Membaca Walidah: Sebuah Catatan (Sangat) Personal

siti-walidah-dahlan-_140225162759-755

Sumber gambar: Republika

Walidah menghampiri saya, melalui Tika saat di akhir Februari kami bertemu dan dia bercerita bahwa dia akan berperan sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Saya senang mendengarnya, tetapi Tika ragu apakah dia mampu memerankan Nyai Ahmad Dahlan dari usia remaja sampai tua. Resikonya terlalu besar. Banyak nama dipertaruhkan, termasuk namanya. Saya tahu peran ini akan berat, tetapi di satu sisi saya merasa jika bukan dia maka siapa? Walaupun demikian, saat itu Tika cukup bersemangat, bertanya apakah judul film ini sebaiknya Nyai Ahmad Dahlan atau Walidah saja. Dia sendiri ingin film ini berjudul Walidah, karena nama itu mencerminkan individunya, bukan sekedar perempuan pendamping Kyai Ahmad Dahlan. Dia ingin orang mengenal Walidah sebagai Walidah. Saya setuju. Tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjuangan Walidah. Dia hanya dikenal sebagai pendiri Aisyiyah. Saya pun hanya tahu sekilas sampai saat berbincang dengan Tika. Oleh karena itu, saya senang tahu bahwa kisah ini akan divisualisasikan, karena sudah layak ada tokoh-tokoh perempuan Indonesia lain yang diangkat ke permukaan.

Walidah menghampiri saya. Pulang bertemu Tika saya mendapat pemberitahuan bahwa abstrak makalah saya diterima untuk dipresentasikan di dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mengambil tempat di gedung Siti Walidah. Bukannya segera membuat makalah untuk acara itu, saya malah mencari tahu lebih banyak lagi tentang Siti Walidah dan mendiskusikannya bersama Tanti, sahabat saya seorang sejarawan dan juga pemerhati film.

Walidah menghampiri saya. Berselang satu hari setelah bertemu Tika di Bandung, malam-malam dia mengirim pesan, bertanya dan meminta bantuan untuk dicarikan referensi tentang situasi sosial budaya masyarakat Jawa terutama perempuannya di abad 19, khususnya lagi perempuan muslim. Kondisi serta situasi Tika saat itu memang cukup darurat, sehingga dia merasa perlu meminta bantuan. Namun, karena pada dasarnya saya adalah penyuka sejarah dan saya pun sudah membaca sedikit tentang Walidah, maka permintaan Tika ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Riset dilakukan. Gampang gampang susah, karena referensi khususnya tentang perempuan muslim di Jawa tidak terlalu banyak. Perbincangan, lebih tepatnya diskusi, dengan Tika berlanjut malam itu. Saya memelajari Walidah lewat pertanyaan-pertanyaan Tika yang cukup kritis: kerudung seperti apa yang digunakan di masa itu? Islam seperti apa yang mereka hayati? Bagaimana penerapannya? Apa yang digunakan orang untuk menulis? Bagaimana rupa kertasnya? Diskusi berlanjut selama beberapa hari karena Tika akan segera shooting. Pertanyaan Tika semakin kritis: jika satu jaman, mengapa Kartini lebih dikenal daripada Walidah? Bagaimana pesan dan nafas perjuangan hak perempuan itu bisa sampai dan sama di mana-mana padahal secara geografis terpisah jauh? Apakah para pejuang itu kenal satu sama lain? Kendaraan apa yang digunakan? – Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar bercanda, tetapi saya melihat ini serius. Saya jadi ikut belajar banyak. Tika pun sempat mengunjungi Kauman, makam Walidah, bertemu dengan keluarganya, dan shalat berjamaah di langgarnya Aisyiyah yang membuatnya terharu. Tika berharap dan tentu ingin memberikan segenap kemampuannya untuk bermain baik menubuhkan kembali Walidah. Saya pun dikiriminya script film ini, yang kemudian saya bahas detil bersama Tanti. Script yang terus terang sangat lemah dan normatif, sehingga tidak memunculkan sama sekali semangat dan inti perjuangan Walidah. Jika boleh saya bilang: tidak layak untuk sebuah film tentang sosok kharismatik bernama Walidah. Saya tahu film ini dibuat dengan misi khusus. Namun, alangkah sayangnya jika kedalaman kisah tokoh ini tidak tergali hanya karena misi tersebut. Tanti dan saya akhirnya merasa „bertanggung jawab“ untuk ikut „membantu“ dan merekonstruksi sejarah Walidah. Mungkin karena kami akademisi, ditambah lagi karena film sejarah tentu perlu riset yang lebih dalam dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya sekedar sarana penyampaian misi tadi. Apalagi kami melihat keseriusan Tika dalam mempersiapkan dirinya dan kami pun menumpukan harapan pada Tika minimal untuk menutupi kelemahan naskah film ini. Kami membaca lebih banyak lagi tentang Walidah dari referensi-referensi sejaman. Dari situ kami mendapat kesan: dia perempuan keras hati dan hebat. Keseriusan Tika –dan mungkin ditambah kepanikan- dilanjut lagi dengan diskusi di rumahnya. Membahas kembali detil yang ada dari mulai bunga dandelion, kata-kata yang digunakan masa itu, sampai sapaan yang digunakan Ahmad Dahlan dan Walidah.

***

Saya membaca Siti Walidah, yang lahir pada tahun 1872 dan meninggal pada tahun 1946, sebagai sosok perempuan yang penuh rasa ingin tahu, cerdas, keras hati, bersemangat tinggi, terstruktur, dominan, tetapi sangat peka dan peduli. Katupan bibirnya yang kuat serta sorot mata yang tajam menandakan ini. Hidup menempanya dengan keras. Terlahir dari keluarga ulama, Kyai Fadhil adalah kyai yang disegani dan dekat dengan keluarga kraton. Menikah dengan Darwis, kemudian dikenal sebagai Ahmad Dahlan, seorang tokoh penggerak dan pembaharu yang cukup ekstrem pada masa itu: mengganti arah kiblat Masjid Gede yang selama itu salah, mendirikan sekolah dan rumah sakit yang kemudian menjadi tujuan dan sarana dakwah utama organisasi Muhammadiyah ini, menjalankan Islam yang murni. Walidah yang mematahkan biola yang dimainkan anaknya, yang berkata bahwa dia rela jika kehilangan anak yang melupakan waktu shalat walaupun itu anaknya sendiri, dia yang rela memberikan perhiasan-perhiasan miliknya untuk dijadikan modal perjuangan Muhammadiyah, mendirikan Bustanul Athfal cikal bakal pendidikan anak usia dini di Indonesia, mengungkapkan dan memperjuangkan ide bahwa perempuan itu harus pintar dan perjuangan perempuan itu dimulai dari rumah, mendirikan mushola pertama untuk perempuan dan membangun asrama untuk perempuan-perempuan yang ingin belajar mengaji, baca tulis, dan ilmu agama, perempuan yang tetap memasak dan mengurus rumah tetapi juga berorganisasi dengan mendirikan Aisyiyah dan berniaga dengan batiknya. Walidah: perempuan yang mau banyak dan bisa banyak. Dia yang membuat Ahmad Dahlan akhirnya berpoligami karena merasa tidak mampu lagi mengimbangi dan membendung kecerdasan Walidah. Kecerdasan dan semangat yang justru semakin membuncah seiring dengan kekecewaannya melihat suaminya berpoligami, walaupun dia tahu benar bahwa dalam ajaran Islam yang dia pahami, berpoligami itu diperbolehkan. Namun, Walidah tetaplah perempuan berhati luas yang pastinya juga terluka karena itu. Luka yang membuatnya semakin kuat. Perempuan hebat yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur, serta tahu kapasitas dirinya yang lebih baik menjadi penasihat dibandingkan menjadi pemimpin di muka dengan meminta Siti Munjiyah untuk menjadi Ketua Aisyiyah pertama, karena Munjiyah bisa menulis dan membaca huruf latin, sedangkan dia tidak. Perempuan yang menganggap bahwa kemerdekaan itu adalah awal dari perjuangan panjang, bukan akhir dari perjuangan yang harus dirayakan dengan gegap gempita. Perempuan berkemauan keras, berusaha keras, tetapi berjiwa besar dan lapang, yang membuatnya layak mendapat gelar pahlawan.

***

Walidah menghampiri saya. Satu hari setelah Tika menyelesaikan shooting film ini di Jogja, saya bersama teman-teman ke Kauman. Keinginan spontan untuk mengunjungi sisi Jogja yang lain, sebelum mengikuti seminar di Solo, di Gedung Siti Walidah. Kami mengunjungi langgar, tempat mengaji, tempat berkumpul, rumah Ahmad Dahlan saat itu, dan makam Walidah, untuk merasakan kembali aura kehidupan di Kauman masa itu dan masih dijaga sampai sekarang. Kampung yang resik. Kami beristirahat dan shalat di Masjid Gedhe Kauman yang indah, merasakan betapa kecilnya sebenarnya manusia. Dari kunjungan itu lah saya paham, bagaimana peran Walidah dan Ahmad Dahlan dalam membentuk masyarakat yang di kemudian hari menjadi basis kuat bagi berkembangnya organisasi Muhammadiyah: pendidikan itu dimulai dari dan untuk keluarga serta dari dan untuk lingkungan sekitar terdekat. Kuat di situ, maka akan mudah memperkuat diri dan organisasi di luar.

Walidah menghampiri saya. Film tentang Walidah tayang dan memang sudah seperti saya duga akan demikian lemah jadinya. Namun, bukankah jika tidak ingin kecewa terlalu besar, maka jangan juga menaruh harapan terlalu besar? Film adalah film. Walidah harus dibaca lebih daripada sekadar karya sinematografi yang acak-acakan, script yang lemah, dengan atau tanpa pesan dan intervensi sponsor. Walidah terlalu berharga untuk sekedar dilihat dari ribuan tiket yang terjual. Maka orang seharusnya dapat membuka mata dan hatinya untuk membaca Walidah. Membaca hati dan alam pikirannya, membaca keinginan dan harapannya, karena saya merasa miris ketika ada sekelompok orang yang „terlalu“ kagum pada figur Kyai Ahmad Dahlan dan Walidah sehingga menuntut orang yang “menjadi” mereka harus seperti figur yang dikaguminya. Kekaguman yang membutakan. Militansi tanpa arah. Bukankah berkaca pada diri sendiri rasanya lebih elok daripada menghujat? Bukankah merefleksikan dan merealisasikan pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan dan Walidah rasanya lebih masuk akal daripada sibuk mencari kesalahan orang? Bukankah membaca adalah kunci untuk membuka mata hati dan pikiran? Dan bukankah memang itu yang diperjuangkan Ahmad Dahlan dan Walidah sejak awal: menjadikan umat Islam umat yang cerdas dan pintar? Umat yang mampu menjadi dirinya sendiri, tetapi peka dan berempati pada yang lain?

Walidah menghampiri saya. Saya bersyukur dan berterima kasih karena Tika sudah mengerahkan segenap kemampuannya di tengah segala keterbatasan dan kendala yang ada untuk menubuhkan kembali Walidah. Dia menepati janjinya: jika bukan dia yang melakukannya, maka siapa lagi. Jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu sudah di luar kuasanya, di luar kuasa kami, ketika beberapa saran kami tak terperhatikan.

Walidah menghampiri saya untuk dibaca. Maka saya pun membaca Walidah, karena yang saya lihat darinya adalah dunia. Dunia yang masih luas membentang untuk dikaji dan dibaca. Walidah hanya ingin menjadi cerdas dan pintar, agar dia dapat membuat rumah dan dunianya juga menjadi cerdas dan pintar. Maka alangkah sayangnya, jika Walidah hanya jadi sekadar nama  yang dipuja membabi buta, tetapi menafikkan jiwa, hati, dan semangatnya.

Bandung, 240817

Advertisements