Textkompetenz

Tidak tepat rasanya, jika judul di atas diterjemahkan sebagai kompetensi teks. Namun, saya belum menemukan padanan kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia untuk kemampuan memahami suatu teks, mencerapnya, dan bisa menuangkannya kembali dalam bentuk lisan atau tulisan. Teks yang berasal dari bahasa latin „textum“ dan bermakna tenunan, dalam konteks ini dimaksudkan sebagai teks lisan dan tulisan.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kekecewaan saya terhadap hasil makalah-makalah mahasiswa saya beberapa waktu lalu. Saya kecewa, karena makalah yang mereka buat jauh dari yang saya harapkan bisa ditulis oleh mahasiswa semester 7. Abaikanlah bahasa Jerman mereka, yang amat sangat jauh dari sempurna, tetapi jika makalah mereka hanya copy paste dari Wikipedia, rasanya wajar saja jika saya sangat kecewa dan marah, karena saya tidak pernah mengajarkan mereka untuk menjadi seorang plagiat. Abaikanlah alasan waktu yang sempit untuk mengerjakannya, saya tidak peduli. Kemudahan teknologi bukan alasan untuk membohongi dan membodohi diri mereka sendiri. Saya kecewa dan sedih, karena saya juga jadi merasa gagal mendidik mereka. Namun, kekecewaan itu bukan milik saya sendiri, semua dosen di jurusan saya merasakannya. Sampai akhirnya diadakan diskusi khusus membahas kejadian ini, dengan narasumber Jutta Kunze, lektor DAAD kami.

Textkompetenz. Salah satu kunci kegagalan kami dalam mendidik mahasiswa ada di sana. Mahasiswa tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam memahami dan memproduksi teks. Untuk mahasiswa sampai semester 4, masih bisa dipahami jika mereka masih ada dalam tahapan belajar dan beradaptasi dengan bahasa Jerman (mata kuliah Bahasa Jerman terpadu diberikan sampai semester 4). Masih bisa juga dimaklumi, jika mereka masih membaca teks-teks pendek, dengan konstruksi morfologi dan sintaksis yang mudah, pun memproduksi teks dengan konstruksi gramatika yang sederhana (lebih banyak menggunakan struktur parataksis, daripada hipotaksis). Namun, jika ini masih terjadi pada mahasiswa semester 5 ke atas, apalagi pada mahasiswa semester 7 dan 8, pasti ada sesuatu yang salah. Dan ini terjadi. Lalu, apa yang salah? Di mana letak kesalahannya? Apakah karena mereka harus membuatnya dalam dan dengan Bahasa Jerman? Pada kenyataannya, dalam Bahasa Indonesia pun mereka tetap mengalami kesulitan. Jadi, masalah bukan terletak dalam penguasaan bahasa.

Pengamatan pada mahasiswa semester atas dan mahasiswa yang sedang menulis skripsi menunjukkan bahwa mereka saat ini cenderung memilih korpus skripsi dari iklan, artikel koran (kebanyakan artikel olah raga dan kecantikan), komik, sastra anak dan remaja yang populer (bukan Märchen seperti dari Gebrüder Grimm, atau dari sastrawan seperti Erich Kästner, Klaus Kordon, atau Cornelia Funke). Bukannya tidak bisa dan tidak diperbolehkan mengambil korpus dengan media-media di atas, namun alasan mereka mengambil media-media di atas adalah karena bahasanya mudah (dari struktur kalimat, kosa kata, gramatika secara umum) dan karena pendek. Alih-alih membaca roman atau drama, puisi pun jarang dilirik karena bahasa dan diksinya yang sulit. Alih-alih membaca rubrik Feuiletton atau ulasan politik atau ekonomi yang cukup ilmiah, rubrik interview pun jarang disentuh, apalagi membuat transkripsi percakapan sendiri. Tak cukup waktu, sulit, ingin cepat lulus.

Tak bisa menyalahkan mereka. Perlu dilihat, mengapa mereka kesulitan memahami teks-teks yang panjang dengan konstruksi bahasa tulisan yang rumit, yang mengakibatkan mereka pun kesulitan memproduksi teks, terutama teks ilmiah. Jawaban yang paling mungkin adalah karena mereka minim membaca. Mereka hanya membaca pasif, itu pun hanya bahan yang diberikan dosen, dibaca jika harus dan jika akan ujian. Bacaan lain pun berkisar pada bacaan populer yang cenderung mengalihkan ragam bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan atau komik yang lebih menonjolkan gambar dibandingkan teks. Tak heran, jika wawasan struktur kebahasaan mereka pun terbatas pada struktur subyek – predikat – obyek, dengan panjang tulisan berkisar pada 5 – 10 kalimat, atau struktur kalimat elipsis. Tidak jelas siapa subjek yang melakukan apa untuk siapa pada waktu kapan dan di mana serta mengapa dan bagaimana dilakukannya. Mereka mengalami kesulitan yang cukup besar dalam memahami dan memproduksi teks-teks ilmiah (dalam bahasa Jerman di antaranya ditandai dengan kosa kata khusus, bentuk nominal, berstruktur hipotaksis, serta menggunakan Partizip I dan II). Kekacauan penggunaan kala dalam kalimat seharusnya tidak terjadi lagi pada mahasiswa semester 7, ternyata masih sering terjadi, baik itu dalam bentuk lisan atau tulisan. Yang lebih mengherankan, banyak mahasiswa yang pernah tinggal di Jerman selama 6 bulan sampai 1 tahun pun tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk membaca dan menulis dalam bahasa Jerman. Walaupun untuk kompetensi mendengar dan berbicara memang mereka lebih baik dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang belum pernah mengalami tinggal di Jerman.

Ironis sekali, karena jika dilihat secara keseluruhan, kompetensi mahasiswa semester 7 pun baru sebatas kompetensi berbahasa tahap awal, yaitu mendengar dan berbicara. Pun sangat mengkhawatirkan, karena dari hasil Germanistentreffen beberapa waktu lalu, lulusan dari Jurusan Jerman diharapkan memiliki Textkompetenz yang tinggi. Mereka harus siap berhadapan dengan teks-teks yang sulit, mampu mengolah dan memahami isi teks yang sering ada di luar dunia pengalaman mereka, mampu membedakan informasi yang penting dan tidak penting, mereduksi isi teks yang rumit dan mempermudahnya untuk disampaikan kembali dalam bentuk lisan dan tulisan, mampu menjelaskan relasi antarteks dan wacana dengan beragam konteks, mampu menstrukturkan dan menyampaikan pengetahuan yang terlepas dari pengalaman mereka, dan pada akhirnya mampu memproduksi teks sendiri dengan beragam sumber dan informasi. Kemampuan ini penting dalam bidang penerjemahan (lisan dan tulisan), pengajaran, dan menurut saya, dalam semua bidang pekerjaan.

Sesungguhnya ini adalah tamparan yang keras untuk kami. Secara teori, ini tidak boleh terjadi. Jika sudah telanjur terjadi, apa yang bisa kami perbaiki? Kurikulum, isi mata kuliah dan sistem pengajaran yang terintegrasi. Mata kuliah menulis ‚Aufsatz’ dan percakapan ‚Konversation’ tidak bisa lepas dari mata kuliah membaca ‚Lesen’ dan ‚Übungen zur Lektüre’, tidak bisa lepas juga dari mata kuliah gramatika terapan ‚Angewandte Grammatik’, Morphologie, Syntax, dan Semantik. Selama ini masih berjalan masing-masing dan mahasiswa tidak dibiasakan untuk menganalisis, hanya dijejali teori tentang tempus, preposisi, Partizipialattribut, dan lain sebagainya, yang membuat orang jadi bosan. Belum lagi bentuk latihan yang hanya berupa isian atau mengubah bentuk misalnya dari aktif ke pasif, dll. Bahan yang digunakan pun bukan bahan yang bersifat kekinian, misalnya dari artikel koran atau dari roman, melainkan dari buku latihan tata bahasa, yang sering juga sudah sangat out of date. Sistem pengajaran dengan menerapkan bentuk perkuliahan pengamatan partisipatoris ‚beobachtendes Lernen’, di mana dosen dan mahasiswa aktif terlibat bersama memproduksi dan mengoreksi, sehingga masing-masing pihak saling belajar dari pengalaman aktif. Metode ini dilakukan secara individu, kemudian kelompok, selanjutnya bersama dalam kelas, dan cocok diberikan untuk mata kuliah kompetensi membaca dan menulis, misalnya: Aufsatz, Übungen zur Lektüre, Textlinguistik, Übersetzung, Lyrik atau Prosa. Metode lain yang ditawarkan adalah metode bergerak dalam lingkaran ‚Kugellagermethode’, yang mengombinasikan kemampuan individu dan kerjasama kelompok. Metode ini juga memadukan pengalaman belajar dengan bergerak dan meresepsi lewat mendengar dan bicara, sehingga cocok jika dilakukan untuk mata kuliah kompetensi mendengar dan berbicara seperti Konversation dan Diskussion und Präsentation.

Namun tentu saja, sebaik apapun metode pembelajaran yang ditawarkan dan dilakukan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan satu arah. Perlu peran aktif dari dosen dan mahasiswanya. Dari hasil diskusi kemarin disepakati bahwa minat baca mahasiswa harus ditingkatkan. Walaupun awalnya mungkin dengan paksaan, diharapkan mahasiswa nanti akan terbiasa membaca dengan sendirinya. Mulai semester ini, mahasiswa di setiap semester wajib membaca 3 buku yang harus „dilaporkan“ isinya secara lisan kepada dosen mereka. Saya rasa, paksaan ini akhirnya akan berlaku juga bagi para dosen untuk membaca. Bagaimana mungkin kami akan menguji mahasiswa pada bacaan mereka, jika kami juga tidak pernah membaca. Dan bagaimana mungkin kami meminta mereka menulis, jika kami juga tidak pernah menulis. Membaca bukan saja bahan kuliah dan  menulis bukan saja untuk kepentingan kenaikan pangkat. Ini satu tamparan lagi. Dan saya rasa, untuk kebaikan bersama, semua memang harus dimulai dari diri sendiri.

Advertisements

Pengumuman

“buseeet… jaman gini info kuliah di announce di facebook yah? ck..ck…”, begitu komentar salah seorang alumni di status Facebook saya hari ini. Di sana saya “mengumumkan” batas akhir penyerahan makalah dari mata kuliah-mata kuliah yang saya asuh. Status itu pun baru saya tulis setelah beberapa mahasiswa bertanya (lagi) kapan makalah harus diserahkan dan sms dikirim meminta penambahan waktu penyerahan. Setelah “pengumuman resmi” dipasang di Facebook, muncul beberapa komentar dan sms bertanya (lagi) apakah benar, apakah bisa diundur, masih liburan, masih di Jakarta, belum selesai, harus mengejar deadline dong, dll.

Giliran saya yang geleng-geleng kepala: kebiasaan. Padahal sejak awal kuliah sudah saya beritahukan kepada mahasiswa saya (dan diulang terus menerus saking kompulsifnya saya), bahwa pada akhir kuliah ada makalah yang harus dibuat dan dikumpulkan. Mereka bisa membuatnya saat itu juga, kalau mau, karena semua tema dan materi saya berikan di awal. Saya menyediakan pula waktu bimbingan di Sprechstunde saya, (sekali lagi) jika mereka mau. Perkuliahan saya pun selesai lebih awal dari jadwal “normal”, karena dibuat Blockseminar, mengingat beberapa materi tidak bisa diselesaikan dalam waktu 2 SKS. Logikanya, waktu mengerjakan akan lebih banyak. Logikanya begitu, kenyataan berkata lain. Masih banyak yang bekerja auf dem letzten Drück. Deadline. Mepet. Masih minta penambahan waktu pula. Curhat? Iya, karena –teganya- saya hanya memberi diri saya waktu dua minggu untuk membaca makalah-makalah tersebut, yang sering saking semangatnya sampai berpuluh-puluh halaman (ini makalah atau skripsi?!) atau saking terburu-burunya ada yang hanya 1,5 halaman saja. Seringnya saya abaikan dulu gramatika bahasa Jerman mereka untuk fokus ke isi, tapi mana bisa?!

Dan komentar dari salah seorang alumni tadi membuat saya tersenyum. Informasi lewat situs pertemanan tersebut (apapun: Friendster, Facebook, Hi5, dll) memang sangat efektif untuk “membangunkan” mahasiswa saya. Secara mereka lebih banyak beredar di sana, dibandingkan duduk menulis makalah mereka. Untuk itu saya juga jadi gaul, ikut-ikutan situs-situs tersebut. Ketika informasi verbal langsung tidak lagi menjadi terlalu efektif, media ini jadi salah satu cara mengefektifkannya. Betul? Untuk kasus ini saat ini rupanya iya. Mengapa bisa begini? Saya tidak mau membahasnya lebih lanjut. Nicht in der Stimmung. Komentar salah seorang alumni tadi cukup mewakili perubahan gaya perkuliahan masa kini. Hanya terjadi di Indonesia? Tidak tahu. Namun, saya pernah memberikan kuliah bahasa Indonesia dengan media YM di Bayreuth dulu. Hanya sekali dan saat itu terjadi karena suara saya sedang hilang entah kemana. Bisa dipecat jadi guru saya, kalau saya melakukannya terlalu sering, karena mata kuliah itu bukan berjenis praktikum, sehingga harus ada tatap muka di kelas secara langsung. Saya saja yang suka membandel, karena beberapa kali melakukan kuliah sambil memasak dan makan bersama dengan mahasiswa-mahasiswa saya.

Jadi, saya menjawab komentar alumni tadi dengan jawaban: mahasiswanya juga lebih banyak beredar di Facebook daripada mengerjakan tugas. Saya jawab juga tanggapan dan pertanyaan serta permintaan mahasiswa saya dengan nada bercanda: Selamat Tahun Baru. Tetap tanggal 9. Tidak ada perpanjangan. Libur tlah usai. Saatnya kembali bekerja :)

Sambil tersenyum saya menuliskan itu, karena saya juga tiba-tiba teringat, saat saya di Bayreuth pun sama seperti mereka (saya lupa, waktu kuliah S1 dulu apakah pernah ditugasi membuat makalah atau tidak, hehe). Immer auf dem letzten Drück. Bahkan saya pernah menunda makalah saya selama satu semester, hehe. Untung dosennya masih ingat bahwa saya pernah ikut mata kuliahnya. Dan membayangkan makalah-makalah yang akan saya baca nanti, saya juga jadi teringat makalah-makalah yang pernah saya buat. Dulu pasti membuat dosen-dosen saya mengerutkan kening, menarik nafas panjang, kemudian mengambil ballpoint, menarik garis miring panjang-panjang di beberapa halaman kemudian menuliskan: Katastrophe. Saya begitu jugakah? Ah, saya masih baik. Hanya membubuhkan tanda tanya besar saja. Hehehe…

Tulisanyangsengajadipostingdisinikarenadisinijarangdilihatmahasiswasaya:)