KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur – Sebuah Catatan Penerjemah

Suatu malam saat Nietzsche dibicarakan di Bandung, saya bertemu dengan Kang Wawan Sofwan dari mainteater yang kemudian memperkenalkan saya pada Boris dari Pädagogische Hochschule Heidelberg. Perbincangan hangat sambil menyimak Nietzsche membuahkan sinergi kreatif antara mainteater dan Boris. Saya kemudian resmi diikutsertakan dalam sinergi kreatif ini pada lepas tengah hari saat Bahuy berhujan-hujan mendatangi saya di Dipati Ukur.  “Transaksi” singkat penyerahan naskah terjadi di tempat parkir motor. “Dua minggu,” jawab saya saat Bahuy bertanya kira-kira kapan saya bisa menyelesaikan terjemahannya. Saat itu saya baru melihat sekilas naskah dengan judul yang langsung saya terjemahkan dalam hati saat itu juga. Tampaknya bahasanya tidak terlalu sulit. Lagipula memang saya berniat menyelesaikan terjemahan naskah itu sebelum saya kembali lagi ke Jerman. Dan itu dua minggu kemudian dari hari kami ber”transaksi”. Saya minta maaf, jika pada akhirnya saya tidak bisa menepati janji karena naskah terjemahan baru diserahkan lewat beberapa hari dari hari yang saya janjikan.

Malam itu juga naskah langsung saya terjemahkan dan dalam waktu dua jam saya bisa menerjemahkan sekitar 10 halaman. Penerjemaha bagian awal ini cukup mudah dilakukan, karena memang bahasa yang digunakan oleh Jura Soyfer di awal-awal tidak terlalu sulit. Bagian-bagian awal yang berisi percakapan antara matahari dan planet-planet lain tentang bumi yang sakit membawa kesan bahwa naskah ini “agak lain” daripada tematik naskah-naskah yang pernah saya terjemahkan untuk mainteater sebelumnya. Sambil menerjemahkan saya berpikir apa benar mainteater mau mementaskan naskah ini? Membayangkan para pemainnya memakai kostum matahari, mars, venus, komet, bulan membuat saya tersenyum sendiri. Mungkin juga karena percakapan di antara benda-benda luar angkasa itu untuk saya terasa lucu dan ringan –dibandingkan dengan percakapan dalam naskah-naskah yang saya terjemahkan sebelumnya yang kebanyakan cukup membuat kening saya berkerut. Saat itu kening saya tidak berkerut, saya hanya tersenyum tipis, karena ternyata cukup menghibur juga percakapan dari personifikasi benda-benda langit tersebut. Bumi yang sakit karena punya kutu yang bernama manusia. Matahari yang anggun dan berwibawa, Mars yang „galak“ dan Venus yang „genit“. Bumi harus dibersihkan dari kutu-kutu yang membuatnya sakit, artinya manusia harus dibasmi. Komet diserahi tugas untuk membasminya. Ternyata asyik juga menerjemahkannya, sambil tersenyum-senyum membayangkan jika benar-benar benda-benda luar angkasa itu membicarakan bumi yang kian hari kian sakit. Dan manusia memang penyebabnya.

Semakin lama ternyata semakin menarik menerjemahkan naskah ini, tetapi juga semakin sulit. Rupanya saya agak underestimate di awal. Naskah ini punya „sesuatu“. Kalimat-kalimat dalam dialog-dialognya singkat, padat tapi sangat “menohok”. Ada banyak ironi yang muncul di situ, yang mau tidak mau membuat saya tersenyum penuh arti saat menerjemahkannya. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Tenaga Panas kemudian mencabut lagi gelar yang diberikannya, karena Guck tidak setuju dengan anggapan Sang Pemimpin bahwa kiamat adalah rekayasa manusia, buatan orang Yahudi. Dialog saat Sang Pemimpin sibuk meminta wartawan mengabadikan dirinya. Dua diplomat negara adikuasa bersitegang soal kiamat. Satu tak peduli, karena bukan hal darurat, satu lagi tak ingin keseimbangan Eropa terganggu gara-gara kiamat ini. Radio-radio di berbagai belahan dunia menyiarkan terus-terus menerus berita tentang kiamat yang akan segera dan tentang Guck yang berusaha menyelamatkan dunia dari kiamat ini. Guck sendiri berusaha mendatangi semua tempat untuk meyakinkan orang-orang bahwa dunia harus segera diselamatkan dari kehancuran. Dia punya alatnya. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli. Semua tahu kiamat akan datang, tapi semua sibuk dengan urusan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan kiamat kemudian diakomodir, dijadikan alat untuk menipu dan mengeruk banyak uang dari orang-orang kaya yang bodoh yang merasa dengan uangnya mereka bisa selamat dari apapun. Guck pun putus asa. Tak ada yang mau mendengarnya. Kalaupun ada, Guck harus menunggu. Alat yang dia ciptakan harus dipatenkan dulu, supaya uang mengalir. Birokrasi pun harus dia lewati. Kiamat bukan satu-satunya urusan yang harus diperhatikan. Masih banyak urusan lain yang harus diselesaikan manusia. Kiamat mau tidak mau harus menunggu sampai urusan lain beres.

Naskah ini adalah naskah pertama yang ditulis Soyfer dan dipentaskan untuk pertama kalinya di awal musim panas tahun 1936. Lewat naskah ini Soyfer ingin menunjukkan situasi kemanusiaan beberapa saat sebelum dunia hancur yang semuanya berujung pada penekanan tentang kebodohan manusia dan tindakan-tindakannya. Guck sang ilmuwan yang berniat menyelamatkan dunia dan kemanusiaan pun kemudian hanya berhenti di tataran klise, karena dia tak punya kuasa atas apapun. Jika pada akhirnya dunia tak jadi kiamat, ini terjadi bukan karena Guck berhasil meyakinkan orang-orang untuk menggunakan mesin ciptaannya, tetapi karena Konrad – si komet- tidak tega menghancurkan bumi, karena saat proses mendekati bumi, si komet jatuh cinta pada bumi yang „penuh kemiskinan dan kekayaan“, yang „penuh kehidupan dan kematian“, yang punya „kemiskinan dan kekayaan tanpa batas“, yang „terberkahi dan terkutuk“, yang punya „kecantikan yang bersinar terang“ dan yang „masa depannya indah dan gemilang“. Namun, adakah manusia yang sadar dan peduli akan itu? Kiamat pada akhirnya tidak terjadi hanya karena belas kasihan si komet, bukan karena kepedulian manusia atas bumi tempat mereka hidup dan memberi mereka kehidupan.

 

Jura Soyfer, penulis Yahudi dari Ukraina yang lahir tahun 1912 di Charcow, Ukraina dan meninggal di kamp konsentrasi Buchenwald, Jerman pada tahun 1939, memainkan tematik kehancuran dunia ini lewat dialog-dialog singkat yang satiris antartokohnya. Monolog cukup panjang muncul saat tokoh Guck berkeluh kesah tentang ketidakpedulian manusia pada dunia dan kemanusiaan. Sofyer yang tumbuh besar di Austria menggunakan bahasa Jerman dialek Austria untuk beberapa bagian naskah, dicampur dengan bahasa Perancis dan Inggris. Soyfer sendiri memang tumbuh di dalam lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang berbahasa Jerman, Perancis, dan Rusia. Beragam bahasa juga dialek yang kental digunakan Soyfer dalam naskahnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya saat menerjemahkannya. Walaupun kebetulan saya sudah beberapa tahun tinggal di daerah Bavaria, sehingga saya cukup familiar dengan dialek yang digunakan Soyfer dan cukup membantu saya dalam memahami teks ini, tetapi ternyata tidak mudah mengadaptasinya dalam terjemahan saya. Dalam beberapa bagian, dialek juga digunakan Soyfer untuk menyindir kalangan dan orang-orang tertentu atau mempertegas stereotype negara dan orang-orangnya. Soyfer menggunakan beragam bahasa untuk memperjelas kritiknya, sehingga membuat naskah ini semakin terasa ironis dan satiris. Kelebihan naskah yang terletak pada beragam permainan bahasa dan dialek ini, juga bahasanya yang di beberapa bagian puitis satiris, menjadi kesulitan tersendiri dalam proses penerjemahan. Ada beberapa „jiwa“ yang hilang. Namun, saya yakin, dalam pengolahannya mainteater mampu menerjemahkan kembali dan membawa „jiwa“ naskah ini dengan lebih baik ke atas panggung. Untuk itu saya cukup berdebar menunggu naskah ini dipentaskan pada tanggal 14, 15, dan 16 Desember 2010 di Bandung, walaupun mungkin saya hanya bisa menyaksikan hasil rekaman pementasan naskah yang ditulis 74 tahun yang lalu, tetapi temanya tetap aktual sampai saat ini. Saat dunia mungkin sebentar lagi (pasti) akan hancur.

Bayreuth, 141110

*Tulisan ini dibuat sebagai pengantar untuk pementasan naskah „KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur“ oleh mainteater pada tanggal 14,15, dan 16 Desember 2010 di GK Rumentang Siang Bandung.

Advertisements

Palu si Paul

Seorang lelaki ingin menggantung sebuah foto. Paku sudah dia punya, tapi sayangnya dia tidak punya palu. Tetangganya punya palu. Maka, lelaki itu memutuskan untuk datang ke tetangganya dan meminjam palu darinya. Namun, tiba-tiba dia ragu: Apa yang terjadi jika tetanggaku tidak mau meminjamkan palunya? Kemarin saja dia menyapaku sambil lalu. Mungkin dia sedang terburu-buru. Atau mungkin dia hanya pura-pura terburu-buru karena dia tidak suka padaku. Tapi mengapa? Aku tidak berbuat apapun padanya; dia cuma mengada-ngada. Jika seseorang mau meminjam sesuatu dariku, aku akan segera memberikannya. Dan mengapa dia tidak? Bagaimana mungkin orang tidak mau menolong orang lain? Orang-orang seperti dia hanya akan meracuni hidup orang lain. Lalu dia akan menganggap bahwa aku bergantung padanya. Hanya karena dia punya sebuah palu. Baiklah, cukup sampai di sini. – Lalu lelaki itu menggedor pintu rumah tetangganya, berteriak, tetangganya membukakan pintu, tapi sebelum dia berkata „Selamat siang“, lelaki itu sudah berteriak lebih dulu pada tetangganya: „Simpan palu Anda!“.

Bayreuth, 121110

(diterjemahkan dari „Hammer Geschichte“ Paul Watzlawick dalam „Anleitung zum unglücklich sein“ atau „Petunjuk Untuk Tidak Bahagia“)

Dari Seorang Yahudi kepada Para Tentara Zionis – 1988 (Erich Fried)

Apa mau kalian sebenarnya?
Apakah kalian benar-benar ingin memukul mereka
mereka yang pernah merendahkanmu
di suatu masa
saat darah
dan kotoran kalian pun tak berharga lagi?
Apakah sekarang kalian ingin penyiksaan yang dulu
sekarang dilakukan pada yang lain
dengan darah
dan hal-hal kotor lainnya
dengan kenikmatan yang brutal
para tukang jagal
yang menyebabkan
ayah-ayah kita dulu menderita?
Apakah sekarang kalian benar-benar ingin
jadi Gestapo baru
jadi angkatan bersenjata baru
jadi tentara SA dan SS yang baru
dan membuat orang Yahudi baru
yang berasal dari orang-orang Palestina?
Kalau begitu aku pun mau
karena dulu 50 tahun yang lalu
aku juga seorang anak Yahudi
yang disakiti
oleh para penyiksa
aku mau jadi orang Yahudi baru
orang-orang Yahudi baru ini
yang kalian buat
dari orang-orang Palestina
Dan aku mau membantu mengembalikan mereka
menjadi manusia merdeka
di tanahnya sendiri Palestina
di tanah yang kalian rebut dan usir penghuninya
atau yang kalian sakiti
oleh kalian para pemuda berlambang swastika
kalian yang gila dan sadis
yang dengan cepat
mengubah sejarah dunia
dari bintang Nabi Daud
di atas bendera kalian
menjadi tanda-tanda terkutuk
berkaki empat
yang kalian sendiri tak ingin lihat
tapi di jalan itulah
kalian sedang berjalan sekarang!

Diterjemahkan dari karya asli Erich Fried berjudul „Ein Jude an die zionistischen Kämpfer – 1988“ di Bayreuth, 060610
14:58

Catatan: Erich Fried lahir di Wina tanggal 6 Mai 1921 dan meninggal tanggal 22 November 1988 di Baden-Baden. Dia adalah seorang penyair, penerjemah dan esais dari Austria keturunan Yahudi. Puisi dan tulisan-tulisannya lugas dan tajam, sehingga bersama Hans Magnus Enzensberger dikenal sebagai penyair utama di Jerman masa setelah perang. Nama „Fried“ sendiri bermakna „kedamaian.“

Perang Klamm

Klamms Krieg, monolog karya Kai Hensel, berkisah tentang seorang guru bahasa Jerman untuk kelas 13 di salah satu sekolah. Dia „terlalu tua untuk jadi guru pemula, tetapi terlalu muda untuk pensiun dini.“ Tokoh ini digambarkan sebagai seorang guru dengan idealisme tinggi, cita-cita yang kuat, juga bangga atas prestasi serta kecerdasan yang dimilikinya. Seorang guru yang sangat taat aturan, tak mau korupsi dan disuap untuk memberikan nilai bagus, tak mau cari muka dengan pura-pura ramah, hanya agar dia disukai oleh murid-muridnya. Seorang guru yang keras pada murid-muridnya, juga pada rekan-rekan kerjanya. Nilai 2 adalah 2, bukan 3 atau 4. Kalau perlu lembar jawaban ujian pun diremas-remas, karena jawaban ujian di dalamnya tak layak untuk diberi nilai apapun. Murid-muridnya harus tahu semua hal yang juga dia kuasai dengan baik: Goethe „Faust“, makna kebebasan Schiller, karya sastra zaman Barok, Klasik, Romantik. Tentang puisi dengan jambus, madrigal, dan Blankverse-nya. Seorang guru yang cemas dan takut bahwa dalam waktu „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“

Klamm ingin berbuat banyak. Dia pun mau banyak untuk sekolah dan murid-murid yang dicintainya. Namun, dia harus berhadapan dengan „sistem“ yang tak memberikan ruang dan apresiasi untuk semua usaha keras yang dilakukannya. Dianggap aneh, digunjingkan di belakang punggungnya, tak ada yang mau berteman dekat dengannya, hanya karena dia menyuarakan kejujuran ketika melihat rekan-rekan kerjanya, pun atasannya, melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Alhasil, kesendirian, kecemasan, ketakutan, juga tak adanya ruang apresiatif, membawanya pada prasangka yang semakin lama semakin besar pada institusi, pada kemanusiaan dari murid-murid yang justru awalnya dia perjuangkan, pun pada dirinya sendiri.

„Guru adalah seorang pembunuh“ begitu tulisnya di penutup kloset, lantai, dan dinding kamar mandinya, saat kepalanya terantuk wastafel. Tulisan yang ditulis dengan darah yang mengucur dari kepalanya sendiri. „Guru adalah seorang pembunuh“, demikian tulisnya untuk kematian Sascha, salah seorang muridnya, yang gantung diri karena mendapat nilai 5 untuk mata pelajaran bahasa Jerman, sehingga tidak bisa lulus ujian akhir. „Guru adalah seorang pembunuh“, karena Sascha gantung diri setelah dia berusaha membujuk Klamm, datang ke rumah Klamm malam-malam memohon agar Klamm memberinya nilai 6, agar dia bisa lulus ujian akhir (padahal nilai 6 sudah diberikan, tetapi karena Sascha berusaha membujuknya, maka nilai 6 pun diganti dengan nilai 5). „Guru adalah pembunuh“ ditulisnya setelah seluruh muridnya „menyatakan perang“ dengan Klamm. „Guru adalah pembunuh“, ketika rasa kecewa dan putus asa sudah sampai pada puncaknya. Juga ketakutan, bahwa semua tujuan yang dia usahakan, malah dianggap sebagai halangan. Dia yang „berusaha ada“ untuk muridnya, „memberikan jawaban untuk semua pertanyaan“ mereka. Dan kalaupun muridnya tidak bertanya, dia akan tetap menjawab, karena itu adalah kewajibannya. Dia yang kadang-kadang merasa perlu juga untuk menghukum muridnya, karena „sekali waktu harus begitu, tidak bisa tidak.“ Dia yang punya tujuan: mempersiapkan murid-muridnya untuk menghadapi hidup dan kehidupan, yang masih panjang dan terbuka lebar di depan mereka. Dia yang meneteskan air mata, saat pesta perpisahan sekolah. Melepas murid-muridnya yang justru merasa senang karena „terbebas“ dari „ikatan“ sekolah, padahal hidup di depan mereka entah jelas entah tidak. Namun, melihat senyum dan tawa murid-muridnya adalah kebahagiaannya. Kebahagiaan yang disertai ketakutan, tetapi tetap harus dia lakoni.

Klamm kecewa. Browning 9 milimeter dengan 13 tembakan pun disiapkan di hadapan murid-murid yang „menyatakan perang“ dengannya. Apakah hidup harus diakhiri di depan murid-murid yang dicintai melebihi hidupnya yang sepi? Atau justru memulai kembali hidup yang „berbeda“ dari awal? Membaca „Faust“, halaman 9, „Prolog di Langit“, saat Raphael berkata:

„Matahari dengan rona yang dulu-dulu juga/ Dalam lomba nyanyi sunyi di angkasa persaudaraan./ Dan perjalanan yang telah tertera/ Disudahinya dengan seruntun guruh berdentam/ Meski tak seorang pun dapat menjelaskan asal usulnya;/ Karya agung yang tak terpahami/ Begitu segar seperti di hari pertama.“

Catatan: Monolog ini diterjemahkan oleh Dian Ekawati dari judul asli „Klamms Krieg“ (Kai Hensel), diedit oleh Dien Fakhri Iqbal, dan akan dipentaskan oleh „mainteater“ (pemain dan sutradara Wawan Sofwan) bekerja sama dengan Goethe Institut Inter Nationes pada akhir Mei. Waktu dan tempat menyusul.

Harapan untuk Tahun yang Baru*

perahu

Sedikit lebih banyak perdamaian dan lebih sedikit permusuhan/ Sedikit lebih banyak kebaikan dan lebih sedikit kecemburuan/Sedikit lebih banyak cinta dan lebih sedikit kebencian/ Sedikit lebih banyak kebenaran – mungkin bagus juga.

Daripada banyak kericuhan lebih baik sedikit lebih banyak kedamaian/Daripada selalu hanya “aku” lebih baik sedikit lebih banyak “kamu”/Daripada ketakutan dan hambatan lebih baik sedikit lebih banyak keberanian/Dan kekuatan untuk bertindak – mungkin bagus juga.

Dalam kengerian dan kegelapan sedikit lebih banyak cahaya/ Tak ada lagi tuntutan yang menakutkan, sedikit lebih banyak keikhlasan/ Dan lebih banyak bunga, jika mungkin bisa/Jangan sampai bunga baru ada di kuburan – mereka akan terlambat mekar.

Tujuannya hanya damai di hati/Lebih baik dari itu aku tak tahu lagi.


* diterjemahkan dari puisi karya Peter Rosseger (1843 – 1918) „Wünsche zum neuen Jahr“


Terjemahan vs. Utang

Hari Jumat kemarin seorang teman meminta saya memasukkan tulisan untuk dimuat di kumpulan tulisan tentang bahasa, sastra dan budaya. Hari Senin besok „deadline“nya. Karena pekerjaan yang menumpuk hampir dua bulan belakangan ini dan masih menunggu pekerjaan yang lain (heran, kok ngga habis-habis ya kerjaannya ?!), saya tanya apakah saya boleh memasukkan tulisan yang sudah ada alias sudah jadi saja. Yang ada di kepala saya saat itu adalah tulisan-tulisan yang dibuat saat saya masih di Bayreuth. Teman saya bilang bisa. Oke, dengan entengnya saya sanggupi.

Kemarin malam, saya baru membuka-buka folder tulisan-tulisan itu dan -tentu saja- semua tulisan itu (tepatnya tulisan-tulisan yang sudah jadi itu) ditulis dalam Bahasa Jerman. Masih dengan ringan saya memilih topik yang kiranya pas untuk dikirim. Ah, hanya tinggal diterjemahkan, saya pikir. Mulailah saya baca ulang tulisan tersebut dan yakin bisa dikirim tepat waktu, karena tampaknya -sekali lagi tampaknya- tidak terlalu sulit untuk diterjemahkan.

Namun, apa yang terjadi? Saat saya mulai menerjemahkan kalimat pertama pun saya sudah mengerutkan kening dan tertegun lama. Apa ini? Kenapa kaku begini? Apa makna kata ini dalam Bahasa Indonesia? Apa istilah yang pas dan lazim dalam ranah linguistik Indonesia? Kenapa konstruksi kalimat Bahasa Indonesia saya „terdengar“ sangat Jerman (banyak menggunakan anak kalimat dan bentuk nominal)? Belum lagi saat penulisan kata benda, yang saya tulis dengan huruf awal huruf besar. Saya jadi termenung-menung sendiri dan alhasil selama tiga jam saya hanya berhasil menerjemahkan satu bagian pendahuluan saja.

Di mana letak masalahnya? Saya kan mengajar mata kuliah penerjemahan? Kok bisa sampai tidak bisa menerjemahkan? Apalagi ini tulisan saya sendiri. Terkaget-kaget saya dengan hasil terjemahan saya yang jelek dan kaku itu. Saya baca ulang dan edit lagi. Agak lumayan, tetapi tetap saja „aneh“, terutama jika dilihat dari konstruksi kalimatnya. Saya merasa, ini bukan kalimat Bahasa Indonesia. Terselip juga rasa, beberapa istilah yang saya terjemahkan sepertinya bukan istilah yang biasa digunakan dalam ranah linguistik Indonesia. Misalnya istilah natürliche Sprache atau natürlich-sprachliche Kommunikation, yang saya mengerti maknanya, tetapi tidak bisa saya ungkapkan dengan padanan istilah linguistik yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Terus terang saya bingung dan -ini adalah masalah utama saya- saya malas untuk mencari dalam buku-buku linguistik berbahasa Indonesia. Padahal idealnya saat menerjemahkan saya menggunakan beberapa referensi, terutama saat menerjemahkan teks-teks yang khusus seperti ini. Saya tahu, karena ini pula yang selalu saya tekankan pada mahasiswa-mahasiswa saya di kelas. Alih-alih mencari teks referensi, saya malah mencari pembenaran diri dengan alasan waktu yang mendesak serta sudah lamanya saya tidak menerjemahkan teks berbahasa Jerman ke dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja itu bukan alasan.

Sebenarnya saya bisa saja membaca ulang tulisan saya tersebut untuk kemudian membuat teks baru dengan bahasa yang juga baru, bukan terjemahan. Namun, saat kemarin malam akhirnya saya berhenti di bagian pendahuluan, saya merasa tertantang untuk menerjemahkan tulisan saya sampai selesai. Saya ingin tahu apakah saya bisa „menerjemahkan“ isi pikiran saya dalam Bahasa Jerman ke dalam Bahasa Indonesia. Jika dulu saya bisa „menerjemahkan“ isi kepala orang lain ke dalam bahasa saya (tentu saja dengan riset dan proses menerjemahkan serta uji keterbacaan berulang-ulang), kenapa sekarang tidak? Jadi, tadi saya menerjemahkan lagi bagian selanjutnya. Duh, saya hampir menyerah. Sulit.

Akhirnya saya malah jadi berpikir-pikir, apa yang terjadi saat saya menulis tulisan tersebut? Bagaimana saya bisa menggunakan istilah-istilah berbahasa planet itu? Tentu saja karena saat itu saya intens membaca, mendengar dan menggunakan bahasa dan istilah dalam Bahasa Jerman. Namun, jangan sangka bahwa itu mudah dan mengalir begitu saja. Saat saya menulis teks itu pun saya mengalami „jungkir balik“ berpikir yang sama seperti yang saya alami sekarang. Saya melakukan tiga sampai empat kali proses berpikir dan bekerja. Pertama, saya membaca teks dalam Bahasa Jerman. Kemudian saya mencoba memahaminya dalam Bahasa Indonesia. Kemudian mengolahnya lagi ke dalam Bahasa Jerman untuk kemudian dituangkan ke dalam Bahasa Jerman. Saya teringat lagi bahwa tulisan yang sedang saya terjemahkan ini sudah melewati beberapa kali proses editing sampai akhirnya menjadi tulisan „jadi“. Saya juga ingat bahwa tulisan itu pernah dicoret besar-besar oleh dosen saya dan dikomentari „Katastrophe“ saking jeleknya. Tulisan itu juga pada proses-proses awal dikomentari sebagai tulisan „bukan Jerman“: orang Jerman tidak menulis begini begitu, tidak menggunakan istilah ini itu, dsbnya. Saat itu -saya ingat- saya sempat protes dengan berkata bahwa saya bukan orang Jerman, jadi biarkan saya menulis apa adanya. Biasa, itu kan hanya bentuk pembelaan diri atas ketidakmampuan saya.

Namun, seperti biasa lagi, saya juga jadi tertantang untuk membuat tulisan yang lebih „memadai“. Seorang sahabat -orang Jerman- dengan setia dan sabar menjadi teman diskusi dan tempat saya bertanya. Dia dengan suka rela mengoreksi dan mengedit pekerjaan saya, melayani pertanyaan-pertanyaan saya yang suka aneh-aneh dan berdiskusi panjang lebar tentang topik yang saya tulis. Sampai-sampai dia bilang, dia tidak perlu kuliah linguistik bertahun-tahun, melainkan cukup menjadi editor pekerjaan saya saja.

Nah, situasi yang sama terulang lagi sekarang. Saya sudah underestimate bahwa menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan relatif lebih mudah. Ternyata saya salah besar. Saya harus kembali mengulang proses yang saya lakukan saat saya menulis tulisan tersebut. Saya juga harus mengakui, bahwa saya sudah lama tidak „latihan“ menerjemahkan. Kadang muncul juga perasaan bahwa sekarang -setelah beberapa tahun tinggal di Jerman- saya akan bisa menerjemahkan lebih mudah lagi. Dalam beberapa hal memang mungkin benar, tetapi dalam banyak hal tidak. Saya harus selalu berlatih dengan menulis dan membaca lebih banyak lagi.

Tampaknya deadline tidak akan bisa saya lewati, tetapi saya justru ingin menyelesaikan terjemahan tulisan saya itu untuk mengingatkan saya kembali kepada pentingnya proses. Kejadian ini juga mengingatkan saya (sebenarnya saya selalu ingat :( ) kepada utang tulisan yang sudah menumpuk (semua masih dalam bentuk draft, hiks) dan makalah mahasiswa yang harus segera dikoreksi. Salah satunya adalah makalah untuk mata kuliah Übersetzung Indonesisch – Deutsch alias Penerjemahan Indonesia – Jerman. Mudah-mudahan tidak ada mahasiswa saya yang membaca tulisan saya ini, hehe. Tapi jika ada yang membaca pun tidak apa-apa, supaya mereka tahu bahwa dosennya juga manusia yang masih harus terus belajar dan berintrospeksi diri (halaah…cari pembenaran lagi, hehe).

Catatan: tulisan yang saya terjemahkan bisa dilihat di sini dan terjemahan (sementara) bisa dilihat di sini.

„Membaui“ Das Parfum – Patrick Süskind



Ketika salah seorang teman memberitahu bahwa terjemahan roman „Das Parfum – Die Geschichte eines Mörders“ dari Patrick Süskind sudah terbit di Indonesia, saya penasaran dan langsung mencarinya setibanya saya di tanah air. Penasaran, karena dari hasil korespondensi saya dengan Patrick Süskind dan wakil dari penerbit Diogenes (penerbit resmi roman ini dan karya-karya Patrick Süskind lainnya), mereka menetapkan syarat yang ketat –dengan alasan politis tertentu- untuk penerbitan terjemahan buku-buku terbitan Diogenes. Salah satu dari syarat-syarat itu adalah penerbit yang dipilih haruslah penerbit resmi yang sudah dikenal di Jerman, Swiss atau Austria. Jadi, saya sudah membayangkan, kalau pun buku-buku karya Patrick Süskind diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan diterbitkan oleh salah satu dari dua penerbit terkenal di Indonesia.

Akhirnya, saya membeli roman paling terkenal karya Süskind tersebut yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (Bahasa Indonesia?!) dengan judul “Perfume – The story of a Murderer”. Pertama kali memegang buku terjemahan tersebut, saya sudah “mencium bau” yang lain. Bukan “bau” Süskind, bukan “bau” Diogenes. Bukan gambar sampul dengan aroma sederhana, berwarna broken white dengan ilustrasi lukisan klasik berukuran sedang saja, seperti aroma khas Diogenes dan buku-buku terbitan Jerman atau Swiss lainnya yang saya hirup, melainkan “bau” Amerika yang langsung menusuk mata dan hidung dari sampul depan warna putih berilustrasikan gambar beberapa mannequin warna hijau apel, semua berkepala botak, sehingga dari kejauhan memang benar tampak seperti buah apel dari jenis Granny Smith. Sampul depan dan belakang penuh dengan tulisan dan komentar dari berbagai media tentang kesuksesan buku ini.

Tentang penerbit, yang ternyata bukan salah satu dari dua penerbit terbesar di Indonesia, tidak terlalu saya permasalahkan. Saya tidak terlalu ngotot menjadi penganut copy right, walaupun sedapat mungkin saya usahakan untuk selalu membeli buku-buku asli dan resmi. Namun, kalau terpaksa harus membeli yang copy left karena satu dan lain hal, (kadang) tidak jadi masalah juga.

Mencium bau yang berbeda, menghirup aroma yang lain, tidak menyurutkan minat saya membaca versi terjemahan buku ini. Saya baca, saya hirup huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman. Saya mencari aroma Patrick Süskind. Mencari aroma „Das Parfum“. Mencium-cium dan mencari aroma yang terbentuk dari uraian kata dan kalimat dalam bahasa saya sendiri yang bercerita tentang sesuatu yang asing yang ada di luar „dunia“ saya, yang bercerita tentang tempat asing di luar jangkauan saya, yang bercerita tentang orang yang asing di luar bayangan saya. Saya tahu persis, tidak mudah “membaui” Süskind. Tidak mudah menyusun aroma „Das Parfum“. Ada kekhasan Süskind yang tidak bisa dicium dalam bahasa lain. Namun, saya sadar betul, memang pasti akan ada yang “hilang” dari karya-karya terjemahan. Saya sadar sekali dan saya tidak bisa menuntut banyak pula. Sudah ada terjemahan untuk karya yang bagus ini pun, saya pikir sudah satu usaha yang patut diacungi jempol. Artinya, akan semakin banyak orang yang bisa membaca dan turut “membaui” roman yang dibuat dengan cerdas oleh Süskind ini.

Bukan, bukan itu yang saya „cium“ dari karya terjemahan “Das Parfum”. Bukan terjemahannya, bukan sampul muka dan belakang, bukan penerbitnya, bukan kecerdasan Süskind menciptakan tokoh dingin (yang memilih) kesepian dengan kemampuan penciuman yang luar biasa bernama Jean-Baptiste Grenouille, bukan kekhasan teknik bercerita Süskind dengan alur mundur maju serta deskripsi tokoh dan tempat yang sangat detil, bukan pula satu paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat beranak pinak dengan satu titik saja. Saya „mencium“ kata-kata yang tidak hanya saya temukan di dalam terjemahan roman ini, tetapi sebenarnya sudah saya „cium“ juga di banyak tempat, media, dan ternyata „aroma“nya cukup mengganggu saya. Bukan aroma yang kuat, samar saja, tapi ternyata lambat laun membuat kening saya berkerut dan hidung saya berkerenyit.

Bersambung