Praha

Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. (Bayreuth, November 2003 – Bayreuth, November 2011)

Gadget or no gadget – That’s (not) the question

Bangun tidur, kemudian ngecek email, ada email dari redaksi majalah Femina untuk permintaan wawancara. Gaya banget sih, hehe. Mbak Ficky,redaktur yang baik hati itu sedang membuat tulisan tentang topik seberapa besar ketergantungan kita pada gadget. Jadi senyum-senyum sendiri bacanya dan dengan senang hati saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dia yang sebenarnya sedikit, tapi saya jawab panjang lebar (dasarnya saya memang cerewet, hehe). Maaf, Mbak Ficky ;)

Gadget yang dalam bahasa Indonesia sebenarnya disebut gawai atau acang (ngga enak banget nih kata) adalah “suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gawai dianggap dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya.” Definisi yang abstrak, seperti biasa. Namun, yang jelas gadget ini (saya pakai istilah dalam bahasa Inggris saja, yang umum, karena tadi pertanyaan dalam wawancaranya juga memakai kata gadget bukan gawai atau acang) adalah “a small technological object (such as a device or an appliance) that has a particular function, but is often thought of as a novelty. “ Jadi biasanya lebih sering dihubungkan dengan telefon genggam, smartphone, laptop/netbook, tablets, dll.

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan Mbak Ficky sebenarnya sudah pernah saya tuliskan dalam bentuk lain di blog ini. Namun, waktu berubah, dan ternyata ada beberapa perubahan yang “menyenangkan” saat saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Ficky.

Bisakah hidup sehari saja tanpa gadget? Misalnya phone off. Itu pertanyaan pertama dan langsung saya jawab bisa. Bahkan sering. „Phone“ di sini adalah HP atau smartphone lainnya. Sedikit cerita, pertama kali saya punya HP di tahun 2000 itu atas bujukan teman dekat saya saat itu, dengan alasan agar dia bisa menghubungi saya kapanpun. Itu gantian setelah saya yang awalnya membujuk dia agar punya HP supaya saya bisa menghubungi dia kapanpun, karena dia sering „beredar“. Setelah dia mengabulkan permintaan saya, gantian saya yang malas-malasan beli HP (memang tidak ingin dicari, hahaha). Jadi memang dasarnya saya sudah punya “bakat” tidak mau “terganggu” secara personal dengan barang bernama HP ini. Lama-lama ternyata saya tergantung juga pada barang ini, apalagi saat itu mobilitas saya tinggi sekali dan kadang karena masalah kemacetan atau acara-acara dadakan saya harus mengubah jadwal, mengatur ulang janji, kadang harus membatalkannya. Dulu, HP saya belum saya silent. Gaya banget deh pokoknya, tiap saat ada telfon dan sms masuk. Kemudian tahun 2003 saya ke Jerman sampai tahun 2006, fungsi HP saya berubah drastis. Mulai ada dalam silent mode, hanya saya pakai untuk sms ke Indonesia, yang juga jarang-jarang karena mahal, hehe. Urusan di Jerman sendiri lebih sering menggunakan internet.

Sebenarnya saya sudah mulai mencandu internet dari tahun 1997, semakin lama semakin parah. Tidak apa-apa saya tidak menonton TV atau tidak pegang HP, asal saya tidak lepas dari internet (waktu itu smartphone belum ada). Urusan di Jerman pun –masalah kuliah dan pekerjaan- juga lebih sering dilakukan lewat internet, terutama email. Dan internet juga menjadi penghubung saya dengan rumah. Semacam “pintu ke mana saja”nya Doraemon deh. Ya, saya sangat mencandu internet dan rasanya saat itu tidak bisa hidup tanpanya (lebay, hehehe).

Kebiasaan menyetel HP dalam silent mode itu berlangsung sampai sekarang. Walaupun saya sudah di Indonesia dan HP saya kembali menemukan fungsi utamanya untuk janjian, mengubah jadwal, mengatur ulang janji, dll. Untuk berlama-lama ngobrol di telefon, saya lebih suka menggunakan telefon rumah dan karena saya sudah pernah merasakan hidup sendirian jarang bertemu orang selama tinggal di Jerman , maka saya lebih senang bertemu langsung dengan orang-orang dan berbincang dengan mereka. Dan ini yang terjadi sampai sekarang.

Saat bekerja, HP saya yang selalu dalam silent mode itu selalu saya simpan dalam tas, tasnya saya letakkan di mana, dan saya “beredar” ke mana-mana tanpa HP. Kalau di rumah, HP saya simpan di kamar saya di atas, dan sayanya ada di bawah atau „beredar“ juga ke mana-mana. Kalau sedang di Jerman, saya malah sering bepergian tanpa membawa HP atau membawa HP tapi HPnya mati, karena baterai HP saya sudah „semaput“, hidup segan mati tak mau.

Teman-teman saya sudah maklum dengan kebiasaan saya ini. Jadi biasanya mereka kemudian menghubungi saya lewat telefon rumah. Belakangan kebiasaan „jelek“ saya ini juga bertambah, jika liburan saya sama sekali tidak menyentuh internet dan HP, jadi email dan off message plus account media social yang lainnya pun tidak saya buka. Less contact. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati liburan saya dan kesempatan berharga bertemu orang-orang. Ini satu kemewahan untuk saya, yang sehari-harinya dalam beberapa tahun ini jarang bertemu orang dan sibuk sendirian. Di Indonesia kebalikannya, kesempatan bertemu orangnya banyak sekali, dan kesibukan saya juga lebih banyak, jadi memang jarang bisa terkoneksi dengan internet. Di saat-saat begini internet berfungsi sesuai dengan “kodrat”nya, hehe. Menjadi penghubung dengan dunia luar.

Bicara tentang internet, sejak tahun 2008 saya tidak terlalu adiktif lagi. Ada satu kondisi yang membuat saya dibenturkan pada kenyataan bahwa kadang-kadang „too much know will kill you“, hehe. Sudah pernah saya tuliskan juga di sini. Saya mulai mengatur kedekatan saya pada internet. Itulah sebabnya saya bisa “cuek” bepergian dan berlibur tanpa keinginan mengecek email (kecuali memang ada email penting yang saya tunggu) atau update status di social media (untuk yang ini sih sama sekali bukan masalah besar, karena social media untuk saya hanya berfungsi untuk media informasi bukan pribadi).

Bagaimana dengan gadget lain seperti smartphones atau tablets? Ini bisa jadi satu tulisan lagi, hehe. Saya mungkin boleh dibilang ketinggalan jaman, karena tidak (mau) punya smartphones dan tablets. Saat mudik kemarin, banyak orang bertanya mengapa saya tidak punya berry hitam atau apel krowak atau talenan apel, karena saya pasti mampu membelinya (disangkanya tinggal di Jerman itu uangnya banyak mungkin ya, hihi. Amiinn…J ). Saya masih pegang HP jadul keluaran Si Emen di saat hampir semua orang pegang berry hitam atau apel krowak dan talenan apel. Alasannya: HP jadul itu hadiah ultah dari teman saya, dan yang kedua: mata saya bolor sebolor-bolornya, jadi tidak suka dan tidak bisa melihat tulisan yang kecil-kecil begitu, terutama harus mengetik dengan keypad yang kecil-kecil atau menyentuh-nyentuh layar. Karena untuk saya HP dan teman-temannya itu hanya berfungsi untuk sms dan telfon, maka HP jadul saya sudah cukup memenuhi fungsinya (dan saya hanya mengganti baterenya yang dulu sudah semaput, sekarang agak mendinglah, bisa bertahan beberapa lama). Sedangkan fungsi lain dari smartphones dan tablets sudah terpenuhi dengan baik di laptop saya, yang di Jerman ini bisa terkoneksi ke internet dengan mudah di manapun, di Indonesia juga sudah demikian kan. Jadi, saya hanya senyum-senyum saja menjawab pertanyaan tersebut: saat ini saya belum perlu dan saya bisa hidup dengannya (selain karena alasan ideologis dan politis kenapa saya tidak mau menggunakan barang-barang tersebut. Ini lebaynya, jadi tidak usah ditulis di sini deh, hehehe). Seperti juga saya bisa hidup tanpa TV sejak tahun 1997, saya juga ternyata bisa saja hidup tanpa HP dan internet , kalau saya mau. Ini masalah pilihan, seperti saya yang memilih tetap hidup dengan musik, hehe.

Pertanyaan lainnya adalah apa yang dirasakan hidup tanpa gadget tersebut? Sekarang saya bisa menjawab: biasa saja, tidak kehilangan apapun. Mungkin karena dulu pernah ada dalam tahap adiktif, dan sekarang bisa diibaratkan saya sudah merasa cukup. Alasannya sudah saya sebutkan di atas.

Pertanyaan terakhir dari Mbak Ficky adalah berapa lama rekor saya tidak berhubungan dengan gadget sama sekali. Saya jawab 1 minggu. Ya, waktu yang cukup lama untuk orang yang pernah kecanduan gadget tidak berhubungan dengan gadget sama sekali. Dan saya menepuk-nepuk bahu saya sendiri, bangga. Akhirnya saya bisa mengatur diri saya untuk hal-hal yang sifatnya “berlebihan”.

Itu saya, yang suka lebay dan berlebihan. Yang lain pasti punya pengalaman dan pendapat lain. Oke, cuaca cerah di bulan November ini, saya ada kolloquium dan mau lanjut mengambil beberapa gambar. Ah, ternyata sekarang saya punya kecanduan yang lain: saya suka membeli dan mengumpulkan alat perekam. Dari mulai kamera, handycam, perekam suara, microphone, dll. Kacau, hahaha.