Menyanyi

Minggu lalu, masih dalam rangka mengetes „penglihatan“ baru saya, saya mampir ke toko buku langganan. Lihat-lihat saja, sudah lama tidak ke sana. Selain belakangan saya lebih sering membeli buku secara online, saya juga agak menghindari toko buku. Masih belum bisa mengendalikan diri kalau ke sana. Jadi, minggu lalu saya pindai sebentar bagian roman, mencari buku Patrick Süskind yang terbaru. Bersyukur karena tidak ada, lalu pindah ke bagian buku anak-anak. Menahan diri untuk tidak membeli. Pindah lagi ke bagian Bayreuth dan Wagner. Ada beberapa buku menarik tentang komponis yang setiap musim panas difestivalkan di kota ini. Kemudian saya memaku diri di bagian buku panduan wisata. Ada dua buku tentang Indonesia, satu dari Lonely Planet saya buka-buka dulu sekilas, satu buku lagi buku baru terbitan 2010 dari seri Reise Know How Kulturschock tentang Indonesia dari Bettina David. Saya pindai daftar isinya, cukup menarik. Selain tentang Indonesia dan suku-suku yang ada di Indonesia, agama-agama dan kepercayaannya, kehidupan keluarga, tema kehidupan sehari-hari, hari raya, kematian, dan satu kapitel tentang „bule“ di kehidupan Indonesia. Ini agak berbeda menurut saya. Judulnya boleh Kulturschock, tapi ternyata isinya lebih menarik dibandingkan sekedar cerita seorang „bule“ yang datang berkunjung dan „hidup“ sementara di Indonesia.

Seperti biasa saya pindai gambar-gambarnya. Tidak hanya keindahan alam Indonesia yang ditampilkan, tapi hal-hal kontras dalam kehidupan sehari-hari. Gadis berkerudung sedang merias temannya yang memakai pakaian penari Bali, ibu-ibu saat sembahyang Idul Fitri, tukang becak yang tertawa lepas sambil memegang rokok di tangan, perempuan bercadar naik sepeda motor buatan Cina, penjual nasi goreng di jalan, sampai ke polisi yang sedang merazia sepeda motor di sebuah jalan di desa. Penasaran, saya baca beberapa bagian. Penjelasannya cukup menarik, tidak menghakimi dan berprasangka. Penulisnya mengungkap sisi-sisi yang menarik yang kadang saya, sebagai orang Indonesia pun tidak menyadarinya, saking terbiasanya saya dengan situasi tersebut. Salah satunya di bagian Freizeitvergnügungen (menikmati waktu luang), ada subbagian tentang Singen und Musizieren (menyanyi dan bermain musik).

Bettina David menulis kegiatan mengisi waktu luang baik yang  paling disukai oleh orang miskin atau kaya, di kota dan di desa, oleh laki-laki atau perempuan adalah menyanyi dan bermain gitar. Saat piknik dengan keluarga atau teman, di beranda rumah kaum menengah, di kamar kost mahasiswa atau di gubuk-gubuk petani hampir selalu ditemukan gitar, atau ada orang yang memainkannya, ditambah nyanyian lagu-lagu lama atau hits dangdut terbaru. Apalagi saat malam hari, tulisnya, di saat orang-orang bersantai melepas penat, duduk-duduk bersama, berbincang dan bercanda selepas bekerja seharian, dentingan gitar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari malam-malam orang Indonesia.

Orang Indonesia, tulisnya kemudian, menyanyi dengan sepenuh hati dan semangat. Diiringi petikan gitar sambil bersantai, atau  di paduan suara gereja, atau di kelompok nasyid, di sebuah band, atau di di depan layar monitor lengkap dengan mikrofon di ruang karaoke ;-) (saya langsung senyum-senyum membaca bagian ini). Mereka menyanyi sebagus orang Indonesia bisa menyanyi, katanya. Bettina David menulis begitu mungkin karena banyak juga yang menyanyi dengan nada ke timur, suara ke barat, hehehe. Tak apa, yang penting menyanyi. Beberapa etnis di Indonesia, seperti Batak dan Ambon, terkenal memiliki bakat alam dalam hal menyanyi, tetapi menyanyi dengan aktif menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menyanyi menjadi bagian dari kegembiraan hidup orang Indonesia, yang juga sering ditimpali dengan senda gurau dan candaan yang berujung dengan tawa terbahak-bahak penuh keceriaan. Orang Indonesia menyanyi dengan penuh perasaan bahkan kadang menghayatinya dengan sungguh-sungguh.

Karaoke, tulis Bettina, juga sangat digemari. Dari mulai lagu-lagu Indonesia yang sedang hits, sampai lagu-lagu barat yang sedang mendunia, tidak lupa juga lagu-lagu dangdut yang membuat badan ikut bergoyang. Semua dinyanyikan orang Indonesia tanpa ragu dan biasanya juga dengan bagus. Orang Indonesia, lanjut Bettina, seperti juga kebanyakan orang Asia lainnya mungkin pemalu dalam beberapa hal, tapi tidak saat menyanyi. Mereka bisa bebas lepas. Ini berbeda dengan orang “Barat” yang biasanya baru mau menyanyi di depan umum jika mereka yakin bahwa suara dan teknik menyanyinya bagus atau saat mereka ada di bawah pengaruh alcohol, barulah mereka bisa berteriak-teriak menyanyi. Cape deehh, hehehe. Saya tersenyum geli juga membaca baris terakhir tulisan Bettina David tentang menyanyi di Indonesia ini, teringat teman-teman dari Jerman yang tadinya tidak mau diajak karaoke, mereka malu-malu, tapi kemudian “kecanduan”. Dan memang, di antara mereka tidak ada yang bisa menyanyi, hehehe.

Kalau dipikir-pikir, betul juga apa yang ditulisnya. Di manapun di Indonesia –saya tulis Bandung saja lah-  tidak pernah lepas dari musik dan nyanyian. Pengamen jalanan dari anak kecil pakai kecrek-kecrek menyanyi sambil melihat ke sana ke mari dengan suaranya yang juga ke sana ke mari, sampai ke “orkestra” lengkap di bis Damri Dipatiukur – Jatinangor memainkan lagu klasik. Dari lagu Sunda sampai lagu Barat. Dari yang menyakitkan telinga sampai yang membuat kaki ikut menghentak-hentak. Dari pagi hari sampai malam hari. Di TV atau di kamar mandi. Dari yang serius, sampai yang penuh dengan tawa. Dari lagu jatuh cinta sampai lagu patah hati. Dari tema setia sampai tema selingkuh. Dari yang liriknya lengkap sampai yang „lupa lupa ingat“. Semua orang menyanyi. Tidak peduli sedang sedih atau gembira, kena musibah atau dapat hadiah, menyanyi memang rasanya tidak bisa dilepaskan dari keseharian orang Indonesia.

Ternyata memang sebegitunya arti menyanyi bagi orang Indonesia. Bahkan kami –dosen-dosen muda Fakultas Sastra- sampai punya „fakultas“ sendiri lengkap dengan jajaran pengurus dan stafnya, khusus memfasilitasi kegiatan bersenang-senang kami menyanyi di tempat karaoke. Kami menyanyi kapan pun, saat sedang punya uang atau tidak punya uang. Saat ada yang ulang tahun atau tidak ada yang ulang tahun. Saat ada yang mentraktir atau bayar masing-masing. Saat sedang stress (seringnya sih ini, hehehe) atau tidak sedang stress. Saat banyak kerjaan atau saat liburan. Sangat ingin atau tidak ingin. Saat pulang kerja atau sengaja janjian untuk berkumpul. Saat iseng atau serius. Saat…pokoknya kapanpun ingin karaoke, ya kami karaoke.

Benarkah kami menyanyi? Benar. Menyanyi sesuka hati tentu saja. Tertawanya sering lebih banyak dibandingkan menyanyinya, hehehe. Ada saja yang dijadikan bahan bercanda. Lirik lagunya. Video clip-nya, sampai cara menyanyinya. Dua jam rasanya selalu sebentar untuk acara yang gila-gilaan ini. Kalau sudah capek, biasanya kami persilahkan Pak Dekan dan Guru Besar yang bersuara merdu untuk unjuk kemampuan, yang lain menikmatinya. Lumayan, dapat hiburan gratis. Kapan lagi telinga dimanjakan oleh suara merdu begitu, hehehe. Tapi biasanya itu juga cuma tahan sebentar, selanjutnya forum akan menguasai „lapangan“. Gila-gilaan lagi, menyanyi lagi, ketawa-ketawa lagi. Dua jam selesai, kadang dilanjut makan sambil masih menyanyi-nyanyi juga. Apalagi di tempat makan selalu ada musik yang mengiringi. Lanjut lagiii…Sampai rumah saya yakin masih ada sisa-sisa nyanyian yang dinyanyikan di kamar mandi atau menjelang tidur. Keesokan harinya kerja lagi seperti biasa. Untuk kapan-kapan janjian lagi untuk karaoke. Menyanyi sudah jadi bagian dari profesi kami. “Menyanyi” di kelas apalagi, hehehe.

Membaca tulisan Bettina David di atas saya jadi kangen fakultas sebelah dengan kegiatannya. Di sini, saya tidak punya radio dan TV, tapi musik selalu saya dengarkan lewat alat apapun. Kalau tidak, sepiiii….bahkan di toko atau di kendaraan umum jarang diperdengarkan music dengan keras. Ada sih beberapa pemusik jalanan yang memang indah membawakan musik mereka, tapi biasanya di Bayreuth ini hanya di akhir pekan mereka baru ada. Makanya tadi saya agak heran, ada pengamen ganteng bersuara merdu di lorong yang menghubungkan Rotmain Center dan Markt. Tumben, hehe. Kalau sedang kangen fakultas sebelah dan karaokenya, saya biasanya pasang headset dengan volume full, buka youtube, dan bernyanyi keras-keras. Saya tidak peduli apakah tetangga sebelah appartemen saya terganggu atau tidak, karena kadang saya menyanyi menjelang tengah malam. Biarin saja, hehehe.

Ngomong-ngomong bukunya Bettina David, yang menulis tentang musik dangdut untuk tesisnya itu, akhirnya saya beli. Menarik untuk membaca lebih lanjut tentang hal-hal ringan di Indonesia, ditulis dengan ringan dengan bahasa yang mudah dan “gaul”, tapi tetap bisa mengungkap sisi yang khas, yang kadang dalam tulisan serius tidak terakomodir. Judul „Kultur schock“ mungkin agak kurang tepat, karena isinya lebih ke pengungkapan yang memihak Indonesia. Tak heran, penulisnya kuliah Indonesistik di Hamburg, menulis tesis tentang musik dangdut, menjadi penerjemah bahasa Indonesia dan Jerman, juga membuat buku “Javanisch – Wort für Wort” dan “Indonesisches Slang – Bahasa Gaul”. Narasumber dan teman-teman diskusi Bettina David juga orang-orang yang berasal dari berbagai macam kalangan di Indonesia, multikultural.  Salah satunya Wayan Lessy, teman saat saya masih aktif di Multiply dulu. Perempuan Bali yang cantik, pintar, dan berkerudung. Tak heran jika Bettina David lebih leluasa menampilkan keragaman Indonesia yang berwarna warni. Indah. Apa sih yang tidak indah dan disikapi dengan indah di Indonesia? Hehehe. Inginnya begitu.

Dan tiba-tiba, saya jadi kangen dengan fakultas sebelah :-) “Bernyanyi kita bernyanyi. Tandanya bergirang hati …”

Advertisements