September

Saat itu hujan, dingin di luar. Masih bisa kutahan gigilnya. Hari belum tinggi. Perjalanan panjang yang kutempuh sampai pada tujuannya. Aku melangkah masuk. Ada rasa nyaman yang menyambutku. Rumah. Ini yang akan menjadi rumahku untuk malam itu, esok, lusa, minggu depan, bulan depan dan tahun-tahun ke depan. Tak besar, tapi nyaman. Aku langsung suka. Di sini aku akan menghabiskan waktuku.

Kuamati kamar yang tak besar ini. Terasa lapang untukku. Kubereskan bawaanku. Kutata tempat tidurku. Kuisi hening dengan menulis. Hening. Tenang. Aku suka. Selanjutnya aku memang hidup di sini. Di kamar ini. Ada tawa, ada tangis, ada rindu, ada lelah, ada semangat. Ada hidup di sini.

Hari ini. Hangat di luar. Matahari bersinar ramah. Menemaniku menghabiskan waktu di kamar ini. Ada kosong yang kurasakan serta sedih yang menyelinap begitu saja seiring dengan kosongnya rak buku dari penghuninya, lemari baju dari gantungannya, lemari dapur dari bumbunya, serta kamar mandi dari sabunnya. Tiba-tiba saja aku tergugu. Kosong menatap. Masa laluku sudah kutinggalkan malam kemarin. Kubuang saja. Toh kenangannya sudah menetap di hati dan kepala. Hanya berpindah tempat saja. Hanya berbeda cara mengenangnya.

Esok kamar ini akan kosong sendiri, tanpa penghuni. Menunggu penghuni baru bulan depan. Biarlah dia punya waktu sejenak untuk sendiri. Seperti juga aku. Aku ingin menikmati kekosongan itu pula. Sejenak saja. Hidup baru sudah siap untuk dimulai. Di tempat lain. Rumahku juga.

Bayreuth, 310806

22:28

A Room of Melancholia

Tak perlu tiga, satu saja cukup. Di dalamnya ada longing, breathing dan remembering. Lebih mungkin. Ditambah rasa-rasa yang lain. Saya memang sedang bermelankoli. Seperti biasa, saya memang posesif. Saya tidak suka keterpisahan. Juga dengan kamar ini. Juga dengan kota ini. Juga dengan orang-orangnya. Juga dengan hidup di dalamnya. Saya tahu, sudah begitu aturannya. Toh pada akhirnya saya akan terbiasa juga dengan keterpisahan itu. Bukankah itu malah membuat saya jadi lebih menghargai makna keterikatan? Bukankah dengan tak suka pada keterpisahan itu saya sudah rela mengikatkan diri saya?

Apapun. Semalam saya cuma tidur satu jam. Tidak bisa tidur. Banyak yang saya kerjakan walaupun sebenarnya adalah bentuk pengalihan kesekian kalinya dari kewajiban beres-beres dan melakukan persiapan pulang. Seperti biasa. Berpamitan pada orang-orang yang entah kenapa saya rasa begitu dekat dengan saya selama menjalani potongan hidup saya di sini. Ibu penjaga copy shop di belakang rumah, tukang döner di belakang rumah juga, dan tentu saja berpamitan pada orang-orang di toko buku belakang rumah. Hai, ternyata saya pun cukup berarti untuk mereka. Walaupun rasanya lucu, karena mereka tahu nama saya, tapi saya tak pernah tahu nama mereka. Kami berinteraksi sewajarnya relasi penyedia jasa dan pengguna jasa. Tapi mereka mencemaskan saya saat saya ada di Indonesia saat kejadian Tsunami besar dua tahun lalu. Betapa mereka bahagia saat melihat saya kembali berkunjung ke toko mereka: membeli döner, foto copy atau memesan buku. Pelukan erat pun tak terhindarkan. Begitu pula tadi. Mereka bagian jalan hidup saya di Bayreuth.

Saya akan rindu mereka. Seperti saya akan rindu pada kebersamaan saat Ramadhan dan Idul Fitri bersama sahabat-sahabat yang membuat pesta kejutan untuk saya hari ini. Saya tidak suka pesta perpisahan, mereka tahu itu. Tidak ada pesta perpisahan memang. Yang ada hanya mereka yang bersama-sama membuat pancake kesukaan saya. Mereka tahu saya suka sekali pancake. Yang ada hanya bincang-bincang biasa yang selalu kami lakukan. Yang ada hanya menikmati kebersamaan kami. Namun, ternyata tak bisa dihindari juga bahwa ada juga rasa sedih yang terselip saat sadar bahwa saya tak akan terlibat pada rencana tarawih bersama Ramadhan tahun ini atau pada malam-malam ifthar dengan undangan makan dari rumah ke rumah atau merayakan Idul Fithri bersama. Saya semakin bermelankoli. Ternyata air mata juga tak bisa ditahan untuk tidak jatuh berurai. Kami saling menguatkan. Saya tahu. Tapi kami pun punya jalan hidup masing-masing yang harus kami jalani. Sayangnya mungkin tak bersama-sama. Tapi bukankah itu indah juga?

Saya sedang mencoba menghibur diri. Tersenyum melihat hadiah-hadiah yang mereka berikan. Ya, benar: buku. Semua memberi saya buku. Tak perlu susah-susah. Mereka tahu apa yang bisa membuat saya bahagia dengan mata berbinar. Tapi, sambil tersenyum saya berpikir: bagaimana saya membawanya? Sedangkan saya sudah mengirimkan 10 kotak besar. Isinya? Tentu saja buku. Apa lagi.

Mereka memang sahabat-sahabat saya. Mereka tahu saya bahagia punya mereka dan berterima kasih atas keberadaan mereka. Saya pun tahu, mereka akan bahagia kalau buku-buku itu bisa saya bawa pulang. Tinggal saya harus berpikir keras, apalagi yang harus dibuang. Dan itu tentu saja bukan buku.

Mengunjungi Masa Lalu

Perjalanan akhir pekan yang melelahkan fisik tapi menguatkan psikis. Ada kedekatan yang aneh antara saya dan daerah Rheinland. Saya suka Rhein. Rheinstrasse entlang selalu menarik-narik saya untuk melewati dan menatap lekat tak mau lepas mulai dari Mainz lewat Koblenz lalu ke Bonn dan akhirnya berhenti di Köln. Ke atas sedikit sampai ke Düsseldorf. Atau sebaliknya, dari Köln sampai Mainz. Indah. Saya selalu merasa berada di negeri dongeng, dengan kastil-kastil batu di atas tebing atau di pulau kecil tengah sungai. Sungai, jalan, rel kereta berkelok-kelok mengikuti alur tebing dan gunung-gunung.

Pertama kali saya datang, 31 Agustus 1997, setelah perjalanan panjang, terpesona saya pada keindahan Rhein sehingga tak peduli pada orang-orang di depan saya yang membicarakan kematian Princess of Wales di Paris hari itu. Saya hanya melihat ke luar jendela. Rhein. Di sebelah saya orang Arab, di depan saya suami istri setengah baya orang Jerman. Pandangan tak putus pada Rhein rupanya menarik perhatian mereka. Kami berempat pun kemudian berbincang. Mereka pula yang membantu saya menurunkan koper di Köln Hbf. Selanjutnya perjalanan-perjalanan menyusuri Rhein yang hampir setiap 6 bulan sekali saya lakukan. Tak pernah bosan. Tak hanya dengan kereta api, tapi juga dengan mobil dan kapal feri. Rhein tetap indah.

Dan akhir pekan kemarin adalah perjalanan kesekian ke tepian Rhein. Mengunjungi masa lalu. Tak hanya Rhein, tapi juga orang-orangnya. Ada Bu Brincker. Perempuan yang sudah saya anggap nenek saya sendiri. Ada Ani, sahabat yang saya hubungi pertama kali saat saya tidak bisa menentukan mana selatan mana utara. Ada Sina, sahabat pena dari tahun 1992 yang sekarang pun sudah menjadi bagian dari Nordrhein Westfalen. Mereka yang menjadi sebagian penguat saya di sini. Bertemu dan mengunjungi mereka adalah kebahagiaan sendiri. Melihat kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya. Melihat perubahan mereka seperti melihat perubahan saya juga. Mereka bagian masa lalu saya, tapi juga jadi bagian masa kini dan masa depan saya. Mengunjungi mereka, tidak hanya mengunjungi masa lalu saya, tapi menjejakan kekinian saya untuk kemudian mengambil langkah-langkah ke depan. Juga bersama mereka, walaupun jalannya berbeda.

Kejutan pun masih terjadi pula. Bertemu Eka dan Kethy dari Georgia tak sengaja. Setiap dua tahun sekali kami bertemu tak sengaja kemudian pamitan. Tapi selalu bertemu tak sengaja untuk kemudian pamitan lagi. Seperti kemarin. Tak menduga bisa bertemu. Hidup memang penuh kejutan. Akhirnya kami tak berpamitan lagi, tapi saling ucap: sampai ketemu lagi lain tempat lain waktu. Siapa tahu.

Ah, tidak ada yang lebih membahagiakan selain berkunjung ke masa lalu, bertemu orang-orang yang ikut tumbuh bersama kita juga. Tumbuh menjadi kami yang sekarang. Rasanya seperti pulang ke rumah.

Die Sungkonos

Namanya Sonja dan Shanti Sungkono, kembar yang besar di Jakarta dan belajar piano dari ibunya serta dari beberapa orang guru privat. Tahun 1994 kuliah di Hochschüle der Künste (Sekolah Tinggi Seni) Berlin dan mengambil jurusan pedagogi musik dengan pengutamaan piano pada Prof. Sorin Enachescu. Tahun 1996 membentuk duo piano Sungkono. Tahun 1997 ikut serta dalam „Internationalen Summer Course“ di Rubin Academy of Music and Dance die Jerussalem dan mendapat nilai „excellent“. Kuliah mereka di Berlin diselesaikan dengan nilai “sehr gut”. Memenangkan beberapa kejuaraan, mendapat beberapa penghargaan salah satunya dari DAAD dan beasiswa dari NaFoeG. Melakukan konser tidak hanya di Eropa Barat dan Timur, tetapi juga di Amerika dan Amerika Selatan. Konser pertama mereka di Indonesia diadakan Agustus 2005 lalu. Sebuah konser amal.

Membaca nama Sungkono dalam program acara Wagner Festpiele 2006 di Bayreuth, membuat saya langsung memesan tiket pertunjukan duo pianist tersebut. Nama mereka memang belum seterkenal Ananda Sukarlan (tepatnya belum saya kenal), tapi saya yakin mereka orang Indonesia. Dan ternyata benar. Saya senang dan bangga, karena ada orang Indonesia yang bisa ikut serta dalam kegiatan Wagner Festspiele, salah satu “puncak” dalam kegiatan permusikklasikan di Jerman. Tidak mudah untuk bisa ikut serta dalam kegiatan festival tersebut, bahkan dalam acara Rahmenprogramm-nya sekalipun. Seleksinya cukup ketat. Saya harus dan ingin menyaksikannya. Dan keputusan saya tepat.

Konser diadakan di Haus Wahnfried jam 19:30. Ruangan depan rumah Wagner yang keempat dindingnya dipenuhi buku dalam lemari yang tertata rapi, beratap lukisan bercorak rokoko warna turkis, sudah terisi penuh saat saya datang. Sebuah piano berdiri anggun di dekat jendela lebar melengkung bertirai putih dan merah. Pengunjung menunggu dan duduk dengan sabar sampai kedua perempuan berambut panjang dan berkebaya modern hitam dengan rok hitam datang. Menunduk memberi salam untuk kemudian duduk dengan anggun dan percaya di diri mulai memainkan karya pertama: Mozart: Sonate D-Dur, KV 123 a.

Alunan pertama Allegro cukup menghentak. Indah. Pilihan yang bagus untuk awal pertunjukan. Mengundang atensi pengunjung. Dilanjutkan dengan Andante yang mendayu, ditutup dengan Allegro molto yang hentakannya diselingi alunan yang mengayun-ngayun. Masih terasa Mozart. Dilanjutkan dengan Fantasie f-Moll op. 103, DV 940 dari Schubert. Ini luar biasa. Malam menjelang. Senja meremang. Di belakang jendela langit kelabu. Memang hujan di luar. Namun, pohon-pohon yang ada di kebun belakang masih bisa terlihat, menambah kesan romantis dan imaginatif karya Schubert tersebut. Schubert memang indah.

Berikutnya adalah Debussy: L’enfant prodique yang menurut saya cukup gelap, karena banyak sekali main di nada-nada rendah. Tulisan tentang Prèlude, Cortège dan Air de Dance-nya L’enfant prodique tadi menyusul. Masih ada tambahan Dvořák: Slawische Tänze op. 46 serta Moskowsky: Neue spanische Tänze op. 66 Allegro, Andante con moto dan Habanera. Saya harus pergi dulu ke daerah Rheinland dan Ruhr selama empat hari. Lihat website mereka dulu saja, bisa dengarkan beberapa cuplikan permainan mereka juga. Yang jelas, saya puas sekali dengan pertunjukan dan permainan duo Sungkono tersebut. Dan saya semakin bangga jadi orang Indonesia.

Walküre

Dingin-dingin begini memang enaknya minum teh hangat dengan ritual biasa: diusap dulu pinggiran cangkirnya, dirasakan hangatnya, dihirup wanginya, diseruput pelahan, lalu rasakan hangat yang menyelusup pelahan ke seluruh tubuh. Jadi hari ini, setelah menyelesaikan urusan ini itu dan memulai hidup dari jam 8 pagi (terlalu pagi sebenarnya untuk saya yang sudah setengah tahun ini terbiasa mulai berkegiatan pada jam 12 siang), saya menyusuri Richard-Wagner-Str. menuju Haus Wahnfried.

Langkah saya tentu saja terhenti, karena toko teh di dekat Haus Wahnfried memajang koleksi teh bernuansa Wagner Festspiele. Ya, khususnya toko-toko sepanjang Richard-Wagner-Str. memang ekstra ikut serta memeriahkan Wagner Festspiele yang akan berakhir 28 Agustus nanti. Karena tetangga mungkin, ya, di Maximilianstr. tidak terlalu heboh kok. Dan toko teh bernama Thymian Tee und Ambiente itu (yang tentu saja bukan salah satu dari jenis-jenis teh yang eksis di dunia) mengemas koleksi teh-nya dalam kemasan hitam lalu diberi nama tokoh-tokoh serta karya-karya Wagner. Ada Parsifal, Lohengrin, Tristan und Isolde, Götterdämmerung, Walküre, Der fliegende Holländer, Siegfried, dll. Jenisnya ada teh hitam, teh hijau, roiboos (beraroma dan tidak beraroma), Kräutertee, Früchtetee, macam-macam. Suka-suka yang buat. Karena saya tidak terlalu suka jenis roiboos dan teh hijau, apalagi Kräutertee, maka saya memilih berlama-lama di bagian teh hitam. Ada tiga pilihan: Götterdämmerung, Siegfried dan Walküre. Setelah menimbang-nimbang, mencium-cium, merenung-renung, akhirnya saya memilih Walküre, teh hitam jenis ceylon assam dengan rasa buah-buahan tropis karena diberi tambahan: potongan-potongan buah mangga dan nanas kering, bunga mawar, bunga jagung, bunga matahari, dan Ringelblumenblüten (apa ya Bahasa Indonesianya? Pokoknya begitu deh, bunganya berwarna orange). Götterdämmerung tidak saya pilih karena „cuma“ Darjeeling Second Flush, rasanya tidak terlalu menantang. Hitam sih yang jelas dan tentu saja mantap. Siegfried juga tak terpilih. Entah karena apa, lupa. Walküre wanginya menggoda. Exotis. Sudah rindu rumah rupanya. Tepatnya rindu buah mangga (jadi sebenarnya mau minum teh atau makan buah mangga, sih ?!).

Yang lainnya, walaupun menggoda untuk dicoba, tak membuat saya mengalihkan pilihan. Alasannya karena jenisnya teh hijau, roiboos, Kräutertee dan Früchtetee. Buat saya, teh itu harus memiliki unsur dan rasa daun teh. Ya, teh hijau dan roiboos bisa juga sih, tapi kurang menggigit. Lain kali saja mungkin saya coba. Menarik juga mungkin mencoba teh hijau Tristan und Isolde yang beraroma orange. Jadi Liebestrank? Mungkin. Siapa tahu.

Dan, bagaimana rasanya „Walküre“? Tentu saja enak. Hmm…benar-benar tidak mengecewakan . Tepat seperti yang dibayangkan

walküre.

Pagi Ini

*)
Sudi tetap berusaha/ Jujur dan ikhlas/ Tak usah banyak bicara /Trus kerja keras/ Hati teguh dan lurus/ Pikir tetap jernih/ Bertingkah laku halus/ Hai, putra negeri/ Bertingkah laku halus/ Hai, putra negeri *)

Selamat Ulang Tahun, Indonesia !

Bayreuth, 17 Agustus 2006

*) Gambar diambil pada 17 Agustus 2005 di Luitpoldplatz, Bayreuth, saat Wagner Festspiele. Bukan bendera Indonesia sebenarnya, melainkan Monaco. Tapi ngga apa-apa, yang penting merah putih dengan posisi yang benar.
**) 2. Strophe „Bangun Pemudi Pemuda“

Pakistan

Jadi, akhir pekan kemarin kami membicarakan Pakistan: Aïsha, orang tuanya –Eleonore dan Werner-, dan saya. Tahu-tahu saja tema itu muncul dalam pembicaraan setelah makan malam. Awalnya karena Aïsha sedang bekerja di Pameran Kebudayaan India di Frankfurt dan mendapat tugas menerjemahkan teks tentang arsitektur Moghul.

Pembicaraan jadi meluas ke negara tetangganya India: Pakistan (Urdu: پاکستان ). Dalam Bahasa Urdu, „Pakistan“ bermakna „Tanah dari yang Suci“ (pak: suci dalam jiwa; stan: tanah/negara). Namun, pada tanggal 28 Januari 1933 di Cambridge, Choudhary Rahmat Ali memaknai lain nama „Pakistan“, yang merupakan kependekan dari Punjab, Afghanistan (bagian Barat Daya), Kaschmir, Sindh, dan Belutschistan. Ide pembentukan negara Pakistan ini sendiri sebenarnya berawal dari Muhammad Iqbal (1877 – 1938) saat menjabat sebagai presiden di konferensi All-India-Muslim League sekitar tahun 1930, yang menginginkan adanya negara muslim mandiri yang lepas dari India. Ide ini baru bisa terwujud pada 14. August 1947, saat negara ini resmi terbentuk setelah melalui tahapan-tahapan lobby, perundingan, dll. Gandhi tidak menginginkan India yang Hindu dan Islam pecah, tapi keinginannya ini tidak terwujud. Pakistan berdiri dan tetap ada di bawah protektorat British-India. Ali Jinnah menjabat presiden pertama Pakistan.

Saat itu sekitar 4 juta kaum muslimin India meninggalkan wilayah India sekarang. Sebaliknya 7 juta umat Hindu dan Sikh meninggalkan wilayah Pakistan. Tentu saja pembagian tidak berjalan mulus-mulus saja. Diperkirakan saat perpindahan 750.000 orang kehilangan nyawanya. Dan sampai sekarang, wilayah Kashmir yang subur tetap menjadi daerah sengketa. Tapi tentang Kashmir ini kapan-kapan saja dibahasnya. Sudah cukup rumit. Yang pasti, India dan Pakistan ini dibagi tepat pada tengah malam tanggal 14 Agustus. Salman Rushdie „mengabadikannya“ dalam bentuk roman berjudul „Midnight’s Children“ (1981). Salah satu buku Salman Rushdie yang terbagus. Disarankan untuk dibaca.