatnya dalam kondisi itu.

Membaca berita dari sahabat saya kemudian membuka email yang dikirim sehari sebelumnya –yang juga entah kenapa baru saya baca tadi-, kemudian rentetan ucapan duka cita mendalam dari para mantan mahasiswanya, ingatan saya melayang jauh ke 20 tahun yang lalu, saat saya pertama kali mengenal sosok lembut ini yang ternyata menyembunyikan kekuatan sangat besar di baliknya. Dia dosen saya. Saya hanya mengenalnya di perkuliahan: Sprachübung dan Landeskunde. Aksen Jawanya cukup medok. Cantik, lembut, ayu. Yang saya tahu, dia tinggal di Jakarta, hanya ke Bandung saat mengajar. Seminggu dua hari dia di Bandung. Saya cukup sering bertemu dengannya di bis DAMRI Kebon Kalapa – Tanjungsari. Biasanya dia naik kereta dari Jakarta, kemudian dilanjut naik bis DAMRI atau naik angkot St. Hall – Gedebage dilanjutkan dengan naik angkot Gedebage – Rancaekek, lanjut lagi naik angkot Cileunyi – Sumedang. Kadang dia juga naik travel 4848 saat itu kalau mau pulang ke Jakarta. Mobil BMWnya hanya dipakai kalau ada jurusan ada acaranya. Jarang dipakai, padahal kabarnya dia punya beberapa mobil BMW. Biasa, mahasiswa suka bergossip soal dosennya J Belakangan saya tahu kenapa dia lebih senang naik kendaraan umum, karena katanya supaya dia bisa tidur di jalan, tidak perlu capek-capek nyetir Jakarta – Bandung. Setelah dibuka jalur tol Jakarta – Bandung, dia berganti trayek, jadi naik bis Primajasa ke arah Garut atau Tasikmalaya.

Ya, itu dia. Sosok yang senang menggambar dan menyanyi. Dia pernah memperlihatkan gambar yang dia buat saat dia di Jerman: suasana di depan kamarnya. Suaranya juga bagus. Dia sering didaulat untuk menyanyi kalau Fakultas ada acara. Sosok yang pernah bercerita pada saya, bahwa dia sempat datang ke Berlin tahun 1989, ikut dengan para mahasiswa membongkar tembok Berlin. Kebanggaannya menjadi saksi sejarah: “Pecahan temboknya saya bawa pulang”, demikian kisahnya. Saya tak terlalu dekat dengannya saat saya menjadi mahasiswa. Hanya relasi biasa: dosen dan mahasiswa. Saat itu, mana ada mahasiswa yang berani berdekat-dekat dengan dosen. Menelfon dia pun hanya sekali-kalinya, untuk menanyakan apakah skripsi saya perlu dikirim ke Jakarta atau disimpan di Jurusan saja. Ya, dia co-pembimbing skripsi saya dan saya tidak pernah bimbingan dengannya. Belakangan saya tahu bahwa skripsi saya baru dibacanya saat hari saya sidang. Dia berkata, “Saya percaya sama Dian.”

Dia yang mempercayai saya. Dari dulu sampai saat meninggalnya. Dia yang mempercayai saya seperti saya juga mempercayainya. Saya semakin mengenalnya saat dia menjadi lebih banyak ada di Bandung setelah suaminya meninggal. Saya dan beberapa kolega juga sempat menginap di rumahnya, saat kami ada acara di Jakarta. Saya pernah juga menginap di rumah keluarganya yang nyaman di Malang saat kami berdua mewakili Jurusan melakukan studi banding ke Malang. Tidur bersamanya. Menjadi tahu ritualnya sebelum tidur, menjadi tahu bahwa dia sangat takut naik pesawat, menjadi tahu tentang keinginannya yang kuat untuk melanjutkan sekolah lagi, menjadi tahu tentang kekhawatirannya, menjadi tahu tentang harapannya, menjadi tahu sedikit tentang keluarganya. Dia juga yang membuat saya jatuh cinta pada Malang. Saya pun diajak jalan-jalan dan berwisata kuliner di sana. Adiknya yang saat itu menjadi staf PR 1 Unibraw menemani kami. Adiknya yang baik, yang meninggal setahun setelah kunjungan kami ke Malang. Keluarga yang baik, yang saya tahu kemudian bahwa semua anak perempuan di keluarga itu diberi nama awal: Hesti.

Saya semakin mengenalnya lagi saat dia jadi ketua jurusan. Pada saat itu saya tahu, bahwa sosok ini berhati amat besar dan lapang di tengah segala macam intrik. Dia tetap dan meneguhkan diri sebagai sosok yang tidak pernah bergossip, tidak pernah mau mencari masalah, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja, sosok yang tetap tenang dan lapang dada walaupun banyak hal mengecewakannya dan membuatnya sakit hati, sosok yang selalu mau belajar dan bertanya, sosok yang jujur dan rendah hati, selalu tersenyum dan berkata “Ya sudah, ngga apa-apa, biarin saja,” padahal saya misalnya dengan cerewet protes ini itu. Dia sosok ketua jurusan yang tidak pernah mau duduk di kursi “kebesaran” ketua jurusan. Tempat duduk favoritnya adalah di kursi depan lemari buku. Bersama dengan kami. “Lebih enak di sini,” begitu katanya selalu. Sosok yang selalu datang paling pagi, pulang paling sore, tapi tetap membebaskan stafnya untuk pulang duluan. Sosok yang masih setia naik bis DAMRI, kali ini bis DAMRI khusus dosen. Sosok yang selalu „keukeuh“ membayari kami makan siang atau membayari ongkos angkot. Bisa rebutan dengannya dahulu mendahului membayar ongkos angkot. Biasanya dia cemberut kalau kami „berhasil“ membayarinya. Sosok yang takut naik ojek, lebih suka jalan kaki, lalu kami bertemu di bawah dan naik angkot sama-sama. Dipikir-pikir kami suka keterlaluan juga memintanya pulang lebih dulu dan membiarkannya jalan kaki sendirian sementara kami enak-enak naik ojek. Sosok yang belakangan sangat bahagia jika bergabung bersama kami, dosen-dosen muda yang rusuh, yang senang karaoke dan kemudian makan-makan. Dia menjadi „guru besar Fakultas Sebelah“, partner menyanyinya „Pak Dekan Faksebel“. Mungkin dia terhibur oleh tingkah kami yang gila-gilaan. Pertemuan terakhir saya dengannya pun tahun lalu saat dia untuk kesekian kalinya berhasil kami „culik“ untuk ikut karaoke dengan kami di Ciwalk, setelah itu dilanjut makan seperti biasa. Dia selalu senang kami culik.  Seandainya saya tahu, bahwa saat itu dia sudah sakit. Namun, melihatnya tertawa dan berbahagia, rasanya saya tidak menyesali kelakuan kami yang suka semena-mena „menculik“nya berkaraoke dan makan bersama. Dia berbahagia. Menyanyi memang nafas hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pada saya.

Dia juga adalah sosok yang selalu dengan berhati-hati bertanya pada saya, apakah saya sedang sibuk karena dia ingin bertanya sesuatu pada saya tentang materi kuliahnya saat dia studi lanjut dan tentang bahan tesisnya. Padahal saya amat sangat rela diganggu olehnya. Bayangkan, dia dulu dosen saya dan dia mau bertanya pada saya. Namun, bertanya tidak berarti kemudian dia tidak melakukan apapun. Dia belajar, dia mau belajar. Tidak ada yang direpotkannya, semua dikerjakan sendiri. Kami berdiskusi banyak hal. Dia mau mendengarkan saya yang suka sok tahu ini. Dia juga yang menemani saya dan beberapa teman menghadap dekan saat ada masalah dalam status kepegawaian kami. Dia orang pertama yang memberikan tanda tangan dukungan saat kami mengajukan protes ke universitas. Dia orang yang tetap mempercayai saya sampai kapanpun, pun saat saya menggamit lengannya dan sambil berjalan menuju tempat karaoke saya bercerita panjang lebar tentang masalah yang saya hadapi dengan studi saya. Komentarnya saat itu, „Pokoknya saya mendukung apapun yang terbaik untuk Dian.“ Dia juga sosok yang selalu saya repotkan soal urusan tanda tangan dan surat menyurat yang suka dadakan. Dia sosok yang dengan sangat sabar mendengarkan semua protes saya tentang ini itu. Dia juga sosok yang dengan selewat berkomentar saat kami sibuk menghitung penetapan uang kursus yang mau ditetapkan, „Jangan kemaruk,“ katanya dan kami langsung terdiam.

Saya mencoba mencari kenangan yang tak mengenakkan tentangnya. Tak ada. Dia tetap sosok yang selalu ingin dan harus saya temui saat saya mudik ke Bandung. Sayangnya, saat awal tahun ini saya mudik, saya tidak bisa menemuinya, karena dia sakit. Saat itu dia bilang, „Ah, cuma kecapean saja.“ Saya tidak curiga, karena saya kemudian masih melihat foto-fotonya ada ikut serta dalam kegiatan Jurusan. Bahkan tiga hari sebelum dia masuk rumah sakit pun, tampaknya dia masih memimpin rapat.

Dari banyaknya ucapan duka cita dan doa-doa untuknya, tangis dan keterkejutan yang sangat dari teman, kolega dan mahasiswa serta mantan mahasiswanya, saya semakin yakin bahwa dia memang sosok amat sangat baik yang pernah ada. Itu membuat saya lega. Tadinya saya berpikir bahwa saya akan menangis saat menuliskan ini semua, ternyata tidak. Mungkin saya masih „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis sebelumnya. Namun, ada kelegaan menyelinap menyadari bahwa dia sudah tak sakit lagi (karena ini yang menyakitkan: mengetahui dia sakit), bahwa dia bisa istirahat dengan tenang, bahwa dia sudah lepas dari gonjang ganjing masalah hidup, bahwa dia bisa bertemu lagi dengan orang tuanya, dengan suaminya, dengan kakak dan adiknya, dengan Yang Maha Mencintai nya.

Saya menuliskan kenangan-kenangan manis tentangnya di sini, karena hanya itu yang bisa saya lakukan, untuk „menyimpannya“ agar tetap indah, selain memanjatkan doa untuk keindahan dan kelapangan jalannya menemui Sang Maha Indah di bulan penuh ampunan ini. Saya tidak menangisi kepergiannya, karena dia sangat berhak mendapatkan yang terbaik. Kalaupun tadi sempat air mata saya menitik sedikit mungkin karena saya membayangkan bahwa saat saya kembali ke Bandung nanti saya tidak akan pernah lagi menemukan sosok lembut itu duduk di kursi di depan lemari buku. Saya tidak akan pernah lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi. Saya tidak akan lagi melihat senyumnya sambil berkata „Biarin aja.“ Saya memang tidak sekuat dan setabah dirinya. Saya belum punya hati selapang dan seluas hatinya untuk bisa tersenyum dan berkata, „Biarin aja.“ Untuk saya dia sosok yang mendekati „sempurna“, seperti lagu „Sempurna“nya Andra and The Backbones yang sering dinyanyikannya.

Selamat jalan, Ibu yang baik. Berbahagialah di sana dan tolong sampaikan salam dan terima kasih saya pada Sang Maha Kasih yang sudah mempertemukan saya denganmu dan membuatmu ada dalam hidup saya.

Dan ternyata sekarang (akhirnya) saya benar-benar menangis.

Bayreuth, 080812

Sehari di Kota Wagner – Sebuah Catatan untuk Sebuah Mimpi

Tujuh tahun lalu, juga di bulan Juni, saya pernah iseng menulis di buku tamu sebuah blog menarik dan inspiratif dengan diakhiri kalimat “Salam dari Bayreuth”. Tidak disangka, sang pemilik blog membalas keisengan saya dengan sebuah email balasan berisi permintaan agar saya menulis tentang sehari di kota Wagner, Bayreuth. Permintaan itu diiringi dengan kata “pliizz….”. Permintaan yang kemudian tidak bisa saya tolak dan akhirnya saya tuliskan cerita saya dengan panjang lebar. Ternyata tulisan saya dipasang di blognya yang inspiratif tersebut, digabungkan dengan tulisan-tulisan lain yang jauh lebih berbobot di kolom Wagner. Merasa terhormat juga tulisan saya dimasukkan ke blog seorang blogger senior dan banyak penggemarnya itu :)

Dan tujuh tahun kemudian, juga di bulan Juni, si pemilik blog, yang pernah bertanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner dan pernah meminta saya menulis tentang sehari di Bayreuth, akhirnya berkunjung juga ke Bayreuth dan berkesempatan mengalami sendiri bagaimana rasanya sehari berada di kota Wagner. Bagaimana rasanya? Harus ditanyakan sendiri kepada yang mengalaminya. Yang jelas hari itu sang pencinta Wagner tidak dapat masuk ke Haus Wahnfried dan Festspielhaus untuk merasakan aura ke-Wagner-an di kedua tempat itu, karena sayangnya kedua tempat itu ditutup untuk sementara waktu. Namun, mudah-mudahan aura ke-Wagner-an di Bayreuth cukup terwakili dengan dingin, mendung dan hujan yang menyambutnya di Bayreuth, dengan Fachwerkhaus tempatnya menginap, dengan halaman dan kebun Haus Wahnfried yang sudah lama tak terawat karena sedang dalam proses renovasi, dengan rumah yang untuk saya juga terasa agak menyeramkan di malam hari, dengan makam yang hanya berbatu granit hitam tanpa tulisan apapun, dengan Hofgarten, dengan Opernhaus yang menjadi alasan mengapa Wagner kemudian memutuskan untuk menemukan damai bagi “kegilaan”nya di kota kecil ini, dengan istana rokoko milik Wilhelmine, dengan jalan-jalan berbatu di Bayreuth, dengan gedung Festspielhaus berbatu bata merah di atas bukit kota Bayreuth, dengan patung kepala Wagner yang sedang mengerutkan kening dan menatap serius taman di depannya, dan dengan tupai mungil warna coklat kemerahan yang akhirnya berhasil ditemukan juga dan dengan senyum kebanyakan orang yang ditemui.

Lalu, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya untuknya dulu, bahwa satu hari di Bayreuth untuk saya berisi ingatan saya tentang masa lalu, hidup saya saat ini dan harapan saya tentang nanti, maka itu juga yang saya rasakan kemarin. Satu hari di Bayreuth mengingatkan saya pada pertanyaan retoris tujuh tahun lalu: “Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner?” dan “Kapan ya bisa ke sana?”, kemudian membawa pada saat ini, saat di mana pertanyaan itu terjawab dengan kenyataan bahwa saya bisa menunjukkan kepada orang yang bertanya itu: inilah rasanya dan ikutlah merasakan, karena rasa tidak bisa diwakili dan diceritakan. Rasa haruslah dirasakan sendiri. Termasuk juga merasakan mencuci dengan menggunakan koin di asrama mahasiswa :) Dan satu hari itu juga membawa harapan tentang nanti, terutama membawa kesadaran bahwa hidup memang harus tetap mempunyai harapan dan mimpi. Menekuninya akan membawa harap dan mimpi itu kembali kepada kita. Toh hidup juga berputar di situ-situ saja. Tak pernah jauh. Kemarin adalah ingatan dari hari ini dan esok adalahnya mimpinya. Dan semua itu adalah sesuatu yang niscaya, walaupun kadang masih selalu terasa ajaib untuk saya :)

 

Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? – Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)

Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.

Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.

Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya „omelkan“ dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.

Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya „kerjasama“ ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan „tradisional“, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.

Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).

Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang „baik“, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.

Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.

Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih „baik“ dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!

Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. The right man in the right place. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.

Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.

Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar,  tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa „berjarak“ dan „objektif“ dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji „rumah“ sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: painfull. Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.