September

Saat itu hujan, dingin di luar. Masih bisa kutahan gigilnya. Hari belum tinggi. Perjalanan panjang yang kutempuh sampai pada tujuannya. Aku melangkah masuk. Ada rasa nyaman yang menyambutku. Rumah. Ini yang akan menjadi rumahku untuk malam itu, esok, lusa, minggu depan, bulan depan dan tahun-tahun ke depan. Tak besar, tapi nyaman. Aku langsung suka. Di sini aku akan menghabiskan waktuku.

Kuamati kamar yang tak besar ini. Terasa lapang untukku. Kubereskan bawaanku. Kutata tempat tidurku. Kuisi hening dengan menulis. Hening. Tenang. Aku suka. Selanjutnya aku memang hidup di sini. Di kamar ini. Ada tawa, ada tangis, ada rindu, ada lelah, ada semangat. Ada hidup di sini.

Hari ini. Hangat di luar. Matahari bersinar ramah. Menemaniku menghabiskan waktu di kamar ini. Ada kosong yang kurasakan serta sedih yang menyelinap begitu saja seiring dengan kosongnya rak buku dari penghuninya, lemari baju dari gantungannya, lemari dapur dari bumbunya, serta kamar mandi dari sabunnya. Tiba-tiba saja aku tergugu. Kosong menatap. Masa laluku sudah kutinggalkan malam kemarin. Kubuang saja. Toh kenangannya sudah menetap di hati dan kepala. Hanya berpindah tempat saja. Hanya berbeda cara mengenangnya.

Esok kamar ini akan kosong sendiri, tanpa penghuni. Menunggu penghuni baru bulan depan. Biarlah dia punya waktu sejenak untuk sendiri. Seperti juga aku. Aku ingin menikmati kekosongan itu pula. Sejenak saja. Hidup baru sudah siap untuk dimulai. Di tempat lain. Rumahku juga.

Bayreuth, 310806

22:28

A Room of Melancholia

Tak perlu tiga, satu saja cukup. Di dalamnya ada longing, breathing dan remembering. Lebih mungkin. Ditambah rasa-rasa yang lain. Saya memang sedang bermelankoli. Seperti biasa, saya memang posesif. Saya tidak suka keterpisahan. Juga dengan kamar ini. Juga dengan kota ini. Juga dengan orang-orangnya. Juga dengan hidup di dalamnya. Saya tahu, sudah begitu aturannya. Toh pada akhirnya saya akan terbiasa juga dengan keterpisahan itu. Bukankah itu malah membuat saya jadi lebih menghargai makna keterikatan? Bukankah dengan tak suka pada keterpisahan itu saya sudah rela mengikatkan diri saya?

Apapun. Semalam saya cuma tidur satu jam. Tidak bisa tidur. Banyak yang saya kerjakan walaupun sebenarnya adalah bentuk pengalihan kesekian kalinya dari kewajiban beres-beres dan melakukan persiapan pulang. Seperti biasa. Berpamitan pada orang-orang yang entah kenapa saya rasa begitu dekat dengan saya selama menjalani potongan hidup saya di sini. Ibu penjaga copy shop di belakang rumah, tukang döner di belakang rumah juga, dan tentu saja berpamitan pada orang-orang di toko buku belakang rumah. Hai, ternyata saya pun cukup berarti untuk mereka. Walaupun rasanya lucu, karena mereka tahu nama saya, tapi saya tak pernah tahu nama mereka. Kami berinteraksi sewajarnya relasi penyedia jasa dan pengguna jasa. Tapi mereka mencemaskan saya saat saya ada di Indonesia saat kejadian Tsunami besar dua tahun lalu. Betapa mereka bahagia saat melihat saya kembali berkunjung ke toko mereka: membeli döner, foto copy atau memesan buku. Pelukan erat pun tak terhindarkan. Begitu pula tadi. Mereka bagian jalan hidup saya di Bayreuth.

Saya akan rindu mereka. Seperti saya akan rindu pada kebersamaan saat Ramadhan dan Idul Fitri bersama sahabat-sahabat yang membuat pesta kejutan untuk saya hari ini. Saya tidak suka pesta perpisahan, mereka tahu itu. Tidak ada pesta perpisahan memang. Yang ada hanya mereka yang bersama-sama membuat pancake kesukaan saya. Mereka tahu saya suka sekali pancake. Yang ada hanya bincang-bincang biasa yang selalu kami lakukan. Yang ada hanya menikmati kebersamaan kami. Namun, ternyata tak bisa dihindari juga bahwa ada juga rasa sedih yang terselip saat sadar bahwa saya tak akan terlibat pada rencana tarawih bersama Ramadhan tahun ini atau pada malam-malam ifthar dengan undangan makan dari rumah ke rumah atau merayakan Idul Fithri bersama. Saya semakin bermelankoli. Ternyata air mata juga tak bisa ditahan untuk tidak jatuh berurai. Kami saling menguatkan. Saya tahu. Tapi kami pun punya jalan hidup masing-masing yang harus kami jalani. Sayangnya mungkin tak bersama-sama. Tapi bukankah itu indah juga?

Saya sedang mencoba menghibur diri. Tersenyum melihat hadiah-hadiah yang mereka berikan. Ya, benar: buku. Semua memberi saya buku. Tak perlu susah-susah. Mereka tahu apa yang bisa membuat saya bahagia dengan mata berbinar. Tapi, sambil tersenyum saya berpikir: bagaimana saya membawanya? Sedangkan saya sudah mengirimkan 10 kotak besar. Isinya? Tentu saja buku. Apa lagi.

Mereka memang sahabat-sahabat saya. Mereka tahu saya bahagia punya mereka dan berterima kasih atas keberadaan mereka. Saya pun tahu, mereka akan bahagia kalau buku-buku itu bisa saya bawa pulang. Tinggal saya harus berpikir keras, apalagi yang harus dibuang. Dan itu tentu saja bukan buku.

Mengunjungi Masa Lalu

Perjalanan akhir pekan yang melelahkan fisik tapi menguatkan psikis. Ada kedekatan yang aneh antara saya dan daerah Rheinland. Saya suka Rhein. Rheinstrasse entlang selalu menarik-narik saya untuk melewati dan menatap lekat tak mau lepas mulai dari Mainz lewat Koblenz lalu ke Bonn dan akhirnya berhenti di Köln. Ke atas sedikit sampai ke Düsseldorf. Atau sebaliknya, dari Köln sampai Mainz. Indah. Saya selalu merasa berada di negeri dongeng, dengan kastil-kastil batu di atas tebing atau di pulau kecil tengah sungai. Sungai, jalan, rel kereta berkelok-kelok mengikuti alur tebing dan gunung-gunung.

Pertama kali saya datang, 31 Agustus 1997, setelah perjalanan panjang, terpesona saya pada keindahan Rhein sehingga tak peduli pada orang-orang di depan saya yang membicarakan kematian Princess of Wales di Paris hari itu. Saya hanya melihat ke luar jendela. Rhein. Di sebelah saya orang Arab, di depan saya suami istri setengah baya orang Jerman. Pandangan tak putus pada Rhein rupanya menarik perhatian mereka. Kami berempat pun kemudian berbincang. Mereka pula yang membantu saya menurunkan koper di Köln Hbf. Selanjutnya perjalanan-perjalanan menyusuri Rhein yang hampir setiap 6 bulan sekali saya lakukan. Tak pernah bosan. Tak hanya dengan kereta api, tapi juga dengan mobil dan kapal feri. Rhein tetap indah.

Dan akhir pekan kemarin adalah perjalanan kesekian ke tepian Rhein. Mengunjungi masa lalu. Tak hanya Rhein, tapi juga orang-orangnya. Ada Bu Brincker. Perempuan yang sudah saya anggap nenek saya sendiri. Ada Ani, sahabat yang saya hubungi pertama kali saat saya tidak bisa menentukan mana selatan mana utara. Ada Sina, sahabat pena dari tahun 1992 yang sekarang pun sudah menjadi bagian dari Nordrhein Westfalen. Mereka yang menjadi sebagian penguat saya di sini. Bertemu dan mengunjungi mereka adalah kebahagiaan sendiri. Melihat kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya. Melihat perubahan mereka seperti melihat perubahan saya juga. Mereka bagian masa lalu saya, tapi juga jadi bagian masa kini dan masa depan saya. Mengunjungi mereka, tidak hanya mengunjungi masa lalu saya, tapi menjejakan kekinian saya untuk kemudian mengambil langkah-langkah ke depan. Juga bersama mereka, walaupun jalannya berbeda.

Kejutan pun masih terjadi pula. Bertemu Eka dan Kethy dari Georgia tak sengaja. Setiap dua tahun sekali kami bertemu tak sengaja kemudian pamitan. Tapi selalu bertemu tak sengaja untuk kemudian pamitan lagi. Seperti kemarin. Tak menduga bisa bertemu. Hidup memang penuh kejutan. Akhirnya kami tak berpamitan lagi, tapi saling ucap: sampai ketemu lagi lain tempat lain waktu. Siapa tahu.

Ah, tidak ada yang lebih membahagiakan selain berkunjung ke masa lalu, bertemu orang-orang yang ikut tumbuh bersama kita juga. Tumbuh menjadi kami yang sekarang. Rasanya seperti pulang ke rumah.

Die Sungkonos

Namanya Sonja dan Shanti Sungkono, kembar yang besar di Jakarta dan belajar piano dari ibunya serta dari beberapa orang guru privat. Tahun 1994 kuliah di Hochschüle der Künste (Sekolah Tinggi Seni) Berlin dan mengambil jurusan pedagogi musik dengan pengutamaan piano pada Prof. Sorin Enachescu. Tahun 1996 membentuk duo piano Sungkono. Tahun 1997 ikut serta dalam „Internationalen Summer Course“ di Rubin Academy of Music and Dance die Jerussalem dan mendapat nilai „excellent“. Kuliah mereka di Berlin diselesaikan dengan nilai “sehr gut”. Memenangkan beberapa kejuaraan, mendapat beberapa penghargaan salah satunya dari DAAD dan beasiswa dari NaFoeG. Melakukan konser tidak hanya di Eropa Barat dan Timur, tetapi juga di Amerika dan Amerika Selatan. Konser pertama mereka di Indonesia diadakan Agustus 2005 lalu. Sebuah konser amal.

Membaca nama Sungkono dalam program acara Wagner Festpiele 2006 di Bayreuth, membuat saya langsung memesan tiket pertunjukan duo pianist tersebut. Nama mereka memang belum seterkenal Ananda Sukarlan (tepatnya belum saya kenal), tapi saya yakin mereka orang Indonesia. Dan ternyata benar. Saya senang dan bangga, karena ada orang Indonesia yang bisa ikut serta dalam kegiatan Wagner Festspiele, salah satu “puncak” dalam kegiatan permusikklasikan di Jerman. Tidak mudah untuk bisa ikut serta dalam kegiatan festival tersebut, bahkan dalam acara Rahmenprogramm-nya sekalipun. Seleksinya cukup ketat. Saya harus dan ingin menyaksikannya. Dan keputusan saya tepat.

Konser diadakan di Haus Wahnfried jam 19:30. Ruangan depan rumah Wagner yang keempat dindingnya dipenuhi buku dalam lemari yang tertata rapi, beratap lukisan bercorak rokoko warna turkis, sudah terisi penuh saat saya datang. Sebuah piano berdiri anggun di dekat jendela lebar melengkung bertirai putih dan merah. Pengunjung menunggu dan duduk dengan sabar sampai kedua perempuan berambut panjang dan berkebaya modern hitam dengan rok hitam datang. Menunduk memberi salam untuk kemudian duduk dengan anggun dan percaya di diri mulai memainkan karya pertama: Mozart: Sonate D-Dur, KV 123 a.

Alunan pertama Allegro cukup menghentak. Indah. Pilihan yang bagus untuk awal pertunjukan. Mengundang atensi pengunjung. Dilanjutkan dengan Andante yang mendayu, ditutup dengan Allegro molto yang hentakannya diselingi alunan yang mengayun-ngayun. Masih terasa Mozart. Dilanjutkan dengan Fantasie f-Moll op. 103, DV 940 dari Schubert. Ini luar biasa. Malam menjelang. Senja meremang. Di belakang jendela langit kelabu. Memang hujan di luar. Namun, pohon-pohon yang ada di kebun belakang masih bisa terlihat, menambah kesan romantis dan imaginatif karya Schubert tersebut. Schubert memang indah.

Berikutnya adalah Debussy: L’enfant prodique yang menurut saya cukup gelap, karena banyak sekali main di nada-nada rendah. Tulisan tentang Prèlude, Cortège dan Air de Dance-nya L’enfant prodique tadi menyusul. Masih ada tambahan Dvořák: Slawische Tänze op. 46 serta Moskowsky: Neue spanische Tänze op. 66 Allegro, Andante con moto dan Habanera. Saya harus pergi dulu ke daerah Rheinland dan Ruhr selama empat hari. Lihat website mereka dulu saja, bisa dengarkan beberapa cuplikan permainan mereka juga. Yang jelas, saya puas sekali dengan pertunjukan dan permainan duo Sungkono tersebut. Dan saya semakin bangga jadi orang Indonesia.

Walküre

Dingin-dingin begini memang enaknya minum teh hangat dengan ritual biasa: diusap dulu pinggiran cangkirnya, dirasakan hangatnya, dihirup wanginya, diseruput pelahan, lalu rasakan hangat yang menyelusup pelahan ke seluruh tubuh. Jadi hari ini, setelah menyelesaikan urusan ini itu dan memulai hidup dari jam 8 pagi (terlalu pagi sebenarnya untuk saya yang sudah setengah tahun ini terbiasa mulai berkegiatan pada jam 12 siang), saya menyusuri Richard-Wagner-Str. menuju Haus Wahnfried.

Langkah saya tentu saja terhenti, karena toko teh di dekat Haus Wahnfried memajang koleksi teh bernuansa Wagner Festspiele. Ya, khususnya toko-toko sepanjang Richard-Wagner-Str. memang ekstra ikut serta memeriahkan Wagner Festspiele yang akan berakhir 28 Agustus nanti. Karena tetangga mungkin, ya, di Maximilianstr. tidak terlalu heboh kok. Dan toko teh bernama Thymian Tee und Ambiente itu (yang tentu saja bukan salah satu dari jenis-jenis teh yang eksis di dunia) mengemas koleksi teh-nya dalam kemasan hitam lalu diberi nama tokoh-tokoh serta karya-karya Wagner. Ada Parsifal, Lohengrin, Tristan und Isolde, Götterdämmerung, Walküre, Der fliegende Holländer, Siegfried, dll. Jenisnya ada teh hitam, teh hijau, roiboos (beraroma dan tidak beraroma), Kräutertee, Früchtetee, macam-macam. Suka-suka yang buat. Karena saya tidak terlalu suka jenis roiboos dan teh hijau, apalagi Kräutertee, maka saya memilih berlama-lama di bagian teh hitam. Ada tiga pilihan: Götterdämmerung, Siegfried dan Walküre. Setelah menimbang-nimbang, mencium-cium, merenung-renung, akhirnya saya memilih Walküre, teh hitam jenis ceylon assam dengan rasa buah-buahan tropis karena diberi tambahan: potongan-potongan buah mangga dan nanas kering, bunga mawar, bunga jagung, bunga matahari, dan Ringelblumenblüten (apa ya Bahasa Indonesianya? Pokoknya begitu deh, bunganya berwarna orange). Götterdämmerung tidak saya pilih karena „cuma“ Darjeeling Second Flush, rasanya tidak terlalu menantang. Hitam sih yang jelas dan tentu saja mantap. Siegfried juga tak terpilih. Entah karena apa, lupa. Walküre wanginya menggoda. Exotis. Sudah rindu rumah rupanya. Tepatnya rindu buah mangga (jadi sebenarnya mau minum teh atau makan buah mangga, sih ?!).

Yang lainnya, walaupun menggoda untuk dicoba, tak membuat saya mengalihkan pilihan. Alasannya karena jenisnya teh hijau, roiboos, Kräutertee dan Früchtetee. Buat saya, teh itu harus memiliki unsur dan rasa daun teh. Ya, teh hijau dan roiboos bisa juga sih, tapi kurang menggigit. Lain kali saja mungkin saya coba. Menarik juga mungkin mencoba teh hijau Tristan und Isolde yang beraroma orange. Jadi Liebestrank? Mungkin. Siapa tahu.

Dan, bagaimana rasanya „Walküre“? Tentu saja enak. Hmm…benar-benar tidak mengecewakan . Tepat seperti yang dibayangkan

walküre.

Pagi Ini

*)
Sudi tetap berusaha/ Jujur dan ikhlas/ Tak usah banyak bicara /Trus kerja keras/ Hati teguh dan lurus/ Pikir tetap jernih/ Bertingkah laku halus/ Hai, putra negeri/ Bertingkah laku halus/ Hai, putra negeri *)

Selamat Ulang Tahun, Indonesia !

Bayreuth, 17 Agustus 2006

*) Gambar diambil pada 17 Agustus 2005 di Luitpoldplatz, Bayreuth, saat Wagner Festspiele. Bukan bendera Indonesia sebenarnya, melainkan Monaco. Tapi ngga apa-apa, yang penting merah putih dengan posisi yang benar.
**) 2. Strophe „Bangun Pemudi Pemuda“

Pakistan

Jadi, akhir pekan kemarin kami membicarakan Pakistan: Aïsha, orang tuanya –Eleonore dan Werner-, dan saya. Tahu-tahu saja tema itu muncul dalam pembicaraan setelah makan malam. Awalnya karena Aïsha sedang bekerja di Pameran Kebudayaan India di Frankfurt dan mendapat tugas menerjemahkan teks tentang arsitektur Moghul.

Pembicaraan jadi meluas ke negara tetangganya India: Pakistan (Urdu: پاکستان ). Dalam Bahasa Urdu, „Pakistan“ bermakna „Tanah dari yang Suci“ (pak: suci dalam jiwa; stan: tanah/negara). Namun, pada tanggal 28 Januari 1933 di Cambridge, Choudhary Rahmat Ali memaknai lain nama „Pakistan“, yang merupakan kependekan dari Punjab, Afghanistan (bagian Barat Daya), Kaschmir, Sindh, dan Belutschistan. Ide pembentukan negara Pakistan ini sendiri sebenarnya berawal dari Muhammad Iqbal (1877 – 1938) saat menjabat sebagai presiden di konferensi All-India-Muslim League sekitar tahun 1930, yang menginginkan adanya negara muslim mandiri yang lepas dari India. Ide ini baru bisa terwujud pada 14. August 1947, saat negara ini resmi terbentuk setelah melalui tahapan-tahapan lobby, perundingan, dll. Gandhi tidak menginginkan India yang Hindu dan Islam pecah, tapi keinginannya ini tidak terwujud. Pakistan berdiri dan tetap ada di bawah protektorat British-India. Ali Jinnah menjabat presiden pertama Pakistan.

Saat itu sekitar 4 juta kaum muslimin India meninggalkan wilayah India sekarang. Sebaliknya 7 juta umat Hindu dan Sikh meninggalkan wilayah Pakistan. Tentu saja pembagian tidak berjalan mulus-mulus saja. Diperkirakan saat perpindahan 750.000 orang kehilangan nyawanya. Dan sampai sekarang, wilayah Kashmir yang subur tetap menjadi daerah sengketa. Tapi tentang Kashmir ini kapan-kapan saja dibahasnya. Sudah cukup rumit. Yang pasti, India dan Pakistan ini dibagi tepat pada tengah malam tanggal 14 Agustus. Salman Rushdie „mengabadikannya“ dalam bentuk roman berjudul „Midnight’s Children“ (1981). Salah satu buku Salman Rushdie yang terbagus. Disarankan untuk dibaca.

Danksagung

An erster Stelle danke ich Allah des Allerbarmers, des Barmherzigen, denn alles Lob gebührt Allah, dem Herrn der Welten. Ohne Ihn wird alles nicht erschafft und nicht verwirklicht. An Ihn widme ich all meine ganzen Tat und Leben.

Tempat pertama tentulah untuk Allah Sang Maha Pengasih dan Penyayang, karena segala puji memang hanya untuk-Nya. Tuhan Penguasa Alam. Tanpa-Nya semua tidak akan tercipta dan nyata. Untuk-Nya seluruh tindak dan hidup ditujukan.

Meinen Eltern gilt mein liebevoller Dank für die unendliche Unterstützung und für das Dabeisein. Für sie ist ja auch mein Leben gewidmet. Meinen Schwestern und meinem Bruder gilt auch dieser Dank.

Untuk yang tercinta, orang tua saya, terima kasih tak terkira atas dukungannya tanpa henti dan untuk keberadaannya. Untuk mereka pula hidup saya ditujukan. Juga untuk ketiga adik saya.

Herrn Müller-Jacquier nenne ich für seine Betreuung, sein Vertrauen, seine Unterstützung, seine Beratung, seine Anregungen von Ideen und seine Hilfsbereitschaft. Dafür gilt mein herzlicher Dank.

Herr Müller-Jacquier atas bimbingannya, kepercayaannya, dukungannya, saran dan ide-idenya juga untuk kesediaannya membantu saya selalu. Terima kasih tak terhingga.

Herrn Hausendorf danke ich nicht nur für die Übernahme des Zweitgutachters, aber auch für seine konstruktiven und wohlmeinenden Kritik und Kommentare, seine unterstützenden Anregungen, sein Vertrauen, seine Hilfe und seine ideenreichen Veranstaltungen. Ihm gilt mein ganz besonderer Dank, besonders auch für die Gespräche über Sprechstunde in seinen Sprechstunden.

Herr Hausendorf, untuknya saya berterima kasih tidak hanya karena telah bersedia menjadi co-pembimbing saya, tetapi juga untuk kritik dan komentarnya yang sangat konstruktif dan membangun, untuk saran-sarannya yang mendukung, untuk kepercayaannya, untuk bantuannya dan untuk perkuliahan-perkuliahan yang menarik. Terima kasih juga khususnya untuk pembicaraan dan diskusi-diskusi tentang jam bicara di jam bicaranya.

Herrn Hansmann für seine interessanten Veranstaltungen, seine Art und Weise bei der Vermittlung des Wissens und der pädagogischen Hinsicht sollte ich herzlich danken.

Herr Hansmann untuk perkuliahan-perkuliahannya yang menarik, caranya menyampaikan pengetahuan dan pandangan-pandangan pedagogisnya.

Peter und Susanne für die Hilfe und Unterstützung. Frau Richter für Ihr Vertrauen und Hilfe. Frau Rost-Roth von TH Berlin danke ich mich für die Nutzung ihrer Transkriptsdaten, die für meine Arbeit eine grosse Hilfe spielten. Ich bedanke mich auch für die „freiwilligen“ Probanden, die ihre Sprechstundengespräche bereitwillig aufnehmen liessen. Walter und Ulla Wagner für die Freundschaft und nette Gastfreundlichkeit, die Begeisterung an Indonesien auch für die Unterstützung. Meine indonesische Klasse, die mir beim Prozess des Selbst-Aktualisierens eine grosse Hilfe schenkten. An denen soll mein herzlichster Dank gelten. Danke: Peter, Kathrin, Julian, Eva, Thomas, Florian, Matthias, Fabian, Martin, Till, Benedikt, Eva, Katja, Rebekka, Philipp, Johanna, Heidi, Conny, Maxi, Jana, Steffi, Patrick, Thorsten, Frithjof, Christof, Jannik, Jan, Konrad, Florian, Tom, Anne, Kathy, Christian.

Peter dan Susanne untuk bantuan dan dukungannya. Frau Richter untuk kepercayaan dan bantuannya. Frau Rost-Roth dari TH Berlin untuk ijinnya menggunakan data-data transkripsi percakapan miliknya: bantuan yang sangat besar untuk pekerjaan saya. Terima kasih juga untuk „Probanden“ suka rela yang mengijinkan jam bicara mereka direkam dan dianalisa. Walter dan Ulla Wagner untuk pertemanan dan keramahtamahannya, untuk minat yang besar pada Indonesia juga untuk semua dukungannya. Kelas-kelas Bahasa Indonesia saya yang membantu proses aktualisasi diri saya selama di Bayreuth. Untuk mereka lah terima kasih khusus saya persembahkan. Terima kasih: Peter, Kathrin, Julian, Eva, Thomas, Florian, Matthias, Fabian, Martin, Till, Benedikt, Eva, Katja, Rebekka, Philipp, Johanna, Heidi, Conny, Maxi, Jana, Steffi, Patrick, Thorsten, Frithjof, Christof, Jannik, Jan, Konrad, Florian, Tom, Anne, Kathy, Christian.

Nina Berthold danke ich besonders herzlichst für ihre geduldige und kritische Lesen und Kommentare sowie Diskussionen beim Korrektur all meiner Arbeit. Besonders für die Schwesterschaft und die Unterstützung.

Untuk Nina Berthold adalah terima kasih tak terhingga. Untuk kesabarannya dan kekritisannya membaca pekerjaan saya. Untuk koreksi dan diskusi-diskusi perbaikan semua pekerjaan saya. Terutama untuk persaudaraan dan dukungannya.

Für die Korrektur der Gesprächstranskription gilt Sandra Seemann mein bester Dank. Durch die Technologie und Erfindung vom Internet ist die weitentfernte Korrektur zwischen Bayreuth und Kairo ermöglicht.

Untuk koreksi transkripsi percakapan, terima kasih khusus saya tujukan pada Sandra Seemann. Lewat teknologi dan penemuan internet, koreksi jarak jauh antara Bayreuth – Kairo menjadi termungkinkan.

Meine Schwester in Bustanu An Nuur Bayreuth: Seher, Aliye, Fatma, Hatice, Kathrin, Jasmin, Lydia, Aisha, Nina, Sandra, Linnea, Joy, Sobiroh, Julia, Immelinga, Steffi, Janina, Sabine, Ying Hui, Sarah, Umma Salma, Tahani, Fakhera, Ouvahida, für unsere Gemeinsamkeit, so dass das Leben in Bayreuth viel schöner und bedeutsamer ist.

Saudara-saudara saya di Bustanu An Nuur Bayreuth: Seher, Aliye, Fatma, Hatice, Kathrin, Jasmin, Lydia, Aisha, Nina, Sandra, Linnea, Joy, Sobiroh, Julia, Immelinga, Steffi, Janina, Sabine, Ying Hui, Sarah, Umma Salma, Tahani, Fakhera, Ouvahida, untuk kebersamaan kami, sehingga hidup dan kehidupan di Bayreuth menjadi lebih indah dan bermakna.

Steffi, Szilvia, Marta, Eva, Irina, Claudia, Qian, Miau, Lin Lin, Michaela für die nette Freundschaft in Bayreuth. Das gilt auch für Sina und Familie, meine beste Freundin. Bayreuth bedeutet nicht ohne Ibu Ningsih und Erich sowie „mein grosser Bruder“ Ahmad und Familie (Tahani, Abudi und Zena). Für sie gilt ja mein bester Dank. Auch für Ibu Brincker und Ani. Deutschland bedeutet für mich die beiden.

Steffi, Szilvia, Marta, Eva, Irina, Claudia, Qian, Miau, Lin Lin, Michaela untuk persahabatan yang indah di Bayreuth. Juga untuk sahabat saya: Sina dan keluarga. Bayreuth tak akan berarti tanpa Ibu Ningsih dan Erich juga „my big brother“ Ahmad dan keluarga (Tahani, Abudi dan Zena). Untuk merekalah terima kasih tak terhingga. Juga untuk Ibu Brincker dan Ani. Jerman berarti mereka berdua untuk saya.

Meine Kolleginnen in der Deutschabteilung Unpad, für ihr Vertrauen und Unterstützung. Kuswandi und Amel sind meine grosse Unterstützung in der guten und schweren Zeit. Sowie auch Evi. Egal, irgendwo sind wir, sie ist immer anwesend, auch in guten und schweren Zeiten. Lusi für die Ermütigung. Ich kann kaum erwarten, Euch wieder zu sehen, Mädels. Koen, für die während des Frühstücks netten und inspirierten Gespräche und seine Aufmerksamkeit. Natürlich auch Svann für die grosse Hilfe, unendliche Unterstützung und sein Vertrauen. Iqbal, für das Vertrauen, dass ich alles schaffen kann. Seine Kurzmeldung, dass ich durchhalten soll, egal in welcher Situation, war meine Stärke. Dies ist für ihn, nach dem langen Kampf auch gegen mich selber. Danke.

Kolega-kolega saya di Jurusan Sastra Jerman Unpad untuk kepercayaan dan dukungannya. Kuswandi dan Amel adalah dukungan terbesar saya di masa-masa senang dan susah. Juga Evi. Di mana pun kami berada, dia selalu ada untuk saya: dalam suka dan duka. Lusi untuk dukungan semangatnya. Saya tak sabar menunggu untuk bertemu mereka berdua lagi. Koen, untuk percakapan-percakapan yang hangat, menyenangkan dan inspiratif saat sarapan dan untuk perhatiannya. Tentu saja untuk Svann atas bantuannya, dukungannya yang tanpa henti dan untuk kepercayaannya. Iqbal, untuk kepercayaannya bahwa saya bisa menyelesaikan semuanya. Pesan pendeknya bahwa saya harus bertahan dalam situasi apapun adalah penguat saya. Ini untuknya, setelah „perang“ yang lama, pun untuk melawan diri saya sendiri. Terima kasih.

Tiefe Entschuldigung soll ich für alle ausdrucken, die während meiner ab und zu mal schwänkenden Emotion als „Opfer“ geworden sind: noch nicht beantwortete E-mails, unbeachtete Telefongespräche, unbeantwortete Kurzmeldungen, manchmal auch gefühllose Äusserungen, Ablehnungen, so ne Art. Entschuldigung und danke, dass ihr mich verstehen könnt (zumindest: versuchen).

Permohonan maaf yang tulus harus saya sampaikan kepada semua yang sudah menjadi „korban“ naik turunnya emosi saya: email yang tidak terbalas, telefon yang terabaikan, pesan pendek tak berjawab, bahkan kadang-kadang ucapan-ucapan „tak berperasaan“, penolakan, dan semacamnya. Maaf dan terima kasih karena kalian dapat mengerti saya (minimal: mencoba mengerti).

Eigentlich gilt aller grosste Dank immer und immer noch mals an meinen Schöpfer: Allah, der durch seine Barmherzigkeit, durch die Leute, die für mich immer da sind, zeigt, dass Er mich niemals allein verlässt. Und wie Sein Versprochen, dass die Leichtigkeit nach den Schwierigkeiten kommen wird. Also, alhamdulillah. Das wäre ja ein passendes Wort.

Terima kasih yang terbesar sebenarnya tetap dan selalu untuk Sang Maha Pencipta: Allah SWT, yang karena kasih sayang-Nyalah diciptakan mereka-mereka yang selalu ada untuk saya dan lewat merekalah, Dia tunjukkan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan saya sendiri. Dan seperti janji-Nya selalu, bahwa kemudahan selalu datang setelah kesulitan. Maka, alhamdulillah. Hanya itulah kata yang tepat.

Bayreuth, 090806

00:01

Menangis (karena) Wagner


Menangis (karena) Wagner? Duh, segitunya. Ada apa dengan musik Wagner sampai bisa membuat saya menangis? Sebelumnya, harus diluruskan dulu.
Saya bukan menangis karena Wagner, tapi menangis dengan diiringi musik Wagner (ini lagi!). Tepatnya diiringi Parsifal: Vorspiel zum 1. Akt yang mengalir tenang lambat kemudian naik pelahan dengan damai, tapi saat itu ternyata cukup menyayat hati (duh!). Kemudian dilanjut dengan Parsifal: Karfreitagszauber yang awalnya saja sudah megah, tetapi malah membuat air mata saya mengalir semakin deras (halah!). Berikutnya yang mengiringi saya adalah Tristan und Isolde: Vorspiel und Liebestod yang cukup gelap, namun masih menyisakan cahaya terang di ujungnya. Ada damai, tapi saat itu lelehan air mata saya tak juga berhenti (duh!). Kemudian yang mengiringi tangisan saya adalah Lohengrin: Vorspiel zum 1. Akt yang seperti membawa saya ke tepian danau di atas gunung yang tinggi dan dingin, jauh, luas, hening, sepi. Air mata saya tak juga berhenti (wah!), apalagi ketika hentakan timpani menimpali alunan cello dan biola yang mengalir indah. Dada saya juga seperti dihentak-hentak. Semakin dihentakkan dengan Götterdämmerung: Trauermarsch. Masih cukup gelap. Kontrabass yang mengawali. Gaung dari kegelapan. Timpani masih menimpali. Suara nun jauh di sana. Diselingi oboe dan basun. Kontrabass masih terdengar samar. Bum, bum, bum. Samar tapi kuat dan pasti. Saya rasa saya harus berhenti. Tapi desakan dari dada semakin kuat. Air mata saya mengalir semakin deras (wah, bagaimana ini?!). Saya memang suka badai. Namun, badai di hati, dada dan kepala ini sudah memuncak, saya hampir tidak bisa tahan. Dan saat itu saya memang sedang tidak mau menahannya. Saya tidak hentikan tangisan saya. Saya biarkan. Mengalir. Mengalir. Dada saya sesak. Air mata saya terus jatuh. Wagner masih mengiringi. Kali ini Die Meistersinger von Nürnberg: Vorspiel zum 1. Akt. Biolanya menyayat-nyayat. Indah. Naik. Terus. Tinggi. Diayun. Dihentak. Naik lagi. Naik lagi. Semakin tinggi. Semakin tinggi. Turun pelahan. Biola tidak menjerit dan menyayat lagi. Violon cello menurunkannya. Sedikit lebih rendah. Masih berayun-ayun. Kepala dan dada saya masih terasa penuh. Dinaikturunkan. Timpani dihentak. Lepas…Saya menangis tanpa suara. Untuk akhirnya diam. Tak ada air mata lagi yang keluar. Saya hanya merasakan ruang kosong di dada dan kepala saya. Hening saja. Tenang. Damai. Sedikit lewat dari tengah malam. Saya beranjak. Menghapus sisa air mata saya.

Kenapa saya menangis diiringi Wagner? Hanya kebetulan. Kebetulan saja musiknya cocok dengan suasana hati saya saat itu. Sebelumnya saya dengar dan lihat pertunjukan Strauss di televisi. Musik-musik Waltz-nya. Saya menangis juga, tapi sambil sesekali tertawa, karena acaranya dikemas dengan lucu. Setelah itu saya dengar Wagner untuk melepaskan emosi saya. Berhasil. Saya lega bisa menangis. Setelah sekian lama hati saya rasanya seperti membatu (duh, mau menangis saja susah. Pakai diiringi Wagner segala).

Jadi, saya kenapa? Tidak apa-apa. Kepala dan dada saya sedang sangat penuh. Ketika keasingan terasa semakin kuat mengepung saya. Ketika saya sedang tidak ingin berpikir, bertanya, menghubungkan dan mendefinisikan sesuatu. Ketika saya merasa lelah lahir batin, bahkan untuk berpikir pun saya tidak kuasa. Energi saya terserap habis. Ketika saya hanya ingin merasakan saat-saat istimewa berhadapan dan jujur dengan diri. Ketika saya hanya ingin diam. Diam hanya untuk sekedar diam. Diam tanpa perlu menjelaskan alasan kenapa saya diam. Saya hanya ingin itu. Diam saja. Tapi, saya juga tidak ingin diam sendiri. Saya putar Wagner. Teman setia saya yang menemani saya diam.

Pagi ini. Matahari bersinar cerah. Setelah dua hari sebelumnya dingin dan hujan tiba-tiba menyapu dan menguapkan panas begitu saja. Hari ini tidak panas. Matahari sangat bersahabat. Hangat saja yang membelai wajah dan punggung saya. Saya ke luar. Ke kantor pos. Ada kelompok musik dari Rusia memainkan musik rakyatnya di Sternplatz. Ceria. Saya tersenyum. Menikmatinya. Indah. Saya masih tersenyum, kemudian beranjak. Masih ada yang harus saya lakukan. Dan saya ingin melakukannya.

 

Bayreuth, 070806

14:50

 

Fragen

1. Durch welche Handlungen zeigen die Personen, die sich beraten lassen möchten, ihre Wissensasymmetrie?

2. Welche zentralen Bereiche sind von Wissensasymmetrie betroffen, vor allem dann, wenn es sich um eine interkulturelle Kommunikation handelt?

3. Welche Bereiche der nonverbalen Kommunikation werden in den neueren Lehrwerken Deutsch als Fremdsprache bevorzugt und welche Lernziele/-bereiche werden durch die Aufgabenstellung verfolgt?

4. Wie setzt sich Uwe Timm in seinem Berich „Am Beispiel meines Bruders“ mit der deutschen Geschichte auseinander und wie ist seine Position auf den deutschen „Erinnerungsdiskurs“ ?

***

„Frau Ekawati, Sie haben 4 Stunden Zeit, um die Fragen zu beantworten. Sie sollen nur zwei Fragen beantworten, eine Frage soll aber von Ihrer Schwerpunktkomponente“.

Dann habe ich mir die Frage Nr. 1 und 3 gewählt. Überrascht habe ich -ehrlich gesagt- auf die angegeben Fragen geschaut. Bin mir sicher, dass ich so etwa 15 Minuten lang die Fragen langsam und vorsichtig nur gelesen habe. Danach habe ich angefangen zu schreiben. 4 Stunden, 10 Seiten. Was ich geschrieben habe, weiss ich nicht mehr. Hauptsache ist das schon vorbei und muss die letzte mündliche Prüfung noch machen. Dienstag, 16 – 17 Uhr. Hoffentlich wird das alles auch gut laufen, wie die letzteren Prüfungen.

Ach, warum ich meine StudenInnen und meine indonesische Klasse plötzlich vermisse? Peter, Kathrin, Julian, Eva, Thomas, Phillipp, Heidi, Johanna, Walter, Flo,Matthias, Martin, Fabian, Jana, Conny,Sarah, Frithjof, Patrick, Thorsten, Till, Benedikt, Rebekka, Eva, Maxi, Christof, Katja, Steffi, Janik, Jan, Anne, Florian, Tom, Konrad, Christian und Kathy. Kinder, ich werde Euch alle wirklich vermissen. Die Zeit mit Euch war einfach schön. Das hat mir beim Einleben hier sehr viel geholfen.

„Frau Ekawati, das ist ja nur Ihre Melancholie. Sie sollen für die nächste Prüfung doch noch lernen. Ihre Aufgabe ist noch nicht zu Ende. Geduld sollen Sie noch haben. Immer. Kommen Sie, auf geht’s!“