Agung

Agak ragu saya buka email yang saya terima tadi. Saya pikir spam, karena judulnya: Hello Mrs. Dian ;) This is Andreas. Alamat emailnya pun agak aneh: yusufibrahim@xxx. Agak mencurigakan, karena alamat dan judul email tidak sinkron -menurut saya-. Namun, saya buka juga setelah didiamkan berapa saat. Penasaran.

Andreas. Andreas Agung tepatnya. Saya langsung ingat begitu membaca baris-baris pertama emailnya. Ya, dia Agung. Salah seorang murid saya dulu di Potensi. Murid yang paling sering saya marahi (benar-benar marah) karena dia tidak pernah memperhatikan, pasif, sering melamun, suka memberikan alasan ngantuk (dan memang benar-benar tidur di kelas) dan membuat saya sering harus berbicara beberapa desibel lebih keras dengannya, hanya agar dia memperhatikan saya. Selain itu, dia juga suka bertindak „aneh“ menurut saya: langsung mengajak kencan seorang gadis yang berpapasan dengannya ketika sedang berjalan ke Goethe Institut dengan akibat dia akhirnya dipukul oleh pacar si gadis saat itu juga, datang ke fakultas saya untuk bertemu dengan salah seorang mahasiswi saya dan mengajak dia kencan padahal baru bertemu sekali atau (ini terjadi belakangan ketika dia sudah di Jerman) ditangkap polisi karena dia membawa uang tunai 1000 € di sakunya saat sedang belanja di supermarket (disangka baru mencuri mungkin oleh polisi Jerman yang over-paranoid).

Tentang kurang perhatian ini, belakangan dia bilang pada saya bahwa telinganya tidak terlalu bisa mendengar akibat dipukul ayahnya waktu kecil. Sejak itu saya tidak pernah marah lagi jika dia kurang perhatian atau sangat lambat menerima pelajaran dari saya: karena memang pendengarannya kurang. Sejak itu juga saya tidak menerapkan standar yang tinggi lagi padanya. Ada kemajuan sedikit pun saya bersyukur sekali.

Kami –Mbak Rita dan saya- punya kekhawatiran yang sama pada dia saat itu. Apakah dia mampu bertahan di Jerman, apakah dia bisa mengikuti pelajaran di sana, dll. Kami melihat dia termasuk anak manja dari orang tua yang berada yang hanya menghadiahi anak-anaknya dengan uang. Dibandingkan dengan peserta kursus yang lain, Agung ini memang „istimewa“. Kami harus ekstra bekerja lebih keras untuknya. Oleh karena itu, mengejutkan sekaligus membahagiakan mengetahui dia bisa lolos ujian tingkat dasar di Jerman.

Kabar baik itu saya terima darinya lewat email. Itu sekitar 7 tahun lalu. Emailnya tadi mengingatkan saya bahwa dia termasuk murid yang sebenarnya paling rajin memberi saya kabar setelah dia berada di Jerman. Dan tadi dia bercerita dalam emailnya, bahwa dia sekarang sudah bekerja di Kuala Lumpur di sebuah perusahaan besar gabungan Indonesia _ Malaysia dan menjadi manager bagian eksport-import. Sering bolak balik Malaysia – Indonesia. Juga sedang merintis usaha sendiri sebagai investasi masa depan dengan membuat perusahaan yang mengeksport garmen dari Bandung untuk dipasarkan di Afrika. Itu membuat dia cukup sering datang ke Bandung. Dia juga menulis bahwa terakhir kali menulis email untuk saya sekitar 6 tahun lalu dan sangat ingin bertemu saya jika suatu saat dia bertugas ke Bandung.

Saya bahagia sekali membacanya. Seorang guru akan merasa sangat bahagia dan bangga jika muridnya bisa melebihi dirinya, begitu kata Bu Melani Budianta dalam seminar yang saya ikuti siang tadi, karena dua pembicara yang duduk semeja dulunya adalah muridnya. Itu memang benar. Saya bahagia dan bangga padanya. Rasa itu membuat dada saya penuh sesak. Hanya itu padahal: beberapa baris kalimat tentang dirinya sekarang dan sebaris kalimat bahwa dia ingin bertemu saya.

Tentu saja, tentu saja saya ingin bertemu dengannya juga. Seorang Andreas Agung yang dulu sering saya marahi dan membuat suara saya menjadi beberapa desibel lebih keras. Seorang Andreas Agung yang masih „aneh“ dan „unik“: Suratnya sampai sini dulu ya, Mrs. Dian. Saya mau jalan-jalan dulu dengan girlfriend saya ke Plaza Semanggi“. Saya tersenyum. Semoga dia tidak dipukul lagi oleh laki-laki pacar seorang gadis yang berpapasan dengannya di jalan dan dengan polosnya dia ajak kencan :) Good luck, Agung! Mbak Rita juga pasti tersenyum senang Di Sana melihat kamu sekarang.

Jangan-jangan

Benarkah kita justru semakin mirip dengan orang yang tidak kita sukai daripada dengan orang yang kita sukai?

Dan keluh kesah saya hari itu saya akhiri dengan: ups, kok sepertinya itu saya deh? jangan-jangan dia itu saya :)

Jangan-jangan memang ada satu sisi diri kita yang tidak kita sukai dan itu termanifestasikan pada orang lain dan membuat kita membencinya. Jangan-jangan, jika kita mati-matian benci pada orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri kita sendiri. Jangan-jangan, jika kita habis-habisan membicarakan keburukan orang lain, kita sebenarnya juga sedang membicarakan dan mengungkapkan keburukan kita sendiri. Jangan-jangan, semakin benci kita pada orang lain, semakin besar kemungkinan kita menjadi seperti mereka yang kita benci. Jangan-jangan…

Übrigens, danke für den sonnigen Sonntag :)