100% Rauch-frei

An: Manager der öffentlichen Orte

Wissenschaftliche Forschung über den Schaden vom Gebrauch der Tabakrauche hat sich angesammelt für über 20 Jahre. Es gibt keinen Zweifel, dass passiv-atmender Gebrauch vom Tabakrauch (SHS) für menschliche Gesundheit sehr gefährlich ist, sowie Krebs und viele schweren Atmungs- und Herzgefäß-Krankheiten an den Kindern und an Erwachsenen verursacht und häufig zum vorzeitigen Tod führt. Die Weltgesundheitsorganisation (WHO) hat festgestellt, dass es kein sicheres Niveau der menschlichen Aussetzung zum Gebrauch der Tabakrauche gibt und es immer noch gefährlich bleibt. Die Empfehlungen von WHO über den einzigen Schutz vor der Aussetzung des Tabakgebrauchs sind davor, dass die Einrichtung der rauchfreien Bereiche 100% in der Öffentlichkeit als die einzige Weise sind, um die Öffentlichkeit zu solcher Belichtung und zu seinen Konsequenzen zu schützen.

Das Recht, die frei von Tabakrauchen saubere Luft zu bekommen, ist ein menschliches Recht.

Darum bitten wir Sie, die Gesundheit der Arbeitnehmer, der Arbeiter und der Öffentlichkeit durch das Einführen der notwendigen Gesetzgebung, die alle allgemeinen Innenarbeitsorte, einschließlich Gaststätten zu schützen und die Plätze für 100% Rauch frei eingestellt sind. Wir sind überzeugt, dass dieses ein wichtig-kritischer Schritt zum Schützen unserer Gesundheit und der deren unserer Kinder ist.

Herzlichst,
Dian Ekawati

 


Bandung City Walk #1

Atas usul mahasiswa, maka perkuliahan terakhir „Deutsch für Tourismus“ kami laksanakan dengan melakukan wisata sejarah menyusuri jalan-jalan di Kota Bandung. Dengan berjalan kaki tentu saja. Tidak seperti kebanyakan wisata sejarah Bandung yang dimulai dari gedung pusat pemerintahan seperti Balai Kota atau Gedung Sate, kami memulainya dari Hotel Preanger. Alasan utama adalah karena mata kuliah ini adalah mata kuliah pariwisata dan hotel menjadi salah satu tema bahasan kami.

Hotel Preanger

Preanger

Grand Hotel Preanger ini awalnya adalah sebuah herberg (pesanggrahan) yang didirikan di Grote Postweg (sekarang Jl. Asia Afrika) pada tahun 1825. Pada tahun 1856, di depan pesanggrahan yang dikelola oleh C.P.E Loheyde ini berdiri Toko dan Hotel Thiem. Hotel Thiem berpindah tangan kepada W.H.C. van Deeterkom pada tahun 1897, yang kemudian menggabungkan semua bangunan dan mengganti namanya menjadi Grand Hotel Preanger. Hotel ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire Stijl dengan sentuhan gaya Greek Revival.

Hotel ini kemudian dibangun ulang dengan bentuknya sekarang pada tahun 1919 – 1929 berdasarkan rancangan arsitek C.P. Wollf Schoemaker dan juru gambar Ir. Soekarno. Rancangan ulang ini bergaya arsitektur Art Deco dengan pengaruh gaya arsitek Frank Lloyd Wright.

Grote Postweg

Atau Jalan Raya Pos, dibangun pada masa pemerintahan H.W. Daendels yang membangun jalan raya dari Anyer ke Panarukan. Jalan ini adalah jalan tertua di Kota Bandung. Dalam perkembangannya, jalan ini berubah nama menjadi Jalan Raja Timur (mulai dari Jl. Pasar Baru ke timur) dan Jalan Raja Barat. Perubahan kedua terjadi pada tahun 1955, yaitu Jl. Raja Timur dan Jl. Asia Afrika. Pada tahun 1966, Jl. Raja Timur menjadi Jl. Jend. A. Yani dan Jl. Raja Barat menjadi Jl. Jend. Sudirman.

Tugu ”Bandoeng 0 Km”

0 km

Tugu Peringatan Kilometer Bandung ”0” (KM. BD 0.00) diresmikan pada tahun 2004. Letaknya di belakang patok kilometer BDG ”0” di halaman Kantor Dinas Bina Marga Prov. Jawa Barat. Mesin gilas pada tugu merupakan mesin gilas pertama yang meratakan dan mengeraskan Grote Postweg di sekitar pator kilometer (1900-an). Gubernur Jenderal H.W. Daendels menancapkan tongkatnya pada posisi patok kilometer tersebut dan meminta Bupati Tatar Ukur R.A.A. Wiranatakoesoemah II memindahkan ibu kota Kabupaten dari Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke titik bekas tancapan tongkat.

Hotel Savoy Homann

Homann

Hotel ini awalnya (1871 – 1872) adalah penginapan milik A. Homann. Bentuknya masih berupa rumah panggung beratap rumbia dan berdinding gedek bambu, yang kemudian dibangun menjadi berdinding papan kayu pada tahun 1876 dan tak lagi berbentuk rumah panggung.

 

Selanjutnya penginapan ini berubah nama menjadi Hotel Post Road yang menjadi cikal bakal Hotel Savoy Homann sekarang. Bangunan ini pada tahun 1880 sudah berbentuk permanen dan bergaya arsitektur Romantik dan Barok. Letaknya di Grote Postweg, tetapi pintu masuknya sendiri adalah di sisi barat hotel (sekarang menjadi Jl. Homann). Gaya arsitektur bangunan ini diubah menjadi Gothik Revival pada tahun 1883. Penambahan gedung barz dan perubahan nama hotel menjadi Grand Hotel Homann terjadi pada tahun 1910. Tahun 1929 Grand Hotel Homann mulai direnovasi dengan warna bergaya seni Art Deco, baik itu fisik dan hiasan interiornya, Nama hotel pun kemudian berubah menjadi Hotel Savoy yang dikelola oleh Fr. J. A. Van Es.

Pembangunan gedung baru di halaman yang menghadap ke Grote Postweg dilakukan pada tahun 1937 – 1939. Hotel ini pun kembali berubah nama menjadi Hotel Savoy Homann. Rancangan hotel dengan bentuk seperti sekarang ini adalah karya dari arsitek A.F. Aalbers dan juru gambar R.A. de Waal, dengan gaya Modern Architecture, yaitu Art Modern Style.

Gedung Apotek Kimia Farma

Dulunya bernama N.V. Chemicalienhandel Ratkamp & Co. Didirikan pada tahun 1817 dan merupakan salah satu apotek tertua di Hindia Belanda.

Bragaweg

Pada awal tahun 1800-an jalan ini menjadi jalan penghubung yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi, khususnya kopi, dari dan ke Gudang Kopi (sekarang menjadi Gedung Balai Kota). Alat angkut umum yang digunakan pada saat itu adalah pedati, sehingga jalan itu disebut Karrenweg, kemudian lebih dikenal dengan nama Pedatiweg (sekarang menjadi Jalan Braga).

Asal usul nama Braga sendiri masih tidak jelas sampai sekarang. Ada dugaan bahwa perubahan nama Pedatiweg menjadi Bragaweg adalah akibat dari ketenaran Toneelvereiniging Braga, yang didirikan di Pedatiweg pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff. Kemungkinan lain tentang asal usul nama Braga ini adalah dari kata dalam Bahasa Sunda ”ngabaraga”, yang menurut salah seorang sastrawan Sunda, M.A. Salmun, berarti ”berjalan di sepanjang sungai”. Kebetulan letak Pedatiweg ini memang berdampingan dengan Sungai Cikapundung.

Toko Onderling Belang

Toko Onderling Belang (OB) adalah rumah mode dan butik yang dibuka pada awal tahun 1900-an. Toko OB Bandoeng adalah cabang kedua di Hindia Belanda dari OB Amsterdam. Toko Onderling Belang berubah nama menjadi Toko Sarinah pada tahun 1960-an.

Bioskop Majestic

Letaknya di depan Toko Onderling Belang (Toko Sarinah), di samping Sociteit Concordia (Gedung Merdeka). Dirancang oleh Wolff Schoemaker. Nama Bioskop Majestic ini sempat diganti menjadi Bioskop Dewi pada tahun 1960-an. Tahun 2000-an berubah menjadi Gedung Asia Afrika Cultural Centre (AACC).

Gedung DENIS

Terletak di Bragaweg sebelah selatan, sekarang menjadi Gedung Bank Jabar. Dibangun antara tahun 1935 – 1936 dengan gaya arsitektur Art Moderne, karya arsitek A.F. Aalbers. DENIS adalah singkatan dari De Erste Nederlandsche Indische Spaarkas en Hypotheekbank, yang merupakan bank simpanan dan hipotek pertama di Hindia Belanda. Bank ini juga bergerak di bidang asuransi dengan anak perusahaan bernama DENIS Insurance Co.

-Bersambung-

Auswählen

101_0186.jpg

So, die geröstete Kaffeebohnen werden nach der Größe ausgewählt. Eine nach einander.

(Faberik Koffie Aroma – Djln. Banceuy Nr. 51 Bandoeng)