Menyusuri Aegean: #1Turunçda Hoşgeldiniz

Perjalanan kali ini benar-benar tak direncanakan. Memang beberapa kali saat berbincang malam-malam, kami mengungkapkan keinginan berlibur ke Turki. Sempat juga browsing tempat dan berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan, selain juga menyesuaikan waktu yang kami punya, karena kami juga berkejaran dengan tugas dan deadlines. Dan akhirnya ketika saya juga dengan spontan memutuskan pergi ke NRW kemudian menginap di tempat Lola, kami iseng mampir ke sebuah travel biro di Dortmund untuk mencari informasi tentang paket tour ke Turki. Kalau bisa kurang dari 300 € dan ternyata dapat! Paket seharga 263/orang dari 1-2 fly itu sudah meliputi tiket pesawat Jerman – Turki pp, lalu transfer ke dan dari bandara Dalaman ke Turunç, hotel selama 7 malam termasuk makan pagi, siang dan malam.

Sebentar, di mana itu Dalaman dan Turunç? Osman Tekeli dari Sunfly Reisecentre di Dortmund dekat rumahnya Lola yang „melayani“ kami menunjukkan petanya. Ternyata Dalaman dan Turunç terletak di teluk dekat Laut Aegean. Berseberangan dengan Yunani. Kota besar yang ada dekat situ adalah Marmaris dan Izmir. Wah, semakin bersemangat. Apalagi melihat pantainya indah sekali: warna biru turkish dengan kontras tebing-tebing batu di tepinya. Tak jauh dari situ juga katanya ada reruntuhan kota tua Amos. Wah! Setelah berpikir sejenak, kami langsung mengambil paket tersebut. Selanjutnya, kejutan banyak terjadi. Tiket pesawat ternyata sudah termasuk rail and fly, jadi kami bisa naik kereta gratis ke dan dari airport dan bisa naik kereta ICE yang super cepat itu tentunya. Untuk saya ini menguntungkan, karena saya jadi bisa menghemat biaya kereta yang harga normalnya bisa mencapai lebih dari 100 € sekali jalan. Maka, pergilah kami.

Berangkat pagi-pagi dari Bayreuth. Janjian ketemu Lola langsung di Düsseldorf Airport. Perjalanan panjang untuk saya, karena perlu waktu sekitar 5 jam lebih untuk sampai ke Düsseldorf Airport, kemudian akan dilanjutkan dengan penerbangan ke Dalaman selama 4 jam, lalu transfer dari Dalaman ke Turunç sekitar 3 jam. Kami tiba 2 jam sebelum take off, tetapi counter check in TUI Fly sudah penuh oleh antrian panjang orang-orang yang juga mau pergi ke Dalaman. Ternyata banyak yang mau pergi liburan dan pulang kampung juga. Tiba giliran kami, kami sudah menyangka akan ada sedikit masalah dengan service passport kami yang memang agak-agak aneh dan tidak terlalu dikenali di Jerman. Belum lagi tiba-tiba komputer si petugas mendadak tidak mau diajak bekerja sama. Jadi kami berada cukup lama di check in counter.

Setelah urusan di sana beres, kami menyempatkan diri membeli dulu croissant dengan harapan dapat mengganjal perut dulu sebelum terbang. Ternyata tidak bisa juga. Melewati pemeriksaan pertama, saya sempat diminta membongkar kembali ransel saya, karena dicurigai ada spray. Itu spray asthma yang saya bawa untuk berjaga-jaga, walaupun tidak saya pakai juga. Lola juga membawa spray yang sama, tetapi dia untungnya tidak kena. Hehehe.

Setelah melewati “screening” pertama, pemeriksaan passport kembali menjadi masalah. Kami sampai menjadi orang yang terakhir diperiksa, padahal waktu boarding sudah hampir habis. Ya, lagi-lagi soal si biru yang aneh dan tidak dikenali. Berdasarkan pengalaman saya yang selalu mendapat masalah dengan si biru setiap kali masuk dan keluar Jerman, maka berilah mereka “peringatan” terlebih dahulu, bahwa passport itu “bermasalah”, jadi kita tidak akan terlalu “dijuteki”, hehe. Dengan tampang dan intonasi yang lurus, Lola bahkan mendapat ucapan selamat berlibur dari petugasnya.

Bernafas lega setelah akhirnya bisa duduk di pesawat beberapa saat sebelum take off. Cukup penuh. Kami duduk terpisah. Saya duduk dengan salah seorang perempuan Turki dengan anaknya yang masih berumur 2 tahun. Mereka mau pulang kampung. Cukup menyenangkan. Bisa ngobrol-ngobrol dan tanya-tanya tentang Turki. Namun, jadinya saya yang sudah capek dan lapar berat tidak bisa tidur juga, karena anak-anak kecil di sebelah, di depan dan di belakang saya bermain dengan riang gembira. Tak apalah, sekali-sekali. Lagipula si Muçteba ini lucu sekali, langsung menempel saja pada saya.

Pelayanan dari TUI Fly pun cukup bagus. Saya tidak menyangka, kami akan mendapat makan siang juga. Jam 19:30 waktu Turki, pesawat mendarat di Dalaman Airport yang cukup besar. Untuk meyakinkan diri, kami menuju counter visa, walaupun dari keterangan yang kami baca, pemegang service paspor dari Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Turki. Susah payah mengerti dan berkomunikasi dengan petugas yang tetap menyebutkan bahwa kami perlu visa dan harus membayar 25 US $. Namun, katanya, karena dia tidak punya stempel visa dengan besaran 25 $, hanya yang 20 $ dan 30 $, maka kami harus membayar 30 $.

Tidak terima dengan logika yang aneh ini, kami kemudian bertanya ke petugas imigrasinya. Beruntung mereka mau memperjelas dan menanyakan status passport kami. Setelah menunggu beberapa lama, sambil terheran-heran karena si petugas malah ngobrol dengan rekannya, paspor kami dicap dan kami bisa masuk Turki tanpa visa dan tentu saja, tanpa bayar. Sama seperti haknya orang-orang Inggris, hehe. Setelah mengambil bagasi yang tinggal tersisa punya kami berdua, kami keluar menuju shelter tempat shuttle bus yang akan membawa kami ke Turunç, tepatnya ke Hotel Özcan tempat kami akan menginap. Sudah lepas maghrib saat shuttle bus berangkat, jadi tidak terlalu bisa melihat-lihat pemandangan di luar. Capek, tapi tidak bisa tidur juga, lagipula lapar sudah mulai mendera. Makan di pesawat hanya sekedar mengganjal saja. Melewati Marmaris yang ramai oleh turis-turis yang duduk-duduk di bar, café dan restoran, dan banyak juga yang jalan-jalan, saya merasa sedang melewati jalan-jalan yang penuh turis di Bali, hehe. Suasana liburan sudah terasa. Lima orang Jerman yang ada di shuttle bus sudah sibuk berkomentar, ada 4 orang Asia termasuk kami cuma senyam senyum saja.

Melewari Marmaris menuju Turunç, jalanan mulai menanjak dan berbelok-belok cukup tajam, kemudian menurun dan masih berbelok-belok pula. Walaupun gelap, tapi pemandangan ke bawah bagus sekali. Lampu-lampu berkelap-kelip. Wah, jadi tak sabar menunggu perjalanan siang hari. Pasti indah juga. Sebelum sampai ke hotel, kami dibagikan peniti kecil dengan gantungan nazar boncuğu (lucky eye atau evil eye stone) berwarna biru muda dengan “mata biru tua”, yang dalam budaya dan adat Turki dipercaya sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan. Saya mendapat gantungan dengan tambahan bunga. Nanti di Marmaris saya juga mendapat peniti lagi dengan nazar boncuğu dan kupu-kupu.

Hotel Özcan tempat kami menginap terletak di tengah desa Turunç. Hotel ini cukup besar dengan interior bangunan didominasi kayu berwarna coklat. Tampaknya masih memakai gaya Turki jaman Attaturk. Kamar tidurnya cukup luas dan bersih, dilengkapi TV, telfon, lemari es kecil, safety box dan AC! Duh, langsung merasa ada di Indonesia begitu memasuki kamar ini.  Setiap kamar memiliki balkon dilengkapi dengan dua kursi, meja dan jemuran pakaian. Jadi kami bisa mencuci sendiri juga, hehe. Kamar mandi cukup bersih. Kami sempat terkejut melihat hair dryer nya yang tak biasa kami jumpai: satu kotak kecil dengan “belalai” panjang. Pelayanan di hotel ini cukup memuaskan. Selain itu, di hari-hari berikutnya kami tahu bahwa makanannya juga cocok dengan lidah dan selera kami. Kerjasama hotel ini dengan 1-2 fly yang mengatur perjalanan kami dari da ke Jerman juga baik sekali, sehingga kami tidak mengalami kesulitan apapun (bahkan tidak perlu ribet-ribet mikir, hehe).

Lobby Hotel Özcan

Karena kami tiba cukup larut, sekitar pukul 23, kami sudah tertinggal waktu makan malam. Sekalian mencari makan malam, kami melihat-lihat desa Turunç yang kecil dan tampaknya didominasi oleh turis-turis Inggris. Di sebelah hotel ada supermarket dan di depannya ada mesjid. Tak jauh dari sana berjejer tempat makan dan toko-toko souvenir. Dokter dan warnet juga tak jauh dari situ. Semua berkumpul dalam satu jalan saja. Here we are, tampaknya in the middle of nowhere lagi nih, hehe. Namun, tampaknya semua menyenangkan :)

Mesjid di depan hotel Özcan

Memutuskan makan di sebuah restoran. Sudah hampir tengah malam saat itu, tetapi kami masih dilayani dengan ramah sambil tentu saja ditanya-tanya kami berasal dari mana, dll. Kami dibilang orang Indonesia pertama di Turunç. Mengingat desa ini kecil dan tampaknya orang-orang yang datang ke sana juga tamu “tetap” sehingga sudah saling mengenal, jadi mungkin apa yang dikatakan benar juga, hehe.

Kami memesan stuffed mushroom dan beef kebab untuk berdua, karena porsinya memang besar. Lola memesan “Efes”, bir dari Turki dan saya orange juice segar. Selesai makan dengan nikmat, kami kembali ke hotel, bersiap-siap istirahat. Pfui, perjalanan yang cukup panjang. Besok kami hanya akan bersantai dan melihat-lihat Turunç saja. Lola sudah mau berjemur dan saya mau berburu objek foto.

Geschwister Scholl: Sebuah Semangat

Geschwister Scholl (Scholl Bersaudara) mungkin menjadi salah satu nama jalan, tempat atau nama sekolah yang paling banyak ditemui di di Jerman. Nama ini diberikan untuk menghormati kakak beradik Hans dan Sophie Scholl yang dikenal karena keanggotaan mereka dalam kelompok Weiße Rose „Mawar Putih“, salah satu perkumpulan mahasiswa di München yang selama masa Perang Dunia II aktif menentang gerakan Nationalsozialismus dengan menyebarkan pamflet dan selebaran berisi protes dan perlawanan terhadap perang dan kediktatoran Hitler,

Hans dan Sophie adalah anak kedua dan ketiga dari keluarga Scholl. Hans lahir tanggal 22 September 1918 sedangkan Sophie lahir tanggal 9 Mei 1921di daerah sekitar Ulm. Seperti layaknya remaja masa itu, mereka pun masuk ke dalam organisasi pemuda di bawah Nazi yaitu Hitler Jugend dan Bund Deutscher Mädel. Bahkan Hans termasuk salah seorang anggota yang aktif dalam Hitler Jugend sampai dengan perkenalannya –kemudian menjadi anggota- dengan kelompok das Ulmer Volk yang didirikan oleh Max von Neubeck yang bersifat lebih „kiri“. Hans kemudian menjadi anggota, diikuti oleh Sophie, selanjutnya keduanya aktif menentang Nazi.

Peran aktif mereka dalam menentang Nazi semakin mendapat tempat saat mereka berkuliah di Ludwig Maximilian Universität München. Hans berkuliah kedokteran, sedangkan Sophie mengambil jurusan biologi dan filsafat. Di München inilah mereka bergabung dengan beberapa mahasiswa lain yang juga memiliki kegelisahan dan tujuan yang sama yaitu menentang Nazi dan menuntut kebebasan, keadilan serta kemandirian dalam berpikir dan bertindak. Mereka kemudian mendirikan perkumpulan „Weiße Rose“ atau Mawar Putih yang awalnya dimotivasi oleh kepercayaan mereka pada agama Kristen dan dalam perkembangannya diperkuat oleh kemarahan mereka terhadap deportasi dan perlakuan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan lawan-lawan politik Hitler.

Hans dan Sophie Scholl sendiri dididik dalam keluarga yang liberal dan sosialhumanis. Sastra, seni dan musik menjadi bagian dari masa kecil mereka. Faktor ini juga yang semakin memperkuat tekad mereka melawan kediktatoran Hitler saat itu. Gerakan perlawanan ini semakin menguat setelah Hans Scholl, Alexander Schmorell dan Willi Graf kembali dari penempatan mereka di Polandia pada tahun 1942 dan di sana menyaksikan pembunuhan massal serta penderitaan orang-orang Yahudi di ghetto di Warsawa

Para mahasiswa itu melawan dengan cara menyebarkan pamflet dan selebaran di kampusnya. Sayang, pada tanggal 18 Februari 1943 saat Hans dan Sophie Scholl sedang menyebarkan selebaran di hall kampus LMU, mereka tertangkap oleh pengurus kampus dan diserahkan kepada Gestapo. Tanggal 22 Februari 1943 mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati dengan guillotine dilakukan hari itu juga di penjara München-Stadelheim.

Hari-hari terakhir kedua bersaudara ini, terutama tentang Sophie Scholl, diangkat ke layar lebar dalam film berjudul „Sophie Scholl – die letzten Tage“. Film ini mendapatkan banyak perhargaan dalam berbagai festival film internasional dan dimainkan dengan sangat apik oleh Julia Jentsch, yang berperan sebagai Sophie. Tak heran dari perannya ini Jentsch dianugerahi gelar aktris terbaik dalam Festival Film Berlin tahun 2005.

Saya masih dapat mengingat adegan-adegan dalam film ini saat Scholl bersaudara menebarkan selebaran di hall LMU, kemudian keduanya tertangkap dan dibawa ke pengadilan. Dalam pembelaannya, Sophie berkata di depan majelis hakim „Di mana kami berdiri sekarang ini, di sini pula kalian akan berdiri tak lama lagi.“

Saya juga masih ingat bagaimana dalam film ini tokoh Sophie Scholl berusaha menjaga sikapnya untuk tetap tenang saat dibawa ke sebuah ruangan untuk menuliskan testamen terakhirnya. Di ruangan itulah dia tahu, bahwa orang tuanya datang menjenguk untuk memberikan dukungan. Sophie kemudian dibawa masuk ke sebuah sel, di mana Hans dan Christoph Probst –salah seorang teman seperjuangan mereka yang juga tertangkap- sudah menunggunya. Mereka kemudian merokok bersama untuk terakhir kalinya, kemudian berpelukan. Sophie dibawa lebih dulu, disusul oleh Hans yang masih sempat meneriakkan kalimat „Hidup kebebasan!“ sebelum dijatuhi guillotine.

Minggu lalu saya beruntung dapat mengikuti simposium yang mengambil tempat di gedung tempat kejadian bersejarah ini terjadi. Saya beruntung dapat berada di hall tempat kedua bersaudara ini berlari ke sana ke mari menyebarkan selebaran perlawanan. Hall yang hening dan megah. Di sana dipasang patung Sophie Scholl setengah dada. Patung yang selalu diberi bunga mawar putih oleh orang-orang yang datang ke sana. Di sebelah patung ini juga ada semacam tugu kecil tempat orang juga meletakkan vas bunga yang diisi bunga mawar putih yang terus diganti. Di tempat ini, tepatnya di bawah tangga, dibuat museum kecil tentang gerakan Weiße Rose. Tempat ini dulunya adalah tempat berkumpul para mahasiswa penentang ketidakadilan. Saya juga beruntung bisa berada di halaman depan pintu utama gedung universitas tua sarat sejarah bernama latin Vniversitas Lvdovic Maximona Censis, yang di lantai berbatu halamannya diberi tanda dari batu berupa „selebaran-selebaran“ kelompok Weiße Rose ini. Berada di sana, ingatan saya melayang kepada adegan-adegan menyentuh penuh semangat dalam film Sophie Scholl tadi dan pada dua bersaudara yang terus berjuang sampai akhir hidup mereka untuk sebuah keadilan dan kebebasan, yang mereka sendiri tidak sempat merasakannya.

Minggu lalu, hujan dan dingin di luar. Geschwister Scholl Platz, di mana LMU berada, sudah dipenuhi ratusan orang yang bergerak menuju pusat kota. Ada demonstrasi besar-besaran menentang dan menuntut penutupan seluruh reaktor nuklir di Jerman: demi keadilan dan kebebasan dunia dari bahaya nuklir. Kepala boleh terpenggal, tetapi semangat untuk bergerak mencari keadilan dan kebebasan akan selalu ada. Di sana: di kampus.