Zona Nyaman

„Jadi apa yang akhirnya membuatmu yakin untuk pergi?“, tanya seorang sahabat saat kami bercakap di ruang maya. Sebelumnya saya sempat berkata padanya, bahwa saya sempat sangat ragu dan takut untuk pergi kali ini. „Perasaan nyaman ada di sini,“ jawab saya.

Kontradiktif? Tentu saja. Di mana pun orang selalu mencari kenyamanan, kok saya malah ingin meninggalkannya. Sederhana saja, pengalaman saya –sangat subyektif tentu- membuktikan, bahwa semakin lama saya berada di zona nyaman, biasanya saya menjadi stagnan. Tidak berkembang. Terlalu nyaman sampai akhirnya saya „mati“. Pengalaman saya juga membuktikan, saya justru tidak merasa nyaman ketika tiba-tiba banyak orang „memperhatikan“ saya. Dan perasaan ingin „menghilang“ malah muncul semakin besar.

Aneh? Mungkin saja. Di saat banyak orang ingin diperhatikan, saya malah justru ingin tak terlihat. Pengalaman saya juga membuktikan, bahwa semakin diperhatikan, justru semakin banyak beban dan tanggung jawab yang saya dapat. Akibatnya saya malah jadi semakin sering mengeluh. Bukannya itu malah semakin menambah dosa saya?!

Masokis? Bisa juga. Di saat orang ingin bersenang-senang dan memanjakan diri dengan keserbaadaan dan keserbamudahan, saya malah ingin bersusah-susah. Memulai lagi segala sesuatunya dari awal. Mungkin juga sambil jungkir balik dan berdarah-darah. Pengalaman saya juga membuktikan, bahwa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Bersenang-senang dahulu, sayangnya –atau untungnya?- tak bisa terus-terusan senang.

Untuk saya semua adalah awal. Karena saya pun tak pernah merasa „sudah“ mencapai akhir. Untuk saya ini adalah hidup. Seringnya untuk bisa semakin mensyukuri hidup yang sudah diberikan -selalu- lebih dari yang saya minta , saya justru harus berjarak dulu dari zona nyaman itu.

*Ehm, itu sih saya, bukan yang lain :) *


Metode TASC

Kebutuhan pemelajar bahasa untuk berbicara, berargumentasi, dan berkomunikasi secara persuasif dalam beragam situasi dengan menggunakan bahasa kedua, sejak awal perlu disiasati sebagai bagian dari proses belajar. Metode Thinking Activelly in Social Context (TASC) yang dikemukakan oleh Wallace dan Adams (1990) adalah salah satu metode pembelajaran yang berorientasi problem solving dengan area capaian attitudinal and motivational factors, metacognition, using gathered information to identify and solve problems, communicating with co-learners and communicating the outcome, dan learning from experience.

Metode ini juga menekankan pencapaian tujuan belajar pada hasrat, minat, dan regulasi diri; pada sikap dan pola pikir yang reflektif dan produktif; pada pemahaman dan penalaran atas satu tema atau masalah; juga pada proses pengumpulan informasi yang tidak hanya berasal dari satu sumber, tetapi dari banyak sumber, termasuk dari pengamatan dan pengalaman si pembelajar sendiri. Dengan demikian, diharapkan para pembelajar dapat mengembangkan sikap percaya diri sehingga termotivasi untuk berbicara, berargumentasi, dan berkomunikasi secara persuasif.

Bekerja sama dengan Iqbal, dari Fakultas Psikologi Unpad, metode ini diterapkan di mata kuliah ”Diskussion und Präsentation” pada semester genap lalu. Tujuan mata kuliah ini jelas untuk membangun kemampuan berbahasa pembelajar saat berbicara, berdiskusi, berargumentasi, dan –lebih luas lagi- untuk berkomunikasi secara persuasif dalam beragam situasi. Iqbal memodifikasi metode TASC ini dengan menambahkan issue body awareness, body imagery, body metaphor dan body correction.

Tahapan pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan tema tentang mimik. Sejumlah gambar, saling ”memeriksa” wajah rekan juga wajah sendiri (dilakukan rekaman video yang kemudian dibahas bersama), menjadi bahan diskusi. Kemudian dilanjutkan dengan membahas film animasi pendek yang sarat dengan ungkapan beragam ekspresi. Pada pertemuan berikutnya diberikan materi tentang beragam ungkapan verbal yang dapat dijadikan alternatif untuk membuat bahasa yang digunakan menjadi lebih persuasif. Tahap selanjutnya adalah pemberian materi dan pelatihan tentang body imagery, body metaphor dan body correction. Pembelajar diminta untuk menggambarkan diri mereka melalui gambar yang mereka buat, kemudian lewat percakapan imaginer tentang tokoh atau simbol yang ada dalam gambar mereka. Setelah pelatihan body correction, materi tentang unsur-unsur verbal bahasa dikombinasikan dengan unsur-unsur nonverbal seperti mimik, gestik, dan prosodi dalam debat dengan tema yang akrab dengan kehidupan mereka, yaitu: pro dan kontra tentang “anak mama.” Tahapan itu diakhiri dengan melihat dan mengevaluasi kegiatan mereka dengan cara melihat gambar dan film tentang kegiatan yang dilakukan hari itu. Tahapan terakhir adalah evaluasi dengan mengisi kuesioner yang sudah dipersiapkan.

Latihan berdebat sebagai salah satu cara untuk melihat pencapaian pembelajar dalam berkomunikasi secara persuasif, menjadi sarana yang saya rasa cukup tepat untuk menerapkan metode TASC ini. Masalah yang diambil untuk “dipecahkan” adalah “masalah anak mama”. Dalam debat itu terlihat bahwa pembelajar termotivasi untuk berinteraksi aktif dengan lingkungannya saat itu dengan cara menyampaikan pendapatnya –apapun itu-. Dengan pemberian informasi dan pelatihan tentang faktor-faktor nonverbal yang menunjang faktor verbal saat berkomunikasi, mereka pun terlihat bisa menghindari reaksi-reaksi impusif yang mungkin bisa mengaburkan tujuan utama saat proses penyampaian pendapat. Reaksi semacam ini tentu saja tidak bisa dihindari seratus persen, tetapi bisa diminimalisir. Pembelajar pun belajar untuk mengenali kebutuhan menerangkan sesuatu dengan sistematis, akurat, dan detil dengan cara membuat perbandingan, menyimpulkan pengalaman, merencanakan, tetapi tetap fleksibel dalam mendekati masalah sehingga bisa melihat masalah dari beragam sudut pandang. Debat ini juga melatih mereka untuk bersedia bekerja secara kooperatif atau bahkan secara mandiri, tergantung pada situasi dan kondisi yang dibutuhkan.

Dalam debat, pembelajar berlatih untuk peka terhadap ketidaksesuaian, ketidaklengkapan dalam suatu masalah, sehingga untuk mencari penyelesaiannya mereka belajar menyeleksi faktor-faktor pembentuk masalah, juga menyeleksi cara penyelesaian masalah yang beragam muncul dari banyak kepala. Mereka pun dilatih untuk peka terhadap komentar dan umpan balik. Dengan kata lain, mereka melakukan ”laku kritik” terhadap tindakan dan ucapan mereka. Selain itu, mereka pun belajar untuk mengenal kekuatan dan kelemahan mereka (secara verbal dan nonverbal), belajar menyeimbangkan cara berpikir dan bertindak kritis, analitis, dan kreatif. Hal itu terlihat dari contoh-contoh dan argumentasi yang mereka gunakan saat berdebat. Sehingga, mereka tetap ada dalam ”masalah dan pemecahannya”, tidak merambat ke area lain yang kadang membuat masalah utama menjadi kabur, sehingga pemecahannya pun sulit dicari.

Tujuan yang diinginkan –dan yang diidealkan oleh metode TASC ini- tidak begitu saja dicapai. Hal ini tentu saja harus dilakukan bertahap. Saya melakukannya satu semester penuh. Memadukan metode ini dengan issue body awareness serta contemplative learning, menurut saya bisa menjadi kombinasi yang tepat untuk mencapai tujuan dari pembelajaran bahasa –terutama pembelajaran bahasa asing-, di mana bahasa tidak lagi hanya sebagai satu sistem tanda, tetapi harus difungsikan, salah satunya adalah untuk berkomunikasi. Jadi, pembelajar tidak hanya tahu tentang sistem gramatika bahasa asing yang dipelajarinya, mereka pun mampu menerapkannya dalam beragam situasi komunikasi.

Hasi dari kombinasi pembelajaran dengan metode ini terlihat dalam mata kuliah-mata kuliah lain yang saya asuh, dalam kelompok diskusi yang dilakukan selama liburan ini, dalam makalah-makalah yang mereka tulis sebagai tugas akhir, dan hasil yang tak kalah menggembirakan adalah dengan dipilihnya salah seorang mahasiswi dalam mata kuliah tersebut sebagai mahasiswi berprestasi. Penilaian tertinggi untuknya terletak pada kemampuannya bersikap dan berkomunikasi dengan cerdas, tepat, taktis, namun tetap santun. Pada akhirnya memang tidak pernah ada yang sia-sia dari kesabaran dan dari pekerjaan yang dilakukan dengan cinta.