„3: Alif, Lam, Mim“ – Mempertanyakan Kebenaran

0134508Berita-Film-Baru-3-Alif-Lam-Mim-Film-Aksi-Garapan-Sutradara-Comic-8p

Ternyata saya membutuhkan waktu lebih dari sepekan untuk menulis tentang film yang membuat badan saya gemetar setelah saya menontonnya. Entah kenapa, bolehlah saya dibilang lebay, tetapi adalah benar tubuh saya gemetar saat saya keluar dari gedung bioskop. Dada saya pun sesak serasa mau meledak usai menyaksikan film berdurasi 122 menit ini. Setelah Film Soekarno yang mampu membuat saya bergetar, ini film Indonesia kedua yang memberikan efek dahsyat pada saya. Saya seperti dibentur-benturkan pada kenyataan yang datang bertubi-tubi di depan mata, membuat saya menahan nafas, dan akhirnya saya hanya dapat berkomentar pendek: gila! Anggy Umbara, sutradara film ini, memang gila. Baru kali ini saya menonton film Indonesia yang dibuat dengan berpikir cerdas dan membuat penontonnya –terutama saya- juga ikut berpikir. Dan ternyata saya perlu berjarak dulu untuk kemudian dapat menuliskan apa yang ingin saya tuliskan di sini.

Ini film fiktif yang berkisah tentang Indonesia, khususnya situasi di Jakarta pada tahun 2036. Nuansa kelabu dalam film ini menegaskan genre yang diklaim oleh Arie Untung, sang produser, sebagai action drama dystopian. Genre fiksi distopia sebagai lawan dari genre fiksi utopia memang berkisah tentang kecemasan dan ketakutan atau degradasi kehidupan sosial suatu masyarakat yang disebabkan oleh konspirasi politik, kekuasaan, kecurigaan dan ketidakpercayaan publik terhadap orang per orang atau satu institusi bahkan pada negara. Dibuka dengan scene saat tokoh utama Alif (Cornelio Sunny), seorang polisi muda, sedang bertugas menumpas sebuah kelompok penjahat, penonton langsung disuguhi adegan-adegan laga beladiri yang cenderung hening, tidak rusuh, diakhiri dengan matinya sang penjahat oleh sebuah peluru tajam, yang sebenarnya tidak diperbolehkan ada dalam kepolisian Indonesia di masa itu. Akibat dari matinya orang yang dianggap penjahat ini adalah diskorsnya Alif dari pekerjaannya, karena dianggap “kecolongan” tidak dapat menangkap sang penjahat dalam keadaan hidup.

Cerita bergerak maju sampai muncul tokoh Lam (Abimana Aryasatya), teman Alif di masa kecil, yang kemudian mengajak penonton untuk berkilas balik pada peristiwa saat orang tua Alif dibunuh. Peristiwa pembunuhan orang tua Alif yang tidak pernah terusut tuntas ini membuatnya bertekad bahwa dia akan menegakkan kebenaran dan menumpas semua bentuk kejahatan, bagaimana pun caranya dan pada siapapun itu. Lagi-lagi penonton tidak dibiarkan bernafas sejenak karena adegan-adegan beladiri muncul dengan manis sebagai bagian dari cerita. Para tokoh utama film ini, yaitu Alif, Lam, dan Mim (Agus Kuncoro Adi), mulai diperkenalkan secara eksplisit, termasuk cita-cita mereka yang membawa mereka pada akhirnya menjadi mereka saat itu. Alif yang ingin menjadi polisi, Lam yang ingin menjadi jurnalis yang mencari kebenaran, dan Mim yang ingin tetap berada di pesantren yang dulu membesarkan mereka bersama.

Narasi bergerak maju mundur dengan konflik yang terpilin rumit namun halus dijalin seiring dengan munculnya tokoh Laras (Prisia Nasution), perempuan masa lalu Alif, yang pada akhirnya menjadi salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam jalinan konflik yang rumit. Kisah pribadi para tokoh utamanya, kehidupan cinta dan keluarganya, dirajut dengan konflik di sana sini sampai akhirnya memuncak pada scene bom meledak di sebuah cafe tempat Laras bekerja. Peristiwa ini membawa Alif kembali bertemu Mim yang dianggap musuhnya dan Lam yang selalu berusaha berada di antara keduanya. Konflik pun semakin tajam dengan ditangkapnya Kyai Mukhlis (Arswendi) dan dibukanya kedok tokoh-tokoh yang secara tidak terduga terlibat dalam konflik tersebut serta munculnya tokoh-tokoh baru yang di luar dugaan, tetapi ternyata berperan banyak untuk keseluruhan kisah. Di titik ini lah kebenaran kemudian dipertanyakan. Apa itu kebenaran?

Kebenaran dalam Film 3 ini bukanlah kebenaran absolut yang hitam putih sifatnya. Dia ada dan menjadi benar menurut siapapun yang menganggapnya benar, seperti kata Rorty (1991) “Kebenaran adalah commendation sosial. Ia adalah apa yang kita anggap sebagai kebaikan. (…)”. Alif beranggapan bahwa menumpas kejahatan apapun bentuknya dan siapapun pelakunya adalah kebenaran, karena artinya dia telah melakukan satu nilai “kebaikan” menurut versinya. Maka memburu penjahat, bahkan mengambil jantung dari penjahat yang dia kejar, bahkan melawan sahabatnya sendiri adalah kebaikan, sehingga yang dia lakukan adalah benar. Demikian juga dengan Lam yang menganggap bahwa mencari kebenaran dari suatu peristiwa ditunjang dengan data dan fakta yang valid tetapi tetap berdasarkan perspektif pribadinya adalah satu kebaikan, walaupun dia harus kehilangan pekerjaan resminya sebagai wartawan ternama di sebuah media besar dan bahkan kehilangan istrinya –Gendis (Tika Bravani)-. Namun, itu adalah kebaikan, seperti yang diungkapkan oleh tokoh Gendis, bahwa dia tidak ingin menjadi istri yang membuat suaminya tuli, tidak bisa mendengar kata hatinya sendiri. Mengorbankan nyawanya demi menjaga keluarganya adalah sebuah kebaikan, menurut aturan sosial manapun. Maka apa yang Gendis lakukan adalah benar.

Mim pun memiliki “versi” kebenarannya sendiri. Pilihannya tetap bertahan di pesantren di tengah kepungan masyarakat yang semakin liberal dan tidak percaya Tuhan tentu adalah kebaikan tersendiri. Dia yang tidak pernah sampai membunuh lawannya bahkan merawat lawan-lawannya tersebut adalah kebaikan yang juga dapat dianggap sebagai kebenaran. Laras melakukan kebaikan dengan memberikan flashdisk berisi data-data yang dapat membantu Lam mengusut peristiwa pengeboman di cafe yang membuat Alif dan Mim harus saling melawan. Sosoknya yang abu-abu di awal tetapi kemudian sikapnya semakin jelas dengan memberikan penawar racun kepada Alif, mengorbankan dirinya agar Alif dapat melanjutkan perjuangannya, ini tentu adalah kebenaran menurut versinya. Perspektif kebenaran lain muncul dari tokoh Kyai Mukhlis yang dengan kebaikan hatinya rela merawat para polisi yang sudah jelas-jelas melawannya dan membiarkan dirinya ditangkap serta diadili tanpa pengadilan yang jelas, tentu dia pun sedang melakukan suatu kebenaran.

Tidak hanya tokoh-tokoh protagonisnya, tokoh-tokoh abu-abu lainnya pun punya versi kebenaran masing-masing. Oleh karena itu, saya pun pada akhirnya tidak dapat mengkategorikan para tokoh abu-abu itu secara tegas sebagai tokoh antagonis. Setiap tokoh punya alasan sendiri mengapa mereka melakukan suatu tindakan yang secara normatif disebut sebagai kejahatan. Alasan yang logis dari suatu peristiwa –katakanlah- kejahatan apapun bentuknya pada akhirnya dapat dipertanyakan kembali. Apakah benar itu semua kejahatan? Bukankah kebenaran hanya akan ada jika dan hanya jika ada sesuatu yang disebut kejahatan? Siapa yang dapat menentukan itu jika setiap orang punya alasannya sendiri terhadap tindakan yang dia lakukan, apalagi dengan diiming-iming kata “kebaikan” atau “demi kebaikan”. Jika mengacu kembali kepada pendapat Rorty di atas, maka kebenaran itu pada akhirnya menjadi lentur.

Kelenturan inilah yang dengan cerdas disimbolkan melalui beladiri silat yang menjadi medium utama aksi laga film ini. Pemilihan silat menjadi menarik mengingat film ini dikemas secara futuristik dengan menggunakan bantuan teknologi Computer-Generated Imagery, tetapi justru menampilkan silat yang cukup tradisional. Gerakan-gerakan silat yang lentur, efek slow motion ditingkahi dengan guyuran hujan yang semakin membuat efek dramatis sebuah perkelahian membuat laga dalam film ini adalah laga yang lirih dan lentur, bahkan nyaris tanpa darah, walaupun bukan tak berdarah. Kesatuan wiraga, wirama, dan wirasa adalah filosofi silat yang dimunculkan dengan cukup apik di film ini.

Lepas dari beberapa kekurangan yang jika diperhatikan detil akan terlihat, seperti setting Jakarta tahun 2036 yang dikatakan bersuhu dingin tetapi pada scene Lam mengejar Laras justru terlihat panasnya setting tempat adegan tersebut diambil, lalu munculnya Arie Untung sebagai kepala sekolah dan Fenita Arie sebagai presenter berita juga terkesan agak dipaksakan, kemudian foto dua perempuan yang dipasang di dinding kantor kepolisian (yang kebetulan saya tahu betul siapa kedua perempuan itu) yang membuat penonton kemudian merasa ada yang janggal, walaupun mungkin hal ini dimaksudkan untuk membuat film ini menjadi terlihat tidak terlalu berat, serta scene ledakan bom yang masih terlihat kasar, atau scene Alif yang terlihat berlebihan saat mengambil jantung sosok „jahat“ yang dilumpuhkannya, secara keseluruhan film “3: Alif, Lam, Mim” ini adalah film yang padat. Banyak issue yang diusung dan digamblangkan lewat dialog-dialog para tokohnya dan scene-scene yang cukup menohok. Konspirasi polisi, politik, dan media, ideologi dan kuasa pemegang modal terhadap media, prasangka dan marginalisasi agama, negosiasi dan ideologi, semua dikemas dengan jujur dan lugas. Ini satu tindakan yang cukup berani diusung dalam film ini di tengah ketatnya pengawasan banyak pihak, seterbuka apapun klaim terhadap Indonesia sekarang.

Selain itu, film 3: Alif, Lam, Mim ini juga didukung oleh pemain-pemain yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Cornelio Sunny walaupun di scene-scene awal agak kurang lepas, tetapi seiring berjalannya cerita dia bisa bermain lepas dan mampu membawakan karakter Alif yang keras. Abimana bermain kalem tetapi cukup mampu menampilkan sosok Lam yang tenang tapi tegas. Agus Kuncoro sangat cocok menjadi Mim dengan karakternya yang tenang tetapi kuat. Prisia Nasution juga tidak diragukan lagi aktingnya sebagai Laras yang misterius, kuat, tetapi sebenarnya rapuh. Tika Bravani juga berhasil menampilkan karakter Gendis yang penyayang, anggun, tetapi pemberani. Cast lain yang bermain apik adalah Verdi Solaiman sebagai rekan sejawat Lam. Dan yang paling mencuri dalam film ini adalah akting Tanta Ginting yang muncul di akhir-akhir cerita. Dia berhasil membalikkan semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sepanjang cerita dengan aktingnya yang dingin, tetapi sangat cerdas, dan gila. Keseluruhan pemain bermain bagus untuk masing-masing karakternya.

Dialog-dialog yang disampaikan dalam film ini pun berbobot, cukup filosofis, tetapi tidak berat. Banyak dialog dilakukan dalam bahasa Inggris, entah kenapa, tetapi mungkin untuk menegaskan bahwa di masa itu Indonesia sudah lebih mengglobal atau mungkin ini juga salah satu cara agar film ini mudah dibawa ke luar Indonesia. Terbukti dengan world premier film 3 ini di Balinale beberapa hari sebelum tayang. Menurut kabar, film ini pun akan dibawa ke Los Angeles.

Saya beruntung, pada tanggal 1 Oktober, sebagai akibat dari keisengan saya berkomentar di akun sosial medianya Tika Bravani, pemeran Gendis, saya dapat berbincang dan bertanya-tanya langsung pada Arie Untung, Cornelio Sunny, Tika Bravani, dan Kang Yudistira dari Perguruan Silat Panglipur dalam diskusi tentang film ini di institusi tempat saya bekerja. Dari hasil perbincangan inilah saya tahu bahwa mereka yang ada di balik dan di depan layar ini adalah orang-orang Indonesia kreatif dan cerdas yang bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa untuk mewujudkan mimpi mereka. Bahkan ide cerita film ini pun, menurut Arie, berasal dari mimpinya Anggy Umbara, yang kemudian berusaha diwujudkan melalui proses panjang diskusi, kerja keras dan kreatif, jatuh bangun, dan pengorbanan lainnya, sehingga mewujud dalam satu karya berisi dan layak tonton. Dari mengurusi jalannya acara diskusi ini juga saya tahu, bahwa –tetap- ada negosiasi antara pemilik modal dan pelaku industri, bahkan negosiasi antara beberapa pemangku kepentingan. Mungkin karena saya menjadi sedikit tahu tentang apa yang ada di balik layar produksi dan promosi film ini, maka saya agak menyesalkan mengapa film ini hanya tayang lebih kurang delapan hari di bioskop-bioskop. Itu pun tidak semua bioskop di Indonesia menayangkan film ini. Hal ini sangat disayangkan, karena menurut saya film ini menjadi semacam pencerahan dan sinyal positif untuk kemunculan film-film Indonesia yang berkualitas. Namun, mengacu kepada ungkapan Arie Untung, film ini memang harus dilihat sampai akhir dengan mata hati dan pikiran terbuka, melihat sesuatu dari beragam perspektif, termasuk melihat situasi bahwa sayangnya industri kreatif di Indonesia masih memarginalkan kualitas dan bahwa pemegang modal tetap menjadi pengendali kuasa. Sayangnya, itu masih menjadi kebenaran, walaupun tidak absolut.

Mungkin, karena itu pula lah saya gemetar usai menonton “3: Alif, Lam, Mim” ini dan saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menuliskannya. Saya sedang dihadapkan pada kebenaran. Yang sering mengge(n)tarkan.

Bandung, 131015, 23:49

Advertisements

2 Gedanken zu „„3: Alif, Lam, Mim“ – Mempertanyakan Kebenaran

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s