Perjalanan Tahun

‎"Dingin menyendiri/ Kelabu tapi bukan kelam/ Ada tiada dirimu adalah sama/ karena kau selalu di pelung hati terdalam/dalam raga dan asa menyumblim jadi satu//....tetaplah menjadi...// dalam sendiri dan hening... " (Yubiliana, 30.12.10) Foto: Dian, dalam perjalanan di tengah badai salju menuju Salzburg (26.12.10)

Menjelang pergantian tahun ini saya ternyata „harus“ menghabiskan waktu dengan mengepel lantai kamar mandi karena air yang menetes terus-terusan dari flush closet yang bocor. Mungkin ini jawaban dari perasaan tidak enak hati saat saya berlibur di München beberapa hari lalu dan memutuskan mempercepat liburan saya lalu segera kembali ke Bayreuth. Tak apa. Lagipula saya memang tidak terlalu suka menghabiskan pergantian tahun dengan beramai-ramai di luar. Apalagi suhu berkisaran -17°C setiap malam tampaknya akan cukup membekukan kaki, tangan dan muka. Dan ya, sejak lama pula saya tidak pernah terlalu suka pada pergantian tahun, pada malam takbiran dan hari ulang tahun saya. Perubahan selalu membuat saya sedikit cemas, walaupun mungkin perubahannya bisa menyenangkan juga. Mungkin karena itu saya lebih suka mengingat hal-hal yang menyenangkan atau yang menyedihkan dengan perspektif yang sangat berbeda. Ya, saya ternyata memang cukup pencemas, walaupun pada akhirnya hidup tetap saya jalani juga dengan segala jatuh bangun dan suka dukanya. Walaupun pada akhirnya saya pun hanya mengikuti waktu dan mengalir seperti air dalam menjalaninya. Tidak, saya tidak pernah membuat resolusi akhir tahun atau semacamnya, selain bersyukur pada apa yang sudah lewat dan harap-harap cemas semoga saya bisa melewati waktu waktu ke depan dengan rasa syukur yang sama bahkan lebih.

Ya, saya bersyukur pada tahun yang penuh perjalanan, penuh pertemuan dan sekaligus itu artinya juga perpisahan. Setelah libur akhir tahun 2009 yang mengesankan di Italia, Heidelberg, Darmstadt dan Frankfurt, di awal tahun saya kembali ke rumah, mengunjungi Jogja, Malang, dan Bali, bertemu lagi dengan orang-orang tercinta juga bertemu orang-orang baru yang mencerahkan hidup. München, Stuttgart jadi tujuan berikutnya.  Tour ke Liechtenstein, Zürich, Luzern dan Konstanz di bulan Mei membuat saya sadar bahwa saya ternyata sangat menikmati acara ngebut di jalan tol. Selanjutnya perjalanan hangat di bulan Juni ke Rheinland: Bonn, Köln, Düsseldorf, Essen. Kembali bertemu dengan para sahabat setelah lebih dari 4 tahun berpisah. Namun, orang-orang baru yang ditemui di sana membuat hidup saya semakin berwarna. Tak lama, Passau pun dikunjungi. Bertemu dengan orang-orang baru yang segera saja menjadi terasa dekat. Bercampur dengan eforia Piala Dunia yang bisa saya rasakan lagi di Jerman.  Akhir Juni kembali melakukan tour gila-gilaan ke Utara bersama sahabat-sahabat tercinta. Saya kembali mengunjungi Hamburg dan Nordsee. Di antaranya pun saya masih melakukan perjalanan ke Regensburg dan Karlsbad di Rep. Cèska.  Selang satu minggu dari tour ke Utara saya mengunjungi lagi Heidelberg, lalu ke Mannheim dan Frankfurt. Bertemu lagi sahabat lama sekaligus menemukan sahabat baru. Juli adalah bulan yang padat, karena tak lama kemudian saya pergi ke Frankfurt an der Oder, Polandia dan Berlin. Sommer school di Frankfurt an der Oder menambah warna warni hidup saya. Saya beruntung bisa bertemu dengan teman-teman yang luar biasa dari seluruh dunia di sana. Polandia sempat dikunjungi, dan kunjungan ke Berlin untuk ke sekian kalinya lalu bertemu lagi sahabat-sahabat lama yang juga sudah lebih dari 6 tahun tak jumpa menambah kebahagiaan saya. Ramadhan di musim panas bulan Agustus membuat saya memutuskan diam di Bayreuth saja, walaupun ternyata itu tidak bisa ditepati benar, karena saya masih melakukan perjalanan satu hari ke Rothenburg ob der Tauber.

Menyenangkan? Ya, semua menyenangkan. Saya memang benar-benar menikmati acara jalan-jalan saya, walaupun tidak bisa dibohongi bahwa di pertengahan tahun saya merasa tertekan dan depresi terutama karena ketidakpastian pekerjaan saya juga karena hal-hal lain. Ada saat saya bisa tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas, memutuskan mengakhiri semua, bahkan hidup saya  atau cuma diam seharian tanpa melakukan apapun. Perasaan tertekan ini pula yang membuat saya tiba-tiba membeli tiket pulang ke Indonesia di bulan September dan pulang dua hari menjelang Idul Fitri. Toh saya tetap merasa “aneh” juga pada minggu pertama keberadaan saya di rumah. Sebagian dari diri saya ingin ada di rumah, sebagian lagi menolaknya.  Saya masih juga menangis malam-malam dan merasa cemas tak jelas. Namun, semua lepas ketika saya berbincang dengan keluarga dan beberapa sahabat. Kuncinya memang merelakan semua dan saya yakin bahwa hidup akan baik-baik saja, dengan langkah dan keputusan apapun yang saya buat.  Satu hal yang amat sangat saya syukuri adalah ketika saya tahu bahwa saya punya orang-orang yang mencintai saya bagaimanapun kondisi dan keberadaan saya.

Kembali ke Jerman dengan perasaan jauh berbeda. Jauh lebih ringan, dan memulai minggu pertama juga dengan sebuah perjalanan lagi. Hamburg adalah tujuan saya. Bertemu teman-teman baru, juga mengunjungi sahabat lama. Menyenangkan. Selanjutnya akhir tahun menjadi terasa lebih bermakna. Apalagi jika kemudian ada kesamaan dan kebersamaan yang bisa tercapai. Perjalanan akhir tahun ke Salzburg, mengunjungi lagi Zürich dan Luzern, serta melewatkan malam-malam hangat di München menutup perjalanan tahun ini.

Saya bersyukur, tak putus syukur, tahun perjalanan saya begitu berliku. Melewati dan menuliskannya sekarang ternyata memang membuat mata saya lebih terbuka, bahwa yang ada memang hanya syukur, lain tidak. Syukur yang besar pada hidup saya sendiri, pada semua yang tercinta yang mengitari saya, juga pada Indonesia. Berlebihan? Mungkin saja. Tetapi eforia dan optimisme akan perubahan di Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik juga terjadi di akhir tahun dengan sepakbolanya. Saya bahagia karena hipotesis saya tidak terbukti. Ya, masih ada harapan untuk menjadi lebih baik ke depannya. Bencana boleh terjadi di mana-mana, hidup susah juga ada di manapun, tapi dari perjalanan dan orang-orang yang saya temui dalam perjalanan hidup saya tahun ini, juga tahun-tahun lalu dalam hidup saya, saya tahu bahwa ada mereka yang bekerja penuh cinta dan sepenuh hati, ada banyak cinta dan tekad luar biasa untuk hidup dan menghidupi dengan lebih baik ke depan. Dan mereka inilah yang membuat hidup saya lebih bermakna dan berwarna.

Terima kasih pada Yang Maha Kasih, pada keluarga saya yang selalu ada dan melimpahkan segenap cintanya untuk saya. Pada sahabat-sahabat yang selalu ada untuk saya dalam kondisi apapun: Kuswandi, Bima, Insan, Svann, Evi, Lusi, Lia, Shita, Teh Amel, Teh Sofi, Tanti, Tarlen. Sahabat-sahabat saya yang dari dulu sampai sekarang masih bersetia menemani saya dengan caranya masing-masing: Ida, Mia, Triana, Sarita, Lasta, Dieny, Taty, Runi, Dase, Asep, Nina, Joanna, Walter, Ulla, Peter, Ani, Gilang, Teh Ani, Nani, Sina, Winda, Mira, Bu Ningsih,Mbak Yayu. Sahabat-sahabat seperjuangan: Vita, Rita, Lola, Dina. Sahabat-sahabat yang sangat inspiratif: Koen, Mbak Enggar, Lessy, Ari, Fauzy, Voka (saya pengagum mereka semua). Sahabat gila-gilaan di Fakultas Sebelah. Ibu-ibu di Jurusan. Saudara-saudara senasib: Ahmad, Muhamad, Xian, Sandra, Sherine, Mariusz, Sokol. Sahabat-sahabat saya di Bayreuth: Kathrin, Lydia, Sarah, Hanan, Szilvia, Dominik, Andhika, Yusri, Herry, Mita, Mas Rijal. Teman-teman baru di Summer School yang semakin mewarnai hidup saya: Rolla, Laurel, Laura, Vicky, Amelia, Kimi. Perempuan-perempuan hebat yang menambah warna hidup saya: Luh Putu Asrini, Ibu Aryani Willems, Bu Ida Sitompul. Juga orang-orang yang tidak tersebut (saya berusaha mengingat semua), semua  yang saya temui, yang mengisi dan menemani perjalanan hidup saya, juga untuk mereka yang sudah datang dan pergi. Mereka memperkaya saya, karena mereka tetap tinggal, tak pernah benar-benar pergi dari hati dan benak saya.

Ah, saya seperti sedang berada dalam acara penyerahan piala Oscar dengan menyebut banyak nama itu. Tapi, hey, ternyata menyebut mereka semua itu menyenangkan (sambil berusaha mengingat mereka yang belum tersebut), membuat hati saya lebih tenang, dan cemas saya perlahan hilang. Ya, setelah melihat ke belakang sejenak dan menuliskan nama-nama itu, saya memang tidak perlu cemas berlebihan menghadapi tahun-tahun ke depan. Dan saya ternyata senang tahun akan berganti, saya ternyata senang akan segera berulang tahun, dan saya ternyata juga senang akan malam lebaran tahun depan. Tentu saja saya pun sudah senang membayangkan perjalanan-perjalanan lain di tahun-tahun depan. Saya senang, karena saya tahu, perjalanan hidup saya akan baik-baik saja, seperti biasa. Kalau pun tidak baik-baik, itu pun bukan akhir dari segalanya :) Selamat Tahun Baru untuk semua!

Bayreuth, 311210

15:13

Advertisements