Berterima Kasih

Botanischer Garten Bayreuth 2013

Botanischer Garten Bayreuth, August 2013

Tiga tahun lalu saya sempat bertanya kepada salah seorang sahabat: bagaimana rasanya menjadi doktor. Hampir empat minggu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan yang sama. Ternyata jawaban yang saya berikan juga sama dengan jawaban dari sahabat saya itu: biasa saja. Memang biasa saja, selain kelegaan yang cukup besar karena telah selesai melakukan satu tugas. Namun, saya selalu percaya bahwa tidak pernah ada akhir, semua selalu menjadi awal. Dan untuk saya, hampir 4 tahun menjalani proses promosi ini bukan hanya masalah akademis, intelektualitas, jadi doktor atau tidak jadi doktor, tetapi lebih dari itu. Selama itu pula saya semakin belajar mengenal diri saya: saya yang tidak sabaran, saya yang panikan, saya yang pencemas, saya yang penakut, saya yang pemalas, saya yang sering menunda pekerjaan, saya yang keras kepala, saya yang masih mementingkan apa kata orang, dan saya saya yang lain, yang selama ini mungkin tidak muncul terlihat ke permukaan.

Maka untuk saya bukan hasil akhir yang semata-mata membuat saya lega, tetapi keseluruhan proses panjang yang terus terang saya rasakan cukup berat ini ternyata terlewati juga. Dan ini bukan hasil kerja saya sendiri, ada banyak bantuan dan kekuatan dari Sang Maha Membantu lewat orang-orang yang dikirimkanNya untuk saya dan berada di sekeliling saya: dengan cara apapun. Maka, bagian paling personal dan paling saya sukai dari setiap karya saya adalah ucapan terima kasih. Jika diijinkan, mungkin seperempat bagian dari disertasi saya bisa penuh oleh nama-nama. Sayangnya tidak bisa. Jadi, saya menulis di sini, karena saya tidak bisa melepaskan nama-nama mereka yang membantu saya –langsung tidak langsung- sampai pada titik lain perjalanan hidup saya.

Selain kepada para guru dan para professor saya, saya sangat berterima kasih pada Peter Kistler yang sejak tahun 1992 menjadi teman diskusi, teman yang mendukung saya secara akademis dan secara personal, teman yang membantu saya melihat diri saya dan keIndonesiaan saya dari kacamata lain, teman yang siap memberikan kritik pedas yang konstruktif. Svann Langguth yang juga selalu siap mendukung saya. Jutta Kunze yang juga selalu siap membantu. Ilona Kruger yang dengan caranya memungkinkan saya melanjutkan perjalanan. Gaby Ziegler yang selalu ada dan selalu siap saya repotkan. Begitu juga dengan Barbara Schwarz-Bergmann yang sudah „rela“ dibuat pusing dan menjadi tempat saya protes. Walter dan Ulla Wagner yang selalu menyediakan rumahnya untuk saya, membuat saya merasa selalu memiliki „rumah“ di Bayreuth. Begitu juga dengan Mbak Ivo Oppl, my big sister and my partner in crime di Bayreuth, atas kebesaran hati dan pintu yang selalu dibuka lebar untuk saya. Terima kasih telah ada dan membantu saya.

Bicara tentang data dan transkrip, maka saya harus berterima kasih banyak pada Mbak Yanti Mirdayanti, Poppy Siahaan, Mbak Andi Nurhaina, Jutta Kunze, Gabriella Otto,  Tanja Schwarzmeier, Astrid Krake, Ibu Dian Indira serta semua narasumber yang bersedia direkam dan dianalisis. Pada Shita Sarah, Hani Priandini, Lastari Duggan, Mia Marwati, Genita Canrina, Fitri Khairani dan Sarifah Alia terima kasih atas bantuannya mentranskripsi data saya. Ganjar Gumuruh yang telah mengajarkan saya mengedit video dan membantu mengkonversi semua data rekaman.

Terima kasih juga untuk Sina Friedrich dan Ani serta Ronald Nangoy yang selalu siap dengan kunjungan dadakan saya dan yang membuat saya selalu merasa bahwa Jerman adalah mereka. Mbak Rahayu Nurwidari yang juga selalu siap membuka pintunya untuk saya. Sarah Merret yang banyak sekali membantu, dari mulai mengoreksi pekerjaan saya, menyediakan rumahnya, sampai mengajari saya memasak nasi biryani :)

Teman-teman sesama „minoritas“ di Bayreuth: Mas Rizal dan Ani, Yusri dan Meta –teman jalan-jalan dan diskusi-, Heriyanto Tjoa dan terutama Andhika Puspito Nugroho, yang selalu siap membantu dan selalu bersedia saya repotkan termasuk dalam urusan menyiram tanaman dan belanja daging :) Bantuan dan keberadaan mereka membuat saya tidak merasa sendiri.

Sahabat-sahabat seperjuangan dan teman-teman curhat: Ahmad Zahra, Mohammed el Nasser, Sherine Elsayed –yang juga menyediakan tempatnya untuk saya saat mengambil data-,  Chen Jieying, Ahmad Alradi, Ahmad Keshavarzi, Mariusz Woloszyn, Sandra Romero, Sokol Keraj –sang sutradara, yang menjadi teman berbagi keluhan, kerumitan ide dan pikiran, Gao Qian yang juga selalu siap membantu saya dan menjadi tempat curhatan saya. Terima kasih khusus untuk Monika Pondelek, sahabat saya, teman curhat, teman bergossip, teman diskusi, teman nonton dan teman yang membuat saya menjadi suka mewarnai kuku saya :) Dia juga teman yang menyediakan kamarnya untuk saya tempati dan menyepi agar saya bisa bekerja dengan tenang dan yang bersedia ditelfon serta didatangi tengah malam untuk diinapi karena pintu rumah terkunci :) Terima kasih untuk pengertian dan bantuannya.

Sahabat-sahabat saya sehati, seperjuangan, seperjalanan: Lola Devung, sinkronisitas di Mannheim 2010 membawa pada chatting panjang malam-malam sambil mentranskrip, mengolah data, bergossip, facebooking, twittering, youtubing serta berujung pada perjalanan murah meriah ke Schwarzwald, Colmar, Barcelona, Turki dan kehebohan-kehebohan yang masih berlanjut sampai sekarang. Juga Vita Yusadiredja dengan modus operandi yang sama berujung pada perjalanan gila ke Itali, Swiss dan Nordsee. Teh Ani Rachmat teman seperjuangan sejak dari Bandung yang akhirnya tercapai juga keinginannya main bersama di Eropa, walaupun cuma menghabiskan satu akhir pekan bersama di Berlin. Shita Sarah Safaryah, si neneng jeprut, walau bagaimana pun jeprutnya dia, saya berterima kasih karena dia telah membantu saya mentranskrip dan bersedia begadang bersama untuk membicarakan hal-hal yang sangat “penting” dan “gila” bersama dengan teman sehatinya: Cicu Finalia, yang juga bersedia menemani saya begadang (atau tepatnya membuat dia juga ikut begadang bersama kami). Seperti juga teman-teman di Fakultas Sebelah: Nani Darmayanti –bantuannya sangat tidak terkira-, Tanti Skober, Evi RD, Iwan Khrisnanto, Teh Kamelia Gantrisia dan tentu Teh Sofia Agustriana yang selalu bersedia saya repotkan. Juga Lusi Lian Piantari dan Harfiyah Widiawati yang selalu menjadi sahabat yang penuh pengertian. Mereka ini yang membuat saya tetap ada di jalur yang “benar” :)

Kuncoro Wastuwibowo, Mbak Hindraswari Enggar Dwipeni, Gilang Yubiliana, Ari Asnani, Wayan Lessy, Bettina David, Tarlen Handayani adalah orang-orang yang menebarkan banyak energi dan inspirasi positif bagi saya. Terima kasih.

Kolega-kolega saya di Jurusan, yang memberikan banyak keluangan waktu untuk saya, terutama untuk ibu Hesti Puspa Handayani, ibu Dian Indira, ibu Damayanti Priatin, ibu Yunni Sugianto, yang selalu mendukung dan mempercayai saya.

Sahabat saya Insan Fajar, yang selalu siap kapan pun saya “teriaki” dan saya mintai bantuan jika ada masalah dengan laptop atau program-program yang tidak saya mengerti, teman berbincang panjang lebar dan berbagi ide. Dien Fakhri Iqbal, tempat berbagi kekeraskepalaan dan kegilaan, yang membuat saya merasa bahwa saya ternyata masih cukup “normal” dengan semua kerumitan cara berpikir saya. Kuswandi Amijaya, sahabat dalam suka dan duka, yang selalu bersedia saya repotkan, yang selalu bersedia mendengarkan semua keluhan dan ocehan saya, yang selalu siap membantu saya apapun situasinya. Bima Bayusena, yang dengan caranya yang tenang dapat “menarik“ saya kembali serta “melambatkan” langkah jika saya sudah melampaui batas, menjadi telinga yang dengan sabar  mendengarkan semua keluhan saya dari hal-hal besar sampai hal-hal sepele. Mereka ini lah yang mengetahui dengan pasti, bahwa saya pun menangis :)

Untuk saya tidak berlebihan jika saya berterima kasih pada Pearl Jam, Peterpan (lalu Noah), Phil Collins, Sting, U2, Coldplay, Boyce Avenue, Scala Choir, pada banyak musisi yang musik-musiknya telah setia menemani hari-hari saya bekerja dan melewati masa-masa naik turun sampai saat ini (dan juga nanti). Juga pada Akhmad Dody Firmansyah yang telah memberikan hadiah yang selalu bisa membuat saya tersenyum saat ada dalam tekanan.

Terima kasih terbesar adalah untuk orang tua saya, adik-adik saya dan keponakan saya yang menjadi penjaga utama api hidup saya. Tidak ada cukup kata untuk mengungkapkan (dan memang tidak bisa saya ungkapan) rasa terima kasih dan rasa syukur saya atas keberadaan mereka.

Pada akhirnya memang hanya kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang saya bersyukur atas limpahan berkah dan kasih sayangNya, yang diberikan langsung kepada saya dan dipanjangkan melalui keberadaan semua orang yang selalu ada dan menyayangi saya, juga yang saya sayangi.

Untuk saya tidak pernah ada akhir, semua adalah awal. Berada di titik ini adalah awal saya untuk semakin memahami, bahwa tidak ada sedikit pun nikmat yang bisa saya dustakan. Ini adalah awal saya untuk semakin menyadari, bahwa saya dapat berada pada titik ini saat ini karena mereka semua. Dan semua ini akhirnya memang untuk mereka, bahkan untuk mereka yang namanya tidak sempat atau lupa saya sebut. Saya ada di titik ini bukan semata untuk saya. Maka saya hanya bisa berharap, semoga keberadaan saya di titik ini juga bisa membawa berkah bagi semua.

Advertisements

Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? – Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)

Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.

Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.

Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya „omelkan“ dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.

Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya „kerjasama“ ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan „tradisional“, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.

Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).

Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang „baik“, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.

Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.

Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih „baik“ dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!

Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. The right man in the right place. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.

Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.

Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar,  tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa „berjarak“ dan „objektif“ dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji „rumah“ sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: painfull. Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.

Tentang Bimbingan dan Konsultasi

Sudah lewat beberapa lama, tetapi catatan tentang proyek pengambilan data untuk kepentingan penelitian saya baru saya buat sekarang. Itupun karena deadline harus dipresentasikan besok dan saya selalu merasa lebih mudah mengungkapkan pikiran saya dalam bahasa Jerman, jika sebelumnya sudah saya keluarkan dulu dalam bahasa Indonesia dalam bentuk tulisan tak ilmiah ini. Hal ini saya lakukan juga saat saya menulis tesis dan menjelang ujian sidang.

Jadi, saya berencana meneliti interaksi antara dosen Jerman dan mahasiswa  Indonesia saat jam konsultasi atau bimbingan di jurusan-jurusan Jerman di Indonesia. Tujuan saya melakukan penelitian ini adalah untuk melihat kekhasan pola interaksi yang terjadi dalam proses konsultasi dan bimbingan tersebut serta problematika yang muncul saat proses interaksi terjadi pada percakapan. Kekhasan dan problematika ini akan dikaji secara etnografis (melokalisasi konteks interaksi), analisis percakapan (korpus penelitian adalah percakapan yang direkam secara audio-visual), dan Theorie der kommunikativen Gattung (terjemahan yang “tidak tepatnya” adalah theory of communicative genre) dari Knoblauch, Günthner (1997).  Mengingat partisipan percakapan mewakili latar belakang budaya yang berbeda, maka kajian akan difokuskan pula pada kajian komunikasi lintas budaya. Kaitan kepada kajian ini juga sebenarnya lebih karena saya masuk ke jurusan Interkulturelle Germanistik, di mana komunikasi dalam bahasa Jerman dengan partisipan orang Jerman menjadi titik berat.  Kalau boleh jujur saya sebenarnya lebih senang berada di area netral ilmu murninya, yang tampaknya tidak terlalu berpihak, tetapi tampaknya juga tidak bisa, karena saya tetap harus menentukan sikap akan berada di mana, tentu pilihan ini –sayangnya- harus disertai argumen-argumen yang logis dan “ilmiah”.

Mengapa saya sampai ke tema itu? Pertama karena saya berkecimpung dalam bidang pendidikan dan saya melakukan kegiatan yang saya teliti: sebagai pembimbing dan sebagai yang dibimbing, sebagai konsultan dan sebagai yang mencari dan butuh saran, saya dosen dan juga mahasiswa, saya bicara bahasa Indonesia dan juga bahasa Jerman, saya bekerja di Indonesia dan kuliah di Jerman. Pengalaman-pengalaman ini membuat saya selalu berada di dua area yang berbeda, ke sana ke mari. Saya melakukan, saya mengalami, saya tahu, saya mengerti, saya paham bahwa ada yang sama dan ada yang berbeda dari kedua proses: membimbing dan dibimbing, baik di Indonesia maupun di Jerman. Ada pola interaksi yang khas dengan penggunaan unsur-unsur linguistik dan paralinguistik yang juga khas, ritual-ritual yang sadar tak sadar sudah diinstitusionalkan, tetapi juga ada unsur pendukung psikososiopragmatik bahkan budaya, yang tak bisa dilepaskan dari konteks interaksi.  Kedua, karena saya melihat belum ada kajian empiris tentang hal ini dalam konteks interaksi Indonesia-Jerman di lingkup universitas. Ketiga, dari temuan empiris tadi diharapkan menjadi awal untuk pengembangan hal-hal yang bersifat praktis di kemudian hari untuk bidang pengajaran, pendidikan dan konsultasi.

Knoblauch-Günther mengungkapkan tiga tataran analisis untuk melihat genre satu proses komunikasi atau interaksi, yaitu: tataran mikro (register, tata bahasa, gaya bahasa, mimik, gestik dan faktor nonverbal lainnya), tataran interaksi (proses alih tutur, reparasi, jeda, tawa, dll), dan tataran makro (latar belakang sosial, budaya, agama, pendidikan, dll). Dalam kenyataannya, saya rasa ketiga tataran ini memang menjadi fokus kajian wacana mutakhir, bahkan disertai dengan ulasan kritis terhadap suatu wacana yang diusung oleh teks atau percakapan. Analisis wacana kritis dijadikan pisau bedah untuk mengungkap lebih dalam hal-hal yang tersembunyi di balik satu wacana dalam bentuk teks atau percakapan. Saya belum sampai ke sana, walaupun dari pengalaman saya dan data empiris yang saya dapat, hal-hal tersembunyi tersebut sudah mulai menampakkan diri. Namun, saya harus membatasi diri dulu. Mengupas ketiga tataran itu saja sudah banyak.

Lalu, mengapa percakapan Indonesia-Jerman dan Jerman-Indonesia? Alasan utama tentu saja karena saya adalah orang Indonesia berbahasa ibu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,  yang menghidupi diri dan berkecimpung dalam bidang pendidikan bermedium bahasa Jerman, saya melakukan studi lanjut di Jerman, berinteraksi dengan orang dan budaya Jerman dengan bahasa Jerman, namun tetap tak bisa lepas dari identitas saya (identitas dalam makna sempit) sebagai orang Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Indonesia yang mana? Bicara tentang Jerman lebih mudah untuk saya. Dari segi geografis, Jerman hanya punya satu daerah. Bahasanya pun sama: bahasa Jerman, dengan beragam variasi dialek, namun tetap itu bahasa Jerman. Dengan demikian, budaya Jerman pun cenderung homogen. Budaya dalam konteks ini adalah budaya yang luas, mulai dari cara berpikir,  bertindak serta berlaku. Sedangkan jika saya bicara tentang Indonesia maka saya tidak bisa mengkategorikan Indonesia sebagai gabungan dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara. Indonesia itu khas. Khas oleh bahasanya, budayanya, cara berpikir, cara hidup serta bertindak. Jika saya memilih sampel subyek penelitian di Jawa, maka itu rasanya belum mewakili Indonesia. Jawa pun Jawa yang mana? Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur? Sulit untuk mendefinisikan Indonesia.

Akhirnya dengan beragam pertimbangan, saya memutuskan mengambil data penelitian di Jawa. Pertimbangannya –sayangnya masih atas pertimbangan faktor “Jerman”- native speaker Jerman untuk jurusan Jerman di Indonesia saat ini hanya ada di universitas-universitas di Jawa, yaitu di Jakarta (UI dan UNJ), Bandung (Unpad) dan Malang (UM). Masalah penempatan native speaker ini juga menarik untuk diamati, mengapa mereka hanya ditempatkan di Jawa, bukan di luar Jawa? Pertimbangan lainnya adalah masalah waktu dan dana. Alangkah menyenangkan dan membuat data semakin akurat sebenarnya jika saya bicara tentang Indonesia dan saya mengambil sampel data di seluruh pulau di Indonesia. Namun, ini akan menjadi kerja gila-gilaan yang tidak mungkin saya lakukan sendiri. Keterbatasan waktu dan dana untuk mengambil data, membuat saya hanya bisa berkeliling Jawa.  Demikianlah saya sampai pada proses pemilihan data.

Pertengahan Januari sampai pertengahan Maret 2010 saya berada di Indonesia untuk memulai proses pengambilan data ini. Awalnya saya berpikir akan mudah, mengingat saya masuk ke area teman-teman dan kolega saya sendiri. Namun, ternyata tidak semudah itu. Saya berusaha berkorespondensi untuk meminta ijin merekam dan mengatur jadwal pengambilan data dari Jerman, dengan pertimbangan waktu dan dana yang tidak banyak tadi, sehingga saya harus mengatur waktu dan keuangan seefektif mungkin. Namun, hal ini tidak berhasil dilakukan. Saya yang berada di “dua dunia” mengerti benar masalah seperti ini. Pengalaman saya dan „harapan“ saya bahwa perencanaan awal dengan orang-orang Jerman akan berlangsung lebih mudah dan cepat seperti biasa terjadi di Jerman, ternyata tidak berfungsi. Dengan pihak Indonesia saya juga tidak berharap banyak. Beruntung sebelum mulai proses pengambilan data saya mengikuti seminar  yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan Jerman se Indonesia, termasuk native speaker Jermannya sendiri. Dalam seminar itu saya mendapat kesempatan untuk melakukan lobby secara  personal pada mereka, menerangkan apa yang saya lakukan, dan meminta ijin pada mereka untuk mengambil data di tempat mereka bekerja. Native speaker langsung mengiyakan, dengan catatan saya harus minta ijin dulu ke ketua jurusan tempat mereka bekerja. Ketua jurusan-ketua jurusan yang kebetulan sudah saya kenal juga secara pribadi juga –pada prinsipnya- mengijinkan, hanya saya diminta membuat surat resmi yang ditujukan kepada dekan untuk meminta ijin  pengambilan data. Ini yang saya lupa, surat menyurat di atas kertas masih memegang peranan penting di Indonesia. Namun, hal ini saya pikir penting juga, karena keberadaan saya di institusi-institusi yang akan saya rekam datanya menjadi resmi. Ada bukti hitam di atas putih.

Kendala mulai terlihat, saat native speaker itu tidak memiliki jadwal jam bicara dan konsultasi yang pasti, seperti yang ada dalam “budaya universitas” di Jerman, di mana dosen seminggu sekali menyediakan waktu antara 1 sampai 1,5 jam di ruangannya untuk melayani mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi. Tema konsultasinya beragam, dari mulai membahas tugas perkuliahan dan tugas akhir, menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti dalam perkuliahan, sampai ke masalah yang bersifat administratif akademis. Konsultasi dan jam bicara dalam konteks Jerman sudah diinstitusionalisasi menjadi genre komunikasi yang baku. Karena ini adalah percakapan institusional, maka area pribadi (baik itu secara ruang, waktu dan tema percakapan)menjadi hal yang lepas sama sekali. Berbeda dengan di Indonesia. Konsultasi, bimbingan bisa terjadi di manapun, tidak hanya di kampus ( di kelas atau di ruang jurusan), tapi bisa di rumah, cafe, kantin, halte bus, bisa di bawah pohon, bisa sambil jalan dari ruang kelas menuju ruang jurusan, dll. Menarik untuk diamati, bahwa di Indonesia tidak ada pembagian yang jelas antara institusi dan ruang pribadi. Semua mengalir melintas batasan itu, namun justru di sinilah proses bimbingan dan konsultasi berjalan „seperti yang diharapkan“ kedua belah pihak. Jangan-jangan jika dosen-dosen itu (baik Indonesia dan Jerman) memiliki jam dan ruang konsultasi khusus, tidak akan pernah ada mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi. Saya pernah bereksperimen dengan hal ini dan memang terbukti bahwa tidak ada satupun mahasiswa yang datang di jam dan tempat konsultasi yang saya tentukan. Mereka lebih senang bertanya kepada saya di ruang kuliah setelah perkuliahan usai. Native speaker di Malang memiliki ruang kerja khusus dan jam konsultasi khusus, tapi tidak pernah ada mahasiswa yang datang di jam-jam tersebut. Native speaker di Unpad pun lebih banyak menganggurnya di jam dan tempat konsultasi khusus yang dia pasang.

Relasi antara dosen dan mahasiswa memang tidak setara. Ketidaksetaraan relasi ini bisa terlihat dari elemen-elemen verbal dan nonverbal yang dipakai, dan akan semakin kentara jika faktor ruang dan waktu diperhatikan. Ruang jurusan atau ruang kerja dosen adalah ruang „milik“ si dosen. Dia punya kendali atas ruang itu, siapa yang boleh memasukinya dan siapa yang harus keluar darinya. Penempatan barang, meubel di ruang kerja juga biasanya bersifat formal dan fungsional. Di luar ruang itu, sekat ini sedikit lebih cair, karena sifatnya yang lebih netral: halte bis adalah milik umum, demikian juga cafe dan kantin, sedangkan ruang kelas adalah „ruang bersama“. Rumah, walaupun milik si dosen, sifatnya lebih pribadi dan intim, sehingga biasanya dosen pun akan bersikap agak berbeda saat dia di rumah dan di tempat kerja. Waktu di tempat kerja terbatas, sedangkan di luar orang bisa lebih leluasa mengatur waktunya. Cairnya batas-batas ruang dan waktu di Indonesia ini justru menjadi salah satu faktor lancarnya proses bimbingan dan konsultasi. Namun, pada tataran verbal tetap bisa terlihat jelas ketidaksetaraan relasi ini, mengingat fungsi dosen dalam hal ini sebagai pemberi informasi dan konsultan, dan mahasiswa sebagai pencari informasi dan yang butuh konsultasi. Transfer ilmu, pengalaman, dan pengetahuan biasanya terjadi satu arah.

Di Jerman, ada pemisahan yang sangat jelas antara ruang kerja dan ruang pribadi. Hambatan-hambatan psikologis karena faktor ruang ini menghambat kebanyakan mahasiswa (terutama mahasiswa asing yang tidak berpengalaman dengan „genre“ ini dan tentu saja punya hambatan bahasa) untuk bisa dengan nyaman datang ke ruang bicara dosennya. Namun, biasanya untuk para penutur asli, sekat ruang ini bisa dicairkan lewat ujaran-ujaran verbal yang –dalam konteks budaya dan cara tutur mereka- cenderung lebih bebas dan terbuka. Berhasilkah proses interaksi ini? Belum tentu. Ketaksetaraan relasi ternyata berlaku di manapun, hanya kadarnya mungkin berbeda. Ini bisa terlihat dari pola-pola ujaran yang dipakai serta pola interaksi di tataran mikro. Misalnya dengan melihat alih tutur, penyelaan, intonasi, yang untuk konteks mikro bisa dikaitkan dengan relasi kuasa.

Bersambung

Berhenti dulu ah, waktunya tidur, sudah lewat tengah malam. Sedang semangat memang, tapi saya tidak mau „dikendalikan“ oleh semangat itu, yang bisa menyebabkan tubuh saya protes. Kali ini saya ingin tubuh saya yang akan „mengendalikan“ semangat saya. Dan saya sudah berjanji untuk berhenti menjadi masokis yang memakai kedok intelektualitas. Hehehe. Dilanjut besok, dengan catatan kalau tidak malas.

Koordinasi (Bagian I)

Perkembangan penelitian linguistik di Jerman saat ini sepertinya semakin masuk merasuk ke dalam tataran mikro. Ketika para peneliti bahasa dan komunikasi di negara-negara berbasiskan Bahasa Inggris semakin melihat unsur-unsur di luar bahasa, konteks politik dan sosiopragmatik menjadi bahasan para peneliti analisis wacana kritis, di Jerman yang menjadi awal dari bahasan teori kritis asal mula munculnya analisis wacana kritis, bahasan tersebut semakin terasa jauh. Nama-nama seperti Fowler, Van Leuweun, Sara Mills, Fairclough tidak terlalu terdengar dengungnya, hanya Wodak yang masih sedikit dipakai, dan Van Dijk yang semakin ke sini juga analisisnya semakin masuk ke dalam. Teori konteks terakhir dari Van Dijk juga semakin bersifat individual, bukan konteks yang berada di luar melingkupi teks, tapi konteks yang justru ada di dalam dunia pikiran dan perasaan si pelaku komunikasi (lebih spesifik lagi dalam percakapan). Dijk (2007: 288-289) menyebutkan dalam tulisannya: there is no direct casual or conditional relationship between social characteristic (gender, class, age, roles, group membership, etc.) of participants and the way they talk or write. Rather, it is the way participants as speakers (writers) and recipients subjectively understand, interpret, construct or represent these social characteristics of social situations that influences their production or understanding of their talk or text.

Jadi, konteks menurut Dijk menjadi hal yang sifatnya sangat pribadi dan subjektif, walaupun tentu saja dalam kenyataannya, saat manusia berinteraksi dan berkomunikasi, konteks subjektif ini akan bertemu dan beririsan dengan konteks subjektif-konteks subjektif lainnya, sehingga konteks-konteks ini memiliki properti sosial (meminjam istilah Dijk, walaupun terasa sangat “ekonomi” untuk saya) dan menjadi bersifat intersubjektif. Ketika konteks subjektif beririsan dengan konteks subjektif lainnya, terjadilah apa yang disebut wacana (discourse). Sesuai dengan namanya yang subjektif, sifatnya menjadi relatif dan menjadi bermakna ketika konteks tersebut relevan dengan maksud, pikiran atau perasaan si pelaku komunikasi. “Pengertian” dan “pemahaman” setiap pelaku komunikasi terhadap suatu fenomena komunikasi tertentu awalnya memang disebut Dijk sebagai konteks. Namun, dalam tulisan terbarunya, Dijk lebih suka menggunakan istilah mental model, yang menurutnya lebih mewakilinya teorinya tentang konteks. Dalam mental model terkandung makna representasi mental seorang pelaku komunikasi terhadap sebuah peristiwa atau situasi yang disimpan dalam ingatan episodiknya. Sifatnya relatif, subjektif, parsial, dan bersifat mengontrol semua aspek produksi wacana.

Jika melihat pemikiran Dijk yang cenderung memberi tekanan cukup kuat pada “dunia dalam” para pelaku komunikasi –khususnya dalam percakapan-, rasanya tidak heran kalau di Jerman namanya yang masih cukup sering disebut dalam beberapa artikel tentang konteks dan analisis percakapan. Namun, tentu saja ada “ego” intelektualitas sendiri dari para ilmuwan (mungkin para pakar ilmu bahasa dan humaniora? Bidang lainnya saya tidak terlalu paham) untuk membuat sesuatu yang lain dari yang lainnya. Walaupun bahkan hanya di urusan istilah, yang kadang untuk saya sebagai orang awam tidak perlu terlalu diperdebatkan sampai memakan waktu berjam-jam, karena istilah yang mereka pakai toh tetap sama saja maknanya :)

Perkembangan analisis percakapan, yang sebenarnya berasal dari Amerika, di Jerman juga semakin merasuk detil ke dalam struktur mikro percakapan, setelah tataran interaksi dan makro „dikuasai“ oleh para analis percakapan negara berbahasa Inggris. Pada tataran ini, struktur mikro yang dibahas tidak lagi hanya fungsi jeda dan intonasi, alih tutur dan reparasi, tidak hanya membahas register dan diksi, tidak lagi hanya melihat bangun struktur suatu percakapan, namun melihat bagaimana satuan-satuan luar bahasa verbal yang menyertai ujaran-ujaran verbal (baik statis atau dinamis) saling jalin menjalin membentuk satu pemahaman (konteks) terhadap satu fenomena tertentu dalam proses interaksi. Istilah komunikasi tidak digunakan lagi dalam perkembangan penelitian bahasa di Jerman, karena dalam istilah komunikasi cenderung terkandung makna akhir yang bersifat sama, komunal, sedangkan dalam suatu peristiwa berbahasa tidak tertutup kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian yang sifatnya juga dinamis, sehingga istilah interaksi, yang dikemukakan pertama kali oleh Goffmann (1983), lebih sering digunakan. Saya sendiri termasuk orang yang bersetuju dengan istilah ini, mengingat dinamika yang muncul saat orang bercakap-cakap atau saat menulis sekalipun.

Jadi, saat para pelaku percakapan berinteraksi, terjadi jalinan yang kuat antara unsur-unsur verbal yang diujarkan dengan unsur-unsur nonverbal yang melingkupinya. Ruang-waktu tempat kapan percakapan itu terjadi, tinggi-rendah-lambat-cepat nada dan suara yang digunakan, gestikulasi-mimik-tatapan mata-gerak kepala-gerak alis yang menyertai ujaran-ujaran tersebut, bahkan helaan nafas dalam diam tak berujar pun dapat memberikan makna lain untuk si pelaku percakapan dan atau pada si mitra bicaranya. Media telefon, internet, museum, ruang kelas, bahkan ruang latihan dansa pun menjadi bagian dari pemaknaan terhadap suatu peristiwa interaksi tertentu. Semua hal di luar unsur verbal yang melingkupi, menyertai dan memengaruhi pemahaman terhadap suatu peristiwa interaksi tertentu disebut multimodalitas. Istilah multimodalitas ini awalnya diperkenalkan oleh Kendon (1990) yang menolak anggapan tentang „particular modality of communication is more salient than another“. Untuknya, semua aspek yang ada saat suatu proses interaksi terjadi adalah penting dan menjadi satu kesatuan utuh yang membentuk satu konteks pemahaman tertentu terhadap satu fenomena tertentu pula. Satu kesatuan yang utuh ini disebut Deppermann dan Schmitt (2007) sebagai koordinasi.

Koordinasi berasal dari bahasa Latin yang bermakna mengatur, pengaturan, dalam bahasa Jerman bermakna das ordnende Zusammenfassen, die Abstimmung, Zuordnung (penyimpulan yang teratur, persetujuan, penyesuaian, pengaturan) dan dalam bahasa Indonesia bermakna perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur, sedangkan dalam bidang linguistik bermakna penggabungan satuan gramatikal yang sederajat dengan konjungsi koordinatif (KBBI Daring 2007). Dalam konteks koordinasi dalam sebuah interaksi, Deppermann/Schmitt menyoroti aspek-aspek yang mendukung terjadinya koordinasi antara ujaran verbal dan aspek „lingkupannya“, terutama aspek waktu (pelaku interaksi ada di ruangwaktu tertentu untuk tujuan tertentu, dengan tindakan dan ujaran tertentu pada ruangwaktu itu), ruang (berkaitan erat dengan waktu, ruang juga membawa implikasi yang berbeda dalam suatu proses interaksi), multimodalitas (menyatakan „kehadiran“ dan cara bertindak dalam suatu proses interaksi dengan tataran ungkapan yang beragam)  dan orientasi persona majemuk („penyesuaian“ yang bersifat interaktif dengan pelaku peristiwa interaksi lainnya).

Mengambil contoh suatu situasi percakapan dalam proses interaksi antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa misalnya menganggap bahwa dia sudah menggunakan pemilihan kata yang tepat untuk situasi percakapan di ruang dosen yang formal dan waktu bicara yang juga „formal“ (di jam kerja atau jam bicara dosen). Register dan diksi yang dipilih mungkin biasa digunakan dalam situasi tersebut, namun tidak diimbangi dengan volume suara yang „lazim“ untuk situasi di ruang dan waktu yang katakanlah formal tersebut, misalnya dia bicara terlalu pelan atau terlalu keras, terlalu cepat atau terlalu lambat. Tidak bisa diabaikan bagaimana dia mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tersenyum, menggerakkan tangan, menggerakkan bahu, dan menggerakkan kakinya sebelum suatu satuan  verbal dijarkan, saat satuan verbal diujarkan, dan setelah ujaran verbal diujarkan. Bagaimana situasi ruangan tempat proses interaksi itu terjadi? Posisi meja, kursi, lukisan, lampu, baju yang digunakan, alat tulis yang dibawa, dan lain sebagainya. Apakah benda-benda tersebut lebih menarik perhatiannya dibandingkan rekan bicaranya atau benda tersebut menjadi pengalih perhatiannya jika dia tidak merasa cukup nyaman dengan ujarannya atau dengan ujaran rekan bicaranya? Atau benda-benda tersebut justru mendukung ujarannya atau ujaran rekan bicaranya? Sebagai alat penunjuk, penegas, yang memperlemah atau justru memperkuat? Jika suatu “kesalahpahaman” muncul dalam suatu interaksi (kesalahpahaman dalam makna yang luas), unsur yang satu menunjang unsur yang lain, aspek yang satu menunjang aspek yang lainnya. Ada kemungkinan si mahasiswa bereaksi dengan ujaran dan sikap tertentu karena melihat tatapan mata, gerakan alis atau senyum bahkan tarikan nafas si dosen, misalnya. Atau seorang dosen bereaksi dan berujar sesuatu karena memang berniat menegaskan atau memperlemah atau memojokkan atau mendukung si mahasiswa atau mungkin juga karena melihat sikap, gerakan, ujaran atau apa yang dikenakan si mahasiswa misalnya. Semua saling berkait, dan proses interpretasi terhadap suatu ujaran yang keluar –sekecil apapun itu- tidak bisa lepas pemaknaannya dari faktor-faktor di atas. Sekali lagi, sifatnya intersubjektif. Saling berhubungan. Satu menyebabkan yang lain. Tampaknya hukum kausalitas berlaku di sini.

(Bersambung, keburu ngantuk :))

Textkompetenz

Tidak tepat rasanya, jika judul di atas diterjemahkan sebagai kompetensi teks. Namun, saya belum menemukan padanan kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia untuk kemampuan memahami suatu teks, mencerapnya, dan bisa menuangkannya kembali dalam bentuk lisan atau tulisan. Teks yang berasal dari bahasa latin „textum“ dan bermakna tenunan, dalam konteks ini dimaksudkan sebagai teks lisan dan tulisan.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kekecewaan saya terhadap hasil makalah-makalah mahasiswa saya beberapa waktu lalu. Saya kecewa, karena makalah yang mereka buat jauh dari yang saya harapkan bisa ditulis oleh mahasiswa semester 7. Abaikanlah bahasa Jerman mereka, yang amat sangat jauh dari sempurna, tetapi jika makalah mereka hanya copy paste dari Wikipedia, rasanya wajar saja jika saya sangat kecewa dan marah, karena saya tidak pernah mengajarkan mereka untuk menjadi seorang plagiat. Abaikanlah alasan waktu yang sempit untuk mengerjakannya, saya tidak peduli. Kemudahan teknologi bukan alasan untuk membohongi dan membodohi diri mereka sendiri. Saya kecewa dan sedih, karena saya juga jadi merasa gagal mendidik mereka. Namun, kekecewaan itu bukan milik saya sendiri, semua dosen di jurusan saya merasakannya. Sampai akhirnya diadakan diskusi khusus membahas kejadian ini, dengan narasumber Jutta Kunze, lektor DAAD kami.

Textkompetenz. Salah satu kunci kegagalan kami dalam mendidik mahasiswa ada di sana. Mahasiswa tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam memahami dan memproduksi teks. Untuk mahasiswa sampai semester 4, masih bisa dipahami jika mereka masih ada dalam tahapan belajar dan beradaptasi dengan bahasa Jerman (mata kuliah Bahasa Jerman terpadu diberikan sampai semester 4). Masih bisa juga dimaklumi, jika mereka masih membaca teks-teks pendek, dengan konstruksi morfologi dan sintaksis yang mudah, pun memproduksi teks dengan konstruksi gramatika yang sederhana (lebih banyak menggunakan struktur parataksis, daripada hipotaksis). Namun, jika ini masih terjadi pada mahasiswa semester 5 ke atas, apalagi pada mahasiswa semester 7 dan 8, pasti ada sesuatu yang salah. Dan ini terjadi. Lalu, apa yang salah? Di mana letak kesalahannya? Apakah karena mereka harus membuatnya dalam dan dengan Bahasa Jerman? Pada kenyataannya, dalam Bahasa Indonesia pun mereka tetap mengalami kesulitan. Jadi, masalah bukan terletak dalam penguasaan bahasa.

Pengamatan pada mahasiswa semester atas dan mahasiswa yang sedang menulis skripsi menunjukkan bahwa mereka saat ini cenderung memilih korpus skripsi dari iklan, artikel koran (kebanyakan artikel olah raga dan kecantikan), komik, sastra anak dan remaja yang populer (bukan Märchen seperti dari Gebrüder Grimm, atau dari sastrawan seperti Erich Kästner, Klaus Kordon, atau Cornelia Funke). Bukannya tidak bisa dan tidak diperbolehkan mengambil korpus dengan media-media di atas, namun alasan mereka mengambil media-media di atas adalah karena bahasanya mudah (dari struktur kalimat, kosa kata, gramatika secara umum) dan karena pendek. Alih-alih membaca roman atau drama, puisi pun jarang dilirik karena bahasa dan diksinya yang sulit. Alih-alih membaca rubrik Feuiletton atau ulasan politik atau ekonomi yang cukup ilmiah, rubrik interview pun jarang disentuh, apalagi membuat transkripsi percakapan sendiri. Tak cukup waktu, sulit, ingin cepat lulus.

Tak bisa menyalahkan mereka. Perlu dilihat, mengapa mereka kesulitan memahami teks-teks yang panjang dengan konstruksi bahasa tulisan yang rumit, yang mengakibatkan mereka pun kesulitan memproduksi teks, terutama teks ilmiah. Jawaban yang paling mungkin adalah karena mereka minim membaca. Mereka hanya membaca pasif, itu pun hanya bahan yang diberikan dosen, dibaca jika harus dan jika akan ujian. Bacaan lain pun berkisar pada bacaan populer yang cenderung mengalihkan ragam bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan atau komik yang lebih menonjolkan gambar dibandingkan teks. Tak heran, jika wawasan struktur kebahasaan mereka pun terbatas pada struktur subyek – predikat – obyek, dengan panjang tulisan berkisar pada 5 – 10 kalimat, atau struktur kalimat elipsis. Tidak jelas siapa subjek yang melakukan apa untuk siapa pada waktu kapan dan di mana serta mengapa dan bagaimana dilakukannya. Mereka mengalami kesulitan yang cukup besar dalam memahami dan memproduksi teks-teks ilmiah (dalam bahasa Jerman di antaranya ditandai dengan kosa kata khusus, bentuk nominal, berstruktur hipotaksis, serta menggunakan Partizip I dan II). Kekacauan penggunaan kala dalam kalimat seharusnya tidak terjadi lagi pada mahasiswa semester 7, ternyata masih sering terjadi, baik itu dalam bentuk lisan atau tulisan. Yang lebih mengherankan, banyak mahasiswa yang pernah tinggal di Jerman selama 6 bulan sampai 1 tahun pun tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk membaca dan menulis dalam bahasa Jerman. Walaupun untuk kompetensi mendengar dan berbicara memang mereka lebih baik dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang belum pernah mengalami tinggal di Jerman.

Ironis sekali, karena jika dilihat secara keseluruhan, kompetensi mahasiswa semester 7 pun baru sebatas kompetensi berbahasa tahap awal, yaitu mendengar dan berbicara. Pun sangat mengkhawatirkan, karena dari hasil Germanistentreffen beberapa waktu lalu, lulusan dari Jurusan Jerman diharapkan memiliki Textkompetenz yang tinggi. Mereka harus siap berhadapan dengan teks-teks yang sulit, mampu mengolah dan memahami isi teks yang sering ada di luar dunia pengalaman mereka, mampu membedakan informasi yang penting dan tidak penting, mereduksi isi teks yang rumit dan mempermudahnya untuk disampaikan kembali dalam bentuk lisan dan tulisan, mampu menjelaskan relasi antarteks dan wacana dengan beragam konteks, mampu menstrukturkan dan menyampaikan pengetahuan yang terlepas dari pengalaman mereka, dan pada akhirnya mampu memproduksi teks sendiri dengan beragam sumber dan informasi. Kemampuan ini penting dalam bidang penerjemahan (lisan dan tulisan), pengajaran, dan menurut saya, dalam semua bidang pekerjaan.

Sesungguhnya ini adalah tamparan yang keras untuk kami. Secara teori, ini tidak boleh terjadi. Jika sudah telanjur terjadi, apa yang bisa kami perbaiki? Kurikulum, isi mata kuliah dan sistem pengajaran yang terintegrasi. Mata kuliah menulis ‚Aufsatz’ dan percakapan ‚Konversation’ tidak bisa lepas dari mata kuliah membaca ‚Lesen’ dan ‚Übungen zur Lektüre’, tidak bisa lepas juga dari mata kuliah gramatika terapan ‚Angewandte Grammatik’, Morphologie, Syntax, dan Semantik. Selama ini masih berjalan masing-masing dan mahasiswa tidak dibiasakan untuk menganalisis, hanya dijejali teori tentang tempus, preposisi, Partizipialattribut, dan lain sebagainya, yang membuat orang jadi bosan. Belum lagi bentuk latihan yang hanya berupa isian atau mengubah bentuk misalnya dari aktif ke pasif, dll. Bahan yang digunakan pun bukan bahan yang bersifat kekinian, misalnya dari artikel koran atau dari roman, melainkan dari buku latihan tata bahasa, yang sering juga sudah sangat out of date. Sistem pengajaran dengan menerapkan bentuk perkuliahan pengamatan partisipatoris ‚beobachtendes Lernen’, di mana dosen dan mahasiswa aktif terlibat bersama memproduksi dan mengoreksi, sehingga masing-masing pihak saling belajar dari pengalaman aktif. Metode ini dilakukan secara individu, kemudian kelompok, selanjutnya bersama dalam kelas, dan cocok diberikan untuk mata kuliah kompetensi membaca dan menulis, misalnya: Aufsatz, Übungen zur Lektüre, Textlinguistik, Übersetzung, Lyrik atau Prosa. Metode lain yang ditawarkan adalah metode bergerak dalam lingkaran ‚Kugellagermethode’, yang mengombinasikan kemampuan individu dan kerjasama kelompok. Metode ini juga memadukan pengalaman belajar dengan bergerak dan meresepsi lewat mendengar dan bicara, sehingga cocok jika dilakukan untuk mata kuliah kompetensi mendengar dan berbicara seperti Konversation dan Diskussion und Präsentation.

Namun tentu saja, sebaik apapun metode pembelajaran yang ditawarkan dan dilakukan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan satu arah. Perlu peran aktif dari dosen dan mahasiswanya. Dari hasil diskusi kemarin disepakati bahwa minat baca mahasiswa harus ditingkatkan. Walaupun awalnya mungkin dengan paksaan, diharapkan mahasiswa nanti akan terbiasa membaca dengan sendirinya. Mulai semester ini, mahasiswa di setiap semester wajib membaca 3 buku yang harus „dilaporkan“ isinya secara lisan kepada dosen mereka. Saya rasa, paksaan ini akhirnya akan berlaku juga bagi para dosen untuk membaca. Bagaimana mungkin kami akan menguji mahasiswa pada bacaan mereka, jika kami juga tidak pernah membaca. Dan bagaimana mungkin kami meminta mereka menulis, jika kami juga tidak pernah menulis. Membaca bukan saja bahan kuliah dan  menulis bukan saja untuk kepentingan kenaikan pangkat. Ini satu tamparan lagi. Dan saya rasa, untuk kebaikan bersama, semua memang harus dimulai dari diri sendiri.

Pengumuman

“buseeet… jaman gini info kuliah di announce di facebook yah? ck..ck…”, begitu komentar salah seorang alumni di status Facebook saya hari ini. Di sana saya “mengumumkan” batas akhir penyerahan makalah dari mata kuliah-mata kuliah yang saya asuh. Status itu pun baru saya tulis setelah beberapa mahasiswa bertanya (lagi) kapan makalah harus diserahkan dan sms dikirim meminta penambahan waktu penyerahan. Setelah “pengumuman resmi” dipasang di Facebook, muncul beberapa komentar dan sms bertanya (lagi) apakah benar, apakah bisa diundur, masih liburan, masih di Jakarta, belum selesai, harus mengejar deadline dong, dll.

Giliran saya yang geleng-geleng kepala: kebiasaan. Padahal sejak awal kuliah sudah saya beritahukan kepada mahasiswa saya (dan diulang terus menerus saking kompulsifnya saya), bahwa pada akhir kuliah ada makalah yang harus dibuat dan dikumpulkan. Mereka bisa membuatnya saat itu juga, kalau mau, karena semua tema dan materi saya berikan di awal. Saya menyediakan pula waktu bimbingan di Sprechstunde saya, (sekali lagi) jika mereka mau. Perkuliahan saya pun selesai lebih awal dari jadwal “normal”, karena dibuat Blockseminar, mengingat beberapa materi tidak bisa diselesaikan dalam waktu 2 SKS. Logikanya, waktu mengerjakan akan lebih banyak. Logikanya begitu, kenyataan berkata lain. Masih banyak yang bekerja auf dem letzten Drück. Deadline. Mepet. Masih minta penambahan waktu pula. Curhat? Iya, karena –teganya- saya hanya memberi diri saya waktu dua minggu untuk membaca makalah-makalah tersebut, yang sering saking semangatnya sampai berpuluh-puluh halaman (ini makalah atau skripsi?!) atau saking terburu-burunya ada yang hanya 1,5 halaman saja. Seringnya saya abaikan dulu gramatika bahasa Jerman mereka untuk fokus ke isi, tapi mana bisa?!

Dan komentar dari salah seorang alumni tadi membuat saya tersenyum. Informasi lewat situs pertemanan tersebut (apapun: Friendster, Facebook, Hi5, dll) memang sangat efektif untuk “membangunkan” mahasiswa saya. Secara mereka lebih banyak beredar di sana, dibandingkan duduk menulis makalah mereka. Untuk itu saya juga jadi gaul, ikut-ikutan situs-situs tersebut. Ketika informasi verbal langsung tidak lagi menjadi terlalu efektif, media ini jadi salah satu cara mengefektifkannya. Betul? Untuk kasus ini saat ini rupanya iya. Mengapa bisa begini? Saya tidak mau membahasnya lebih lanjut. Nicht in der Stimmung. Komentar salah seorang alumni tadi cukup mewakili perubahan gaya perkuliahan masa kini. Hanya terjadi di Indonesia? Tidak tahu. Namun, saya pernah memberikan kuliah bahasa Indonesia dengan media YM di Bayreuth dulu. Hanya sekali dan saat itu terjadi karena suara saya sedang hilang entah kemana. Bisa dipecat jadi guru saya, kalau saya melakukannya terlalu sering, karena mata kuliah itu bukan berjenis praktikum, sehingga harus ada tatap muka di kelas secara langsung. Saya saja yang suka membandel, karena beberapa kali melakukan kuliah sambil memasak dan makan bersama dengan mahasiswa-mahasiswa saya.

Jadi, saya menjawab komentar alumni tadi dengan jawaban: mahasiswanya juga lebih banyak beredar di Facebook daripada mengerjakan tugas. Saya jawab juga tanggapan dan pertanyaan serta permintaan mahasiswa saya dengan nada bercanda: Selamat Tahun Baru. Tetap tanggal 9. Tidak ada perpanjangan. Libur tlah usai. Saatnya kembali bekerja :)

Sambil tersenyum saya menuliskan itu, karena saya juga tiba-tiba teringat, saat saya di Bayreuth pun sama seperti mereka (saya lupa, waktu kuliah S1 dulu apakah pernah ditugasi membuat makalah atau tidak, hehe). Immer auf dem letzten Drück. Bahkan saya pernah menunda makalah saya selama satu semester, hehe. Untung dosennya masih ingat bahwa saya pernah ikut mata kuliahnya. Dan membayangkan makalah-makalah yang akan saya baca nanti, saya juga jadi teringat makalah-makalah yang pernah saya buat. Dulu pasti membuat dosen-dosen saya mengerutkan kening, menarik nafas panjang, kemudian mengambil ballpoint, menarik garis miring panjang-panjang di beberapa halaman kemudian menuliskan: Katastrophe. Saya begitu jugakah? Ah, saya masih baik. Hanya membubuhkan tanda tanya besar saja. Hehehe…

Tulisanyangsengajadipostingdisinikarenadisinijarangdilihatmahasiswasaya:)

Feedback

Di akhir perkuliahan semester ini saya kembali meminta feedback dari mahasiswa tentang saya, cara saya mengajar dan materi kuliah yang saya berikan. Walaupun dilakukan setiap akhir semester, feedback yang masuk tidak pernah banyak, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Entah kenapa, sungkan mungkin, takut nilainya jelek, atau alasan lainnya, saya tidak tahu. Yang jelas saya sulit sekali mendapatkan feedback dari mereka, baik lisan ataupun tulisan. Mereka lebih banyak senyum atau berkata, „Apa ya, Bu? Bingung“.

Untuk akhir semester ini, saya meminta mereka untuk membuat feedback tertulis, diketik, dibuat anonim dan disimpan di dalam locker saya. Berhasil? Lumayan mungkin, walaupun hanya ada empat feedback yang saya terima.

Hmm, itu mungkin adalah salah satu tanda bahwa ternyata saya belum berhasil membuat mereka nyaman untuk mengeluarkan pendapat atau kritikan. Padahal saya selalu tekankan, bahwa untuk saya dan di mata kuliah saya, mereka bisa bebas mengeluarkan pendapat atau komentar serta pertanyaan apapun. Butuh waktu lama untuk bisa membuat mereka terbiasa dengan cara saya itu. Empat pertemuan pertama biasanya masih sungkan, setelah itu mulai ada dua tiga orang yang berkomentar atau melontarkan pertanyaan yang tak jarang membuat saya juga berpikir keras, kadang juga tak bisa menjawab. Di dua mata kuliah saat ini sudah jauh lebih baik. Kami bisa berdiskusi dengan sangat asyik tentang satu atau beberapa tema. Jangan salah, kondisi seperti itu saya „perjuangkan“ selama 1 semester penuh di tahun sebelumnya! Setelah 1 semester bertemu saya, mereka baru percaya bahwa it’s oke untuk bicara apapun di dalam kelas saya.

Namun, ternyata situasi nyaman di kelas tetap tidak bisa menjadikan mereka nyaman untuk memberikan kritik pada saya secara langsung. Saya kecewa juga, karena penting untuk saya untuk mengevaluasi apa yang saya kerjakan selama satu semester ini. Tetapi saya tidak bisa memaksa mereka juga untuk memberikan feedback pada saya.

Apa hasil dari empat feedback itu? Disebutkan bahwa saya tidak cukup ”memaksa” mereka untuk melakukan sesuatu. Saya cenderung memberikan kebebasan pada mereka untuk melakukan dan mempelajari sesuatu, sehingga mereka tidak merasa ”diajar” oleh saya. Dengan cara saya seperti itu, mereka jadi bingung dan –tulis salah seorang mahasiswa- saya ”mengajarkan” dan membiarkan budaya malas orang Indonesia semakin berkembang dengan cara saya yang bebas. Dia, yang menulis dan mengkritik saya dengan sangat detil (ini saya suka betul), menulis juga bahwa mahasiswa Indonesia itu harus dipaksa untuk melakukan sesuatu dan itu tugas guru atau dosen untuk ”membuat” mereka mau membaca atau membuat tugas. Tiga orang lagi menulis bahwa cara mengajar saya enak, aplikatif dan mudah dimengerti. Namun, saya tidak memberikan banyak teori dan itu membuat mereka jadi bingung saat harus mengerjakan tugas atau ujian (perlu diketahui, ujian atau tugas yang saya berikan di dua mata kuliah untuk semester 7 bersifat penalaran).

Setelah saya endapkan (maklum, sebagai manusia biasa, saat menerima kritikan –walaupun saya yang minta- biasanya defensif, tetapi setelah diendapkan akan kembali normal), saya rasa ada banyak kompromi yang harus saya lakukan (selalu). Di satu sisi, saya adalah orang yang tidak suka memaksa dan tidak suka dipaksa. Belajar untuk saya adalah kemandirian. Saya belajar apa yang saya mau dan saya sukai. Namun, tampaknya saya lupa bahwa di sisi lain saya ada di satu situasi yang orang-orangnya kadang ”terpaksa” berada di situ karena alasan mata kuliah itu wajib diikuti, misalnya. Suka atau tidak suka. Dengan demikian, mereka menjadi ”terpaksa”, pun harus ”dipaksa” minimal untuk tetap bisa bertahan selama satu semester. Jangan harapkan mau bergerak sendiri, setelah ”dipaksa” pun hasilnya tidak memuaskan.

Latar belakang saya yang membebaskan diri untuk mencari dan hanya melakukan apa yang saya mau ternyata membuat saya menjadi overestimate pada mahasiswa saya. Saya selalu berpikir dan merasa, bahwa mereka adalah individu-individu dewasa yang sudah tahu dan bisa melakukan apa yang mereka suka dan mereka inginkan. Dengan demikian, saya (sangat) mengharapkan pembelajaran mandiri muncul dari diri mereka masing-masing. Fungsi saya adalah fasilitator atau lebih tepatnya mungkin provokator yang merangsang mereka berpikir. Saya tidak mau memberikan dogma apalagi fatwa tentang suatu tema atau hal. Ini selalu saya tekankan di setiap pertemuan. Pada beberapa orang provokasi saya berlaku, pada banyak yang lain, tidak. Karena pada kenyataannya masih banyak orang yang ingin disuruh-suruh dan dipaksa melakukan sesuatu. Dilepas sendiri mereka hilang arah.

Alhasil, masukan mereka bagus untuk saya, karena saya jadi bisa melihat bahwa sistem yang saling menjalin masih belum bisa memfasilitasi mereka untuk bebas dan mandiri. Saya tidak mau menyalahkan itu semua. Saat ini saya hanya akan melihat diri saya, karena saya juga bagian dari sistem itu. Saya pun tidak bermimpi bisa merubahnya seperti yang saya mau begitu saja, tetapi mungkin dengan kompromi dan negosiasi. Cara saya melakukannya pun mungkin harus dipoles lebih halus. Bukankah jika saya keukeuh berpegang pada prinsip pendidikan dan pembelajaran yang membebaskan itu tanpa melihat konteks individu, ruang, dan waktu artinya saya juga memaksakan kehendak saya? Saya tidak tahu juga, apakah prinsip yang saya yakini ini juga tepat untuk konteks individu, ruang, dan waktu saat ini? Saya berinteraksi dengan ”dunia”. Ada saatnya saya harus mundur atau diam sejenak untuk melihat dan mempelajari, ada saatnya juga saya harus maju: cepat atau lambat saja. Pada akhirnya memang saya yang terus belajar dan membebaskan diri saya. Itu semua saya dapatkan dari „pembelajaran“ saya dengan mereka. Untuk mereka? Sepertinya lebih baik saya bebaskan mereka untuk mengambil atau membuangnya. Tetapi mungkin empat feedback yang masuk itu bisa jadi sedikit bukti, bahwa yang saya harapkan sebenarnya sudah berjalan. Itu saya syukuri.

Satu lagi pendapat mereka tentang saya: saya orangnya moody. Kalau sedang bad mood katanya juteknya kelihatan sekali. Hmm, pendapat mereka kurang, karena sebenarnya selain jutek, saya juga posesif, narsis, dan autis. Tampak jelas di tulisan ini. Hehe.

Danke allen!