Rumah di Seribu Ombak: Berombak dengan Damai

Bild

Baru membaca halaman-halaman awal novel karya Erwin Arnada ini, bayangan saya langsung ikut terbang jauh ke Pantai Lovina, tepatnya di daerah Kalibukbuk, Singaraja Bali. Saya bisa merasakan kembali dengan jelas suasana pantai subuh hari yang sepi, anginnya yang sejuk menyentuh kulit, langit masih cukup gelap yang lambat-lambat disaput sinar memerah, ombak berdebur pelan mendamaikan hati yang juga sejuk diiringi mekidung yang dikumandangkan dari pura agung di belakang saya dan gema adzan subuh dari mesjid tak jauh dari pura.

Saya membaca lagi halaman-halaman berikutnya, masuk dengan tertib ke dalam narasi si aku pencerita: anak laki-laki kelas 5 SD bernama Samihi Ismail. Dia anak seorang perantau dari Sumatera Barat yang sudah berdiam di Singaraja lebih dari 20 tahun. Samihi yang saya imajinasikan dari narasi yang saya baca adalah anak kecil yang kurus dan penyakitan (dia menderita asma dan tak pernah lepas dari inhalernya), penakut (dari takut air sampai takut berbuat salah, takut berbohong sampai takut menjadi anak durhaka), tapi rajin dan pintar. Tipikal. Samihi, yang biasa dipanggil Samii, bersahabat tanpa sengaja dengan Wayan Manik, yang biasa dipanggil Yanik, anak asli Singaraja yang putus sekolah karena tak punya uang untuk melanjutkan sekolah, anak yang ulet, pekerja keras, pemberani dan setia kawan.

Persahabatan yang terjadi antara Samihi dan Yanik terjalin dengan manis di tengah perbedaan yang melatarbelakangi mereka berdua. Samihi adalah dan berasal dari keluarga muslim yang taat, sedangkan Yanik adalah seorang penganut Hindu yang taat. Mereka saling mendukung, menginginkan yang terbaik satu sama lain. Yanik adalah orang yang sangat menginginkan Samihi menjadi juara qiraah, maka dia pun mengenalkan Samihi kepada ahli-ahli mekidung untuk melatih suaranya. Samihi sangat menginginkan Yanik kembali bersekolah, maka dia pun melawan rasa takut dosanya karena mendukung Yanik ikut metajen –sabung ayam, yang dianggapnya judi-, satu-satunya cara yang cepat untuk menghasilkan uang agar Yanik bisa kembali bersekolah.

Persahabatan mereka tidak mulus-mulus saja. Ada banyak trauma dan ketakutan. Ada niat baik yang tentu saja tak selalu bisa diterima dengan baik pula, sehingga berujung pada konflik. Ada curiga, ada percaya. Namun, saya masih bisa menangkap bahwa sahabat adalah tetap sahabat, apapun yang terjadi. Klisenya mungkin: dalam suka dan duka selalu mengharapkan dan berbuat yang terbaik.

Narasi kilas balik dari si aku pencerita dituturkan dengan tenang, tidak menggebu-gebu. Seperti debur ombak di Lovina, tidak besar, tetapi tetap saja orang harus waspada. Namun, saat setting berpindah ke pantai Kuta, narasinya pun terasa lebih menggebu. Saya hanyut, terus terang. Sudut pandang Samihi, seorang murid SD yang sederhana dan neko-neko pun terlihat dari “caranya” yang “begitu saja” saat menceritakan peristiwa pelecehan seksual terhadap Yanik.

Beragam perbedaan “dibenturkan” dengan halus oleh Erwin. Tampaknya dia memang sedang berusaha mencari „harmoni“ dari perbedaan-perbedaan, yang tak bisa dielakkan karena memang sudah ada, dengan cara „membalikkan“ stereotipe yang telah dimunculkan (dengan salah): perantau yang menyatu dengan penduduk desa, orang bule yang justru membawa petaka, bukan hanya „devisa“ atau orang Bali yang berhasil.

Novel ini juga berkisah tentang usaha tokoh-tokohnya berperang sekaligus berdamai dengan diri, tubuh dan pikirannya, melawan sekaligus keluar dari ketakutan, trauma, kemarahan yang sublim, kecurigaan dan prasangka yang muncul karena rasa percaya yang dicerabut tanpa sebab yang jelas. Ketakutan dan trauma akan air yang dialami Samihi menjadi benang merah bagi ketakutan yang lebih besar karena ketidakpercayaan kepada diri, kepada sekitar, kepada orang lain, kepada sistem, kepada hidup yang tidak selamanya indah dan kepada Yang Memberikan Hidup. „Perjuangan“ Samihi dan Yanik untuk itu semua dinarasikan dengan cukup menyentuh dan tentu saja tidak selamanya berujung baik. Berdamai dengan hidup, meminta dan memberi maaf serta menerima bahwa diri dan hidup memiliki batas tentu bukan hal yang mudah. Ketika pada akhirnya Samihi yang pendiam dan penakut berhasil „menaklukan ombak“, Yanik yang pemberani dan menggebu-gebu lebih memilih „berdamai dengan ombak“ . Toh keduanya sama-sama memilih akhir yang „hening“ di antara „seribu ombak“, sebergejolak atau setenang apapun ombak itu. Itu hidup, yang akan „selalu dihadapkan pada hal-hal yang indah dan memilukan.“

Cukup banyaknya kesalahan tipografi dan peletakan tanda baca yang tidak tepat, ternyata tidak cukup mampu menahan air mata saya agar tidak keluar saat membaca kerinduan Samihi kepada Yanik yang sudah menemukan „rumah abadinya“ di „seribu ombak“ Laut Lovina dan seribu pertanyaan yang kadang memang tak perlu dijawab. Seperti laut dan ombak yang juga tetap penuh rahasia.

 „Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama. Mengapa kini kau lari menjauh? Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu“.


Dan kenangan-kenangan saya akan Pantai Lovina dan Kalibukbuk, suasana desanya, penduduknya, dan „rasa“ yang muncul saat saya menghabiskan beberapa hari di sana, kembali menari-nari dengan jelas  saat saya membaca novel ini. Ini Bali yang saya ingin cari saat itu dan saya temukan di sana serta segera memikat saya: “Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.“

Bayreuth, 290312

Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? – Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)

Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.

Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.

Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya „omelkan“ dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.

Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya „kerjasama“ ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan „tradisional“, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.

Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).

Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang „baik“, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.

Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.

Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih „baik“ dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!

Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. The right man in the right place. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.

Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.

Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar,  tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa „berjarak“ dan „objektif“ dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji „rumah“ sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: painfull. Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.

Andorra

Penduduk Andorra mengkhawatirkan serangan bangsa „Hitam“, bangsa tetangga yang menculik dan membunuhi orang Yahudi. Namun, penduduk Andorra sendiri sebenarnya sudah punya prasangka sendiri terhadap kaum Semit, prasangka yang bersifat antisemitis terhadap „kerajinan dan keuletan“ kaum Semit, „pelit“nya, sifat yang „terlalu sensitif“ atau bahkan „terlalu berani“. Karena prasangka-prasangka inilah Andri, tokoh dalam drama „Andorra“ karya Max Frisch ini, menjadi korban. Sepanjang hidupnya, Andri „anak Yahudi“ yang „diangkat“ anak oleh guru Can ada di bawah sorotan prasangka penduduk Andorra. Pada kelanjutannya diketahui bahwa Andri sebenarnya anak kandung guru Can, hasil hubungan gelapnya dengan seorang perempuan dari negara tetangga. Untuk menjaga „reputasi“nya sebagai guru itulah Can „mengangkat“ Andri menjadi anak asuhnya, dan „diberi identitas“ sebagai anak Yahudi. Can beranggapan, dengan dia „mengasuh“ Andri, dia bisa „menyelamatkan“ Andri dari bangsa „Hitam“.

Drama ini dimulai dengan sebuah khotbah pada hari St. George. Barblin, anak gadis guru Can, mengapur rumah ayahnya, seperti yang dilakukan semua gadis pada hari itu. Barblin diperhatikan oleh para tentara dan diganggu dengan candaan-candaan yang tidak senonoh. Tokoh Pater –pendeta- dalam drama ini mewakili orang-orang Andorra yang „damai“, „lemah“ dan „suci“. Namun, tentu saja, ini semua hanya „polesan“ saja, karena bencana besar akan datang kemudian. Andri sendiri saat itu bekerja sebagai pembantu koki di sebuah rumah makan. Dia mencintai Barblin, tanpa tahu bahwa Barblin sebenarnya saudari tirinya. Andri ingin menikahi Barblin, tapi dia tidak percaya diri untuk melamar Barblin. Jika dia „menculik“ Barblin, itu sama saja artinya dengan tidak tahu berterima kasih pada ayah angkatnya. Perasaan harus berterima kasih pada „penyelamat“nya itulah yang membuatnya tertekan. Andri semakin pendiam dan menarik diri serta berpikir tentang pendapat orang lain tentangnya. Agar prasangka antisemitis penduduk Andorra tidak tertuju kepadanya, Andri berusaha menjaga ayah „angkat“nya sebaik mungkin, juga untuk membuktikan loyalitasnya.

Guru Can memanggil seorang pengrajin untuk mengajari Andri, walaupun pengrajin itu terus menerus berkata „…jika dia tidak berbakat“ dan menuntut honor mengajar yang berlebihan jumlahnya. Andri senang belajar membuat meja dan kursi. Dia juga bisa melakukannya dengan baik, tetapi gurunya selalu tidak puas, bahkan diam-diam merusak apapun yang sudah dibuat Andri. Ini semua dilakukan untuk „membuktikan“ bahwa seorang Yahudi tidak berbakat menjadi pengrajin. Akhirnya Andri ditempatkan di bagian penjualan, yang menurutnya lebih cocok dilakukan oleh seorang Yahudi. Andri sadar, bahwa sebaik apapun pekerjaan yang dia lakukan tidak akan mampu mengubah prasangka orang terhadapnya. Kali ini dia menyerah.

Setelah diperiksa oleh seorang dokter yang diusir oleh guru Can karena ungkapannya yang antisemit, Andri melamar Barblin. Tentu saja tidak bisa (dan tidak boleh). Andri diusir dari rumah dan dia menyalahkan identitas dirinya sebagai seorang Yahudi. Semakin Andri menolak ke“Yahudi“annya, semakin intesif dia mengamati dirinya dan semakin membenarkan sifat-sifat yang dikatakan, tepatnya „ditempelkan“, orang lain padanya. Sejak saat itu, Andri yang biasanya sangat murah hati dan royal dalam menggunakan uangnya, menjadi pelit seperti „orang Yahudi“, karena dia berencana membawa Barblin lari dari rumah ayah angkatnya.

Setiap malam, Andri tidur di depan pintu kamar Barblin. Namun, suatu kali, Andri tidak sadar bahwa ada seorang serdadu yang masuk ke kamar dan memperkosa Barblin. Berkali-kali Andri menghindari pembicaraan dengan ayahnya, hingga sang ayah menyebut „Nak“ padanya. Terkejut mengetahui kenyataan tersebut dan semakin terkejut lagi saat dia melihat seorang serdadu keluar dari kamar Barblin. Andri kehilangan kepercayaannya pada Barblin. Sementara pendeta di kota itu selalu berusaha membujuk Andri untuk „menerima“ identitasnya sebagai seorang Yahudi.

Ibu Andri, yang disebut „Senora“, datang dari negeri „Hitam“ ke Andorra, untuk menengok Andri. Saat dia mengetahui bahwa Andri „dijadikan“ Yahudi oleh guru Can, dia memutuskan untuk membuka kejadian yang sebenarnya. Sang pendeta memberi tahu Andri tentang identitas barunya, namun Andri sudah terlanjur menolaknya. Andri bersikeras „memainkan“ perannya sebagai Yahudi dan sebagai „kambing hitam“. Dalam perjalanan pulang, sang Senora ditemukan menjadi korban sebuah serangan, dan Andri „kembali“ dituduh sebagai penyerangnya.

Pasukan dari negeri „Hitam“ memasuki Andorra dan berhasil memaksa penduduk Andorra untuk tunduk dan mengakui kekuasaan kaum “Hitam“. Selama itu, Andri masih berkonfrontasi dengan ayahnya tentang identitasnya. Akhirnya Andri menerima „kebenaran“ itu namun, dia sudah terlanjut mengidentifikasikan dirinya sebagai Yahudi, berempati bersama mereka dan bersedia mengorbankan dirinya. Andri juga menjauhi Barblin, yang mencoba menyelamatkan Andri. Andri pun menolak perannya sebagai kakak tiri Barblin, yang dalam pandangannya hanya jadi alasan Barblin untuk tidak tidur dengannya, melainkan dengan serdadu „Hitam“. Andri pun ditangkap oleh tentara negeri „Hitam“, seperti orang-orang Yahudi lainnya.

Dan di alun-alun Andorra diadakan „pertunjukan Yahudi“ oleh seorang „pengamat Yahudi profesional“ dari negeri „Hitam“. Pertunjukkan ini dimaksudkan untuk mengenali orang Yahudi dari penampilan luarnya. Walaupun Barblin menolak dan mengajak penduduk Andorra untuk melawan, tetapi penduduk Andorra tidak mau melakukannya. Dalam „pertunjukan“ itu Andri „dikenali“ sebagai Yahudi dan apa yang dilakukan bangsa „Hitam“ terhadap Yahudi lainnya juga dilakukan pada Andri: Andri diikat pada sebuah tiang dan ditembak. Sebelumnya, jari Andri dipotong untuk mengambil cincin yang diberikan oleh Senora, ibunya. Drama ini ditutup dengan guru Can yang menggantung dirinya dan Barblin yang kehilangan keseimbangan jiwanya.

***

Drama ini dipentaskan pertama kali di Zürich pada tahun 1961. Ditulis oleh Max Frisch, seorang sastrawan dari Swiss, sekitar tahun 1946. Kisah tragis metaforis tentang akibat prasangka terhadap sesuatu atau seseorang „yang lain“, yang berbeda. Kisah yang juga masih aktual sampai sekarang.

Pertama kali saya membaca naskah ini (karena wajib dibaca) saat mata kuliah Drama jaman saya kuliah S1 dulu. Pementasannya pun saya tonton (karena wajib ditonton juga) di GK Rumentang Siang di Bandung. Entah, siapa yang mementaskannya, saya lupa. Namun, yang pasti, drama ini membawa saya bermimpi untuk mendatangi satu negara kecil (negara kecamatan, kalau kata teman saya) bernama Andorra yang terletak di antara Spanyol dan Perancis. Bukan, negara Andorra ini bukan Andorra yang dijadikan judul drama oleh Max Frisch. Bukan negara dengan penduduknya yang pengecut dan mudah termakan oleh satu prasangka. Andorra ini adalah negara yang terletak di lembah pegunungan Pyrenees, dengan lembah dan tebing-tebingnya yang indah. Negara yang terkenal karena olah raga musim dinginnya. Negara yang berbahasa katalanis. Negara monarki konstitusional yang pengawasannya dibagi dua antara Perancis dan Spanyol .

Ya, sebagai mantan anak sastra, saya memang selalu ingin mengunjungi tempat-tempat yang ada dalam karya sastra yang pernah saya baca. Jadi, kalau melihat negara-negara atau tempat-tempat yang sudah pernah saya kunjungi, itu biasanya tempat-tempat yang sudah pernah saya „susuri“ jejaknya dulu lewat buku. Dan tampaknya mengunjungi „negara kecamatan“ macam ini jadi semacam mimpi saya juga. Liechtenstein, Andorra, Monaco, San Marino adalah beberapa negara yang ada dalam daftar.

Tentu saja saya berharap, Andorra yang ingin saya kunjungi tidak seperti Andorra-nya Max Frisch. Seperti yang Max Frisch sendiri ungkapkan, lakon yang ditulisnya bukanlah tentang Andorra sebagai sebuah negara, melainkan hanya sebuah model dari sikap yang pengecut, tak berani bicara untuk sebuah kebenaran, dan prasangka yang juga menurut Frisch suatu dosa, karena „setiap manusia wajib melihat dan memperlakukan orang lain tanpa prasangka.“

Bayreuth, 130311

Menyanyi

Minggu lalu, masih dalam rangka mengetes „penglihatan“ baru saya, saya mampir ke toko buku langganan. Lihat-lihat saja, sudah lama tidak ke sana. Selain belakangan saya lebih sering membeli buku secara online, saya juga agak menghindari toko buku. Masih belum bisa mengendalikan diri kalau ke sana. Jadi, minggu lalu saya pindai sebentar bagian roman, mencari buku Patrick Süskind yang terbaru. Bersyukur karena tidak ada, lalu pindah ke bagian buku anak-anak. Menahan diri untuk tidak membeli. Pindah lagi ke bagian Bayreuth dan Wagner. Ada beberapa buku menarik tentang komponis yang setiap musim panas difestivalkan di kota ini. Kemudian saya memaku diri di bagian buku panduan wisata. Ada dua buku tentang Indonesia, satu dari Lonely Planet saya buka-buka dulu sekilas, satu buku lagi buku baru terbitan 2010 dari seri Reise Know How Kulturschock tentang Indonesia dari Bettina David. Saya pindai daftar isinya, cukup menarik. Selain tentang Indonesia dan suku-suku yang ada di Indonesia, agama-agama dan kepercayaannya, kehidupan keluarga, tema kehidupan sehari-hari, hari raya, kematian, dan satu kapitel tentang „bule“ di kehidupan Indonesia. Ini agak berbeda menurut saya. Judulnya boleh Kulturschock, tapi ternyata isinya lebih menarik dibandingkan sekedar cerita seorang „bule“ yang datang berkunjung dan „hidup“ sementara di Indonesia.

Seperti biasa saya pindai gambar-gambarnya. Tidak hanya keindahan alam Indonesia yang ditampilkan, tapi hal-hal kontras dalam kehidupan sehari-hari. Gadis berkerudung sedang merias temannya yang memakai pakaian penari Bali, ibu-ibu saat sembahyang Idul Fitri, tukang becak yang tertawa lepas sambil memegang rokok di tangan, perempuan bercadar naik sepeda motor buatan Cina, penjual nasi goreng di jalan, sampai ke polisi yang sedang merazia sepeda motor di sebuah jalan di desa. Penasaran, saya baca beberapa bagian. Penjelasannya cukup menarik, tidak menghakimi dan berprasangka. Penulisnya mengungkap sisi-sisi yang menarik yang kadang saya, sebagai orang Indonesia pun tidak menyadarinya, saking terbiasanya saya dengan situasi tersebut. Salah satunya di bagian Freizeitvergnügungen (menikmati waktu luang), ada subbagian tentang Singen und Musizieren (menyanyi dan bermain musik).

Bettina David menulis kegiatan mengisi waktu luang baik yang  paling disukai oleh orang miskin atau kaya, di kota dan di desa, oleh laki-laki atau perempuan adalah menyanyi dan bermain gitar. Saat piknik dengan keluarga atau teman, di beranda rumah kaum menengah, di kamar kost mahasiswa atau di gubuk-gubuk petani hampir selalu ditemukan gitar, atau ada orang yang memainkannya, ditambah nyanyian lagu-lagu lama atau hits dangdut terbaru. Apalagi saat malam hari, tulisnya, di saat orang-orang bersantai melepas penat, duduk-duduk bersama, berbincang dan bercanda selepas bekerja seharian, dentingan gitar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari malam-malam orang Indonesia.

Orang Indonesia, tulisnya kemudian, menyanyi dengan sepenuh hati dan semangat. Diiringi petikan gitar sambil bersantai, atau  di paduan suara gereja, atau di kelompok nasyid, di sebuah band, atau di di depan layar monitor lengkap dengan mikrofon di ruang karaoke ;-) (saya langsung senyum-senyum membaca bagian ini). Mereka menyanyi sebagus orang Indonesia bisa menyanyi, katanya. Bettina David menulis begitu mungkin karena banyak juga yang menyanyi dengan nada ke timur, suara ke barat, hehehe. Tak apa, yang penting menyanyi. Beberapa etnis di Indonesia, seperti Batak dan Ambon, terkenal memiliki bakat alam dalam hal menyanyi, tetapi menyanyi dengan aktif menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menyanyi menjadi bagian dari kegembiraan hidup orang Indonesia, yang juga sering ditimpali dengan senda gurau dan candaan yang berujung dengan tawa terbahak-bahak penuh keceriaan. Orang Indonesia menyanyi dengan penuh perasaan bahkan kadang menghayatinya dengan sungguh-sungguh.

Karaoke, tulis Bettina, juga sangat digemari. Dari mulai lagu-lagu Indonesia yang sedang hits, sampai lagu-lagu barat yang sedang mendunia, tidak lupa juga lagu-lagu dangdut yang membuat badan ikut bergoyang. Semua dinyanyikan orang Indonesia tanpa ragu dan biasanya juga dengan bagus. Orang Indonesia, lanjut Bettina, seperti juga kebanyakan orang Asia lainnya mungkin pemalu dalam beberapa hal, tapi tidak saat menyanyi. Mereka bisa bebas lepas. Ini berbeda dengan orang “Barat” yang biasanya baru mau menyanyi di depan umum jika mereka yakin bahwa suara dan teknik menyanyinya bagus atau saat mereka ada di bawah pengaruh alcohol, barulah mereka bisa berteriak-teriak menyanyi. Cape deehh, hehehe. Saya tersenyum geli juga membaca baris terakhir tulisan Bettina David tentang menyanyi di Indonesia ini, teringat teman-teman dari Jerman yang tadinya tidak mau diajak karaoke, mereka malu-malu, tapi kemudian “kecanduan”. Dan memang, di antara mereka tidak ada yang bisa menyanyi, hehehe.

Kalau dipikir-pikir, betul juga apa yang ditulisnya. Di manapun di Indonesia –saya tulis Bandung saja lah-  tidak pernah lepas dari musik dan nyanyian. Pengamen jalanan dari anak kecil pakai kecrek-kecrek menyanyi sambil melihat ke sana ke mari dengan suaranya yang juga ke sana ke mari, sampai ke “orkestra” lengkap di bis Damri Dipatiukur – Jatinangor memainkan lagu klasik. Dari lagu Sunda sampai lagu Barat. Dari yang menyakitkan telinga sampai yang membuat kaki ikut menghentak-hentak. Dari pagi hari sampai malam hari. Di TV atau di kamar mandi. Dari yang serius, sampai yang penuh dengan tawa. Dari lagu jatuh cinta sampai lagu patah hati. Dari tema setia sampai tema selingkuh. Dari yang liriknya lengkap sampai yang „lupa lupa ingat“. Semua orang menyanyi. Tidak peduli sedang sedih atau gembira, kena musibah atau dapat hadiah, menyanyi memang rasanya tidak bisa dilepaskan dari keseharian orang Indonesia.

Ternyata memang sebegitunya arti menyanyi bagi orang Indonesia. Bahkan kami –dosen-dosen muda Fakultas Sastra- sampai punya „fakultas“ sendiri lengkap dengan jajaran pengurus dan stafnya, khusus memfasilitasi kegiatan bersenang-senang kami menyanyi di tempat karaoke. Kami menyanyi kapan pun, saat sedang punya uang atau tidak punya uang. Saat ada yang ulang tahun atau tidak ada yang ulang tahun. Saat ada yang mentraktir atau bayar masing-masing. Saat sedang stress (seringnya sih ini, hehehe) atau tidak sedang stress. Saat banyak kerjaan atau saat liburan. Sangat ingin atau tidak ingin. Saat pulang kerja atau sengaja janjian untuk berkumpul. Saat iseng atau serius. Saat…pokoknya kapanpun ingin karaoke, ya kami karaoke.

Benarkah kami menyanyi? Benar. Menyanyi sesuka hati tentu saja. Tertawanya sering lebih banyak dibandingkan menyanyinya, hehehe. Ada saja yang dijadikan bahan bercanda. Lirik lagunya. Video clip-nya, sampai cara menyanyinya. Dua jam rasanya selalu sebentar untuk acara yang gila-gilaan ini. Kalau sudah capek, biasanya kami persilahkan Pak Dekan dan Guru Besar yang bersuara merdu untuk unjuk kemampuan, yang lain menikmatinya. Lumayan, dapat hiburan gratis. Kapan lagi telinga dimanjakan oleh suara merdu begitu, hehehe. Tapi biasanya itu juga cuma tahan sebentar, selanjutnya forum akan menguasai „lapangan“. Gila-gilaan lagi, menyanyi lagi, ketawa-ketawa lagi. Dua jam selesai, kadang dilanjut makan sambil masih menyanyi-nyanyi juga. Apalagi di tempat makan selalu ada musik yang mengiringi. Lanjut lagiii…Sampai rumah saya yakin masih ada sisa-sisa nyanyian yang dinyanyikan di kamar mandi atau menjelang tidur. Keesokan harinya kerja lagi seperti biasa. Untuk kapan-kapan janjian lagi untuk karaoke. Menyanyi sudah jadi bagian dari profesi kami. “Menyanyi” di kelas apalagi, hehehe.

Membaca tulisan Bettina David di atas saya jadi kangen fakultas sebelah dengan kegiatannya. Di sini, saya tidak punya radio dan TV, tapi musik selalu saya dengarkan lewat alat apapun. Kalau tidak, sepiiii….bahkan di toko atau di kendaraan umum jarang diperdengarkan music dengan keras. Ada sih beberapa pemusik jalanan yang memang indah membawakan musik mereka, tapi biasanya di Bayreuth ini hanya di akhir pekan mereka baru ada. Makanya tadi saya agak heran, ada pengamen ganteng bersuara merdu di lorong yang menghubungkan Rotmain Center dan Markt. Tumben, hehe. Kalau sedang kangen fakultas sebelah dan karaokenya, saya biasanya pasang headset dengan volume full, buka youtube, dan bernyanyi keras-keras. Saya tidak peduli apakah tetangga sebelah appartemen saya terganggu atau tidak, karena kadang saya menyanyi menjelang tengah malam. Biarin saja, hehehe.

Ngomong-ngomong bukunya Bettina David, yang menulis tentang musik dangdut untuk tesisnya itu, akhirnya saya beli. Menarik untuk membaca lebih lanjut tentang hal-hal ringan di Indonesia, ditulis dengan ringan dengan bahasa yang mudah dan “gaul”, tapi tetap bisa mengungkap sisi yang khas, yang kadang dalam tulisan serius tidak terakomodir. Judul „Kultur schock“ mungkin agak kurang tepat, karena isinya lebih ke pengungkapan yang memihak Indonesia. Tak heran, penulisnya kuliah Indonesistik di Hamburg, menulis tesis tentang musik dangdut, menjadi penerjemah bahasa Indonesia dan Jerman, juga membuat buku “Javanisch – Wort für Wort” dan “Indonesisches Slang – Bahasa Gaul”. Narasumber dan teman-teman diskusi Bettina David juga orang-orang yang berasal dari berbagai macam kalangan di Indonesia, multikultural.  Salah satunya Wayan Lessy, teman saat saya masih aktif di Multiply dulu. Perempuan Bali yang cantik, pintar, dan berkerudung. Tak heran jika Bettina David lebih leluasa menampilkan keragaman Indonesia yang berwarna warni. Indah. Apa sih yang tidak indah dan disikapi dengan indah di Indonesia? Hehehe. Inginnya begitu.

Dan tiba-tiba, saya jadi kangen dengan fakultas sebelah :-) “Bernyanyi kita bernyanyi. Tandanya bergirang hati …”

Berada (lagi) di Surga Buku-buku

Ada acara yang tidak bisa tidak saya lewatkan di Jerman ini. Frankfurter Buchmesse. Pameran buku terbesar di Jerman ini selalu menarik-narik saya. Dan kali ini, kesempatan untuk pergi ke sana juga tidak saya sia-siakan.  Jadi, akhir pekan lalu saya ke Frankfurt. Kali ini ikut bis wisata dari Bayreuth ke Frankfurt. Lumayan lebih murah, tidak usah pindah-pindah kereta. Berangkat dari Bayreuth jam 7 pagi dengan penumpang yang kebanyakan orang-orang tua (sudah saya duga), bis yang nyaman dengan sopir yang ramah itu istirahat di Würzburg. Waktu istirahat hanya bisa dimanfaatkan untuk ke toilet, saking antrinya. Perjalanan kemudian dilanjut ke Frankfurt. Tiba di area Frankfurter Buchmesse sekitar jam 11 lebih. Cuaca agak mendung, tapi tidak sedingin di Bayreuth yang tiga hari berturut-turut bersalju dengan suhu di bawah nol.

Kami tiba di Halle 9. Jadi ada area 9 hall yang dipakai untuk pameran ditambah ruang terbuka untuk panggung dan acara penyerta lainnya. Tiket masuk seharga 14 €. Ehrengast atau negara yang menjadi  tamu kehormatan tahun ini adalah Cina. Jadi nuansa pameran kali ini merah.  Saat saya berjalan menuju tempat tiket, seorang lelaki tua menghampiri saya. Ternyata dia dari Bayreuth juga, kami pergi bersama tadi. Dasarnya saya juga tidak terlalu mempedulikan orang, jadi tidak sadar kalau dia berangkat dengan bis yang sama. Berjalan sambil berbincang-bincang. Cukup cerewet juga bapak satu itu. Bercerita macam-macam, dia pendeta protestan yang juga seorang  wasit sepak bola dengan bermacam penghargaan. Segala macam diceritakan. Dan memang Bayreuth kota kecil, semua orang saling mengenal. Jadi orang yang saya kenal juga dia kenal, begitu juga sebaliknya. Awalnya nyaman, lama-lama kok saya jadi merasa tidak nyaman, karena dia menempel saya terus. Tidak mau lepas. Kami hanya berpisah di Halle 3, karena dia ingin melihat bagian buku-buku agama, sedangkan saya ingin melihat buku-buku sastra. Yah, tidak apa-apalah sesekali menemani bapak tua yang butuh teman untuk bercerita atau tepatnya mendengarkan ceritanya.

Oh ya, saya mau bercerita tentang Frankfurter Buchmesse. Seperti biasa selalu menarik, walaupun dengan penjagaan dan pemeriksaan yang semakin ketat. 3 Halle dipakai untuk penerbit-penerbit internasional. Halle lain untuk penerbit-penerbit Jerman. Ada bagian khusus untuk buku anak dan remaja, sastra, buku teks ilmiah, sport, religi, turisme, dll. Ada juga Halle khusus untuk media, tempat diskusi dan acara live. Tidak hanya penerbit-penerbit besar yang mengisi stand pameran, tetapi juga penerbit-penerbit kecil, penerbit alternatif yang hanya menerbitkan buku-buku khusus dengan jumlah terbatas dan edisi special saja.

Walaupun tidak semeriah dan sepenuh saat tahun 2005 saya ke sana (saat itu negara tamunya adalah negara-negara Arab), pameran ini tetap layak untuk dikunjungi. Tidak akan pernah cukup waktu untuk melihat-lihat buku yang dipamerkan di sana. Sayangnya tahun ini Indonesia tidak membuka stand di sana. Entah kenapa. Namun, di stand penerbit pemerintah Belanda saya justru banyak menemukan buku-buku tentang Indonesia. Salah satunya buku tentang Si Doel dan fenomenanya (jadi ingat, sepertinya buku itu yang dibawa oleh Rano Karno saat mengisi acara di Fakultas Sastra Unpad tahun lalu). Menarik sebenarnya ada di Halle penerbit internasional ini. Bahasanya bermacam-macam, dan kita bisa mengetahui trend dan gaya penerbitan serta buku-buku yang diterbitkan di beragam negara.

Di Halle 3 tempat buku-buku sastra dipamerkan (dari penerbit-penerbit Jerman), saya cukup banyak mendapat buku gratisan, belumlah lagi kartu pos atau pembatas buku. Di Halle ini juga diadakan demo masak di stand buku masakan, acara mendongeng, diskusi dengan Peter Maffay yang dibuat biografinya. Beberapa diskusi diadakan di foyer penghubung antar Halle. Sayang diskusi dengan Hertha Müller dan Günther Grass diadakan di hari-hari pameran yang tidak dibuka untuk umum.

Sambil melepas lelah sejenak setelah berjalan dari stand ke stand dari Halle ke Halle, saya duduk sambil membaca buku di stand dtv, reclam, dan beberapa stand menarik lainnya, karena stand-stand tersebut dibuat senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk dan sofa yang nyaman, sehingga pengunjung yang datang juga bisa ikut membaca dengan tenang. Tidak terburu-buru dan berdesak-desakan layaknya pameran buku di Bandung.

Hari itu saya tidak membawa oleh-oleh sebanyak waktu 2005 dulu saya ke sana, karena buku-buku dijual baru keesokan harinya. Namun, beruntung juga, kalau tidak, saya bisa kalap. Enam jam berlalu begitu cepat di sana. Saya masih belum puas sebenarnya, tetapi bis akan berangkat pulang ke Bayreuth jam 5. Saya harus ikut juga. Kami tiba di Bayreuth jam 21 kurang. Cukup menyenangkan, walaupun saya agak terganggu karena ditempeli si bapak tua yang doyan bercerita itu. Tak apalah, yang penting saya senang karena bisa berada (lagi) di surga buku-buku itu. Ngomong-ngomong, saya juga senang karena kiriman buku dari Indonesia sudah datang. Lucu, buku-buku itu dikirim dari Jerman ke Indonesia, kemudian dikirim lagi ke Jerman dari sana. Tak apalah, yang penting saya tenang di tengah-tengah mereka. Tidak semuanya kok, karena saya sudah membeli dan berniat membeli buku-buku lain tentu.

Catatan: foto diambil sembunyi-sembunyi, karena dilarang memotret di area pameran. Untung juga kamera bisa selamat dari pemeriksaan.

What do you do, dear?

You are in the library reading a book when suddenly you are lassoed by Bad-Nose Bill. “I’ve got you,” he says, “and I’m taking you to my ranch, pronto. Now get moving.” What do you do, dear?

Itu adalah salah satu situasi yang digambarkan dalam buku dari Sesyle Joslin dengan ilustrasi lucu dan menarik oleh Maurice Sendak. Ini adalah buku anak-anak yang mengajarkan cara bersopan santun tanpa gaya menggurui. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak. Ilustrasi dan konteks cerita yang pas untuk anak berusia antara 4 sampai 8 tahun memudahkan mereka untuk memahami sopan santun yang berlaku dalam kelaziman bermasyarakat. Tidak hanya anak-anak, saya pun begitu terkesan pada buku hadiah dari sahabat saya Masako dan Stephan, yang saya kenal pertama kali dalam mata kuliah Pengantar Sosiologi beberapa tahun lalu. Profesor saya yang memperkenalkannya untuk dijadikan bahan analisa tatanan sosial dalam masyarakat. Buku ringan yang habis dibaca dalam waktu 5 menit saja, namun sarat makna. Saya bacakan buku ini kepada keponakan-keponakan kecil saya, dan ini terbukti menjadi salah satu buku favorit mereka. Yang lebih mengesankan, mereka merekam setiap cerita dan mengomentari apa yang mereka lihat dan baca dalam buku itu dengan kritis. Daya pikir kritis dan imajinasi mereka ini tergali lewat penggambaran situasi yang selalu diikuti pertanyaan What do you do, dear? Mereka diajak berpikir dahulu, untuk kemudian melihat jawabannya di halaman berikutnya. Jawaban ini pun mengundang komentar kritis dari keponakan-keponakan saya, karena dalam beberapa hal mereka tidak setuju dengan ”saran” dari jawaban atas pertanyaan tadi. Ini menarik, karena mereka berasal dari budaya yang berbeda dengan latar belakang budaya ”tokoh” dalam cerita. Hal-hal lucu karena faktor umur dan psikologis juga sering terjadi. Misalnya, salah seorang keponakan perempuan berusia tiga tahun bersikukuh tidak mau menerima jawaban bahwa dia harus memberikan tempat kepada orang yang lebih butuh tempat duduk di kendaraan umum (dalam buku ini digambarkan dengan gajah pengangkut penumpang). Dia bilang, dia tidak mau pindah, karena dia capek dan ingin duduk, jadi orang yang baru datang harus tetap berdiri. Situasi-situasi lain serta jawaban-jawabannya pun memancing komentar dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari mereka.

Jadi, apa jawaban untuk situasi di atas? What do you do, dear?

Kalau kata buku itu: You walk through the library quietly :)

Satu dan Segalanya

Demi menemu diri dalam tiada berhingga,
Setiap pribadi  pasti rela sirna,
Di sanalah segala jenuh bakal musnah;
Bukan pada bebas syahwat panas hasrat
Bukan pada padat aturan tuntutan ketat,
Pada penyerahan diri itulah nikmat berkah.

Datang dan rasuki jiwa kita, o jiwa jagat!
Dan dengan ruh jagat kita bergulat nekat,
Itulah maha tugas daya-daya kita.
Ruh-ruh budiman yang menuntun,

Para aulia yang membimbing santun,
Kan antar kita pada Dia yang abadi mencipta.

Dan untuk jadikan ciptaan baru selalu,
Agar tak berkeras diri menjadi beku,
Haruslah bertindak tak sudah-sudah.
Maka yang semula tiada, kini sedia menjelma
Dunia aneka warna, mentari-mentari bercahaya
Ia mutlak tak berhak istirah.

Ia mesti berkarya, mesti menggubah,
Membentuk diri, lalu berubah;
Meski seolah sejenak terdiam.
Sang Abadi berkarya di tiap insan
Karena segala harus runtuh sirna,
Jika hendak bertahan dalam Ada.

Johann Wolfgang von Goethe

Diterjemahkan dari karya asli Goethe ”Eins und Alles” oleh Agus R. Sarjono & Berthold Damshäuser. Dibacakan dalam acara peluncuran buku kumpulan puisi „Satu dan Segalanya“ (Goethe) di Goethe Institut Bandung, 26 Juli 2007.