Slawen

Slawen (dilafalkan: slaven) atau Slavia adalah penanda untuk sekelompok masyarakat yang tinggal di daerah Eropa Timur dan sebagian kecil Eropa Tengah (ke arah Timur), yang memiliki kemiripan bahasa, asal usul, budaya dan tata cara hidup. Slawen juga menjadi penanda kelompok bahasa yang termasuk ke dalam golongan utama rumpun bahasa Indogerman, di samping kelompok bahasa German, Roman und Keltik.

Negara-negara yang didominasi oleh kelompok masyarakat (dan bahasa) Slavia ini misalnya Rusia (Российская Федерация), Ukraina (Україна), Polandia (Rzeczpospolita Polska), Republik Ceko (Česká republika), Belarus (Рэспубліка Беларусь), Slowakai (Slovenská republika), Slovenia (Republika Slovenija), Kroatia (Republika Hrvatska), Serbia (Република Србија), Montenegro (Република Црна Гора), Bulgaria (Република България), Republik Macedonia (Република Македониjа), dan Bosnia-Herzegovina (Босна и Херцеговина). Kelompok masyarakat Slavia juga hidup menjadi minoritas di Kazakhstan (Қазақстан Республикасы), Moldavia (Republica Moldova), Lithuania (Lietuvos Respublika), Islandia (Eesti Vabarik) dan Latvia (Latvijas Republika).

Di Jerman hidup juga sekelompok minoritas masyarakat (dan berbahasa) Slavia, yaitu masyarakat Sorben atau Serbja dalam Bahasa Sorbis Hulu atau Serby dalam Bahasa Sorbis Hilir atau dalam Bahasa Latin Surbi, Surabi atau Sorabi. Masyarakat ini memiliki hak-hak istimewa (seperti pemasangan papan nama dua bahasa). Mereka tinggal di daerah Lausitz. Selain itu minoritas kelompok masyarakat Slavia hidup pula di Austria.

Weiterlesen

Sprechen und Hören

„If you want to be understood…Listen!“ („Babel“, Alejandro González Iñárritu, 2006)

Konon, manusia ingin melihat surga. Dibangunlah menara. Untuk mencapainya. Tuhan tak suka. Dijadikanlah mereka tak satu suara. Tak paham cakap di antara mereka. Bahasa menjadi berbeda.

Konon, bahasa pun menjadi hidup. Karena perintah pertama kemanusiaan adalah  „Bacalah!“. Membawa getar dan gemetar karena terasa berat untuk bisa „membaca“ dan ber“bahasa“. Dengan tepat dan pada tempatnya.

Konon, setelah tak terbahasakan dan tidak bisa dibahasakan dan tidak untuk dibahasakan juga tak perlu dibahasakan, maka diamlah. Dengarkan.

Konon, bicaralah di saat perlu bicara dan diam di saat perlu diam. Ketika yang terjadi sebaliknya: diam di saat perlu bicara dan bicara di saat harus diam, mungkin ini sebagian bukti kemanusiaan. Karena konon, manusia juga harus terus belajar jadi manusia. Belajar bicara dan mendengar. Dengan kendali yang ada pada diri.

Wovon man nicht reden kann, darüber muß man schweigen (Wittgenstein.).

Luxurious Things

Sakit membawa berkah itu berlaku untuk saya, karena saat sakit saya justru bisa melakukan banyak hal yang hampir tidak pernah bisa saya lakukan (dengan tenang -red) di saat sehat. Contohnya: membaca buku-buku yang sudah dibeli tapi biasanya belum sempat dibaca, menikmati teh dengan berbagai macam rasa dan aroma, atau diam di rumah sambil ngenet seharian (gotcha!). Ketiga hal itu termasuk beberapa hal luxus setelah beberapa bulan ada di Bandung (hey, 3 tahun di Bayreuth itu kan „hanya“ liburan :) ).

Jadi, Sabtu akhir tahun kemarin akhirnya saya tumbang juga, setelah gejalanya terasa seminggu sebelumnya. Seperti biasa gejala itu saya abaikan, kalah oleh acara jalan-jalan dan mengajar. Sebenarnya malam pergantian tahun memang sudah saya niatkan untuk diam di rumah, tapi tentu saja tanpa niatan overdosis ventolin yang membuat badan terasa ringan melayang-layang dan berselimut tebal karena gigil demam. Justru saat melayang-layang itu (saat terompet, kembang api serta petasan bersahutan) saya menyelesaikan „Der Dativ ist dem Genitiv sein Tod – 2. Folge“-nya Bastian Sick (buku pertamanya sudah saya baca beberapa bulan lalu). Sebelumnya saat batuk dan demam, saya menyelesaikan „Ronggeng Dukuh Paruk“-nya Ahmad Tohari dan „The Holocaust Industry“-nya Norman Finkelstein. Kemudian membaca ulang „Bunga yang Berserak“ (kumpulan puisi Komunitas Sastra Dewi Sartika) dan „Tatsachen über Deutschland“ edisi 2006 serta „Kunst in Bayreuth“ yang dikirim oleh Akademisches Auslandsamt Uni Bayreuth sebagai „hadiah Natal“ untuk saya tahun 2004 lalu (setiap mahasiswa asing dan alumni Uni Bayreuth boleh minta hadiah buku setiap Natal. Tahun ini saya belum tahu buku apa yang dihadiahkan untuk saya. Belum sampai). Ketika sempat tumbang juga beberapa waktu lalu (again: saat libur lebaran) biografinya Parlindoengan Loebis (Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi), Filosofi Kopi, Das Parfüm (dalam dua bahasa: Indonesia dan Jerman) saya selesaikan serta beberapa buku lainnya (lupa apa saja :) ). Judulnya ngebut (atau bayar?!).

Selain itu, menikmati teh dengan tenang juga adalah hal mewah lainnya. Confession: sebenarnya sejak Agustus lalu saya sudah „berselingkuh“ dari teh. Saya mulai melirik dan meminum kopi, hehe. Dan ternyata…mmm…enak juga. Godaan awal yang membuat saya mulai melirik kopi itu berasal dari kopi terbaik di dunia (katanya…dan sepertinya memang iya) yang disediakan oleh Aisha bulan April lalu (duh! dia memang tahu caranya menggoda saya, disuguhkannya Kopi Toraja di sore hari yang cukup dingin di rumahnya yang nyaman di desa kecil daerah Weinheim dekat Heidelberg). Setelah itu berkelanjutan dengan kopi-kopi lainnya (dari Jawa, Sumatera, Kenya dan Tanzania ). Hmm…di Bandung kok jadi makin sering ya minum kopi?! Harus kopi yang enak pula (halah!). Jadi saat sakit kemarin adalah saat yang tepat untuk kembali berkenduri dengan teh. Menikmati (lagi) Erdbeer Sahne, Wintertee, Sweet Orange, Walküre, Karameltee dan tentu saja Earl Grey dan Darjeeling serta yang baru: Tazo Chai (membantu melegakan sesak di dada karena ditambah ginger, cardamom, cloves, pepper, dan cinnamon, kemudian ditambah madu, hmmm…).

Yang terakhir: ngenet seharian. Biasanya ngenet (tiap hari sih) cuma sebentar-sebentar untuk cek email (menulis dan membalas email yang penting dan urgen), sedikit surfing, sedikit blogwalking, isi blog kalau perlu atau cek postingan tugas mahasiswa. Ditambah beberapa hari libur karena koneksi yang terganggu akibat gempa di Taiwan. Kebetulan saat sakit kemarin koneksi sudah cukup lancar, alhasil seharianlah saya online. Kegiatannya masih sama, hanya jadi lebih lama melakukannya juga ditambah membalas emails personal dengan bercerita panjang lebar, chatting dengan beberapa teman (sampai  sedikit kelabakan karena dalam saat bersamaan harus mengetik dalam tiga bahasa: Indonesia, Jerman dan Inggris. Tapi ini luxurious sekali! kapan lagi), membaca banyak artikel yang sudah lama ingin saya baca, blogwalking lebih lama, etc. etc.

Dan, saya menulis ini pun langsung di box (biasanya postingan yang panjang selalu saya tulis sebelumnya) dan sudah online sejak pagi. Di depan saya masih ada 3 buku lagi serta teh yang menunggu untuk diminum. Artinya? Ya, saya masih menikmati saat-saat mewah itu. Alias masih demam dan flu berat (cuma sudah tidak overdosis ventolin lagi) hehe.  Tapi saya sudah mengajar kok (ini sih salah satu obat yang membuat demam saya tidak tinggi lagi).

040107

Waktu

awan

Karena hanya waktu yang bersetia kepada masa lalu, hari ini dan esok. Bersetia kepada ingatan, kenangan dan rindu. Bersetia kepada diam dan langkah.

Dan karena kemarin hanyalah ingatan di hari ini dan esok adalah mimpinya, maka biarkanlah hari ini memeluk masa lalu dengan kenangannya dan masa depan dengan kerinduannya.

Bandung, 010107

*saat badan serasa melayang karena terlalu banyak menghirup ventolin*