Ironi Hitam Putih „SITI“

SITI

Sumber gambar: Wikipedia

SITI berlari. Bilik karaoke tempatnya bekerja digerebek polisi. Berusaha lari ke kamar mandi, SITI tetap diinterogasi, sampai SITI tak kuat lagi berdiri. Tubuhnya jatuh lunglai tak kuat menopang diri. Kisah beralih pada rumah bilik SITI yang sempit saat SITI menggoreng rempeyek jengking. Ibu mertuanya memanggil karena anak SITI tak mau bangkit, padahal hari sudah tinggi. Tak berlama-lama SITI memangku sang buah hati, memintanya mandi, tetapi si anak malah berlari menuju gumuk pasir. SITI mengejarnya tertatih-tatih, namun kalah cepat dari sang buah hati. Sang buah hati tak mau pergi. Dia jeri, karena katanya di sekolah ada hantu suka menghampiri. Mungkin dengan seragam baru yang dibelikan SITI, si hantu bisa jadi malah takut menakuti. Sang buah hati mengerti. Ke sekolah dia pergi, tetapi tetap tak mau pamit pada ayahnya yang hanya bisa berbaring. Pun sang ayah tak mau bicara karena kesal hati pada SITI yang bekerja di bilik karaoke di malam hari. Padahal SITI tak ingin. Hutang sang suami harus dilunasi. Saat ini hanya dia yang harus mencari cara agar keluarganya tak mati. Siang berjualan rempeyek jengking dan malam hari bekerja walau tak sesuai dengan keinginan hati. Namun, hutang sang suami tetap harus dilunasi. Suami yang akhirnya hanya bisa berbaring, karena kecelakaan melumpuhkan diri. SITI terpaksa meladeni para petinggi polisi. Hatinya tak ingin, tetapi dia juga butuh kantongnya diisi, karena hidup tak bisa menunggunya berhenti atau sejenak melonggarkan hati. SITI ingin pergi, karena katanya dia jatuh hati pada seorang polisi, yang tampan menarik hati, dengan kantong penuh terisi. SITI meminta sang suami merelakan dia pergi. Akhirnya sang suami pun menyuruh SITI pergi. Kata pertama dan satu-satunya yang keluar dari bibir yang lama terkunci. SITI pun pergi di dini hari, menuju laut Parangtritis yang sunyi.

***

Film berdurasi 88 menit karya Eddie Cahyono dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini sudah mendulang banyak prestasi dan review positif. Tayang pertama kali di tahun 2014 dalam sebuah festival film independen di Jogja dan terakhir menjadi film terbaik FFI 2015, akhirnya tayang di bioskop komersial beberapa hari lalu. Tak banyak yang bisa saya tulis di sini karena saya hanya akan mengamini banyak review positif tentang film ini. Satu kalimat saja rasanya sudah cukup untuk menambah review tersebut: film bagus dan layak menang. Tak ada cacat? Dari sekian banyak hal yang sudah pas tepat takarannya, mungkin sound film ini yang agak mengganggu. Entah karena audio system di salah satu studio di bioskop XXI di kota Bandung ini yang jelek dan sepertinya agak bocor atau karena kualitas sound film ini yang terdengar agak terlalu keras dan kasar. Entahlah. Namun, lepas dari itu semua saya sangat terkesan pada pilihan warna monochrome hitam putih dalam film ini serta pengambilan gambar dengan tarikan extra zoom in menuju long shots pada scene yang tepat menimbulkan efek debar, debur, sekaligus hening, sunyi, dan sepi. Deburan ombak yang sangat jelas memperlihatkan butiran-butiran buihnya dan lekukan-lekukan airnya atau kamera yang semakin menyorot jauh SITI (Sekar Sari) yang berlari mengejar anaknya ke gumuk pasir, sehingga hanya ada siluet mereka berdua di kejauhan, buat saya ini sangat romantis. Seromantis saat Bagas (Bintang Timur) meminta SITI bermain layangan dengannya di tepi pantai Parangtritis. Blocking dua pemain ini sempurna berada di bingkai gambar 4:3.

SITI buat saya adalah film romantis dengan tone warna monochromenya, sekaligus juga memberikan kesan ironis seperti hidup SITI yang putih di siang hari dan hitam di malam hari. Perjalanan kamera yang menyorot rumah bilik SITI ke sana ke mari mempertegas sempitnya ruang pilihan hidup SITI. Ekspresi wajah dan gerak para pemainnya –yang tidak banyak orang mengenalnya- sangat wajar dan apa adanya. Mereka tidak sedang beracting, mereka sedang memainkan kisah hidup yang nyata terjadi pada banyak SITI yang lain.

Penggunaan 99% Bahasa Jawa dalam film ini juga tidak mengganggu saya, karena memang konteks dan narasi film ini menuntutnya demikian, bahkan semakin mempertegas tema, latar belakang, dan narasi kisah. Sebagai orang berdarah Jawa yang tidak mengerti Bahasa Jawa saya terbantu oleh subtitle dalam Bahasa Indonesia, sekaligus juga sedikit-sedikit berusaha mengerti apa yang dibicarakan. Hal ini tentu tidak hanya berguna untuk saya, tetapi juga untuk semua yang membutuhkan bantuan untuk memahami kisah dalam film ini.

Seperti hidup SITI yang sarat dengan ironi, saya juga melihat banyak ironi yang terjadi dalam industri film di Indonesia, terutama yang terjadi pada film SITI. Film ini menang di beberapa festival, tetapi sudah hampir bisa dipastikan bahwa dia akan “kalah” di saat harus berhadapan dengan industri. Di Bandung film ini hanya diputar di satu bioskop XXI dengan jam tayang 4 kali. Sudah hampir dapat dipastikan penonton film ini pun hanya akan bisa dihitung dengan jari. Masih untung kemarin saat saya menontonnya ada 9 orang penonton lain yang ikut menonton, karena saya sebelumnya pernah berada sendirian dalam studio saat menonton sebuah film. Sayang sekali, tetapi memang demikianlah kenyataannya, bahwa kebanyakan penonton Indonesia –dan mungkin juga penonton bioskop di belahan dunia manapun- lebih senang menonton film ringan tertawa haha hihi, lebih senang menonton film dengan teknologi dan efek canggih, lebih senang melihat wajah-wajah cakap dan cantik muncul di layar, lebih senang melihat keindahan dunia luar dibandingkan dengan menyaksikan indahnya pemandangan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang hening, lebih senang menonton film dengan judul berbahasa Inggris dan dialog campur aduk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sama sekali tak mendukung kisah dibandingkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah secara utuh, lebih senang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pemandangan indah di luar negeri dibandingkan dengan mengoptimalkan kisah dan keindahan alami negeri sendiri, atau juga mungkin lebih senang akan kisah multiplot berpilin-pilin dibandingkan dengan kisah sederhana tentang satu hari dalam hidup seseorang, tetapi digarap dan diolah dengan emosi maksimal. Sayangnya memang begitu kenyataannya.

Maka ketika film SITI ini tayang, saya hanya bisa terpana dan menghela nafas. Ini film yang amat sangat layak dilihat. Selain masalah sound tadi, semua hal yang mendukung film ini dari mulai dari tema, pengambilan gambar, scoring musik, sampai penyuntingan dan make up berada pas pada takarannya. Tak perlu pemain-pemain tampan dan cantik atau pengambilan gambar di negara-negara dan tempat-tempat tujuan turis, yang alhasil malah jadi seperti mempromosikan mereka, film SITI ini menampilkan dengan sempurna keindahan Parangtritis dan gumuk pasirnya yang sepi, tetapi penuh dengan ironi. Ini film tentang hidup, dengan SITI sebagai yang menghidupinya.

***

Itu sepenggal kisah SITI, yang sehari-hari berjualan rempeyek jengking dan malam hari menjadi orang lain: demi hidup dan utang yang harus dilunasi. Namun, ini juga tentang SITI dengan hitam putihnya ironi kreatifitas dan industri.

Bandung, 300116

Bulan (Di)(Ter)belah: Akhir Trilogi yang Dipaksakan

Film-Bulan-Terbelah-di-Langit-Amerika-200x290

Sumber gambar: movie.co.id

Terus terang saya agak sulit untuk menuliskan sesuatu yang tidak saya suka, terutama untuk urusan film, buku, atau musik. Apalagi jika kemudian sudah ada pendapat yang tidak terlalu bagus tentang film, buku, atau musik tersebut. Namun, saya pikir kali ini saya ingin mencoba objektif terhadap apa yang tidak saya sukai dengan cara menuliskannya di sini. Baiklah, saya coba.

Jadi minggu lalu saya cukup rajin menonton film. Ada tiga film Indonesia yang saya tonton, yaitu: “Negeri van Oranje”, “Ngenest”, dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Itu semua sebenarnya bukan genre film yang betul-betul ingin saya tonton, karena rasanya saya sudah bisa menebak bagaimana filmnya, castnya, scriptnya, dll. Namun, seperti yang saya tulis sebelumnya, saat ini saya sedang ingin mencoba objektif dengan cara tidak menonton film yang benar-benar ingin saya tonton saja, tetapi juga film lainnya. “Negeri van Oranje” akan saya tulis di tulisan lain dalam blog ini. Begitu juga dengan “Ngenest”. Sekarang saya akan fokus dulu pada “Bulan Terbelah di Langit Amerika” (BTdLA).

BTdLA ini adalah bagian ketiga dari trilogi kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra, setelah sebelumnya kisah mereka difilmkan dalam “99 Cahaya di Eropa” dan “99 Cahaya di Eropa 2”. Terus terang, dulu saya mungkin agak menaruh harapan lebih pada “99 Cahaya di Eropa” dan ternyata dikecewakan oleh script dan dialog yang sangat normatif dan malah terasa artifisial, mengada-ngada, klise. Cast di film itu sebenarnya bermain cukup bagus (Abimana, Acha Septriasa, Alex Abbad, Nino Fernandez, Dewi Sandra, dan Raline Shah), tetapi karena tidak ditunjang dengan script yang bagus, akhirnya kemampuan para pemainnya terlibas oleh ketidaklogisan alur cerita yang muncul lebih dominan, setting yang sepertinya dibuat tanpa survey (apartemen mahasiswa penerima beasiswa yang cukup mewah, ruang kerja dosen yang berupa saal kuliah , dll), selain tentu saja yang mungkin positif adalah suguhan pemandangan Eropa yang cantik dan boots serta coats yang keren. Oh ya, satu lagi, mungkin bagus untuk sedikit belajar Bahasa Jerman, hehe. Berdasarkan pengalaman itu akhirnya “99 Cahaya di Eropa 2” tidak saya lihat di bioskop, tapi sekilas saja ditonton kemudian di tv. Saya malas.

Lalu mengapa akhirnya saya menonton BTdLA? Terus terang saya pun tidak berharap lebih, walaupun Rizal Mantovani yang menjadi sutradaranya. Sebelumnya saya agak kecewa juga pada Rizal setelah menonton “Supernova”, tetapi saya mencoba berharap bahwa minimal dari sudut pengambilan gambar ada yang bisa saya “lihat” di BTdLA, karena “Supernova” cukup “terbantu” dengan gambar pemandangan yang bagus yang dibuat Rizal. Bagaimana dengan BTdLA? Untuk menjawabnya saya harus menontonnya dulu, walaupun seorang sahabat bercerita, ibunya tertidur di 10 menit pertama film ini main dan sahabat yang lain berkisah, bahwa banyak adegan tidak logis dalam film ini.

Maka saya datang ke bioskop dan sayangnya saya juga sudah dalam kondisi mengantuk setelah bekerja. Kondisi bioskop yang gelap dan sejuk mendukung ini semua. Apalagi di awal-awal saya disuguhi scene narasi tentang situasi ulang tahun sebuah keluarga di Amerika: ayah keturunan Timur Tengah, ibu seorang mualaf Amerika. Penggambaran keluarga ideal. Sang ibu (Rianti Cartwright) berkerudung dan merekam terus suasana ulang tahun, sampai dia –entah dengan maksud apa- mengikuti suaminya yang sedang menerima telefon dan merekamnya. Ini yang menjadi awal masalah yang terjadi kemudian. Dan sialnya, sebagai orang bahasa, saya selalu merasa terganggu oleh film yang menggunakan bahasa asing yang sepotong-sepotong. Mengapa harus dipaksakan ada bahasa asing dicampur bahasa Indonesia padahal dikisahkan keluarga ini adalah murni keluarga Amerika, bukan Indonesia atau keluarga campuran Indo? Bahasa di sini akhirnya bukan menjadi penunjang cerita, tapi malah menjadi tempelan yang justru mengganggu. Menurut saya penggunaan subtitle mungkin masih akan lebih baik.

Kemudian narasi beralih pada tokoh utama Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya). Hanum yang sudah menjadi jurnalis ditugasi untuk mewawancarai Azima Hussein (Rianti Cartwright) di New York yang suaminya diduga terlibat dalam peristiwa 9/11. Sedangkan Rangga kebetulan ditugaskan untuk mewawancari dan meminta seorang milyuner untuk datang ke Wina. Cerita kemudian bergulir lambat ke narasi kisah Azima dan Sarah, Hanum dan Rangga, Stefan (Nino Fernandez) dan Jasmine (Hannah Al Rasyid), Stefan dan Rangga, dan tokoh kunci lainnya seorang milyuner dan philantropis bernama Phillipus Brown. Kisah dibuat multiplot dengan masing-masing permasalahan tokohnya, serta alur yang maju mundur, tetapi niat utamanya sebenarnya mengacu pada dampak peristiwa 9/11 terhadap umat Islam, khususnya di Amerika.

Seperti juga dua kisah sebelumnya yang mengangkat permasalahan Islam sebagai agama minoritas di Eropa dan Amerika, serta “perlakuan” diskriminatif terhadap Islam dan orang Islam, BTdLA juga masih mengusung tema ini. Dan seperti juga dua kisah sebelumnya yang menurut saya terlalu banyak kebetulannya dan terlalu “memaksakan” diri untuk membentuk “citra”positif toleransi antarumat beragama, BTdLA pun sama. Sebegitu mudahnya orang berprasangka dan berlaku diskriminatif, sebegitu mudahnya pula pandangan dan perlakuan tersebut berubah menjadi sangat positif, hanya karena pidato seorang milyuner di depan tv. Pidato yang sangat membosankan menurut saya karena dilakukan dengan amat sangat lambat seolah-olah sedang belajar membaca. Secara kebetulan, isi pidatonya pun tentang bagaimana suami Azima Hussein menolong dan mengubah hidupnya. Suatu kebetulan –yang mungkin sebenarnya bisa saja terjadi- tapi agak aneh saja menurut saya jika dilakukan di tengah suasana panik luar biasa karena gedung pencakar langit itu tiba-tiba dibom dan runtuh.

Kebetulan-kebetulan ini yang menurut saya terlalu dipaksakan masuk ke dalam script kisah dengan maksud membuat “citra” Islam menjadi baik, tetapi tidak memikirkan logika dalam penyampaiannya. Alih-alih maksudnya sampai, saya malah mengerutkan kening. Misalnya saya teringat pada satu scene di film “99 Cahaya di Langit Eropa” saat Hanum berbincang dengan setting di menara Eiffel. Suasana menara Eiffel yang begitu sepi itu amat sangat tidak mungkin terjadi. Menara ini adalah salah satu menara yang selalu penuh dikunjungi orang. Kemudian jika dari menara Eiffel ditarik garis lurus ke arah Arc de Triomphè dan kemudian ditarik garis lurus lagi maka tarikan garis itu –katanya- akan lurus dengan Ka’bah. Kebetulan? Tidak cukup masuk logika saya, sayangnya. Kebetulan-kebetulan yang sama juga terjadi dengan BTdLA. Kebetulan map Hanum tertinggal di mobil dan ditemukan oleh seorang pemimpin demonstran antiIslam, seolah-olah map itu penting baginya, tapi pada perkembangan kisah selanjutnya map dan isinya itu ternyata tidak berarti apapun. Agak tidak masuk logika saya juga jika Azima bertetangga dengan seorang Amerika yang tidak suka pada Islam dan orang Islam setelah peristiwa 9/11, kemudian sikapnya berubah drastis setelah menonton tayangan pidato sang milyuner. Lalu secara kebetulan Rangga bertemu dengan sang milyuner karena mengajukan pertanyaan “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam” sekaligus memberi informasi tentang keberadaan Azima Hussein. Kebetulan saat Hanum diganggu oleh sekelompok anak muda di jalanan New York dan dibantu oleh seorang biarawati, yang akhirnya mereka berdua tetap saja diganggu oleh anak jalanan tersebut. Dan kebetulan-kebetulan lain yang untuk saya rasanya terlalu banyak.

Cast yang bermain dalam BTdLA ini juga tidak terlalu istimewa. Abimana tetap menjadi Abimana di situ. Saya tidak melihat perbedaan yang signifikan antara dia sebagai Rangga atau dia sebagai Wicak di film Negeri van Oranje yang saya lihat sehari sebelumnya. Acha Septriasa bermain agak lebay, maaf. Saya malah justru merasa lebih nyaman dengan acting Hannah al Rasyid yang terlihat santai berperan sebagai Jasmine. Nino Fernandez pun masih cukup menghibur sebagai Stefan walaupun kenyinyirannya sedikit berkurang. Rianti Cartwright juga masih belum bisa melepaskan image Aisha dalam Ayat-ayat Cinta dari perannya sebagai Azima Hussein dalam film ini. Pemeran-pemeran pembantu lainnya ya begitulah. Rasanya di Indonesia masih bisa didapatkan pemeran extras yang lebih baik.

Melihat keseluruhan film ini, ternyata pada akhirnya saya memang tidak bisa memberikan penilaian objektif. Mungkin karena saya pernah bertahun-tahun berada dan menjadi kelompok minoritas di Eropa dan saat peristiwa 9/11 itu saya –Islam, berkerudung, perempuan, Asia- juga sedang berada di Jerman, saya tahu betul bagaimana pandangan orang-orang terhadap Islam dan orang Islam itu terbangun. Tidak semuanya bagus, tapi tidak semuanya jelek. Yang paling banyak adalah abu-abu. Saya juga tahu betul rasanya membangun kebanggaan terhadap agama saya sendiri –Islam- di tengah gempuran berita-berita negatif tentang agama saya. Namun, saya juga tahu betul konflik batin dalam diri saya saat saya bertanya pada diri saya sendiri: Apa itu Islam? Mengapa saya Islam? Untuk apa Islam?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu bergumul dalam kepala saya yang jawabannya tidak saya temukan secara instan, atau mungkin saya tidak benar-benar temukan jawabannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman hidup saya, saya mengalami proses peyakinan, penguatan tentang apa yang saya pilih –atau dipilihkan-. Saya Islam sejak lahir dan saya memilih untuk tetap menjalaninya. Karena saya pernah menjadi minoritas itulah maka saya belajar lebih mengenal diri dan agama saya dan itu bukan proses yang mudah dan instan. Tidak seperti yang ditampilkan oleh film ini. Tidak seperti yang ditampilkan oleh trilogi yang diambil dari kisah yang ditulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra ini. Oleh karena itu, jika harus memilih, dalam trilogi kisah ini saya lebih menyukai tokoh Stefan –orang Austria- yang atheist dan dia konsisten dengan keatheisannya, dengan sikap nyinyirnya, tetapi dia mau belajar melihat, mencoba, dan berusaha memahami apa yang diyakini oleh sahabatnya, Rangga. Begitu juga sebaliknya dengan Rangga. Relasi Rangga dan Stefan inilah yang rasanya terlihat paling realistis dalam keseluruhan trilogi.

Mungkin awalnya saya berharap terlalu banyak bahwa film ini bisa lebih mengangkat tema “pergulatan” batin seseorang di tengah wacana diskriminatif terhadap Islam. Kisah difokuskan pada satu tokoh saja, tetapi sayangnya tidak. Akhirnya yang muncul memang hanya scene-scene normatif yang membangun mimpi. Penonton tidak diajak berpikir, hanya disuapi, tanpa tahu apa yang dia sebenarnya makan. Dan mungkin saya juga tipe penonton yang memperhatikan detil –walaupun dalam keadaan cukup mengantuk- saya melihat bahwa secara teknis editing gambar sangat tidak halus, tempelan terlihat di mana-mana, angle kamera yang terlihat dilakukan dengan tidak fokus dan terburu-buru, sehingga mendapat kesan jangan-jangan pengambilan gambar dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena mungkin masalah ijin? Atau adegan saat Hanum terjatuh ketika terjadi kerusuhan saat demonstrasi juga terasa sekali dibuat-buatnya. Scene demonstrasi, kerusuhan, kepanikan saat gedung runtuh karena dibom, itu semua sangat tidak mungkin rasanya dibuat oleh seorang Rizal Mantovani yang biasanya peduli pada bahasa gambar. Dan yang paling membuat saya geli campur miris adalah scene pidato sang milyuner di sebuah tempat yang sangat dijaga ketat dan dihadiri oleh banyak orang: 5 – 6 orang berkulit putih, dan sisanya di belakang mereka berdiri orang-orang Indonesia yang rambutnya dicat pirang dan dimake up seolah-olah mereka adalah orang kulit putih. Ini jelas-jelas hanya basa basi.

Ah, saya harus berhenti, karena ternyata dari satu scene itu saja saya sudah mulai mempertanyakan: siapa sedang mendiskriminasikan siapa sebenarnya? Jangan-jangan kita yang sedang mendiskriminasikan diri kita sendiri, dengan menempatkan si kulit putih di depan kita. Jangan-jangan kita yang sedang ragu pada apa yang kita yakini dengan membabi buta membela diri, sekaligus nyinyir pada yang lain. Bukankah kita jadinya sama dengan mereka yang kita anggap nyinyir pada kita? Jangan-jangan musuh kita sebenarnya adalah diri kita sendiri? Jangan-jangan bulan itu tidak pernah terbelah, karena hanya dari bumi lah dia terlihat menjadi sabit kemudian perlahan menjadi purnama. Perspektif. Manusia lah yang memaknainya. Tergantung dari mana dia melihatnya.

Dan seperti pertanyaan yang menjadi motif utama film ini: “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam”, maka saya jutsru bertanya “Apakah film ini akan lebih baik jika saya tidak menontonnya?” Jawaban saya sayangnya tidak. Banyak hal yang dipaksakan dan sayangnya saya tidak suka dipaksa.

Bandung, 120116

And the journey continues…

Biasanya saya menuliskan refleksi tahunan saya ketika malam pergantian tahun, sekarang saya melakukannya di hari pertama awal tahun. Bukan karena apa-apa, kemarin memang sedang tidak mood menulis. Jika sekarang pun saya menulis di sini, ini semata karena saya sedang mencoba lagi membangkitkan lagi kebiasaan menulis untuk sekedar menulis, bukan menulis yang harus dibatasi hipotesis, teori, analisis ini itu, dll. Terus terang, saya mengalami kebosanan menulis hal-hal dalam kerangka ilmiah, walaupun mau tidak mau, suka tidak suka, saya memang hidup dari situ. Bahkan –ini harus saya akui- kebiasaan melakukan hipotesis dan analisis, serta melihat dari beragam perspektif sebelum menyimpulkan sesuatu sudah inheren merasuk ke dalam jiwa dan kepala saya. Ya sudah, tak apalah, toh banyak bagusnya juga dan tidak merugikan siapapun, bahkan membawa saya ke banyak peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun sebenarnya sesuatu yang “serius” itu semua berawal dari keisengan saya belaka. Ya, keisengan yang serius, atau keseriusan yang iseng. Saya tidak bisa membedakan lagi. Yang jelas, di tahun 2015 lalu –ah, belum sehari pun dia lewat- saya mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak perlu, yang saya rasa hanya akan membebani diri dan hidup saya saja. Beberapa berhasil, masih banyak yang tidak. Namun, tidak ada salahnya juga mencoba.

Merefleksikan apa-apa saja yang saya lakukan, saya alami, dan saya rasakan di tahun 2015, saya ternyata menemukan diri saya yang lain. Diri saya yang ternyata suka iseng. Namun, entah bagaimana keisengannya diseriusi, menjadi serius, dan sering membuat saya sendiri kelabakan. Walaupun begitu hasilnya tetap menyenangkan saya dan membuat saya semakin hidup.

Saya iseng mengiyakan tawaran menjadi narasumber tentang sanitasi di RRI Lampung tepat pada tanggal 1 Januari 2015 bersama seorang teman. Iseng menonton konser Michael learns to Rock tanggal 2 nya, padahal saya hanya kenal dua atau tiga lagunya saja. Bulan Februari menonton konser NOAH di Sabuga. Yang ini bukan iseng, tapi memang berniat betul, karena saya sudah membuat pengakuan sebagai salah seorang fans NOAH maka saya mengharuskan diri saya menonton konsernya. Dan saya senang. Keisengan lainnya adalah menonton konser Bon Jovi di Senayan, Jakarta. Kalau ini memang benar-benar iseng tapi serius, karena kami serius sengaja datang jauh.jauh dari Bandung, sampai menginap di sebuah hotel di Jakarta, demi merasakan kemeriahan konser Bon Jovi dengan crowd Indonesia, yang ternyata malah membuat saya mengantuk. Saya iseng berkomentar di akun instagramnya salah seorang pemainnya, mengajaknya promosi film “3” di Unpad, dan ternyata dengan persiapan amat sangat mendadak bisa mendatangkan sekitar 600 orang dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan kreatif pendukung film itu sekaligus semakin memahami bagaimana cara kerja dan “permainan” industri kreatif di Indonesia yang mau tidak mau masih berorientasi uang. Saya iseng memasukkan abstrak untuk konferensi di Shanghai dan ternyata diterima walaupun akhirnya saya tidak jadi pergi karena mengukur kekuatan tubuh saya setelah menjalani keisengan saya yang lain selama 3 minggu berada di Eropa untuk konferensi dan menjadi turis. Ya, saya menjadi turis di Eropa: akhirnya. Saya juga iseng mengirim lamaran untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di Eropa, kemudian dipanggil interview dan akhirnya diterima, tetapi juga pada akhirnya tidak saya ambil juga karena pada saat yang bersamaan saya tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda.

Selain keisengan-keisengan yang biasanya berbuntut pada hal-hal yang membuat adrenalin saya meningkat (ya, saya butuh itu, kadang-kadang), saya merasa langkah saya melambat. Lebih tepatnya saya melambatkan langkah saya. Saya tidak lagi ingin berlari, tetapi saya hanya ingin berjalan. Saya ingin menikmati apa yang saya lihat, lalui, dan alami dalam perjalanan saya, membuang apa yang tidak perlu, dan mengambil apa yang perlu saya ambil. Ternyata, ketika saya membuang beberapa hal yang memberatkan, saya justru mendapatkan lebih banyak dari apa yang saya buang. Saya tahu saya masih melekatkan diri pada banyak hal yang tidak perlu, saya masih harus banyak belajar untuk melepaskannya satu-satu. Belajar yoga adalah salah satu cara saya untuk melambatkan dan menikmati setiap gerak, selain tentu agar saya bugar.

Di lain sisi, ternyata saya juga bisa menjadi die hard fans, yang saya sendiri pun tidak mengerti, bahwa ternyata saya memiliki sisi itu. Mungkin selama ini itu saya tutupi atau saya kualat pernah memandang aneh teman saya yang “berubah” menjadi seorang fan girl. Dua-duanya mungkin benar, hehe. Namun, saya menikmatinya, dan malah ternyata hal ini malah justru melatih dan membuka banyak sisi saya yang lain. Berkenalan dan bertemu dengan orang-orang baru sesama fans, berbincang untuk hal-hal sepele yang dulu tidak pernah sekalipun mampir dalam pikiran saya bahwa saya akan membicarakan dan membahasnya, bahkan kemudian beberapa keisengan yang berbuah serius lahir dari obrolan-obrolan ini. Hal ini ternyata menyenangkan. Hal ini sama menyenangkannya dengan kesempatan yang saya ambil untuk berdamai dengan masa lalu, dengan kejawaan saya, dengan beberapa hal yang dulu saya hindari dan saya tutupi. Ternyata tidak sesulit dan seberat yang saya rasakan, bahkan keputusan itu justru meringankan saya. Untuk itu saya bersyukur. Termasuk bersyukur bahwa saya masih mengalami hal-hal yang juga membuat saya menangis, saya kesal, bosan, dan kadang juga putus asa. Itu membuat saya hidup.

Mengutip tulisan Agustinus Wibowo, seorang penulis favorit saya yang juga akhirnya bisa saya temui langsung, perjalanan itu adalah rangkaian dari perpindahan dan perhentian. Mereka yang tidak pernah berpindah tidak akan mengerti indahnya kebebasan, dan mereka yang tidak pernah berhenti tidak akan pernah memahami pentingnya kestabilan. Dan itu hidup. Maka angin akan tetap bertiup, kadang keras kadang hanya berdesir, langit mungkin akan kelabu, matahari akan terbenam, tetapi esok matahari tetap menepati janjinya untuk terbit kembali, maka perjalanan saya pun berlanjut. Dan sekali lagi, saya bersyukur.

Bandung, 010116IMG_20160101_105555[1]