Sebuah Pengakuan Terlambat dari Seorang Penggemar Peterpan

Bild

Ya, tampaknya saya memang sedang ikut „termakan“ oleh eforia bebasnya sang vokalis. Tak apalah, toh sekarang saya memang akhirnya ingin mengaku bahwa saya adalah salah seorang penggemar sosok yang begitu dihebohkan dan terutama saya adalah penggemar musik Peterpan, yang kebetulan kebanyakan dibuat oleh sosok yang katanya fenomenal ini. Saya penggemar baru, baru sekitar setahunan ini dan saya berani bertaruh bahwa banyak yang menyukai Peterpan dengan sembunyi-sembunyi, seperti saya dulu.

Mengapa saya kok bisa terlambat begini? Karena saat Peterpan muncul sekitar 2004, saya sedang di Jerman. Saat itu youtube belum terlalu booming, begitu juga media sosial yang membuat saya bisa selalu terupdate dengan berita-berita baru. Akhir tahun 2004 saya mudik sebentar, di Indonesia sedang terkenal lagu „Mimpi yang Sempurna“ milik Peterpan. Siapa sih? Lagu apa sih kok gitu? Lagunya Peterpan, kata adik saya. Lagunya enak lho, katanya. Ih, lagu begitu saja enak, cibir saya saat itu. Penyanyinya ganteng, kata adik saya lagi. Yang begitu ganteng? cibir saya lagi melihat sosok di video klip dengan rambut lurus agak gondrong dengan potongan ngga jelas. Eh, keyboardisnya temen saya, kata adik saya lagi. Adik kelas saya waktu SD memang, saya tahu. So? Pokoknya saya tidak suka. Saat itu saya lebih senang mendengarkan lagu-lagunya Kla Project, Padi, Dewa, Java Jive dan tentu saja masih setia mendengarkan lagu-lagunya Chrisye dan Iwan Fals (ketahuan kan saya angkatan berapa, hehe).

Saya tidak mendengarkan Peterpan lebih jauh, keburu balik lagi ke Jerman. Saat balik lagi itu saya dibelikan CD berisi MP3 lagu-lagu Indonesia dan lagu barat (bajakan tentu saja, maaf) oleh adik saya, dan salah satunya ada album bajakannya Peterpan „Taman Langit“ (maaf yaaaa…). Itu pun tidak pernah saya dengarkan. Sampai pada tahun 2005, salah seorang mahasiswa saya yang baru pulang dari kuliah praktek di Indonesia selama 6 bulan bercerita bahwa dia suka lagu-lagu Peterpan. Aduh, Peterpan lagi. Siapa sih mereka? Murid saya itu sampai membeli CD album Peterpan „Bintang di Surga“ dan dia meng-copy-nya untuk saya (maaf lagi). Dia mempromosikan benar album itu, terutama lagu „Ada apa denganmu“. Saya kemudian dengarkan albumnya. Hmm, dari sekitar 10 lagu kok saya cuma suka 2, haha. „Ada apa denganmu“ begitu saja, tidak terlalu menarik. Lagu dan lirik yang aneh. Namun, saya langsung suka „Bintang di Surga“, mungkin karena ada unsur orkestranya jadi terdengar megah. Saya memang sedang suka musik klasik saat itu. Suara Ariel mulai menarik perhatian saya. Enak juga. Kemudian lagu „Mungkin nanti“ yang kata salah seorang teman saya saat itu liriknya membuat dia „kasuat-suat“. Buat saya sih biasa saja. Namun, oke lah. Ya, tiga lagu itu saja yang saya dengarkan.  Ternyata, ada salah seorang lagi murid saya yang baru datang dari Indonesia pulang ke Jerman dengan membawa 1 CD Peterpan “Bintang di Surga” dengan cerita yang sama: “Ada apa denganmu“ harus saya dengarkan. Ah, ada apa sih denganmu, Peterpan. Sampai-sampai murid saya itu minta tolong kepada saya untuk menerjemahkan lirik „Ada apa denganmu“ ke Bahasa Jerman saking sukanya dia pada lagu itu. Hoalah, macam-macam saja. Jadilah saya terjemahkan lirik yang tampaknya mudah, ternyata sulit juga saat diterjemahkan. „Tuduhan“ saya saat itu: si Ariel sok puitis, padahal liriknya hanya berisi soal pacar yang marah. Bahasa Indonesianya juga aneh. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman jadi lebih aneh.

Waktu berlalu, cuma „Bintang di Surga“ yang sering saya dengarkan dengan volume kencang. Liriknya cinta-cintaan sih, biasa, ditinggal pacar, kontekstual sekali, hehe. Tapi Ariel membuatnya dengan „sok puitis“ sehingga tidak terdengar cengeng. Lumayan, walaupun saya tetap tidak mengakui bahwa dia oke, hehe. Namun, saya mulai suka dengan gaya menyanyi dan teriakan dia di bagian refrain.

Peterpan kemudian berlalu begitu saja, sampai saat saya pulang ke Indonesia tahun 2006. Saya mendengarkan saja cerita kolega saya yang heboh soal Ariel yang ganteng, sexy, dll. Duh, yang begitu ganteng dan sexy? Saat itu setahun setelah munculnya album „Menunggu Pagi“ yang menjadi OST film „Alexandria“. Ah, film apa pula itu. Terus terang film itu juga baru saya lihat beberapa bulan lalu di Jerman, itupun lewat youtube, hehe. Saya tetap tidak (mau) mengenal Peterpan. Lagipula saya tidak suka menonton TV jadi tidak tahu pula gossip-gossip heboh terutama tentang sang vokalis, saya hanya mendengar sekilas saya dari kolega-kolega saya yang heboh bercerita. Saya tidak peduli.

Kemudian tahun 2007 saya ingat pertama kalinya saya mendengar lagu baru Peterpan „Menghapus Jejakmu“ dari album „Hari yang Cerah“ di sebuah gerai pizza di Bandung, sambil makan dengan kolega-kolega saya. Salah seorang kolega sekaligus sahabat saya yang selalu heboh „menggunjingkan“ Ariel komentar, „Ah, lagu ini lagi, Peterpan lagi, bosan.“ Saya baru tahu lagu itu, dia malah sudah bosan dan kesal sekali lagu Peterpan terus yang diputar. Saat itu Peterpan sedang heboh lagi, maaf, Ariel maksud saya, yang bikin heboh lagi dunia perselebritisan Indonesia dengan kasusnya. Kemana saja ya saya? Ada, hehe.

Lagu “Menghapus jejakmu” lumayan ear catching, saya cukup suka. “Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu…” Lagu patah hati (lagi), tapi musiknya ceria. Lumayan ringan dan enak didengar. Suatu saat saya lihat video clipnya, cukup unik konsepnya. Akhir 2007, di Malaysia, entah bagaimana tiba-tiba obrolan saya dan ex teman dekat saya jadi membahas lagu dan lirik Peterpan. Ternyata si ex suka dengan lirik dan lagu-lagu Peterpan. Saya yang memang tidak tahu Peterpan cuma mengejek “dari Padi pindah ke Peterpan?” karena dia pernah mengklaim sebagai penggemar Padi. “Kalau ‘Sally sendiri’ bolehlah, musiknya oke”, kata saya.  Sebelumnya saya pernah mendengarkan lagu “Sally sendiri” juga dari album “Hari yang Cerah” dan saya suka. Dua lagu itu menurut saya agak berbeda dari lagu-lagu Peterpan yang sebelumnya saya dengar. Musiknya lebih tenang dan lebih dominan gitar dan drumnya, bukan musik-musik “remaja”, lagipula suara Ariel tidak “cempreng” lagi. Si ex membela diri dengan argumen-argumen psikologinya sok membahas lirik lagu-lagu Ariel. Saya tidak peduli, pokoknya saya tidak suka Peterpan, hehe. Apalagi salah satu lagunya “Aku dan Bintang” dijadikan soundtrack sebuah sinetron stripping di TV dan saya benci sinetron. Makinlah saya tidak suka.

Suatu saat seorang sahabat saya misuh-misuh “Memangnya kenapa sih kalau saya suka Peterpan?” karena dia diolok-olok oleh koleganya tentang kesukaannya pada lagu-lagu Peterpan. Saya yang juga tidak suka pada musik mainstream kegemarannya para ABG itu hanya senyum-senyum saja, takut sahabat saya makin ngambek kalau saya bilang saya juga tidak suka Peterpan, hehe. Begitulah. Sampai kemudian suatu saat sedang karaoke, salah seorang sahabat memilih lagu “Kupu-kupu malam” versi Peterpan. Enak juga. Eh, tapi itu kan memang lagu lama dan enak, jadi ya wajar saja kan kalau enak.
Judulnya saya tetap tidak mau mengakui keberadaan Peterpan, hehe. Padahal saat itu saya mulai sering mengikuti infotainment dan beberapa kali menonton penampilan mereka di TV, baik itu konsernya atau acara yang khusus dibuat untuk mereka. Mulai mengikuti. Mulai tahu siapa saja nama personilnya dan berita-berita heboh terutama seputar Ariel. Namun, saya tetap biasa-biasa saja, walaupun saya suka lagu „Menunggumu“ yang dinyanyikan duet oleh Ariel dengan Chrisye. Itu karena ada Chrisye ya, bukan karena Ariel, sosok yang membuat seorang sahabat saya histeris saat melihatnya di sebuah restoran di Bandung datang bersama Luna Maya saat kami selesai buka puasa. Sahabat saya yang saat itu sedang curhat sambil berurai air mata mendadak cerah ceria dan panik karena kedatangan mereka berdua „Ariel! Ariel! Ariel!“ katanya panik. Halaaah, langsung deh curhatnya buyar terpesona oleh sosok yang saat itu menggunakan jeans, t-shirt, topi dan sneakers andalannya. Saya masih biasa-biasa saja.

Itu tahun 2009. Tahun sebelumnya album „Sebuah Nama Sebuah Cerita“ diluncurkan. Album the best Peterpan sebenarnya, ditambah lagu baru: „Walau Habis Terang“, „Tak Ada yang Abadi“, „Dilema Besar“ dan covering lagu Chrisye „Kisah Cintaku“. Saya menyukai keempatnya. „Walau Habis Terang“ juga lagu patah hati, tapi beatnya ceria. Kelak lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya saat jalan-jalan atau jogging di hutan. Lagu ini juga disenangi oleh salah seorang murid saya di Jerman ini, dan lagi-lagi saya diminta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jerman. Kemudian „Tak Ada yang Abadi“ lagunya cukup gelap, efeknya agak misterius, apalagi dengan dominasi piano dan lirik yang lebih dewasa. Masih puitis, tapi bukan puitis yang aneh lagi. Ada cerita, ada pesan. Saya mulai agak sering menyimak Peterpan. Lumayan juga.

Tahun 2010 adalah tahun yang paling heboh untuk Ariel terutama. Saya kebetulan sedang mudik juga ke Indonesia saat kasus itu terjadi, tapi saya tidak peduli. Saya sibuk dengan urusan saya sendiri, mana sempat nonton infotainment. Kembali lagi ke Jerman, kasus itu ternyata semakin heboh. Akses internet yang tidak terbatas memungkinkan saya untuk jadi mengikuti beritanya juga walaupun jauh di Indonesia, toh berita itu ada juga di media Jerman saking hebohnya. Ah Ariel, Ariel. Dari situlah saya mulai iseng browsing video lagu-lagu Peterpan. Tahun 2011 sih tepatnya. Eh, kok „Cobalah Mengerti“ enak ya, ngerock begitu dan sekali lagi teriakan Ariel itu lama-lama terdengar „gahar“, hehe. „Yang Terdalam“ asik juga ya, „Semua Tentang Kita“ kok mewakili perasaan saya saat rindu teman-teman, „Topeng“ seru juga nih, „Tak bisakah“ bisa membuat kepala goyang-goyang (pantas saja sampai dijiplak oleh penyanyi India dan jadi lagu India), „2DSD“ seru nih apalagi pas lihat mereka memainkannya dengan Kang Capunk (kecengan saya dari SMA, haha) dan Kang Noey Java Jive, dan ternyata „Mimpi yang Sempurna“ yang dulu saya ejek-ejek enak didengar dan liriknya oke. Belum lagi „Kukatakan dengan Indah“, „Melawan Dunia“, „Di Balik Awan“, dll. Sejak itulah saya diam-diam menyukai lagu-lagu Peterpan. Bukan Arielnya. Sosok Ariel baru saya perhatikan setelah dia divonis dan saya tulis di sini. Lama-lama diperhatikan dan mengikuti berita-beritanya, memang menarik juga orang ini, hehehe. Sejak itu diam-diam saya juga menjadi penggemar-nya Ariel. Dia sosok yang punya pengaruh kuat, sampai teman-temannya saja begitu mendengarkan dia. „Juragan“ kalau kata si Kang Capunk sih.

Lagu-lagu Peterpan kemudian menjadi teman setia saya saat menulis disertasi, selain lagu-lagu Pearl Jam, Sting, Alanis dan tentu saja Chrisye serta lagu-lagu dan musik-musik lain yang sesukanya saya putar, tergantung mood. Dari mulai klasik sampai dangdut, dari mulai lagu berbahasa Inggris sampai lagu India, dari lagu Batak sampai Papua, dari mulai lagu solo, duet, choir sampai instrumental. Lagu-lagu dan musik dari Peterpan selalu ada setiap hari. Berita tentang mereka dan tentang Ariel, terutama belakangan ini, jadi semakin diikuti bahkan dibahas sambil ketawa-ketawa dengan sahabat-sahabat saya dan akhirnya membuahkan ide gila memasang foto Ariel sebagai avatar account twitter kami. Ceritanya mau jadi groupies, tapi tengsin juga, haha. Coba, sejak kapan saya bisa tergila-gila pada seorang penyanyi atau kelompok band sampai segitunya. Sebagai penggemar berat Pearl Jam dan Eddie Vedder saja tidak saya pasang fotonya. Pearl Jam dan Peterpan memang tak bisa dibandingkan, selain bahwa saya menyukai keduanya dengan alasan lagu, lirik dan suara serta penampilan vokalisnya. Yang terakhir ini tak terelakkan lah, hehe. Saya jadi mengerti mengapa para perempuan itu begitu histeris begitu melihat Ariel, yang juga menarik perhatian para lelaki, “Suami gue aja suka”, kata seorang sahabat.

Kesukaan saya pada Peterpan semakin bertambah dengan keluarnya lagu “Dara” yang diciptakan Ariel di penjara. Sebuah lagu sederhana dengan lirik yang dalam. Saya pernah merasa sangat terhibur mendengar lagu ini saat sedang down. Kemudian album instrumental „Suara Lainnya“ menambah kekaguman saya pada mereka. Ini bukan Peterpan, dan cocok karena mereka memang akan ganti nama. Aransemen ulang dari lagu-lagu mereka benar-benar top. Orkestrasi yang megah di lagu „Di Atas Normal“, „Bintang di Surga“, „Melawan Dunia“,  instrumen karinding dan suling Sunda memberi efek misterius dan magis di lagu „Sahabat“, saluang yang menyayat hati di „Di belakangku“, biola yang semakin menyayat hati ditingkahi permainan pianonya David di „Taman Langit“ dan „Kota Mati“, serta bossanova yang benar-benar soothing dan relaxing di „Walau Habis Terang“ dan „Langit Tak Mendengar“. „Cobalah Mengerti“ dibuat slow dan dinyanyikan oleh Momo Geisha. Bagus sih, tapi untuk saya terlalu menghiba. Saya tetap lebih suka versi Ariel yang „gahar“ dan „cowok sekali“. „Dara“ pun dimasukkan ke dalam album ini. Memberi efek menenangkan dan menghibur hati.

Dan eforia kebebasan Ariel ternyata sampai juga ke Jerman, diiringi rasa kagum pada perjalanan, jatuh bangun dan kekompakan band ini, pada musikalitas mereka yang semakin matang, lirik yang masih puitis tapi tidak “sok rumit” lagi, seperti pada “Separuh Aku” lagu baru mereka dari album yang belum keluar tapi sudah bocor di youtube, pada semua personelnya yang sederhana dan „manusiawi“, tentu saja pada Ariel yang tetap jadi magnet utama –lepas dari berita apapun tentang dia, saya kemarin melihat mata yang lelah dan kosong di sana, sangat „manusiawi“. Ah ya, selain Ariel, saya punya „kecengan“ baru di Peterpan: David, sang keyboardist dan pianist, hehe. Masuknya David yang punya latar belakang piano klasik membawa warna baru untuk musik Peterpan sehingga tidak terlalu nge-pop lagi. Album „Suara Lainnya“ boleh dibilang albumnya David. Kuat sekali dia di sana. Selain memang dia jago main keyboard dan piano (dan juga gitar), gaya mainnya itu lucu menurut saya: sampai merem-merem. Menghayati sekali. Tampangnya yang lucu jadi terlihat makin lucu saat main, hehe.

Jadi lengkap sudah alasan mengapa saya kemudian berani mengakui bahwa saya adalah penggemar Peterpan. Walaupun terlambat tahu, tapi boleh diuji  soal cerita, lagu-lagu mereka dari album pertama sampai terbaru, termasuk gossip-gossip mereka, hehehe. Tidak kalah juga pengetahuannya dengan para remaja yang histeris setiap melihat mereka manggung, terutama melihat Ariel. Hanya saja saya belum jadi penggemar yang baik karena saya belum memiliki satupun CD album-album mereka, hehehe, aneh ya. Soalnya selama ini saya hanya mendengar dari youtube saja dan sekarang dari website resmi mereka yang untungnya bermurah hati memasang lagu-lagu mereka dari awal sampai yang terbaru. Nanti deh kalau pulang ke Indonesia saya beli semua CDnya. Lalu impian saya sebagai penggemar mereka (kalau groupies sih tidak lah ya) tentu saja melihat mereka konser secara langsung. Masa nonton konser Sting dan Coldplay sudah, konser Peterpan belum sih, hehe. Namun, saya tidak menyesali keterlambatan saya menjadi penggemar mereka, karena saat ini saya justru bisa melihat banyak sisi lain dari band yang bagus ini: kekompakan, setia kawan, kesederhanaan, konsistensi dan mau terus belajar.

Advertisements