Ironi Hitam Putih „SITI“

SITI

Sumber gambar: Wikipedia

SITI berlari. Bilik karaoke tempatnya bekerja digerebek polisi. Berusaha lari ke kamar mandi, SITI tetap diinterogasi, sampai SITI tak kuat lagi berdiri. Tubuhnya jatuh lunglai tak kuat menopang diri. Kisah beralih pada rumah bilik SITI yang sempit saat SITI menggoreng rempeyek jengking. Ibu mertuanya memanggil karena anak SITI tak mau bangkit, padahal hari sudah tinggi. Tak berlama-lama SITI memangku sang buah hati, memintanya mandi, tetapi si anak malah berlari menuju gumuk pasir. SITI mengejarnya tertatih-tatih, namun kalah cepat dari sang buah hati. Sang buah hati tak mau pergi. Dia jeri, karena katanya di sekolah ada hantu suka menghampiri. Mungkin dengan seragam baru yang dibelikan SITI, si hantu bisa jadi malah takut menakuti. Sang buah hati mengerti. Ke sekolah dia pergi, tetapi tetap tak mau pamit pada ayahnya yang hanya bisa berbaring. Pun sang ayah tak mau bicara karena kesal hati pada SITI yang bekerja di bilik karaoke di malam hari. Padahal SITI tak ingin. Hutang sang suami harus dilunasi. Saat ini hanya dia yang harus mencari cara agar keluarganya tak mati. Siang berjualan rempeyek jengking dan malam hari bekerja walau tak sesuai dengan keinginan hati. Namun, hutang sang suami tetap harus dilunasi. Suami yang akhirnya hanya bisa berbaring, karena kecelakaan melumpuhkan diri. SITI terpaksa meladeni para petinggi polisi. Hatinya tak ingin, tetapi dia juga butuh kantongnya diisi, karena hidup tak bisa menunggunya berhenti atau sejenak melonggarkan hati. SITI ingin pergi, karena katanya dia jatuh hati pada seorang polisi, yang tampan menarik hati, dengan kantong penuh terisi. SITI meminta sang suami merelakan dia pergi. Akhirnya sang suami pun menyuruh SITI pergi. Kata pertama dan satu-satunya yang keluar dari bibir yang lama terkunci. SITI pun pergi di dini hari, menuju laut Parangtritis yang sunyi.

***

Film berdurasi 88 menit karya Eddie Cahyono dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini sudah mendulang banyak prestasi dan review positif. Tayang pertama kali di tahun 2014 dalam sebuah festival film independen di Jogja dan terakhir menjadi film terbaik FFI 2015, akhirnya tayang di bioskop komersial beberapa hari lalu. Tak banyak yang bisa saya tulis di sini karena saya hanya akan mengamini banyak review positif tentang film ini. Satu kalimat saja rasanya sudah cukup untuk menambah review tersebut: film bagus dan layak menang. Tak ada cacat? Dari sekian banyak hal yang sudah pas tepat takarannya, mungkin sound film ini yang agak mengganggu. Entah karena audio system di salah satu studio di bioskop XXI di kota Bandung ini yang jelek dan sepertinya agak bocor atau karena kualitas sound film ini yang terdengar agak terlalu keras dan kasar. Entahlah. Namun, lepas dari itu semua saya sangat terkesan pada pilihan warna monochrome hitam putih dalam film ini serta pengambilan gambar dengan tarikan extra zoom in menuju long shots pada scene yang tepat menimbulkan efek debar, debur, sekaligus hening, sunyi, dan sepi. Deburan ombak yang sangat jelas memperlihatkan butiran-butiran buihnya dan lekukan-lekukan airnya atau kamera yang semakin menyorot jauh SITI (Sekar Sari) yang berlari mengejar anaknya ke gumuk pasir, sehingga hanya ada siluet mereka berdua di kejauhan, buat saya ini sangat romantis. Seromantis saat Bagas (Bintang Timur) meminta SITI bermain layangan dengannya di tepi pantai Parangtritis. Blocking dua pemain ini sempurna berada di bingkai gambar 4:3.

SITI buat saya adalah film romantis dengan tone warna monochromenya, sekaligus juga memberikan kesan ironis seperti hidup SITI yang putih di siang hari dan hitam di malam hari. Perjalanan kamera yang menyorot rumah bilik SITI ke sana ke mari mempertegas sempitnya ruang pilihan hidup SITI. Ekspresi wajah dan gerak para pemainnya –yang tidak banyak orang mengenalnya- sangat wajar dan apa adanya. Mereka tidak sedang beracting, mereka sedang memainkan kisah hidup yang nyata terjadi pada banyak SITI yang lain.

Penggunaan 99% Bahasa Jawa dalam film ini juga tidak mengganggu saya, karena memang konteks dan narasi film ini menuntutnya demikian, bahkan semakin mempertegas tema, latar belakang, dan narasi kisah. Sebagai orang berdarah Jawa yang tidak mengerti Bahasa Jawa saya terbantu oleh subtitle dalam Bahasa Indonesia, sekaligus juga sedikit-sedikit berusaha mengerti apa yang dibicarakan. Hal ini tentu tidak hanya berguna untuk saya, tetapi juga untuk semua yang membutuhkan bantuan untuk memahami kisah dalam film ini.

Seperti hidup SITI yang sarat dengan ironi, saya juga melihat banyak ironi yang terjadi dalam industri film di Indonesia, terutama yang terjadi pada film SITI. Film ini menang di beberapa festival, tetapi sudah hampir bisa dipastikan bahwa dia akan “kalah” di saat harus berhadapan dengan industri. Di Bandung film ini hanya diputar di satu bioskop XXI dengan jam tayang 4 kali. Sudah hampir dapat dipastikan penonton film ini pun hanya akan bisa dihitung dengan jari. Masih untung kemarin saat saya menontonnya ada 9 orang penonton lain yang ikut menonton, karena saya sebelumnya pernah berada sendirian dalam studio saat menonton sebuah film. Sayang sekali, tetapi memang demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan penonton Indonesia –dan mungkin juga penonton bioskop di belahan dunia manapun- lebih senang menonton film ringan tertawa haha hihi, lebih senang menonton film dengan teknologi dan efek canggih, lebih senang melihat wajah-wajah cakap dan cantik muncul di layar, lebih senang melihat keindahan dunia luar dibandingkan dengan menyaksikan indahnya pemandangan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang hening, lebih senang menonton film dengan judul berbahasa Inggris dan dialog campur aduk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sama sekali tak mendukung kisah dibandingkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah secara utuh, lebih senang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pemandangan indah di luar negeri dibandingkan dengan mengoptimalkan kisah dan keindahan alami negeri sendiri, atau juga mungkin lebih senang akan kisah multiplot berpilin-pilin dibandingkan dengan kisah sederhana tentang satu hari dalam hidup seseorang, tetapi digarap dan diolah dengan emosi maksimal. Sayangnya memang begitu kenyataannya.

Maka ketika film SITI ini tayang, saya hanya bisa terpana dan menghela nafas. Ini film yang amat sangat layak dilihat. Selain masalah sound tadi, semua hal yang mendukung film ini dari mulai dari tema, pengambilan gambar, scoring musik, sampai penyuntingan dan make up berada pas pada takarannya. Tak perlu pemain-pemain tampan dan cantik atau pengambilan gambar di negara-negara dan tempat-tempat tujuan turis, yang alhasil malah jadi seperti mempromosikan mereka, film SITI ini menampilkan dengan sempurna keindahan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang sepi, tetapi penuh dengan ironi. Ini film tentang hidup, dengan SITI sebagai yang menghidupinya.

***

Itu sepenggal kisah SITI, yang sehari-hari berjualan rempeyek jengking dan malam hari menjadi orang lain: demi hidup dan utang yang harus dilunasi. Namun, ini juga tentang SITI dengan hitam putihnya ironi kreatifitas dan industri.

Bandung, 300116

Advertisements

Ein Gedanke zu „Ironi Hitam Putih „SITI“

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s