Perang Klamm

Klamms Krieg, monolog karya Kai Hensel, berkisah tentang seorang guru bahasa Jerman untuk kelas 13 di salah satu sekolah. Dia „terlalu tua untuk jadi guru pemula, tetapi terlalu muda untuk pensiun dini.“ Tokoh ini digambarkan sebagai seorang guru dengan idealisme tinggi, cita-cita yang kuat, juga bangga atas prestasi serta kecerdasan yang dimilikinya. Seorang guru yang sangat taat aturan, tak mau korupsi dan disuap untuk memberikan nilai bagus, tak mau cari muka dengan pura-pura ramah, hanya agar dia disukai oleh murid-muridnya. Seorang guru yang keras pada murid-muridnya, juga pada rekan-rekan kerjanya. Nilai 2 adalah 2, bukan 3 atau 4. Kalau perlu lembar jawaban ujian pun diremas-remas, karena jawaban ujian di dalamnya tak layak untuk diberi nilai apapun. Murid-muridnya harus tahu semua hal yang juga dia kuasai dengan baik: Goethe „Faust“, makna kebebasan Schiller, karya sastra zaman Barok, Klasik, Romantik. Tentang puisi dengan jambus, madrigal, dan Blankverse-nya. Seorang guru yang cemas dan takut bahwa dalam waktu „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“

Klamm ingin berbuat banyak. Dia pun mau banyak untuk sekolah dan murid-murid yang dicintainya. Namun, dia harus berhadapan dengan „sistem“ yang tak memberikan ruang dan apresiasi untuk semua usaha keras yang dilakukannya. Dianggap aneh, digunjingkan di belakang punggungnya, tak ada yang mau berteman dekat dengannya, hanya karena dia menyuarakan kejujuran ketika melihat rekan-rekan kerjanya, pun atasannya, melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Alhasil, kesendirian, kecemasan, ketakutan, juga tak adanya ruang apresiatif, membawanya pada prasangka yang semakin lama semakin besar pada institusi, pada kemanusiaan dari murid-murid yang justru awalnya dia perjuangkan, pun pada dirinya sendiri.

„Guru adalah seorang pembunuh“ begitu tulisnya di penutup kloset, lantai, dan dinding kamar mandinya, saat kepalanya terantuk wastafel. Tulisan yang ditulis dengan darah yang mengucur dari kepalanya sendiri. „Guru adalah seorang pembunuh“, demikian tulisnya untuk kematian Sascha, salah seorang muridnya, yang gantung diri karena mendapat nilai 5 untuk mata pelajaran bahasa Jerman, sehingga tidak bisa lulus ujian akhir. „Guru adalah seorang pembunuh“, karena Sascha gantung diri setelah dia berusaha membujuk Klamm, datang ke rumah Klamm malam-malam memohon agar Klamm memberinya nilai 6, agar dia bisa lulus ujian akhir (padahal nilai 6 sudah diberikan, tetapi karena Sascha berusaha membujuknya, maka nilai 6 pun diganti dengan nilai 5). „Guru adalah pembunuh“ ditulisnya setelah seluruh muridnya „menyatakan perang“ dengan Klamm. „Guru adalah pembunuh“, ketika rasa kecewa dan putus asa sudah sampai pada puncaknya. Juga ketakutan, bahwa semua tujuan yang dia usahakan, malah dianggap sebagai halangan. Dia yang „berusaha ada“ untuk muridnya, „memberikan jawaban untuk semua pertanyaan“ mereka. Dan kalaupun muridnya tidak bertanya, dia akan tetap menjawab, karena itu adalah kewajibannya. Dia yang kadang-kadang merasa perlu juga untuk menghukum muridnya, karena „sekali waktu harus begitu, tidak bisa tidak.“ Dia yang punya tujuan: mempersiapkan murid-muridnya untuk menghadapi hidup dan kehidupan, yang masih panjang dan terbuka lebar di depan mereka. Dia yang meneteskan air mata, saat pesta perpisahan sekolah. Melepas murid-muridnya yang justru merasa senang karena „terbebas“ dari „ikatan“ sekolah, padahal hidup di depan mereka entah jelas entah tidak. Namun, melihat senyum dan tawa murid-muridnya adalah kebahagiaannya. Kebahagiaan yang disertai ketakutan, tetapi tetap harus dia lakoni.

Klamm kecewa. Browning 9 milimeter dengan 13 tembakan pun disiapkan di hadapan murid-murid yang „menyatakan perang“ dengannya. Apakah hidup harus diakhiri di depan murid-murid yang dicintai melebihi hidupnya yang sepi? Atau justru memulai kembali hidup yang „berbeda“ dari awal? Membaca „Faust“, halaman 9, „Prolog di Langit“, saat Raphael berkata:

„Matahari dengan rona yang dulu-dulu juga/ Dalam lomba nyanyi sunyi di angkasa persaudaraan./ Dan perjalanan yang telah tertera/ Disudahinya dengan seruntun guruh berdentam/ Meski tak seorang pun dapat menjelaskan asal usulnya;/ Karya agung yang tak terpahami/ Begitu segar seperti di hari pertama.“

Catatan: Monolog ini diterjemahkan oleh Dian Ekawati dari judul asli „Klamms Krieg“ (Kai Hensel), diedit oleh Dien Fakhri Iqbal, dan akan dipentaskan oleh „mainteater“ (pemain dan sutradara Wawan Sofwan) bekerja sama dengan Goethe Institut Inter Nationes pada akhir Mei. Waktu dan tempat menyusul.

Advertisements