Membaca Walidah: Sebuah Catatan (Sangat) Personal

siti-walidah-dahlan-_140225162759-755

Sumber gambar: Republika

Walidah menghampiri saya, melalui Tika saat di akhir Februari kami bertemu dan dia bercerita bahwa dia akan berperan sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Saya senang mendengarnya, tetapi Tika ragu apakah dia mampu memerankan Nyai Ahmad Dahlan dari usia remaja sampai tua. Resikonya terlalu besar. Banyak nama dipertaruhkan, termasuk namanya. Saya tahu peran ini akan berat, tetapi di satu sisi saya merasa jika bukan dia maka siapa? Walaupun demikian, saat itu Tika cukup bersemangat, bertanya apakah judul film ini sebaiknya Nyai Ahmad Dahlan atau Walidah saja. Dia sendiri ingin film ini berjudul Walidah, karena nama itu mencerminkan individunya, bukan sekedar perempuan pendamping Kyai Ahmad Dahlan. Dia ingin orang mengenal Walidah sebagai Walidah. Saya setuju. Tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjuangan Walidah. Dia hanya dikenal sebagai pendiri Aisyiyah. Saya pun hanya tahu sekilas sampai saat berbincang dengan Tika. Oleh karena itu, saya senang tahu bahwa kisah ini akan divisualisasikan, karena sudah layak ada tokoh-tokoh perempuan Indonesia lain yang diangkat ke permukaan.

Walidah menghampiri saya. Pulang bertemu Tika saya mendapat pemberitahuan bahwa abstrak makalah saya diterima untuk dipresentasikan di dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mengambil tempat di gedung Siti Walidah. Bukannya segera membuat makalah untuk acara itu, saya malah mencari tahu lebih banyak lagi tentang Siti Walidah dan mendiskusikannya bersama Tanti, sahabat saya seorang sejarawan dan juga pemerhati film.

Walidah menghampiri saya. Berselang satu hari setelah bertemu Tika di Bandung, malam-malam dia mengirim pesan, bertanya dan meminta bantuan untuk dicarikan referensi tentang situasi sosial budaya masyarakat Jawa terutama perempuannya di abad 19, khususnya lagi perempuan muslim. Kondisi serta situasi Tika saat itu memang cukup darurat, sehingga dia merasa perlu meminta bantuan. Namun, karena pada dasarnya saya adalah penyuka sejarah dan saya pun sudah membaca sedikit tentang Walidah, maka permintaan Tika ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Riset dilakukan. Gampang gampang susah, karena referensi khususnya tentang perempuan muslim di Jawa tidak terlalu banyak. Perbincangan, lebih tepatnya diskusi, dengan Tika berlanjut malam itu. Saya memelajari Walidah lewat pertanyaan-pertanyaan Tika yang cukup kritis: kerudung seperti apa yang digunakan di masa itu? Islam seperti apa yang mereka hayati? Bagaimana penerapannya? Apa yang digunakan orang untuk menulis? Bagaimana rupa kertasnya? Diskusi berlanjut selama beberapa hari karena Tika akan segera shooting. Pertanyaan Tika semakin kritis: jika satu jaman, mengapa Kartini lebih dikenal daripada Walidah? Bagaimana pesan dan nafas perjuangan hak perempuan itu bisa sampai dan sama di mana-mana padahal secara geografis terpisah jauh? Apakah para pejuang itu kenal satu sama lain? Kendaraan apa yang digunakan? – Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar bercanda, tetapi saya melihat ini serius. Saya jadi ikut belajar banyak. Tika pun sempat mengunjungi Kauman, makam Walidah, bertemu dengan keluarganya, dan shalat berjamaah di langgarnya Aisyiyah yang membuatnya terharu. Tika berharap dan tentu ingin memberikan segenap kemampuannya untuk bermain baik menubuhkan kembali Walidah. Saya pun dikiriminya script film ini, yang kemudian saya bahas detil bersama Tanti. Script yang terus terang sangat lemah dan normatif, sehingga tidak memunculkan sama sekali semangat dan inti perjuangan Walidah. Jika boleh saya bilang: tidak layak untuk sebuah film tentang sosok kharismatik bernama Walidah. Saya tahu film ini dibuat dengan misi khusus. Namun, alangkah sayangnya jika kedalaman kisah tokoh ini tidak tergali hanya karena misi tersebut. Tanti dan saya akhirnya merasa „bertanggung jawab“ untuk ikut „membantu“ dan merekonstruksi sejarah Walidah. Mungkin karena kami akademisi, ditambah lagi karena film sejarah tentu perlu riset yang lebih dalam dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya sekedar sarana penyampaian misi tadi. Apalagi kami melihat keseriusan Tika dalam mempersiapkan dirinya dan kami pun menumpukan harapan pada Tika minimal untuk menutupi kelemahan naskah film ini. Kami membaca lebih banyak lagi tentang Walidah dari referensi-referensi sejaman. Dari situ kami mendapat kesan: dia perempuan keras hati dan hebat. Keseriusan Tika –dan mungkin ditambah kepanikan- dilanjut lagi dengan diskusi di rumahnya. Membahas kembali detil yang ada dari mulai bunga dandelion, kata-kata yang digunakan masa itu, sampai sapaan yang digunakan Ahmad Dahlan dan Walidah.

***

Saya membaca Siti Walidah, yang lahir pada tahun 1872 dan meninggal pada tahun 1946, sebagai sosok perempuan yang penuh rasa ingin tahu, cerdas, keras hati, bersemangat tinggi, terstruktur, dominan, tetapi sangat peka dan peduli. Katupan bibirnya yang kuat serta sorot mata yang tajam menandakan ini. Hidup menempanya dengan keras. Terlahir dari keluarga ulama, Kyai Fadhil adalah kyai yang disegani dan dekat dengan keluarga kraton. Menikah dengan Darwis, kemudian dikenal sebagai Ahmad Dahlan, seorang tokoh penggerak dan pembaharu yang cukup ekstrem pada masa itu: mengganti arah kiblat Masjid Gede yang selama itu salah, mendirikan sekolah dan rumah sakit yang kemudian menjadi tujuan dan sarana dakwah utama organisasi Muhammadiyah ini, menjalankan Islam yang murni. Walidah yang mematahkan biola yang dimainkan anaknya, yang berkata bahwa dia rela jika kehilangan anak yang melupakan waktu shalat walaupun itu anaknya sendiri, dia yang rela memberikan perhiasan-perhiasan miliknya untuk dijadikan modal perjuangan Muhammadiyah, mendirikan Bustanul Athfal cikal bakal pendidikan anak usia dini di Indonesia, mengungkapkan dan memperjuangkan ide bahwa perempuan itu harus pintar dan perjuangan perempuan itu dimulai dari rumah, mendirikan mushola pertama untuk perempuan dan membangun asrama untuk perempuan-perempuan yang ingin belajar mengaji, baca tulis, dan ilmu agama, perempuan yang tetap memasak dan mengurus rumah tetapi juga berorganisasi dengan mendirikan Aisyiyah dan berniaga dengan batiknya. Walidah: perempuan yang mau banyak dan bisa banyak. Dia yang membuat Ahmad Dahlan akhirnya berpoligami karena merasa tidak mampu lagi mengimbangi dan membendung kecerdasan Walidah. Kecerdasan dan semangat yang justru semakin membuncah seiring dengan kekecewaannya melihat suaminya berpoligami, walaupun dia tahu benar bahwa dalam ajaran Islam yang dia pahami, berpoligami itu diperbolehkan. Namun, Walidah tetaplah perempuan berhati luas yang pastinya juga terluka karena itu. Luka yang membuatnya semakin kuat. Perempuan hebat yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur, serta tahu kapasitas dirinya yang lebih baik menjadi penasihat dibandingkan menjadi pemimpin di muka dengan meminta Siti Munjiyah untuk menjadi Ketua Aisyiyah pertama, karena Munjiyah bisa menulis dan membaca huruf latin, sedangkan dia tidak. Perempuan yang menganggap bahwa kemerdekaan itu adalah awal dari perjuangan panjang, bukan akhir dari perjuangan yang harus dirayakan dengan gegap gempita. Perempuan berkemauan keras, berusaha keras, tetapi berjiwa besar dan lapang, yang membuatnya layak mendapat gelar pahlawan.

***

Walidah menghampiri saya. Satu hari setelah Tika menyelesaikan shooting film ini di Jogja, saya bersama teman-teman ke Kauman. Keinginan spontan untuk mengunjungi sisi Jogja yang lain, sebelum mengikuti seminar di Solo, di Gedung Siti Walidah. Kami mengunjungi langgar, tempat mengaji, tempat berkumpul, rumah Ahmad Dahlan saat itu, dan makam Walidah, untuk merasakan kembali aura kehidupan di Kauman masa itu dan masih dijaga sampai sekarang. Kampung yang resik. Kami beristirahat dan shalat di Masjid Gedhe Kauman yang indah, merasakan betapa kecilnya sebenarnya manusia. Dari kunjungan itu lah saya paham, bagaimana peran Walidah dan Ahmad Dahlan dalam membentuk masyarakat yang di kemudian hari menjadi basis kuat bagi berkembangnya organisasi Muhammadiyah: pendidikan itu dimulai dari dan untuk keluarga serta dari dan untuk lingkungan sekitar terdekat. Kuat di situ, maka akan mudah memperkuat diri dan organisasi di luar.

Walidah menghampiri saya. Film tentang Walidah tayang dan memang sudah seperti saya duga akan demikian lemah jadinya. Namun, bukankah jika tidak ingin kecewa terlalu besar, maka jangan juga menaruh harapan terlalu besar? Film adalah film. Walidah harus dibaca lebih daripada sekadar karya sinematografi yang acak-acakan, script yang lemah, dengan atau tanpa pesan dan intervensi sponsor. Walidah terlalu berharga untuk sekedar dilihat dari ribuan tiket yang terjual. Maka orang seharusnya dapat membuka mata dan hatinya untuk membaca Walidah. Membaca hati dan alam pikirannya, membaca keinginan dan harapannya, karena saya merasa miris ketika ada sekelompok orang yang „terlalu“ kagum pada figur Kyai Ahmad Dahlan dan Walidah sehingga menuntut orang yang “menjadi” mereka harus seperti figur yang dikaguminya. Kekaguman yang membutakan. Militansi tanpa arah. Bukankah berkaca pada diri sendiri rasanya lebih elok daripada menghujat? Bukankah merefleksikan dan merealisasikan pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan dan Walidah rasanya lebih masuk akal daripada sibuk mencari kesalahan orang? Bukankah membaca adalah kunci untuk membuka mata hati dan pikiran? Dan bukankah memang itu yang diperjuangkan Ahmad Dahlan dan Walidah sejak awal: menjadikan umat Islam umat yang cerdas dan pintar? Umat yang mampu menjadi dirinya sendiri, tetapi peka dan berempati pada yang lain?

Walidah menghampiri saya. Saya bersyukur dan berterima kasih karena Tika sudah mengerahkan segenap kemampuannya di tengah segala keterbatasan dan kendala yang ada untuk menubuhkan kembali Walidah. Dia menepati janjinya: jika bukan dia yang melakukannya, maka siapa lagi. Jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu sudah di luar kuasanya, di luar kuasa kami, ketika beberapa saran kami tak terperhatikan.

Walidah menghampiri saya untuk dibaca. Maka saya pun membaca Walidah, karena yang saya lihat darinya adalah dunia. Dunia yang masih luas membentang untuk dikaji dan dibaca. Walidah hanya ingin menjadi cerdas dan pintar, agar dia dapat membuat rumah dan dunianya juga menjadi cerdas dan pintar. Maka alangkah sayangnya, jika Walidah hanya jadi sekadar nama  yang dipuja membabi buta, tetapi menafikkan jiwa, hati, dan semangatnya.

Bandung, 240817

Advertisements

„Ziarah“ Berkisah

ziarah

(Sumber gambar: youtube)

Mbah Sri menyapu nisan sebuah makam pahlawan tak dikenal yang gugur saat perang kemerdekaan. Setelah puluhan kala, Mbah Sri baru diberi kabar bahwa itu ternyata bukan makam suaminya. Sejak saat itulah Mbah Sri mencari makam sang suami tercinta dengan niat ingin dimakamkan di sampingnya. Niat sederhana yang membawa tubuh rentanya tertatih menelusuri jalan sendirian, naik turun bukit melewati sawah dan menyeberang dengan sampan, bertemu dengan orang-orang yang membawa kisahnya masing-masing. Pun tentang kisah Mbah Sri yang rumahnya diberondong peluru saat suaminya pergi berjuang dan lalu berpesan, jika dia tak kembali, Mbah Sri harus merelakannya. Mbah Sri setia pada suaminya, tetap sendiri sampai tua, tetapi ikhlas melepas suaminya mungkin belum terlalu luas hatinya, karena tak datang kabar membuat harapnya tetap ada. Maka dia berjalan mencari makam, untuk menuntaskan janji setianya. Keris kecil miliknya harus menemukan kembali pasangannya. Perjalanan berulang, bahkan disesatkan, karena ternyata kisah tak seperti yang dibayangkannya. Jikalau suaminya ternyata bukan pahlawan yang mati tertembak, toh dia tetap lelaki terpenting dalam hidupnya. Pun jika ternyata sudah ada makam lain di samping makam suaminya. Mbah Sri menyapu dan membersihkan makam dengan pelahan dalam diam. Menabur mawar. Dan dua lahan makam bersebelahan sedang disiapkan.  

***

Film yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara ini bertema sederhana, tanpa konflik yang berlipat-lipat, tetapi tujuannya jelas: kisah seorang perempuan renta bernama Mbah Sri (Ponco Sutiyem) yang berjalan mencari makam suaminya. Tanpa bintang-bintang muda yang cantik, ganteng, dan terkenal, bahkan tokoh utamanya diperankan oleh seorang perempuan tua berusia 95 tahun, film „Ziarah“ ini mampu membuat saya duduk terpaku dan keluar dari bioskop dengan tangan gemetar dan air mata yang sedikit menetes. Bukan sedih, bukan pula bahagia, tetapi lebih kepada perasaan lega setelah mengikuti perjalanan seorang nenek renta mewujudkan niat sederhananya. Jika pada akhirnya kenyataan yang ditemui tak sesuai dengan harapannya, tetapi itulah hidup yang sering tak terduga kisahnya. Siap tak siap, harus diterima.

„Ziarah“ tidak berkisah tentang kematian an sich, walaupun film ini diawali dengan lemparan tanah ke liang lahat dan Leitmotiv kematian serta pemakaman beragam orang karena sebab kematian yang berbeda, lalu berujung di pemakaman juga. „Ziarah“ berkisah sesuai makna katanya yaitu pergi menuju suatu tempat untuk menengok seseorang, termasuk juga kisahnya. „Ziarah“ bicara tentang hidup Mbah Sri yang sederhana yang kemudian beririsan dengan banyak hal dan peristiwa: agresi militer Belanda ke II, peristiwa 65, penenggelaman desa karena pembangunan Waduk Kedung Ombo, sampai dengan peristiwa perselingkuhan yang membuat seorang istri mengakhiri hidupnya. „Ziarah“ adalah perjalanan paralel Mbah Sri, Prapto –cucunya- (Rukman Rosadi), dan orang-orang lain yang mereka temui selama perjalanan mencari makam Prawiro –suami Mbah Sri-.

„Ziarah“ memang film yang sederhana. Tanpa setting yang spektakuler, bahkan kamera cukup sering menyorot gersangnya tanah di seputaran Gunung Kidul, tetapi tetap mampu menangkap keindahan sawah, bukit, gunung serta awan di daerah Wonogiri dengan pas. Tone warna pun pas dengan warna-warna didominasi warna tanah dan alam yang natural. Acting pemainnya semua benar-benar mengalir alami begitu saja, seolah mereka tak menghafal dialog, tetapi itu adalah percakapan keseharian mereka, padahal tidak ada pemain profesional yang terkenal di film ini. Scriptnya kuat dengan alurnya yang maju pelahan, tetapi jelas, tidak multikonflik, biasa saja. Bahkan penonton kadang dibiarkan hening sesaat untuk menikmati kisah yang dialognya 99% dilakukan dalam Bahasa Jawa, tetapi itu tidak mengganggu karena memang demikianlah adanya, bahkan dialognya terasa sangat filosofis. Penonton seperti sedang menyaksikan film semidokumenter karena kealamian dan kesederhanaan film ini, padahal ini adalah kisah fiksi. „Ziarah“ mampu mengemas dan menuntun penonton untuk mengikuti perjalanan kisah sederhana ini dengan kesederhanaan yang indah, metaforis, dengan akhir yang sama sekali tak terduga. Namun, itu semua sama sekali tidak mengganggu, bahkan –seperti yang saya sebutkan sebelumnya di atas- membawa kelegaan karena sebuah perjalanan akhirnya menemukan „akhirnya“, sepahit apa pun akhir perjalanan itu.

„Ziarah“ berkisah tentang hidup.  Seperti kisah nenek buyut saya yang merelakan suaminya menikahi perempuan lain, seperti kisah Emak saya yang matanya buta sebelah karena terserempet peluru saat mengungsi ke Bandung Selatan, seperti juga kisah Mbah Kakung saya yang pergi menyusul istrinya di hari ke 40 setelah istrinya meninggal, pun seperti kisah anak-anak seusia SMP yang beramai-ramai urunan uang recehan untuk membeli tiket film „Ziarah“ dan mereka menonton filmnya dengan serius. Berusaha, memaafkan, menerima, dan berdamai adalah  „kemenangan“ terbesar dari perjuangan yang ditemui dalam perjalanan hidup. Itu pun jika hidup kadang dimaknai sebagai „menang“ atau „kalah“ yang didapat dengan melepaskan hal-hal yang membebaninya. Demikianlah „Ziarah“ berkisah.

Bandung, 220517

Athirah: Kekuatan yang Lirih (Sebuah Catatan yang Tak Pernah Terlambat)

athirah

(Sumber gambar: Media Indonesia)

Semalam saya senang juga terharu melihat Athirah menjadi film terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2016, menjadi film yang juga mendapat Piala Citra terbanyak. Saya yang memang sedang gampang terharu juga ikut terharu saat Cut Mini, Riri Riza, dan Mira Lesmana menyampaikan sambutannya dan juga merasakan perasaan gegap gempita saat semua pendukung film Athirah termasuk yang di belakang layarnya naik ke panggung untuk menerima Piala Citra bagi film terbaik tahun 2016. Siapa saya? Mengapa saya yang sebenarnya sudah tahu pula sebelumnya bahwa Athirah menjadi film terbaik sampai rela begadang untuk menyaksikan momen tersebut di televisi? Entahlah. Mungkin karena saya merasa senang karena saya telah ikut menjadi sebagian kecil dari sedikit penonton Athirah yang menyaksikan film ini di hari pertamanya tayang  di bioskop, yaitu tanggal 29 September 2016, yang layaknya menonton di bioskop pribadi. Sebelumnya seorang ibu di depan pintu masuk teater bertanya atau lebih tepatnya mempertanyakan mengapa film bagus seperti Athirah hanya ditonton oleh sedikit orang. Saat itu saya tidak banyak berkomentar karena saya belum menontonnya. Terus terang, walaupun saya penasaran, awalnya  saya juga tidak berharap banyak dari film ini. Berkisah tentang ibu dari orang nomor 2 di Indonesia, mungkin hanya sekedar biopic seperti film-film biopic kebanyakan. Namun, saya keliru.

Perlu waktu beberapa saat bagi saya untuk menyadari bahwa film ini sangat lirih. Alur cerita mengalun dengan tempo yang cukup lambat, tetapi tidak membosankan. Walaupun perlu beberapa saat juga untuk saya menyadari bahwa si Ucu baru bicara pada saat dia di sekolah mencari informasi tentang Ida. Itu pun hanya sepatah dua patah kata. Namun, itu ternyata tidak mengganggu saya, karena saya masih dapat mengikuti kisahnya. Tokoh Athirah dan tokoh-tokoh lainnya pun tidak banyak bicara. Kamera lebih banyak menyoroti piring dan mangkuk-mangkuk berisi masakan yang lezat secara berganti-ganti, menyoroti  sawah, sarung-sarung, juga sangat intens merekam sorot mata, ekspresi wajah, dan senyum Athirah, serta tokoh-tokoh lainnya. Ya, sampai film berakhir pun Athirah adalah film yang konsisten menjaga kelirihannya. Pun lewat tata suara dan scoring musik yang tidak meledak-ledak, tetapi mengalir lirih walaupun kadang temponya agak cepat.

Film Athirah bermain simbol yang dijalin dengan manis oleh seseorang Riri Riza. Simbol-simbol feminin dimunculkan lewat perlengkapan makan di meja makan lengkap dengan masakannya, dapur dan alat-alat memasak, sarung warna-warni yang sedang ditenun dan dijemur, lewat subang yang dipasang di telinga dan gelang yang dipasang di tangan, lewat gerakan-gerakan halus seorang Athirah saat berjalan dan berbicara. Athirah memang film tentang ibu. Ibu yang memberi nafas hidup seperti padi yang tumbuh di pesawahan yang berganti-ganti disorot kamera tanpa suara. Ibu yang menenun dan mempererat tali cinta dalam keluarga seperti tenunan sarung warna-warni yang indah namun kuat. Ibu yang memperkaya dan memperindah hidup seperti perhiasan emas yang indah dan dikumpulkan Athirah. Perhiasan yang justru menjadikannya begitu kuat dan berharga di hadapan suaminya yang tiba-tiba duduk merungkut mengecil di depan Athirah, perempuan yang telah tercabik hatinya karena dipoligami, namun dia tidak mau hancur di masa lalu, karena hidup adalah tentang saat ini dan nanti. Kekuatan yang disampaikan tanpa perlawanan membabi buta dan tanpa tangisan menderu dera, tetapi lirih mengalun seperti desir padi tertiup angin atau seperti lambaian sarung-sarung indah yang sedang dijemur. Riri menjalin semua itu dengan sangat baik dan dengan sangat baik juga diinterpretasikan dalam bahasa gambar dan permainan manis namun kuat dari Cut Mini dan pemain lainnya.

Tidak ada pihak yang disalahkan dalam Athirah. Athirah juga berhasil menghilangkan stereotype budaya Sulawesi yang keras: tidak ada parang, tidak ada kata-kata dan teriakan yang keras. Dalam Athirah semua berjalan seperti hidup yang juga tidak selalu mulus, tetapi tetap harus dijalani. Penonton dibiarkan menilainya sendiri, tanpa harus digurui lewat dialog atau tuturan para tokohnya. Oleh karena itu, untuk saya Athirah adalah film yang cerdas dan indah, yang membawa saya berpikir tetapi tetap bisa dinikmati.

Dan saya pada akhirnya membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk akhirnya dapat menuliskan sedikit kesan saya tentang film ini. Sudah banyak yang membuat reviewnya, saya mungkin hanya menambah sedikit catatan dari banyak catatan yang memuji film ini. Namun, tidak pernah ada kata terlambat, karena sampai pada tadi malam saya justru merasa ikut senang sekaligus bangga karena saat itu saya mengambil keputusan yang tepat segera menyaksikan film bagus ini, di saat orang-orang tidak menyadari bahwa ada kekuatan yang lirih dan indah pada film Athirah. Saat ini, barulah penyesalan datang pada mereka yang tak sempat menyaksikannya dulu di bioskop. Namun, pada akhirnya pilihan memang tetap ada di penonton untuk memutuskan film apa yang ingin mereka lihat. Seperti Athirah yang memilih tetap bertahan walaupun dipoligami, saya pun saat itu –lepas dari film ini berkisah tentang siapa- ternyata bertahan menyaksikannya sampai akhir dan keluar dengan kesan: ini film yang indah.

Bandung, 071116

Ironi Hitam Putih „SITI“

SITI

Sumber gambar: Wikipedia

SITI berlari. Bilik karaoke tempatnya bekerja digerebek polisi. Berusaha lari ke kamar mandi, SITI tetap diinterogasi, sampai SITI tak kuat lagi berdiri. Tubuhnya jatuh lunglai tak kuat menopang diri. Kisah beralih pada rumah bilik SITI yang sempit saat SITI menggoreng rempeyek jengking. Ibu mertuanya memanggil karena anak SITI tak mau bangkit, padahal hari sudah tinggi. Tak berlama-lama SITI memangku sang buah hati, memintanya mandi, tetapi si anak malah berlari menuju gumuk pasir. SITI mengejarnya tertatih-tatih, namun kalah cepat dari sang buah hati. Sang buah hati tak mau pergi. Dia jeri, karena katanya di sekolah ada hantu suka menghampiri. Mungkin dengan seragam baru yang dibelikan SITI, si hantu bisa jadi malah takut menakuti. Sang buah hati mengerti. Ke sekolah dia pergi, tetapi tetap tak mau pamit pada ayahnya yang hanya bisa berbaring. Pun sang ayah tak mau bicara karena kesal hati pada SITI yang bekerja di bilik karaoke di malam hari. Padahal SITI tak ingin. Hutang sang suami harus dilunasi. Saat ini hanya dia yang harus mencari cara agar keluarganya tak mati. Siang berjualan rempeyek jengking dan malam hari bekerja walau tak sesuai dengan keinginan hati. Namun, hutang sang suami tetap harus dilunasi. Suami yang akhirnya hanya bisa berbaring, karena kecelakaan melumpuhkan diri. SITI terpaksa meladeni para petinggi polisi. Hatinya tak ingin, tetapi dia juga butuh kantongnya diisi, karena hidup tak bisa menunggunya berhenti atau sejenak melonggarkan hati. SITI ingin pergi, karena katanya dia jatuh hati pada seorang polisi, yang tampan menarik hati, dengan kantong penuh terisi. SITI meminta sang suami merelakan dia pergi. Akhirnya sang suami pun menyuruh SITI pergi. Kata pertama dan satu-satunya yang keluar dari bibir yang lama terkunci. SITI pun pergi di dini hari, menuju laut Parangtritis yang sunyi.

***

Film berdurasi 88 menit karya Eddie Cahyono dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini sudah mendulang banyak prestasi dan review positif. Tayang pertama kali di tahun 2014 dalam sebuah festival film independen di Jogja dan terakhir menjadi film terbaik FFI 2015, akhirnya tayang di bioskop komersial beberapa hari lalu. Tak banyak yang bisa saya tulis di sini karena saya hanya akan mengamini banyak review positif tentang film ini. Satu kalimat saja rasanya sudah cukup untuk menambah review tersebut: film bagus dan layak menang. Tak ada cacat? Dari sekian banyak hal yang sudah pas tepat takarannya, mungkin sound film ini yang agak mengganggu. Entah karena audio system di salah satu studio di bioskop XXI di kota Bandung ini yang jelek dan sepertinya agak bocor atau karena kualitas sound film ini yang terdengar agak terlalu keras dan kasar. Entahlah. Namun, lepas dari itu semua saya sangat terkesan pada pilihan warna monochrome hitam putih dalam film ini serta pengambilan gambar dengan tarikan extra zoom in menuju long shots pada scene yang tepat menimbulkan efek debar, debur, sekaligus hening, sunyi, dan sepi. Deburan ombak yang sangat jelas memperlihatkan butiran-butiran buihnya dan lekukan-lekukan airnya atau kamera yang semakin menyorot jauh SITI (Sekar Sari) yang berlari mengejar anaknya ke gumuk pasir, sehingga hanya ada siluet mereka berdua di kejauhan, buat saya ini sangat romantis. Seromantis saat Bagas (Bintang Timur) meminta SITI bermain layangan dengannya di tepi pantai Parangtritis. Blocking dua pemain ini sempurna berada di bingkai gambar 4:3.

SITI buat saya adalah film romantis dengan tone warna monochromenya, sekaligus juga memberikan kesan ironis seperti hidup SITI yang putih di siang hari dan hitam di malam hari. Perjalanan kamera yang menyorot rumah bilik SITI ke sana ke mari mempertegas sempitnya ruang pilihan hidup SITI. Ekspresi wajah dan gerak para pemainnya –yang tidak banyak orang mengenalnya- sangat wajar dan apa adanya. Mereka tidak sedang beracting, mereka sedang memainkan kisah hidup yang nyata terjadi pada banyak SITI yang lain.

Penggunaan 99% Bahasa Jawa dalam film ini juga tidak mengganggu saya, karena memang konteks dan narasi film ini menuntutnya demikian, bahkan semakin mempertegas tema, latar belakang, dan narasi kisah. Sebagai orang berdarah Jawa yang tidak mengerti Bahasa Jawa saya terbantu oleh subtitle dalam Bahasa Indonesia, sekaligus juga sedikit-sedikit berusaha mengerti apa yang dibicarakan. Hal ini tentu tidak hanya berguna untuk saya, tetapi juga untuk semua yang membutuhkan bantuan untuk memahami kisah dalam film ini.

Seperti hidup SITI yang sarat dengan ironi, saya juga melihat banyak ironi yang terjadi dalam industri film di Indonesia, terutama yang terjadi pada film SITI. Film ini menang di beberapa festival, tetapi sudah hampir bisa dipastikan bahwa dia akan “kalah” di saat harus berhadapan dengan industri. Di Bandung film ini hanya diputar di satu bioskop XXI dengan jam tayang 4 kali. Sudah hampir dapat dipastikan penonton film ini pun hanya akan bisa dihitung dengan jari. Masih untung kemarin saat saya menontonnya ada 9 orang penonton lain yang ikut menonton, karena saya sebelumnya pernah berada sendirian dalam studio saat menonton sebuah film. Sayang sekali, tetapi memang demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan penonton Indonesia –dan mungkin juga penonton bioskop di belahan dunia manapun- lebih senang menonton film ringan tertawa haha hihi, lebih senang menonton film dengan teknologi dan efek canggih, lebih senang melihat wajah-wajah cakap dan cantik muncul di layar, lebih senang melihat keindahan dunia luar dibandingkan dengan menyaksikan indahnya pemandangan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang hening, lebih senang menonton film dengan judul berbahasa Inggris dan dialog campur aduk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sama sekali tak mendukung kisah dibandingkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah secara utuh, lebih senang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pemandangan indah di luar negeri dibandingkan dengan mengoptimalkan kisah dan keindahan alami negeri sendiri, atau juga mungkin lebih senang akan kisah multiplot berpilin-pilin dibandingkan dengan kisah sederhana tentang satu hari dalam hidup seseorang, tetapi digarap dan diolah dengan emosi maksimal. Sayangnya memang begitu kenyataannya.

Maka ketika film SITI ini tayang, saya hanya bisa terpana dan menghela nafas. Ini film yang amat sangat layak dilihat. Selain masalah sound tadi, semua hal yang mendukung film ini dari mulai dari tema, pengambilan gambar, scoring musik, sampai penyuntingan dan make up berada pas pada takarannya. Tak perlu pemain-pemain tampan dan cantik atau pengambilan gambar di negara-negara dan tempat-tempat tujuan turis, yang alhasil malah jadi seperti mempromosikan mereka, film SITI ini menampilkan dengan sempurna keindahan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang sepi, tetapi penuh dengan ironi. Ini film tentang hidup, dengan SITI sebagai yang menghidupinya.

***

Itu sepenggal kisah SITI, yang sehari-hari berjualan rempeyek jengking dan malam hari menjadi orang lain: demi hidup dan utang yang harus dilunasi. Namun, ini juga tentang SITI dengan hitam putihnya ironi kreatifitas dan industri.

Bandung, 300116

Bulan (Di)(Ter)belah: Akhir Trilogi yang Dipaksakan

Film-Bulan-Terbelah-di-Langit-Amerika-200x290

Sumber gambar: movie.co.id

Terus terang saya agak sulit untuk menuliskan sesuatu yang tidak saya suka, terutama untuk urusan film, buku, atau musik. Apalagi jika kemudian sudah ada pendapat yang tidak terlalu bagus tentang film, buku, atau musik tersebut. Namun, saya pikir kali ini saya ingin mencoba objektif terhadap apa yang tidak saya sukai dengan cara menuliskannya di sini. Baiklah, saya coba.

Jadi minggu lalu saya cukup rajin menonton film. Ada tiga film Indonesia yang saya tonton, yaitu: “Negeri van Oranje”, “Ngenest”, dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Itu semua sebenarnya bukan genre film yang betul-betul ingin saya tonton, karena rasanya saya sudah bisa menebak bagaimana filmnya, castnya, scriptnya, dll. Namun, seperti yang saya tulis sebelumnya, saat ini saya sedang ingin mencoba objektif dengan cara tidak menonton film yang benar-benar ingin saya tonton saja, tetapi juga film lainnya. “Negeri van Oranje” akan saya tulis di tulisan lain dalam blog ini. Begitu juga dengan “Ngenest”. Sekarang saya akan fokus dulu pada “Bulan Terbelah di Langit Amerika” (BTdLA).

BTdLA ini adalah bagian ketiga dari trilogi kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra, setelah sebelumnya kisah mereka difilmkan dalam “99 Cahaya di Eropa” dan “99 Cahaya di Eropa 2”. Terus terang, dulu saya mungkin agak menaruh harapan lebih pada “99 Cahaya di Eropa” dan ternyata dikecewakan oleh script dan dialog yang sangat normatif dan malah terasa artifisial, mengada-ngada, klise. Cast di film itu sebenarnya bermain cukup bagus (Abimana, Acha Septriasa, Alex Abbad, Nino Fernandez, Dewi Sandra, dan Raline Shah), tetapi karena tidak ditunjang dengan script yang bagus, akhirnya kemampuan para pemainnya terlibas oleh ketidaklogisan alur cerita yang muncul lebih dominan, setting yang sepertinya dibuat tanpa survey (apartemen mahasiswa penerima beasiswa yang cukup mewah, ruang kerja dosen yang berupa saal kuliah , dll), selain tentu saja yang mungkin positif adalah suguhan pemandangan Eropa yang cantik dan boots serta coats yang keren. Oh ya, satu lagi, mungkin bagus untuk sedikit belajar Bahasa Jerman, hehe. Berdasarkan pengalaman itu akhirnya “99 Cahaya di Eropa 2” tidak saya lihat di bioskop, tapi sekilas saja ditonton kemudian di tv. Saya malas.

Lalu mengapa akhirnya saya menonton BTdLA? Terus terang saya pun tidak berharap lebih, walaupun Rizal Mantovani yang menjadi sutradaranya. Sebelumnya saya agak kecewa juga pada Rizal setelah menonton “Supernova”, tetapi saya mencoba berharap bahwa minimal dari sudut pengambilan gambar ada yang bisa saya “lihat” di BTdLA, karena “Supernova” cukup “terbantu” dengan gambar pemandangan yang bagus yang dibuat Rizal. Bagaimana dengan BTdLA? Untuk menjawabnya saya harus menontonnya dulu, walaupun seorang sahabat bercerita, ibunya tertidur di 10 menit pertama film ini main dan sahabat yang lain berkisah, bahwa banyak adegan tidak logis dalam film ini.

Maka saya datang ke bioskop dan sayangnya saya juga sudah dalam kondisi mengantuk setelah bekerja. Kondisi bioskop yang gelap dan sejuk mendukung ini semua. Apalagi di awal-awal saya disuguhi scene narasi tentang situasi ulang tahun sebuah keluarga di Amerika: ayah keturunan Timur Tengah, ibu seorang mualaf Amerika. Penggambaran keluarga ideal. Sang ibu (Rianti Cartwright) berkerudung dan merekam terus suasana ulang tahun, sampai dia –entah dengan maksud apa- mengikuti suaminya yang sedang menerima telefon dan merekamnya. Ini yang menjadi awal masalah yang terjadi kemudian. Dan sialnya, sebagai orang bahasa, saya selalu merasa terganggu oleh film yang menggunakan bahasa asing yang sepotong-sepotong. Mengapa harus dipaksakan ada bahasa asing dicampur bahasa Indonesia padahal dikisahkan keluarga ini adalah murni keluarga Amerika, bukan Indonesia atau keluarga campuran Indo? Bahasa di sini akhirnya bukan menjadi penunjang cerita, tapi malah menjadi tempelan yang justru mengganggu. Menurut saya penggunaan subtitle mungkin masih akan lebih baik.

Kemudian narasi beralih pada tokoh utama Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya). Hanum yang sudah menjadi jurnalis ditugasi untuk mewawancarai Azima Hussein (Rianti Cartwright) di New York yang suaminya diduga terlibat dalam peristiwa 9/11. Sedangkan Rangga kebetulan ditugaskan untuk mewawancari dan meminta seorang milyuner untuk datang ke Wina. Cerita kemudian bergulir lambat ke narasi kisah Azima dan Sarah, Hanum dan Rangga, Stefan (Nino Fernandez) dan Jasmine (Hannah Al Rasyid), Stefan dan Rangga, dan tokoh kunci lainnya seorang milyuner dan philantropis bernama Phillipus Brown. Kisah dibuat multiplot dengan masing-masing permasalahan tokohnya, serta alur yang maju mundur, tetapi niat utamanya sebenarnya mengacu pada dampak peristiwa 9/11 terhadap umat Islam, khususnya di Amerika.

Seperti juga dua kisah sebelumnya yang mengangkat permasalahan Islam sebagai agama minoritas di Eropa dan Amerika, serta “perlakuan” diskriminatif terhadap Islam dan orang Islam, BTdLA juga masih mengusung tema ini. Dan seperti juga dua kisah sebelumnya yang menurut saya terlalu banyak kebetulannya dan terlalu “memaksakan” diri untuk membentuk “citra”positif toleransi antarumat beragama, BTdLA pun sama. Sebegitu mudahnya orang berprasangka dan berlaku diskriminatif, sebegitu mudahnya pula pandangan dan perlakuan tersebut berubah menjadi sangat positif, hanya karena pidato seorang milyuner di depan tv. Pidato yang sangat membosankan menurut saya karena dilakukan dengan amat sangat lambat seolah-olah sedang belajar membaca. Secara kebetulan, isi pidatonya pun tentang bagaimana suami Azima Hussein menolong dan mengubah hidupnya. Suatu kebetulan –yang mungkin sebenarnya bisa saja terjadi- tapi agak aneh saja menurut saya jika dilakukan di tengah suasana panik luar biasa karena gedung pencakar langit itu tiba-tiba dibom dan runtuh.

Kebetulan-kebetulan ini yang menurut saya terlalu dipaksakan masuk ke dalam script kisah dengan maksud membuat “citra” Islam menjadi baik, tetapi tidak memikirkan logika dalam penyampaiannya. Alih-alih maksudnya sampai, saya malah mengerutkan kening. Misalnya saya teringat pada satu scene di film “99 Cahaya di Langit Eropa” saat Hanum berbincang dengan setting di menara Eiffel. Suasana menara Eiffel yang begitu sepi itu amat sangat tidak mungkin terjadi. Menara ini adalah salah satu menara yang selalu penuh dikunjungi orang. Kemudian jika dari menara Eiffel ditarik garis lurus ke arah Arc de Triomphè dan kemudian ditarik garis lurus lagi maka tarikan garis itu –katanya- akan lurus dengan Ka’bah. Kebetulan? Tidak cukup masuk logika saya, sayangnya. Kebetulan-kebetulan yang sama juga terjadi dengan BTdLA. Kebetulan map Hanum tertinggal di mobil dan ditemukan oleh seorang pemimpin demonstran antiIslam, seolah-olah map itu penting baginya, tapi pada perkembangan kisah selanjutnya map dan isinya itu ternyata tidak berarti apapun. Agak tidak masuk logika saya juga jika Azima bertetangga dengan seorang Amerika yang tidak suka pada Islam dan orang Islam setelah peristiwa 9/11, kemudian sikapnya berubah drastis setelah menonton tayangan pidato sang milyuner. Lalu secara kebetulan Rangga bertemu dengan sang milyuner karena mengajukan pertanyaan “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam” sekaligus memberi informasi tentang keberadaan Azima Hussein. Kebetulan saat Hanum diganggu oleh sekelompok anak muda di jalanan New York dan dibantu oleh seorang biarawati, yang akhirnya mereka berdua tetap saja diganggu oleh anak jalanan tersebut. Dan kebetulan-kebetulan lain yang untuk saya rasanya terlalu banyak.

Cast yang bermain dalam BTdLA ini juga tidak terlalu istimewa. Abimana tetap menjadi Abimana di situ. Saya tidak melihat perbedaan yang signifikan antara dia sebagai Rangga atau dia sebagai Wicak di film Negeri van Oranje yang saya lihat sehari sebelumnya. Acha Septriasa bermain agak lebay, maaf. Saya malah justru merasa lebih nyaman dengan acting Hannah al Rasyid yang terlihat santai berperan sebagai Jasmine. Nino Fernandez pun masih cukup menghibur sebagai Stefan walaupun kenyinyirannya sedikit berkurang. Rianti Cartwright juga masih belum bisa melepaskan image Aisha dalam Ayat-ayat Cinta dari perannya sebagai Azima Hussein dalam film ini. Pemeran-pemeran pembantu lainnya ya begitulah. Rasanya di Indonesia masih bisa didapatkan pemeran extras yang lebih baik.

Melihat keseluruhan film ini, ternyata pada akhirnya saya memang tidak bisa memberikan penilaian objektif. Mungkin karena saya pernah bertahun-tahun berada dan menjadi kelompok minoritas di Eropa dan saat peristiwa 9/11 itu saya –Islam, berkerudung, perempuan, Asia- juga sedang berada di Jerman, saya tahu betul bagaimana pandangan orang-orang terhadap Islam dan orang Islam itu terbangun. Tidak semuanya bagus, tapi tidak semuanya jelek. Yang paling banyak adalah abu-abu. Saya juga tahu betul rasanya membangun kebanggaan terhadap agama saya sendiri –Islam- di tengah gempuran berita-berita negatif tentang agama saya. Namun, saya juga tahu betul konflik batin dalam diri saya saat saya bertanya pada diri saya sendiri: Apa itu Islam? Mengapa saya Islam? Untuk apa Islam?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu bergumul dalam kepala saya yang jawabannya tidak saya temukan secara instan, atau mungkin saya tidak benar-benar temukan jawabannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman hidup saya, saya mengalami proses peyakinan, penguatan tentang apa yang saya pilih –atau dipilihkan-. Saya Islam sejak lahir dan saya memilih untuk tetap menjalaninya. Karena saya pernah menjadi minoritas itulah maka saya belajar lebih mengenal diri dan agama saya dan itu bukan proses yang mudah dan instan. Tidak seperti yang ditampilkan oleh film ini. Tidak seperti yang ditampilkan oleh trilogi yang diambil dari kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra ini. Oleh karena itu, jika harus memilih, dalam trilogi kisah ini saya lebih menyukai tokoh Stefan –orang Austria- yang atheist dan dia konsisten dengan keatheisannya, dengan sikap nyinyirnya, tetapi dia mau belajar melihat, mencoba, dan berusaha memahami apa yang diyakini oleh sahabatnya, Rangga. Begitu juga sebaliknya dengan Rangga. Relasi Rangga dan Stefan inilah yang rasanya terlihat paling realistis dalam keseluruhan trilogi.

Mungkin awalnya saya berharap terlalu banyak bahwa film ini bisa lebih mengangkat tema “pergulatan” batin seseorang di tengah wacana diskriminatif terhadap Islam. Kisah difokuskan pada satu tokoh saja, tetapi sayangnya tidak. Akhirnya yang muncul memang hanya scene-scene normatif yang membangun mimpi. Penonton tidak diajak berpikir, hanya disuapi, tanpa tahu apa yang dia sebenarnya makan. Dan mungkin saya juga tipe penonton yang memperhatikan detil –walaupun dalam keadaan cukup mengantuk- saya melihat bahwa secara teknis editing gambar sangat tidak halus, tempelan terlihat di mana-mana, angle kamera yang terlihat dilakukan dengan tidak fokus dan terburu-buru, sehingga mendapat kesan jangan-jangan pengambilan gambar dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena mungkin masalah ijin? Atau adegan saat Hanum terjatuh ketika terjadi kerusuhan saat demonstrasi juga terasa sekali dibuat-buatnya. Scene demonstrasi, kerusuhan, kepanikan saat gedung runtuh karena dibom, itu semua sangat tidak mungkin rasanya dibuat oleh seorang Rizal Mantovani yang biasanya peduli pada bahasa gambar. Dan yang paling membuat saya geli campur miris adalah scene pidato sang milyuner di sebuah tempat yang sangat dijaga ketat dan dihadiri oleh banyak orang: 5 – 6 orang berkulit putih, dan sisanya di belakang mereka berdiri orang-orang Indonesia yang rambutnya dicat pirang dan dimake up seolah-olah mereka adalah orang kulit putih. Ini jelas-jelas hanya basa basi.

Ah, saya harus berhenti, karena ternyata dari satu scene itu saja saya sudah mulai mempertanyakan: siapa sedang mendiskriminasikan siapa sebenarnya? Jangan-jangan kita yang sedang mendiskriminasikan diri kita sendiri, dengan menempatkan si kulit putih di depan kita. Jangan-jangan kita yang sedang ragu pada apa yang kita yakini dengan membabi buta membela diri, sekaligus nyinyir pada yang lain. Bukankah kita jadinya sama dengan mereka yang kita anggap nyinyir pada kita? Jangan-jangan musuh kita sebenarnya adalah diri kita sendiri? Jangan-jangan bulan itu tidak pernah terbelah, karena hanya dari bumi lah dia terlihat menjadi sabit kemudian perlahan menjadi purnama. Perspektif. Manusia lah yang memaknainya. Tergantung dari mana dia melihatnya.

Dan seperti pertanyaan yang menjadi motif utama film ini: “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam”, maka saya jutsru bertanya “Apakah film ini akan lebih baik jika saya tidak menontonnya?” Jawaban saya sayangnya tidak. Banyak hal yang dipaksakan dan sayangnya saya tidak suka dipaksa.

Bandung, 120116

And the journey continues…

Biasanya saya menuliskan refleksi tahunan saya ketika malam pergantian tahun, sekarang saya melakukannya di hari pertama awal tahun. Bukan karena apa-apa, kemarin memang sedang tidak mood menulis. Jika sekarang pun saya menulis di sini, ini semata karena saya sedang mencoba lagi membangkitkan lagi kebiasaan menulis untuk sekedar menulis, bukan menulis yang harus dibatasi hipotesis, teori, analisis ini itu, dll. Terus terang, saya mengalami kebosanan menulis hal-hal dalam kerangka ilmiah, walaupun mau tidak mau, suka tidak suka, saya memang hidup dari situ. Bahkan –ini harus saya akui- kebiasaan melakukan hipotesis dan analisis, serta melihat dari beragam perspektif sebelum menyimpulkan sesuatu sudah inheren merasuk ke dalam jiwa dan kepala saya. Ya sudah, tak apalah, toh banyak bagusnya juga dan tidak merugikan siapapun, bahkan membawa saya ke banyak peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun sebenarnya sesuatu yang “serius” itu semua berawal dari keisengan saya belaka. Ya, keisengan yang serius, atau keseriusan yang iseng. Saya tidak bisa membedakan lagi. Yang jelas, di tahun 2015 lalu –ah, belum sehari pun dia lewat- saya mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak perlu, yang saya rasa hanya akan membebani diri dan hidup saya saja. Beberapa berhasil, masih banyak yang tidak. Namun, tidak ada salahnya juga mencoba.

Merefleksikan apa-apa saja yang saya lakukan, saya alami, dan saya rasakan di tahun 2015, saya ternyata menemukan diri saya yang lain. Diri saya yang ternyata suka iseng. Namun, entah bagaimana keisengannya diseriusi, menjadi serius, dan sering membuat saya sendiri kelabakan. Walaupun begitu hasilnya tetap menyenangkan saya dan membuat saya semakin hidup.

Saya iseng mengiyakan tawaran menjadi narasumber tentang sanitasi di RRI Lampung tepat pada tanggal 1 Januari 2015 bersama seorang teman. Iseng menonton konser Michael learns to Rock tanggal 2 nya, padahal saya hanya kenal dua atau tiga lagunya saja. Bulan Februari menonton konser NOAH di Sabuga. Yang ini bukan iseng, tapi memang berniat betul, karena saya sudah membuat pengakuan sebagai salah seorang fans NOAH maka saya mengharuskan diri saya menonton konsernya. Dan saya senang. Keisengan lainnya adalah menonton konser Bon Jovi di Senayan, Jakarta. Kalau ini memang benar-benar iseng tapi serius, karena kami serius sengaja datang jauh.jauh dari Bandung, sampai menginap di sebuah hotel di Jakarta, demi merasakan kemeriahan konser Bon Jovi dengan crowd Indonesia, yang ternyata malah membuat saya mengantuk. Saya iseng berkomentar di akun instagramnya salah seorang pemainnya, mengajaknya promosi film “3” di Unpad, dan ternyata dengan persiapan amat sangat mendadak bisa mendatangkan sekitar 600 orang dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan kreatif pendukung film itu sekaligus semakin memahami bagaimana cara kerja dan “permainan” industri kreatif di Indonesia yang mau tidak mau masih berorientasi uang. Saya iseng memasukkan abstrak untuk konferensi di Shanghai dan ternyata diterima walaupun akhirnya saya tidak jadi pergi karena mengukur kekuatan tubuh saya setelah menjalani keisengan saya yang lain selama 3 minggu berada di Eropa untuk konferensi dan menjadi turis. Ya, saya menjadi turis di Eropa: akhirnya. Saya juga iseng mengirim lamaran untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di Eropa, kemudian dipanggil interview dan akhirnya diterima, tetapi juga pada akhirnya tidak saya ambil juga karena pada saat yang bersamaan saya tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda.

Selain keisengan-keisengan yang biasanya berbuntut pada hal-hal yang membuat adrenalin saya meningkat (ya, saya butuh itu, kadang-kadang), saya merasa langkah saya melambat. Lebih tepatnya saya melambatkan langkah saya. Saya tidak lagi ingin berlari, tetapi saya hanya ingin berjalan. Saya ingin menikmati apa yang saya lihat, lalui, dan alami dalam perjalanan saya, membuang apa yang tidak perlu, dan mengambil apa yang perlu saya ambil. Ternyata, ketika saya membuang beberapa hal yang memberatkan, saya justru mendapatkan lebih banyak dari apa yang saya buang. Saya tahu saya masih melekatkan diri pada banyak hal yang tidak perlu, saya masih harus banyak belajar untuk melepaskannya satu-satu. Belajar yoga adalah salah satu cara saya untuk melambatkan dan menikmati setiap gerak, selain tentu agar saya bugar.

Di lain sisi, ternyata saya juga bisa menjadi die hard fans, yang saya sendiri pun tidak mengerti, bahwa ternyata saya memiliki sisi itu. Mungkin selama ini itu saya tutupi atau saya kualat pernah memandang aneh teman saya yang “berubah” menjadi seorang fan girl. Dua-duanya mungkin benar, hehe. Namun, saya menikmatinya, dan malah ternyata hal ini malah justru melatih dan membuka banyak sisi saya yang lain. Berkenalan dan bertemu dengan orang-orang baru sesama fans, berbincang untuk hal-hal sepele yang dulu tidak pernah sekalipun mampir dalam pikiran saya bahwa saya akan membicarakan dan membahasnya, bahkan kemudian beberapa keisengan yang berbuah serius lahir dari obrolan-obrolan ini. Hal ini ternyata menyenangkan. Hal ini sama menyenangkannya dengan kesempatan yang saya ambil untuk berdamai dengan masa lalu, dengan kejawaan saya, dengan beberapa hal yang dulu saya hindari dan saya tutupi. Ternyata tidak sesulit dan seberat yang saya rasakan, bahkan keputusan itu justru meringankan saya. Untuk itu saya bersyukur. Termasuk bersyukur bahwa saya masih mengalami hal-hal yang juga membuat saya menangis, saya kesal, bosan, dan kadang juga putus asa. Itu membuat saya hidup.

Mengutip tulisan Agustinus Wibowo, seorang penulis favorit saya yang juga akhirnya bisa saya temui langsung, perjalanan itu adalah rangkaian dari perpindahan dan perhentian. Mereka yang tidak pernah berpindah tidak akan mengerti indahnya kebebasan, dan mereka yang tidak pernah berhenti tidak akan pernah memahami pentingnya kestabilan. Dan itu hidup. Maka angin akan tetap bertiup, kadang keras kadang hanya berdesir, langit mungkin akan kelabu, matahari akan terbenam, tetapi esok matahari tetap menepati janjinya untuk terbit kembali, maka perjalanan saya pun berlanjut. Dan sekali lagi, saya bersyukur.

Bandung, 010116IMG_20160101_105555[1]

„3: Alif, Lam, Mim“ – Mempertanyakan Kebenaran

0134508Berita-Film-Baru-3-Alif-Lam-Mim-Film-Aksi-Garapan-Sutradara-Comic-8p

Ternyata saya membutuhkan waktu lebih dari sepekan untuk menulis tentang film yang membuat badan saya gemetar setelah saya menontonnya. Entah kenapa, bolehlah saya dibilang lebay, tetapi adalah benar tubuh saya gemetar saat saya keluar dari gedung bioskop. Dada saya pun sesak serasa mau meledak usai menyaksikan film berdurasi 122 menit ini. Setelah Film Soekarno yang mampu membuat saya bergetar, ini film Indonesia kedua yang memberikan efek dahsyat pada saya. Saya seperti dibentur-benturkan pada kenyataan yang datang bertubi-tubi di depan mata, membuat saya menahan nafas, dan akhirnya saya hanya dapat berkomentar pendek: gila! Anggy Umbara, sutradara film ini, memang gila. Baru kali ini saya menonton film Indonesia yang dibuat dengan berpikir cerdas dan membuat penontonnya –terutama saya- juga ikut berpikir. Dan ternyata saya perlu berjarak dulu untuk kemudian dapat menuliskan apa yang ingin saya tuliskan di sini.

Ini film fiktif yang berkisah tentang Indonesia, khususnya situasi di Jakarta pada tahun 2036. Nuansa kelabu dalam film ini menegaskan genre yang diklaim oleh Arie Untung, sang produser, sebagai action drama dystopian. Genre fiksi distopia sebagai lawan dari genre fiksi utopia memang berkisah tentang kecemasan dan ketakutan atau degradasi kehidupan sosial suatu masyarakat yang disebabkan oleh konspirasi politik, kekuasaan, kecurigaan dan ketidakpercayaan publik terhadap orang per orang atau satu institusi bahkan pada negara. Dibuka dengan scene saat tokoh utama Alif (Cornelio Sunny), seorang polisi muda, sedang bertugas menumpas sebuah kelompok penjahat, penonton langsung disuguhi adegan-adegan laga beladiri yang cenderung hening, tidak rusuh, diakhiri dengan matinya sang penjahat oleh sebuah peluru tajam, yang sebenarnya tidak diperbolehkan ada dalam kepolisian Indonesia di masa itu. Akibat dari matinya orang yang dianggap penjahat ini adalah diskorsnya Alif dari pekerjaannya, karena dianggap “kecolongan” tidak dapat menangkap sang penjahat dalam keadaan hidup.

Cerita bergerak maju sampai muncul tokoh Lam (Abimana Aryasatya), teman Alif di masa kecil, yang kemudian mengajak penonton untuk berkilas balik pada peristiwa saat orang tua Alif dibunuh. Peristiwa pembunuhan orang tua Alif yang tidak pernah terusut tuntas ini membuatnya bertekad bahwa dia akan menegakkan kebenaran dan menumpas semua bentuk kejahatan, bagaimana pun caranya dan pada siapapun itu. Lagi-lagi penonton tidak dibiarkan bernafas sejenak karena adegan-adegan beladiri muncul dengan manis sebagai bagian dari cerita. Para tokoh utama film ini, yaitu Alif, Lam, dan Mim (Agus Kuncoro Adi), mulai diperkenalkan secara eksplisit, termasuk cita-cita mereka yang membawa mereka pada akhirnya menjadi mereka saat itu. Alif yang ingin menjadi polisi, Lam yang ingin menjadi jurnalis yang mencari kebenaran, dan Mim yang ingin tetap berada di pesantren yang dulu membesarkan mereka bersama.

Narasi bergerak maju mundur dengan konflik yang terpilin rumit namun halus dijalin seiring dengan munculnya tokoh Laras (Prisia Nasution), perempuan masa lalu Alif, yang pada akhirnya menjadi salah satu tokoh kunci yang terlibat dalam jalinan konflik yang rumit. Kisah pribadi para tokoh utamanya, kehidupan cinta dan keluarganya, dirajut dengan konflik di sana sini sampai akhirnya memuncak pada scene bom meledak di sebuah cafe tempat Laras bekerja. Peristiwa ini membawa Alif kembali bertemu Mim yang dianggap musuhnya dan Lam yang selalu berusaha berada di antara keduanya. Konflik pun semakin tajam dengan ditangkapnya Kyai Mukhlis (Arswendi) dan dibukanya kedok tokoh-tokoh yang secara tidak terduga terlibat dalam konflik tersebut serta munculnya tokoh-tokoh baru yang di luar dugaan, tetapi ternyata berperan banyak untuk keseluruhan kisah. Di titik ini lah kebenaran kemudian dipertanyakan. Apa itu kebenaran?

Kebenaran dalam Film 3 ini bukanlah kebenaran absolut yang hitam putih sifatnya. Dia ada dan menjadi benar menurut siapapun yang menganggapnya benar, seperti kata Rorty (1991) “Kebenaran adalah commendation sosial. Ia adalah apa yang kita anggap sebagai kebaikan. (…)”. Alif beranggapan bahwa menumpas kejahatan apapun bentuknya dan siapapun pelakunya adalah kebenaran, karena artinya dia telah melakukan satu nilai “kebaikan” menurut versinya. Maka memburu penjahat, bahkan mengambil jantung dari penjahat yang dia kejar, bahkan melawan sahabatnya sendiri adalah kebaikan, sehingga yang dia lakukan adalah benar. Demikian juga dengan Lam yang menganggap bahwa mencari kebenaran dari suatu peristiwa ditunjang dengan data dan fakta yang valid tetapi tetap berdasarkan perspektif pribadinya adalah satu kebaikan, walaupun dia harus kehilangan pekerjaan resminya sebagai wartawan ternama di sebuah media besar dan bahkan kehilangan istrinya –Gendis (Tika Bravani)-. Namun, itu adalah kebaikan, seperti yang diungkapkan oleh tokoh Gendis, bahwa dia tidak ingin menjadi istri yang membuat suaminya tuli, tidak bisa mendengar kata hatinya sendiri. Mengorbankan nyawanya demi menjaga keluarganya adalah sebuah kebaikan, menurut aturan sosial manapun. Maka apa yang Gendis lakukan adalah benar.

Mim pun memiliki “versi” kebenarannya sendiri. Pilihannya tetap bertahan di pesantren di tengah kepungan masyarakat yang semakin liberal dan tidak percaya Tuhan tentu adalah kebaikan tersendiri. Dia yang tidak pernah sampai membunuh lawannya bahkan merawat lawan-lawannya tersebut adalah kebaikan yang juga dapat dianggap sebagai kebenaran. Laras melakukan kebaikan dengan memberikan flashdisk berisi data-data yang dapat membantu Lam mengusut peristiwa pengeboman di cafe yang membuat Alif dan Mim harus saling melawan. Sosoknya yang abu-abu di awal tetapi kemudian sikapnya semakin jelas dengan memberikan penawar racun kepada Alif, mengorbankan dirinya agar Alif dapat melanjutkan perjuangannya, ini tentu adalah kebenaran menurut versinya. Perspektif kebenaran lain muncul dari tokoh Kyai Mukhlis yang dengan kebaikan hatinya rela merawat para polisi yang sudah jelas-jelas melawannya dan membiarkan dirinya ditangkap serta diadili tanpa pengadilan yang jelas, tentu dia pun sedang melakukan suatu kebenaran.

Tidak hanya tokoh-tokoh protagonisnya, tokoh-tokoh abu-abu lainnya pun punya versi kebenaran masing-masing. Oleh karena itu, saya pun pada akhirnya tidak dapat mengkategorikan para tokoh abu-abu itu secara tegas sebagai tokoh antagonis. Setiap tokoh punya alasan sendiri mengapa mereka melakukan suatu tindakan yang secara normatif disebut sebagai kejahatan. Alasan yang logis dari suatu peristiwa –katakanlah- kejahatan apapun bentuknya pada akhirnya dapat dipertanyakan kembali. Apakah benar itu semua kejahatan? Bukankah kebenaran hanya akan ada jika dan hanya jika ada sesuatu yang disebut kejahatan? Siapa yang dapat menentukan itu jika setiap orang punya alasannya sendiri terhadap tindakan yang dia lakukan, apalagi dengan diiming-iming kata “kebaikan” atau “demi kebaikan”. Jika mengacu kembali kepada pendapat Rorty di atas, maka kebenaran itu pada akhirnya menjadi lentur.

Kelenturan inilah yang dengan cerdas disimbolkan melalui beladiri silat yang menjadi medium utama aksi laga film ini. Pemilihan silat menjadi menarik mengingat film ini dikemas secara futuristik dengan menggunakan bantuan teknologi Computer-Generated Imagery, tetapi justru menampilkan silat yang cukup tradisional. Gerakan-gerakan silat yang lentur, efek slow motion ditingkahi dengan guyuran hujan yang semakin membuat efek dramatis sebuah perkelahian membuat laga dalam film ini adalah laga yang lirih dan lentur, bahkan nyaris tanpa darah, walaupun bukan tak berdarah. Kesatuan wiraga, wirama, dan wirasa adalah filosofi silat yang dimunculkan dengan cukup apik di film ini.

Lepas dari beberapa kekurangan yang jika diperhatikan detil akan terlihat, seperti setting Jakarta tahun 2036 yang dikatakan bersuhu dingin tetapi pada scene Lam mengejar Laras justru terlihat panasnya setting tempat adegan tersebut diambil, lalu munculnya Arie Untung sebagai kepala sekolah dan Fenita Arie sebagai presenter berita juga terkesan agak dipaksakan, kemudian foto dua perempuan yang dipasang di dinding kantor kepolisian (yang kebetulan saya tahu betul siapa kedua perempuan itu) yang membuat penonton kemudian merasa ada yang janggal, walaupun mungkin hal ini dimaksudkan untuk membuat film ini menjadi terlihat tidak terlalu berat, serta scene ledakan bom yang masih terlihat kasar, atau scene Alif yang terlihat berlebihan saat mengambil jantung sosok „jahat“ yang dilumpuhkannya, secara keseluruhan film “3: Alif, Lam, Mim” ini adalah film yang padat. Banyak issue yang diusung dan digamblangkan lewat dialog-dialog para tokohnya dan scene-scene yang cukup menohok. Konspirasi polisi, politik, dan media, ideologi dan kuasa pemegang modal terhadap media, prasangka dan marginalisasi agama, negosiasi dan ideologi, semua dikemas dengan jujur dan lugas. Ini satu tindakan yang cukup berani diusung dalam film ini di tengah ketatnya pengawasan banyak pihak, seterbuka apapun klaim terhadap Indonesia sekarang.

Selain itu, film 3: Alif, Lam, Mim ini juga didukung oleh pemain-pemain yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Cornelio Sunny walaupun di scene-scene awal agak kurang lepas, tetapi seiring berjalannya cerita dia bisa bermain lepas dan mampu membawakan karakter Alif yang keras. Abimana bermain kalem tetapi cukup mampu menampilkan sosok Lam yang tenang tapi tegas. Agus Kuncoro sangat cocok menjadi Mim dengan karakternya yang tenang tetapi kuat. Prisia Nasution juga tidak diragukan lagi aktingnya sebagai Laras yang misterius, kuat, tetapi sebenarnya rapuh. Tika Bravani juga berhasil menampilkan karakter Gendis yang penyayang, anggun, tetapi pemberani. Cast lain yang bermain apik adalah Verdi Solaiman sebagai rekan sejawat Lam. Dan yang paling mencuri dalam film ini adalah akting Tanta Ginting yang muncul di akhir-akhir cerita. Dia berhasil membalikkan semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sepanjang cerita dengan aktingnya yang dingin, tetapi sangat cerdas, dan gila. Keseluruhan pemain bermain bagus untuk masing-masing karakternya.

Dialog-dialog yang disampaikan dalam film ini pun berbobot, cukup filosofis, tetapi tidak berat. Banyak dialog dilakukan dalam bahasa Inggris, entah kenapa, tetapi mungkin untuk menegaskan bahwa di masa itu Indonesia sudah lebih mengglobal atau mungkin ini juga salah satu cara agar film ini mudah dibawa ke luar Indonesia. Terbukti dengan world premier film 3 ini di Balinale beberapa hari sebelum tayang. Menurut kabar, film ini pun akan dibawa ke Los Angeles.

Saya beruntung, pada tanggal 1 Oktober, sebagai akibat dari keisengan saya berkomentar di akun sosial medianya Tika Bravani, pemeran Gendis, saya dapat berbincang dan bertanya-tanya langsung pada Arie Untung, Cornelio Sunny, Tika Bravani, dan Kang Yudistira dari Perguruan Silat Panglipur dalam diskusi tentang film ini di institusi tempat saya bekerja. Dari hasil perbincangan inilah saya tahu bahwa mereka yang ada di balik dan di depan layar ini adalah orang-orang Indonesia kreatif dan cerdas yang bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa untuk mewujudkan mimpi mereka. Bahkan ide cerita film ini pun, menurut Arie, berasal dari mimpinya Anggy Umbara, yang kemudian berusaha diwujudkan melalui proses panjang diskusi, kerja keras dan kreatif, jatuh bangun, dan pengorbanan lainnya, sehingga mewujud dalam satu karya berisi dan layak tonton. Dari mengurusi jalannya acara diskusi ini juga saya tahu, bahwa –tetap- ada negosiasi antara pemilik modal dan pelaku industri, bahkan negosiasi antara beberapa pemangku kepentingan. Mungkin karena saya menjadi sedikit tahu tentang apa yang ada di balik layar produksi dan promosi film ini, maka saya agak menyesalkan mengapa film ini hanya tayang lebih kurang delapan hari di bioskop-bioskop. Itu pun tidak semua bioskop di Indonesia menayangkan film ini. Hal ini sangat disayangkan, karena menurut saya film ini menjadi semacam pencerahan dan sinyal positif untuk kemunculan film-film Indonesia yang berkualitas. Namun, mengacu kepada ungkapan Arie Untung, film ini memang harus dilihat sampai akhir dengan mata hati dan pikiran terbuka, melihat sesuatu dari beragam perspektif, termasuk melihat situasi bahwa sayangnya industri kreatif di Indonesia masih memarginalkan kualitas dan bahwa pemegang modal tetap menjadi pengendali kuasa. Sayangnya, itu masih menjadi kebenaran, walaupun tidak absolut.

Mungkin, karena itu pula lah saya gemetar usai menonton “3: Alif, Lam, Mim” ini dan saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menuliskannya. Saya sedang dihadapkan pada kebenaran. Yang sering mengge(n)tarkan.

Bandung, 131015, 23:49